Anda di halaman 1dari 30

REFERAT

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

Pembimbing :
dr. Tri Budiyanto, Sp.U

Disusun Oleh:
Arfin Heri Indarto

G4A013029

SMF BEDAH
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014

HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipresentasikan serta disetujui referat dengan judul :

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)

Diajukan untuk memenuhi salah satu ujian


kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh:
Arfin Heri Indarto

Purwokerto,

G4A013029

November 2014

Mengetahui,
Dokter Pembimbing,

dr. Tri Budiyanto, Sp.U

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan
karuniaNya, sehingga dapat menyelesaikan referat ini. Referat yang berjudul
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) ini merupakan salah satu syarat ujian
kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Tri Budiyanto, Sp.U
sebagai pembimbing atas waktu yang diluangkan, bimbingan, dan saran yang
sifatnya membangun dalam penyusunan referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini masih belum
sempurna serta banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembimbing serta seluruh pihak.
Purwokerto,

November 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Benign Prostatic Hyperplasia atau dikenal sebagai BPH sering
diketemukan pada laki-laki usia lanjut. Istilah BPH atau benign prostatic

hyperplasia sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat


hiperplasia sel-sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat. Hiperplasia
prostat benigna ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas usia 60
tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80
tahun. Meskipun jarang mengancam jiwa, BPH memberikan keluhan yang
mengganggu aktivitas sehari-hari. Keadaan ini akibat dari pembesaran
kelenjar

prostat

atau

benign

prostate

enlargement

(BPE)

yang

menyebabkan terjadinya obstruksi pada leher buli-buli dan uretra atau


dikenal sebagai bladder outlet obstruction (BOO). Obstruksi yang khusus
disebabkan oleh pembesaran kelenjar prostat disebut sebagai benign
prostate obstruction (BPO). Obstruksi ini lama kelamaan dapat
menimbulkan perubahan struktur buli-buli maupun ginjal sehingga
menyebabkan komplikasi pada saluran kemih atas maupun bawah.
Keluhan yang disampaikan oleh pasien BPH seringkali berupa
LUTS (lower urinary tract symptoms) yang terdiri atas gejala obstruksi
(voiding symptoms) maupun iritasi (storage symptoms) yang meliputi:
frekuensi miksi meningkat, urgensi, nokturia, pancaran miksi lemah dan
sering terputus-putus (intermitensi), dan merasa tidak puas sehabis miksi,
dan tahap selanjutnya terjadi retensi urine. Hubungan antara BPH dengan
LUTS sangat kompleks. Tidak semua pasien BPH mengeluhkan gangguan
miksi dan sebaliknya tidak semua keluhan miksi disebabkan oleh BPH.
Banyak faktor yang berperan dalam proliferasi / pertumbuhan jinak
kelenjar prostat, tetapi pada dasarnya BPH tumbuh pada laki-laki usia tua
dan masih mempunyai testis yang berfungsi normal menghasilkan
testosteron. Di samping itu pengaruh hormon lain (estrogen, prolaktin), diet
tertentu, mikro trauma, dan faktor-faktor lingkungan diduga berperan dalam
proliferasi sel-sel kelenjar prostat secara tidak langsung. Faktor-faktor
tersebut mampu mempengaruhi sel-sel prostat untuk mensintesis protein
growth factor, yang selanjutnya protein inilah yang berperan dalam
memacu terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat.
Diagnosis BPH dapat ditegakkan berdasarkan atas berbagai
pemeriksaan awal dan pemeriksaan tambahan. Jika fasilitas tersedia,

pemeriksaan awal harus dilakukan oleh setiap dokter yang menangani


pasien BPH, sedangkan pemeriksaan tambahan yang bersifat penunjang
dikerjakan jika ada indikasi untuk melakukan pemeriksaan itu. Pada 5 th
International

Consultation

on

BPH

(IC-BPH)

membagi

kategori

pemeriksaan untuk mendiagnosis BPH menjadi: pemeriksaan awal


(recommended) dan pemeriksaan spesialistik urologi (optional), sedangkan
guidelines yang disusun oleh EAU membagi pemeriksaan itu dalam:
mandatory, recommended, optional, dan not recommended
Terapi yang akan diberikan pada pasien tergantung pada tingkat
keluhan pasien, komplikasi yang terjadi, sarana yang tersedia, dan pilihan
pasien. Terapi dapat diberikan secara medikamentosa dan operasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pertumbuhan berlebihan


dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel
prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, yang biasanya dialami
laki-laki berusia diatas 50 tahun (Purnomo, 2011).

Gambar 1. Prostat normal dan pembesaran prostat


B. Anatomi
Prostat merupakan kelenjar berbentuk konus terbalik yang dilapisi
oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak di sebelah inferior vesika
urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan
berada disebelah anterior rektum. Bentuknya sebesar buah kenari dengan
berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram, dengan jarak basis
ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan tebal 2,5
cm.Kelenjar prostat terbagi menjadi 5 lobus yaitu lobus medius, lobus
lateralis (2 lobus), lobus anterior, lobus posterior (Snell, 2007).
Selama perkembangannya lobus medius, lobus anterior, lobus
posterior akan menjadi satu dan disebut lobus medius saja. Pada
penampang, lobus medius kadang-kadang tak tampak karena terlalu kecil
dan lobus lain tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil
berisi cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat (Snell, 2007).

Gambar 2. Anatomi prostat


Menurut Mc Neal, prostat dibagi atas : zona perifer, zona sentral, zona
transisional, segmen anterior dan zona spingter preprostat. Prostat normal
terdiri dari 50 lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih
kurang 20 buah, secara terpisah bermuara pada uretra prostatika, di bagian
lateral verumontanum, kelenjar-kelenjar ini dilapisi oleh selaput epitel torak
dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid (Purnomo, 2011)

Gambar 3. Zona-Zona Prostat

C. Etiologi
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hiperplasia prostat, yaitu:
1. Teori dihidrotestosteron
Merupakan metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat.Terbentuk dari testosteron di
dalam prostat yang diubah oleh enzim 5 reduktase dengan bantuan
koenzim NADPH. DHT yang telat terbentuk akan berikatan dengan
reseptor androgen membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel, dan
selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat (Purnomo, 2011).
2. Ketidakseimbangan antara estrogen dan testostesteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone semakin menurun,
dan kadar esterogen cenderung tetap. Estrogen dalam prostat berperan
menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostate dengan
cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormone

androgen,

meningkatkan

jumlah

reseptor

androgen,

menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Hal tersebut


menyebabkan

rangsanagan

terbentuknya

sel-sel

baru

akibat

rangsangan testosterone menurun, dan sel-sel yang telah ada menjadi


berumur panjang, sehingga massa prostat bertambah (Purnomo, 2011).
3. Interaksi stroma-epitel
Prostat terdiri dari 2 elemen stromal dan elemen ephitelial.Baik
kedua elemen maupun hanya 1 elemen dapat meningkatkan nodul
hiperplastik dan gejala yang berhubungan dengan BPH. Setiap elemen
tersebut menjadi target dalam skema manajemen medis (Presti et al.,
2004).
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak
langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth
tertentu).Setelah stimulasi sel stroma dari DHT dan estradiol, sel
stroma mensintesis growth factor tersebut yang mempengaruhi sel
stroma itu sendiri secara intrakrin dan autokrin, dan mempengaruhi sel

epitel secara parakrin.Stimulasi ini menyebabkan proliferasi sel epitel


dan stroma (Purnomo, 2011).
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Apoptosis pada sel prostat merupakan mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostat.Pada jaringan normal,
terjadi keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel.
Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa,
penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan yang mati dalam
keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel prostat yang mengalami
apoptosis menyebabkan jumlah sel prostat secara keseluruhan menjadi
meningkat, sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat
(Purnomo, 2011).
5. Teori stem sel
Penggantian sel yang mengalami apoptosis selalu digantikan
dengan pembentukkan sel-sel baru. Di dalam kelenjar prostat dikenal
sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan proliferasi sangat
ekstensif. Keberlangsungan sel ini sangat bergantung terhadap
keberadaan hormone androgen, sehingga jika hormone ini menurun,
menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada
BPH dipostulasikan sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem
sehingga terjadi produksi berlebihan sel stroma dan sel epitel
(Purnomo, 2011).
D. Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra
prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan
tekanan intravesikel. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus
berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan ini.
Kontraksi secara terus-menerus menyebabkan perubahan anatomi
dari buli-buli berupa hipertropi otot destrussor ,trabekulasi, terbentuknya
selulosa ,sakula dan divertikuli buli. Perubahan struktur pada buli-buli
dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah

atau lower urinary track symptom ( LUTS ) yang dulu dikenal dengan
gejala prostatismus.tekan intravesikel yang tinggi akan diteruskan ke
seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter ini akan
menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks
vesiko-ureter.
Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak
hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra
posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang ada pada
stroma prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli buli. Otot
polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus
pudendus.
E. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis (AUA, 2003)
Pemeriksaan awal terhadap pasien BPH adalah melakukan anamnesis
atau wawancara yang cermat guna mendapatkan data tentang riwayat
penyakit yang dideritanya. Anamnesis itu meliputi :
a. Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah
mengganggu
b. Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia
(pernah mengalami cedera, infeksi, atau pem-bedahan)
c. Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual
d. Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan
keluhan miksi
e. Ditemukan gejala-gejala obstruksi dan iritasi. Berikut table gejala
obstruksi dan iritasi :
Tabel 1. Gejala obstruksi dan iritasi

Obstruksgi
Iritasi
Pancaran miksi lemah
Frekuensi
Nokturi
Intermitensi
Urgensi
BAK tidak puas
Disuria
Terminal
dribbling
Urgensi dan disuria jarang
(menetes)
terjadi, jika ada disebabkan
Volume urine menurun

Mengejan saat berkemih

oleh ketidakstabilan detrusor


sehingga terjadi kontraksi
involunter.

Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara


pars prostatika karena didesak oleh prostat yang membesar dan
kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi cukup kuat dan atau cukup
lama sehingga kontraksi terputus-putus. Manifestasi klinis berupa
obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung beberapa
faktor, yaitu :volume kelenjar periuretral,elastisitas leher vesika, otot
polos prostat dan kapsul prostat, serta kekuatan kontraksi otot
detrusor
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria
yang tidak sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh
hipersensitifitas

otot

detrusor

karena

pembesaran

prostat

menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering


berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala-gejala tersebut diatas
sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat berat
gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
1. Grade I : Gejala prostatismus + sisa kencing <>
2. Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
3. Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih
bagian atas + sisa urin > 150 ml.
Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan
menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah
International Prostate Symptom Score (IPSS). WHO dan AUA telah
mengembangkan dan mensahkan prostate symptom score yang telah
distandarisasi. Skor ini berguna untuk menilai dan memantau keadaan
pasien BPH. Analisis gejala ini terdiri atas 7 pertanyaan yang masingmasing memiliki nilai 0 hingga 5 dengan total maksimum 35.
Keadaan pasien BPH dapat digolongkan berdasarkan skor yang
diperoleh adalah sebagai berikut.
a. Skor 0-7: bergejala ringan

b. Skor 8-19: bergejala sedang


c. Skor 20-35: bergejala berat.

Tabel 2. Internasional prostate symptom socre (IPSS)

2. Pemeriksaan fisik (AUA, 2003)


Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) merupakan
pemeriksaan yang penting pada pasien BPH, disamping pemeriksaan
fisik pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya
distensi buli-buli. Dari pemeriksaan colok dubur ini dapat diperkirakan
adanya pembesaran prostat, konsistensi prostat prostat kenyal seperti
meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak dapatkan
nodul. Adanya nodul merupakan salah satu tanda dari keganasan
prostat5.

Mengukur

volume

prostat

dengan

DRE

cenderung

underestimate daripada pengukuran dengan metode lain, sehingga jika

prostat teraba besar, hampir pasti bahwa ukuran sebenarnya memang


besar.
Kecurigaan suatu keganasan pada pemeriksaan colok dubur,
ternyata hanya 26-34% yang positif kanker prostat pada pemeriksaan
biopsi. Sensitifitas pemeriksaan ini dalam menentukan adanya
karsinoma prostat sebesar 33%. Perlu dinilai keadaan neurologis,
status mental pasien secara umum dan fungsi neuromusluler
ekstremitas bawah. Disamping itu pada DRE diperhatikan pula tonus
sfingter ani dan refleks bulbokavernosus yang dapat menunjukkan
adanya kelainan pada busur refleks
di daerah sacral.

Gambar 4. Pemeriksaan Colok Dubur


3. Pemeriksaan penunjang (AUA, 2003)
a. Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya
leukosituria dan hematuria. Pada pasien BPH yang sudah
mengalami

retensi

urine

dan

telah

memakai

kateter,

pemeriksaan urinalisis tidak banyak manfaatnya karena


seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat
pemasangan kateter.
b. Pemeriksaan fungsi ginjal
Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan
pada traktus urinarius bawah ataupun bagian atas. Gagal ginjal

akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%.


Gagal ginjal menyebabkan resiko terjadinya komplikasi pasca
bedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa disertai
gagal ginjal (17%), dan mortalitas menjadi enam kali lebih
banyak.
Pasien LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan
dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika kadar kreatinin serum
normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan kadar
kreatinin serum. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini
berguna

sebagai

petunjuk

perlu

tidaknya

melakukan

pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas.


c. Pemeriksaan PSA (Prostate Specific Antigen)
PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ
specific tetapi bukan cancer specific18. Serum PSA dapat
dipakai untuk menilai perjalanan penyakit dari BPH. Jika kadar
PSA tinggi berarti :
1. Pertumbuhan volume prostat lebih cepat
2. Keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek
3. Lebih mudah terjadinya retensi urine akut
Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat diprediksikan
berdasarkan kadar PSA. Dikatakan oleh Roehrborn et al (2000)
bahwa makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan
prostat. Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap
tahun:
1. kadar PSA 0,2- 1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun
2. Kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl sebesar 2,1 mL/tahun
3. Kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun19.
Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada
keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau
TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat,
dan usia yang makin tua. Sesuai yang dikemukakan oleh
Wijanarko et al (2003) bahwa serum PSA meningkat setelah 72

jam dilakukan kateterisasi. Rentang kadar PSA yang dianggap


normal berdasarkan usia adalah:
1. 40-49 tahun: 0-2,5 ng/ml
2. 50-59 tahun:0-3,5 ng/ml
3. 60-69 tahun:0-4,5 ng/ml
4. 70-79 tahun: 0-6,5 ng/ml

d. Catatan harian miksi (voiding diaries)


Voiding diaries saat ini dipakai secara luas untuk menilai
fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan
validitas yang cukup baik. Pencatatan miksi ini sangat berguna
pada pasien yang mengeluh nokturia sebagai keluhan yang
menonjol.
Dengan mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan
yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine yang
dikemihkan dapat diketahui seorang pasien menderita nokturia
idiopatik, instabilitas detrusor akibat obstruksi infra vesika,
atau karena polyuria akibat asupan air yang berlebih.
Sebaiknya pencatatan dikerjakan 7 hari berturut-turut untuk
mendapatkan hasil yang baik2,10, namun Brown et al (2002)
mendapatkan bahwa pencatatan selama 3-4 hari sudah cukup
untuk menilai overaktivitas
Detrusor.
e. Uroflometri
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine
selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih
bagian bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat
diperoleh informasi mengenai

volume

miksi, pancaran

maksimum (Qmax), pancaran rata-rata (Qave), waktu yang

dibutuhkan untuk mencapai pancaran maksimum, dan lama


pancaran.
Pemeriksaan ini sangat mudah, non invasif, dan sering
dipakai untuk mengevaluasi gejala obstruksi infravesika baik
sebelum maupun setelah

mendapatkan terapi. Hasil

uroflometri tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya


kelainan pancaran urine, sebab pancaran urine yang lemah
dapat disebabkan karena BOO atau kelemahan otot detrusor.
Demikian pula Qmax (pancaran) yang normal belum tentu
tidak ada BOO. Namun demikian sebagai patokan, pada ICBPH 2000, terdapat korelasi antara nilai Qmax dengan derajat
BOO sebagai berikut:
1. Qmax < 10 ml/detik 90% BOO
2. Qmax 10-14 ml/detik 67% BOO
3. Qmax >15 ml/detik 30% BOO
Menurut Steele et al (2000) kombinasi pemeriksaan skor
IPSS, volume prostat, dan Qmax cukup akurat dalam
menentukan adanya BOO. Nilai Qmax dipengaruhi oleh: usia,
jumlah urine yang dikemihkan, serta terdapat variasi induvidual
yang cukup besar. Oleh karena itu hasil uroflometri menjadi
bermakna jika volume urine >150 mL dan diperiksa
berulangkali pada kesempatan yang berbeda.
f. Pemeriksaan residual urine
Residual urine atau post voiding residual urine (PVR)
adalah sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah
miksi. Jumlah residual urine ini pada orang normal adalah
0,09-2,24 mL dengan rata-rata 0,53 mL. Tujuh puluh
delapanpersen pria normal mempunyai residual urine kurang
dari 5 mL dan semua pria normal mempunyai residu urine tidak
lebih dari 12 mL9.
Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif,
yaitu dengan melaku-kan pengukuran langsung sisa urine

melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih dan dengan


mengukur sisa urine melalui USG atau bladder scan. Variasi
perbedaan volume residual urine ini tampak nyata pada residual
urine yang cukup banyak (>150 ml), sedangkan volume
residual urine yang tidak terlalu banyak (<120 ml) hasil
pengukuran dari waktu ke waktu hampir sama.
Dahulu para ahli urologi beranggapan bahwa volume
residual urine yang meningkat menandakan adanya obstruksi,
sehingga perlu dilakukan pembedahan; namun ternyata
peningkatan volume residual urine tidak selalu menunjukkan
beratnya gangguan pancaran urine atau beratnya obstruksi.
g. Pemeriksaan Pencitraan traktus uranius
Pencitraan

traktus

urinarius

pada

BPH

meliputi

pemeriksaan terhadap traktus urinarius bagian atas maupun


bawah dan pemeriksaan prostat.
1. Pemeriksaan IVP
Pemeriksaan IVP pada BPH dikerjakan oleh sebagian
besar ahli urologi untuk melihat adanya kelainan pada saluran
kemih bagian atas, divertikel atau selule pada buli-buli, batu
pada buli-buli, perkiraan volume residual urine, dan perkiraan
besarnya prostat. Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien
BPH dengan memakai IVP atau USG, ternyata bahwa 7075% tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran kemih
bagian atas sedangkan yang menunjukkan kelainan, hanya
sebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan penanganan
berbeda dari yang lain. Oleh karena itu pencitraan saluran
kemih

bagian

atas

tidak

direkomendasikan

sebagai

pemeriksaan pada BPH, kecuali jika pada pemeriksaan awal


diketemukan adanya hematuria, infeksi saluran kemih,
insufisiensi renal (dengan melakukan pemeriksaan USG),
riwayat

urolitiasis,

dan

riwayat

pernah

menjalani

pembedahan pada saluran urogenitalia (De la Rossette et al,


2001).
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:
1. kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter
atau hidronefrosis
2. memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang
ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan
vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di
sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau
hooked fish
3. penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya
trabekulasi, divertikel, atau sakulasi vesica urinaria
4. foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin
2. Pemeriksaan sistografi maupun uretrografi retrograd
Pemeriksaan sistografi maupun uretrografi retrograde
untuk memperkirakan besarnya prostat atau mencari kelainan
pada buli-buli saat ini tidak direkomendasikan. Namun
pemeriksaan itu masih berguna jika dicurigai adanya striktura
uretra (De la Rossette et al, 2001)
3. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG prostat bertujuan untu menilai bentuk,
besar prostat, dan mencari kemungkinan adanya karsinoma
prostat.

Pemeriksaan

ultrasonografi

prostat

tidak

direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin, kecuali hendak


menjalani terapi inhibitor 5- reduktase, termoterapi,
pemasangan stent, TUIP atau prostatektomi terbuka. Menilai
bentuk dan ukuran kelenjar prostat dapat dilakukan melalui
pemeriksaan transabdomina (TAUS) ataupun transrektal
(TRUS). Jika terdapat peningkatan kadar PSA, pemeriksaan
USG melalui transrektal (TRUS) sangat dibutuhkan guna
menilai kemungkinan adanya karsinoma prostat (De la
Rossette et al, 2001)

Gambaran sonografi BPH menunjukan pembesaran


bagian dalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding
zona perifer.Zona transisi hipoekoik cenderung menekan
zona central dan perifer.Batas yang memisahkan hyperplasia
dengan

zona

perifer

adalah

surgical

capsule.USG

transabdominal mampu pula mendeteksi adanya hidronefrosis


ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama
(De la Rossette et al, 2001)

Gambar 5. Gambaran USG Prostat normal

Gambar 6. Gambaran Sonografi BPH


h. Uretrosistoskopi
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan
uretra prostatika dan bulibuli. Terlihat adanya pembesaran
prostat, obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli,
trabekulasi buli-buli, selule, dan divertikel bulibuli. Selain itu
sesaat sebelum dilakukan sistoskopi diukur volume residual
urine

pasca

miksi.

Sayangnya

pemeriksaan

ini

tidak

mengenakkan bagi pasien, bisa menimbulkan komplikasi


perdarahan, infeksi, cedera uretra, dan retensi urine sehingga
tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH (De la
Rossette et al, 2001)

Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan dilakukan


tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya dilakukan
TUIP, TURP, atau prostatektomi terbuka. Disamping itu pada
kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan adanya
karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantu dalam mencari
lesi pada buli buli (De la Rossette et al, 2001).
i. Pemeriksaan urodinamika
Pemeriksaan urodinamika (pressure flow study) dapat
membedakan pancaran urine yang lemah itu disebabkan karena
obstruksi leher buli-buli dan uretra (BOO) atau kelemahan
kontraksi otot detrusor. Pemeriksaan ini cocok untuk pasien
yang hendak menjalani pembedahan. Pemeriksaan urodinamika
merupakan pemeriksaan optional pada evaluasi pasien BPH
bergejala (De la Rossette et al, 2001)
F. Differensial Diagnosis
1. Striktur uretra
a. Riwayat instrumentasi uretra
b. urethritis
c. trauma
2. Kontraktur leher vesika urinaria
a. Riwayat instrumentasi uretra
b. urethritis
c. trauma
3. Batu vesika urinaria
a. Hematuria
b. nyeri
4. Carsinoma Prostat
Dapat diketahui dengan colok dubur atau meningkatnya kadar PSA
5. Infeksi saluran kemih
Dapat diidentifikasi dengan urinalisis dan kultur urin
6. Gangguan neurogenik vesika urinaria

Riwayat penyakit saraf, stroke, diabetes mellitus, cedera tulang


belakang, Pemeriksaan fisik menunjukkan menurunnya sensasi
perineum atau ekstremitas bawah, serta perubahan tonus sfingter atau
reflex bulbokavernosus.Selain itu, memungkinkan terjadinya gangguan
fungsi usus seperti sembelit, karena masih satu asal neurologis (Presti
et al., 2004).

G. Penatalaksanaan
Tujuan terapi BPH adalah
1. memperbaiki keluhan miksi,
2. meningkatkan kualitas hidup,
3. mengurangi obstruksi intravesika,
4. mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal,
5. mengurangi volume residu urine setelah miksi, dan
6. mencegah progrefitas penyakit.
Tabel 3. Beberapa terapi yang dapat diberikan pada pasien BPH yaitu
(AUA, 2003):

1. Watchful Waiting
Watchful waiting artinya pasien tidak mendapatkan terapi apapun
tetapi perkem-bangan penyakitnya keadaannya tetap diawasi oleh
dokter. Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor

IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang tidak menggangu aktivitas


sehari-hari. Beberapa guidelines masih menawarkan watchful waiting
pada pasien BPH bergejala dengan skor sedang (IPSS 8-19). Pasien
dengan keluhan sedang hingga berat (skor IPSS > 7), pancaran urine
melemah (Qmax < 12 mL/detik), dan terdapat pembesaran prostat > 30
gram tentunya tidak banyak memberikan respon terhadap watchful
waiting (AUA, 2003).
Pada watchful waiting ini, pasien tidak mendapatkan terapi apapun
dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat
memperburuk keluhannya, misalnya :
a. Jangan banyak minum dan mengkonsumsi kopi atau alkohol
setelah makan malam,
b. Kurangi konsumsi makanan atau minuman yang menyebabkan
iritasi pada buli-buli (kopi atau cokelat),
c. Batasi

penggunaan

obat-obat

influenza

yang

mengandung

fenilpropanolamin,
d. Kurangi makanan pedas dan asin,
e. Jangan menahan kencing terlalu lama
f. Setiap 6 bulan, pasien diminta untuk dating kontrol dengan ditanya
dan diperiksa tentang perubahan keluhan yang dirasakan, IPSS,
pemeriksaan laju pancaran urine, maupun volume residual urine.
Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin
perlu difikirkan untuk memilih terapi yang lain.
2. Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk (AUA, 2003). :
a. Mengurangi resistansi otot polos prostat sebagai komponen dinamik
penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat
adrenergic alfa (adrenergic alfa blocker)
b. Mengurangi volume prostat sebagai komponen statik dengan cara
menurunkan kadar hormone testosterone/dihidrotestosteron (DHT)
melalui penghambat 5-reduktase.
1. Penghambat reseptor adrenergik .

Pengobatan

dengan

antagonis

adrenergik

bertujuan

menghambat kontraksi otot polos prostat sehingga mengurangi


resistensi tonus leher buli-buli dan uretra. Fenoksibenzamine adalah
obat antagonis adrenergic non selektif yang pertama kali diketahui
mampu memper-baiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan
miksi. Namun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena
menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan, di
antaranya adalah hipotensi postural dan menyebabkan penyulit lain
pada sistem kardiovaskuler (AUA, 2003).
Diketemukannya

obat

antagonis

adrenergic

dapat

mengurangi penyulit sistemik yang diakibatkan oleh efek hambatan


pada-2 dari fenoksibenzamin. Beberapa golongan obat antagonis
adrenergik 1 yang selektif mempu-nyai durasi obat yang pendek
(short acting) di antaranya adalah prazosin yang diberikan dua kali
sehari, dan long acting yaitu, terazosin, doksazosin, dan tamsulosin
yang cukup diberikan sekali sehari (AUA, 2003).
2. Penghambat 5 reductase
Finasteride adalah obat inhibitor 5- reduktase pertama yang
dipakai untuk mengobati BPH. Obat ini bekerja dengan cara
menghambat

pembentukan

dihidrotestosteron

(DHT)

dari

testosteron, yang dikatalisis oleh enzim 5 - redukstase di dalam selsel prostat. Beberapa uji klinik menunjukkan bahwa obat ini mampu
menurunkan ukuran prostat hingga 20-30%, meningkatkan skor
gejala sampai 15% atau skor AUA hingga 3 poin, dan meningkatkan
pancaan urine. Efek maksimum finasteride dapat terlihat setelah 6
bulan (AUA, 2003).
Pada penelitian yang dilakukan oleh McConnell et al (1998)
tentang efek finasteride terhadap pasien BPH bergejala, didapatkan
bahwa pemberian finasteride 5 mg per hari selama 4 tahun ternyata
mampu menurunkan volume prostat, meningkatkan pancaran urine,
menurunkan kejadian retensi urine akut, dan menekan kemungkinan
tindakan pembedahan hingga 50% (AUA, 2003).

Finasteride digunakan bila volume prostat >40 cm. Efek samping


yang terjadi pada pemberian finasteride ini minimal, di antaranya
dapat terjadi impotensia, penurunan libido, ginekomastia, atau timbul
bercak-bercak kemerahan di kulit. Finasteride dapat menurunkan
kadar PSA sampai 50% dari harga yang semestinya sehingga perlu
diperhitungkan pada deteksi dini kanker prostat (AUA, 2003).
3. Terapi intervensi
Terapi intervensi dibagi dalam 2 golongan yaitu teknik ablasi
jaringan prostat atau pembedahan dan teknik instrumentasi alternatif.
Termasuk ablasi jaringan prostat adalah pembedahan terbuka, TURP,
TUIP, TUVP, dan laser prostatektomi. Sedangkan teknik instrumentasi
alternatif adalah interstitial laser coagulation, TUNA, TUMT, dilatasi
balon, dan stent uretra (AUA, 2003)
a. Pembedahan
Indikasi pembedahan yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan
komplikasi, diantaranya adalah :
1. Retensi urine karena BPO
2. Infeksi saluran kemih berulang karena BPO
3. Hematuria makroskopik karena BPE
4. Batu buli-buli karena BPO
5. Gagal ginjal yang disebabkan oleh BPO
6. Divertikulum bulibuli yang cukup besar karena BPO
Guidelines di beberapa negara juga menyebutkan bahwa
terapi pembedahan diindikasikan pada BPH yang telah
menimbulkan keluhan sedang hingga berat, tidak menunjukkan
perbaikan setelah pemberian terapi non bedah, dan pasien yang
menolak pemberian terapi medikamentosa. Terdapat tiga macam
teknik pembedahan yang direkomendasikan, yaitu prostatektomi
terbuka, insisi prostat transuretra (TUIP), dan reseksi prostat
transuretra (TURP) (AUA, 2003).
1. Prostatektomi terbuka

Dalam beberapa kasus ketika sebuah prosedur


transurethral tidak dapat digunakan, operasi terbuka, yang
memerlukan insisi eksternal, dapat digunakan.Open surgery
sering dilakukan ketika kelenjar sangat membesar (>100
gram), ketika ada komplikasi, atau ketika kandung kemih
telah rusak dan perlu diperbaiki.Prostatektomi terbuka
dilakukan melalui pendekatan suprarubik transvesikal
(Freyer) atau retropubik infravesikal (Millin).Penyulit yang
dapat terjadi adalah inkontinensia uirn (3%), impotensia (510%), ejakulasi retrograde (60-80%) dan kontraktur leher
VU (305%).Perbaikan gejala klinis 85-100% (AUA, 2003)
2.

TURP (Transurethral resection of the prostate)


TURP lebih sedikit menimbulkan trauma dibandingkan
prosedur bedah terbuka dan memerlukan masa pemulihan
yang lebih singkat. Secara umum TURP dapat memperbaiki
gejala BPH hingga 90%, meningkatkan laju pancaran urine
hingga 100% (AUA, 2003).
Indikasi TUR P adalah gejala gejala sedang sampai
berat, volume prostat kurang dari 90 g dan pasien cukup
sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TUR P jangka
pendek adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia, atau
retensi karena bekuan darah. Sedangkan komplikasi jangka
panjang adalah stiktura uretra, ejakulasi retrograde (50
90%) atau impotensi (4 40%) (AUA, 2003).

Gambar 6. Cara melakukan TURP

3. TUIP (Transurethral Incision of the Prostate)


Pria dengan keluhan sedang sampai berat dan
ukuran prostat yang kecil sering didapatkan adanya
hyperplasia

komisura

posterior

(terangkatnya

leher

kandung kemih).Pasien tersebut biasanya lebih baik


dilakukan insisi prostat (AUA, 2003).

Gambar 7. Prosedur Transurethral Incision of the Prostate (TUIP)


Prosedur TUIP lebih cepat dan morbiditasnya lebih rendah
dibandingkan TURP. Teknik TUIP meliputi insisi dengan pisau
Collin pada posisi jam 5 dan 7(AUA, 2003)
4. Laser Prostatektomi
Energi laser mulai dipakai sebagai terapi BPH sejak tahun
1986, yang dari tahun ke tahun mengalami penyempurnaan.

Terdapat 4 jenis energi yang dipakai, yaitu: Nd:YAG, Holmium:


YAG, KTP: YAG, dan diode yang dapat dipancarkan melalui
bare fibre, right angle fibre, atau intersitial fibre. Kelenjar prostat
pada suhu 60-650C akan mengalami koagulasi dan pada suhu
yang lebih dari 1000C mengalami vaporisasi (AUA, 2003).
Jika dibandingkan dengan pembedahan,pemakaian Laser
ternyata

lebih

penyembuhan

sedikit
lebih

menimbulkan

cepat,

tetapi

komplikasi
kemampuan

dan
dalam

meningkatkan perbaikan gejala miksi maupun Qmax tidak sebaik


TURP. Disamping itu terapi ini membutuhkan terapi ulang 2%
setiap tahun. Kekurangannya adalah tidak dapat diperoleh
jaringan untuk pemeriksaan patologi (kecuali pada Ho:YAG),
sering banyak menimbulkan disuria pasca bedah yang dapat
berlangsung sampai 2 bulan, tidaklangsung dapat miksi spontan
setelah operasi, dan peak flow rate lebih rendah dari pada pasca
TURP (AUA, 2003).

b. Tindakan invasive minimal


1. Termoterapi
Termoterapi kelenjar prostat adalah pemanasan > 45oC
sehingga menimbulkan nekrosis koagulasi jaringan prostat.
Gelombang panas dihasilkan dari berbagai cara, antara lain
adalah (Tubaro et al, 2000):
a. TUMT (transurethral microwave thermotherapy),
b. TUNA (transurethral needle ablation),
c. HIFU (high intensity focused ultrasound),
d. Laser
Teknik termoterapi ini tidak memerlukan mondok di
rumah sakit, namun masih harus memakai kateter dalam
jangka waktu lama. Sering kali diperlukan waktu 3-6 minggu
untuk menilai kepuasan pasien terhadap terapi ini. Pada

umumnya

terapi

ini

lebih

efektif

daripada

terapi

medikamnetosa tetapi kurang efektif dibandingkan dengan


TURP. Tidak banyak menimbulkan perdarahan sehingga
cocok diindikasikan pada pasien yang memakai terapi
antikoagulansia (Tubaro et al, 2000).
2. Stent
Stent prostat dipasang pada uretra prostatika untuk
mengatasi obstruksi karena pembesaran prostat. Stent
dipasang intraluminal di antara leher buli-buli dan di sebelah
proksimal verumontanum sehingga urine dapat leluasa
melewati lumen uretra prostatika. Stent dapat dipasang secara
temporer atau permanen. Temporer dipasang selama 6-36
bulan dan terbuat dari bahan yang tidak diserap dan tidak
mengadakan reaksi dengan jaringan. Alat ini dipasang dan
dilepas kembali secara endoskopi. Stent yang telah terpasang
bisa mengalami enkrustasi, obstruksi, menyebabkan nyeri
perineal, dan dysuria (Tubaro et al, 2000).
H. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah :
1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,
hidronefrosis, gagal ginjal.
2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi.
3. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya
batu.
4. Hematuria.
5. Disfungsi seksual
I. Prognosis
Sebagian besar pasien BPH mengalami perbaikan yang signifikan
setelah dilakukannya pengobatan. Pasien mengalami pengurangan skor yang

mengganggu dari gejala BPH sehingga terjadi peningkatan kualitas hidup


pasien.

BAB III
KESIMPULAN
1. Benign

Prostatic

Hyperplasia

(BPH)

adalah

pertumbuhan

berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas


2. Banyak faktor yang berperan dalam proliferasi / pertumbuhan jinak
kelenjar prostat, yaitu pengaruh hormon(testosterone, estrogen,
prolaktin),

diet

tertentu,

mikro

trauma,

dan

faktor-faktor

lingkungan diduga berperan dalam proliferasi sel-sel kelenjar


prostat secara tidak langsung.
3. Penatalaksaan dari BPH yang dilakukan yaitu dengan observasi,
medikamentosa dan terapi intervensi.

DAFTAR PUSTAKA
AUA practice guidelines committee.2003. AUA guideline on management of
benign prostatic hyperplasia (2003). Chapter 1: diagnosis and treatment
recommendations. J Urol 170: 530- 547
De la Rossette JJMH, Alivizatos G, Madersbacher S, Nording J, Emberton M, dan
Sanz CR. 2001. EAU guidelines on benign prostatic Hyperplasia (BPH).
Eur Urol 40: 256-263
Dunsmuir WD, Feneley M, Bryan J, dan Kirby RS.1996. The day-to day variation
(test-retest reliability) of residual urine measurement. BJU 77, 192-193
Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-Dasar Urologi.Jakarta : Sagung Seto.
Tubaro A, Vicentini C, Renzetti R, dan Miano L. 2000. Invasive and minimally
invasive treatment modalities for lower urinary tract symptoms: what are the
relevant differences in randomized controlled trials. Europian Urologi
38(suppl): 7-17.