Anda di halaman 1dari 19

Inkontinensia Urin pada Wanita Postmenopause

Rizki Siti Fitria (102012263),


Adethya Evy Yuniar Simatupang (102013093),
Thomas Aquinas Michi (102013251),
Clara Sinta Tandi Rante (102013263),
Mutiara Nur Adinda (102013298),
Tamy Stephanie Kabinani (102013325),
Hariz Ikhwan Bin Abd Rahman (102013505),
Frizka Juliarty Koedoeboen (102015247)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061. Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan air kencing. Gangguan ini lebih
sering terjadi pada wanita yang pernah melahirkan dari pada yang belum pernah melahirkan
(nulipara). Diduga disebabkan oleh perubahan otot dan fasia di dasar panggul. Kebanyakan
penderita inkontinensia telah menderita desensus dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel.
Tetapi kadang-kadang dijumpai penderita dengan prolapsus total uterus dan vagina dengan
kontinensia urine yang baik.1
Angka kejadian bervariasi, karena banyak yang tidak dilaporkan dan diobati. Di Amerika
Serikat, diperkirakan sekitar 10-12 juta orang dewasa mengalami gangguan ini. Gangguan ini
bisa mengenai wanita segala usia. Prevalensi dan berat gangguan meningkat dengan
bertambahnnya umur dan paritas. Pada usia 15 tahun atau lebih didapatkan kejadian 10%, sedang
pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalansi meningkat sampai 16% pada wanita usia lebih
dari 65 tahun. Pada nulipara didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai
10% dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak.2,3,4

Anamnesis
Pada auto anamnesis yang secara langsung dilakukan pada pasien, akan
ditanyakan hal-hal berikut.1
-

Identitas pasien. Hal yang penting ditanyakan adalah usia pasien, karena semakin tua usia
pasien, resiko mengalami inkontinensia urin akan semakin tinggi.
Keluhan Utama. Keluhan yang mengakibatkan pasien datang ke dokter.
Riwayat penyakit sekarang.
o Tanyakan sudah sejak kapan keluhan sulit menahan berkemih muncul.
o Frekuensi(sering, terus menerus atau kadang-kadang), durasi kencing (berapa
lama) dan volumenya.
o Apakah keluhan serupa semakin bertambah jika sedang tertawa, bersin, atau
batuk, atau kencing di malam hari.
o Deskripsi jumlah dan warna urin yang keluar saat ngompol
o Apakah ada keluhan lain yang menyertai. Dysuria? Hematuria? Demam? Nyeri

Suprapubik?
Riwayat penyakit dahulu. Tanyakan kepada pasien apakah sudah pernah mengalami
keluhan serupa sebeumnya. Riwayat penyakit pada saluran kemih, sistem reproduksi dan

system saraf? Riwayat trauma pelvis dan daerah lumbosacral sebelumnya?


Riwayat Pengobatan. Tanyakan apakah pasien sedang dalam pengobatan penyakit

tertentu, atau baru saja menjalani operasi di daerah pelvis.


Riwayat Persalinan. Jika pasien adalah wanita, tanyakan proses persalinannya,
pervaginam atau caesar, serta jumlah anak. Selain itu tanyakan riwayat menstruasi, dan

apakah sudah mengalami menopause.


Riwayat social. Tanyakan tentang kebiasaan makan sehari-hari, dan apakah mengalami
konstipasi kronis yang dapat menjadi kontribusi terjadinya inkontinensia urin.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien inkontinensia urin adalah meliputi
pemeriksaan fisik abdomen, rectal, dan pelvis.
Pemeriksan pemeriksaan tersebut bertujuan untuk :2,3
-

Mencari apakah terdapat tumor pada daerah pelvis


Memeriksa tonus otot-otot pelvis
Memastikan posisi vesika urinaria tidak berada pada posisi abnormal dan tidak menekan
dinding vagina

Memeriksa system persarafan untuk mengonfirmasi jika ada masalah

yang

menyebabakan kelemahan otot dan hilangnya reflex.


Pada pasien didapatkan hasil sebagai berikut.

Keadaan umum : tampak sakit ringan

Kesadaran : compos mentis

o Tanda-tanda vital:
-

Tekanan Darah 130/80 mmHg (Sesudah makan obat hipertensi)


Nadi 80 kali/menit
Nafas 20 kali/menit
Suhu 36,7C

o Pemeriksaan saluran kemih dan kelamin


Pemeriksaan dilakukan dengan posisi pasien berbaring terlentang dengan kondisi kandung
kemih separuh terisi. Pemeriksan dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya prolapse
panggul atau distensi kandung kemih. Pemeriksaan colok vagina dapat menilai kualitas
dasar panggul dan kekuatan otot perineum.
o Uji tekan batuk
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat ada tidaknya kebocoran urin. Pemeriksan ini dapat
memastikan diagnosis inkontinesnsia tipe stress.1 Uji ini dilakukan saat kondisi kandung
kemih penuh dan dengan posisi berdiri dan pasien diminta untuk batuk sehingga dapat
dilihat ada tidaknya kebocoran urin.
o Evaluasi persyarafan lumbosacral.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memastikan diagnosis inkontinensia urin
adalah sebagai berikut.1
o
o

Pemeriksaan darah lengkap


Urinalisis
Untuk melihat ada tidaknya infeksi pada saluran kemih, sumbatan akibat batu
pada saluran kemih atau tumor. Selain itu dapat pula diperiksa kandungan glukosa pada
urin yang menjadi penyebab diuresis osmotik.

o Pemeriksaan volume sisa urin (residu urin pasca kemih)


Volume residu diukur dalam waktu 10-15 menit pasca kemih dengan melakukan
kateterisasi sederhana atau dengan pemindaian kandung kemih (bladder scan) maupun
dengan USG untuk melihat ada tidaknya obstruksi saluran kemih. Bila volume residu
sekitar 50ml menunjukan gambaran inkontinensia tipe stress, sedangkan jika lebih dari
200cc menunjukan kelemahan otot detrusor atau adanya obstruksi.1
o

Pemeriksaan urodinamik multi kanal (multi channel urodynamic)


Pemeriksaan ini untuk dapat membedakan antara inkontinensia tipe stress dengan
inkontinensia karena aktivitas kandung kemih yang berlebihan (tipe urgensi).
Pemeriksaan ini paling bermanfaat pada wanita dengan gejala inkontinensia yang tidak
jelas/tidak dapat digolongkan, maupun pada wanita denga gejala inkontinensia tipe

campuran.
Sistourethroskopi
Sistourethroskopi dikerjakan dengan anestesi umum maupun tanpa anestesi, dapat
dilihat keadaan patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun divertikulum. Test
urodinamik meliputi uroflowmetri dan sistometri. Sistometri merupakan test yang paling
penting, karena dapat menunjukan keadaan kandung kemih yang hiperaktif, normal

maupun hipoaktif.
USG (Ultrasonografi). USG untuk mengidenti- fikasi kelainan pada leher kandung
kemih dan juga untuk mendiagnosis instabilitas otot detrusor.1

Diagnosis Kerja
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis kerja untuk pasien tersebut
adalah inkontinensia campuran (mixed incontinence), yaitu tipe urgensi dan tipe stress.
Dikatakan tipe urgensi sebab terkait dengan ketidakmampuan menunda berkemih setelah sensasi
berkemih muncul sehingga urin segera keluar dan juga karena adanya nokturia. Sementara
digolongkan tipe stress sebab terjadi pengeluaran urin secara tidak disadari selama melakukan
aktifitas fisik yang meningkatkan tekanan intraabdominal (tanpa disertai aktivitas musculus
detrusor). Inkontinensia tipe stress terutama terjadi pada perempuan berusia lanjut yang
mengalami hipermobilitas uretra dan lemahnya otot dasar panggung akibat banyaknya jumlah
paritas, operasi panggul, dan penurunan estrogen sesudah masa menopause.

Pada pasien dengan inkontinesnsia campuran, outlet kandung kemih lemah dan detrusor
bersifat overreaktif. Dengan kondisi outlet kandung kemih yang lemah pasien akan mengeluhkan
adanya urin yang keluar saat terjadi peningkatan tekanan intra abdominal. Hal ini dikarenakan
kelemahan pada sfingter uretra, menurunnya fungsi tonus otot-otot pelvis dan penurunan leher
kandung kemih dan uretra bagian proksimal. Keluhan pasien juga disertai dengan keinginan kuat
untuk berkemihsecara mendadak tetapi disertai dengan ketidakmampuan untuk menghambat
refleks miksi. Penyebab yang paling sering adalah kombinasi hipermobilitas uretra dan
instabilitas detrusor.3
Perlu ditekankan sekali lagi bahwa usia lanjut bukan sebagai penyebab inkontinensia urin
meskipun prevalensinya meningkat seiring meningkatnya usia. Dengan bertambahnya usia,
terjadi beberapa perubahan pada anatomi mauupun fisiolgis sistem urogenital, melemahnya otot
dasar panggul, maupun yang terkait dengan penurunan kadar estrogen pada perempuan dan
androgen pada laki-laki.1
Pada dinding kandung kemih, terjadi peningkatan fibrosis dan kandungan kolagen
sehingga mengakibatkan fungsi kontraktil tidak efektif lagi dan mudah terbentuk trabekulasi
maupun divertikel. Sementara secara fisiologis kapasitas dan kemampuan menahan kencing akan
menurun, kontraksi involunter dan volume residu dapat meningkat. Atrofi mukosa, perubahan
vaskularisasi submukosa, dan menipisnya lapisan otot uretra akibat meningkatnya deposit
kolagen menyebabkan menurunnya tekanan penutupan uretra dan tekanan akhiran keluar
(outflow). Pada laki-laki terjadi pengecilan testis dan pembesaran kelenjar prostat. Pada
perempuan terjadi penipisan dinding vagina, pemendekan dan penyempitan ruang vagina serta
berkurangnya lubrikasi akibat peningkatan pH lingkungan vagina. Dasar panggul (pelvic floor)
memiliki peran penting dalam dinamiki miksi dan mempertahankan kondisi kontinen.
Melemahnya fungsi dasar panggul disebabkan oleh banyak faktor baik fisiologis maupun
patologis (trauma, operasi) yang menyebabkan otot-otot melemah. Secara keseluruhan akibat
proses menua pada sistem urogenital bawah, posisi kandung kemih prolapse sehingga
melemahkan tekanan penutupan maupun tekanan akhiran keluar.1
Prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring meningkatnya usia dan lebih banyak
terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Resiko inkontinensia urin meningkat pada
perempuan dengan nilai indeks massa tubuh yang lebih besar denga riwayat histerektomi, infeksi
urin dan trauma perineal. Melahirkan per vaginam akan meningkatkan resiko inkonteinensia urin
tipe stress dan campuran.1Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat menyebabkan

melemahnya otot dasar panggul karenaditekan selama sembilan bulan. Proses persalinan juga
dapat membuat otot- otot dasar panggul rusak akibat regangan otot dan jaringan penunjang serta
robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urin.Pada usia
lanjut inkontinensia sering dikaitkan dengn depresi dan stroke, gagal jantung kongestif,
konstipasi, Inkontinensia feses, obesitas, penyakit paru obstruktif kronik, dan gangguan
mobilitas.1

Diagnosis Banding
Diagnosis banding untuk skenario ini adalah jenis inkontinensia tipe lain, dan juga infeksi
saluran kemih bagian bawah, yang juga merupakan salah satu komplikasi dari inkontinensia urin.
Klasifikasi Inkontinensia Urin
Terdapat dua jenis inkonetinensia urin, yaitu inkontinensia urin akut dan persisten.
a) Inkontinensia urin akut
Inkontinensia urin akut terjadi secara mendadak dan umumnya terkait kondisi
sakit akut yang menghilang jika kondisi akut teratasi atau problem medikasi dihentikan.
Penyebabnya dapat disingkat berupa akronim DRIP berupa delirium (D); infeksi,
inflamasi, impaksi (I); gangguan mobilitas, retensi (R), obat-obatan, kondisi-kondisi yang
mengakibatkan polyuria berupa hiperglikemia, hiperkalsemia (P) ataupun kondisi
kelebihan cairan seperti gagal jantung kongestif. 1 Delirium menyebabkan proses
hambatan refleks miksi berkurang sehingga menimbulkan inkontinensia yang bersifat
sementara. Infeksi traktus urinarius yang simptomatik seperti cystitis dan urethritis dapat
menyebabkan iritasi kandung kemih sehingga timbul frekuensi, disuria dan urgensi.
Obat-obatan seperti diuretik, dan antikolinergik akan meningkatkan pembebanan urin di
kandung kemih.4
b) Inkontinensia urin persisten
Inkontinensia urin persisten merujuk pada kondisi urikontinensia yang tidak
berkaitan dengan kondisi akut/iatrogenic dan berlangsung lama. Ada dua kelainan
mendasar pada fungsi saluran kemih bawah yang melatarbelakangi inkontinensia
persisten yaitu: kegagalan menyimpan urin pada kandung kemih akibat hiperaktif atau

menurunnya kapasitas kandung kemih atau lemahnya tahanan saluran keluar; dan
kegagalan pengosongan kandung kemih akibat lemahnya kontraksi otot detrusor atau
meningkatnya tahanan aliran keluar.
Inkontinensia urin persisten, tetrbagi lagi menjadi :

1. Inkontinensia urin tipe stres


Inkontinensia urin tipe stress merupakan keluarnya urin secara tidak disadari
selama proses batuk, bersin, tertawa maupun aktifitas lainnya yang meningkatkan
tekanan intraabdominal, terutama pada wanita usia lanjut yang mengalami hipermobilitas
uretra, lemahnya otot dasar panggul akibat seringnya melahirkan, operasi dan penurunan
estrogen.1,4 Inkontinensia stress terjadi saat tekanan intravesikal melebihi tekanan
maksimum uretra tanpa disertai aktivitas detrusor yang menyertai peningkatan tekanan
intra abdominal. Kondisi ini terjadi pada sekitar 85% wanita yang mengalami
inkontinensia.3
Penyebab terjadinya inkontinensia tipe stress diantaranya yaitu kelemahan pada
sfingter uretra, menurunnya fungsi tonus otot-otot pelvis, penurunan leher kandung
kemih dan uretra bagian proksimal,4 melahirkan per vaginam juga dapat meningkatkan
resiko inkontinensia tipe stress.1
Pasien yang mengalami inkontinensia tipe stress ini umumnya akan mengalami
kebocoran urin saat melakukan aktivitas fisik terutama yang meningkatkan tekanan intra
abdominal, urgensi (keinginan kuat, mendadak untuk berkemih) jarang, dan mampu
untuk mencapai toilet pada waktunya setelah suatu urgensi berkemih.3
2. Inkontinensia urin tipe urgensi
Inkontinensia urgensi ditandai dengan ketidakmampuan menunda berkemih
setelah sensasi berkemih muncul. Manifestasinya khas dengan overactive bladder berupa
urgensi, frekuensi dan nokturia.1Kasus ini berhubungan dengan aktivitas detrusor, disebut
juga instabilitas detrusor. Bila penyebabnya neurologik maka disebut sebagai
hiperefleksia detrusor.4
Tipe inkontinensia ini ditandai dengan adanya keinginan berkemih yang kuat
secara mendadak tetapi disertai dengan ketidakmampuan untuk menghambat refleks
miksi, sehingga pasien tidak mampu mencapai toilet pada waktunya.

3. Inkontinensia urin tipe overflow


Inkontinensiaoverflow merupakan

hilangnya

kendali

miksi

involunter

yangberhubungan dengan distensi kandung kemih yang berlebihan. Pada keadaan ini urin
mengalir keluar akibat isinya yang sudah terlalu banyak di dalam kandung kemih. Hal ini
dapatterjadi

secara

sekunder

dari

kerusakan

otot

detrusor

yang

memicu

kelemahandetrusor. Selain itu obstruksi uretra juga dapat memicu distensi kandung
kemihdan inkontinensia overflow.1,4 Misalnya terjadi pada keadaan kandung kemih yang
lumpuh akut atau kronik yang terisi terlalu penuh, sehingga tekanan kandung kemih
dapat naik tinggi, meningkatnya tegangan kandung kemih akibat obstruksi prostat
hipertrofi pada laki-laki atau lemahnya otot detrusor akibat diabetes melitus, trauma
medula spinalis, dan obat-obatan. Manifestasi klinisnya berupa pengosongan kandung
kemih tidak sempurna yang mengakibatkan urine menetes lewat uretra secara intermitten
atau keluar tetes demi tetes dan nokturia.1
4. Inkontinensia urin tipe fungsional
Inkontinensia fungsional terjadi akibat penurunan berat fungsi fisik dan kognitive
sehingga pasien tidak dapat mencapai toilet pada saat yang tepat. Hal ini memerlukan
identifikasi semua komponen yang tidak terkendalinya pengeluaran urin akibat faktor-faktor
yang ada di luar saluran kemih. Penyebab tersering adalah demensia berat, masalah
muskuloskeletal berat, faktor lingkungan yang kemudian menyebabkan kesulitan untuk pergi
ke kamar mandi, dan juga disebabkan oleh faktor psikologis.1

Infeksi Saluran Kemih Bawah


Infeksi saluran kemih adalah invasi mikroorganisme (biasanya bakteri) pada saluran
kemih, khususnya vesika urinaria dan uretra. Keadaan-keadaan tertentu yang dapat menyebabkan
adanya sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akan mengakibatkan distensi yang
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi
terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya
akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen
menyebar keseluruh traktus urinarius.5

Pada wanita yang sudah megalami menopause (penurunan hormon estrogen) akan terjadi
perubahan pada sistem reproduksi sehingga resiko untuk terkena infeksi saluran kemih semakin
besar. Infeksi pada uretra, uretritis, biasanya memperlihatkan gejala mukosa memerah dan
edema, terdapat cairan eksudat yang purulen, rasa gatal yang menggelitik, nyeri pada awal miksi
dan kesulitan untuk memulai miksi. Frekuensi miksi juga bertambah.4
Pasien biasanya datang dengan keluhan utama nyeri saat kencing, dan atau nyeri pada
suprapubik. Setelah itu akan dilakukan pemeriksaan penunjang seperti urinalisis dan kultur urin
untuk menegakkan diagnosis, dan juga untuk menentukan jenis antibiotik paling tepat sesuai
dengan bakteri yang teridentifikasi.4

Epidemiologi
Inkontinensia urine adalah masalah kesehatan yang signifikan di seluruh dunia dengan
pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomis padaindividu dan
lingkungannya. Angka kejadian inkontinensia urin secara pasti sulit ditentukan, karena banyak
penderita menganggap kejadian tersebut merupakan keadaan yang biasa, di samping
mereka malu menceritakannya atau tidak tahu harus minta tolong atau berkonsultasi
kemana.1
Prevalensi inkontinensia urin meningkat seiring dengan peningkatan umur. Perempuan
lebih sering mengalami inkontinensia urin daripada laki-laki dengan perbandingan 1,5:1.
Terdapat penelitian epidemiologis di Amerika mengidentifikasi angka prevalensi sebesar 10-40%
wanita tua yang mengalami inkontinensia.

Faktor Resiko Inkontinensia Urin


14

Faktor resiko yang berperan memicu inkontinensia urin pada wanita adalah

a. Faktor Kehamilan dan persalinan


Efek kehamilan pada inkontinensia urin tampaknya bukan sekedar proses
mekanik inkontinensia urin pada perempuan hamil dapat terjadi dari awal
kehamilan hingga masa nifas, jadi tidak berhubungan dengan penekanan kandung

kemih oleh uterus.


Prevalensi inkontinensia urin meningkat selama kehamilan dan beberapa
minggu setelah persalinan.

Tingginya usia, paritas dan berat badan bayi tampaknya berhubungan dengan
inkontinensia urin.

b. Wanita dengan indeks masa tubuh lebih tinggi akan cenderung lebih banyak
mengalami inkontinensia urin.
c. Menopause cenderung

bertindak

sebagai

kontributor

untuk

resiko

terjadinya

inkontinensia urin.
Selain ketiga faktor diatas, faktor resiko lain terjadinya inkontinensia urin adalah usia,
riwayat bedah pelvis, histerektomi (defisiensi estrogen), kondisi kesehatan lain: kondisi
neurologis, penggunaan obat-obatan, gangguan kognitif, gangguan fungsional contohnya
imobilitas.

Sindroma Urogenital Pada Masa Menopause


Oleh karena adanya penurunan kadar hormon terutama estrogen, pada wanita menopause
akan menyebabkan perubahan pada seluruh sistem reproduksi termasuk traktus urogenital.
Semua struktur dari traktus tersebut mempunyai reseptor reseptor estrogen tetapi aktifitas
biologiknya berbeda-beda. Afinitas reseptor terhadap estrogen berbeda beda untuk masing
masing organ. Afinitas reseptor estrogen pada uterus adalah 100% sedangkan afinitas reseptor
estrogen dari traktus urogenital adalah berturut turut sebagai berikut : 60% pada vagina, 40%
pada urethra dan 25% pada muskulus levator ani dan ligament ligament dasar panggul.
Penurunan kadar estrogen dapat mengakibatkan gangguan yang dialami wanita usia
lanjut berupa gangguan haid, mati haid, keluhan klimakterik, gangguan sistemik maupun
lokal.6
Menurunnya kadar estrogen akan menyebabkan jaringan urogenital dan dasar panggul
mengalami atrofi. Epitel vulva dan vagina menipis dan mudah terinfeksi. Akibat
menghilangnya jaringan lunak dan elastik vulva serta menipis dan berkurangnya vaskularisasi
menyebabkan lipatan labia mengerut dan tonjolannya menipis. Mengerutnya introitus vagina
dan berkurangnya rugae vagina serta menurunnya jumlah kelenjar dan aktivitas sekresinya
akan mudah terkena lesi dan iritasi karena trauma, sehingga menimbulkan keluhan vulva dan
vagina seperti kering, pruritus, panas, dispareuni. Atrofi mukosa vagina dan uretra memberi
gejala pula seolah olah ada keluhan traktus urinarius. Perubahan flora vagina sebagai akibat

perubahan hormonal pada saat menopause diperkirakan memegang peranan penting dalam
pathogenesis terjadinya infeksi traktus urinarius. Pada wanita subur sampai premenopause,
estrogen menyebabkan tumbuhnya koloni laktobasilus dalam vagina yang mengubah glikogen
pada sel superfisial vagina menjadi asam laktat,sehingga mengakibatkan pH vagina rendah dan
menghambat invasi bakteri pathogen gram negatif. Setelah menopause, keadaan

atrofi

vulvovaginal menyebabkan pertumbuhan laktobasilus terhambat. Dengan meningkatnya


glikogen dalam sel superfisial dan menjadi encernya sekret vagina, pH vagina meningkat.
Keadaan ini memudahkan terjadinya infeksi. Pengerutan dan

pemendekan

uretra

menyebabkan lemahnya meatus uretra eksterna sehingga memudahkan terjadinya uretritis


dan disuria. Vagina akan didominasi oleh koloni Enterobakteri terutama Escherichia coli
yang diduga sebagai penyebab infeksi traktus urinarius pada wanita menopause.7

Patofisiologi Inkontinensia Urin


Proses berkemih normal merupakan proses dinamis yang memerlukan rangkaian
koordinasi proses fisiologik berurutan yang pada dasarnya dibagimenjadi 2 fase yaitu, fase
pengisisan,dengan kandung kemih berfungsi sebagai reservoar urin yang masuk secara
berangsur-angsur dari ureter, dan fase miksidengan kandung kemih sebagai pompa yang
menuangkan urine melalui uretra dalam waktu relatif singkat. Secara normal selama fase
pengisian tidak terjadi kebocoran urine, walaupun kandung kemih penuh atau tekanan
intraabdomen meningkat seperti sewaktu batuk, bersin, tertawa, meloncat-loncat atau kencing
dan peningkatan isi kandung kemih akan memperbesar keinginan untuk berkemih. Pada fase
pengosongan, isi seluruh kandung kemih dikosongkan sama sekali. 1
Inkontinensia urin terjadi ketika ada disfungsi baik dalam fungsi penyimpanan yaitu
kegagalan menyimpan urin pada kandung kemih akibat hiperaktif atau menurunnya kapasitas
kandung kemih atau lemahnya tahanan saluran keluar; atau kadang-kadang dalam fungsi
pengosongan saluran kemih bawah yaitu kegagalan pengosongan kandung kemih akibat
lemahnya kontraksi otot detrusor atau meningkatnya tahanan aliran keluar. Disfungsi sfingter
uretra dan disfungsi vesica urinaria dapat hadir berdampingan dan berbagai komponendari
mekanisme inkontinensia mungkin dapat mengkompensasi satu sama lain. Sebagaicontoh,
wanita mungkin mengalami cedera anatomis atau neuromuskuler selama persalinan namun tetap
asimtomatik sampai ada hilangnya fungsi sfingter uretra akibat penuaan.1

Musculus levator ani adalah otot yang paling penting pada diaphragma pelvis. Musculus
ini juga sangat berpengaruh pada otot sfingter uretra. Baik musculus levator ani maupun sfingter
uretra dipersarafi oleh cabang-cabang nervus pudendus yang berasal dari nervus sacralis S2-S4.
Saat persalinan, otot-otot dasar panggul salah satunya levator ani, akan mengalamai tekanan oleh
bagian terbawah janin. Persalinan akan menekan saraf-saraf panggul yang menyarafi otot dasar
panggul. Akibatnya, terjadi denervasi parsial otot dasar panggul. Jika persalinan terjadi berulangulang kali, maka akan terjadi peregangan nervus pudendus dan cabang-cabangnya sehingga
terjadi trauma saraf yang serius dan tidak dapat disembuhkan kembali seperti ke bentuknya
semula.8,9
Kelemahan otot dasar panggul akibat mobilitas dari leher kandung kemih dan uretra,
dapat menyebabkan ketidakmampuan sphincter uretra untuk menyempit. Ketika ibu hamil batuk,
bersin, tertawa atau mengedan tekanan intraabdominal akan menigkat dan tekanan tersebut akan
ditransmisikan ke kandung kemih. Ketika tekanan didalam kandung kemih lebih tinggi daripada
tekanan menutupnya uretra, spingter uretra akan melemah sehingga terjadilah inkotinensia urin.
Itulah sebabnya kehamilan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya inkotinensia urin pada
wanita.10
Ekspansi uterus dan peningkatan berat badan janin sesuai usia kehamilan terutama pada
terimester ketiga berhubungan dengan inkotinensia urin. Karena secara langsung dapat menekan
kandung kemih yang dapat mengubah posisi leher kandung kemih dan mengurangi kapasitasnya,
hal ini berkontribusi terhadap tekanan kandung kemih yang melebihi tekanan uretra sehingga
menyebabkan kebocoran urin. Secara fisiologis pada prenatal terjadi perubahan seperti
penigkatan tekanan akibat pertumbuhan uterus dan berat badan janin, bersamaan dengan
kehamilan pula terjadi perubahan hormon progesteron, estrogen dan relaxin yang nantinya dapat
menurunkan kekuatan spingter. Kelemahan otot kandung kemih menyebabkan mobilitas leher
kandung kemih dan uretra, sehingga menyebabkan lemahnya spingter uretra. Oleh karena itu
ketika tekanan intra abdomen meningkat dengan batuk, bersin, tertawa atau bergerak tekanan
dalam kandung kemih menjadi besar dari tekanan penutupan uretra dan nantinya spingter uretra
tidak cukup kuat untuk memepertahankan penutupan uretra.10

Penatalaksanaan

Telah dikenal beberapa modalitas terapi dalam penatalaksanaan pasien dengan


inkontinensia urin.
I. Terapi non farmakologis
Terapi non farmakologis meliputi terapi suportif non-spesifik seperti edukasi,
manipulasi lingkungan, memakai substitusi toilet, pakaian dan pads tertentu. 1Edukasi
intervensi gaya hidup berupa mengurangi asupan kafein & modifikasi asupan cairan yang
tinggi ataurendah dapat dianjurkan pada perempuan dengan inkontinensia urin atau
overactive bladder. Perempuan dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 disarankan
menjalani progam penurunanberat badan.4
a. Intervensi tingkah laku
Intervensi perilaku yang juga merupakan tatalaksana non-farmakologis
memiliki resiko yang rendah dengan sedikit efek samping, namun memerlukan
motivasi dan kerjasama yang baik dari pasien.1
b. Bladder training
Bertujuan memperpanjang interval waktu berkemih dengan teknik relaksasi
dan distraksi (teknis relaksasi) sehingga frekuensi berkemih 6-7 kali/hari atau 3-4 jam
sekali. Pasien diharapkan dapat menahan keinginan untukberkemih bila belum
waktunya.Lansia dianjurkan untuk berkemih padainterval waktu tertentu, mula-mula
setiap jam, selanjutnya diperpanjangsecara bertahap sampai lansia ingin berkemih
setiap 2-3 jam.
c. Latihan otot dasar panggul (Kegel exercise)
Terapi ini efektif untuk inkontinensia urin tipe stress atau campuran dan tipe
urgensi.Dilakukan 3-5 kali/hari dengan 15 kontraksi dan menahan hingga 10 detik.
Latihan dilakukan dengan membuat kontraksi berulang-ulang pada otot dasar
panggul. Program rehabilitasi dasar panggul ditujukan untuk memperkuat ototototdasar panggul. Otot-otot ini termasuk kelompok levator ani, sfingter
analeksternal, dan lurik sfingter uretra. Dengan demikian diharapkan dapat
meningkatkan kekuatan uretra untuk menutup secara sempurna.
d. Habit training

Habit training memerlukan penjadwalan waktu berkemih dan diupayakan agar


jadwal berkemih sesuai dengan pola berkemih pasien sendiri.Teknik ini sebaiknya
digunakan pada inkontinensia fungsional.
e. Prompted voiding
Prompted voiding dilakukan dengan cara mengajari pasien mengenali kondisi
atau status inkontinensia mereka sera dapat memeberitahukan petugas atau
pengasuhnya bila ingin berkemih. teknik ini digunakan untuk pasien dengan kondisi
gangguan fungsi kognitif
f. Terapi biofeedback
Terapi biofeedback bertujuan agar pasien mampu mengontrol/menahan
kontraksi involunter otot detrusor kandung kemihnya.Namun kendalanya, penderita
perlu mempunyai intelegensia cukup untuk mengikuti petunjuk pelatihnya.
g. Neuromodulasi
Neuromodulasi merupakan terapi dengan menggunakan stimulasi saraf
sacral.Diduga adanya kegiatan interneuron tulang belakang atau neuron adrenergic
beta yang mengahmbat kegiatan kandung kenmih.Beberapa penelitian menunjukan
bahwa neuromodulasi merupakaan salah satu penatalaksanaan yang berhasil untuk
kandung kemih hyperactive.

II. Terapi Farmakologis


o Setidaknya ada empat antimuskarinik (antikolinergik) yaitu oksibutinin,
tolterodin, frospium dan proviperinyang cukup efektif dalam menekan aktivitas
detrusor berlebihan yang memicu urgensi dan inkontinensiaurgensi. Obat tersebut
menekan kontraksi detrusor volunter dan involunter dengan memblok reseptor
muskarinik pada otot polos kandung kemifu cukup efektif untuk pasien lanjut usia
pasca transurethral resection prostat.1
o Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergik agonis, yaitu pseudoephedrine
untuk meningkatkan tekanan sfingter urethra. Namun karena efek sampinya

seperti insomnia, sakit kepala dan gelisah sehingga jarang ditemui pada usia
lanjut.1
o Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfakolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, danterapi
diberikan secara singkat.
Terapi yang menggunakan obat (farmakologis) merupakan terapi yang terbukti
efektif terhadap inkontinensia urin tipe stress dan urgensi. Terapi ini dapat dilaksanakan
bila upaya terapi non-farmakologis telah dilakukan namun tidak dapat mengatasi masalah
inkontinensia tersebut.1
Berikut adalah obat-obat yang dapat digunakan pada pasien dengan inkontinensia
urin:

Obat Yang Digunakan Untuk Inkontinensia Urin


Obat
Dosis
Tipe Inkontinensia
Hyoscamin
3 x 0,125 mg
Urgensi atau campuran
Tolterodin
Imipramin
Pseudoephedri
n
Topikal
estrogen
Doxazosin
Tamsulosin
Terazosin

2 x 4 mg
3 x 25-50 mg
3 x 30-60 mg

4 x 1-4 mg
1 x 0,4-0,8 mg
4 x 1-5 mg

Urgensi atau OAB


Urgensi
Stress

Efek Samping
Mulut kering, mata kabur, glaukoma,
derilium, konstipasi
Mulut kering, konstipasi
Derilium, hipotensi ortostatik
Sakit kepala, takikardi, hipertensi

Urgensi dan Stress

Iritasi local

BPH dengan Urgensi

Hipotensi postural

Tabel 1. Obat-Obat Yang Dapat Digunakan Pada Pasien Dengan Inkontinensia Urin.1
III. Terapi hormonal
Estrogen membantu menjaga kesehatan jaringan yang penting untuk transmisi
tekanan normal di dalam uretra. Yang termasuk jaringan tersebut adalah termasuk otot
sfingter, jaringan urothelium dan pembuluh darah, serta sekresi uretra yang dapat
membantu untuk menciptakan sebuah 'segel'. Estrogen pengganti (sintesis) telah
dipromosikan sebagai solusi untuk inkontinensia urin pada wanita menopause, meskipun
modus tindakan utamanya tidak jelas.

IV. Terapi Pembedahan

Tindakan ini dilakukan atas pertimbangan yang matang dan didahului dengan
evaluasi urodinamik.1,3
o Pada perempuan dengan prolaps pelvik yang signifikan dan inkontinensia stress yang
tidak membaik harus dilakukan tindakan operatif. Teknik pembedahan ti[e stress
adalah injectable intraurethral, bulking agents, suspensi leher kandung kemih,
urethral slings dan artificial urinary sphincters.
o Pada laki-laki dengan tanda obstruksi saluran kemih akibat hipertrofi prostat dapat
dilakukan operasi sebagai pencegahan tipe oferflow.
o Teknik pembedahan untuk tipe urgensi adalah augmentation cytoplasty dan stimulasi
elektrik.

V. Kateter
Penggunaan kateter menetap sebaiknya tidak digunakan secara rutin dalam
pengelolaan inkontinensia urin karena dapat menyebabkan infeksi saluran kemih bahkan
sampai sepsis, pembentukan batu, abses dan bocor. Kateter menetap hanya digunakan
bila terjadi retensi urin yang lama sehingga menyebabkan infeksi saluran kemih atau
gangguan ginjal.1
Kateter intermitten merupakan alat yang secara rutin digunakan untuk
mengosongkan kandung kemih. Teknik ini diberikan pada pasien yang tidak dapat
mengosongkan kandung kemih, namun berisiko terjadi infeksi saluran kemih. 1

Terapi untuk inkotinensia urin tergantung pada penyebab inkontinensia urin.Untuk


inkontinensia urin tipe urgensi dan overactive bladder, diberikat latihan otot dasar pangul,
bladder training, schedule toiletting, dan obat yang bersifat antimuskarinik (antikolagenik)
seperti tolterodin atau oksibutin. Obat antimuskarinikyang dipilih seyogianya yang bersifat
uroselektif. Untuk inkontinensia urin tipe stress, latihan otot dasar panggul merupakan pilihan
utama. Dapat diberikan terapi bladder training dan obat agonis alfa (hati hati pemberianagonis
alfa pada orang usia lanjut).Untuk inkontinensia tipe overflow, perlu diatasi penyebabnya. Bila
ada sumbatan,perlu diatasi sumbatannya.1

Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat menyertai inkontinensia urine seperti infeksi saluran kencing,
infeksi kulit daerah kemaluan, gangguan tidur, masalah psiko sosial seperti depresi, mudah
marah, dan rasa terisolasi. Secara tidak langsung masalah tersebut dapat menyebabkan dehidrasi,
karena umumnya pasien mengurangi minum, karena kawatir terjadi kebocoran urin. Pada pasien
yang kurang aktifitas hanya berbaring di tempat tidur dapat menyebabkan ulkus dikubitus dan
dapat meningkatkan resiko infeksi lokal termasuk osteomyelitis dan sepsis. Dapat pula
menyebabkan jatuh dan fraktur akibat terpeleset oleh urin yang tercecer.5

Pencegahan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, inkontinensia urinmerupakan salah satu masalah
pada traktus urinarius yang disebabkan oleh banyak faktor. Hal-hal yang dapat menyebabkan
melemahnya otot pelvis seperti jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu, dan juga faktor
hormonal (menopause) memang tidak dapat dikendalikan. Oleh sebab itu cara yang paling tepat
untuk mencegah terjadinya keluhan ini adalah menghindari faktor resiko yang dapat diubah,
seperti menjaga berat badan yang ideal, perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat.
Menghindari makanan dan minuman yang mengandung zat-zat yang dapat mengiritasi kandung
kemih seperti kafein, alkohol dan pemanis buatan, mengkonsumsi makanan cukup serat
mencegah konstipasi yang dapat menyebabkan kontrol kandung kemih yang buruk, olahraga
secara teratur, dan tetap mengkonsumsi banyak air. Program latihan dasar panggul juga dapat
mengurangi inkontinensia stress 1 tahun setelah persalinan.5,7

Prognosis
Pada dasarnya, Inkontinensia Urin mempunyai kemungkinan besar untuk disembuhkan,
terutama pada penderita dengan mobilitas dan status mental yang cukup baik.9

Inkontinensia urin tipe sterss biasanya dapat diatasi dengan latihan otot dasar panggul,
prognesisnya cukup baik.

Inkontinensia urin tipe urgensi atau overactive blader berdasarkan hasil studi,
menunjukkan bahwa latihan kandung kemih memberikan perbaikan yang cukup

signifikan (75%) dibandingkan dengan penggunaan obat antikolinergik (44%). Pilihan


terapi bedah sangat terbatas dan memiliki tingkat morbiditas yang tinggi.

Inkontinensia urin tipe overflow, tergantung pada penyebabnya (misalnya dengan


mengatasi sumbatan / retensi urin). terapi medikasi dan bedah sangat efektif untuk
mengurangi gejala inkontinensia.

Inkontinensia campuran; sama seperti pada tipe urgensi, latihan kandung kemih dan
latihan panggul memberikan hasil yang lebih memuaskan dibandingkan penggunaan
obat-obatan antikolinergik.

Kesimpulan
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan menahan kencing. Anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang baik, disertai dengan beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan
untuk menegakkan diagnosis gangguan ini. Jenis inkontinensia urine yang utama yaitu
inkontinensia urin tipe stres, urgensi, over flow, fungsional dan campuran. Pada wanita usia
lanjut yang sudah mengalami menopause dan multi para, kemungkinan untuk mengalami
inkontinensia urin akan bertambah, khususnya inkontinensia urin tipe stress dan campuran. Hal
tersebut disebabkan karena adanya perubahan struktur dan fungsional akibat proses penuaan,
termasuk pada saluran kemih, yaitu vesika urinaria dan uretra.

Daftar Pustaka

1. Setiati S, Pramantara DP. Inkontinensia urin dan kandung kemih hiperaktif dalam buku
ajar ilmu penyakit dalam jilid I. Edisi ke-6. Jakarta: Interna Publishing; 2014.h.3771-81.
2. Suparman E, Rompas J. Inkontinensia urin pada perempuan menopause. Majalah
Obstetri, Ginekolog Indonesia. 2010.
3.

Morgan G, Hamilton C. Obstetri dan ginekologi panduan praktik. Ed 2. Jakarta: EGC;


2009.h.292-5.

4. Susanto IB. Inkontinensia urin pada perempuan. Dalam : Maj Kedokt Indon.Volume 58
No 7. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008. H. 258-64 diunduh pada
22 Desember 2015 (04.51)
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/849/848
5. Martono HH, Pranarka K. Geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut) edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2009.h.226-41.
6. Bhatia NN, Bergman A. pessary Test in women With urinary Incontinence. Obstet
Gynecol 1985 ;65 : 220-225.
7. Morgan JE, Farrow GA, Stewart FE. The Marlex Sling Operation for the Treatment of
Recurrent Stress Urinary Incontinence : A 16-years review. Am J Obstet Gynecol 1985 ;
151 : 224-226.
8. Snell RS. Anatomi klinis berdasarkan sistem. Jakarta: EGC; 2011.h.748-75.
9. Salick A, Tajammul A, et al. Frequency of urinary symptomps in pregnancy. Biomedica
journal vol.21; 2005.
10. Sangsawang B, stress Urinary Incontinence in Pregnant Women : a Review of
Pervalence, Pathophysiology and Treatment. Newyork: Journal of Urogynecology; 2012.