Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bisnis dalam kehidupan ini merupakan kegiatan yang
sangat penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan
mereka. Sekarang ini bisnis banyak dilakukan dengan caracara yang tidak benar, tidak ada kejujuran dalam menjalani
kegiatan tersebut. Banyak kecurangan yang tejadi dalam dunia
bisnis

dan

bagian-bagian

yang

berkaitan

dengan

bisnis

tersebut. Contohnya, para pengusaha-pengusaha menjual


produknya dengan tipuan-tipuan iklan agar menarik pembeli,
tetapi itu merupakan sebuah penipuan. Dan bukan di dunia
bisnisnya saja, akan tetapi kegiatan-kegiatan yang berkaitan
atau tergantung oleh bisnis, seperti para pengusaha tidak
bayar pajak, tetapi dia membayar pada orang-orang dalam
kantor perpajakan itu agar tidak membayar pajak.
Pada satu dasawarsa terakhir ini, berbagai penyimpangan
terhadap

dunia

perbisnisan

ekonomi

telah

Indonesia

banyak

khususnya

diketahui

banyak

dibidang
sekali

penyimpangan terhadap hukum-hukum islam yang terkait.


Mereka banyak melakukan kecurangan, kejahatan, penipuan,
dan macam sebagainya padahal sebenarnya kebanyakan
pelaku

bisnis

sendiri

orang

yang

beragama

Islam.

Sebagaimana dicontohkan adalah kasus yang muncul pada


obat nyamuk semprot di tahun 2004an, yang mana di dalam
obat nyamuk ini terkandung zat yang berbahaya yang dapat
mematikan manusia yang menggunakannya. Hal ini sudah
melanggar etika dalam bisnis, dan tentu saja bisa membunuh
manusia yang memakai obat nyamuk ini. Selanjutnya adalah

1 | Page

penyimpangan terhadap bisnis yang mana sangat merugikan


negara hingga bertriliun-triliun, yakni kasus suap atau korupsi
pengusaha-pengusaha ke pegawai-pegawai pajak. Sebenarnya
masih banyak penyimpangan-penyimpangan lainnya yang
tidak sesuai dengan ajaran akhlak islam dalam berbisnis. Oleh
karena itu dalam makalah ini kita akan membahasa bisnis
menurut cara pandang islam, berbisnis seperti yang diajarkan
rosulullah SAW, berbisnis dengan kejujuran , dan keadilan di
dalamnya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang di atas
yaitu :
1. Bagaimana definisi Akhlak, Islam dan Bisnis ?
2. Apa Surah yang mengatur akhak islam dalam berbisnis ?
3. Bagaimana kecurangan yang timbul dalam berbisnis ?
4. Bagaimana etika berbisnis menurut cara pandang Islam ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui definisi Akhlak, Islam dan Bisnis
2. Untuk mengetahui Surah yang mengatur akhak islam dalam berbisnis
3. Untuk mengetahui kecurangan yang timbul dalam berbisnis
4. Untuk mengetahui etika berbisnis menurut cara pandang Islam

2 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Akhlak, Islam dan Bisnis
1. Definisi Akhlak
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang
didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu
perbuatan yang baik. Secara etimologi Akhlak merupakan bentuk jamak
dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah
laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan
Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat
pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa
mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku
tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali
melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat
dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi
dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi
pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai
keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan
terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.
3 | Page

Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak


yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari
pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang
prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat
disebut juga sebagai filsafat moral.

2. Definisi Islam
Arti Islam secara Etimologi dan Terminologi. Arti Islam secara
etimologi adalah selamat, damai, dan tunduk. Arti Islam Terminologi adalah
agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh
Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir
dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang
ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Arti Islam Secara Etimologis
Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata Islam berasal dari
bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama
yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman
Allah SWT, Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah,
sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati (Q.S.
2:112).
Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut
Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah
dan siap patuh pada ajaran-Nya .
Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati . Menurutnya, kata
Islam berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti
kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian
4 | Page

religius, menurut Abdalati, Islam berarti penyerahan diri kepada kehendak


Tuhan dan ketundukkan atas hukum-Nya (Submission to the Will of God
and obedience to His Law).
Hubungan antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata
Islam adalah erat dan jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak
Allah SWT dan ketundukkan atas hukum-Nya, maka seseorang dapat
mencapai kedamaian sejati dan menikmati kesucian abadi.
Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata Islam
setidaknya ada empat yang berkaitan satu sama lain.
Empat tersebut yang dimaksud yaitu sebagai berikut :
a. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang yang masuk Islam
berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi
ajaran-Nya.
b. Salima. Artinya selamat. Orang yang memeluk Islam, hidupnya
akan selamat.
c. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain. Seorang pemeluk
Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus
menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau amar maruf
nahyi munkar).
d. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan yang damai sentosa
akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan
sallama.
Arti Islam: Terminologis
Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah
agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh
Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir
dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang
ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Cukup banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi
Islam secara terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari mengemukakan,
setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu
5 | Page

menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam


adalah:

Wahyu yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk


disampaikan kepada segenap umat manusia sepanjang masa dan setiap
persada.

Suatu sistem keyakinan dan tata-ketentuan yang mengatur segala


perikehidupan dan penghidupan asasi manusia dalam pelbagai
hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya

Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat bagi segenap alam, kebahagiaan di


dunia dan akhirat.

Pada garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak.

Bersumberkan Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi


wahyu Allah SWT sebagai penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya
yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.

3. Definisi Bisnis
Secara umum bisnis diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan
oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rizki
dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara
mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien. Skinner
mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang
saling menguntungkan atau memberi manfaat. Menurut Anoraga dan
Soegiastuti, bisnis memiliki makna dasar sebagai the buying and selling of
goods and services. Adapun dalam pandangan Straub dan Attner, bisnis
taka lain adalah suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan
penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen
untuk memperoleh profit.
Adapun dalam Islam bisnis dapat dipahami sebagai serangkaian
aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah
(kuantitas) kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun

6 | Page

dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan hartanya (ada aturan halal
dan haram).
Pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa Islam mewajibkan setiap
muslim, khususnya yang memiliki tanggungan untuk bekerja. Bekerja
merupakan salah satu sebab pokok yang memungkinkan manusia memiliki
harta kekayaan. Untuk memungkinkan manusia berusaha mencari nafkah,
Allah Swt melapangkan bumi serta menyediakan berbagai fasilitas yang
dapat dimanfaatkan untuk mencari rizki.
B. Surah Yang Mengatur Akhlak Islam dalam Berbisnis
1. An-Nisaa Ayat 29

Terjemahnya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling


memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu[287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.
2. At-Taubah : 24

7 | Page

Terjemahnya : Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara,


isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,
dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalanNya,

maka

tunggulah

sampai

Allah

mendatangkan

keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada


orang-orang yang fasik.

3. An-Nur 37

Terjemahnya

: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak


(pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari)
mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan
penglihatan menjadi goncang.

C. Kecurangan Yang Biasanya Timbul dalam Berbisnis


Kecurangan

(fraud)

merupakan

penipuan

yang

dibuat

untuk

mendapatkan keuntungan pribadi atau untuk merugikan orang lain. Dalam


hukum pidana, kecurangan adalah kejahatan atau pelanggaran yang dengan
sengaja menipu orang lain dengan maksud untuk merugikan mereka, biasanya
untuk memiliki sesuatu/harta benda atau jasa ataupun keuntungan dengan cara
tidak adil/curang. Kecurangan dapat mahir melalui pemalsuan terhadap barang
atau benda. Dalam hukum pidana secara umum disebut dengan pencurian
dengan penipuan, pencurian dengan tipu daya/muslihat, pencurian dengan
penggelapan dan penipuan atau hal serupa lainnya.

8 | Page

Ada pula yang mendefinisikan Fraud sebagai suatu tindak kesengajaan


untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara tidak wajar dan salah
menyajikan fakta untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam bahasa yang
lebih sederhana, fraud adalah penipuan yang disengaja. Hal ini termasuk
berbohong, menipu, menggelapkan dan mencuri. Yang dimaksud dengan
penggelapan

disini

adalah

merubah

asset/kekayaan

perusahaan

yang

dipercayakan kepadanya secara tidak wajar untuk kepentingan dirinya. Dengan


demikian perbuatan yang dilakukannya adalah untuk menyembunyikan,
menutupi atau dengan cara tidak jujur lainnya melibatkan atau meniadakan
suatu perbuatan atau membuat pernyataan yang salah dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan pribadi dibidang keuangan atau keuntungan lainnya
atau meniadakan suatu kewajiban bagi dirinya dan mengabaikan hak orang
lain.
Unsur-unsur Fraud (Kecurangan)
Dari beberapa definisi atau pengertian Fraud (Kecurangan) di atas,
maka tergambarkan bahwa yang dimaksud dengan kecurangan (fraud) adalah
sangat luas dan dapat dilihat pada beberapa kategori kecurangan. Namun
secara umum, unsur-unsur dari kecurangan (keseluruhan unsur harus ada, jika
ada yang tidak ada maka dianggap kecurangan tidak terjadi) adalah:

Harus terdapat salah pernyataan (misrepresentation);


Dari suatu masa lampau (past) atau sekarang (present);
Fakta bersifat material (material fact);
Dilakukan secara sengaja atau tanpa perhitungan (make-knowingly

or recklessly);
Dengan maksud (intent) untuk menyebabkan suatu pihak beraksi;
Pihak yang dirugikan harus beraksi (acted) terhadap salah

pernyataan tersebut (misrepresentation);


Yang merugikannya (detriment).

Kecurangan disini juga termasuk (namun tidak terbatas pada) manipulasi,


penyalahgunaan jabatan, penggelapan pajak, pencurian aktiva, dan tindakan
buruk lainnya yang dilakukan oleh seseorang yang dapat mengakibatkan
kerugian bagi organisasi/perusahaan.

9 | Page

Klasifikasi Fraud (Kecurangan)


The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi
Pemeriksa Kecurangan Bersertifikat, merupakan organisasi professional
bergerak di bidang pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di
Amerika Serikat dan mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan,
mengklasifikasikan fraud (kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan dikenal
dengan istilah Fraud Tree yaitu Sistem Klasifikasi Mengenai Hal-hal Yang
Ditimbulkan

Sama

Oleh

Kecurangan

(Uniform

Occupational

Fraud

Classification System)
The ACFE membagi Fraud (Kecurangan) dalam 3 (tiga) jenis atau
tipologi berdasarkan perbuatan yaitu:
1. Penyimpangan atas asset (Asset Misappropriation);
Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau
harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling
mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung
(defined value).
2. Pernyataan palsu atau salah pernyataan (Fraudulent Statement);
Fraudulent statement meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat
atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi
kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan
(financial engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk
memperoleh keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah
window dressing.
3. Korupsi (Corruption).
Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja
sama dengan pihak lain seperti suap dan korupsi, di mana hal ini merupakan
jenis yang terbanyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan
hukumnya lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik
sehingga factor integritasnya masih dipertanyakan. Fraud jenis ini sering
kali tidak dapat dideteksi karena para pihak yang bekerja sama menikmati
10 | P a g e

keuntungan

(simbiosis

mutualisma).

Termasuk

didalamnya

adalah

penyalahgunaan wewenang/konflik kepentingan (conflict of interest),


penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities),
dan pemerasan secara ekonomi (economic extortion).
Sedangkan Delf (2004) menambahkan satu lagi tipologi fraud yaitu
cybercrime. Ini jenis fraud yang paling canggih dan dilakukan oleh pihak
yang mempunyai keahlian khusus yang tidak selalu dimiliki oleh pihak lain.
Cybercrime juga akan menjadi jenis fraud yang paling ditakuti di masa
depan di mana teknologi berkembang dengan pesat dan canggih2. Selain itu,
pengklasifikasian fraud (kecurangan) dapat dilakukan dilihat dari beberapa
sisi, yaitu :
1. Berdasarkan pencatatan
Kecurangan berupa pencurian aset dapat dikelompokkan
kedalam tiga kategori:
a. Pencurian aset yang tampak secara terbuka pada buku, seperti
duplikasi pembayaran yang tercantum pada catatan akuntansi
(fraud open on-thebooks, lebih mudah untuk ditemukan);
b. Pencurian aset yang tampak pada buku, namun tersembunyi
diantara catatan akuntansi yang valid, seperti: kickback (fraud
hidden on the-books);
c. Pencurian aset yang tidak tampak pada buku, dan tidak akan
dapat dideteksi melalui pengujian transaksi akuntansi yang
dibukukan, seperti: pencurian uang pembayaran piutang
dagang yang telah dihapusbukukan/di-write-off (fraud off-the
books, paling sulit untuk ditemukan).
2. Berdasarkan frekuensi
Pengklasifikasian kecurangan dapat dilakukan berdasarkan
frekuensi terjadinya:
a. Tidak berulang (non-repeating fraud). Dalam kecurangan yang
tidak berulang, tindakan kecurangan walaupun terjadi
beberapa kali pada dasarnya bersifat tunggal. Dalam arti, hal
11 | P a g e

ini terjadi disebabkan oleh adanya pelaku setiap saat (misal:


pembayaran cek mingguan karyawan memerlukan kartu kerja
mingguan untuk melakukan pembayaran cek yang tidak benar).
b. Berulang (repeating fraud). Dalam kecurangan berulang,
tindakan yang menyimpang terjadi beberapa kali dan hanya
diinisiasi/diawali sekali saja. Selanjutnya kecurangan terjadi
terus-menerus sampai dihentikan. Misalnya, cek pembayaran
gaji bulanan yang dihasilkan secara otomatis tanpa harus
melakukan penginputan setiap saat. Penerbitan cek terus
berlangsung

sampai

diberikan

perintah

untuk

menghentikannya.
3. Berdasarkan konspirasi
Kecurangan dapat diklasifikasikan sebagai: terjadi konspirasi atau
kolusi, tidak terdapat konspirasi, dan terdapat konspirasi parsial.
Pada umumnya kecurangan terjadi karena adanya konspirasi, baik
bona fide maupun pseudo. Dalam bona fide conspiracy, semua
pihak sadar akan adanya kecurangan; sedangkan dalam pseudo
conspiracy, ada pihak-pihak yang tidak mengetahui terjadinya
kecurangan.
4. Berdasarkan keunikan
Kecurangan

berdasarkan

keunikannya

dapat

dikelompokkan sebagai berikut:


a. Kecurangan khusus (specialized fraud), yang terjadi secara unik
pada orang-orang yang bekerja pada operasi bisnis tertentu.
Contoh: (1) pengambilan aset yang disimpan deposan pada
lembaga-lembaga keuangan, seperti: bank, dana pensiun, reksa
dana (disebut juga custodial fraud) dan (2) klaim asuransi yang
tidak benar.
b. Kecurangan umum (garden varieties of fraud) yang semua orang
mungkin hadapi dalam operasi bisnis secara umum. Misal:
kickback, penetapan harga yang tidak benar, pesanan
12 | P a g e

pembelian/kontrak yang lebih tinggi dari kebutuhan yang


sebenarnya, pembuatan kontrak ulang atas pekerjaan yang telah
selesai, pembayaran ganda, dan pengiriman barang yang tidak
benar.
Faktor Pemicu Fraud (Kecurangan)
Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan
kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu:
Greed (keserakahan)
Opportunity (kesempatan)
Need (kebutuhan)
Exposure (pengungkapan)
Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan
individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). Sedangkan faktor
Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan
organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor
generik/umum).
1. Faktor generik

Kesempatan (opportunity) untuk melakukan kecurangan tergantung pada


kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk
melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada
yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum
manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang

lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan;


Pengungkapan (exposure) suatu kecurangan belum menjamin tidak
terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun
oleh pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan
seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap.

2. Faktor individu
Faktor ini melekat pada diri seseorang dan dibagi dalam dua kategori:
Moral, faktor ini berhubungan dengan keserakahan (greed).
13 | P a g e

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengurangi risiko


tersebut adalah:
Misi/tujuan organisasi/perusahaan, ditetapkan dan dicapai dengan
melibatkan seluruh pihak (manajemen dan karyawan);
Aturan perilaku pegawai, dikaitkan dengan lingkungan dan budaya
organisasi/perusahaan;
Gaya manajemen, memberikan contoh bekerja sesuai dengan misi
dan aturan perilaku yang ditetapkan organisasi/perusahaan;
Praktik penerimaan pegawai, dicegah diterimanya karyawan yang
bermoral tidak baik.
Motivasi, faktor ini berhubungan dengan kebutuhan (need), yang lebih
cenderung berhubungan dengan pandangan/pikiran dan keperluan
pegawai/pejabat

yang

terkait

dengan

aset

yang

dimiliki

perusahaan/instansi/organisasi tempat ia bekerja. Selain itu tekanan


(pressure) yang dihadapi dalam bekerja dapat menyebabkan orang
yang jujur mempunyai motif untuk melakukan kecurangan. Beberapa
kemungkinan keterlibatan dalam kecurangan:
Lingkungan kerja yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan,
misalnya:

memperlakukan

pegawai

secara

tidak

wajar,

berkomunikasi secara tertutup, dan tidak adanya mekanisme untuk


menyampaikan setiap keluhan;
Sistem pengukuran kinerja dan penghargaan, yang tidak wajar
sehingga karyawan merasa tidak diperlakukan secara adil;
Tidak adanya bantuan konsultasi pegawai, untuk mengetahui
masalah secara dini;
Proses penerimaan karyawan yang tidak fair;
Kecerobohan atau tidak hati-hati, mengingat motivasi seseorang
tidak dapat diamati mata telanjang, sebaliknya produk motivasi
tersebut tidak dapat disembunyikan.
Gejala Adanya Fraud
Fraud (Kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih
sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh
14 | P a g e

karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan


tersebut, adapun gejala tersebut adalah :
1. Gejala kecurangan pada manajemen

Ketidakcocokan diantara manajemen puncak;


Moral dan motivasi karyawan rendah;
Departemen akuntansi kekurangan staf;
Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari

pihak konsumen, pemasok, atau badan otoritas;


Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi;
Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang
meningkat;
Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka
waktu yang lama;
Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan;
Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun
buku.
2. Gejala kecurangan pada karyawan/pegawai
Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan
tanpa perincian/penjelasan pendukung;
Pengeluaran tanpa dokumen pendukung;
Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar;
Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung

pembayaran;
Kekurangan barang yang diterima;
Kemahalan harga barang yang dibeli;
Faktur ganda;
Penggantian mutu barang.
Segitiga Kecurangan

15 | P a g e

TEKANAN

Karakter
Seseorang
(ETIKA)

KESEMPAT
AN

D. Etika dalam Berbisnis Menurut Islam


1. Kesatuan (Tauhid/Unity)
Dalam
terefleksikan

hal

ini

dalam

adalah
konsep

kesatuan

tauhid

sebagaimana

yang

memadukan

keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam


bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang
homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan
keteraturan yang menyeluruh.
Dari konsep ini maka islam menawarkan keterpaduan
agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan.
Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis
menjadi terpadu, vertikal maupun horisontal, membentuk
suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.
2. Keseimbangan (Equilibrium/Adil)
Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam
berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku
dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan.
Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang
lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar
atau menimbang untuk orang selalu dikurangi.

16 | P a g e

Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran


bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah
kepercayaan.

Al-Quran

memerintahkan

kepada

kaum

muslimin untuk menimbang dan mengukur dengan cara


yang benar dan jangan sampai melakukan kecurangan
dalam bentuk pengurangan takaran dan timbangan.
3. Kehendak Bebas (Free Will)
Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai
etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan
kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar.
Tidak

adanya

batasan

pendapatan

bagi

seseorang

mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja


dengan segala potensi yang dimilikinya.
Kecenderungan manusia untuk
memenuhi

kebutuhan

pribadinya

terus

yang

menerus

tak

terbatas

dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu


terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.
4. Tanggungjawab (Responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang
mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut
adanya

pertanggungjawaban

dan

akuntabilitas.

untuk

memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu


mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis prinsip
ini

berhubungan

erat

dengan

kehendak

bebas.

Ia

menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan


oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang
dilakukannya.
5. Kebenaran: kebajikan dan kejujuran

17 | P a g e

Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung


makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula
dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks
bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan
perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses
mencari

atau

memperoleh

komoditas

pengembangan

maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan


keuntungan.
Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islam
sangat

menjaga

dan

berlaku

preventif

terhadap

kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang


melakukan transaksi, kerjasama atau perjanjian dalam
bisnis.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong
oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.
Secara etimologi Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal
dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad
Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri

18 | P a g e

seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan


pikiran terlebih dahulu.
Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut
harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan
perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan
berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri
dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan
yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk
berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah
pencerminan dari akhlak.
B. Saran
Sesuai dengan materi yang di sajikan diatas . sepatutnya kita tau dan
mengerti serta mengaplikasikan bagaimana akhlak dari berbisnis itu sendiri
menurut islam. Dan selalu menjaga silaturahim sesama umat beragama.

19 | P a g e