Anda di halaman 1dari 4

Pagi Bening

Wednesday, September 12, 2007

Penulis:Isbedy Stiawan ZS

MINGGU tersenyum. Pagi yang bening. Langit menebarkan jubah putih. Seperti gigi-gigi macan yang mati
tertumbak. Angin lelap. Debu melesap. Terik. Jemuran sekejap kering. Bau asap menyergap.

Kau termangu di depan layar kotak kecil itu. Ah, apa yang kausaksikan dari dunia-kecil dan kedil itu?
Tangan-tangan memanjang. Merengkuh dua atau tiga benua. Disatukan ke dalam pelukan. Muntah. Mesiu
menebar. O, ada tangis. Luka. Anak-anak menatap masalalu-masadepan. Kosong. Di pecahan tembok.
Mengintip moncong senapan. Menguping deru tank. Mengangguk-angguk: satu lagi, seratus lagi.
Korban

jatuh

Penjagal. Algojo bertangan mulus. Putih. Hidung mancung. Tanpan. Tangannya menjangkau. Menjabat
seluruh dunia. Menabur pundi-pundi uang. Dermawan kau Ah, tidak. Kau pemangsa. Nyawa melayang.
Melesat

bagai

meteor.

Tubuh-tubuh

kemudian

jadi

kaku.

Sudah berapa kematian di sini? Aroma ganja menebar. Asap mengepul, kita hirup bersama-sama. Aku, kau,
kalian, mereka, dan kita semua mabuk. Ply plyBawa kemari rencong-rencong itu. Akan kukibarkan
sebagai

bendera.

Akan

kutancapkan

ke

perut-perut

para

serdadu.

Ah, tidak. Rencong akan selalu kalah cepat dengan senapan. Merekapara serdadu itutak berbilang
jumlahnya. Sedangkan kami? Berapalah orang, berapalah kampung? Sekali dibombardir, habislah kami.
Tetapi,

kenapa

kami

tak

pernah

habis-habis?

Tuhan selalu bersama kami. Melindungi anak-anak kami, perempuan-perempuan kami, nyawa kami,
kampung kami, tanah-kelahiran kami. Ganja-ganja kami, kebun-kebun kami. Rencong kami selalu bergairah
untuk

melawan!

Dusta! Manalah mungkin kalian bisa melawan. Lihatlah para serdadu, tak berbilang jumlahnya, seia dan
setia setiap saat untuk memuntahkan peluru-pelurunya. Cuma belum waktunya kalian dihabisi. Masih perlu
strategi, mengulur-ulur waktu, sampai kalian terlelap dalam kegembiraan. Setelah itu habislah seluruh
kalian,

tak

bersisa.

Juga

cinta

kalian

pada

tanah

dan

air

kelahiran

ini.

Bukankah hidup hanya menunda kematian1? Lebih tak berharga jika menyelesaikan hidup ini dengan
sia-sia, tiada berharga. Maka itu, kami mesti berjuang untuk mempertahankan tanah kelahiran ini. Betapa
pun kami mesti berkalang tanah. Sudah habis kesabaran kami ketika kalian datang kemari lalu membawa

seluruh kekayaan kami. Yang tinggal di sini untuk kami cuma ampas, taik minyak, ladang-ladang yang
kerontang

Adakah itu keadilan? Kami yang telah berabad-abad menjaga, menyuburkan, dan menyulingnya. Tetapi,
hasilnya

kalian

bawa.

Kalian

yang

bergelimang

harta,

kami

yang

berkalang

luka.

Ke mana dan kepada siapa kami mengadu? Sedang angin tak pernah mengirim kabar nestapa kami. Ke
mana dan kepada siapa kami harus melabuhkan duka? Sedang pelabuhan tak membukakan pintunya? Ke
mana

dan

kepada

siapa

kami

akan

menurunkan

sauh?

Sedang

pantai

tiada

lagi.

Ya!
Siapa

yang

di

pecahkan

vas

pekarangan

Padahal

angin

bunga

rumah
tidak

menggerakkan

kita
daun-daunnya2

*
MINGGU tersenyum. Pagi yang bening. Langit menebarkan jubah putih. Seperti gigi-gigi macan yang mati
tertumbak. Angin lelap. Debu melesap. Terik. Jemuran sekejap kering. Bau asap menyergap.

Kami bayangkan, minggu-minggu di sini akan selalu tersenyum. Tertawa bagi kebahagiaan kami, bagi
kedamaian kami, bagi kemerdekaan kami. Tetapi, yang terjadi, ketakutan demi ketakutan menerpa kami.
Mau seperti selalu mengintip sela kami. Selangkangan kami tak henti basah. Airmata kami tak habis-habis
mengalir.

Suara dentuman itu. Suara peringatan itu. Suara ancaman itu. O! Telah membuat kami semakin ketakutan.
Oh, tidak! Kami tak pernah takut, bahkan kepada singa yang buas sekali pun. Ketakutan kami hanya
kepada

Tuhan,

Aku
Derap

pada

amarah

agama

bayangkan

kami,

jika

kami

mengabaikan

tak

sepatu

juga

anjuran

jihad-Nya.

lagi

kudengar

aum

serdadu3

Tetapi, mungkinkah itu? Para serdadu itu kini sudah membanjiri kota-kota kami, kampung-kampung kami,
dusun-dusun kami, rumah-rumah penduduk kami. Mereka tak saja mengancam, menembaki, juga
menggagahi

perempuan-perempuan

kami.

Alangkah nistanya jika kami membiarkan kebiadaban itu. Alangkah terkutuknya sepanjang masa jika kami
tak melawan. Maka kami angkat senjata pula. Kami acung-acungkan rencong-rencong kami dan
menusukkan

ke

perut

mereka.

Perlawanan tak seimbang memang. Tetapi, apakah kami rela teraniaya selamanya? Mana yang lebih
berharga

menjadi

orang

terjajah

sepanjang

masa

atau

mati

dalam

arena

perlawanan?

Hidup hanya sekali. Darah akan tetap berwarna merah meski kami kalah. Maka berjihad menjadi ukuran
perlawanan orang-orang teraniaya seperti kami. Apa kami akan selalu disetir, dikomandoi, diintimidasi oleh
satu

kekuatan

yang

zalim?

Teringat kami pada perjuangan sang Muhammad. Ia begitu gigih, tak pernah mati strategi dan semangat
menegakkan perdamaian. Apa kami harus lupa pada ghirah suci seperti itu? Tak. Tiada akan pernah.

Ini tanah air kami. Ini kampung kelahiran kami. Tiada yang bisa mengusir kami dari tanah tumpah darah
kelahiran kami. Sungai itu telah menampung air tuba kami. Tanah ini yang telah menanam ari-ari kami.
Ranjang ini yang membiarkan basah oleh darah kelahiran kami. Ibu kami yang bersakit-sakit menjaga
kelahiran

kami.

Wahai saudara kami. Kita bersaudara. Maka turunkan senjatamu. Kunci pelatuk senapanmu. Beningkan
airmuka amarahmu. Mari kita berpelukan. Tetapi, biarkan kami menjaga tanah kelahiran kami. Pulanglah
saudaraku ke tanah kelahiranmu, ke barak-barakmu, yakinlah kami bisa mengolah segala yang ada di
kampung

kami.

Bukankah kau tahu, bumi ini diciptakan bukan untuk menampung pertumpahan darah? Kita ada karena
kita dipercaya sebagai khalifah bagi perdamaian semesta, rahmat bagi dunia dan akhirat? katamu satu
malam.

Kami akan bakar pohon-pohon ganja. Kami tanam bom-bom kami di ladang-ladang tak bertuan. Tak akan ia
meledakkan kota-kota yang riuh. Hotel-hotel yang gemuruh. Tiada. Sebab jangan kaumengira kami yang
meledakkan bom di keramaian itu, di candi-candi itu, di tempat-tempat hiburan itu. Bukan. Kami punya adab
yang

mesti

kami

jaga

sebagai

kehormatan.

Tetapi, selalu saja dan selalu saja, wajah-wajah kami yang tertera di media-media pemberitaan. Dalam
sketsa-sketsa:

rekayasa

orang-orang

yang

membenci

kami.

Dusta apa ini yang tengah kalian sebarkan untuk kami? Fitnah apa yang tengah kalian rancang untuk
mengubur karakter kami? Dan, memang, sebagaimana diingatkan Tuhan kami bahwa kalian tak akan
pernah bosan sampai kami mengikuti milah kalian. Demikianlah, kalian coba berbagai cara untuk
menghancurkan

kami.

Kemudian

kami

kalah,

kami

mengikuti

kehendak

kalian.

Tetapi Cahaya kami tak akan pernah redup. Bulan-bintang akan selalu menebarkan sinar-Nya setiap
malam. Matahari akan selalu terbit dari dalam jiwa kami, dan akan tenggelam di batin kalian.

Maka, inilah perjuangan kami. Perlawanan kami. Pengorbanan kami. Jihad kami. Betapa pun di antara kami
mesti ada yang syahid sebagai syuhada. Sebab, kami yakin, seribu kami akan terus berlahiran.

Memenuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah dan langit ini.

Memenuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah dan langit ini.

Memenuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah dan langit ini.

Seperti Muhammad yang menyatukan Timur-Barat-Selatan-Utara. Dari tanah Arab hingga ke Eropa dan
Amerika:

semesta.

JUMAT tersenyum. Padang yang terbentang. Kami tafakurkan jiwa kami, kami zikirkan seluruh hidup-mati
kami. Dari sini kami harus memulai menegakkan kembali tiang-tiang keyakinan kami yang nyaris porak oleh
dusta

Selamat

dan

berjuang,

Selamat berjihad, katamu yang lain tak kalah ghirah-nya

fitnah

katamu

kalian.

bersemangat.