Anda di halaman 1dari 17

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1

ISPA

3.1.1 Definisi
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar ISPA
merupakan singkatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan
bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah infeksi saluran pernapasan
yang berlangsung 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari
hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti sinus, ruang telinga
tengah dan selaput paru.2
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek
dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita
pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibatkan kematian.
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu
pneumoni dan yang bukan pneumoni. Pneumoni dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu
pneumoni berat dan pneumoni tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rhinitis, faringitis,
tonsillitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumoni.
Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak
dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada
balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut
harus mendapat antibiotik.3
ISPA ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung
kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Kelainan pada sistem
pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan fibro kistik,
menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatrik. Infeksi saluran pernapasan
bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan
masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.2
Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama
apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene.
Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang,
beban imunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta
tidak tersedianya atau berlebihannya pemakaian antibiotik.2
3.1.2 Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut :

a) Pneumonia berat : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam
(chest indrawing).
b) Pneumonia : ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
c) Bukan pneumonia : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Klasifikasi ISPA ini dapat dibedakan sesuai dengan golongan umur, yaitu :
1. Golongan umur kurang 2 bulan :
a. Pneumonia berat : ditandai dengan nafas cepat dan tarikan dalam dan
kuat dinding dada bagian bawah. Batas napas cepat untuk golongan
umur < 2 bulan yaitu 60kali per menit atau lebih.
b. Bukan pneumonia : batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan
kuat dinding dada bagaian bawah atau napas cepat (frekuensi napas <
60x/menit). 2
2. Golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun :
a. Pneumonia berat : bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding
dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau
meronta)
b. Pneumonia : tidak ada tanda tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam, adanya napas cepat :
usia 2-12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih
usia 1-4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.
c. Bukan pneumonia : batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan
-

dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat :


- Usia 2-12 bulan adalah kurang dari 50 kali per menit
- Usia 1-4 tahun adalah kurang dari 40 kali per menit
3.1.3 Etiologi dan Faktor Resiko ISPA
Infeksi saluran napas akut dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur. Sebagian besar
infeksi saluran napas atas disebabkan oleh virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik.
Faktor Resiko
a.
b.
c.
d.
e.

Kontak dekat (terutama pada anak-anak di sekolah atau playgroup)


Merokok dan perokok pasif
Imunodefisiensi
Polip hidung, bentuk muka, traum ajalan nafas atas
Penderita carrier streptococcus group A

Pada ISPA dikenal 3 cara penyebaran infeksi ini :


a. Melalui aerosol yang lembut, terutama oleh karena batuk-batuk
b. Melalui aerosol yang lebih kasar, terjadi waktu batuk-batuk dan bersin-bersin.

c. Melalui kontak langsung / tidak langsung dari benda-benda yang telah dicemari jasad
renik (hand to hand transmission)
Pada infeksi virus, transmisi diawali dengan penyebaran virus, terutama melalui bahan
sekresi hidung. Virus ISPA terdapat 10-100 kali lebih banyak dalam mukosa hidung daripada
mukosa faring.
Dari beberapa penelitian klinik, laboratorium, maupun di lapangan, diperoleh
kesimpulan bahwa sebenarnya kontak hand to hand merupakan modus yang terbesar
dibandingkan dengan cara penularan aerogen yang semula banyak diduga.2
3.1.4 Diagnosis ISPA
ISPA yang ringan umumnya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang. Diagnosis
ISPA sering dilakukan secara klinis. Namun apabila terjadi komplikasi seperti pneumonia
berat, biasanya diperlukan pemeriksaan laboratorium dan roentgen. Pada kondisi tertentu
seperti demam yang berkepanjangan mungkin diperlukan pemeriksaan laboratorium.
Diskusikan dengan dokter anda mengenai pemeriksaan ISPA.
Berikut merupakan penyakit yang termasuk dalam golongan ISPA : commond cold,
influenza, sinusitis, otitis media akut, laringitis, bronkitis, pneumonia, dan lain-lain.3
Gejala
Penemuan penderita ISPA dilakukan secara pasif (passive case finding) yaitu penemuan
penderita ISPA yang datang berobat dengan gejala-gejala saluran pernapasan yaitu sebagai
berikut.2
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Batuk
Pilek
Kesulitan bernapas
Demam (38-40C)
Bersin-bersin
Nyeri menelan
Sakit kepala, nyeri sendi
Lemah, lesu
Frekuensi napas cepat

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan mengajukan
beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan anak. Hal ini penting agar
selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi

napas), untuk ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat
dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit
untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus
dibuka sedikit. Auskultasi dapat dilakukan untuk mendengarkan apakah ada kelainan suara
paru. Namun, untuk membedakan pneumonia atau bukan pneumonia dapat dilihat dari
adanya tarikan dinding dada dan napas cepat.2,3
3.1.5 Penatalaksanaan ISPA
Pengobatan pada penyakit ISPA dapat dibagi sesuai dengan klasifikasinya, yaitu
sebagai berikut.2,3
1. Pneumonia berat :
Dirawat dirumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen dsb.
2. Pneumonia :
Diberi obat antibiotik kortimoksasol peroral.
Bila penderita tidak mungkin diberi kortimoksasol atau ternyata dengan
pemberian kortimoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat
antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan Pneumonia :
Pengobatan bersifat symptomatik
Tanpa pemberian obat antibiotik, diberikan perawatan di rumah, untuk batuk
dapat diberikan obat batuk yang tidak mengandung zat yang merugikan

seperti kodein, dekstrometorfan dan, antihistamin.


Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol

Perawatan dirumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita
ISPA : 3
1. Mengatasi panas (demam) :
Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan
parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus
segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara
pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian

digerus dan

diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan


pada air (tidak perlu air es).
2. Mengatasi batuk :

Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk
nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga
kali sehari.
3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu
lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang
menyusu tetap diteruskan.
4. Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak
dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan
menambah parah sakit yang diderita.
5. Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan
rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang
berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih
parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi
cukup

dan

tidak berasap. Apabila selama perawatan

dirumah keadaan anak

memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.


Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan
agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh.
Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari
anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.
Pencegahan
Penyakit ISPA dapat dicegah penularannya dengan cara :6
1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik
2. Immunisasi
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
5. Pemberian ASI eksklusif (antibodi)
6. Berhenti merokok atau hindari asap rokok
7. Nutrisi adekuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh
8. Aktivitas fisik ditingkatkan
9. Hindari stress karena dapat menurunkan daya tahan tubuh
10. Istirahat yang cukup
3.1.6 Komplikasi

Komplikasi ISPA yang dapat terjadi diantaranya sebagai berikut.3


1.
2.
3.
4.
5.

Sinusitis
Sesak napas
Pneumonia dan pneumonia berat
Otitis Media Akut
Demam Reumatik, Penyakit Jantung Reumatik dan Glomerulonefritis, yang
disebabkan oleh radang tenggorokan karena infeksi Streptococcus beta hemolitikus
grup A (Strep Throat)

3.1.7 Prognosis
Prognosis untuk penyakit ISPA umunya baik bila ditangani dengan tepat serta
didukung dengan status gizi yang baik. Namun dapat menjadi buruk bahkan sampai
menimbulkan kematian bila pasien datang berobat dalam keadaan berat serta adanya
penyulit-penyulit dan gizi yang buruk.
3.2

ADHD

3.2.1 Definisi
ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) disebut juga dengan gangguan
pemusatan perhatian dan hiperaktif (GPPH). ADHD adalah gangguan perkembangan anak
yang ditandai dengan peningkatan aktivitas motorik dan menyebabkan aktivitas anak yang
tidak lazim dan cenderung berlebihan. ADHD ditandai rentang perhatian yang buruk yang
tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas dan impulsivitas atau keduanya
yang tidak sesuai dengan usia. Kondisi ini sangat mempengaruhi fungsi akademik dan sosial
pasien. ADHD terjadi sebelum usia 7 tahun dan gangguan tersebut harus berlangsung selama
minimal 6 bulan.6,7
3.2.2`Etiologi
Penyebab gangguan ADHD tidak diketahui secara pasti. Sebagian besar anak dengan
ADHD tidak menunjukkan tanda-tanda cedera struktural yang besar pada sistem saraf pusat.
Sebaliknya, sebagian besar anak dengan gangguan neurologis yang diketahui yang
disebabkan oleh cedera otak tidak menunjukan gejala ADHD. Faktor predisposisi mungkin
termasuk temperamen anak, faktor genetik-familial, dan tuntutan sosial untuk mematuhi cara
berkelakuan dan bertindak yang rutin. Status sosioekonomi tampaknya bukan merupakan
faktor predisposisi.5
1. Faktor genetik
Bukti-bukti untuk dasar genetik untuk gangguan ADHD adalah lebih besarnya angka
kesesuaian dalam kembar monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Sanak

saudara anak-anak hiperaktif memiliki risiko dua kali menderita gangguan


dibandingkan populasi umum. Orangtua biologis dari anak-anak dengan gangguan
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk memiliki gangguan ADHD dibandingkan
orangtua adoptif. Jika gangguan ADHD ada bersama-sama dengan gangguan
konduksi pada anak, gangguan penggunaan alkohol, dan gangguan kepribadian
antisosial adalah lebih sering pada orangtua dibandingkan pada populasi umum.
2. Faktor neurokimiawi
Banyak neurotransmiter telah dihubungkan dengan gejala ADHD. Sebaguan temuan
berasal dari pemakaian banyak medikasi yang menimbulkan efek positif pada
gangguan. Obat yang paling banyak diteliti dalam terapi ADHD adalah stimulan
yang mempengaruhi dopamin maupun norepinefrin yang menghasilkan hipotesis
neurotransmiter yang menyatakan kemungkinan disfungsi pada sistem adrenergik
dan dopaminergik. Stimulan meningkatkan katekolamin dengan mempermudah
pelepasannya dan dengan menghambat ambilannya. Obat lain yang menurunkan
hiperaktivitas adalah obat trisiklik dan inhibitor monoamin oksidase (MAOI). Secara
keseluruhan tidak ada bukti-bukti yang jelas yang melibatkan suatu neurotransmiter
tunggal dalam perkembangan ADHD, tetapi banyak neurotransmiter mungkin
terlibat dalam proses perkembangan penyakit.
3. Faktor neurologis
Otak manusia normalnya menjalani kecepatan pertumbuhan utama pada beberapa
usia, yaitu usia 3-10 bulan, 2-4 tahun, 6-8 tahun, 10-12 tahun, dan 14-16 tahun.
Beberapa anak mengalami maturasi pertumbuhan secara berurutan dan menunjukan
gejala ADHD yang bersifat sementara. Suatu korelasi fisiologis adalah
ditemukannya

berbagai

pola

elektroensefalogram

(EEG)

abnormal

yang

terdisorganisasi dan karakteristik untuk anak kecil. Pada beberapa kasus temuan
EEG menjadi normal dengan berjalannya waktu.
4. Faktor psikososial
Anak-anak dalam institusi seringkali overaktif dan memiliki rentang atensi yang
buruk. Tanda tersebut dihasilkan dari pemutusan emosional yang lama dan gejala
menghilang jika faktor pemutus dihilangkan seperti melalui adopsi atau penempatan
di rumah penitipan. Kejadian fisik yang menimbulkan stres, suatu gangguan dalam
keluarga, dan faktor yang menyebabkan kecemasan berperan dalam awal atau
berlanjutnya ADHD.
5. Cedera otak
Telah lama diperkirakan bahwa beberapa anak yang terkena ADHD mendapatkan
cedera otak yang minimal dan samar-samar pada sistem saraf pusatnya selama

periode janin dan perinatalnya. Atau cedera otak mungkin disebabkan oleh efek
sirkulasi, toksik, metabolik, mekanik, dan efek lain yang merugikan dan oleh stres
dan kerusakan fisik pada otak selama masa bayi yang disebabkan oleh infeksi,
peradangan, dan trauma. Cedera otak minimal, samar-samar, sub-klinis mungkin
bertanggung jawab untuk timbulnya gangguan belajar dan ADHD. Tanda neurologis
non fokal mungkin ditemukan.
3.2.3 Manifestasi Klinis
Anak dengan ADHD mungkin memiliki onset pada masa bayi. Bayi dengan ADHD
adalah peka terhadap stimuli dan mudah dimarahkan oleh cuara, cahaya, temperatur, dan
perubahan lingkungan lain. Kadang-kadang terjadi kebalikannya, anak menjadi tenang dan
lemah, banyak tidur, dan tampaknya berkembang lambat pada bulan-bulan pertama
kehidupan. Tetapi lebih sering untuk bayi dengan ADHD untuk bersikap aktif ditempat
tidurnya, sedikit tidur, dan banyak menangis. Anak ADHD jauh lebih jarang dibandingkan
anak normal untuk menurunkan aktivitas lokomotoriknya saat lingkungan mereka terstruktur
oleh batas-batas sosial. Di sekolah, anak ADHD dapat dengan cepat menyambar ujian tetapi
hanya menjawab satu atau dua pekerjaan pertama. Mereka tidak mampu menunggu giliran
orang lain. Di rumah, mereka tidak dapat didiamkan walaupun hanya semenit.5
Anak-anak dengan ADHD seringkali mudah marah secara meledak. Iritabilitas mereka
mungkin ditimbulkan oleh stimuli yang relatif kecil, yang mungkin membingungkan dan
mencemaskan anak. Mereka seringkali labil secara emosional, mudah dibuat tertawa atau
menangis, dan mood dan kinerja mereka cenderung bervariasi dan tidak dapat diramalkan.
Impulsivitas dan ketidak mampuan menunda kegembiraan adalah karakteristik. Mereka
sering sekali rentan terhadap kecelakaan.5
Kesulitan emosional penyerta sering ditemukan. Kenyataan bahwa anak-anak lain
menumbuhkan perilaku tersebut tetapi anak ADHD tidak menumbuhkannya pada waktu dan
kecepatan yang sama dapat menyebabkan ketidakpuasan dan tekanan pada orang dewasa.
Konsep diri yang negatif dan permusuhan reaktif yang dihasilkannya adalah diperburuk oleh
kesadaraan anak bahwa ia memiliki masalah.5
Karakteristik anak-anak dengan ADHD yang tersering dinyatakan adalah hiperaktivitas,
gangguan motorik perseptual, labilitas emosional, defisit koordinasi menyeluruh, gangguan
atensi (rentang atensi yang pendek, distraktibilitas, keras hati, gagal menyelesaikan hal,
inatensi, konsentrasi yang buruk), impulsivitas (bertindak sebelum berpikir, mengubah
perilaku dengan tiba-tiba, tidak memiliki organisasi, meloncat-loncat di sekolah), gangguan

daya ingat dan pikiran, ketidakmampuan belajar spesifik, gangguan bicara dan pendengaran,
dan tanda neurologis dan iregularitas EEG yang samar-samar.5
Kira-kira 75% anak-anak dengan ADHD hampir konsisten menunjukkan gejala
perilaku agresi dan menantang. Tetapi bilamana menantang dan agresif adalah berkaitan
dengan hubungan dalam keluarga yang merugikan, hiperaktivitas lebih erat berhubungan
dengan gangguan kinerja pada tes kognitif yang memerlukan konsentrasi. Beberapa
penelitian menyatakan bahwa beberapa sanak saudara dari anak-anak hiperaktivitas
menunjukkan ciri-ciri gangguan kepribadian antisosial.5
3.2.4 Diagnosis
Tanda utama hiperaktivitas harus menyadarkan klinisi tentang kemungkinan ADHD.
Riwayat pranatal yang terinci tentang pola perkembangan anak dan pengamatan langsung
biasanya menemukan aktivitas motorik yang berlebihan. Hiperaktivitas mungkin ditemukan
pada beberapa situasi (misalnya sekolah) tetapi tidak dalam situasi lainya (misalnya
menonton televisi) dan mungkin tidak jelas pada situasi yang terstruktur dibandingkan pada
situasi yang tidak terstruktur. Hiperaktivitas tidak merupakan manifestasi perilaku yang
tersendiri, singkat, dan transien di bawah stress tetapi ditemukan selama waktu yang lama.
Ciri pembeda lain dari ADHD adalah rentang perhatian yang pendek dan distraktibilitas yang
mudah. Di sekolah, anak-anak dengan ADHD tidak dapat mengikuti instruksi dan sering
menuntut perhatian ekstra dari gurunya. Di rumah, mereka seringkali tidak mematuhi
perintah orangtua. Mereka berkelakuan secara impulsif, menunjukkan labilitas emosional,
dan eksplosif serta iritabel. Gangguan mengenai membaca, berhitung, dan koordinasi
mungkin ditemukan bersamaan dengan ADHD. Riwayat penyakit anak dapat memberikan
petunjuk pada faktor pranatal (termasuk genetik), natal, dan pascanatal yang mungkin telah
mempengaruhi struktur dan fungsi sistem saraf pusat.5
Pemeriksaan status mental mungkin menunjukan mood terdepresi sekunder tetapi tidak
ada gangguan pikiran, gangguan tes realitas, atau afek yang tidak sesuai. Anak mungkin
menunjukkan distraktibilitas yang besar, kekerasan hati, dan cara berpikir yang konkrit dan
harafiah. Indikasi masalah visual-perseptual, audiotorik-perseptual, bahasa, atau kognisi
mungkin ditemukan. Kadang-kadang bukti-bukti menunjukkan kecemasan dasar, meresap,
dan dengan dasar organik seringkali dinamakan sebagai kecemasan tubuh.5
Pemeriksaan neurologis mungkin menemukan imaturitas atau gangguan visualmotorik-perseptual atau auditoris-diskrimatorik tanpa tanda gangguan ketajaman visual atau
audiotorik yang jelas. Anak-anak mungkin menunjukkan masalah pada koordinasi motorik
dan kesulitan mencontoh gambar yang sesuai dengan usianya, gerakan yang berubah dengan

cepat, diskriminasi kanan dan kiri, asimetri refleks, dan berbagai tanda neurologis non fokal.
Klinisi harus mendapatkan EEG untuk mengenali anak dengan pelepasan yang sering dan
serempak secara bilateral yang menyebabkan hilangnya pembicaraan yang singkat. Anak
tersebut mungkin bereaksi di sekolah dengan hiperaktivitas untuk menyembunyikan frustrasi.
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang patognomonik untuk gangguan ADHD.5

Gambar 3.1 Kriteria Diagnosis ADHD Menurut DSM-V8


3.2.5 Penatalaksanaan
Farmakoterapi
Agen farmakologis untuk ADHD adalah stimulan sistem saraf pusat, terutama
dextroamphetamine, methylphenidate, dan pemoline. Destroamphetamin diizinkan pada
anak berusia 3 tahun atau lebih dan methylphenidate pada anak yang berusia 6 tahun
atau lebih. Keduanya adalah obat yang paling sering digunakan. Mekanisme kerja dari
stimulan belum dapat diketahui. Methylphenidate telah terbukti sangat efektif pada

hampir tigaperempat anak dengan ADHD dan memiliki efek samping yang relatif kecil.
Methylphenidate adalah medikasi kerja singkat yang biasanya digunakan secara efektif
pada jam-jam sekolah, sehingga anak dengan ADHD dapat memperhatikan tugasnya
dan tetap di dalam ruang kelas. Efek samping obat yang paling sering adalah nyeri
kepala, nyeri lambung, mual, dan insomnia. Beberapa anak mengalami efek rebound
dimana mereka menjadi agak mudah marah dan tampak agak hiperaktif selama waktu
yang singkat saat medikasi dihetikan. Permasalahan lain yang sering tentang
methylphenidate adalah apakah obat akan mensupresi pertumbuhan. Selama periode
pemakaian, methylphenidate dapat disertai dengan supresi pertumbuhan tetapi anak
cenderung tumbuh saat mereka diberikan libur obat di musim panas atau pada akhir
minggu.5,6
Antidepresan

telah

digunakan

untuk

mengobati ADHD

dengan

suatu

keberhasilan. Pada anak-anak dengan gangguan kecemasan atau gangguan depresif


komorbid dan pada anak dengan gangguan tik yang menghalangi pemakaian stimulan,
antidepresan mungkin berguna walaupun stimulan lebih manjur. Antidepresan
memerlukan monitoring yang cermat pada fungsi jantung. Beberapa penelitian
melaporkan kematian mendadak pada anak dengan ADHD yang diobati dengan
antidepresan.7
Psikoterapi
Medikasi sendiri saja jarang memuaskan kebutuhan terapeutik yang menyeluruh
pada anak ADHD dan biasanya hanya merupakan satu segi dari regimen multi
modalitas. Pada psikoterapi individual, modifikasi perilaku, konseling orangtua, dan
terapi tiap gangguan belajar yang menyertai mungkin diperlukan. Jika anak-anak
dengan ADHD dibantu untuk menyusun lingkungannya, kecemasan mereka berkurang.
Dengan demikian mereka harus membangun struktur hadiah atau hukuman yang dapat
diperkirakan dengan menggunakan model terapi perilaku dan menerapkannya pada
lingkungan fisik. Orangtua harus juga dibantu untuk menyadari bahwa walaupun ada
kekurangan pada anak-anak mereka dalam beberapa bidang, mereka menghadapi tugas
maturasi yang normal, termasuk perlu mengambil tanggung jawab atas tindakan
mereka.5
3.2.6 Prognosis
Perjalanan penyakit ADHD agak bervariasi. Gejala dapat menetap sampai masa remaja
atau kehidupan dewasa, gejala dapat menghilang pada pubertas, atau hiperaktivitas mungkin

menghilang, tetapi penurunan rentang atensi dan masalah pengendalian impuls mungkin
menetap. Overaktivitas biasanya merupakan gejala pertama yang menghilang dan
distraktibilitas adalah yang terakhir. Remisi kemungkinan tidak terjadi sebelum usia 12 tahun.
Jika remisi memang tidak terjadi, biasanya terjadi antara usia 12-20 tahun. Remisi dapat
disertai dengan masa remaja dan kehidupan remaja yang produktif, hubungan interpersonal
yang memuaskan, dan relatif sedikit sekuela yang bermakna. Tetapi sebagian besar pasien
dengan ADHD mengalami remisi parsial dan rentan terhadap gangguan kepribadian antisosial
dan gangguan kepribadian lain dan gangguan mood. Masalah belajar seringkali terus
berlanjut hingga dewasa. Anak-anak dengan ADHD yang gejalanya menetap sampai remaja
adalah berada dalam risiko tinggi untuk mengalami gangguan konduksi. Kira-kira 50% anakanak dengan gangguan konduksi akan mengembangkan gangguan kepribadian antisosial di
masa dewasanya. Anak-anak dengan ADHD dan gangguan konduksi juga berada dalam risiko
mengalami gangguan berhubungan dengan zat.5
Biederman, Mick, dan Faraone mendefinisikan beberapa jenis remisi pada ADHD
dengan menggunakan pendekatan klasifikasi yang disusun oleh Keck et al, yaitu sebagai
berikut.6
1. Remisi sindromatik yaitu kondisi yang ditunjukkan oleh 6-11 gejala dari 18 gejala
ADHD yang terdapat dalam kriteria diagnostik ADHD berdasarkan DSM-IV
2. Remisi simtomatik yaitu kondisi yang ditunjukkan oleh kurang dari 6 gejala dari 18
gejala ADHD yang terdapat dalam kriteria diagnostik ADHD berdasarkan DSM-IV
dan disertai dengan gangguan fungsi global anak (GAF <60)
3. Remisi fungsional yaitu kondisi yang ditunjukkan oleh <6 gejala dari 18 gejala
ADHD yang terdapat dalam kriteria diagnostik ADHD berdasarkan DSM-IV tanpa
disertai gangguan fungsi global anak (GAF >60)
3.3 Gangguan Perkembangan Bicara
3.3.1 Definisi
Gangguan bicara dan bahasa merupakan suatu keterlambatan dalam berbahasa
ataupun bicara dimana jika dilakukan penanganan dini akan sangat menolong anak dalam
masalah bahasa. Bahasa dapat dirumuskan sebagai pengetahuan tentang sistem lambang
yang dipergunakan dalam komunikasi yang dilakukan secara lisan; sedangkan ucapan
atau berbicara adalah memperlihatkan pengetahuan tersebut dalam suatu tingkah laku
yang dapat didengar. Bahasa dapat dipandang sebagai dasar di atas mana kemudian
dibangun kemampuan berbicara tersebut, keduanya akan berkembang dalam progresi
yang beraturan. Kemampuan berbahasa diperlihatkan dengan cara bagaimana anak
merespon petunjuk lisan yang diberikan; gerakan yang diperlihatkan anak untuk

mengkomunikasikan kebutuhan, keinginan serta penetahuan tenatng lingkungan serta


melalui permainan kreatif dan imajinatif.1,5
3.3.2 Etiologi
Penyebab kelainan berbahasa bermacam-macam yang melibatkan berbagai faktor yang
dapat saling mempengaruhi, antara lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif,
fungsi saraf, emosi, psikologis dan lain sebagainya. Etiologi gangguan perkembangan bahasa
dirangkum sebagai berikut.1
1. Lingkungan sosial anak
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan perkembangan
bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan menyebabkan gangguan bicara dan
bahasa pada anak.
2. Sistem masukan/input
Adalah sistem pendengaran, penglihatan dan integritas taktil-kinestetik dari anak.
Pendengaran merupakan alat yang penting dalam perkembangan bicara. Anak deng otitis
media kronik dengan penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan
kemampuan menerima ataupun mengungkapkan bahasa. Gangguan bicara juga terdapat
pada tuli oleh karena kelainan genetik dan metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial,
(infeksi intra uterin ; sifilis, rubella, tolsoplasmosis, sitomegalovirus), tuli konduktif
seperti akibat malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak mendengar), tuli
perseptif/afasia sensorik (terjadi kegagalan , integrasi arti bicara yang didengar menjadi
suatu pengertian yang menyeluruh), dan tuli psikis seperti pada schizoprenia, autisme
infantil, keadaan cemas dan reaksi psikologis lainnya. Pola bahsa juga akan berpengaruh
pada anak dengan gangguan penglihatan yang berat, demikian juga dengan anak dengan
defisit taktil kinestetik akan tejadi gangguan artikulasi.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan susunan saraf pusat akan mempengaruhi pemahaman, inteprestasi, formulasi
dan perencanaan bahasa, juga pada aktifitas dan kemampuan intelektual dari anak.
Gangguan komunikasi biasanya merupakan bagian dari retasrdasi mental, misalnya pada
Sindrom Down.
4. Sistem Produksi
Sistem produksi suara seperti laring, hidung, struktur mulut dan mekanisme
neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan nafas untuk berbicara, bunyi

laring, pembentukan bunyi untuk artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring,
faring dan rongga mulut.
3.3.3 Klasifikasi
Berdasarkan patofisologi kelainan perkembangan bicara pada anak dibagi menjadi tipe
sebagai berikut.1
1. Primer ekspresif
a. disfraksia verbal
b. anak mengerti sefala sesuatu yang dikatakan kepadanya, mereka lebih sering
menunjuk daripada bicara
c. gangguan defisit produksi fonologi
d. anak bicara dengan kata-kata dan frase yang susah dimengerti bahkan pada orangorang yang sering kontak dengannya sehingga menimbulkan rasa marah dan frustasi
bagi si anak.
2. Defisit represif dan ekspresif
a. gangguan campuran ekspresif represif
b. anak berbicara sulit dipahami dengan kalimat yang pendek dan banyak dari mereka
yang autistik.
c. disfrasia verbal auditori agnosia
d. anak mengerti sedikit pada apa yang dikatakan kepadanya walaupun kadang-kadang
mereka mengikuti suatu pembicaraan dengan cara lain dan miskin dalam artikulasi
kata-kata.
3. Defisit bahasa yang lebih berat
a. gangguan leksikal sintaksis
b. anak kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat khususnya saat bercakapcakap. Mereka tidak gagap dan tidak menghindar untuk berbicara.
c. gangguan semantik pragmantik
d. Anak dapat berbicara lancar tetapi mereka bicara tanpa henti mengenai satu topik.
3.3.4 Penatalaksanaan
Deteksi dan penanganan dini pada problem bicara dan bahasa pada anak, akan
membantu anak-anak dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil kemungkinan
kelainan pada masa sekolah antara lain yang dengan menggunakan pemeriksaan DDST.
Setelah terdeteksi terdapat masalah dalam perkembangan bahasa maka dapat dicarai
penyebabnya. Dengan perbaikan masalah medis seperti tuli konduksi dapat menghasilkan

perkembangan bahasa yang normal pada anak yang tidak retardasi mental. Sedangkan
perkembangan bahasa dan kognitif pada anak dengan gangguan pendengaran sensoris
bervariasi. Dikatakan bahwa anak dengan gangguan fonologi biasaya prognosisnya lebih
baik. Sedangkan gangguan bicara pada anak yang itelegensinya normal perkembangan
bahasanya lebih baik daripada anak yang retardasi mental. Tetapi pada anak dengan gangguan
yang multipel terutama dengan gangguan pemahaman, gangguan bicara ekspresif atau
kemampuan naratif yang tidak berkembang pada usia 4 tahu, mempunyai gangguan bahasa
yang menetap pada usia 5,5 tahun.1
Berikut ini penatalaksanaan kelainan bicara dan bahasa menurut Blager (1981).1
Masalah

Penatalaksanaan

Rujukan

Lingkungan
a. Sosek rendah

Meningkatkan stimulasi

Kelompok BKB (Bina


Keluarga dan Balita) atau
kelompok bermain.

b. Tekanan Keluarga

Mengurangi tekanan

c. Keluarga bisu

Meningkatkan stimulasi

d. Bahasa Bilingual

Menyederhanakan

masukan

bahasa

Konseling keluarga

Kelompok BKB

Ahli, terapi wicara

Konseling,

Emosi
a. Ibu yang tertekan

Meningkatkan stimulasi

b. Gangguan

Meningkatkan status emosi

serius

pada keluarga
c. Gangguan serius

anak

Meningkatkan status emosi

kelompok

BKB/bermain

Psikoterapi

Psikoterapi

anak
Masalah Pendengaran
a. Kongenital

b. Didapat

Monitor

dan

obati

kalau

Audiologist/ahli THT

obati

kalu

Audiologist/ahli THT

memungkinkan

Monitor

dan

memungkinkan
Perkembangan lambat
a. Dibawah rata-rata

Meningkatkan stimulasi

Ahli terapi wicara

b. Perkembangan

Meningkatkan stimulasi

Ahli terapi wicara

terlambat
c. Retardasi mental
Cacat bawaan

Maksimalkan potensi

Program khusus

a.Palatum sumbing

Monitor dan dioperasi

Ahli

b. Sindrom Down

Monitor dan stimulasi

terapi

setelah

operasi

Rujuk

ke

ahli

terapi

wicara, SLB C, monitor


pendengarannya
Kerusakan otak
a.Kerusakan

neuromuskular

Atasi masalah makan dan


meningkatkan

kemampuan

kerja,

bicara anak
b. Sensorimotor

Mengatasi
dan

masalah

makan

meningkatkan

ahli

ahli

gizi,

terapi
ahli

Mengoptimalkan kemampuan
Mengatasi
keterlambatan bicara

masalah

Rujuk

ke

ahli

terapi

kerja, ahli gizi, ahli terapi


wicara

fisik kogntitif dan bicara anak


d. Masalah persepsi

ke

patologi wicara

kemampuan bicara anak


c.Palsi Serebralis

Rujuk

Rujuk ke ahli rehabilitasi,


ahli terapi wicara

Rujuk ke ahli patologi


wicara , kelompok BKB