Anda di halaman 1dari 14

BAB I

KONSEP DASAR

A. Pengertian
Menurut Dr. H. Slamet Suyono (2001), gastritis adalah :
1. Gastritis adalah segala radang mukosa lambung
2. Gastritis adalah inflamasi pada lambung

mukosa dan sub mukosa

lambung.

B. Penyebab
Menurut www.indofarma.co.id penyebab yang dapat mengakibatkan
gastritis antara lain :
1. Infeksi bakteri.
Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori
yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding
lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri
tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi
melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang
terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui
sebagai penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering
terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian mengakibatkan
perubahan pada lapisan perlindungan dinding lambung. Salah satu

perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjarkelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak.
2. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus
Obat analgesic anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin,
ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung
dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding
lambung. Jika pemakaian obat-obat tersebut hanya sesekali maka
kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika
pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang
berlebihan dapat mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer.
3. Penggunaan alkohol secara berlebihan.
Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung
dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung
walaupun pada kondisi normal.
4. Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan
perdarahan dan gastritis.
5. Stres fisik
Stres fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi
berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta perdarahan pada
lambung.
6. Kelainan autoimmune
Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh
menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini

mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding


lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan
mengganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu
tubuh mengabsorpsi vitamin B12). Kekurangan B12 akhirnya dapat
mengakibatkan pernicious anemia, sebuah konsisi serius yang tidak
dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh.
7. Crohns

disease.

Walaupun

penyakit

ini

biasanya

menyebabkan

peradangan kronis pada dinding saluran cerna, namun kadang-kadang


dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Ketika
lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohns disease (yaitu
sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok
daripada gejala gastritis.
8. Radiasi dan kemoterapi.
Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat
mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat
berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena
sejumlah kecil radiasi, kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat
mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar penghasil asam
lambung.
9. Penyakit bile refluk.
Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak
dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu
akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam

kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti cincin


(pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung.
Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk
ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.
Gastritis ada 2 macam :
a. Gastritis Akut
Tukak beban atau tukak seres merupakan suatu reaksi selintas pada
permukaan mukosa lambung oleh akibat iritasi. Pada gastritis ini
biasanya ada tukak multiple yang kecil
Gastritis akut tedapat 2 bentuk reaksi
1) Gastritis akut tanpa pendarahan
2) Gastritis dengan pendarahan (gastritis hemoragik atau gastritis
erosive
b. Gastritis Kronik
1) Gastritis

kronik autoimun terjadi karena terbentuknya atibodi

terhadap sel pariental


2) Gastritis kronik autoimun dan aklorhidra dapat berubah menjadi
karsinoma lambung
Faktor resiko dari gastritis adalah :
a. Obat-obatan : aspirin, obat anti inflamasi non steroid (AINS)
b. Alkohol , Kafein
c. Gangguan mikrosirkulasi lambung: trauma, luka baker, sepsis. Secara
mikroskopik terdapat lesi erosi mukosa dengan lokasi berbeda. Apabila

lesi erosi mukosa terdapat pada korpus dan fundus maka biasanya
disebabkan oleh stress. Apabila karena obat-obatan AINS terutama
ditemukan didaerah antrum namun dapat juga menyeluruh sedangkan
secara mikroskopik terdapat erosi dengan regenerasi epitel dan
ditemukan reaksi sel inflamasi neutrofil yang minimal
d. Mikroorganisme : Helicobaeter pykory ( H. philory ), salmonella

C. Manifestasi Klinis
1. Keluhan utama dari gastritis (Sujono Hadi, 2002)
a. Gastritis Akut
Keluhan yang sering diajukan pasien adalah : rasa pedih, kadang
timbul rasa berdenyut-denyut perut atas yang ada hubungan dengan
makanan. Keluhan ini timbul mendadak setekah makan atau minumminuman yang iritatif atau korosif
b. Gastritis kronik
Keluhan yang sering diajukan oleh penderita pada umumnya bersifat
ringan dan dirasakan sudah berbulan-bulan bahkan sudah bertahuntahun.
Pada umumnya mengeluh rasa tidak enak diperut atas,lekas kenyang,
mual, rasa pedih sebelum atau sesudah makan dan kadang mulut
terasa masam.
2. Menurut Diane C. Baughman dan Joann C. Heckly, 2000 manifestasi
klinis pada :

a. Gastritis akut
1) Dapat terjadi ulserasi superfisal dan mengarah pada hemoragi
2) Rasa tidak nyaman pada abdomen dengan sakit kepala kelesuan,
mual, anoreksia mungkin terjadi mual dan muntah serta cegukan.
3) Beberapa pasien menunjukkan asimtomatik
4) Dapat terjadi lokil dan diare apabika tidak dimuntahkan tetapi
malah mencapai usus
5) Pasien biasanya mulai pulih kembali sekitar sehari meskipun nafsu
makan mungkin akan hilang selama 2-3 hari
b. Gastritis Kronis
1) Gastritis tipe A pada dasarnya asimtomatik kecuali untuk gejala
gejala defisiensi vitamin B 12
2) Gastritis tipe B pasien mengeluh anoreksia nyeri ulu hati setelah
makan berdahak , rasa asam dalam mulut atau mual dan muntah.

D. Patofisologi
Menurut www.indofarma.co.id gastritis dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Gastritis superfisial akut
Merupakan respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal.
Endotoksin bakteri (masuk setelah menelan makanan terkontaminasi),
kafein, alkohol dan aspirin merupakan agen-agen penyebab yang sering.
Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti
dengan jaringan, cairan dan darah) dan mengalami erosi superficial, bagian

ini mensekresi sejumlah getah lambung, yang mengandug sangat sedikit


asam tetapi banyak mucus. Ulserasi superficial dapat terjadi dan dapat
menimbulkan hemoragi. Mukosa lambung dapat memperbaiki diri sendiri
setelah mengalami gastritis. Kadang-kadang hemoragi memerlukan
intervensi bedah.
2. Gastritis atrofik kronik
Gastritis kronik diklasifikasikan menjadi tipe A dan tipe B. Tipe A
(sering disebut gastritis autoimun) ditandai oleh atrofi progresif epitel
kelenjar disertai kehilang sel parietal dan sel chief. Akibatnya, produksi
asam klorida, pepsi dan faktor intrinsik menurun. Dinding lambung
menjadi tipis dan mukosa mempunyai permukaan yang rata. Minum
alkohol berlebihan, teh manis dan merokok merupakan predisposisi
timbulnya gastritis akut. Tipe B (kadang disebut sebagai gastritis H.
Pylori) mempengaruhi antrum dan pylorus (ujung lambung dekat
duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H. Pylori; faktor diet seperti
minuman panas atau peda; penggunaan obat-obatan dan alkohol; merokok
atau refluks isi lambung.

E. Pathway
Menurut Hirlan (2001)
Obat-obatan

Stress

Alkohol

Korteks
Gangguan mobilitas
gastrointestinal

Hipotalamus

Medula
Hipertensi/ vasokontriksi

Sekresi asam
lambung bikarbonat
naik turun
Refluks gaster
duodenum
Anoreksia Mual

Nutrisi
kurang

Iritasi mukosa

Lambung flow menurun


mikrosirkulas menurun
Permebalitas naik

Muntah

Nyeri

Volume
cairan
kurang

Cemas

Progtaglin

Mukus bikromat opitel


menurun impermeabilitas
proliferasi
H
Aliran darah
pH intramukal
Keasaman jaringan
kritis
Erosi/ ulserasi

Radikal bebas

F. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Brunner dan Suddart (2000) pemeriksaan pada penyakit
gastritis terdiri dari :
1. Pemeriksaan penunjang gastritis akut
a. Gastroskopi

: mukosa lambung erosi

b. Nasogastrik aspiration

: stolsel

c. Barium kontras

: erosi superfisial

2. Pemeriksaan penunjang gastritis kronik


a. Gastrin serum
b. Schilling test
c. Barium swallow

G. Penatalaksanaan
Menurut Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare (2002)
penatalaksanaan gastristis terdiri dari :
1. Gastritis akut
Diatasi dengan menginstruksikan untuk menghindari minuman alcohol
dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui
mulut, diet mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menelan cairan perlu
diberikan secara parenteral. Bila gastritis diakibatkan oleh mencerna
makanan yang sangat asam atau alkalis.
a. Pengobatan gastritis akut terdiri dari pengenceran dan penetralisasi
agen penyebab

1) Untuk menetralkan asam, digunakan antasida asam (missal


alumunium hidroksida), untuk menetralisasi alkali dengan makan
jus lemon encer atau cuka encer.
2) Bila korosi luas atau berat, emotik dan loyase dihindari karena
bahaya perforasi.
Terapi pendukung mencakup intubasi sederhana, antasida serta cairan
intravena. Endoskopi fiberoptik mungkin diperlukan pembedahan
darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan
perforasi.
Gastrojejenostomi/ reseksi lambung mungkin diperlukan untuk
mengatasi obstruksi pylorus.
2. Gastritis kronis
Diatasi dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat,
mengurangi stress dan melalui farmakoterapi II. Pylori dapat diatasi
dengan antibiotik (seperti tetra siklin atau amoksisilin) dan garam bismus
(pepto-bismol).
Pasien gastritis A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12
yang disebabkan oleh adanya antibodi terhadap faktor intrinsik.

H. Proses keperawatan
Menurut Slamet Suyono (2001), pengkajian penyakit gastritis adalah :
1. Tanyakan pasien tentang tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditunjukkan
nyeri ulu hati, indigesti, mual, muntah.

2. Bagaimana gejala menghilang


3. Apakah sudah muntah darah atau telah menelan sesuatu elemen penyebab
4. Lakukan pengkajian fisik, perhatikan adanya nyeri tekan abdomen,
dehidrasi dan bukti-bukti kelainan sistemik yang mungkin bertanggung
jawab terhadap gejala-gejala.

I. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen injuri biologi (Sheila Spark
Ralp, 2005)
Tujuan : klien mampu mengontrol nyeri pada tanggal (Marion John,
et.al,ed, 2005)
Kriteria hasil :
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Indikator
Mengenal faktor pencetus nyeri
Mengenal omset/ lamanya nyeri
Melakukan langkah pencegahan
Menggunakan pencegahan non invasif
Menggunakan analgetik yang sesuai
Melaporkan bila ada tanda awal nyeri
Melaporkan tanda-tanda nyeri
Menggunakan sumber-sumber yang ada
Mengenal tanda-tanda nyeri
Melakukan pencatatan harian tentang nyeri
Melaporkan tindakan kontrol nyeri

Keterangan :
1) Tidak pernah bisa melakukan
2) Jarang bisa melakukan
3) Kadang-kadang bisa melakukan

4) Sering bisa melakukan


5) Selalu dapat melakukan
Intervensi : (Joane C. Closkey, et.al,ed (2005)
1) Observasi respon nonverbal nyeri
2) Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik
3) Berikan analgetik yang sesuai
4) Ajarkan pada pasien teknik mengurangi nyeri non invasive missal
distraksi dll
5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik yang sesuai
2. Ketidakseimbangan

nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

yang

berhubungan dengan kurangnya intake makanan (Sheila Spark Ralp, 2005)


Tujuan : Klien dapat menunjukkan status nutrisi yang adekuat pada
tanggal (Marion John, et.al,ed, 2005)
No
1.
2.
3.
4.
5.

Indikator
Intake nutrisi per oral
Intake nutrisi per sonde
Intake cairan per oral
Intake cairan parenteral
Intake nutrisi parenteral total (TPN0

Keterangan :
1) Sangat tiak sesuai
2) Sering tidak sesuai
3) Kadang tidak sesuai
4) Jarang tidak sesuai

5) Sesuai
Intervensi : (Joane C. Closkey, et.al,ed (2005)
1) Observasi KU
2) Observasi pola makan
3) Berikan hidangan makanan yang menarik
4) Hidangkan makanan dalam keadaan hangat
5) Anjurkan makan sedikit tapi sering
6) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diit yang sesuai
3. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan O2
yang diperlukan dengan persediaan yang ada. (Sheila Spark Ralp, 2005)
Tujuan : Klien mampu memanfaatkan persediaan energi cukup untuk
melakukan aktivitas yang diinginkan. (Marion John, et.al,ed, 2005)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

Indikator
Penampilan seperti biasa
Aktivitas
Istirahat
Konsentrasi
Kemampuan mengenal lingkungan sekitar
Kekuatan otot
Pola makan
Libido
Energi kembali setelah istirahat
Tidak ada kelelahan
Tidak nampak lethargi
Level oksigen darah normal
Hb normal
Hematokrit normal
Gula darah normal
Serum elektrolit normal

Keterangan :
1) Sangat tidak sesuai

2) Sering tidak sesuai


3) Kadang tidak sesuai
4) Jarang tidak sesuai
5) Sesuai
Intervensi : (Joane C. Closkey, et.al,ed (2005)
1) Monitor asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk sumber energi
2) Monitor adanya kelelahan fisik dan emosi yang berlebihan
3) Bantu klien dan keluarga memahami prinsip penghematan energi
4) Ajarkan klien dan keluarga cara mengenali dan mengatasi tanda-tanda
kapan aktivitas harus dikurangi.
5) Kolaborasi dengan keluarga untuk membantu aktivitas klien.

DAFTAR PUSTAKA
Baughman dan Haskley. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. 2000.
Ester, Monica. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. 2001.
Hirlan. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta : FKUI.
2001.
Sineltzer dan Bare G. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. 2001.