Anda di halaman 1dari 20

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Produk
Produk terbagi atas 2 jenis, yaitu berupa barang dan berupa jasa.

Pengertian barang adalah hasil dari suatu kegiatan produksi yang mempunyai
sifat - sifat fisik dan kimia serta ada jangka waktu antara saat diproduksi dengan
saat produk

tersebut dikonsumsi atau digunakan. Sedangkan pengertian jasa

adalah merupakan hasil dari suatu kegiatan produksi yang tidak mempunyai sifat
- sifat baik fisik maupun kimia serta tidak ada jarak waktu antara saat diproduksi
dengan saat dikonsumsi. Barang dapat diraba secara fisik, tetapi jasa hanya dapat
dirasakan dan tidak dapat diraba secara fisik, misalnya jasa bengkel, jasa
angkutan umum, jasa transportasi udara, jasa transportasi kereta api, jasa
pelayanan bank, jasa pelayanan toko, jasa travel dan lain lain. (Sumber : MCL
Bina Nusantara).
2.2.

Pengembangan Produk
Menurut Maarif & Tanjung (2003), produk adalah penawaran yang

memuaskan terhadap kebutuhan dari suatu organisasi. Produk adalah sebuah yang
digagaskan, dibuat, dipertukarkan (melalui transaksi jual-beli) dan digunakan oleh
manusia karena adanya sifat dan fungsi yang diperoleh melalui sebuah proses
transformasi produksi yang memberikan nilai tambah (Yamit, 2003). Disamping
itu Widodo (2003), mengemukakan bahwa produk adalah suatu keluaran (output)
yang diperoleh dari sebuah proses produksi (transpormasi) yang merupakan
pertambahan nilai dari bahan baku (material input), dan merupakan komoditi
yang dijual perusahaan kepada konsumen.
5

Banyak perusahaan terkemuka menyatakan bahwa produk yang baik di


mulai dari perencanaan proses dan pengorganisasian yang baik pula, hal ini
berkenaan dengan tingkat efisiensi dan efektifitas selama pengembangan produk
berlangsung (Widodo, 2003).
Merancang produk merupakan prasyarat untuk produksi, hasil keputusan
desain produk selanjutnya ditransmisikan ke operasi sebagai spesifikasi produksi,
guna untuk merumuskan karakteristik produk dan memungkinkan pelaksanaan
produksi (Purnomo, 2004).

Menurut Nasution (2006), banyak konsep atau

metode yang dapat diterapkan pada perancangan dan pengembangan produk


seperti contoh metode Quality Function Deployment (QFD). Konsep ini dibangun
serta dikembangkan guna untuk menjamin bahwa produk yang memasuki tahapan
produksi benar-benar akan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan, dengan jalan
membentuk tingkat kualitas yang diperlukan dan kesesuaian yang maksimum
pada setiap tahap pengembangan.
Kreatifitas merupakan bagian terpenting pada perancangan, karena di
dalam perancangan dibutuhkan kreatif, baik dari segi individu ataupun kelompok,
kreativitas disini merupakan suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru.
Kreatifitas di tinjau dari segi individu merupakan ungkapan unik dari seluruh
pribadi sebagai hasil interaksi individu, perasaan, sikap dan perilakunya (Ginting,
2010).
Merancang produk untuk melayani masyarakat senantiasa dikembangkan
dari waktu ke waktu, produk dan jasa dirancang karena ada orang yang percaya
bahwa masyarakat membutuhkan suatu produk (Moore & Thomas, 1980).
Perancangan dan pengembangan produk adalah semua proses yang
berhubungan dengan keberadaan produk yang meliputi segala aktifitas mulai dari
identifikasi konsumen sampai pada pabrikasi, penjualan dan deliveri dari produk.

Perancangan dan pengembangan produk menjadi suatu bagian dari proses inovasi,
untuk itu diharapkan dapat mengasilkan inovasi inovasi produk yang mampu
memberikan keunggulan tertentu didalam mengatasi persaingan produk
(Widodo,2003).
Proses pengembangan

merupakan

urutan

dari

langkah-langkah

transformasi sebuah input menjadi output sehingga proses tersebut merupakan


urutan serta langkah-langkah perusahaan untuk menyusun,

merancang dan

mengkomersialkan suatu produk (Widodo, 2003).


Menurut Ulrich & Eppinger (2001), proses pengembangan produk
memiliki lima tahapan penting yaitu :
1.
Pengembangan konsep merupakan suatu deskripsi tentang bentuk, fungsi
2.

dan fungsi tambahan produk (features).


Rancangan tingkatan sistem produk merupakan pendefenisian architecture
produk dan komponennya, serta pendefenisian skema perakitan terakhir

3.

untuk produk tersebut.


Rancangan detail merupakan spesifikasi lengkap mengenai bentuk
geometri produk dan komponennya, bahan yang digunakan, serta ukuran
dan toleransinya dari seluruh komponen (bagian) penyusunan komponen

4.

produknya.
Uji coba dan evaluasi merupakan pembuatan produk, seperti percontohan

5.

(prototype) untuk dievaluasi sebelum dilakukan proses produksi.


Uji coba proses produksi merupakan suatu proses untuk melatih para
pekerja dan mengetahui permasalahan yang terjadi ketika produk itu di
coba untuk dibuat.

2.3.

Enam Fase Proses Pengembangan Produk


Proses Pengembangan produk secara umum terdiri dari tahapan-tahapan

atau sering juga disebut sebagai fase. Menurut Karl T. Ulrich dan Steven D.

Eppinger dalam bukunya yang berjudul Perancangan dan Pengembangan


Produk, proses pengembangan produk secara keseluruhan terdiri dari 6 fase,
yaitu :

1.

2.

Fase 0. Perencanaan
Kegiatan ini disebut sebagai zerofase karena kegiatan ini mendahului
persetujuan proyek dan proses peluncuran pengembangan produk aktual.
Gambar 2.1 enam fase proses perancangan dan
Fase 1. Pengembangan
Konsep
pengembangan produk (Ulrich-Eppinger, 2001).
Pada fase pengembangan konsep, kebutuhan pasar target diidentifikasi,
alternatif konsep-konsep produk dibangkitkan dan dievaluasi, dan satu
atau lebih konsep dipilih untuk pengembangan dan percobaan lebih jauh.
Dimana yang dimaksud dengan konsep di sini adalah uraian dari bentuk,
fungsi, dan tampilan suatu produk dan biasanya disertai dengan
sekumpulan

3.

spesifikasi,

analisis

produk-produk

pesaing

serta

pertimbangan ekonomis proyek.


Fase 2. Perancangan Tingkatan Sistem
Fase Perancangan Tingkatan Sistem mencakup definisi arsitektur produk
dan uraian produk menjadi subsistem-subsistem serta komponenkomponen. Output pada fase ini biasanya mencakup tata letak bentuk
produk, spesifikasi secara fungsional dari tiap subsistem produk, serta

4.

diagram aliran proses pendahuluan untuk proses rakitan akhir.


Fase 3. Perancangan Detail
Fase perancangan detail mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk,
material, dan toleransi-toleransi dari seluruh komponen unit pada produk

dan identifikasi seluruh komponen standar yang dibeli dari pemasok.


Rencana proses dinyatakan dan peralatan dirancang untuk tiap komponen
yang dibuat, dalam sistem produksi. Output dari fase ini adalah pencatatan
pengendalian untuk produk, gambar untuk tiap komponen produk dan
peralatan produksinya, spesifikasi komponen-komponen yang dapat dibeli,
5.

serta rencana untuk proses pabrikasi dan perakitan produk.


Fase 4. Pengujian dan Perbaikan
Fase pengujian dan perbaikan melibatkan konstruksi dan evaluasi dari
bermacam-macam versi produksi awal produk. Prototipe awal (alpha)
biasanya dibuat dengan menggunakan komponen-komponen dengan
bentuk dan jenis material pada produksi sesungguhnya, namun tidak
memerlukan proses pabrikasi dengan proses yang sama dengan yang
dilakukan pada proses pabrikasi sesungguhnya. Sasaran dari prototipe beta
biasanya adalah untuk menjawab pertanyaan mengenai kinerja dan
keandalan dalam rangka mengidentifikasi kebutuhan perubahan-perubahan

6.

secara teknik untuk produk akhir.


Fase 5. Produksi awal
Pada fase produksi awal, produk dibuat dengan menggunakan sistem
produksi yang sesungguhnya. Tujuan dari produksi awal ini adalah untuk
melatih tenaga kerja dalam memecahkan permasalahan yang mungkin
timbul pada proses produksi sesungguhnya. Pada beberapa titik pada masa
peralihan

ini,

produk

diluncurkan

dan

mulai

disediakan

untuk

didistribusikan.
Seperti yang kita lihat pada gambar 2.1 bahwa dari ke 5 fase diatas,
didalamnya terdapat macam-macam proses yang dilakukan dalam melakukan
tahapan proses perancangan dan pengembangan produk dalam buku UlrichEppinger, yaitu:

10

a.

Bab 2, Proses dan Organisasi Pengembangan Produk, menguraikan


proses pengembangan produk generic dan memperlihatkan variasi
penggunaan proes ini dalam berbagai situasi dan lingkungan industri.
Bab ini juga menjelaskan bagaimana seorang individu diorganisasikan
dalam suatu kelompok yang terlibat dalam proyek pengembangan

b.

produk.
Bab 3, Perencanaan Produk, menjelaskan metoda untuk mengambil
keputusan produk mana yang akan dikembangkan. Keluaran dari

c.

metode ini adalah pernyataan misi untuk proyek tertentu.


Bab 4 sampai bab 8, menguraikan aktivitas-aktivitas kunci pada fase
Pengembangan Konsep. Metode-metode yang dijelaskan akan
menuntun tim pengembangan produk mulai dari pembuatan misi

d.

sampai seleksi konsep.


Bab 9, Arsitektur Produk, mendiskusikan implikasi arsitektur
terhadap perubahan produk, variasi produk, standarisasi komponen,
kinerja produk, biaya manufaktur, dan manajemen proyek. Terakhir

e.

dijelaskan suatu metode untuk membuat arsitektur produk.


Bab 10, Desain Industri, menjelaskan peran desainer industri, isuisu berkaitan dengan interaksi produk dengan pemakainya, termasuk
pertimbangan

f.

aspek

estetika

dan

ergonomic

dalam

proses

pengembangan produk.
Bab 11, Desain untuk Proses Manufaktur, mediskusikan teknikteknik apa yang digunakan untuk mengurangi biaya manufaktur.
Teknik-teknik ini terutama diterapkan pada fase Perancangan Sistem
dan Perancangan Detail Sistem dari proses pengembangan produk.

11

g.

Bab 12, Membuat Prototipe, menjelaskan metode untuk menjamin


upaya pembuatan prototype produk yang berlangsung selama proses

h.

pengembangan diterapkan secara efektif.


Bab 13, Analisis Ekonomi Pengembangan Produk, menguraikan
metode-metode untuk memahami pengaruh factor-faktor internal dan

i.

eksternal terhadap nilai ekonomis proyek.


Bab 14, Mengendalikan Proyek, menjelaskan beberapa konsep
mendasar untuk memahami dan menggambarkan interaksi antara
tugas-tugas di dalam proyek, juga menjelaskan metode untuk

perencanaan dan pelaksanaan proyek pengembangan.


Sementara itu menurut C. Merle Crawford dan C. Anthony Di Benedetto
dalam buku mereka yang berjudul New Products Management, dikatakan
bahwa tahapan pengembangan produk terdiri atas 5 fase yaitu :

Gambar 2.2 Fase Pengembangan Produk Menurut Crawford-Benedetto

Fase 1.

Identifikasi peluang dan Seleksi ( Opportunity Identification and


Selection)
Menghasilkan sebuah peluang dari produk baru menjadi peluang bisnis,
mengadakan perubahan pada rencana pemasaran, sumber daya, dan
kebutuhan yang terdapat pada pasar. Mengadakan riset pasar untuk.
kemudian dievaluasi, divalidasi dan keluarannya adalah pernyataan

Fase 2.

strategic untuk menuntun lebih jauh ke tahap selanjutnya.


Pengembangan Konsep (concept generation)

12

Memilih peluang yang paling berpotensi untuk dikembangkan dan


mulai dengan keterlibatan konsumen dalam tahap identifikasi
kebutuhan. Mulai menyusun konsep produk baru yang dapat menjawab
kesempatan atau peluang yang ada.
Evaluasi Proyek / Konsep (Concept /Project Evaluation)
Mengevaluasi konsep produk tersebut (seperti pada saat mereka mulai

Fase 3.

masuk) pada kriteria teknis, pemasaran dan keuangan. Beri bobot dan
pilih yang terbaik kedua atau ketiga.
Pengembangan (Development) :
Pada fase ini merupakan tahap pengujian konsep yang sudah matang

Fase 4.

dengan pembuatan prototipe yang langsung diujikan kepada konsumen


sambil tidak lupa mempersiapkan strategi pemasaran dan persiapan
peluncuran produk tersebut dengan memperhatikan jalur distribusi dan
biaya-biaya yang dibutuhkan melalui sebuah business plan.
Peluncuran (Launch)
Mulai produksi awal dan pemasaran dengan ruang lingkup yang kecil

Fase 5.

dulu sambil memantapkan sistem produksi pembuatan produk tersebut,


dan mulai menjalankan program peluncuran sesuai yang direncanakan
secara bertahap.
Kelima fase ini lebih difokuskan untuk pengembangan produk yang betul
-betul merupakan produk baru (Crawford-Beneditto, 2000). Satu lagi pendapat
dari ahli pengembangan produk di USA yaitu R. Cooper dalam bukunya yang
berjudul

Winning

at

New

Products,

Cooper

menyebutkan

tahapan

pengembangan produk yang dikenal sebagai Stage-Gate Process yaitu sebuah


tahapan pergerakan suatu proyek produk baru dari sebuah ide hingga ke tahap
peluncuran. Stage merupakan tahapan sebenarnya dimana diwujudkan dalam
tindakan nyata. Sedangkan gate merupakan point pengambilan keputusan untuk
dilanjutkan atau tidak ke tahap atau stage selanjutnya. Berikut penjelasan singkat

13

mengenai Stage-Gate Process :

Gambar 2.3 Stage-Gate Process Menurut R. Cooper

1)

Discovery Stage . Tahap pemilihan ide


Dalam tahapan ini, munculnya ide-ide tentang produk apa yang akan
dikembangkan dan apa jenis pengembangannya semuanya pasti muncul

2)
3)

4)
5)

dari suatu ide atau gagasan.


Gate 1. Idea screen
Merupakan tahapan pengelompokan ide-ide yang telah didapatkan.
Stage 1. Scooping
Merupakan tahapan perkiraan akan keberhasilan produk yang akan
dikembangkan, dapatkah produk itu dibuat, serta bagaimana respon pasar
terhadap produk tersebut nantinya.
Gate 2. Second screen
Dalam tahap ini diadakan penyaringan konsep produk mana yang akan
dilanjukan untuk dikembangkan.
Stage 2. Building the business case
Merupakan tahap yang paling menentukan bagi tim pengembangan
produk, disini akan dibuat definisi dari produk dan proyek tersebut,
rencana proyek dan pembenaran dari proyek tersebut di masa-masa

6)

mendatang.
Gate 3. Go to Development
Pada tahap ini ditentukan apakah diteruskan ke tahap pengembangan atau
tidak berdasarkan hasil dari tahapan sebelumnya dan konsep yang telah
terpilih.

7)

Stage 3. Development
Tahap ini yang disebut tahapan pengembangan, pada tahap ini dilakukan
seperti yang dilakukan pada tahap pengembangan konsep, persiapan
peluncuran, rencana sistem produksi, dan pengujian untuk ke tahap

8)

9)

selanjutnya.
Gate 4. Go to Testing
Merupakan tahapan awal dari pengujian konsep produk yang sudah
dikembangkan.
Stage 4. Testing and Validation

14

Merupakan tahapan final dari pengujian dan validasi data pengujian dari
seluruh proyek, perkiraan rencana proses produksi, analisa ekonomi
10)
11)

produk, respon dari konsumen, dan pembuatan prototipe.


Gate 5. Go to launch
Tahapan persiapan peluncuran awal dari produk yang sudah diuji.
Stage 5. Launching
Produksi awal sudah mulai dilakukan, beserta perbaikan-perbaikan sistem
produksi dan peralatan untuk efisiensi proses, jalur distribusi dan

12)

komersialisasi mulai dibangun dan diperluas secara bertahap.


Review dari peluncuran produk
Setelah produk diluncurkan secara komersialisasi, dilakukan review untuk
memastikan bahwa hambatan-hambatan yang ada bisa teratasi, serta
memastikan apakah produksi tetap dilanjutkan beserta pemasarannya, atau
tetap memasarkan sisa stok barang (bila produksi dihentikan karena tidak
dapat dilanjutkan), atau mendaur ulang produk tersebut sehingga dapat
dimanfaatkan menjadi barang lain
Setelah melihat ketiga model tahapan-tahapan pengembangan produk yang

merupakan pendapat dari beberapa ahli tersebut, maka dapat dilihat banyak
kesamaan dari ketiga proses tersebut, perbedaan jumlah tahapan atau fase
disebabkan karena adanya penggabungan dari beberapa tahapan yang sejenis
ataupun membaginya menjadi beberapa tahapan yang lebih detail. Pada tahap
pembahasan pengembangan produk ini nantinya akan disesuaikan menurut
tahapan yang dikembangkan oleh Ulrich dan Eppingger.
2.4.

Fase 0 Perencanaan Produk (Product Planning)


Setiap proses pengembangan produk diawali dengan fase perencanaan,

yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pengembangan teknologi dan penelitian


tingkat lanjut. Output fase perencanaan ini adalah pernyataan misi proyek
digunakan sebagai input yang dibutuhkan untuk memulai tahapan pengembangan
konsep dan merupakan suatu petunjuk untuk tim pengembangan.
Dalam perencanaan produk, proyek pengembangan produk dikelompokan

15

menjadi 3 tipe, yaitu:


1.
Platform produk baru: Tipe proyek ini melibatkan usaha pengembangan
utama untuk merancang suatu keluarga produk baru berdasarkan platform
yang baru dan umum. Keluarga produk baru akan memasuki pasar dan
2.

produk yang sudah dikenal.


Turunan dari platform produk yang sudah ada: Proyek-proyek ini

3.

memperpanjang platform produk supaya lebih baik dalam memasuki pasar


yang telah dikenal dengan satu atau lebih produk baru.
Peningkatan perbaikan untuk produk yang telah ada: Proyek-proyek ini
mungkin hanya melibatkan penambahan atau modifikasi beberapa detail
produk dproduk yang telah ada dalam rangka menjaga lini produksi yang

ada pesaingnya.
Untuk mengembangkan suatu rencana produk dan pernyataan misi proyek,
ada lima tahapan proses berikut :
1.
Mengidentifikasi peluang
Rencana proses dimulai dengan mengidentifikasi peluang-peluang
pengembangan produk. Langkah ini dapat dibayangkan sebagai input dari
perusahaan. Ide-ide untuk produk baru atau detail produk berasal dari
beberapa sumber, meliputi (diantaranya):
a) Personal pemasaran dan penjualan
b) Penelitian dan organisasi pengembangan teknologi
c) Tim pengembangan produk saat ini
d) Manufaktur dan operasional organisasi
e) Pelanggan sekarang atau potensial
Proses identifikasi peluang pengembangan produk sangat berhubungan
dengan kegiatan identifikasi kebutuhan pelanggan. Beberapa pendekatan proaktif
meliputi:
a.

Mencatat kegagalan dan keluhan yang dialami pelanggan dengan

b.

produk yang sudah ada sekarang


Mewawancarai pengguna utama, dengan memfokuskan pada proses
inovasi oleh penguna-penguna ini dan modifikasi-modifikasi yang
dilakukan oleh para pengguna terhadap produk yang sudah ada.

16

c.

Mempertimbangkan implikasi terhadap adanya kecenderungankecenderungan dalam gaya hidup, demografis, dan teknologi untuk

d.

kategori produk yang ada dan peluang-peluang kategori produk baru.


Beberapa usulan pelanggan sekarang dikumpulkan secara sistematis

e.

melalui tenaga penjual dan sistem pelayanan pelanggan.


Status teknologi yang muncul dilihat kembali untuk memfasilitasi
perpindahan

teknologi

yang

tepat

dari

penelitian

ke

arah

pengembangan produk
2.

Mengevaluasi dan Memprioritaskan Proyek


Langkah kedua dalam proses perencanaan produk adalah memilih proyek.
Empat perspektif dasar yang berguna dalam mengevaluasi dan memprioritaskan
peluang-peluang bagi produk baru dalam kategori produk yang sudah ada adalah
a. Strategi bersaing
Strategi bersaing perusahaan merupakan suatu pendekatan pasar dan
produk yang mendasar dengan memperhatikan para pesaing. Strategi
ini digunakan untuk memilih peluang. Pada umumnya perusahaan
b.

melakukan kompetensi strategi dan membantu dalam bersaing.


Segmentasi pasar
Dengan membagi suatu pasar menjadi segmen-segmen,
memungkinkan perusahaan untuk mempertimbangkan tindakan para
pesaing dan kekuatan produk perusahaan sekarang berdasarkan
kelompok pelanggan yang jelas. Dengan memetakan produk-produk
pesaing dan produk milik perusahaan sendiri dalam segmen-segmen,
lini produknya dan yang mana memanfaatkan kelemahan dari

c.

penawaran pesaing-pesaing.
Mengikuti perkembangan teknologi
Dalam bisnis yang sifatnya intensif teknologi, keputusan perencanaan
produk yang utama adalah penentuan waktu untuk menggunakan
teknologi dasar yang baru dalam lini produksi. Sebagai contoh, dalam

17

bisnis pencatatan, permasalahan teknologi utama pada pergantian abad


adalah pergantian untuk pemerosesan dan pencetakan digital.
Keputusan perencanaan produk yang menggunakan lensa lampu.
Kurva teknologi S merupakan suatu alat konseptual untuk membantu
d.

berpikir mengenai keputusan seperti diatas.


Perncanaan platform produk
Platform produk merupakan sekumpulan asset yang dibagi dalam
sekumpulan produk. Komponen-komponen dan subrakitan-subrakitan
sering menjadi hal terpenting dari aset-aset ini. Platform yang efektif
dapat memungkinkan variasi turunan produk untuk dirancang lebih
cepat dan lebih mudah, dimana setiap produk memberikan ciri-ciri dan

3.

fungsi-fungsi yang diinginkan oleh segmen pasar utama.


Mengalokasikan Sumberdaya dan rencana waktu
Penentuan waktu dan alokasi sumber daya ditentukan untuk proyekproyek yang lebih menjanjikan, terlalu banyak proyek akan menimbulkan
persaingan untuk beberapa sumber daya. Sebagai hasilnya, usaha untuk
merancang sumber daya memendekkan sekumpulan proyek yang akan

4.

diikuti.
Melengkapi perencanaan pendahuluan proyek
Setelah proyek disetujui, maka diadakan kegiatan perencanaan proyek
pendahuluan, dibentuk sebuah tim inti yang terdiri dari ahli teknik,
pernyataan misi produk yang isinya memformulasikan suatu definisi yang
lebih detil dari pasar target dan asumsi-asumsi yang mendasari operasional
tim pengembangan.
Pernyataan misi mungkin mencangkup beberapa dari keseluruhan

informasi berikut:
e. Uraian produk ringkas (satu kalimat): Uraian ini mencangkup manfaat
produk utama untuk pelanggan namun menghindari penggunaan

18

konsep produk secara spesifik. Mungkin saja berupa pernyataan visi


produk.
Sasaran utama bisnis: Sebagai tambahan sasaran proyek yang

f.

mendukung strategiperusahaan, sasaran ini biasanya mencangkup


waktu, biaya, dan kualitas (contoh penentuan waktu pengenalan
g.

produk, performasi finansial yang diinginkan, target pangsa pasar).


Pasar target untuk produk: Terdapat beberapa pasar target untuk
produk. Bagian ini mengidentifikasi pasar utama dan pasar kedua

h.

yang perlu dipertimbangkan dalam usaha mengembangan


Asumsi-asumsi dan batasan-batasan untuk mengarahkan usaha
pengembangan: Asumsi-asumsi harus dibuat dengan hati-hati,
meskipun mereka membatasi kemungkinan jangkauan konsep produk,

i.

mereka membantu untuk menjaga lingkup proyek yang terkelola.


Stakeholder: Satu cara untuk menjamin bahwa banyak permasalahan
pengembangan ditujukan untuk mendaftar secara eksplisit seluruh
stakeholder dari produk, yaitu sekumpulan orang yang dipengaruhi
oleh

keberhasilan

dan

kegagalan

produk.

Stakeholder

jugamencangkup pelanggan produk yang mendampingi perusahaan,


seperti tenaga penjual, organisasi pelayanan, dan departemen
produksi. Daftar stakeholder menyediakan suatu bayangan bagi tim
untuk mempertimbangkan kebutuhan setiap orang yang dipengaruhi
5.

oleh produk.
Merefleksikan kembali hasil dan proses
Pada tahap ini dilakukan reality check terhadap pernyataan misi yang

merupakan pegangan untuk tim pengembangan. Langkah awal untuk ini adalah
waktu untuk memperbaiki apakah pengembangan ini bisa berjalan dan konsisten.
2.5.

Fase 1. Fase Pengembangan Konsep

19

Inti dari perencanaan desain adalah terletak pada pengembangan konsep.


Crawford mengemukakan bahwa konsep desain adalah kombinasi antara lisan,
tulisan, dan atau bentuk prototipe yang akan dilakukan perbaikan dan bagaimana
pelanggan menunjukkan keuntungan / kerugiannya.
Tiga bagian penting yang diangkat untuk ide/perencanaan produk yang
akan dikembangkan dalam bentuk konsep adalah :
1.
Bentuk
Hal ini merupakan bentuk fisik suatu produk itu sendiri, material penyusun
2.

produk, dan sebagainya.


Teknologi
Termasuk di dalamnya antara

lain: prinsip, teknik, perlengkapan,

mekanika, kebijakan, dan seterusnya yang dapat digunakan untuk


3.

menciptakan/mencapai produk yang dimaksud.


Keuntungan
Nilai lebih/keuntungan yang diharapkan pelanggan dari produk tersebut.
Dalam fase pengembangan konsep ini, suatu proses pengembangan

konsep membutuhkan lebih banyak koordinasi terhadap bagian-bagian terkait


dalam tim pengembangan produk dibandingkan dengan fase-fase yang lain.
Secara umum proses pengembangan konsep ini dapat diperhatikan sebagai suatu
kegiatan yang saling berhubungan, seperti terlihat pada gambar 2.

20

Gambar 2.2. Tahap pengembangan konsep,


terdiri dari berbagai kegiatan awal hingga
akhir (Ulrich-Eppinger, 2001).
Sumber: G.Pahl., W. Beitz. 1996(Muhammad Irvan)

21

Sebagaimana ditunjukan pada gambar 2, proses pengembangan konsep


mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut (Ulrich-Eppinger, 2001):
1.
Identifikasi kebutuhan pelanggan
Sasaran kegiatan ini adalah untuk memahami kebutuhan konsumen dan
mengkomunikasikannya secara efektif kepada tim pengembangan. Output
dari langkah ini adalah sekumpulan pernyataan kebutuhan pelanggan yang
tersusun rapi, diatur dalam daftar secara hierarki, dengan bobot-bobot
kepentingan untuk tiap kebutuhan.
Tujuan dari metode identifikasi kebutuhan pelanggan tersebut adalah
a.

untuk:
Meyakinkan bahwa produk telah

b.

konsumen.
Mengidentifikasikan kebutuhan konsumen yang tersembunyi dan

difokuskan terhadap kebutuhan

tidak terucapkan (latent needs) seperti halnya kebutuhan yang

2.

c.
d.

eksplisit.
Menjadi basis untuk menyusun spesifikasi produk.
Menjamin tidak adanya kebutuhan konsumen

e.

terlupakan.
Menanamkan pemahaman bersama mengenai kebutuhan konsumen

penting

yang

diantara anggota tim pengembang.


Penetapan spesifikasi target
Spesifikasi merupakan terjemahan dari kebutuhan konsumen menjadi
kebutuhan secara teknis. Output dari langkah ini adalah suatu daftar
spesifikasi target. Proses pembuatan target spesifikasi terdiri dari 3
langkah:
a. Menyiapkan daftar metrik
yang
b.

diturunkan

dari

kebutuhan dengan tingkat kepentingan


tingkat

kepentingan

kebutuhan

yang

direfleksikannya.
Mengumpulkan informasi tentang pesaing dan mengkombinasikannya
dengan tingkat kepuasan dari pelanggan produk pesaing.

22

c.
3.

Menetapkan nilai target ideal dan marginal yang dapat dicapai untuk

tiap metrik.
Penyusunan konsep
Konsep produk adalah sebuah

gambaran atau perkiraan mengenai

teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk. Sasaran penyusunan konsep


adalah menggali lebih jauh area konsep-konsep produk yang mungkin
sesuai dengan kebutuhan konsumen. Konsep produk merupakan gambaran
singkat bagaimana produk memuaskan kebutuhan konsumen.

Proses

penyusunan konsep ini terdiri atas 4 langkah, yaitu :


a. Pemaparan (memperjelas) masalah, dengan diagram fungsi
b. Pencarian solusi secara eksternal
c. Pencarian solusi secara internal
d. Penggalian secara sistematis dengan pohon klasifikasi dan tabel
kombinasi.

4.

Pemilihan konsep
Pemilihan konsep merupakan kegiatan dimana berbagai konsep dianalisis
secara berturut-turut, kemudian dieliminasi untuk mengidentifikasi konsep
yang paling menjanjikan. Pemilihan konsep terdiri atas dua tahap, yaitu :
a. Penyaringan konsep
Tujuan penyaringan konsep adalah mempersempit jumlah konsep
b.

secara cepat dan untuk memperbaiki konsep.


Penilaian konsep
Pada tahap ini, tim memberikan bobot kepentingan relatif untuk
setiap kriteria seleksi dan memfokuskan pada hasil perbandingan yang

5.

lebih baik dengan penekanan pada setiap kriteria.


Pengujian konsep
Satu atau lebih konsep yang dihasilkan selanjutnya diuji/dievaluasi untuk
mengetahui apakah kebutuhan konsumen telah terpenuhi. Tahap ini juga
memperkirakan potensi pasar dari produk, dan mengidentifikasi beberapa

23

kelemahan yang harus diperbaiki pada kegiatan proses pengembangan


6.

selanjutnya.
Penentuan spesifikasi akhir
Spesifikasi target yang telah ditentukan di awal proses ditinjau kembali
setelah proses dipilih dan diuji. Pada tahap ini, tim harus konsisten dengan
nilai-nilai besaran spesifik yang mencerminkan batasan-batasan pada
konsep produk itu sendiri, batasan-batasan yang diidentifikasi melalui
pemodelan secara teknis, serta pilihan antara biaya dan kinerja.

7.

Perencanaan proyek
Pada kegiatan akhir pengembangan konsep ini, tim membuat suatu jadwal
pengembangan secara rinci, menentukan strategi untuk meminimalisir
waktu pengembangan, dan mengidentifikasi sumber daya yang digunakan
untuk menyelesaikan proyek.

24