Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan laporan tutorial skenario 1 yang berjudul Persepsi
pada blok VIII (Blok Perilaku).
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan
membimbing kami dalam menyelesaikan penyusunan laporan tutorial skenario 1, khususnya
kepada dr. Hadian Rahman sebagai tutor yang telah mendampingi kami selama tutorial.
Kami mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan laporan ini khususnya
dalam pembahasan Learning Objective. Kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan. Agar penyusunan laporan-laporan selanjutnya dapat lebih baik lagi. Semoga laporan
tutorial ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi pembaca.
Terima kasih.

Mataram,

Oktober 2015

Penyusun
(Kelompok 1)

DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................................................

Daftar Isi..........................................................................................................................

BAB I Pendahuluan
1.1.

Skenario.............................................................................

1.2.

3
Waktu dan Tempat Pelaksanaan............................................................

1.3.

3
Data Kelompok..................................................................................................

1.4.

4
Mind Map...................................................................................................

1.5.

5
Learning Objective..........................................................................................
5

BAB II Pembahasan Materi


2.1.

Pengertian Persepsi........................................................................................

2.2.

6
Faktor yang mempengaruhi persepsi.................................................................

2.3.

6
Anatomi dan Fungsi Indera....................................................

2.4.

8
Jaras Penglihatan, Pendengaran, Penciuman, Pengecapan, Perabaan...............

2.5.

23
Sistem Limbik........................................................................................
30

BAB III Penutup


3.1.

Kesimpulan........................................................................................................
35

Daftar Pustaka..................................................................................................................

36

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Skenario
Seluruh anggota Teater Putih sedang melakukan latihan di Taman Budaya Mataram
dalam rangka persiapan pertunjukan minggu depan. Dalam latihan tersebut ketua teater
ingin menggali imajinasi para anggotanya.
Pelatih : Perhatian semuanya! Sekarang fokuskan pandangan pada satu titik
kemudian pejamkan mata kalian. Perlahan-lahan coba kalian bayangkan sosok pelatih
kita Pak Rosid. Apa yang bisa kalian persepsikan tentang beliau.
Dalam pikiran Anton (anggota) : Bapak Rosid itu orangnya tinggi besar, beliau
memiliki tangan yang kokoh. Saya pernah memegang tangannya dalam pertunjukan yang
lalu dan beliau banyak melakukan gerakan-gerakan yang mengandalkan kekuatan otot
lengan.
Dalam pikiran Rita (anggota) : Pak Rosid itu galak, suaranya lantang, dan suka
marah kalau kita terlambat datang latihan (sedikit kesal). Sebenarnya beliau cakep, hanya
saja sering tidak menyisir rambutnya dan bajunya sering kali kusut. Pernah beberapa kali,
saya rasa dia tidak mandi tercium dari bau keringatnya.
Anton dan Rita menggambarkan sosok yang sama, namun memiliki persepsi yang
berbeda. Anton menggambarkan secara visual dan perabaan, sedangkan Rika
menggunakan indera pendengaran dan penciuman untuk menggambarkan beliau.
1.2.Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a. Tutorial 1 (Step 1-5)
Hari, tanggal
: Senin, 19 Oktober 2015
Waktu
: 08.50 10.30 Wita
3

Tempat
: Ruang Tutorial 1
b. Tutorial 2 (Step 7)
Hari, tanggal
: Kamis, 22 Oktober 2015
Waktu
: 08.00 09.40 Wita
Tempat
: Ruang Tutorial 1
1.3.Data Kelompok
Kelompok
:1
Tutor
: dr. Hadian Rahman
Ketua
: Baiq Diana Mustika Wati
Sekretaris
: Rizky Aditya Pratama
Scribber
: Anna Yulfa Syafitri
Anggota
:
- Dini Apsari
- Galan Armadani
- Kamila Asfiysturraihan
- Mega Pratiwi
- Ni Kadek Suciartini
- Noviyanti
- Rizky Aditya Pratama
- Titin Maulina Anggraini
- Yusril Rahmi Sukmawati

(H1A014011)
(H1A014067)
(H1A014003)
(H1A014019)
(H1A014027)
(H1A014035)
(H1A014043)
(H1A014051)
(H1A014059)
(H1A014067)
(H1A014075)
(H1A014083)

1.4.Mind Map

Pengertian
4

PERSEPSI

Faktor yang mempengaruhi


Anatomi dan Fungsi Indera
Faktor eksternal dan Internal
1.
2.
3.
4.

Jaras-jaras

1.
2.
3.
4.
5.

Penglihatan
Pendengaran
Penciuman
Pengecapan
Perabaan

5.

Mata
Telinga
Hidung
Lidah
Kulit

1.5.Learning objective
Sistem limbik
1. Apa yang dimaksud dengan persepsi?
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi?
3. Anatomi dan fungsi indera?
4. Bagaimana jaras penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan?
5. Sistem limbik?

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
2.1. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu interpretasi sadar kita terhadap dunia luar yang diciptakan
oleh otak dari suatu pola impuls-impuls saraf yang diterimanya dari reseptor sensorik.
2.2.

Faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Terdapat banyak faktor yang akan mempengaruhi persepsi seseorang. Faktor tersebut
dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal
adalah faktor yang melekat pada objeknya, sedangkan faktor internal adalah faktor yang
terdapat pada orang yang mempersepsikan stimulus tersebut.
A. Faktor Eksternal
a. Kontras
5

Cara termudah dalam menarik perhatian adalah dengan membuat kontras


baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan.
b. Perubahan Intensitas
Suara yang berubah dari pelan menjadi keras, atau cahaya yang berubah
dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang.
c. Pengulangan (Repetition)
Dengan pengulangan, walaupun pada mulanya stimulus tersebut tidak
termasuk dalam rentang perhatian kita, maka akan mendapat perhatian kita.
d. Sesuatu yang baru (Novelty)
Suatu stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian kita daripada
sesuatu yang telah kita ketahui.
e. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak
Suatu stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik
perhatian seseorang.
B. Faktor Internal
a. Pengalaman atau pengetahuan
Pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor
yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang kita peroleh.
Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan
terjadinya perbedaan interpretasi.
b. Harapan (Expectation)
Harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap stimulus.
c. Kebutuhan
Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan stimulus
secara berbeda. Misalnya seseorang yang mendapatkan undian sebesar 25 juta
akan merasa banyak sekali jika ia hanya ingin membeli sepeda motor, tetapi ia
akan merasa sangat sedikit ketika ia ingin membeli rumah.
d. Motivasi
Motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang
termotivasi untuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok
sebagai sesuatu yang negatif.
e. Emosi
Emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang
ada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikan
semuanya serba indah.
f. Budaya

Seseorang

dengan

latar

belakang

budaya

yang

sama

akan

menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun


akan mempersepsikan orang-orang di luar kelompoknya sebagai sama saja.
2.2.1. Terjadinya Perbedaan Persepsi
Persepsi merupakan cara berpikir seseorang yang diperoleh dari penerimaan
informasi melalui alat indera. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
perbedaan persepsi dari setiap individu diantaranya :
a. Ciri khas objek stimulus yang memberikan nilai bagi orang yang
mempersiapkannya dan seberapa jauh objek tertentu dapat menyenangkan bagi
seseorang
b. Faktor-faktor pribadi termasuk di dalamnya ciri khas individu, seperti taraf
kecerdasan, minat, emosional dan lain sebagainya.
c. Faktor perbedaan latar belakang tingkah laku kultural (kebiasaan)
d. Objek yang dipersiapkan menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau
reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang mempersiapkannya
tetapi juga dapat datang dari dalam individu yang bersangkutan yang langsung
mengenai syaraf yang bekerja sebagai reseptor.
e. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf merupakan alat untuk menerima
stimulus di samping itu juga harus ada syaraf sensoris sebagai alat untuk
meneruskan stimulus yang diterima reseptor ke pusat susunan syaraf yaitu otak
sebagai pusat kesadaran. Sehingga Perbedaan persepsi bisa ditimbulkan akibat
terjadi gangguan fungsi alat indera atau kurang sempurna.
2.2.2. Cara untuk Menyamakan Persepsi
Persepsi adalah proses mental untuk mengolah rangsangan yang diterima.
Proses pengolahan persepsi indera kita sebagian memang ditentukan secara genetik,
tapi sebagian besarnya lagi merupakan hasil dari pembelajaran selama bertahuntahun, baik dari pengetahuan atau pengalaman. Oleh sebab itu, proses persepsi
antara satu individu dengan individu lainnya memiliki perbedaan. Maka dari itu
kita dapat berkomunikasi untuk menyamakan persepsi kita karena komunikasi
dapat mempengaruhi faktor internal maupun eksternal dari persepsi.
Anatomi dan Fungsi Indera
2.3.1. Mata
Mata merupakan organ penglihatan yang berfungsi untuk melihat. Pada mata

2.3.

terdapat bulbus oculi (bola mata) yang terbagi menjadi 3 lapisan yaitu :
a. Lapisan jaringan ikat eksternal
7

Lapisan ini berfungsi sebagai penyangga yang terdiri dari sclera dan
cornea. Bagian 5/6 posterior lapisan eksternal yang tidak tembus cahaya dibentuk
oleh sclera. Pada bagian depan sclera terlihat samar-samar lewat conjungtiva
bulbi (putih mata). Sedangkan bagian 1/6 anteriornya yakni lapisan luar yang
transparan merupakan cornea.
b. Lapisan tengah (vaskuler)
Pada lapisan ini terdiri dari :
Choroidea
Yakni selaput berwarna cokelat tua antara sclera dan retina. Selain itu,
choroidea membentuk bagian lapisan tengah yang terbesar dan melapisi
hampir seluruh sclera. Ke anterior, choroidea berakhir pada corpus ciliare.
Dan juga choroidea melekat erat pada retina.
Corpus ciliare
Corpus ciliare ini menghubungkan antara choroidea dengan garis lingkar iris.
Pada permukaan dalam corpus ciliare terdapat lipatan-lipatan yakni
processus ciliaris yang membentuk humor aquosus.
Iris
Iris terletak dibagian depan lensa mata dan terdapat pupilla yaitu lubang di
tengah untuk melewatkan cahaya. Ada dua otot yang mengatur besar
kecilnya pupilla tersebut, yakni musculus sphincter pupillae berfungsi untuk
menyempitkan pupilla dan musculus sliktator pupillae yang melebarkan
pupilla.
c. Lapisan neural internal (Retina)
Retina merupakan bagian mata yang peka terhadap cahaya, dan
mengandung sel-sel kerucut yang berfungsi untuk penglihatan warna dan sel-sel
batang yang berfungsi untuk penglihatan hitam putih serta penglihatan di dalam
gelap. Lapisan retina daru luar ke dalam :
- Lapisan pigmen
- Lapisan batang dan kerucut yang menonjol pada lapisan pigmen
- Lapisan nukleus luar yang mengandung badan sel batang dan kerucut
- Lapisan pleksiform luar
- Lapisan nukleus dalam
- Lapisan pleksiform dalam
- Lapisan ganglion
- Lapisan serat saraf optikus
- Membran limitan dalam
d. Organ-organ tambahan pada mata
Kelopak mata
8

Kelopak mata berfungsi untuk melindungi bola mata tetapi juga


menyebarkan fim air mata melewa permukaan mata sambil berkedip secara
konstan. Hal ini bertujuan untuk mencegah permukaan mata tidak menjadi
kering.
Conjunctiva
Conjunctiva merupakan lapisan epitel transparan dan tipis yang menutupi
bagian dalam palpebrae dan bagian sclera yang dapat dilihat. Untuk sekresi
mukusnya merupakan komponen film air mata. Dibagian Limbus corneae,
conjunctiva bertransisi menjadi epitel kornea.
Kelenjar lakrimal
Kelenjar lakrimal terletak pada sudut luar atas orbita, banyak kelenjar
asesorius yang terletak pada kelopak mata, dan menghasilkan air mata.
Keenam otot ekstra-okular
Keenam otot ekstra-okular berinsertio di Bulbus oculi dan bergerak dengan
arah yang berbeda. Sebagian besar berasal dari anulus tendineus communis
yang mengelilingi n.opticus (II) pada tempat masuknya ke dalam orbita.
Otot-otot ekstra-okular membentuk conus otot di belakang bola mata dengan
ujungnya yang mengarah ke canalis nervi optici. Ada tiga saraf yang
mempersarafi otot ekstraokular yakni cabang n. ophthalmicus (V/1), serta
cabang-cabang V.

Gambar 1. Mata : oculus, sisi kanan, dengam kelopak mata tertutup

Gambar 2. Mata : oculus, sisi kanan, dengan kelopak mata terbuka

Gambar 3. Mata : oculus, sisi kanan, dengan kelopak mata atas dan bawah di-eversi

Gambar 4. Mata : oculus, sisi kanan dengan kelopak mata atas diekstropionasi (dengan bantuan)

10

Gambar 5. Struktur permukaan mata

Gambar 6. Bola mata, bilbus oculi, sisi kanan

Gambar 7. Iris dan sorpus ciliare


11

2.3.2. Telinga
Masing-masing telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, tengah, dan dalam
(Gambar 6-30). Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari
udara ke telinga dalam yang berisi cairan, di mana energi suara mengalami penguatan
dalam proses ini. Telinga dalam berisi dua system sensorik berbeda: koklea, yang
mengandung reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls saraf
sehingga kita dapat mendengar; dan aparatus vestibularis, yang penting bagi sensasi
keseimbangan.
a. Telinga luar
Terdiri dari pinna (daun telinga), meatus auditorius eksternus (saluran
telinga), dan membran timpani (gendang telinga). Pinna, lipatan menonjol tulang
rawan berlapis kulit mengumpulkan gelombang suara dan menyalurkannya ke
saluran telinga luar. Banyak spesies (anjing misalnya) dapat mengarahkan telinga
mereka sesuai sumber suara untuk mengumpulkan lebih banyak suara, tetapi
telinga manusia relatif tidak dapat bergerak. Karena bentuknya, pinna secara
parsial menghambat gelombang suara yang mendekati telinga dari belakang,
mengubah warna suara sehingga membantu orang membedakan apakah suara
berasal tepat dari depan atau belakang.
Lokalisasi suara untuk suara yang datang dari kanan atau kiri ditentukan
berdasarkan dua petunjuk. Pertama, gelombang suara mencapai telinga yang
lebih dekat dengan sumber suara sesaat sebelum gelombang tersebut tiba di
telinga satunya. Kedua, suara menjadi kurang intens ketika mencapai telinga
yang jauh, karena kepala berfungsi sebagai penghalang suara yang secara parsial
menghambat

perambatan

gelombang

suara.

Korteks

pendengaran

mengintegrasikan semua petunjuk ini untuk menentukan lokasi sumber suara.


Kita sulit mengetahui lokasi sumber suara hanya dengan satu telinga.
Bukti-bukti terakhir menunjukkan bahwa korteks pendengaran menentukan
lokasi suara berdasarkan perbedaan dalam waktu pola lepas muatan neuron,
bukan oleh peta ruang seperti yang diproyeksikan titik demi titik di korteks
penglihatan oleh retina yang memungkinkan kita mengetahui lokasi benda yang
terlihat. Pintu masuk saluran telinga dijaga oleh rambut-rambut halus.
b. Telinga tengah

12

Memindahkan gerakan bergetar membrane timpani ke cairan telinga dalam.


Pemindahan ini dipermudah oleh adanya rantai tiga tulang kecil, atau osikulus
(maleus, inkus, dan stapes), yang dapat bergerak dan membentang di telinga
tengah. Tulang pertama, maleus, melekat ke membran timpani, dan tulang
terakhir, srapes, melekat ke jendela oval, pintu masuk ke dalam koklea yang
berisi cairan. Sewaktu membran timpani bergetar sebagai respons terhadap
gelombang suara, rangkaian tulang-tulang tersebut ikut bergerak dengan
frekuensi yang sama, memindahkan frekuensi getaran ini dari membran timpani
ke jendela oval. Tekanan yang terjadi di jendela oval yang ditimbulkan oleh
setiap getaran akan menimbulkan gerakan cairan telinga dalam mirip gelombang
dengan frekuensi yang sama seperti gelombang suara asal. Namun, seperti telah
disebutkan, diperlukan tekanan yang lebih besar untuk menggetarkan cairan.
Sistem osikulus memperkuat tekanan yang ditimbulkan oleh gelombang suara di
udara melalui dua mekanisme agar cairan di koklea bergetar. Pertama, karena
luas permukaan membran timpani jauh lebih besar daripada luas jendela oval
maka terjadi peningkatan tekanan ketika gaya yang bekerja pada membran
timpani disalurkan oleh osikulus ke jendela oval (tekanan = gayal/luas). Kedua,
efek tuas osikulus juga menimbulkan penguatan. Bersama-sama, kedua
mekanisme ini meningkatkan gaya yang bekerja pada jendela oval sebesar 20 kali
dibandingkan dengan jika gelombang suara langsung mengenai jendela oval.
Penambahan tekanan ini sudah cukup untuk menggetarkan cairan di koklea.
c. Kokhlea
Terdapat di telinga dalam, merupakan komponen pendengaran seukuran
kacang polong dan berbentuk mirip siput ini adalah bagian telinga dalam yang
"mendengar" dan merupakan sistem tubulus bergelung yang terletak jauh di
dalam tulang tempora. Di sebagian besar panjangnya koklea dibagi menjadi tiga
kompartemen longitudinal berisi cairan. Duktus kokhlearis yang buntu, yangjuga
dikenal sebagai skala media, membentuk kompartemen tengah. Bagian ini
membentuk terowongan di seluruh panjang bagian tengah kokhlea, hampir
mencapai ujung. Kompartemen atas, skala vestibuli, mengikuti kontur dalam
spiral, dan skala timpani, kompartemen bawah, mengikuti kontur luar. Cairan di
dalam duktus koklearis disebut endolimfe. Skala vestibuli dan skala timpani
13

mengandung cairan yang sedikit berbeda, perilimfe. Daerah di luar ujung duktus
koklearis tempar cairan di kompartemen atas dan bawah berhubungan disebut
helikotrema. Skala vestibuli dipisahkan dari rongga telinga tengah oleh jendela
oval, tempat melekatnya stapes. Lubang kecil lain yang ditutupi oleh membran,
jendela bundar, menutup skala timpani dari telinga tengah. Membran vestibularis
yang tipis membentuk atap duktus koklearis dan memisahkannya dari skala
vestibuli.

Membran

basilaris

membentuk

lantai

duktus

kokhlearis,

memisahkannya dari skala timpani. Membran basilaris sangat penting karena


mengandung organ Corti, organ indera untuk pendengaran.

Gambar 8. Anatomi telinga

14

Gambar 9. Bagian dalam telinga


2.3.3. Hidung
Hidung berisi 10-100 juta reseptor untuk indera penciuman atau olfaktori, Yang
terkandung dalam sebuah daerah yang disebut epitel olfaktori. Dengan luas total 5
cm2 epitel olfaktori menempati bagian superior dari rongga hidung, menutupi
permukaan inferior cribriform plate dan membentang sepanjang superior nasal
concha. Epitel olfaktori terdiri atas tiga jenis sel yaitu reseptor olfaktori, supporting
cells, dan sel basal.
Reseptor olfaktori adalah neuron pertama-order dari jaras olfaktori hairs. Setiap
reseptor olfaktori adalah neuron bipolar dengan dendrit yang berbentuk seperti knob
yang tebuka dan akson memproyeksikan melalui lempeng cribriform dan berakhir di
bulbus olfaktorius. Bagian dari reseptor olfaktori hairs yang menanggapi bahan kimia
inhalasi adalah olfaktori hairs, silia yang diproyeksikan dari dendrit . Bahan kimia
yang memiliki bau dan karena itu dapat merangsang olfaktori hairs yang disebut
aroma. Reseptor olfaktori menanggapi rangsangan kimia molekul bau dengan
memproduksi potensi Generator, sehingga memulai respon olfaktori.
Supporting cells yang sel epitel kolumnar dari pada membran mukosa yang
melapisi hidung. Sel basal memberikan dukungan fisik, nutrisi, dan isolasi listrik
untuk reseptor olfaktori, dan membantu detoksifikasi bahan kimia yang datang dalam
kontak dengan epitel olfaktori. Sel-sel basal adalah sel induk yang terletak antara
dasar dari sel-sel supporting. Sel basal terus menjalani pembelahan sel untuk
menghasilkan reseptor olfaktori baru, yang hidup hanya satu bulan atau lebih
sebelum digantikan.

15

Di dalam jaringan ikat yang mendukung epitel olfaktori berada kelenjar olfaktori
(Bowman), yang menghasilkan lendir yang dibawa ke permukaan epitel melalui
saluran. Hasil sekresi yang berupa cairan membasahi permukaan epitel olfaktori dan
melarutkan aroma sehingga transduksi yang dapat terjadi. Kedua sel pendukung dari
epitel hidung dan kelenjar olfaktori dipersarafi oleh cabang nervus facialis (VII) ,
yang dapat dirangsang oleh bahan kimia tertentu. Impuls saraf di ini pada gilirannya
merangsang kelenjar lakrimal di mata dan kelenjar lendir hidung. Hasilnya adalah air
mata dan hidung meler setelah menghirup zat-zat seperti merica atau uap amonia
rumah tangga.

Gambar 10. Struktur bagian-bagian hidung


2.3.4. Lidah
A. Anatomi lidah
Lidah adalah badan otot yang sangat lentur. Lidah sangat diperlukan untuk
mengunyah dan menelan makanan, memfasilitasi penghisapan, dan memberikan
kemampuan bicara. Selain itu, lidah sangat peka terhadap sentuhan dan merupakan
organ untuk indera pengecapan.

16

Gambar 11. Bagian-bagian lidah


Di bagian dorsum lidah, sulcus medianus linguae membagi lidah menjadi belahan
kanan dan kiri. Sulcus terminalis lunguae membatasi corpus linguae dari radix
linguae dan memisahkan lidah menjadi pars anterior dan pars posterior. Di ujung
sulcus terminalis linguae, epitel permukaan membentuk suatu cekungan, foramen
caecum linguae. Foramen ini adalah tempat dimana kelenjar tiroid memulai
penurunannya (pangkal ductus thyroglossalis) dari ektoderm di dasar mulut menuju
tujuan akhirnya di depan larynx.
Pangkal lidah (radix linguae) dilapisi oleh tonsilla lingualis, dibatasi secara
bilateral oleh dua arcus palatinus (arcus palatoglossus dan palatopharyngeus), di
posterior oleh epiglottis.
Mukosa pars anterior teraba kasar karena mengandung banyak papila kecil yang
terlihat sebagian secara makroskopis (papillae linguales, filiformes, foliatae,
fungiformes, dan vallatae) yang berperan dalam persepsi sentuh dan menyalurkan
persepsi sensorik cita rasa (pengecap). Berikut merupakan penjelasan mengenai
papila-papila tersebut:
- Papilla filiformis
Terdapat di atas seluruh permukaan lidah, umumnya tersusun dalam
barisan-barisan sejajar dengan sulkus terminalis. Papilla filiformis bentuknya
kurang lebih seperti kerucut, langsing dan tingginya2-3 mm. Bagian tengahnya
terdiri atas jaringan ikat lamina propria. Jaringan ikat ini juga membentuk papil
17

sekunder. Epitel yang meliputi papilla sebagian mengalami pertandukan yang


cukup keras sifatnya.
- Papilla fungiformis
Letaknya tersebar diantara deretan papilla filiformis, dan jumlahnyamakin
banyak ke arah ujung lidah. Bentuknya seperti jamur dengan tangkai pendek, dan
bagian atas yang lebih lebar. Jaringan ikat di tengah-tengah papil membentuk
papil sekunder sedangkan epitel di atasnya tipis sehingga pleksus pembuluh darah
di dalam lamina propria menyebabkannya berwarna merah atau merah muda.
Kuncup kecap terdapat di dalam epitel.
- Papilla sirkumvalata (vallim = dinding)
Pada manusia jumlahnya hanya 10 sampai 14, dan letaknya di sepanjang
sulkus terminalis. Tiap papil menonjol sedikit di atas permukaan dan dibatasi oleh
suatu parit melingkar dengan banyak kuncup kecap pada epitel dinding lateralnya.
Saluran keluar kelenjar serosa (kelenjar Ebner) bermuara pada dasar alur itu.
Kelenjarnya sendiri terletak pada lapisan yang lebih dalam. Secret serosa cair
kelenjar tersebut membersihkan parit dari sisa bahan makanan, sehingga
memungkinkan penerimaan rangsang kecap baru oleh kuncup kecap.
- Papilla foliata
Terletak pada bagian samping dan belakang lidah, berbentuk lipatanlipatan mirip-daun, dengan kuncup kecap di dalam epitel lekukan yang terdapat di
lipatan. Sama seperti pada papilla sirkumvalata, kelenjar-kelenjar serosa bermuara
pada dasar alur.
B. Taste bud dan fungsinya
Taste bud terdiri atas kurang lebih 50 sel-sel epitel yang termodifikasi, beberapa
diantaranya adalah sel penyokong yang disebut sebagai sel sustentakular, dan yang
lainnya disebut sel pengecap. Ujung-ujung luar sel pengecap tersusun sekitar poripori pengecap, dari ujung-ujung setiap sel pengecap, beberapa mikrovili atau rambut
pengecap akan menonjol keluar menuju pori-pori pengecap untuk mendekati rongga
mulut. Anyaman disekitar badan sel-sel pengecap merupakan rangkaian percabangan
terakhir dari serabut-serabut saraf pengecap yang dirangsang oleh sel-sel reseptor
pengecap. Beberapa mengalami invaginasi menjadi lipatan-lipatan membrane sel
pengecap. Beberapa vesikel membentuk membrane sel didekat serabut. Diduga
vesikel ini mengandung neurotransmitter yang dilepaskan melalui membrane sel
untuk merangsang ujung-ujung serabut saraf sebagai respon terhadap rangsangan
kecap.
C. Persarafan lidah
Nervus lingualis, suatu cabang dari Nervus mandibularis (V/3) memberi
persarafan sensorik ke bagian anterior lidah, Rr.linguales dari Nervus
glossopharyngeus (IX) mempersarafi daerah sulcus terminalis linguae, dan Nervus
laryngeus superior, suatu cabang dari Nervus vagus (X) mempersarafi pangkal lidah.

18

Gambar 12. Bagian-bagian persarafan di lidah


D. Otot-otot lidah

Gambar 13. Otot-otot pada lidah


Lidah terdiri dari otot-otot intrinsik, yang membentuk corpus linguae, dan otototot ekstrinsik yang memiliki origo di rangka dan berproyeksi di lidah. Otot-otot
ekstrinsik di lidah mengubah posisi lidah, sedangkan otot-otot intrinsik mengubah
bentuk lidah. Sebagian besar dari otot berinsersi di aponeurosis linguae, suatu
lempeng kuat jaringan ikat di bawah mukosa dorsum lidah.
Origo dan insersi semua otot intrinsik lidah adalah di dalam lidah sendiri.
Terdapat Mm.longitudinalis superior, longitudinalis inferior, transversus linguae, dan
verticalis linguae. Otot-otot ini saling terjalin dan terletak tegak lurus satu sama lain
dalam ketiga dimensi. Kemampuan lidah untuk mengubah bentuknya membantu
dalam mengunyah, menghisap, bernyanyi, berbicara, dan bersiul. M. Genioglossus
adalah anggota dari otot ekstrinsik lidah. Di bagia median, septum linguae memotong
19

lidah menjadi dua belahan. Otot-otot agonistik dan antagonistik meningkatkan


fleksibilitas lidah. Di kedua sisi di ujung lidah terdapat kelenjar mukosa yakni
glandula lingualis.
2.3.5. Kulit

Gambar 14. Bagian-bagian kulit


Kulit adalah sistem organ yang memisahkan, melindungi, dan memberi informasi
manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan merupakan organ yang paling luas, di
mana pada orang dewasa luasnya mencapai lebih dari 19.000cm. secara histologis
kulit di bagi jadi 3 bagian dari dalam ke luar ada hipodermis, dermis dan epidermis.
Hipodermis :Terdiri dari jaringan ikat longgar dengan serabut kolagen dan
elastin.Tipe sel: fibroblast, sel lemak, dan makrofag.
Dermis :Ketebalan berkisar antara 0,5 3 mm atau lebih . Terdiri atas dua lapisan
jaringan ikat yang terususun tidak teratur : (1) lapisan papilar pada permukaan dan
(2) lapisan retikular di bawahnya. Lapisan Papilar : terdiri atas serat kolagen halus,
elastin, dan retikulin yang terususn dalam jejaring luas, pada beberapa papil
mengandung ujung saraf khusus, dan yang lainnya mempunyai pembuluh darah
kapiler (papil vaskular).
Lapisan retikular : merupakan bagian utama dermis yang berserat ,terdiri atas
jalinan serat-serat kolagen kasar, padat, dan memiliki sedikit serat retikulin dan
banyak serat elastin, jalannya serat atau jalur serat sejajar dengan permukaan kulit ,
membentuk garis ketegangan kulit (garis-garis Langer). Bahan dasar dermis
merupakan matriks amorf yang membenam serat kolagen dan elastin, juga turunan
kulit. Glikosaminoglikan utama kulit adalah asam hyaluronat, dermatan sulfat, dan
sangat hidrofilik membentuk gel. Sel utama dermis adalah fibroblas dan makrofag;
20

sel lemak yang berkelompok; dan sel jaringan ikat yang bercabang dan berpigmen
kromatofor (banyak terdapat pada lingkungan yang epidermisnya mengandung
pigmen (areola puting susu dan lengkung di sekitar anus). Pada umumnya, lapis
papilar mengandung lebih banyak sel dan serat-seratnya lebih sedikit dan halus
dibandingkan serat lapis retikular.
Epidermis adalah sebuah lapisan yang letaknya superficial dan non vascular yang
mengandung epitel berlapis gepeng dan berasal dari ectoderm. Terdiri atas 4 jenis
sel : (1) Keratinosit ialah sel epitel yang akan berkembang untuk membentuk keratin.
Perkembangan keratinosit : proliferasi dan diferensiasi sel, pergeseran ke permukaan
kulit, kematian dan pengelupasan sel.(2) Melanosit adalah sel tersebar di antara
keratinosit. Sel ini akan membentuk pigmen melanin, memberi warna gelap pada
kulit. (3) Sel Langerhans berbentuk bintang dengan banyak cabang mirip dendrite,
merupakan imunosurvilance pada kulit. (4) Sel Merkel Terdapat di lapisan
germinativum. Inti irregular, sitoplasma banyak granula kecil dan padat, terletak di
keratinosit di sekitarnya. Fungsinya sebagai reseptor mekanis.
Epidermis terdiri atas 5 lapis :
1 Stratum germinativum : Terdiri dari selapis sel kubis / silindris, memiliki tonjolan
sitoplasma yang menambat epidermis pada dermis di bawahnya. membran plasma
membentuk hemidesmosom yang mengikat sel satu sama lain, mengandung sel2

sel mengandung berkas filament yaitu tonofibril untuk bermitosis


Stratum spinosum : terdiri atas sel polygonal tak teratur yang terpisah dan
semakin menggepeng ke arah atas , sitoplasma selnya memiliki kandungan RNA
cukup banyak untuk sintesis protein dan pembelahan , sitoplasma mengandung

tonofibril untuk mempetahankan kohesi antar sel dan tahan pengaruh abrasi
Stratum granulosum: tersusu atas 3-5 lapis sel gepeng, sitoplasmanya
mengandung granula keratohialin untuk sawar pencegah masuknya benda asing

terutama air.
Stratum lusidum (hanya ada di kulit tebal ) : lapisan bening terang terdiri atas 3-5

lapis sel, sitoplasmanya mengandung bahan cair yaitu keratohialin


Stratum korneum : terdiri dari sel-sel jernih, mati seperti sisik yang semakin
menggepeng dan menyatu

21

Gambar 15. Lapisan-lapisan epidermis pada kulit


2.4.
Jaras Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan
2.4.1. Penglihatan

Gambar 16. Jaras penglihatan utama dari mata ke korteks penglihatan


Sinyal saraf penglihatan meninggalkan retina melalui nervus optikus
Di kiasma optikum, serat nervus optikus dari bagian nasal retina menyeberangi
garis tengah, tempat serat nervus optikus bergabung dengan serat-serat yang
berasal dari bagian temporal retina mata yang lain sehingga terbentuk traktus

optikus.
Serat dari traktus optikus bersinaps di nukleus genikulatum lateralis dorsalis pada

talamus
Kemudian serat-serat genikulokalkarina berjalan melalui radiasio optikus (traktus
genikulokalkarina) ke korteks penglihatan primer di fisura kalkarina lobus

22

oksipitalis
Serat penglihatan juga melalui beberapa daerah di otak :

a. Dari traktus optikus menuju nukleus suprakiasmatik di hipotalamus, untuk


pengaturan irama sirkadian yang menyinkronisasikan berbagai fisiologi tubuh
dengan siang dan malam
b. Ke nuklei pretektalis di otak tengah, untuk mendatangkan gerakan refleks
mata agar dapat difokuskan ke arah objek yang penting. Selain itu juga untuk
mengaktifkan refleks pupil terhadap cahaya
c. Ke kolikulus superior, untuk mengatur pergerakan arah kedua mata yang cepat
d. Menuju nukleus genikulatum lateralis ventralis pada talamus dan daerah basal
otak sekitarnya, untuk membantu mengendalikan beberapa fungsi sikap tubuh.
2.4.2. Pendengaran
Peristiwa berikut yang terlibat dalam pendengaran:
1Daun telinga mengarahkan gelombang suara ke dalam saluran pendengaran
eksternal.
2Ketika gelombang suara mengenai membran timpani, tekanan udara yang tinggi atau
rendah menyebabkan membran timpani bergetar. Seberapa besar dan kecil getaran
yang dihasilkan, tergantung pada intensitas dan frekuensi gelombang suara yang
diterima. Gendang telinga akan bergetar perlahan dalam menanggapi frekuensi
suara rendah (bernada rendah) dan bergetar cepat dalam menanggapi frekuensi
suara tinggi (bernada tinggi).
3Daerah pusat gendang telinga terhubung ke maleus, yang juga mulai bergetar.
Getaran ditransmisikan dari maleus ke inkus dan kemudian ke stapes
4Saat getaran tiba di stapes, geetaran tersebut akan bergerak bolak-balik, yang
kemudian akan mendorong membran dari oval window masuk dan keluar. Oval
window ini bergetar sekitar 20 kali lebih keras dari gendang telinga dikarenakan
ossicles sangat efisien dalam mengirimkan getaran kecil yang tersebar di area
permukaan gendang telinga, menjadi getaran lebih besar dari permukaan oval
window.
5Pergerakan dari oval window akan menyebabkan gelombang tekanan pada cairan di
perilymph dari koklea. Ketika oval window membentuk tonjolan akibat getaran
tadi, itu akan mendorong perylimph dari scala vestibule.
6Gelombang tekanan yang ditransmisikan dari scala vestibule ke scala tympani dan
akhirnya ke round window, menyebabkan round window menonjol keluar ke
telinga tengah.

23

7Saat gelombang tekanan mengubah bentuk dari dinding scala vestibule dan scala
tympani, mereka juga mendorong membran vestibular bergerak bolak-balik,
menciptakan gelombang tekanan di endolymph dalam saluran koklea.
8Gelombang tekanan di endolymph menyebabkan membran basilar bergetar, yang
mengakibatkan pergerakan sel-sel rambut organ spiral terhadap membran tectorial.
Hal ini menyebabkan bengkoknya stereosilia dari sel rambut, yang menghasilkan
potensi reseptor yang pada akhirnya mengarah pada generasi impuls saraf.
2.4.3. Penciuman
Impuls ofactori mula-mula timbul di dalam epithelium olfactori yang
melapisi suatu daerah yang amat terbatas pada bagian atap cavum nasi. Di dalam
epithelium ollfactori, sel-sel reseptor yang sesungguhnya merupakan sel-sel olfactori
yang merupakan sel-sel biolar, dengan dnrit yang amat pendek berbentuk batang
menuju kepermukaan serta ujungnya mengandung cilia yang halus, dan axon yang
kerluar dari permukaan sebelah dalam tubuh sel tidak berselubung myelin. Axonaxon ini berkumpul membentuk sejumlah berkas kecil, filia olfactoria yang berjalan
ke arah cranial melalui foraminae pada lamina cribrosa ossis ethmoidalis dan
demikian mencapai cavitas cranii dan berakhir dalam hubungan synaptik dengan
dendrit sel-sel mitral di dalam bulbus olfactius.
Sejumlah axon dari sel-sel olfactorius mengadakan hubungan sinaps
dengan dendrit-dendrit satu sel mitral. Hubungan sinaps ini dikenal sebagai
glomerulus. Axon-axon dari sel-sel mitral membelok ke arah posterior membentuk
suatu berkas yang disebut traktus olfactorius.
Kearah posterios traktus olfactorius pada akhirnya mengalami trifurcatio
menjadi:
1 Stria olfactoria lateralis (paling besar dan penting), yang akan mencapai dan
berakhir pada bagian anterior uncus. Uncus merupakan cortex area olfactorik
2

primer utama
Stria olfactoria medialis, mencapai permukaan medial hemisperium cerebri dan
berakhir di dalam cortex cerebri langsung di sebelah anterior lamina terminalis

pada area broadmann 25.


Stria olfactora intermedia, yang berakhir cortex di daerah substansia perforata
anterior.
Daerah-daerah cortex tersebut merupakan pusat-pusat olfactori primer

yang berfungsi untuk persepsi olfactori. Daerah-daerah cortex seperti area


24

bradmann 28 dan 33, merupakan pusat olfactori yang lebih tinggi untuk gnosia
olfactori pengenalan bau.

Gambar 17. Jaras pada bulbus olfaktorius


2.4.4. Pengecapan
Sel pengecap mempunyai mikrovili yang berperan sebagai reseptor.
Impuls pengecap dari dua pertiga anterior lidah disalurkan ke N.lingualis kemudian
berlanjut ke Chorda tympani. Impuls ini dilanjutkan oleh cabang-cabang N.facialis
(VII) dan melanjutkan ke tractus solitarius di batang otak. Neuron tingkat dua ini
melanjutkan sinyal ke 2 tujuan, yaitu (1) menuju nukleus di hipothalamus dan
amygdala yang mengaktifkan reflek autonomik, seperti mengeluarkan saliva,
tersedak, dan muntah, (2) menuju ke thalamus, yang melanjutkan sinyal menuju
insula dan gyrus postcentralis serebrum, di mana kita dapat mempersepsikan impuls
rasa tersebut.
Sensasi kecap oleh sepertiga posterior lidah (papilla sirkumvalata,
tenggorok, pharynx dan dasar lidah) diproyeksikan ke bagian bawah tractus solitarius
di batang otak oleh serabut-serabut sensorik N.glossopharyngeus (IX) dan N.vagus
(X).
Semua daerah di dua pertiga anterior lidah mampu mendeteksi kelima
kualitas rasa dasar, meskipun dengan intensitas yang berbeda-beda. Sebagai contoh,
persepsi manis lebih intens di ujung lidah, sedangkan pangkal lidah posterior
mengandung reseptor-reseptor yang terutama peka terhadap rasa pahit. Berikut
merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai lima kualitas rasa dasar :

25

Rasa asam, disebabkan oleh rasa asam, yakni karena konsentrasi ion hydrogen,
dan intensitas sensasi asam hampisebanding dengan logaritma konsentrasi ion

hydrogen.
Rasa asin, dihasilkan oleh garam yang terionisasi, terutama karena konsentrasi

ion natrium.
Rasa manis, rasa manis tidak dibentuk oleh satu golongan zat kimia saja.
Beberapa tipe zat kimia yang menyebabkan rasa ini mencakup gula, glikol,
alcohol, aldehid, keton, amida, ester, beberapa asam amino dll. Yang

membentuk rasa manis kebanyakan adalah zat kimia organik.


Rasa pahit, rasa pahit seperti rasa manis tidak dibentuk hanya oleh satu tipe
agen kimia. Hampir seluruhnya merupakan substansi organic. Dua substansi
yang cenderung menimbulkan rasa pahit adalah substansi organic rantai
panjang yang mengandung nitrogen dan alkaloid. Beberapa substansi yang
mula-mula terasa manis juga dapat berubah menjadi pahit, ini berlaku untuk

sakarin.
Rasa umami, kata dalam bahasa jepang (lezat) yang menyatakan rasa kecap
yang menyenangkan, yang secara kualitatif berbeda dengan rasa asam, manis,
asin dan pahit.

Gambar 18. Jaras pada pengecapan


2.4.5. Perabaan
26

Traktus Ascenden Mayor Indera Peraba dibagi menjadi 3 :


1. Traktus Goll/ Fasciculus Gracile
Lokasi di columna dorsalis melakukan persilangan di medula oblongata
fungsinya Menyalurkan impuls sensorik berupa posisi dan perpindahan dari
ekstremitas dan tubuh, raba kasar, nyeri visceral, getaran, dan menjadi reseptor
impuls bagi impuls yang berasal di bawah chorda spinalis thorakal 6.
2. Traktus Burdach/ Fasciculus Cuneatus
Lokasi di kolumna dorsalis melakukan persilangan di medula oblongata
fungsinya Menyalurkan impuls sensorik berupa posisi dan perpindahan dari
ekstremitas dan tubuh, raba kasar, nyeri visceral, getaran, dan menjadi reseptor
impuls bagi impuls yang berasal di atas chorda spinalis thorakal 6.
3. Traktus Spinothalamikus
Lokasinya di kolumna ventral dan lateral melakukan persilangan di chorda
spinalis fungsinya Menyalurkan Impuls berupa raba halus, geli, gatal, suhu,
nyeri, dan tekanan dan meneruskannya menuju thalamus.
Jaras Sensorik Kolumna Posterior-Lemniscus Dorsalis
Secara umum, terdapat 3 tingkatan neuron yang bekerja pada jaras sensorik kolumna
posterior-lemniscus dorsalis, yaitu: Neuron Tingkat 1: menyalurkan impuls dari reseptor
melewati fasciculus gracile/ cuneatus di medulla spinalis dan berjalan ipsilateral menuju
nukleus gracile/ cuneatus di medulla oblongata.n Neuron Tingkat 2: menyalurkan impuls
dari nukleus gracile/ cuneatus di medulla oblongata dan berjalan kontralateral
membentuk decussatio (persilangan). Kemudian, jaras ini melewati lemniscus medialis di
otak tengah dan berjalan terus menuju thalamus. Neuron Tingkat 3: menyalurkan impuls
dari thalamus menuju korteks serebri.

27

Gambar 19. Jaras Sensorik Kolumna Posterior-Lemniscus Medialis


Jaras Sensorik Anterolateral
Secara umum, terdapat 3 tingkatan neuron yang bekerja pada jaras sensorik
anterolateral, yaitu: Neuron Tingkat 1: menyalurkan impuls dari reseptor hingga ke bagian
dorsal chorda spinalis di dekat tempat masuk traktus. Neuron Tingkat 2: menyalurkan
impuls dari bagian dorsalis chorda spinalis dan berjalan kontralateral membentuk
decussatio (persilangan). Kemudian, jaras ini berjalan hingga ke thalamus.Neuron Tingkat
3: menyalurkan impuls dari thalamus menuju korteks serebri.

Gambar 20. Jaras Sensorik Anterolateral

28

2.5.

Sistem Limbik
Sistem limbik merupakan keseluruhan neuronal yang mengatur tingkah laku
emosional dan dorongan motivasional. Bagian utama dari system limbik adalah
hipotalamus. Area ini mengatur perilaku, mengatur banyak kondisi internal dari tubuh
seperti suhu tubuh, osmolalitas cairan tubuh, dan dorongan untuk makan dan minum serta
mengatur berat badan. Di sekeliling hipotalamus terdapat struktur subkortikal dari sistem
limbik yang mengelilinginya, meliputi septum pellucidum, area paraolfaktoria, epitalamus,
nuclei anterior talamus, bagian ganglia basalis, hipokampus, dan amigdala.

Gambar 21. Pembagian area sistem limbik


2.5.1. Hipothalamus
Hipothalamus meskipun mempunyai ukuran sangat kecil hanya beberapa
sentimeter kubik, mempunyai jaras komunikasi dua arah yang berhubungan dengan
semua tingkat system limbik. Sebaliknya, hipotalamus dan struktur-struktur yang
berkaitan dengannya mengirimkan sinyal-sinyal keluaran dalam tiga arah, yaitu :
1 Kebelakang dan kebawah menuju batang otak terutama ke area reticular
mesensefalon, pons dan medulla, dan dari area tersebut ke saraf perifer system
2

saraf otonom.
Keatas menuju sebagian besar area yang lebih tinggi didiensefalon dan
serebrum, khususnya bagian anterior thalamus dan bagian limbic korteks

serebri.
Ke infundibulum hipotalamus untuk mengatur sebagian dari fungsi sekretorik
pada bagian posterior dan anterior kelenjar hipofisis.

29

Gambar 22. Sistem limbik, memperlihatkan posisi kunci hipotalamus


2.5.2. Fungsi Perilaku oleh Hipotalamus
Perangsangan pada bagian Hipothalamus Lateral
Menimbulkan rasa haus, lapar dan marah.
Perangsangan pada bagian Nukleus Ventromedial
Menimbulkan rasa kenyak dan tenang.
Perangsangan pada bagian Nukleus Paraventrikular
Menimbulkan rasa takut dan terhukum.
Perangsangan pada bagian Bagian anterior dan posterior
Menimbulkan dorongan seksual.
Pusat Ganjaran :
Terletak di nuklei lateral dan ventromedial hipotalamus. Selain itu
bagian sistem limbik lainnya juga berperan yaitu bagian septum
pellucidum, amigdala, serta area tertentu dalam talamus dan ganglia
basalis, tegmentun basal dari mesensefal, tapi bersifat kurang peka.
Memberikan rasa senang dan keinginan untuk terus melakukan sesuatu
hal.
Pusat Hukuman :
Terletak di area kelabu sentral di sekeliling akuaduktus sylvius dalam
mesensefalon, menyebar ke atas zona periventrikular hipotalamus dan
talamus.
Amigdala dan hipokampus juga berperan dalam rasa terhukum ini tapi
sifatnya kurang kuat. Rasa marah juga timbul dari rangsangan di zona
periventrikular dan lateral hipotalamus, tapi dapat ditekan oleh sinyal
inhibisi dan nuklei ventromedial, hipokampus, serta korteks limbik

30

anterior yaitu girus cingulata dan girus subkalosal. Rasa terhukum dan
takut dapat mendahului rasa senang dan rasa ganjaran.
2.5.3. Hipokampus
Hipokampus merupakan bagian dari medial korteks temporalis yang
memanjang, melipat ke atas dan ke dalam untuk membentuk permukaan ventral
dari radiks inferior ventrikel lateralis. Salah satu ujung hipokampus berbatasan
dengan nuclei amigdaloid serta pada salah satu tepinya juga bersatu dengan girus
parahipokampal.
Hipokampus beserta struktur lobus temporalis yang berdeatan dengannya
disebut formasio hipokampal. Hipokampus merupakan saluran tambahan yang
dilewati oleh sinyal sensorik yang masuk, yang dapat menimbulkan reaksi perilaku
yang sesuai tetapi dengan tujuan berbeda.
Hipokampus pada mulanya merupakan bagian dari korteks olfaktorius.
Perangsangan pada berbagai area dalam hipokampus dapat menyebabkan rasa
marah, ketidakpedulian, dorongan seks yang berlebihan. Hipokamus juga memiliki
peranan dalam pembelajaran. Jika hipokampus mengatakan bahwa sinyal neuronal
tertentu bersifat penting, maka sepertinya disimpan menjadi ingatan. Hipokampus
juga diduga menyebabkan timbulnya dorongan untuk mengubah ingatan jangka
pendek menjadi jangka panjang, karena hipokampus berperan dalam konsolidasi
ingatan jangka panjang.
2.5.4. Amigdala
Amigdala merupakan kompleks nuclei yang terletak di bawah korteks dari
tiang medial anterior setiap lobus temporalis. Amigdala mempunyai banyak sekali
hubungan dua jalur dengan hipotalamus.
Salah satu bagian utama dari traktus olfaktorius berakhir di bagian amigdala
yang disebut nuclei kortikomedial terletak tepat di bawah korteks di dalam area
piriformis olfaktorius lobus temporalis. Ada juga nuclei basolateral yang penting
dalam hubungannya dengan perilaku. Amigdala menerima sinyal neuronal dari
semua bagian korteks .imbik seperti juga neokorteks lobus temporalis, parietal, dan
oksipital, terutama dari area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual. Amigdala
menjalarkan sinyalnya kembali ke area kortikal yang sama, ke hipokampus, ke
septum, ke talamus, dan khususnya ke hipotalamus.
Efek perangsangan amigdala yang dijalarkan melalui hipotalamus :
1 Peningkatan atau penurunan tekanan arteri.
31

2
3
4
5
6
7

Peningkatan atau penurunan frekuensi denyut jantung.


Peningkatan atau penurunan motiltas dan sekresi gastrointestinal.
Defekasi dan mikturisi.
Dilatasi pupil atau kadangkala konstriksi.
Piloereksi.
Sekresi berbagai hormon hipofisis anterior, terutama hormon gonadotropin dan

adrenokrtikotropik.
Perangsangan lain oleh amigdala :
a Berbagai pergerakan involunter (tonik, klonik atau ritmik, penciuman dan
makan).
b Sering kali menimbulkan pola marah, melarikan diri, rasa terhukum, dan rasa
c

takut.
Menimbulkan aktivitas seksual seperti ereksi, pergerakan persetubuhan,

ejakulasi, ovulasi, aktivitas uterus, dan persalinan prematur.


d Membantu menentukan pola respon perilaku seseorang

sehingga

menyesuaikan diri dengan setiap keadaan.


2.5.5. Korteks Limbik
Korteks limbik mengelilingi struktur subkortikal limbik. Korteks ini
berfungsi sebagai area asosiasi serebral untuk mengatur perilaku, berfungsi sebagai
zona transisional yang dilewati oleh sinyal-sinyal yang dijalarkan dari sisa korteks
ke dalam sistem limbik dan juga ke arah yang berlawanan. Yang diantaranya ada
gyrus orbitofrontalis, gyrus subcallosal, gyrus singullata, gyrus parahipokampal dan
ulcus. Ablasi korteks temporalis anterior menyebabkan sindrom kluver-bucy. Ablasi
korteks frontal orbital posterior menyebabkan insomnia, gelisah. Ablasi girus
singulata anterior dan girus subkalosal menyebabkan pusat marah di septum dan
hipotalamus terlepas dari pengaruh hambatan setiap prefrontal.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Pada manusia terdapat 5 indera yakni penglihatan, pendengaran, Penciuman, Pengecapan,
dan Perabaan. Yang masing-masing memiliki struktur baik secara anatomi maupun
histologi, dan fungsi yang berbeda-beda. Dan juga masing-masing memiliki jaras-jaras
sendiri dalam melakukan prosesnya.

32

Selain itu, sistem limbik dimana salah satunya berfungsi untuk mengatur emosional kita.
Organ utamanya adalah hipotalamus. Dan juga

beberapa organ lainnya seperti

hipokampus, amigdala, dan korteks limbik.

DAFTAR PUSTAKA
Guyton & Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta: EGC.
Saladin, K. S., 2003. Anatomy and Physiology (The Unity of Form and Function) 3rd Edition. San
Fransisco: Mc Graw-Hill Education.
Sherwood, Lauralee. (2001). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. EGC : Jakarta.

33

Sobotta. 2011. Atlas of Human Anatomy. Fifteenth Edition. Urban & Fischer.
Sukardi, E. 1984. Neuroanatomia Medica. Jakarta: Universitas Indonesia.
Tortora, G.J. dan Derrickson, B.H. 2009. Principles of Anatomy and Physiology. Twelfth Edition.
Asia: Wiley.

34