Anda di halaman 1dari 3

C.

Pendidik sebagai Agen Pembelajaran


1. Hakekat Pendidik Profesional
Banyak orang beranggapan bahwa pendidik yang bak adaah yang memiliki rasa
humor yang tinggi, berkepribadian hangat dan peduli kepada peserta didik. Sebagian lain
beranggapan bahwa pendidik yang baik yaitu pendidik yang bekerja keras dan memiliki
disiplin tinggi. Sebagian lainnya ada juga yang berpandangan bahwa pendidik yang baik
yaitu pendidik yang sua belajar dan memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif. Pada
dasarnya pandangan tersebut tidak salah, namun tidak juga seluruhnya benar. Karena
pendidik yang baik harus memiliki persyaratan akademik dan kompetensi tertentu.
Pendidik merupakan jabatan profesional dan memberikan layanan ahli dan menuntut
persyaratan kemampuan yang secara akademik dan pendagogismaupun secara profesional
dapat diterima oleh pihak dimana pendidik bertugas, baik penerima jasa layanan secara
langsung maupun pihak lain siapa pendidik bertanggung jawab.
Pendidik sebagai penyandang jabatan profesional harus disiapkan melalui program
pendidikan yang relatif panjang dan dirancang berdasarkan standar kompetensi pendidik.
Oleh karena itu diperlukan waktu dan keahlian untuk membekali para lulusannya dengan
kompetensi, yaitu penguasaan bidang studi, landasan keilmuan dari kegiatan mendidik,
maupun strategi menerapkannya secara profesional di lapangan.
Sebagai pendidik profesional, penguasaan bidang studi bersifat terisolasi. Dalam
melaksanakan tugasnya penguasaan bidang studi terintegrasi dengan kemampuan memahami
peserta didik, merancang pembelajaran, melaksanakan proses dan hasil pembelajaran.
Sebagai seorang profesional, pendidik harus mengenal siapa dirinya, kekuatan, kelemahan,
kewajiban dan arah pengembangan dirinya, dunia yang selalu berubah menyebabkan tuntutan
yang dinamis pula terhadap kecakapan pendidik. Karenanya pendidik harus pandai memilih
strategi yang efektif untuk mengembangkan diri secara terus menerus.
Kepribadian pendidik merupakan hasil pembentukan pengalaman belajar yang bukan
hanya terjadi dalam proses pembelajaran secara langsung, tetapi terintegrasi dalam dampak
ikutaan (nurturant effect) kegiatan pembelajaran dan pengalaman-pengalaman panjang
sebelumnya. Kemampuan pendidik dengan berinteraksi dengan peserta didik adalah suatu
proses transaksional yang sangat khas dan non rutin. Hal ini berbeda dengan interaksi
pendidik dengan sejawat, orang tua dan masyarakat sekitar bersifat kontekstual. Sifat dan
kualitas interaksi antara pendidik dengan peserta didik menuntut kecakapan memilih strategi
yang relevan karena sifat interaksi berkembang secara dinamis. Sementara karakteristik
subjek dengan siapa ia berkomunikasi berbeda dengan satu dengan lainnya baik karena faktor
budaya, usia dan kedudukannya. Dengan demikian pendidik yang bermutu memungkinkan
lulusannya:
1. Menunjukkan seperangkat kompetensi sesuai dengan standar yang berlaku.
2. Mampu bekerja dengan menerapkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi dalam
memberikan layanan seorang ahli.

3. Mematuhi kode etik profesi pendidik yang memintanya bertindak sesuai norma
kepatutan.
4. Bekerja dengan penuh dedikasi.
5. Membuat keputusan secara mandiri maupun secara bersama.
6. Menunjukkan akuntabilitas kinerjanya kepada pihak-pihak terkait.
7. Bekerja sama dengan sejawat dan pihak lain yang relevan.
8. Secara berkesinambungan mengembangkan diri baik secara mandiri maupun melalui
asosiasi profesi.

Agar calon pendidik mampu melakukan hal-hal tersebut, diperlukan bukan saja
persiapan yang bersift akademik, namun juga pengalaman intensif dalam menerapkan
prinsip-prinsip akademik tersebut dalam situasi nyata di sekolah.

2. Kompetensi Pendidik
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional dan UndangUndang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa pendidik wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani,
serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi
akademik tersebut diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program
diplomat empat.
a. Kompetensi Pendagogik
Kompetensi pendagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik
yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pendagogik tersebut selanjutnya dijabarkan secara rinci dalam bentuk
kompetensi inti sebagai berikut :
1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,
emosional, dan intelektual.
2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3) Menguasai kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
4) Terampil melakukan kegiatan yang mendidik.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
penyelanggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.
6) Memfasilitasi pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik.
8) Terampil melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
10) Melakuka tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran

Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) mempunyai peran strategis


dalam mempersiapkan calon pendidik yang kelak mereka performansinya memenuhi standar
kompetensi yang sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan. Terkait dengan harapan tersebut, calon pendidik hendaknya
mendukung pencapaian kompetensi tersebut, khususunya berkaitan dengan proses
pembelajaran.
Beberapa alternatif yang dapat ditempuh untuk pengembangan kompetensi
pendagogik adalah sebagai berikut:
1) Setiap pembelajaran yang berkaitan dengan pembuatan rancangan pembelajaran,
pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran dan evaluasi hasil belajar,
mahasiswa dituntut melakukan praktik tentang kaian tersebut dan hasilnya dikaji
layaknya dalam uji kompetensi.
2) Pembelajaran dengan nuansa humanis perlu ditekankan pada calon pendidik, sehingga
mereka dapat terbentuk Sense of Sensitivity terhadap peserta didik tatkala mengajar di
sekolah kelak.

Daftar Pustaka:
Rifai, Achmad dan Anni, C.A. 2012. Psikologi Pendidikan. Semarang: Pusat
Pengembangan MKU/ MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.