Anda di halaman 1dari 7

KONJUNGTIVITIS

Konjungtivitis yang lebih sering dikenal sebagai mata merah (pink eye)
adalah istilah yang diberikan untuk segala bentuk peradangan yang terjadi pada
konjungtiva, yang ditandai dengan mata merah, iritasi pada mata, perasaan terbakar,
dan mungkin dapat ditemukan pus. Konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis
merupakan batas dari kelopak mata dan perubahan dari permukaan yang terexpose ke
sklera dan melapisi permukaan belakang kelopak mata (konjungtiva palpebra),
permukaan depan bola mata (konjungtiva bulbi), bersambung dengan kulit pada tepi
kelopak mata (mucocutaneus junction) dan di limbus bersambung dengan epitel
kornea.
Berdasarkan respon konjungtiva terhadap peradangan, terdapat empat tipe
konjungtivitis yang bisa ditemukan, yaitu : konjungtivitis folikularis, konjungtivitis
papillaris, konjungtivitis membran / pseudomembran, dan konjungtivitis
granulomatosa.
A. Pelayanan Kesehatan
Sistem Pelayanan Kesehatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan
derajat kesehatan. Keberhasilan sistem pelayanan kesehatan tergantung dari berbagai
komponen yang masuk dalam pelayanan kesehatan. Sistem terbentuk dari subsistem
yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Sistem terdiri dari : input,
proses, output, dampak, umpan balik & lingkungan.
Tingkat pelayanan kesehatan
Merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan yg diberikan pada masyarakat.
Menurut Leavel & Clark dlm memberikan pelayanan kesehatan harus memandang
pada tingkat pelayanan kesehatan yg akan diberikan, yaitu :
a. Health promotion (promosi kesehatan)
Merupakan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan melalui peningkatan
kesehatan bertujuan utk meningkatkan status kesehatan masyarakat
Cth: kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, dsb.
b. Specifik protection (perlindungan khusus)
Perlindungan khusus adalahmasy terlindung dr bahaya/ penyakit - penyakit
tertentu.
Cth : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja.
c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera)
Sudah mulai timbulnya gejala penyakit, dilakukan untuk mencegah penyebaran
penyakit.
Cth : survey penyaringan kasus.

Lembaga pelayanan kesehatan


Merupakan tempat pemberian pelayanan kesehatan pd masyarakat untuk
meningkatkan status kesehatan.
Terdiri dari :
1. Rawat Jalan
Bertujuan memberikan pelayanan kesehatan pd tingkat pelaksanaan diagnosis &
pengobatan penyakit akut/ mendadak & kronis yg dimungkinkan tdk terjadi
rawat inap.
2. Institusi
Merupakan lembaga pelayanan kesehatan yg fasilitasnya cukup dlm memberikan
berbagai tingkat pelayanan kesehatan.
Cth : RS, pusat rehabilitasi, dsb.
3. Hospice
Bertujuan memberikan pelayanan kesehatan yg difokuskan pd klien dg sakit
terminal sampai melewati masa terminal dg tenang.
Biasanya digunakan dlm home care.
4. Community Based Agency
Dilakukan di keluarga klien, spt praktek perawat keluarga, dsb.
Lingkup sistem pelayanan kesehatan
Dalam sistem pelayanan kesehatan dapat mencakup pelayanan dokter, pelayanan
keperawatan & pelayanan kesehatan masyarakat.Terdapat tiga bentuk pelayanan
kesehatan, yaitu :
1. Primary health care (pelayanan kesehatan tk. pertama)
Dilaksanakan pd masyarakat yg memiliki masalah kesehatan yg
ringan/masyarakat sehat sehingga kesehatan optimal & sejahtera.
Sifat pelayanan kesehatan: pelayanan kesehatan dasar, Puskesmas, balai
kesehatan
2. Secondary health care (pelayanan kesh tk. Kedua)
Untuk klien yg membutuhkan perawatan rawat inap tapi tidak dilaksanakan di
pelayanan kesehatan utama.
RS yg tersedia tenaga spesialis
3. Tertiary health care (pelayanan kesehatan tingkat Ketiga)
Tingkat pelayanan tertinggi membutuhkan tenaga ahli/subspesialis & sbg tempat
rujukan utama spt RS tipe A atau B.
Pelayanan keperawatan dalam pelayanan kesehatan
Merupakan bagian dari pelayanan kesehatan yang meliputi pelayanan dasar &
rujukan sehingga meningkatkan derajat kesehatan. Pada tingkat pelayanan dasar
dilakukan di lingkup puskesmas dengan pendekatan askep keluarga & komunitas
yang berorientasi pada tugas keluarga dalam kesehatan, diantaranya mengenal
masalah kesehatan secara dini, mengambil keputusan, menanggulangi keadaan

darurat, memberikan pelayanan dasar pada anggota keluarga yang sakit serta
memodifikasi
lingkungan.
Pada lingkup pelayanan rujukan, tugas perawat adalah memberikan askep pada
ruang/lingkup rujukannya, seperti: asuhan keperawatan anak, askep jiwa, askep
medikal bedah, askep maternitas, askep gawat darurat, dsb.
Faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan
1.
2.
3.
4.
5.

Ilmu pengetahuan & teknologi baru.


Pergeseran nilai masyarakat.
Aspek legal dan etik.
Ekonomi.
Politik.

Dalam kasus konjungtivitis, pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan oleh


pasien dalam menunjang kesembuhannya. Pada kasus konjungtivitis kronis,
membutuhkan penanganan yang sangat spesifik untuk mencegah kecatatan fisik
pada pasien dan kebanyakan kasus-kasus konjungtivitis, langsung dirujuk ke Rumah
Sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
B. Pencegahan
Untuk mencegah makin meluasnya penularan konjungtivitis, kita perlu
memperhatikan
langkah-langkah berikut:
Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan
tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.
Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari.
Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain.
Mencuci tangan sesering mungkin, terutama setelah kontak (jabat tangan,
berpegangan, dll) dengan penderita konjungtivitis.
Untuk sementara tidak usah berenang di kolam renang umum.
Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue atau
sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.
Contoh kasus :
Tn. K umur 30 tahun dating ke poli penyakit mata RS. Raden Mattaher Jambi dengan
keluhan sudah 3 hari kelopak matanya bengakak, bernanah, mata merah dan gatalgatal klien mengatakan sudah diberikan obat tetes mata tapi belum sembuh juga.
Klien juga mengatakan rasa malu karena harus tetap bekerja sementara rekanrekannya khawatir akan tertular penyakitnya. Sementara perawat yang
menanganinya merasa jorok dan membentak pasien tersebut dan membiarkan pasien
tersebut begitu saja serta menceritakan pasien Tn. K kepada pasien lain sehingga Tn.
K merasa malu.

C. Manajemen Kasus
1. Pengkajian
a. Biodata
Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK. Nama, umur, jenis
kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinana, alamat, penanggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang.
Keluhan Utama :
Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata), gatal, panas dan
kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret, banyak keluar
terutama pada konjungtiva, purulen / Gonoblenorroe.
Sifat Keluhan:
Keluhan terus menerus; hal yang dapat memperberat keluhan, nyeri
daerah meradang menjalar ke daerah mana, waktu keluhan timbul pada
siang malam, tidur tentu keluhan timbul.
Keluhan Yang Menyertai :
Apakah pandangan menjadi kabur terutama pada kasus
Gonoblenorroe.
b) Riwayat Kesehatan Yang Lalu.
Klien pernah menderita penyakit yang sama, trauma mata, alergi obat,
riwayat operasi mata.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga.
Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (konjungtivitis).
c. Pemeriksaan fisik
Data Fokus :
Objektif : VOS dan VOD kurang dari 6/6.
Mata merah, edema konjungtiva, epipora, sekret banyak keluar terutama
pada konjungtivitis purulen (Gonoblenorroe).
Subjektif : Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata) gatal, panas.
2. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa aman nyaman berhubungan dengan proses peradangan pada
mata.
2. Resiko injury berhubungan dengan penurunan persepsi : penglihatan.
3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan ketika dekuatan
pengobaran dan terapi.

3. Intervensi
Dx.1 gangguan rasa aman nyaman (nyeri) b.d proses peradangan pada mata
Intervensi :
1. kaji ulang keluhan nyeri perhatikan tempat dan karakteristik. R : untuk menentukan
intervensi selanjutnya .
2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien. R : memberikan rasa rileks pada pasien.
3. Kompres hangat. R : rasa hangat dapat memberikan rasa rileks bagi pasien.
4. Kolaborasi pemberian obat analgetik (sesuai indikasi) atau obat mata. R :
mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien.
Dx.2 resiko injuri b.d penurunan persepsi penglihatan
Intervensi :
1. Kaji kemampuan melihat. R : untuk mengetahui kemampuan melihat klien.
2. Orientasikan lingkungan dan yang lain. R : memberitahukan ke klien agar klien
dapat berhati-hati.
3. Jaga saat beraktivitas. R : untuk mengurangi bahaya yang ada.
Dx. 3 resiko penyebaran infeksi b.d ketidakadekuatan pengobatan
Intervensi :
1. Bersihkan kelopak mata dari dalam keluar. R : untuk mengurangi kotoran yang ada
di mata.
2. Ingatkan klien untuk tidak menggosok mata yang sakit. R : untuk mengurangi
resiko luka dan penyebaran bakteri.
3. Beritahu klien mencegah pertukaran sapu tangan, handuk dan bantal dengan yang
lain. R : untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit kepada orang lain.
4. Kolaborasi pemberian antibiotik. R : untuk mengurangi bahkan membunuh
bacterial.
D. Prinsip Etik
Pada kasus diatas, prinsip-prinsip etik yang timbul adalah :
1. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan,
memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan
kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip
ini dengan otonomi.

2. Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang
lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar untuk
memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
3. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus dijaga
privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen catatan kesehatan
klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan klien. Tidak ada
seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh
klien dengan bukti persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaikan pada teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga
kesehatan lain harus dihindari.

E. Nursing Advokat
Nursing Advocacy adalah proses dimana perawat secara objektif memberikan
klien informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan dan mendukung klien
apapun keputusan yang ia buat.
Menurut para ahli perawat advokat ada 3 yaitu :
1. Ana pada tahun 1985
Melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang
dilakukan oleh siapapun.
2. Fry pada tahun 1987
Advokasi sebagai dukungan aktif tarhadap setiap hal yang memiliki penyebab
atau dampak penting.
3. Gondow pada tahun 1983
Advokasi merupakan dasar falsafat dan ideal keperawatan yang melibatkan
bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas menentukan
nasibnya sendiri.

Perawat sebagai advokat merupakan penghubung antara klien tim kesehatan


lain dalam rangka pemenuhan kebutuhan klien,membela kepentingan klien dan

membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan tim
kesehatan dengan pedekatan tradisional maupun profesional,narasumber dan
fasilitator dalam tahap pengembalian keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus
dijalani oleh klien.
Peran Advokat Keperawatan :
1. Melindungi hak klien sebagai manusia dan secara hukum.
2. Membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan.
3. Memberikan bantuan mengandung dua peran yaitu peran aksi dan peran
nonaksi.