Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut World Health Organisation (WHO) setiap tahun jumlah
penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang. Dalam 10 tahun
mendatang diperkirakan 9 juta orang akan meninggal setiap tahun akibat
kanker. Dua pertiga dari penderita kanker di dunia akan berada di Negaranegara yang sedang berkembang (Melva, 2008)
Kanker serviks merupakan penyebab kematian perempuan yang
pertama di Vietnam, sedangkan di Indonesia dan Filipina, kanker serviks
menduduki urutan kedua penyebab kematian pada wanita, sementara di
Thailand dan Malaysia, kanker serviks menduduki penyebab kematian
perempuan yang ketiga. Kematian akibat penyakit tidak menular/kanker
diproyeksikan meningkat 15% secara global antara tahun 2010 dan 2020,
hingga mencapai 44 juta kematian. Peningkatan tertinggi (diperkirakan
sebesar 20%) akan terjadi di Negara-negara Afrika, Asia Tenggara dan
Mediterania Timur. Akan tetapi Negara-negara yang diperkirakan mempunyai
jumlah angka kematian tertinggi pada tahun 2020 adalah Asia Tenggara
dengan jumlah kematian di perkirakan sebanyak 10,4 juta kematian dan
Pasifik Barat di perkirakan sebanyak 12,3 juta kematian (WHO, 2010).
Setiap tahun di Indonesia terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker
serviks dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Setiap
harinya diperkirakan terjadi 41 kasus baru kanker serviks dan 20 perempuan
meninggal dunia karena penyakit tersebut. Pada tahun 2009, kasus baru
kanker serviks berjumlah 2.429 atau sekitar 25,91% dari seluruh kanker yang
1

ditemukan di Indonesia. Dengan angka kejadian ini, kanker serviks


menduduki urutan kedua setelah kanker payudara (Wijaya, 2010).
Hasil penelitian yang dilakukan Oemiati (2011), prevalensi kanker
nasional adalah 5.03% dari rata-rata yaitu sebesar 4.82-5.24% dan prevalensi
tumor/kanker di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 2.84% dari beberapa
provinsi di indonesia dengan prevalensi tertinggi yaitu sebesar 19.3% adalah
kanker ovarium dan serviks uteri (Oemiati, 2011).
Data Rumah Sakit Umum Propinsi NTB jumlah penderita kanker leher
rahim (serviks) tahun 2014 sebanyak 52 orang dan 1 orang meninggal dunia,
tahun 2015 sebanyak 50 orang, (Registrasi Rumah Sakit Umum Profinsi
NTB, 2015)
Dewasa ini telah dikenal beberapa metode skrining dan deteksi dini
kanker leher rahim, yaitu tes Pap Smear, IVA, pembesaran IVA dengan
gineskopi ,kolposkopi, servikografi, thin Prep dantes HPV (Wilgin, Christinet
all, 2011). Untuk mencegah kanker serviks di negara berkembang termasuk
Indonesia adalah dengan menggunakan metode IVA, karena tekhniknya
mudah/sederhana, biaya rendah/murah dan tingkat sensitifitasnya tinggi,
cepat dan cukup akurat untuk menemukan kelainan pada tahap kelainan sel
(displasia) atau sebelum prakanker. Untuk itu dianjurkan Tes IVA bagi semua
perempuan berusia 30 sampai 50 tahun dan perempuan yang sudah
melakukan hubungan seksual (Departemen Kesehatn RI, 2007).
Bila dibandingkan dengan pemeriksaan Pap Smear, IVA meningkatkan
deteksi hingga 30%. Studi di Afrika Selatan menemukan bahwa IVA akan
mendeteksi

lebih

direkomendasikan

dari

65%

lesi

oleh

peneliti

dan
sebagai

kanker

invasive

sehingga

skriningsitologi.

Sebagai

perbandingan, di Zimbabwe skirining IVA oleh bidan memiliki sensitifitas

dan spesifisitas adalah 77% dan 64%, dibandingkan 43% dan 91% untuk Pap
smear. Di India skrining yang dilakukan oleh perawat terlatih memiliki
sensitivitas 96%, sedangkan Pap Smer 62%, Namun spesifisitas IVA adalah
68% (Emilia, Ova et all, 2010).
Menurut Emilia, Ova et all, (2010) kejadian kanker leher rahim di
Negara berkembang pada umumnya karena kendala sosial masyarakat dan
sosial ekonomi. Kendala sosial masyarakat berkaitan dengan konsep tabu
melakukan pemeriksaan, karena kanker leher rahim menyerang pada bagian
yang sensitif dan tertutup. Jadi bukanlah hal yang mudah untuk mendorong
perempuan membuka diri dan mengizinkan pemeriksaan dilakukan.
Menurut Rokhmawati (2011), bahwa perilaku masih menjadi
penghambat pada WUS untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim.
Proses pembentukan/perubahan perilaku dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor baik dari dalam individu maupun luar individu. Sikap seseorang dapat
berubah dengan diperolehnya tambahan informasi dari kelompok sosialnya
(Eka, Arsita, 2010). Mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap
deteksi dini kanker leher rahim, dapat dilakukan dengan pendekatan terhadap
perilaku kesehatan, sehingga kegiatannya tidak lepas dari faktor-faktor yang
menentukan perilaku tersebut.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Mataram
tahun 2015. Prevalensi pasien WUS umur 20-35 tahun yang berkunjung
untuk tes IVA di Puskesmas wilayah Kota Mataram tergolong cukup rendah
yaitu mencapai 3683 orang atau 5,6%, ini tergolong cukup rendah dimana
prevalensi target tahunan mencapai 13165.8 orang atau 100%. Puskesmas
Selaparang merupakan Puskesmas dengan prevalensi pemeriksaan IVA
tertinggi pada tahun 2013 mencapai 346 orang atau 45,8%, dan menempati

perevalensi terendah pada tahun 2014 mencapai 17 orang atau 2,3%, dan
tahun 2015 mencapai 3 orang atau 0,4 %, dihitung dari target tahunan yaitu
755,2 orang. Prevalensi ini terendah bila dibandingkan dengan 9 Puskesmas
lain di Kota Mataram.
Table 1.1 Rekapitulasi tahunan deteksi dini kanker leher Rahim tahun 2015
No

Puskesmas

1
Selaparang
2
Mataram
3
Pagesangan
4
Kr. Taliwang
5
Pejeruk
6
Ampenan
7
Cakra
8
Tanjung Karang
9
Karang Pule
10
Dasan Cermen
11
Dasan Agung
Sub Total

Target 1
Tahun
755
1171
1448
1314
781
794
1799
1417
1352
742
680

Tahun
2013

346
41
55
117
0
0
0

559

%
45.8
3.50
3.80
8.90
0.00
0.00
0.00

2014

17
149
126
242
72
134
359

%
2.3
12.7
8.7
18.4
9.2
16.9
19.9

4.25

1099

8.35

Total
2015

3
106
304
244
193
176
413
396
175
15

%
0.4
9.0
21.0
18.6
24.7
22.2
22.9
27.9
12.9
2.0

366
296
485
603
265
310
772
396
175
15

9.7
5.1
6.7
9.2
6.8
7.8
8.6
5.6
2.6
0.4

2025

15.4

3683

5.6

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 18


Januari 2016 dengan petugas Puskesmas diperoleh 2 dari 3 WUS tidak
mengetahui dan tidak tahu cara mengenai pemeriksaan deteksi dini kanker
leher rahim dengan metode IVA, hanya mengetahui metode Pap Smear.
Untuk itu peneliti tertarik untuk mengetahui Identifikasi perilaku Wanita Usia
Subur (WUS) terhadap pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Di
Wilayah Kerja Puskesmas Seleparang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan masalah
Bagaimanakah Identifkasi perilaku Wanita Usia Subur (WUS) Melakukan
Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Di Wilayah Kerja Puskesmas
Seleparang?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui Identifikasi Perilaku Wanita Usia Subur (WUS)


Melakukan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Di
Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang.
1.3.2 TujuanKhusus
1. Mengidentifikas Karakteristik Wanita

Usia

Subur

(WUS)

Melakukan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat (IVA) Di


Wilayah Kerja Puskesmas Selaparang.
2. Mengidentifikasi Perilaku Wanita Usia Subur (WUS) Melakukan
Pemeriksaan Inspeksi visual asam asetat (IVA) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Selaparang.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Teoritis
Menambah hasanah ilmu dalam mendukung teori tentang pengetahuan
yang baik akan meningkatkan perilaku wanita usia subur untuk
melakukan pemeriksaan IVA.
1.4.2

Praktis
1. Bagi Masyarakat
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan khususnya pada wanita wanita usia subur (WUS)
tentang Kanker Leher Rahim.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan dapat memberikan informasi kepada petugas kesehatan
dalam

rangka

meningkatkan

fasilitas

dan

sebagai

acuan

penyuluhan untuk pencegahan penyakit kanker leher rahim.


3. Bagi Peneliti
Penelitian ini menambah motivasi, wawasan, mengaplikasikan
ilmu metodologi, penelitian yang diperoleh di bangku perkuliahan

dan bisa langsung mempraktikan apa yang kita dapatkan di bangku


perkuliahan, memahami tentang menyusun proposal yang benar
dan baik tentang menambah wawasan dan pengetahuan khususnya
tentang perilaku wanita usia subur Terhadap pemeriksaan Inspeksi
Visual Asam Asetat (IVA). Dan penelitian ini bisa digunakan
sebagai sarana belajar dan mencari pengalaman serta sebagai salah
satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan S1
Keperawatan Sikes Yarsi Matram
4. Bagi Pihak Instusi Pendidikan
Dapat di gunakan sebagai bahan tambahan referensi di
Perpustakaan dalam proses pembelajaran.
5. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini dapat menjadi bahan acuan dan dikembangkan lebih
lanjut atau digunakan sebagai bahan informasi untuk penelitian
selanjutnya,

memahami

apa

yang

harus

dilakukan

memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

untuk

No

1.5 Keaslian penelitian


Tabel 1.1 KeaslianPenelitian
Judul /
Metode
Penelitian
Faktor Faktor
yang
berhubungan
dengan perilaku
wanita usia
subur dalam
deteksi dini
kanker serviks
dengan metode
pemeriksaan
inspeksi Visual
Asam Asetat
(IVA) di wilayah
kerja Puskesmas
Tanjung Hulu
Pontianak Timur
(Dewi
Luthfiana, 2014)

Variabel
Independent :
Faktor faktor
yang
berhubungan
dengan perilaku
wanita usia
subur dalam
deteksi dini
kanker serviks
Variabel
Dependent :
Metode
pemeriksaan
inspeksi visual
asam asetat
(IVA)
Metode
penelitian :
Cross-Sectional
Pengumpulan
data dengan
menggunakan
kuesioner.
Analisa yang
dilakukan
menggunakan
analisa
univariat,
bivariat dan
multivariat
Populasi : wus
yang sudah
menikah dan

Hasil

Dari analisa uji


fisher
menunjukkan
bahwa faktor
paparan
informasi
berhubungan
signifikan
dengan
perilaku
pemeriksaan
IVA (p=0,013).
Faktor
pendukung
petugas
kesehatan juga
berhubungan
signifikan
dengan
perilaku
pemeriksaan
IVA (p=0,004).
Sedangkan
hasil uji regresi
logistik
menunjukan
bahwa faktor
paparan
informasi
merupakan
faktor yang
lebih dominan
berubungan
dengan
perilaku
pemeriksaan
IVA dengan

Persamaan dan
Perbedaan
penelitian
Varibel :
Identifikasi
perilaku wanita
usia subur
(WUS)
melakukan
pemeriksaan
inspeksi visual
asam asetat
(IVA)
Metode
penelitian :
deskriftif CrossSectional
Tehnik
sampling :
Purposive
sampling
Populasi :
sebanyak 4383
orang
Sampel : 100
orang
Lokasi
Penelitian : di
wilayah
puskesmas
selaparang
Persamaan :
menggunakan
metode CrossSectional serta
meneliti tentang
Perilaku WUS
dengan
menggunakan
metode IVA

berdomisil
diwilayah kerja
Puakesmas
Tanjung Hulu
sebanyak 2947
orang.

Faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan perilaku
wus dalam
deteksi dini
kanker leher
rahim metode
IVA di Wilayah
Puskesmas
Prembun
Kabupaten
Kebumen
(Yuliawati,
2012)

Sample : 107
orang
Variabel
Independent :
Faktor-faktor
yang
berhubngan
dengan perilaku
wus
Variabel
Dependent :
Deteksi dini
Kanker leher
rahim metode
IVA
Metode
penelitian :
menggunakan
penelitian
kuantitatif
dengan
pendekatan
cross sectional
Dianalisis
secara deskriptif
dan bivariat.
Populasi : 3271
orang
Sample : 212
Orang.

nilai OR=0,152
(95%Cl: 0,0250921).

Perbedaan :
Populasi,
sampel, lokasi,
variabel.

Hasil penelitian
menunjukkan
ada hubungan
yang
bermakna
antara perilaku
wanita usia
subur dalam
deteksi dini
kanker leher
rahim
metode IVA
dengan
pengetahuan,
sikap,
keterjangkauan
jarak,
keterpaparan
informasi/media
massa,
dukungan
suami,
dukungan
petugas
kesehatan dan
dukungan kader
kesehatan.

Varibel :
Identifikasi
perilaku wanita
usia subur
(WUS)
melakukan
pemeriksaan
inspeksi visual
asam asetat
(IVA)
Metode
penelitian :
deskriftif CrossSectional
Tehnik
sampling :
Purposive
sampling
Populasi :
sebanyak 4383
orang
Sampel : 100
orang
Lokasi
Penelitian : di
wilayah
puskesmas
selaparang
Persamaan :
menggunakan
metode CrossSectional serta
meneliti tentang

Perilaku WUS
dengan
menggunakan
metode IVA
Perbedaan :
Populasi,
sampel, lokasi,
variabel.