Anda di halaman 1dari 3

4.

Etiologi, epidemiologi dan faktor resiko


Etiologi
Banyak teori telah dikemukakan untuk menerangkan penyebab dismenore,
tetapi patofisiologinya belum jelas dimengerti. Beberapa faktor yang
berperan sebagai penyebab dismenore adalah :
a. Faktor kejiwaan.
Pada remaja puteri yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka
tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul
dismenore.
b. Faktor konstitusi.
Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat
mempengaruhi timbulnya dismenore.
c. Faktor obstruksi kanalis servikalis.
Salah satu teori yang menerangkan terjadinya dismenore ialah stenosis
kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin
dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi hal ini sekarang tidak
dianggap sebagai faktor penting sebagai penyebab dismenore.
d. Faktor endokrin.
Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenore
disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan.
e. Faktor Alergi.
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara
dismenore dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiali. Smith menduga
bahwa sebab dari alergi ialah toksin haid/
Dalam penelitian ke depan, ternyata etiologi dismenore primer yang
paling
berperan
adalah
adanya
peningkatan
kadar prostaglandin (Wiknjosastro, 2008).

Epidemiologi
AmerikaSerikat
Dysmenorrhea bisa mempengaruhi lebih dari separuh wanita menstruasi, dan
prevalensi yang dilaporkan telah sangat bervariasi. Sebuah survei terhadap
113 pasien dalam pengaturan praktek keluarga menunjukkan prevalensi 2944% dari dismenore, tetapi tingkat prevalensi setinggi 90% pada wanita
berusia 18-45 tahun telah dilaporkan.Penggunaan oral kontrasepsi
(kontrasepsi oral) dan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), yang
keduanya efektif dalam mengatasi gejala-gejala dismenore primer, dapat
Mengacaukan
prevalensi.
Puncak dismenore primer pada akhir masa remaja dan awal 20-an. Insiden
jatuh dengan bertambahnya usia dan dengan paritas meningkat. Prevalensi
dan keparahan dysmenorrhea pada wanita parous dilaporkan secara
signifikan lebih rendah. Tidak ada perbedaan signifikan sehubungan dengan
prevalensi dan tingkat keparahan dysmenorrhea ditemukan antara perempuan
nulligravid dan mereka yang kehamilan telah diakhiri oleh salah satu aborsi
spontan
atau diinduksi
Dalam studi epidemiologi dari populasi remaja (usia 12-17 y), Klein dan Litt
melaporkan prevalensi dismenorea 59,7% pasien dilaporkan rasa sakit, 12%
digambarkan sebagai berat; 37%, sebagai moderat, dan. 49%, sebagai
ringan. Dismenore menyebabkan 14% dari pasien untuk sering bolos
sekolah. Meskipun remaja kulit hitam melaporkan tidak ada peningkatan
kejadian dismenore, namun mereka lebih sering absen dari sekolah (23,6%)
dibandingkan kulit putih (12,3%), bahkan setelah disesuaikan untuk status
Sosial
ekonomi.

Internasional
Prevalensi dysmenorrhea seluruh dunia tidak jauh beda dengan di AS,
persentase kejadian antara 15,8-89,5%, dengan tingkat prevalensi yang lebih
tinggi dilaporkan pada populasi remaja .
Faktor Resiko
Biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun
setelah menstruasi pertama. Sedangkan dismenore sekunder seringkali mulai
timbul pada usia 20 tahun.
Faktor lainnya yang bisa memperburuk dismenore adalah:
1.
Rahim yang menghadap ke belakang (retroversi)
2.
Kurang berolah raga
3.
Stres psikis atau stres sosial.