Anda di halaman 1dari 20

A.

Laporan Pendahuluan
1. Definisi
Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik,
bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam
(Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001). L u k a b a k a r j u g a m e r u p a k a n r u s a k
a t a u h i l a n g n y a j a r i n g a n y a n g d i s e b a b k a n kontak dengan sumber panas
seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ketubuh (flash), terkena air panas
(scald), tersentuh benda panas (kontak panas),akibat sengatan listrik, akibat
bahan-bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn) (Moenadjat, 2001).
Luka Bakar bukan suatu penyakit, tetapi merupakan keadaan tidak nyaman
yang disebabkan oleh kecelakaan. Menurut Dr. Poengki Dwi Poerwantoro, SpBP: .
luka bakar adalah terpaparnya tubuh manusia oleh Zat yang bersuhu tinggi (heat)
atau yang dapat memicu suhu tinggi, baik karena reaksi kimia maupun reaksi fisika.
Luka bakar bisa berasal dari berbagai sumber, dari api, matahari, uap, listrik,
bahan kimia, dan cairan atau benda panas. Luka bakar bisa saja hanya berupa luka
ringan yang bisa diobati sendiri atau kondisi berat yang mengancam nyawa yang
membutuhkan perawatan medis yang intensif. Para korban kecelakaan luka bakar
bukan hanya merasakan kesakitan yang luar biasa tetapi diantaranya juga
mengakibatkan cacat fisik dan penderitaan psikis yang berkepanjangan. Bahkan
tidak sedikit diantaranya juga menyebabkan kematian bagi para korbannya
2. Etiologi
A. Luka Bakar Suhu Tinggi (Thermal Burn)
Luka bakar termal biasanya disebabkan oleh air panas (scald), jilatan api ke
tubuh (flash), kobaran api ditubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak
dengan objek-objek panas lainnya (missal, plastik, logam panas, dan lain-lain)
(Schwarts et al,. 1999).

B. Luka Bakar Bahan Kimia (chemical Burn)

Luka bakar kimia biasanya disebakan oleh asam kuat atau alkali yang biasa
digunakan dalam bidang industri, militer atau bahan pembersih yang sering
digunakan untuk keperluan rumah tangga (Schwarts et al,. 1999).
C. Luka Bakar Sengatan Listrik (Electrical Burn)
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling
rendah: dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah,
khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal
(Moenadjat, 2001).
D. Luka Bakar Radiasi (Radiasi Injury)
Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif. Tipe
injuri ini sering disebabkan oleh penggunaan radioaktif untuk keperluan
terapeutik dalam dunia kedokteran dan industri. Akibat terpapar sinar matahari
yang terlalu lama juga dapat menyebabkan luka bakar radiasi (Gillespie, 2009).

3. Fase Luka Bakar


A. Fase akut
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan
mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme
bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi
segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi
saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma.
Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.
Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat
cedera termal yang berdampak sistemik

B. Fase sub akut

Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah


kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas. Luka
yang terjadi menyebabkan:
Proses inflamasi dan infeksi
Problem penuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak
berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional
Keadaan hipermetabolisme.
C. Fase lanjut
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka
dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase
ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi,
deformitas dan kontraktur.
4. Klasifikasi
4.1 Berdasarkan tingkatan
A. Luka bakar tingkat 1
Luka bakar tingkat satu adalah luka bakar paling ringan yang hanya
mengenai lapisan kulit yang paling luar (epidermis). Kulit bisanya memerah
dan mungkin bengkak dan terasa sakit, kulit kering, tidak dijumpai bula dan
penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-10 hari (Moenadjat,
2001)

B. Luka bakar tingkat 2


Apabila lapisan kulit pertama terbakar habis dan mengenai lapisan kulit
kedua (hipodermia). Ditandai dengan munculnya lepuhan, bula, kulit

langsung merah dan berbercak-bercak, rasa nyeri hebat dan terjadi


pembengkakan, pembentukan scar (Schwarts et al,. 1999).

Luka bakar tingkat 2, dibedakan menjadi 2 yaitu:


Tingkat 2 dangkal (Superficial)
Kerusakan bagian superficial dari dermis
Organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, keringat sebasea

masih utuh (Moenadjat, 2001)


Bula mungkin tidak terbentuk beberapa jam setelah cedera dan luka
bakar mulanya tampak seperti luka bakar tingkat 1. Dan terdiagnosa

sebagai tingkat 2 superfisial setelah 12-24 jam.


Ketika bula dihilangkan, luka tampak pink dan basah
Jarang menyebabkan hypertrophic scar
Jika infeksi dicegah maka penyembuhan kurang dari 3 minggu
(Schwarts et al,. 1999).

Tingkat 2 dalam (deep)


Kerusakan mengenai hampir seluruh dermis
Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar rambut, kelenjar

keringkat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh (Moenadjat, 2001)


Dijumpai bula, permukaan luka berwarna pink dan putih segera

setelah terjadi cedera suplai darah ke dermis


Jika infeksi dicegah, penyembuhan berlangsung 3 minggu sampai 9
minggu (Schwarts et al,. 1999).

C. Luka bakar tingkat 3 (full thickness burn)


Luka bakar tingkat tiga merupakan luka yang paling serius. Luka itu
meliputi seluruh lapisan kulit dan mencapai jaringan yang lebih dalam lagi.
terdapat bagian yang menjadi hitam arang, tidak dijumpai bula, apendises
kulit rusak, kulit yang terbakar berwarna abu-abu pucat, terjadi koagulasi
protein pada epidermis dan dermis (yang dikenal sebagai eskar), tidak
dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi karena ujung-ujung saraf sensorik
mengalami kerusakan/kematian, sehingga penyembuhan terjadi lama.

4.2 Berdasarkan luas


Wallace membagi tubuh menjadi bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal
dengan nama rule of nine atau rule of wallace yaitu:
Kepala dan leher

: 9%

Lengan masing-masing 9%

: 18%

Badan depan 18%, badan belakang 18% : 36%


Tungkai maisng-masing 18%

: 36%

Genetalia/perineum

: 1%

Total

: 100%

4.3 Berdasarkan berat ringannya luka bakar


Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor
antara lain :
1). Persentasi area (Luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh.
2). Kedalaman luka bakar
3). Anatomi lokasi luka bakar.
4). Umur klien.
5). Riwayat pengobatan yang lalu.
6). Trauma yang menyertai atau bersamaan.

American college of surgeon membagi dalam:


A. Parah critical:
Tingkat II : 30% atau lebih.
Tingkat III : 10% atau lebih.
Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah
Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang
luas

B. Sedang moderate
Tingkat II : 15 30%
Tingkat III : 1 10%
C. Ringan minor
Tingkat II : kurang 15%
Tingkat III : kurang 1%
(Moenadjat, 2001).

5. Pembagian Zona Klasifikasi

A. Zona Koagulasi
Merupakan daerah

yang

langsung

mengalami

kontak

dengan

sumber panas dan terjadi kematian selular


B. Zona Statis
Zona ini mengalami kerusakan endotel pembuluh darah, trombosit,
leukosit sehingga terjadi gangguan perfusi, diikuti
p e r u b a h a n permabilitas kapiler dan respon inflamasi lokal. Proses ini
berlangsung selama 12-24 jam pasca cidera, dan mungkin berakhir dengan
nekrosis jaringan
C. Zona Hiperemia
Daerah ini ikut

mengalami

reaks i

berupa

vasodilatasi

tanpa

banyakmelibatkan reaksi seluler.


6. Manifestasi Klinik
A. Keracunan karbon monoksida
Ditandai dengan kekuranagn oksigen dalam darah, lemas, bingung, pusing,
mual, muntah, koma bahkan meninggal.
B. Distress pernafasan
Ditandai dengan sesak dan ketidakmampuan menangani sekresi
C. Cedera pulmonal
Ditandai dengan nafas cepat dan sulit.
D. Gangguan hematologik
Kenaikan hematokrit, penurunan SDP, leukosit meningkat dan penurunan
trombosit.
E. Gangguan elektrolit
Tanda yang ditemukan adalah penurunan kalium, kenaikan natrium dan klorida,
serta kenaikan BUN.
F. Gangguan ginjal
Peningkatan kelaran urin
G. Gangguan metabolik
Hipermetabolisme dan kehilangan berat badan
7. Pemeriksaan Penunjang
LED, mengkaji hemokonsentrasi.
Elektrolit serum, mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini
terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam
pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.
Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal,
khususnya pada cedera inhalasi asap.

BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.


Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan
otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka
bakar masif.
Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

8. Patofisiologi
Hudak & Gallo (1997)
Bahan
Kimia
Pada
wajah
Kerusakan
Mukosa
Oedema
Laring
Obstruksi
jalan
Gagal
nafas
Nafas

Termis
Biologis
Diruang
tertutup
Keracunan
Gas CO2
CO mengikat
Hb
Hb tidak
mampu
Hipoxia
Otak
mengikat
02

Radiasi
Luka
Psikologi
Kerusakan
Bakar
s
Kulit
Penguapan
meningkat
Pembuluh
darah kapiler
Ekstravasasi
cairan (H2O,
Tekanan
elektrolit &
osmotik
protein)
Cairan
Hipovolemia
intravaskular&
hemokonsentrasi

MK:

Bersihan
Jalan
nafas
tidak

Otak

Gangguan Perfusi Organ


Peting
Kardiovasku
Ginj
ler
al

Hipoxi
a

Kapiler
bocor

Sel
Otak
mati

Penurunan
curah
jantung

Gagal
fungsi
sentral

Gangguan
Sirkulasi Makro

Hipoxi
a sel
ginjal
Fungsi
Ginjal

Gagal
Ginjal

Hep
ar
Pelepasan
Hipoxia
Katekola
Hepatik
min
Gagal
Hepar

GI
Traktu
Dilatasi
s
Lambu
ng

Listrik/peti
r
Masalah
Keperawatan
Gangguan Body
Image
Kurang
pengetahuan
Ansietas

Masalah keperawatan:
Kekurangan volume
cairan
Gangguan perfusi
Gangguan Sirkulasi Seluler
Neurolog
i
Gangguan
Hambatan
Neurologi
Pertumbuh
an

Imun
Daya
tahan
tubuh

G.
Perfusi
Laju
metab
Glukone
olisme
ogenesi
s
<
Nutrisi

9. Komplikasi
Setiap luka bakar dapat terinfeksi yang menyebabkan cacat lebih lanjut atau
kematian
Lambatnya aliran darah yang menyebabkan pembentukan bekuan darah
sehingga timbul cerebrovascular accident, infark miokard atau emboli paru.
Kerusakan paru akibat inhalasi asap atau pembentukan embolus. Dapat terjadi
kongesti paru akibat gagal ginjal jantung kiri atau infark miokard serta sindrom
pernafasan pada orang dewasa
Gangguan elektrolit yang menyebabkan disritmia jantung
Syok luka bakar dapat secara irreversible merusak ginjal sehingga timbul gagal
ginjal 1 sampai 2 minggu pertama etelah luka bakar
Penurunan aliran darah ke saluran cerna yang dapat menyebabkan hipoksia selsel penghasil mucus sehingga terjadi ulkus peptikum
Dapat terjadi koagulasi intravascular diseminata (DIC) karena distruksi jaringan
luas
Pada luka bakar yang luas dapat menyebabkan kecacatan, trauma psikologis:
depresi, malu, keinginan untuk bunuh diri
Beban biaya yang sangat besar
10. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan untuk luka bakar terdiri dari 6 urutan prioritas:
1. Prioritas pertama
Prioritas pertama dalam mengatasi luka bakar adalah menghentikan proses luka
bakar. Ini meliputi intervensi pertolongan pertama pada situasi:
a. Untuk luka bakar termal (api): berhenti, berbaring dan berguling. Tutup
individu dengan selimut dan gulingkan
b. Untuk luka bakar kimia (cairan):

bilas

dengan

banyak

air

untuk

menghilangkan zat kimia tersebut dari kulit. Untuk luka bakar kimia (bedak),
sikat bedak kimia dari kulit kemudian bilas dengan air.
c. Untuk luka bakar listrik, matikan sumber listrik sebelum berusaha
memindahkan korban dari bahaya.
2. Prioritas kedua
Prioritas kedua adalah mematenkan jalan nafas dengan resusitasi ABC, karena:
a. Pernafasan
Udara panas mukosa menjadi rusak oedem obstruksi
Efek toksik dari asap: HCN, NO2, Bensin, dll iritasi bronkokonstriksi
obstruksi gagal nafas
b. Sirkulasi

Gangguan

permeabilitas

kapiler:

cairan

dari

intravaskular

pidah

ke

ekstravaskular hipovolemik syok


3. Prioritas ketiga
Prioritas ketiga adalah resusitasi cairan untuk memperbaiki kehilangan volume
plasma.
Resusitasi cairan Bakster
Hari pertama
Dewasa

: Baxter.
RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.

Anak

: Jumlah resusitasi + kebutuhan faal


RL : Dextran = 17 : 3
2 cc x BB x % LB

Kebutuhan faal
< 1 tahun

: BB x 100 cc

1 3 tahun

: BB x 75 cc

3 5 tahun

: BB x 50 cc

cairan

: Diberikan 8 jam pertama

cairan

: Diberikan 16 jam berikutnya

Hari kedua
Dewasa

: Dextran 500 2000 + D5% / albumin.

( 3x ) x 80 x BB

gr
24 jam

100
(Albumin 25% = gram x 4 cc) 1 cc/mnt.
Anak

4. Prioritas keempat

: Diberi sesuai kebutuhan faal.

Prioritas keempat adalah pasang kateter dan monitor urin dan monitor pula CVP
5. Prioritas kelima
Prioritas kelima adalah melakukan perawatan luka bakar
a. Pembersihan luka dengan savlon : NaCl 0,9% (1 : 30)
b. Menutup dengan balutan luka bakar sintetik atau biologis tulle
c. Menutup dengan kassa
d.

Evaluasi setiap hari dan ganti kassa

6. Prioritas keenam
Prioritas keenam adalah memberikan obat-obatan, diantaranya:
a. Antibiotika
b. Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil
kultur.
c. Analgetik kuat (morfin, petidine)
d. Antasida kalau perlu

11. Perawatan Luka Bakar Ringan di Rumah

12. Masalah Keperawatan

13. Diagnosa Keperawatan (Berdasarkan Prioritas)


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d
Infeksi, disfungsi neuromuskular, hyperplasia dinding bronkus, alergi jalan
nafas, asma, trauma.
Obstruksi jalan nafas: spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya
mucus, adanya jalan nafas buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di
alveolus, adanya benda asing di jalan nafas.
2. Nyeri akut b.d
Agen injury (biologi, kimia, fisik, psikologis)
Kerusakan jaringan
3. Kerusakan integritas kulit b.d
Internal
Perubahan status metabolik
Defisit imunologi
Perubahan sensasi
Perubahan status nutrisi
Eksternal
Hipertermia/hipotermia
Substansi kimia
Kelembaban
Radiasi
4. Resiko kerusakan integritas jaringan b.d
Gangguan sirkulasi
Iritasi kimia
Defisit cairan
Faktor mekanik: tekanan, gesekan
Kurangnya nutrisi
Radiasi
Suhu
5. Gangguan konsep diri
Biofisika (penyakit kronis)
Kognitif/persepsi (nyeri kronis)
Pengobatan (pembedahan, kemoterapi, radiasi)

14. Tujuan dan Intervensi Keperawatan


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
NOC
Status respirasi: ventilasi

Status respirasi: jalan nafas paten


Kontrol aspirasi
NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam menunjukkan
keefektifan bersihan jalan nafas dibuktikan dengan kriteria hasil:
Menunjukkan jalan nafas yang paten (pasien tidak merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas
abnormal)
Saturasi O2 dalam batas normal
Foto thoraks dalam batas normal
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada
sianosis dan dispneu (mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan
mudah, tidak ada nafas hidung)
No.

Intervensi

Rasional

NIC:
Manajemen jalan nafas
Monitor respirasi
Batuk efektif

fasilitasi kepatenan jalan nafas


Mengumpulkan dan menganalisa
data pasien jalan nafas paten dan
keadekuatan pertukaran gas
Mengeluarkan sekret

Mandiri
Identifikasi penyebab
Kaji tingkat kemampuan pasien dalam

Meminimalkan faktor penyebab


Memberikan informasi kemampuan

meningkatkan

jalan

pasien serta penentuan level tindakan

3.

nafasnya
Pantau frekuensi pernafasan, catat

yang diberikan kepada pasien


Takipnea biasanya ditemukan saat

4.

rasio inspirasi dan ekspirasi


Posisikan
kenyamanan

terjadi stress pada pasien


Semi fowler atau bersandar dapat

1.
2.

kepatenan

pasien

dengan posisi kepala semi fowler atau

mempermudah

duduk bersandar pada tempat tidur

Sokong tangan/kaki dengan bantal


membantu

fungsi

menurunkan

pernafasan.
kelemahan

otot dan dapat sebagai alat ekspansi


5.

Catat

adanya

derajat

dispnea,

misalnya: gelisah, cemas, distress

dada
Terjadi

peningkatan

pernafasan

disfungsi

tergantung

proses

pernafasan, penggunaan otot bantu perawatan selama di RS


6.

nafas
Auskultasi bunyi nafas, catat adanya

Beberapa

mengi, krekels, ronchi

dengan obstrukasi jalan nafas dan


dapat

derajad

bronkus

dimanifestasikan

terjadi
dengan

7.

Pertahankan lingkungan yang bebas

bunyinafas abnormal
Meminimalkan asma yang bertambah

8.

dari debu, asap, bulu bantal, dingin


Dorong/ bantu latihan nafas abdomen

parah akibat faktor resiko


Memberikan pasien beberapa cara

atau bibir

untuk

mengatasi

dispnea
karakteristik

dan

dan

dan

mengontrol

menurunkan

jebakan

udara
Biasanya batuk pasien menetap tetapi

9.

Observasi

10.
11.

kemampuan batuk pasien


Bantu pasien untuk batuk efektif
Tingkatkan masukan cairan hangat

tidak efektif
Menurunkan sekret
Hidrasi
membantu

sampai 3000ml/hari

kekentalan

menurunkan

sekret

sehingga

mempermudah pengeluaran.
Selain
12.

itu

air

hangat

dapat

menurunkan spasme bronkus


Dapat membantu merontokkan sekret

Lakukan fisioterapi dada

yang menempel di jalan nafas, selain


itu mencegah nyeri dada
Mengevaluasi keadekuatan pertukaran

13.

Monitor status O2

14.

Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi:

gas

Bronkodilator, misalnya epinefrin

Bronkodilator

merilekskan

otot

(adrenalin, vaponefrin), B-agonis,

halus dan menurunkan kongesti

albuterol
Xantin,

lokal, menurunkan spasme jalan


misalnya

aminofilin,

oxtrifilin, teofilin

nafas, mengi dan produksi sekret


Xantin dapat menurunkan spasme
otot dan menurunkan kelemahan
otot nafas dengan meningkatkan

15.

kontraksi diafragma
Menurunkan inflamasi jalan nafas lokal

Kromolin, flunisolida

dan edema dengan cara menghambat


16.

Berikan

humidifikasi

misalnya nebulizer

tambahan,

efek histamine dan mediator lain


Kelembaban menurunkan kekentalan
sekret,

mempermudah

pengeluaran

dan mencegah pembentukan mukosa


17.

Foto dada

tebal pada bronkus


Membuat dasar untuk
kemajuan

mengetahui

kemunduran

penyakit dan komplikasi

proses

2. Nyeri akut
NOC
Level nyeri
Kontrol nyeri
Level kenyamanan
NIC
Seetelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam pasien tidak
mengalami nyeri dengan kriteria hasil sebagai berikut:
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik

nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)


Melalporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman
Tanda vital dalam rentang normal
Tidak mengalami gangguan tidur

No.
1.

Intervensi (NIC)
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif

termasuk

karakteristik,

durasi,

lokasi,

frekuensi,

2.

kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari

3.

ketidaknyamanan
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk

4.

menentukan intervensi
Kontrol lingkungan yang

dapat

mempengaruhi nyeri seperti: suhu


ruangan,
5.
6.

dan

kebisingan
Kurangi faktor presipitasi nyeri
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari

7.

pencahayaan

dan

menemukan

dukungan
Ajarkan tentang teknik relaksasi
nonfarmakologi

seperti:

nafas

dada, relaksasi, distraksi kompres


8.

hangat/dingin
Tingkatkan istirahat

Rasional

9.

Beri informasi tentang nyeri seperti


penyebab nyeri, berapa lama nyeri
aka

10.

berkurang

dan

antisipasi

ketidaknyamanan dari prosedur


Kolaborasi
Berikan analgesik

3. Kerusakan integritas kulit


NOC
Integritas jaringan: kulit dan membran mukosa
Penyembuhan luka: primer dan sekunder
NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kerusakan integritas
kulit teratasi dengan kriteria hasil:
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur,
hidrasi dan pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah
terjadinya cedera berulang
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami
Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

No

Intervensi

Rasional

.
1.

Bersihkan

2.
3.

dengan sabun lunak, non alkalin


Beri salep seperti seng oksida
Pajankan dengan ringan kulit utuh

luka

perlahan-lahan

Karena

luka

sangat

mengiritasi

kulit.
Untuk melindungi kulit dari iritasi
Untuk meningkatkan penyembuhan

yang kemerahan pada udara jika


4.

mngkin
Hindari menggunakan tissue basah

Karena

yang

menyengat

di

jual

bebas

yang

menyebabkan

5.

mengandung alcohol
Anjurkan
pasien
menggunakan

Meningkatkan kelembapan

6.

pakaian yang longgar


Jaga kebersihan kulit agar tetap

Menghindari

rasa

paparan

7.

bersih dan kering

mikroorganisme yang berlebihan

Monitor status nutrisi pasien

dan mempercepat penyembuhan


Status
nutrisi
yang
baik
meningkatkan

proses

8.

Ajarkan keluarga tentang perawatan

penyembuhan
Agar perawatan luka benar dan

9.

luka
Lakukan

cepat sembuh
Mencegah perkembang

10.

dengan steril
Observasi

teknik

perawatan

luka,

luka

kedalaman,

karakteristik, warna, cairan, tanda11.

biakan

mikroorganisme yang baru


Mengevaluasi setelah pemberian
tindakan perawatan

tanda infeksi
KOLABORASI
Pemberian amoksislin

Antibiotik

4. Kerusakan integritas jaringan


NOC
Integritas jaringan: kulit dan membran mukosa
Penyembuhan luka: primer dan sekunder
NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kerusakan integritas
jaringan pasien tertasi dengan kriteria hasil:
Perfusi jaringan normal
Tidak ada tanda-tanda infeksi
Ketebalan dan tekstur jaringan normal
Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah
cedera berulang
Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka
No.
1.
2.

Intervensi
NIC: Pressure ulcer prevention
Wound Care
Monitor kulit adanya kemerahan
Monitor aktivitas dan mobilisasi

3.
4.
5.

pasien
Monitor status nutrisi pasien
Kaji lingkungan dan peralatan
Observasi luka: lokasi, dimensi,
kedalaman, karakteristik, warna

Rasional

cairan,

granulasi,

jaringan

nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal,


6.

formasi traktus
Anjurkan pasien

7.

pakaian yang longgar


Jaga kulit agar tetap bersih dan

8.

kering
Mandikan pasien dengan sabun

9.

dan air hangat


Ajarkan
keluarga

10.
11.

menggunakan

tentang

perawatan luka
Lakukan perawatan steril
Kolaborasi
Ahli gizi: diet TKTP dan vitamin
Dokter: analgesik dan antibiotik

5. Gangguan Body Image


NOC
Body image
Self esteem
NIC
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam gangguan body
image pasien teratasi dengan kriteria hasil:
Body image positif
Mampu mengidentifikasi kekuatan personal
Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh
Mempertahankan interaksi sosial
No.
1.

Intervansi
NIC: Body image enhacement
Monitor
frekuensi
mengkritik

2.

dirinya
Kaji secara verbal dan non verbal

3.

pasien terhadap tubuhnya


Dorong pasien mengungkapkan

4.

perasaanya
Identifikasi

5.

melalui pemakaian alat bantu


Jelaskan tentang pengobatan,
perawatan,

arti

pengurangan

kemajuan

dan

Rasional

6.

prognosis penyakit
Fasilitasi kontak dengan individu
lain dalam kecil

15. Evaluasi

REFERENSI
Anonymous.

2003.

Asuhan

Keperawatan

Luka

Bakar.

(online)

http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2d3keperawatan/206301024/bab2.pdf
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah ed.8. vol.3. Jakarta: EGC
http://www.scribd.com/doc/40510492/Patofisiologi-Luka-Bakar-Buat-Makalah
Ismail. 2000. Luka dan Perawatannya. (online) http://blog.umy.ac.id. Merawat-luka.pdf
Luka bakar, yayasan. 2009. Panduan Perihal Kecelakaan Luka Bakar. (online)
http://www.lukabakar.net/kampanye/p3k_lukabakar.pdf
News letter. 2011. Luka Bakar. (online) http://www.mirbrokers.com.Data. Newsletter%20Edis
%2081Luka%20Bakar1.pdf
Samuel.

2011.

Asuhan

Keperawatan

Luka

Bakar.

(online)

/files/upload/ASKEP%20LUKA%20BAKAR%20SAM.pdf

http://akpertolitoli.com.