Anda di halaman 1dari 18

KONSEP DASAR KOMUNIKASI

Disusun oleh :
Kelompok 02 Kelas 2.03
1. Annisa Dwi Anugrahwati

430115006

2. M. Ainur Rosyidin

430115070

3. Michael Chevin A. A.

430115107

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN
2016
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, puja dan puji syukur ke hadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Komunikasi yang berjudul Konsep Dasar Komunikasi.
Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Berkat bimbingan pengarahan dan bantuan dari berbagai
pihak, maka makalah yang berjudul Konsep Dasar Komunikasi ini dapat
terselesaikan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Hj. Supanik, S.Kep., Ns. M.Kes., M.M.Kes selaku Direktur Akademi
Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan.
2. Hj. Iswatun, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku Dosen Pembimbing.
3. Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa terdapat
banyak kekurangan, baik dari segi penyusun bahasanya maupun dari segi lainnya.
Oleh karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebarlebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami
sehingga kami dapat memperbaiki makalah komunikasi ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah Komunikasi
yang berjudul Konsep Dasar Komunikasi ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.

Lamongan, 31 Agustus 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR......................................................................................

ii

DAFTAR ISI....................................................................................................

iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang..................................................................................

1.2 Rumusan masalah.............................................................................

1.3 Tujuan...............................................................................................

1.4 Manfaat............................................................................................

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi....................................................................

2.2 Jenis Komunikasi.............................................................................

2.3 Model Komunikasi...........................................................................

2.4 Pola Komunikasi..............................................................................

11

BAB 3 PENUTUP
1.

Kesimpulan.....................................................................................

14

2.

Saran...............................................................................................

14

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

15

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah mahluk social dan memerlukan hubungan dengan
orang lain, dengan cara komunikasi manusia bisa berhubungan dengan orang
lain. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan dan tertulis, tanda-tanda,
lambang-lambang. Komunikasi dilakukan baik secara tradisional maupun
modern dengan alat alatnya pun mulai dari yang paling sederhana sampai
yang mutakhir dan canggih.
Perkembangan

komunikasi

menberi

dampak

social

terhadap

masyarakat. Komunikasi mempengaruhi perubahan prilaku, cara hidup, hidup


bermasyarakat, dan nilai nilai yang ada. Perubahan ini tampaknya sejalan
dengan perkembangan teknologi itu sendiri. Dalam perilaku manusia,
komunikasi merupakan proses khusus dan bermakna karena dapat
menyatukan pemahaman anatar personal. Pada proses keperawatan
komunikasi menjadi sangat penting karena merupakan metode utama dalam
memberikan asuhan keperawatan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus
berkomunikasi dengan pasiennya agar pasien mengerti apa asuhan yang akan
diberikan perawat kepada pasien tersebut. Tidak hanya dalam konteks
keperawatan saja komunikasi itu penting tetapi dalam konteks lain juga
komunikasi sangat diperlukan untuk menyampaikan berita atau pesan yang
akan disampaikan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Apa pengertian Komunikasi ?

1.2.2

Apa saja jenis dari Komunikasi ?

1.2.3

Apa model Komunikasi ?

1.2.4

Apa pola Komunikasi ?

1.3 Tujuan
Makalah ini di buat dengan tujuan agar mahasiswa, tenaga kesehatan
atau tenaga medis dapat memahami konsep dasar komunikasi.
1.4 Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan
langsung dalam proses keperawatan hususnya tentang konsep dasar komunikasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Komunikasi


Secara harafiah, komunikasi berasal dari Bahasa Latin: COMMUNIS yang
berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan kata lain, komunikasi adalah
sutu proses di dalam upaya membangun saling pengertian. Dalam suatu
organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah
komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan
kesalahpahaman yang bisa saja terjadi. Komunikasi juga merupakan suatu
seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan dengan cara yang
gampang sehingga oranglain dapat mengerti dan menerima. Berikut ini
adalah definisi serta penjelasan mengenai komunikasi menurut beberapa ahli:
1) TAPPEN
Tappen (1995) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu pertukaran
pikiran, perasaan, pendapat, dan pemberian nasihat yang terjadi antara dua
orang atau lebih yang bekerja sama.
2) PALO ALTO
Ketika dua orang sedang bersama, mereka berkomunikasi secara terus
menerus karena mereka tidak dapat berperilaku. PALO ALTO sangat
percaya bahwa seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi.
3) HIMSTREET & BATY
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu
melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol,
sinyak-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
4) BOVEE
Komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan
5) LASWELL
Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa
dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.

6) CARL I. HOVLAND
Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau komunikator
mengoperkan stimulan biasanya dengan lambang-lambang bahasa (verbal
maupun non verbal) untuk mengubah tingkah laku orang lain.
7) THEODORSON & THEDORSON
Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau
emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
8) EDWIN EMERY
Komunikasi adalah seni menyampaikan informasi, ide dan sikap seseorang
kepada orang lain
9) DELTON E, Mc FARLAND
Komunikasi adalah suatu proses interaksi yang mempunyai arti antara
sesama manusia.
10) WILLIAM ALBIG
Komunikasi adalah proses sosial, dalam arti pelemparan pesan/lambang
yang mana mau tidak mau akan menumbuhkan pengaruh pada semua
proses dan berakibat pada bentuk perilaku manusia dan adat kebiasaan.
11) CHARLES H. COOLEY
Komuniksi berarti suatu mekanisme hubungan antar manusia dilakukan
dengan mengartikan simbol secara lisan dan membacanya melalui ruang
dan menyimpan dalam waktu.
12) A. WINNET
Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari sumber
kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri aktivitas,
rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan peralihan maksud tersebut
13) KARFRIED KNAPP
Komunikasi merupakan interaksi antar pribadi yang menggunakan sistem
simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata) dan non verbal.
Sistem ini dapat disosialisasikan secara langsung / tatap muka atau melalui
media lain (tulisan, oral, dan visual).
2.2. Jenis Komunikasi

Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984),


dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan nonverbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
A. KOMUNIKASI VERBAL
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan
keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal
terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya
lebih akurat dan tepat waktu. Katakata adalah alat atau simbol yang
dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan
respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan.
Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji
minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu
memungkinkan

tiap

individu

untuk

berespon

secara

langsung.

Komunikasi Verbal yang efektif harus:


1. Jelas dan ringkas
Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung.
Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan
terjadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara
secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan
contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang
bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan
perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan
dimana.

Ringkas,

dengan

menggunakan

kata-kata

yang

mengekspresikan ide secara sederhana.


Contoh: Katakan pada saya dimana rasa nyeri anda lebih baik
daripada saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang
anda rasakan tidak enak.
2. Perbendaharaan Kata
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu
menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang
digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini
digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak

mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting.


Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada
mengatakan Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru-paru
anda akan lebih baik jika dikatakan Duduklah sementara saya
mendengarkan paru-paru anda.
3. Arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang
digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan
atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien
sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan
menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati
kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hatihati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan,
terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan
kondisi klien.
4. Selaan dan kesempatan berbicara
Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan
keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan
yang

cepat

pada

pokok

pembicaraan

lain

mungkin

akan

menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan


sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan
cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk
menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar
untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat
dapat dilakukan denganmemikirkan apa yang akan dikatakan
sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari
pendengar yang mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa
menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat
atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.

5. Waktu dan relevansi

Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien
sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan
resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat,
tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara
akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan
waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan
lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat
dan kebutuhan klien.
6. Humor
Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi
ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan
meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan
emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan
bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon
yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap
rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan
dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak
atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan
klien.
B. KOMUNIKASI NON-VERBAL
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan
kata- kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan
pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan nonverbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi
asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap
pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan
kebutuhan asuhan keperawatan.
Komunikasi non-verbal teramati pada:
1. Metakomunikasi
Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada
hubungan antara pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi
adalah suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan

antara

yang

berbicara,

yaitu

pesan

di

dalam

pesan

yang

menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar.


Contoh: tersenyum ketika sedang marah.
2. Penampilan Personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang
diperhatikan selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul
dalam 20 detik sampai 4 menit pertama. Delapan puluh empat persen
dari kesan terhadap seserang berdasarkan penampilannya (Lalli
Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik, cara
berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial,
pekrjaan,

agama,

budaya

dan

konsep

diri.

Perawat

yang

memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan citra diri dan


profesional yang positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi
persepsi klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima,
karena tiap klien mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan
seorang

perawat.

Walaupun

penampilan

tidak

sepenuhnya

mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan lebih sulit


bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat
tidak memenuhi citra klien.
3. Intonasi (Nada Suara)
Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti
pesan yang dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung
mempengaruhi nada suaranya. Perawat harus menyadari emosinya
ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena maksud untuk
menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi
oleh nada suara perawat.
4. Ekspresi wajah
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang
tampak melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia
dan sedih. Ekspresi wajah sering digunakan sebagai dasar penting
dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak mata sangat penting
dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan kontak

mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat


dipercaya, dan memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik.
Perawat sebaiknya tidak memandang ke bawah ketika sedang
berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara sebaiknya
duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata
dengan klien dilakukan dalam keadaan sejajar.
5. Sikap tubuh dan langkah
Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri
dan keadaan fisik. Perawat dapat mengumpilkan informasi yang
bermanfaat dengan mengamati sikap tubuh dan langkah klien.
Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit, obat,
atau fraktur.
6. Sentuhan
Kasih sayang, dudkungan emosional, dan perhatian disampaikan
melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam
hubungan perawat-klien, namun harus mnemperhatikan norma sosial.
Ketika membrikan asuhan keperawatan, perawat menyentuh klien,
seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau
membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit
membuat klien tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak
interpersonal sehingga sulit untuk menghindarkan sentuhan. Bradley
& Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992) menyatakan bahwa
walaupun sentuhan banyak bermanfaat ketika membantu klien, tetapi
perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan
diterima oleh klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan
hati-hati.
2.3. Model Komunikasi
Menurut Lisa Kennedy Sheldon (2009) dalam bukunya Communication for
Nurser, ada empat model komunikasi dengan penggunaan pada komunikasi
perawat-klien di lokasi layanan kesehatan. Empat model komunikasi dalam
keperawatan itu diantaranya :

1) Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)


Model kepercayaan kesehatan ini berfokus pada perspektif pada
pasien/klien dalam komunikasi kesehatan.model ini sangat berpengaruh
dan

memiliki

peranan

penting

(important),

karena

mencoba

mendeskripsikan bagaimana kepercayaan pasien dapat memprediksi


adopsi perilaku yang sehat. Contoh sederhana misalnya; iklan kampanye
yang bertujuan menghentikan remaja merokok, lebih efektif dan efisien
jika dilakukan dengan mengirimkan video pelajar yang sedang
menempatkan kantung jenasah di depan kantor pusat perusahaan
tembakau ke youtube dibandingkan menyediakan selebaran di berbagai
tempat. Secara substansinya model komunikasi ini lebih menekankan
bagaimana upaya perawat atau tenaga-tenaga kesehatan memberikan
pemahaman kepada pasien agar merubah persepsi pasien mengenai
kesehatannya, dan menggunakan intervensi berdasarkan karakteristik
demografik pasien.
2) Model Interaksi Raja (King Interaction Model)
Model interaksi raja (King Interaction Model) ini lebih menekankan pada
proses komunikasi dalam hubungan perawat-pasien. Komunikasi antara
perawat dan pasien lebih mengutamakan hubungan antar pribadi dalam
setiap asuhan kesehatan. Dalam hubungan antara perawat dan pasien
diawali dengan penilaian masing-masing pihak mengenai pihak lainnya
berdasarkan persepsi mereka mengenai situasi tersebut. Misalnya saja
seorang perawat memaksa seorang pasien agar berhenti menangis dan
berteriak karena sangat mengganggu pasien lain yang ada disekitarnya,
namun upaya yang dilakukan oleh perawat ini direspon negatif oleh
pasien karena tidak adanya kesamaan persepsi antara perawat dan pasien.
Bahkan perwat menganggap reaksi pasien tersebut sebagai sifat orang
yang sulit diubah dan bahkan tidak menurut. Penilaian ini oleh kedua
belah pihak menuju pada aksi verbal dan non verbal yang menciptakan
reaksi positif dan negatif. Pasien bisa merasa frustasi akibat
ketidakmampuannya dalam mengontrol situasi emosionalnya. Perawat
juga merasa bingung dengan reaksi pasien seperti ini. Penilaian, persepsi,

10

aksi dan reaksi dari kedua belah pihak merupakan bagian dari proses
dinamis interaksi. Model interaksi raja ini menjelaskan transaksi sebagai
hasil dari komunikasi bersama dan hubungan antara perawat dan pasien.
Keduanya berperan dan berpartisipasi dalam menentukan tujuan-tujuan
terkait kesehatan.
3) Model Rogerian
Model Rogerian mendeskripsikan bahwa peran hubungan antara penyedia
layanan kesehatan dan pasien. Carl Rogers (1951) menjelaskan hubungan
terapeutik sebagai pusat dalam membantu penyesuaian yang sehat pada
pasien. Proses komunikasi bersifat terpusat-pasien karena pasien
merupakan fokus dan sasaran interaksi. Penolong atau penyedia layanan
kesehatan berkomunikasi dengan sikap empati, pandangan positif;
hormat, dan kongruensi; kesungguhan untuk membantu penyelesaian
pasien terhadap situasi dan tindakan yang mengarah pada kesehatan.
4) Model Crick dan Dodge mengenai pemrosesan informasi sosial
Model Crick & Dodge merupakan gambaran sirkular tentang proses
emosional dan kognitif/pengetahuan yang terlibat dalam pembelajaran
merespon isyarat sosial. Inti model ini adalah kumpulan data memori,
aturan sosial yang didapat, dan pengetahuan dan skema sosial. Kalau
dipraktikkan

dalam

keperawatan

model

ini

diterapkan

dengan

pengumpulan data mencakup pengalaman sosial sebelumnya dalam


lingkup personal dan profesi, pendidikan formal mengenai keterampilan
berbicara, dan harapan terhadap peran, termasuk bidang etika dan hukum,
harapan sosial, dan tugas profesional dalam keperawatan. Para perawat
mempelajari keterampilan berbicara yang profesional dengan mengatur
irama emosi sehingga bisa mengontrol respon terhadap pernyataan pasien.
.
2.4. Pola Komunikasi
Para ahli telah meneliti dan mengembangkan proses komunikasi. Adapun
model komunikasi yang menggambarkan proses komunikasi antara lain :
1. Komunikasi Satu Arah

11

Model ini adalah model yang melibatkan tiga unsur dasar dalam
komunikasi, yaitu pengirim (komunikator), pesan, dan penerima pesan
(komunikan).

Pesan

Komunikan

Komunikator
2. Komunikasi Dua Arah

Model komunikasi ini dikembangkan oleh David Berlo (1960). Unsurunsur yang terlibat pada model ini meliputi :unsur pengirim/sumber,
pesan, saluran, penerima, dan umpan balik (feedback). Menurut model
ini, fungsi sumber ialah mempersiapkan dan mengirim pesan. Pesan
adalah produk aktual yang dihasilkan sumber atau komunikan. Pesan
dapat berupa kata-kata, pembicaraan, percakapan telepon, grafik dan
gambar, gerak tubuh (gestur), atau memo (tulisan). Saluran adalah media
yang dipilih untuk menyampaikan pesan sehingga sampai pada penerima.
Saluran

merupakan

pancaindra,

yakni

sentuhan,

pendengaran,

penglihatan. Penerima adalah individu atau kelompok yang mendapatkan


pesan. Selanjutnya, seorang penerima pesan dapat memberi umpan balik
terhadap apa yang telah disampaikan kepadanya.
Komunikan

Pesan

Komunikator

Umpan Balik
Kenyataan menunjukkan bahwa komunikasi juga melibatkan unsur
internal individu, seperti pengetahuan, perasaan, dan persepsi serta
pengalaman sebelumnya. Kondisi ini memungkinkan komunikator
mengatur proses penyampaian pesan (enconding) sehingga pesan yang
disampaikan dapat dipahami penerima. Aspek pengetahuan, pengalaman,
dan perasaan ini memungkinkan komunikan memahami pesan yang
disampaikan (deconding). Selanjutnya, pesan yang disampaikan oleh

12

komunikator dan umpan balik dari komunikan dapat mengalami


perubahan (distorsi), sebagian/seluruh isi pesan hilang atau pesan
diterima

secara

berlebihan

akibat

faktor-faktor

eksternal

yang

mempengaruhi proses komunikasi itu sendiri. Adanya faktor-faktor dari


luar proses komunikasi yang mempengaruhi kualitas hubungan
komunikasi yang sedang dibentuk disebut bias komunikasi.

13

BAB 3
PENUTUP

1.

Kesimpulan
Secara harafiah, komunikasi berasal dari Bahasa Latin: COMMUNIS yang
berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan kata lain, komunikasi adalah
sutu proses di dalam upaya membangun saling pengertian. Dalam suatu
organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah
komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan
kesalahpahaman yang bisa saja terjadi. Komunikasi juga merupakan suatu
seni untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan dengan cara yang
gampang sehingga oranglain dapat mengerti dan menerima.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984),
dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulisa dan nonverbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
Menurut Lisa Kennedy Sheldon (2009) dalam bukunya Communication
for Nurser, ada empat model komunikasi dalam keperawatan itu diantaranya :
1) Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)
2) Model Interaksi Raja (King Interaction Model)
3) Model Rogerian
4) Model Crick dan Dodge mengenai pemrosesan informasi sosial
Para ahli telah meneliti dan mengembangkan proses komunikasi. Adapun
model komunikasi yang menggambarkan proses komunikasi antara lain :
1) Komunikasi Satu Arah
2) Komunikasi Dua Arah

2.

Saran
Sebagai mahasiswa keperawatan tentunya kita harus menguasai dan
memahami konsep dasar komunikasi agar kita dapat berkomunikasi dengan
baik khususnya dalam asuhan kepada pasien supaya terciptanya komunikasi
yang harmonis dan dinamis.

14

DAFTAR PUSTAKA

Cangara, Hafidz.2008.Keperawatan Profesional, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada


Tamsuri, Anas.2005.Buku Saku dalam Keperawatan.Jakarta:EGC

15