Anda di halaman 1dari 28

SISTEMATIKA DAN TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

DISUSUN OLEH:
NAMA

: FAHMI HERDIYANSYAH (1112016200039)


FATHIA NUR FAUZIA (1113016200029)
DUROCHTUL ROHMAH (111401620000)
ERNAWATI (11140162000048)
PUTRI FAUZIAH SARI (11140162000054)

KELAS

: KIMIA 2B

DOSEN PENGAMPU

: Dra. SITI SAHARA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITASI ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015 M/ 1436 H

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Penyusunan makalah Sistematika dan Teknik Penulisan Karya
Ilmiah di latar belakangi oleh pemberian tugas oleh dosen pengampu
matakuliah Bahasa Indonesia. Semoga makalah ini dapat bermanfaat tidak
hanya bagi kami, melainkan bagi semua pihak yang membacanya.
Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang terlibat, yang telah membantu kami dalam mengerjakan
makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna. Masih
banyak kelemahan dan kekurangan yang kami kerjakan tanpa sengaja. Oleh
karena itu, dengan kerendahan hati, kami akan merasa senang menerima
berbagai masukan, kritik, usul atau saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia memiliki kemampuan untuk berkarya. Manusia memiliki
potensi fisik untuk melakukan kemampuan tersebut. Separuh kemampuan itu
berupa kemampuan memahami dan menyimpan data, sedangkan separuh
lainnya adalah kemampuan mengolah dan menghasilkan data. Kemampuan
menghasilkan data ini erat kaitannya dengan berkarya.
Selain berkemampuan berkarya, manusia juga memiliki kemampuan
untuk berkomunikasi. Kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan
maupun tulisan. Berkomunikasi dengan tulisan dapat menembus ruang dan
waktu. Berkomunikasi dengan tulisan tidak dibatasi oleh kehadiran pembaca
dalam suatu ruangan. Berkomunikasi lewat tulisan tidak harus dalam waktu
tulisan itu dibuat, tetapi dapat dilakukan pembaca pada waktu yang berbeda,
mungkin sehari berikutnya, sebulan yang akan datang, atau setahun yang akan
datang. Bahkan masih mungkin sepuluh tahun yang akan datang tulisan masih
dapat berfungsi sebagai media komunikasi.1
Menulis karya ilmiah pada prinsipnya berbeda dengan menulis karya non
ilmiah. Hal ini disebabkan karena dalam menulis ilmiah dibebani oleh aturan
kepenulisan yang telah ditetapkan seperti teknik penyusunan, sistematika
tulisan, atau pun bahasa keilmuan. Sedang dalam tulisan non ilmiah tidak
terikat oleh aturan-aturan seperti itu.
Untuk dapat menulis karya ilmiah dengan baik dibutuhkan keterampilan
dan kemampuan mengorganisasikan ide kedalam tulisan. Keterampilan menulis
1 Suherli Kusmana, Merancang Karya Tulis Ilmiah, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2010, hal.1-2

karya ilmiah ini akan tercapai apabila kita menguasai teknik penyusunan serta
mahir menggunakan bahasa Indonesia secara efektif.2

B. Tujuan
Penulisan makalah Sistematika Penulisan Karya Ilmiah bertujuan
untuk:
1. Mengetahui pengertian dan jenis-jenis karya ilmiah.
2. Mengetahui penyusunan karya ilmiah.
3. Mengetahui hal yang harus diiperhatikan dalam menyusun karya ilmiah
yang baik dan benar.

C. Perumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah yang dimaksud dengan karya ilmiah?


Apakah perbedaan antara karya tulis ilmiah dan karya tulis nonilmiah?
Apa saja bentuk dari karya tulis ilmiah?
Bagaimanakah sistematika penulisan karya ilmiah?
Bagaimanakah teknik penulisan karya ilmiah?
Apa saja yang harus diperhatikan dalam menyusun karya ilmiah yang baik
dan benar?

2 Madyo Ekosusilo (dkk), Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Dahara Prize,


Semarang, 1995, hal 7

BAB II KAJIAN TEORI


A. Pengertian Karya Ilmiah
Tulisan atau karangan pada hakikatnya merupakan organisasi ide atau
pesan secara tertulis. Jika dikaitkan dengan kata ilmiah, maka hasil organisasi
ide atau pesan itu disebut tulisan ilmiah. Tulisan ilmiah adalah tulisan yang
didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu,
disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun
bahasa

dan

isinya

dapat

dipertanggungjawabkan

kebenarannya

(keilmiahannya).3
Apabila suatu karangan dilihat berdasarkan sifat fakta yang disajikan di
dalam suatu karangan, maka akan terdapat jenis karya tulis ilmiah dan
nonilmiah. Berdasarkan sifat penyajian fakta dalam karangan, Jones (1960)
mengelompokkan karangan ilmu pengetahuan (karya tulis ilmiah) ke dalam dua
golongan, yaitu karangan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan yang
nonilmiah.
Karya tulis ilmiah merupakan karangan tentang ilmu pengetahuan yang
menyajikan fakta bersifat umum dan ditulis dengan metodologi penulisan karya
tulis ilmiah. Fakta yang disajikan dalam karya tulis ilmiah merupakan fakta yang
3 Madyo Ekosusilo (dkk), Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Dahara Prize,
Semarang, 1995, hal 11

bersifat umum, sedangkan pada karangan yang digolongkan ke dalam karya


tulis nonilmiah, jika fakta yang disajikan berupa fakta pribadi yang bersifat
subjektif. Fakta umum yang dimaksudkan dalam penyajian ini adalah fakta yang
dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah (Brotowidjojo, 1993). Selain itu,
fakta umum dapat dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan suatu pernyataan
atau simpulan.4
Dengan demikian sebuah tulisan dapat disebut tulisan ilmiah apabila:
1. Mengandung suatu masalah beserta pemecahannya.
Masalah tersebut hendaknya mampu memberi respon kepada audiens
(pembaca) sehingga ia ingin mengetahui pemecahan masalah yang
kita kemukakan. Agar pembaca terangsang untuk membaca apa yang
kita tulis, maka hendaknya kita selalu menampilkan persoalan yang
menarik

dan

masih

hangat-hangatnya

dibicarakan.

Setelah

kita

memberikan masukan masalah yang baru dan segar, kita harus


mampu berkiat untuk memberikan pemecahan-pemecahan terhadap
persoalan yang kita ajukan.
2. Masalah yang dikemukakan harus objektif.
Sesuai dengan realita yang ada dan bukan semata-mata hasil rekaan
penulis atau angan-angan tanpa disadari landasan berpikir ilmiah.
3. Tulisan harus lengkap.
Maksudnya semua segi yang terkait dengan masalah yang dibicarakan
harus dikemukakan secara lengkap dan jelas dalam tulisan tersebut.
4. Tulisan harus disusun dengan metode tertentu.
Artinya tulisan tersebut dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
atau pun keobjektifitannya.
5. Tulisan harus disusun menurut sistem tertentu, sehingga mudah
dimengerti dan berkoherensi (berkesinambungan)5

B. Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah


Ada beberapa ciri yang menandai sebuah karya tulis ilmiah. Ciri-ciri
tersebut adalah:

4 Kusmana, Op.Cit, hal 14-15


5 Ekosusilo (dkk), Op.Cit, hal 11-12

a. Logis, yakni segala keterangan atau pun informasi yang disajikan


memiliki argumentasi yang dapat diterima dengan akal sehat.
b. Sistematis, yakni segala yang dikemukakan disusun berdasarkan
urutan yang berjenjang dan berkesinambungan.
c. Objektif, yakni segala keterangan atau informasi yang dikemukakan
itu menurut apa adanya dan tidak bersifat fiktif (rekaan).
d. Tuntas dan menyeluruh, yakni segi-segi masalah yang dikemukakan
ditelaah secara lengkap/menyeluruh.
e. Seksama, yakni berusaha menghindarkan diri dari berbagai kesalahan,
betapapun kecilnya.
f. Jelas,
yakni
segala

keterangan

yang

dikemukakan

dapat

mengungkapkan maksud secara jernih.


g. Kebenarannya dapat teruji.
h. Terbuka, artinya sesuatu yang dikemukakan itu dapat berubah
seandainya muncul pendapat baru.
i. Berlaku umum, yakni kesimpulan-kesimpulannya berlaku bagi semua
populasinya.
j. Penyajiannya memperhatikan santun bahasa dan tata tulis yang sudah
baku.6
Salah satu ciri karya tulis ilmiah yang paling menguntungkan ialah adanya
pembagian golongan yang jelas. Penggolongan ini sangat membantu karena
dapat mengkonsentrasikan pikiran dalam golongan itu saja. Kita dapat memberi
penjelasan sedikit atau banyak pada saat kita mengerjakan golongan tersebut.
Apabila hal-hal yang dituangkan terlalu luas, golongan itu perlu dibagi-bagi lagi
menjadi bagian-bagian kecil yang mudah ditangani. Jika semua bagian telah
siap ditulis, karangan dapat disusun dengan menggabungkan bagian-bagian
tersebut. Bentuk tersebut lebih mudah diperbaiki dengan mengubah atau
mengganti.7

C. Syarat-syarat Karya Tulis Ilmiah


Hal yang harus diperhatikan dalam tulisan ilmiah adalah tulisan itu harus
mampu memberi pemahaman kepada pembaca atas tulisan yang telah dibuat.
Jadi tulisan dapat dianggap baik apabila tulisan itu mampu menjelaskan dari
6 Ibid. hal 12-13
7 David Lindsay, Penuntun Penulisan Ilmiah, UI-Press, Jakarta, 1988, hal 2-3

sesuatu yang belum diketahui secara jelas dan ringkas, tanpa membingungkan
pembaca.
Secara terperinci Andrews (1987:3) mengemukakan 5 prinsip dasar
sebagai patokan tulisan yang baik, dapat dijelaskan pada uraian berikut:
1. Tulisan yang baik bersifat akurat
Akurat di sini artinya tulisan itu memberikan gambaran apa adanya
tanpa

memutarbalikkan

fakta.

Misalnya,

kita

menulis

tentang

kehidupan masyarakat di pedalaman Irian Jaya. Untuk mendapatkan


data yang akurat, kita tidak hanya percaya pada sekelompok orang
yang tinggal di sana untuk kemudian kita rangkum menjadi suatu
tulisan, melainkan kita harus menggali data dengan berbagai cara.
Kemudian data itu kita olah dengan disertai referensi-referensi yang
mendukung, sehingga akan menghasilkan suatu tulisan yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmuannya.
2. Tulisan yang baik bersifat jelas
Dikatakan jelas apabila isinya dapat dengan mudah dimengerti atau
dipahami oleh pembaca. Untuk mencapai kejelasan suatu tulisan, maka
penulis harus mampu mengungkapkan idenya dengan bahasa yang
baik tanpa menyulitkan pembaca untuk memahaminya, dan agar tidak
menimbulkan salah tafsir pembaca terhadap apa yang kita tulis.
3. Tulisan yang baik bersifat ringkas
Yang dimaksud dengan ringkas bahwa tulisan itu langsung mengena ke
permasalahan,
mengaburkan

tanpa
ide

memanjanglebarkannya

pokoknya.

Hal

ini

dapat

sehingga
ditempuh

semakin
dengan

penggunaan kata-kata, kalimat-kalimat, atau alinea-alinea yang efektif,


dan kepiawaian penulis dalam merumuskan ide-idenya dalam suatu
kalimat yang efektif dan tersaji dalam alinea yang utuh. Dengan
demikian pembaca akan mudah memahami setiap ide yang tertuang
dalam setiap alinea, dan pada akhirnya akan memahami tulisan secara
keseluruhan.
4. Tulisan yang baik bersifat konvensional
Konvensional di sini artinya konvensional dalam penggunaan bahasa
(ejaan, kata, frase, kalimat) dan juga konvensional dalam hal

kepenulisan.

Konvensional

dalam

penggunaan

bahasa

misalnya,

bagaimana menuliskan unsur serapan, huruf besar, kata ulang, dan


sejenisnya. Sedangkan konvensional dalam hal kepenulisan dapat
berupa; bagaimana menyusun sistematika tulisan, bibliografi, catatan
kaki (footnote), dan sebagainya.
5. Tulisan yang baik bersifat padu atau utuh
Yang dimaksud dengan padu atau utuh di sini adalah apabila materi,
tujuan dan pembaca dapat terjalin dengan baik. Maksudnya, penulis
sebagai perantara harus bisa merengkuh materi, bentuk, dan cara
mengekspresikan yang bersatu dalam suatu wacana informasi yang
tepat dan serasi tentang materi yang ditulisnya dan kepada siapa
tulisan itu ditujukan.8

D. Bentuk-bentuk Karya Tulis Ilmiah


Secara umum tulisan ilmiah dapat dibedakan berdasarkan tingkatan
kajian permasalahan tulisan itu. Ada tulisan ilmiah yang mengkaji masalah
secara sederhana, tetapi ada pula tulisan ilmiah yang mengkaji permasalahan
sampai detail. Sedang yang termasuk tulisan ilmiah adalah: laporan, makalah,
skripsi, tesis, disertasi, buku/diktat.
a. Laporan
Laporan adalah suatu tulisan yang dibuat oleh seseorang setelah
melakukan

percobaan,

peninjauan,

observasi,

pembacaan

buku

(referensi) dan sebagainya. Laporan disusun berdasarkan data yang


ada dengan disertai penilaian baik-buruknya secara objektif serta
saran-saran seperlunya. Hal lain yang harus diperhatikan oleh penulis
laporan

adalah

hendaknya

laporan

itu

dapat

mengemukakan

permasalahan yang dilaporkan secara benar, jelas, detail, dan ringkas. 9


b. Makalah
Makalah pada dasarnya merupakan tulisan yang berisikan prasaran,
pendapat yang turut membahas suatu pokok persoalan yang akan
dibacakan dalam rapat kerja, symposium, seminar, dan sejenisnya.
8 Ekosusilo (dkk), Op.Cit, hal 13-16
9 Ibid. hal 16

Istilah makalah terkadang dikaitkan dengan karya tulis di kalangan


siswa/mahasiswa, yakni segala jenis tugas tertulis yang berhubungan
dengan bidang studi, hasil pembahasan buku, atau tulisan tentang
suatu persoalan. Hanya saja penamaan tugas siswa/mahasiswa ini
sering dikatakan paper dibanding makalah, meski antara keduanya
mengandung makna yang sama.10
Makalah yang ditulis untuk

kepentingan

pertemuan

ilmiah,

penyajiaannya mengikuti suatu bentuk penyajian karangan ilmiah.


Bagian-bagian yang disajikan dalam makalah bentuk ini, adalah
abstrak, pendahuluan (uraian latar belakang masalah atau pentingnya
masalah dibahas atau dikaji), teori-teori yang digunakan untuk
memecah masalah, prosedur atau paradigma kajian yang digunakan,
pembahasan atau temuan kajian, implikasi hasil kajian, bagian
penutup, daftar pustaka, dan biodata penulis. Bagian-bagian ini
disajikan dalam bentuk wacana ilmiah, sehingga tidak terdiri atas bab
demi bab, melainkan disajikan atas bagian demi bagian.
Makalah yang disajikan untuk kepentingan studi biasanya terpaku
pada pembagian bab. Bagian-bagian makalah sebagaimana disajikan
di atas dikemas ke dalam bab demi bab, sehingga pembagiannya
meliputi: bab satu menyajikan pendahuluan, bab dua menyajikan
landasan teori, bab tiga menyajikan metode dan pembahasan, bab
empat menyajikan simpulan dan saran, serta di bagian akhir dilengkapi
dengan daftar pustaka.
Bagian-bagian makalah untuk kepentingan studi atau kajian ini
dapat dikembangkan sesuai dengan tuntutan atau suatu ketentuan
penulisan yang dianut pada suatu instansi. Dalam hal tertentu, bagian
metodologi dan pembahasan sering dipisahkan dalam bagian yang
berbeda atau dalam dua bagian.11
c. Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah yang ditulis berdasarkan hasil
penelitian

ataupun

memperoleh

gelar

10 Ibid
11 Kusmana, Op.Cit, hal 89-91

telaah
sarjana

pustaka
di

jenjang

sebagai

prasarat

perguruan

tinggi

untuk
dan

dipertahankan di depan siding ujian. Pada waktu dahulu, skripsi


digunakan untuk memperoleh gelar sarjana muda (B.A., B.Sc., dan
sejenisnya). Sedang untuk masa sekarang, skripsi merupakan karya
ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar sarjana
strata satu (S1).12 Namun, secara umum tulisan jenis skripsi disusun
berdasarkan suatu ketentuan penulisan ilmiah sehingga hasilnya pun
dapat berguna bagi perkembangan ilmu dan berimplikasi pada
implementasi ilmu dalam kehidupan bermasyarakat.13
Argumen keilmuan dalam karangan ilmiah jenis skripsi, banyak
diangkat oleh mahasiswa berdasarkan temuan dari suatu kenyataan
yang dipandang berbeda dengan suatu ketentuan yang mereka temui
dalam perkuliahan atau berbeda kajiannya dari suatu teori. Dalam
menyusun karya ilmiah jenis ini, penulis dapat mengangkat suatu
fenomena atau problematika yang dipandang dapat diselesaikan oleh
suatu konsep teoretis atau suatu penelitian yang dapat dikerjakan
dalam lingkup waktu yang tidak relatif lama. Hal ini karena penulisan
skripsi berhubungan pula dengan alokasi masa studi yang ditempuh
oleh mahasiswa jenjang strata satu.
Perbedaan antara setiap karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan
disertasi bergantung pada tingkat kedalaman kajian. Adapun tingkat
kedalaman kajian dalam skripsi bergantung pada aspek-aspek yang
dicermati. Aspek yang dicermati itu berdasarkan pada suatu pengujian
teori yang dijadikan sebagai bahan kajian skripsi. Untuk memahami hal
ini, berikut ini disajikan beberapa ilustrasi contoh kajian dalam skripsi.14
Contoh :
Seorang mahasiswa strata satu bidang keilmuan manajemen akan
meneliti hubungan antara kepuasan pelanggan kereta api jurusan
Bandung-Jakarta dengan tingkat layanan yang diberikan. Berdasarkan
12Ekosusilo (dkk), Op.Cit, hal 17
13 Kusmana, Op.Cit, hal 93
14 Ibid, hal 95

teori tentang kepuasan konsumen disusun suatu instrument untuk


mengetahui tingkat kepuasan pengguna jasa kereta api tersebut, agar
mendapatkan data dari variable pertama. Kemudian melakukan
pengumpulan data pula tentang tingkat layanan, berdasarkan teori
tentang

manajemen

dilakukan

layanan.

pengolahan

data

Berdasarkan
dengan

kedua

data

menggunakan

tersebut

pendekatan

kuantitatif. Misalnya, berdasarkan hasil pengolahan data diketahui


bahwa kepuasan pelanggan kereta api jurusan Bandung-Jakarta
berhubungan dengan tingkat layanan yang diberikan. Pengembangan
argumennya dilakukan dengan sebuah penjelasan bahwa semakin
lengkap layanan yang diberikan, maka semakin meningkat pula
kepuasan layanan.
d. Tesis
Tesis merupakan karya ilmiah yang tarafnya lebih mendalam dan
lebih metodis daripada skripsi. Pada waktu yang lampau pun istilah ini
dikaitkan dengan persyaratan pemerolehan gelar sarjana strata satu
(S1). Namun sesuai dengan Surat Edaran Bersama antara MENDIKBUD
dan Kepala BAKN Nomor 61395/MPK/1987 dan Nomor 21/SE/1987
tertanggal 28 September 1987 ditegaskan bahwa tesis merupakan
karya tulis ilmiah untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai
gelar sarjana stara dua (S2). Pembedaan istilah antara skripsi dan tesis
dimaksudkan untuk menegaskan batas pengertian antara keduanya, di
mana

sebelumnya

istilah

ini

sering

dikacaukan

dengan

pemakaiannya.15
Dari beberapa ketentuan penulisan tesis yang berlaku pada
beberapa perguruan tinggi, dapat diidentifikasi ciri-ciri karangan ilmiah
jenis ini. Adapaun ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Fokus kajian mengupas masalah isu sentral dalam disiplin

keilmuan (program studi yang ditempuh.


Kajian merupakan pengujian empirik terhadap posisi teoritis
dari suatu disiplin ilmu.

15 Ekosusilo (dkk), Op.Cit, hal 17

Menggunakan data primer sebagai data utama dan dapat

ditunjang oleh data sekunder.


Memiliki bobot kredit (SKS) lebih besar daripada skripsi,

misalnya 6 sampai dengan 10 SKS.


Karakterisitik khusus dari karangan ilmiah jenis tesis, biasanya
ditetapkan berdasarkan karakteristik suatu perguruan tinggi.

Argumen dalam tesis sering disejalankan dengan makna dari kata


tesis, yaitu suatu pernyataan yang memerlukan pembuktian secara
empiris. Oleh karena itu, argumen ilmiah dalam tesis dimaksudkan
untuk membuktikan atau mengimplementasikan suatu premis atau
tesis dengan kenyataan. Penyusunan argumen dalam tesis dilakukan
dengan

mencermati

suatu

permasalahan

secara

lengkap

dan

menyeluruh. Di bawah ini disajikan ilustrasi karangan ilmiah jenis tesis.


Contoh 2:
Di muka sudah dijelaskan salah satu contoh kajian dalam sebuah
skripsi, yaitu meneliti hubungan antara kepuasan pelanggan kereta api
jurusan Bandung-Jakarta dengan tingkat layanan yang diberikan.
Apabila dalam skripsi diketahui bahwa kepuasan pelanggan kereta api
jurusan Bandung-Jakarta berhubungan dengan tingkat layanan yang
diberikan, sehingga semakin lengkap layanan yang diberikan maka
semakin meningkat pula kepuasan pelanggan. Dalam tesis, dilakukan
pengembangan pada pencermatan terhadap aspek-aspek kepuasan
pelanggan, tingkat keperluan dan kekerapan pelanggan atau pengguna
jasa dalam menggunakan kereta api, bentuk-bentuk layanan yang
material dan immaterial, bentuk-bentuk peningkatan layanan, serta
aspek-aspek lain dari kedua variabel tersebut. Dengan kata lain, dalam
tesis tidak hanya semata-mata melakukan kajian keterhubungan,
melainkan mengembangkannya pada aspek-aspek yang lebih spesifik.
Data sekecil apa pun yang dapat terkumpul dalam penelitian jenis
tesis, tidak serta-merta diabaikan, tetapi dicermati sebagai sesuatu

yang

sangat

berharga

untuk

kelengkapan

pengembangan

hasil

penelitian.16
e. Disertasi
Disertasi merupakan karya tulis ilmiah untuk memenuhi salah satu
persyaratan mencapai gelar sarjana strata tiga (S3). Disertasi ini
ditujukan untuk mencapai gelar Doktor (Dr.), yakni gelar tertinggi yang
diberikan oleh suatu perguruan tinggi. Masalah yang dibahas dalam
disertasi ini sudah barang tentu lebih kompleks dan detail dibanding
dengan tesis ataupun skripsi. Sedang penulisan disertasi ini dibimbing
oleh seorang promoter yang telah berpangkat professor (Prof.). 17 Dari
disertasi terlahirlah sebuah teori, temuan atau model baru dalam
bidang ilmu yang ditekuni. Dari sebuah disertasi ditemukanlah hal-hal
baru, serta pengembangan teori yang berbeda dengan teori atau
konsep yang selama ini dianut.18
Dalam melakukan penelitian untuk kepentingan disertasi sering kali
diperlukan waktu yang cukup lama. Hal ini berhubungan dengan
karakteristik dan kondisi sumber data penelitian atau objek yang
diteliti. Peneliti harus mencermati seluruh aspek secara hati-hati untuk
menghindari bias dari penelitian tersebut. Keberadaan teori yang
digunakan dalam disertasi dapat dipandang sebagai argument yang
perlu dibuktikan kebenarannya berdasarkan penelitian.19
f. Buku/Diktat
Buku ataupun diktat juga merupakan bentuk tulisan ilmiah. Baik
buku maupun diktat memberikan informasi yang factual tentang suatu
disiplin ilmu. Meski keduanya memberikan data yang tersaji secara
sistematis dan metodis, namun antara keduanya terdapat perbedaan
yang cukup jelas. Buku ditulis oleh pengarang untuk menjelaskan atau
memperkenalkan isinya untuk keadaan yang lebih umum. Buku
16 Kusmana, Op.Cit, hal 97-98
17 Ekosusilo (dkk), Op.Cit., hal 17
18 Kusmana, Op.Cit, hal 98
19 Ibid, 99

umumnya dicetak oleh suatu penerbit. Sedangkan diktat ditulis dalam


suatu keadaan tertentu dan untuk mengarahkan proses belajar
mahasiswa ataupun siswa. Diktat bisa distensile saja, bukan oleh
penerbit, tetapi dalam lingkungan sendiri (Fakultas, Jurusan, Sekolah,
dan sebagainya).
Dalam proses belajar-mengajar, apabila sudah tersedia buku,
sebaiknya kita menggunakan buku tersebut dan kita cukup membuat
lembar edar (hand-out) sebagai tambahan materi dan penjelasan riil
dari informasi buku yang telah tersedia. Tetapi apabila buku pokok
tidak tersedia, maka kita dapat menyusun diktat sebagai media bantu
dalam proses belajar mahasiswa maupun siswa.20

E. Sistematika Penulisan Karya Ilmiah


Dalam sebuah organisasi penyajian tulisan ilmiah umumnya terdiri dari
tiga bagian utama, yakni bagian pendahuluan (bukan bab pendahuluan), bagian
isi, dan bagian penutup. Berikut sistematika penyajiannya:21
1. Bagian pendahuluan berisi:
a. Halaman Judul
Judul merupakan nama yang melukiskan dengan singkat
masalah

yang

ditulis.

Meskipun

singkat,

judul

harus

mencerminkan isi tulisan. Judul harus dirumuskan dengan jelas,


singkat,

relevan

dengan

isi

tulisan,

tetapi

tidak

terlalu

provokatif.22 Pada halaman judul berisi judul, nama penulis, nama


jurusan dan tahun penyelesaian (Masehi/hijriah).
b. Kata Pengantar
Kata pengantar belum termasuk bagian bab pendahuluan,
oleh karena itu penempatannya harus di luar tubuh tulisan.
Bagian ini umumnya berisi tentang pernyataan penulis untuk
menyerahkan tulisannya kepada penerima tulisan (masyarakat
pembaca umumnya); gambaran umum tentang pelaksanaan
tugas dan hasilnya, ucapan terima kasih kepada semua pihak;
20 Ekosusilo (dkk), Op.Cit., hal 18
21 Ibid. 21
22 Ibid. 21-23

tempat, tanggal, bulan, tahun penyusunan tulisan itu; serta


penanggung jawab tulisan tersebut. Pada bagian yang paling
akhir, biasanya berisi harapan penulis atas teguran, kritik, dan
saran-saran untuk perbaikan tulisan tersebut dari pembaca.
c. Daftar Isi
Daftar isi merupakan kerangka tulisan yang teperinci yang
telah ditulis, mulai kata pengantar sampai dengan Indeks. Dalam
bagian ini dicantumkan bab-bab, sub-bab, sub-subbab, disertai
dengan nomor halaman tempat bagian-bagian tersebut terdapat
dalam tulisan. Daftar isi diletakkan pada halaman baru setelah
kata pengantar.
d. Daftar Tabel (jika ada)
Bagian ini berisi keterangan table-tabel yang tercantum dalam
tulisan. Yang disajikan dalam bentuk table biasanya yang berupa
jumlah, statistic, persentase. Table-tabel umumnya diberi nomor
urut dengan angka Romawi dan pada daftar table tersebut
dicantumkan pula halaman tempat table tersebut dimuat.
e. Daftar Gambar (jika ada)
Daftar gambar biasanya di beri nomor urut dengan angka
Arab. Di sebelah kanan dicantumkan pula nomor halaman
tempat gambar tersebut dimuat.
f. Abstrak
Menurut Andrews (1978:177) dalam Ekosusilo (1995:27)
abstrak diartikan sebagai rangkuman singkat dari isi sebuah
dokumen, baik berupa laporan penelitian, artikel, disertasi, dan
kertas kerja. Abstrak harus berisikan masalah pokok penulisan,
tujuan, metode dan kesimpulan secara ringkas dan padat
(maksimal 3 halaman). Abstrak ini pada pokoknya memberi
gambaran secara sepintas tentang keseluruhan isi tulisan.
Abstrak dapat ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia
dan

bahasa Inggris. Untuk Tesis (Pasca Sarjana) dan Disertasi

(Doktor) umumnya ditulis dengan bahasa Indonesia dan bahasa


Inggris. Sedangkan laporan penelitian dan skripsi pada umumnya
hanya dengan bahasa Indonesia.
2. Bagian isi, berisi:
a. Bab I Pendahuluan, berisi tentang:
i. Penegasan istilah dalam judul dan penegasan judul

ii. Perumusan masalah (termasuk didalamnya latar belakang


masalah)
iii. Tujuan dan manfaat penelitian
Bab pendahuluan terutama bertujuan untuk menarik dan
memusatkan perhatian pembaca terhadap pokok pikiran yang
terdapat dalam uraian tulisan. Pokok pikiran dikemukakan
dengan singkat tetapi menyeluruh, sehingga pembaca dapat
membayangkan

apa

yang

akan

dibahas

dalam

tulisan

tersebut. Pada bab ini jangan sampai memuat hal-hal yang


bertentangan atau yang langsung mengenai persoalan yang
akan ditulis. Dalam bab pendahuluan dikemukakan latar
belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah,
tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian. Namun tulisan
ilmiah yang tidak bersifat pemecahan masalah, atau problem
solving, tidak perlu mengemukakan anggapan dasar dan
hipotesis.
b. Bab Penguraian
Biasanya terdiri dari beberapa bab tergantung kebutuhannya.
Pada bagian ini permasalahan yang dirumuskan dalam bab
pendahuluan diuraikan secara luas dan terperinci, semua data
diolah, semua faktor yang membantu kejelasan masalah dibahas
sedalam-dalamnya. Segala teori dan pendapat para ahli yang
berhubungan dengan pemecahan permasalahan yang sedang
dihadapi dicantumkan secara lengkap. Dalam suatu bab tertentu
yang

menghendaki

adanya

pengolahan

data

(penelitian

lapangan), maka harus dijelaskan mengenai deskripsi data,


satuan, dan keseluruhan analisis data, interpretasi data, dan
tentang pengolahan data itu sendiri.
c. Bab Kesimpulan, Ulasan dan Implikasi
Dalam bagian kesimpulan dikemukakan secara singkat jelas
dan tegas hasil analisi data, tafsiran terhadap hasil analisis data
dan kesimpulan pengujian hipotesis. Kesimpulan sebagai hasil
penelitian, apakah hipotesis diterima atau ditolak. Setelah itu
diulas, misalnya mengapa

hipotesis diterima? Dan mengapa

hipotesis ditolak? Cari dalam bagian teori. Pada bagian akhir

disertai implikasi penelitian yang pada prinsipnya berisi saransaran yang dirasa perlu dalam penelitian tersebut.
3. Bagian penutup berisi:
a. Daftar Pustaka
Daftar pustaka atau disebut bibliografi merupakan sejumlah
sumber

yang

digunakan

penulis

dalam

menyelesaikan

tulisannya.23
b. Lampiran
Lampiran atau sering disebut apendiks biasanya disusun
setelah daftar pustaka dan sebelum indeks dengan memberikan
tulisan lampiran, nomor urut lampiran dan judul lampiran.
Lampiran berisikan tentang table-tabel yang tidak tercantum
dalam teks atau perincian perhitungan yang tidak terjabarkan
dalam perhitungan statistic. Selain itu, lampiran berisikan pula
gambar-gambar, bagan, peta, instrument penelitian, transkripsi,
pegangan kerja, rancangan penelitian, riwayat hidup dan lainlain.24
c. Indeks
Indeks memuat daftar istilah-istilah, nama-nama pengarang,
nama-nama tempat dan sebagainya yang disebut dalam tulisan
yang telah disusun. Hal ini untuk membantu pembaca dalam
mencari keterangan-keterangan mengenai seorang tokoh, pokok,
konsep, arti istilah asing dalam tulisan tersebut. Indeks harus
disusun secara alfabetis dan dibelakang tiap istilah atau nama
dituliskan pula nomor halaman, tempat istilah atau nama itu
dituliskan.25

F. Teknik Penulisan Karya Ilmiah


a) Ketentuan Umum
23 Ibid. 31
24 Ibid
25 Ibid. 32

Menurut Ekosusilo et. al (1995:19), bila kita ingin menulis karya ilmiah,
maka kita harus memperhatikan ketentuan-ketentuan umum yang berlaku bagi
penulisan ilmiah. Ketentuan-ketentuan itu antara lain:
a) Ukuran dan Macam Kertas
Kertas yang digunakan untuk membuat tulisan ilmiah adalah kertas
jenis HVS atau duplicator (laporan penelitian) ukuran kuarto.
b) Cara Pengetikan

1
Seluruh uraian ditik dengan jarak satu setengah spasi (1 2

spasi)

atau dua spasi (2 spasi), kecuali kutipan-kutipan panjang yang telah


ditetapkan cara pengetikannya. Tiap-tiap alinea baru dimulai dari
setelah tujuh pukulan tik kosong. Bila alinea ini berada di bawah anak
bab atau pasal yang jaraknya lebih dari tujuh pukulan tik, maka baris
pertama alinea baru ditik di bawah atau sejajar huruf pertama judul
diatasnya.
c) Margin
Sebelah atas dan kiri masing-masing 4 cm dan sebelah kanan dan
bawah masing-masing 3 cm. Pada halaman yang memuat bab baru,
margin atasnya kira-kira 6,5 cm untuk nomor bab, 8 cm untuk judul
bab, dan 9 cm untuk baris pertama pada halaman tersebut.
d) Nomor Halaman
Halaman-halaman bagian pendahuluan diberi nomor angka Romawi
kecil (i,ii,iii, dan seterusnya). Nomor halaman bagian isi ditempatkan di
tengah-tengah halaman bagian bawah dengan jarak kira-kira 1,5 cm
dari tepi bawah dengan menggunakan angka Arab (1,2,3, dan
seterusnya) untuk halaman yang berisi judul bab, dan di bagian atas
sebelah kanan dengan jarak kira-kira 1,5 cm dari atas dan 3,5 cm dari
kanan untuk halaman yang tidak berisi judul bab.
e) Halaman Judul
Judul ditik kira-kira 5cm dari pinggir atas dengan huruf besar semuanya
tanpa garis bawah. Bila judul lebih sebaris, maka jarak antara baris
pertama dengan baris kedua dan seterusnya kira-kira 3 spasi. Di
bawah judul kira-kira 2,5 cm ditulis etiket tulisan, misalnya Tesis atau
Laporan Penelitian. Pada jarak kurang lebih tiga spasi lagi ke bawah
ditulis keterangan mengenai etiket tadi, misalnya: Diajukan untuk

melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna mencapai


gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan IPA. Di bawahnya lagi,
kurang lebih berjarak 4 cm ditik kata oleh dengan mempergunakan
huruf kecil. Pada jarak kira-kira 2,5cm di bawahnya ditempatkan nama
penyusun dengan menggunakan huruf kapital, di bawahnya disertai
pula dengan nomor induk. Bila penulis lebih dari satu orang (lembaga)
maka hanya dicantumkan dari lembaga instansi mana (disertai dengan
data lain seperti DIP, bagian proyek, tolok ukur, dan sebagainya).
Akhirnya pada bagian yang terakhir, pada jarak kurang lebih 5 atau 7
cm ditik nama institusi atau perguruan tinggi mana kita menyelesaikan
tersebut, dilengkapi dengan nama tempat atau kota dan tahun tulisan
itu diselesaikan.
b) Kutipan
Kutipan

yaitu

pinjaman

kalimat

atau

pendapat

dari

seseorang

pengarang, atau ucapan seseorang yang terkenal, baik terdapat dalam bukubuku maupun majalah-majalah atau referensi lainnya. Tujuan dari kutipan yaitu
menghemat waktu; mengadakan sorotan,analisis, atau kritik; dan memperkuat
uraian.

26

Kutipan ada dua bentuk, yakni kutipan langsung dan kutipan tidak
langsung. Berikut penjelasan mengenai kedua bentuk kutipan:
a) Kutipan langsung
Pada kutipan langsung, kita mengutip secara keseluruhan pendapat
dari ahli tertentu tanpa sedikit pun mengubahnya. Jadi semua kalimat yang
diutarakan dikutip semua. Apabila yang dikutip kurang dari lima baris, maka
penulisannya langsung dalam barisan kalimat, tetapi dengan menggunakan
tanda petik ganda (....). Hal ini untuk membedakan antara kalimat penulis
dengan kalimat hasil kutipan (Ekosusilo et.al, 1995:39).

26 Dra. Siti Sahara, Teknik Penulisan Karya Ilmiah, http://perismatikilmu.blogspot.com, 2012, slide ke-6

Menurut Ekosusilo et.al (1995:39-40), apabila terjadi suatu kutipan


langsung yang lebih dari lima baris, maka penulisannya adalah sebagai berikut:

Kutipan ditulis atau ditik terpisah dari kalimat-kalimat kita sendiri;


Kutipan ditik pada garis baru dengan jarak empat spasi pukulan tik kosong

dari sisi margin;


Kutipan ditik rapat (satu spasi);
Kutipan tidak usah menggunakan tanda petik ganda pada awal dan akhir

kalimat;
Bila dalam kutipan panjang itu terdapat bagian yang diberi tanda petik
ganda, maka dalam tulisan kita, tanda tulisan ganda itu harus diganti
dengan tanda petik tunggal.
Kutipan langsung yang terlalu panjang boleh dipersingkat (dibuang

sebagian) sesuai dengan maksud kita. Cara tersebut disebut elipsis. Apabila kita
membuat elipsis harus diperhatikan hal-hal berikut ini:

Tidak boleh mengganti kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu dengan

kata-kata atau kalimat-kalimat kita sendiri;


Arti dan maksud yang dipersingkat tidak boleh berubah;
Kata-kata atau kalimat-kalimat yang kita hilangkan diganti dengan tanda
titik sebanyak tiga buah (...).
Bila dalam kutipan langsung terdapat kekeliruan tertentu misalnya

salah tik, salah ejaan, salah rumus, dan lain-lain, kita tidak boleh mengubah
atau memperbaikinya. Bila kita ingin memberi catatan atau menerangkan
kesalahan itu bukan kesalahan kita, tetapi begitu dalam aslinya, maka kita
dapat memberi tanda: sic! setelah bagian atau kata yang salah itu (Ekosusilo
et.al, 1995:41). Contoh: Demikian juga dengan data bahasa yang lain dalam
karya tulisan ini kami selalu berusaha mencari bentuk kata yang mengandung
makna [sic!] sentral/distribusi yang terbanyak bahan dari daftar Swadesh.27
Berikut istilah lain yang sering digunakan dalam penulisan ilmiah yaitu:

27 Ibid

Anon:

anonymous = tak dikenal

: copyright. Dipakai untuk menunjukkan copyright buku itu, jika


tahun penerbitan itu tidak disebutkan dalam halaman judul buku

ca

: circa = kira-kira sekitar.


menunjukkan waktu

Singkatan ini digunakan untuk

cf

: confer = bandingkan

eg

: exempli gratia = misalnya

ed. (eds)

: editor (penyunting); editor-editor; edisi; diedisikan

et.al

: et alii = dan orang-orang lain; untuk mengganti pengarang-pengarang


yang tidak disebut namanya

et. seq.seqq

: et sequens atau sequentes = dan halaman-halaman berikutnya; dan halhal berikut

f.ff

: and the following pages (halaman-halaman) berikutnya

i.e.

: id est = yaitu; yakni; ialah

infra

: lihat di bawah; menunjukkan bagian-bagian teks yang belum disebut

ms.mss

: manuskrip = naskah; manuskrip-manuskrip, baik tulisan tangan atau


pun bukan

passim

: tersebar di sana-sini; bahan yang dimaksud tersebar pada suatu


majalah/tempat tertentu

Ser

: seri

Sic!

: seperti pada aslinya; menyatakan suatu kesalahan tertentu yang


terdapat dalam naskah aslinya. Kutipan ini diambil apa adanya

supra

: lihat atas; menunjukkan bagian-bagian teks yang telah disebutkan

vid.;vide

: lihat

viz

: videlicet = artinya; yaitu. Singkatan ini dipakai sebagai pengantar


contoh-contoh atau daftar-daftar

cap atau chap : singkatan dari kata Caput (Latin) atau Chapter (Inggris) yang berarti
bab
vol

: volume = jilid; misalnya vol III maksdunya jilid III

ibid

: ibidem; pada tempat yang sama. Singkatan ini menunjukkan bahwa


sumber kutipan dalam tulisan itu sama dengan sumber kutipan yang
telah mendahuluinya secara langsung. Bila halaman saja yang tidak
sama, maka sesudah singkatan Ibid itu ditulis nomor halaman sumber
kutipan. Tetapi jika halaman juga sama, tidak perlu dituliskan apa-apa
sesudah singkatan Ibid.

Op.Cit.

: Opere citato: dalam buku (tulisan) yang telah disebut. Dipakai apabila
sumber kutipan dalam tulisan sama dengan sumber kutipan yang
mendahuluinya, tetapi telah diselingi dengan sumber lain yang
halamannya berbeda.

Loc.Cit.

: Loco citato: pada tempat yang telah disebut. Singkatan ini dipakai
untuk menyatakan bahwa sumber kutipan sama dengan sumber kutipan
yang telah mendahuluinya, juga halamannya sama, akan tetapi diselingi
oleh sumber-sumber yang lain.

Kutipan tak langsung


Menurut Ekosusilo et.al (1995:40), dalam kutipan tak langsung, yang dikutip adalah isi,
maksud atau jiwa pendapat ahli. Jadi dalam mengutip bukan kalimat demi kalimat seperti pada
kutipan langsung. Kutipan tak langsung ini penulisannya tanpa menggunakan tanda petik ganda,
ditulis dengan bahasa kita sendiri, tetapi pada akhir kutipan harus disertai pula dengan sumber
referensi (footnote).
c) Catatan Kaki
Catatan kaki (footnote) dipakai untuk memberikan keterangan yang dikemukakan pada
teks dan tabel. Tujuan dari catatan kaki yaitu:28

Untuk menyatakan hutang budi.


Memungut pendapat atau pernyataan penting atau kesimpulan dari penulis lain, baik berupa
kutipan langsung maupun tak langsung, sebenarnya penulis itu telah berbuat baik kepada
kita. Oleh karena itu, sebagai penulis yang mengutip sudah sepantasnya apabila membalas

budi baik mereka (baca:penulis) dengan mencantumkan namanya.


Untuk menyusun pembuktian.
Pencantuman sumber dalam catatan kaki dimaksudkan untuk menunjukkan tempat atau

sumber di mana suatu kebenaran itu telah dibuktikan oleh orang (ahli) lain.
Untuk menyampaikan keterangan tambahan.
Dengan catatan kaki penulis bertujuan menyatakan keterangan tambahan untuk memperkuat
uraian atau tulisan penulis. Keterangan itu dapat berupa: dari fragmen yang dipinjam,
informasi tambahan terhadap topik yang disebut dalam teks, pandangan-pandangan lain yang

tak bertentangan dan sebagainya.


Untuk merujuk bagian lain teks
Penulis ingin memberi catatan untuk memeriksa pada halaman atau bab sebelumnya atau bab
lain yang akan diuraikannya. Untuk maksud ini sering terdapat istilah singkatan seperti: cf.
atau conf. yang berarti bandingkan, infra yang berarti bawah, dan singkatan lain.

Menurut Ekosusilo et.al (1995:42) catatan kaki dibagi menjadi dua, yaitu
a) Catatan Kaki Tak Langsung
28 Ekosusilo (dkk), Op.Cit., hal 47

Catatan kaki tak langsung adalah penyertaan sumber referensi/sumber pustaka yang tidak langsung
disertakan pada kutipan yang kita acu, tetapi penulisannya pada halaman bawah ataupun pada
halaman akhir. Cara pembuatan catatan kaki tak langsung yaitu:

Sediakan tempat secukupnya untuk membuat keterangan tentang sumber kutipan di bagain

bawah halaman yang ada kutipannya. Dalam satu halaman bisa lebih dari satu catatan;
Setelah baris terakhir pada halaman tersebut berilah jarak tiga spasi, kemudian buat garis dari

pinggir kiri margin sebanyak 14 pukulan tik;


Tulislah nomor kutipan setelah tujuh pukulan tik kosong dengan jarak satu spasi dari garis

tadi;
Setelah angka nomor kutipan ditik, beri jarak lagi setengah spasi, kemudian mulailah

menuliskan keterangan tentang sumber yang dikutip;


Sumber kutipan yang disebut dalam catatan kaki jika kemudian disebutkan lagi pada
halaman-halaman berikutnya, maka tidak perlu dituliskan dengan lengkap lagi, tetapi cukup

menggunakan singkatan: ibid., op.cit., dan loc.cit.


Berturut-turut penulisannya adalah sebagai berikut:
o Nama pengarang tanpa membaliknya dengan diikuti tanda koma (,)
o Judul buku atau judul artikel dicetak miring dengan diikuti tanda koma (,)
o Penerbit diikuti tanda koma (,)
o Kota terbit diikuti tanda koma (,)
o Tahun terbit diikuti tanda koma (,)
o Halaman (hal.) diikuti tanda koma (,)
o Nama penulis diikuti Op.Cit. dan Loc.Cit., hanya ditulis nama keluarga atau nama
marga saja.

b) Catatan Kaki Langsung


Dalam penulisan catatan kaki langsung ini penyertaan sumber pustaka langsung
disebutkan setelah kutipan dengan menyebutkan berturut-turut: nama pengarang diikuti koma (,),
tahun terbit diikuti tanda titik dua (:), dan nomor halaman, yang semua itu terdapat dalam tanda
kurung (()). Tetapi seandainya pengarang telah disebut terlebih dahulu, maka tinggal menuliskan
tahun terbit dan nomor halaman dalam kurung. Contoh:
W.H. Hudson menyatakan adanya puisi subjektif dan puisi objektif (1959:96). Cleant Brooks
(1975:335-356) menyebut adanya puisi naratif dam puisi deskriptif. Sedang ahli sastra yang lain
menyebut adanya puisi fisik, puisi platonik, dan puisi metafisik (Daiches, 1948:145).
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penulisan catatan kaki langsung adalah apabila
menjumpai buku yang berbeda namun ditulis oleh pengarang yang sama pada tahun yang sama,
maka perlu penyertaan huruf kecil dibelakang tahun buku tersebut. Hal ini untuk memudahkan

pencarian pada daftar pustaka tentang buku yang diacu oleh penulis. Misalnya kita mengutip dua
buku Henry Guntur Tarigan yang tahun penerbitannya sama. Buku pertama adalah Menulis dan
yang kedua adalah Prinsip-Prinsip Dasar Sintaksis. Pada waktu kita mengutip pendapatnya,
misalnya dalam buku Menulis, kita dapat mencantumkan urut-urutan sebagai berikut (Tarigan,
1983a:7). Sedang pada kesempatan yang lain kita mengutip buku Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis kita
dapat menuliskannya seperti berikut (Tarigan, 1983b:43).
Apabila kita mengutip sebuah sumber tetapi sumber yang kita kutip itu merupakan hasil
kutipan orang kedua, maka penulisannya harus disela dengan tanda titik koma (;). Sebagai misal, kita
mengutip pendapat H.L.B. Moody tetapi sudah dikutip oleh Herman Walujo, dan kita mengutipnya
dari buku Herman Waluyo tersebut, maka penulisannya berturut-turut adalah sebagai berikut (H.L.B.
Moody, 1971:67; Herman Waluyo, 1985:70).

Dalam hubungannya dengan penulisan catatan kaki, maka perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:
Semua catatan kaki yang telah disebut harus merupakan sumber yang benar-benar dikutip,
atau kalau mengutip dari sumber lain, harus dicantumkan pula sumber lain tersebut;
Semua catatan kaki yang telah disebut harus tercantum dalam daftar pustaka;
Bila pengarang lebih dari tiga orang, cukup ditulis nama pengarang yang pertama dan diikuti
et.al dalam kurung;
Bila sumber kutipan tidak diketahui nama pengarangnya, maka ditulis nama sumbernya saja,
kemudian diikuti data lainnya;
Bila sumber karangan itu merupakan kumpulan (antologi) cukup ditulis nama editornya saja
setelah nama pengarang dengan menyingkatnya ed. dalam kurung.

d) Daftar Pustaka
Daftar pustaka berisisemua sumber kepustakaan yang dipergunakan
dalam penulisan. Sumber kepustakaan ini dapat berupa: buku, majalah, surat
kabar, kertas kerja, ensiklopedi, dan bahan penerbitan lain sebagai sumber
referensi yang bertalian dengan tulisan yang kita kerjakan. Daftar pustaka
atau Kepustakaan atau Bibliografi pada prinsipnya memiliki fungsi yaitu:
Sebagai alat untuk melihat kembali kepada sumber aslinya;

Sebagai pelengkap dari sebuah catatan kaki, yang digunakan untuk


mengetahui lebih jauh tentang sumber acuan yang terdapat pada catatan
kaki tersebut.
Penulisan daftar pustaka disusun secara alfabetis, dari A sampai Z,
dengan patokan dari huruf pertama nama keluarga (suriname) penulisnya.
Secara keseluruhan penulisan daftar pustaka itu berturut-turut sebagai
berikut:
a) Nama pengarang dengan mencantumkan nama akhir dan tanpa
menggunakan gelar atau derajat kesarjanaannya. Penulisan nama
apabila lebih dari satu pola (kata), penulisannya harus dibalik dengan
disertai penggunaan tanda koma (,) dan diakhiri dengan tanda titik (.).
b) Setelah nama pengarang tercantum, maka dituliskan tahun penerbitan
buku tersebut dan diberi tanda titik (.).
c) Setelah penulisan tahun terbit, dicantumkan nama buku tersebut
dengan disertai garis bawah (_), dan tanda petik (...) apabila
merupakan judul artikel yang dimuat dalam surat kabar, majalah,
buletin, buku, dan sebagainya dengan disertai tanda titik
d) Setelah nama buku tercantum, maka dituliskan kota penerbitan buku
atau majalah tersebut diterbitkan dan disertai dengan tanda titik dua
(:).
e) Pada bagian akhir, setelah dicantumkan kota penerbitan dicantumkan
penerbit mana yang menerbitkan buku atau majalah tersebut dan
diakhiri dengan tanda titik (.).
f) Apabila nama pengarang lebih dari satu orang, penulisan nama
pengarang kedua dan berikutnya tidak dibalik.
g) Apabila nama pengarang lebih dari tiga orang, maka ditulis nama
pengarang yang paling depan dengan diikuti kata et.al atau dkk. dalam
kurung.
Contoh

Karya satu penulis

Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial: Dasar-Dasar dan


Aplikasi. Cetakan Pertama. Jakarta: CV Rajawali.

Karya dua penulis

Adi, Rianto dan Heru Prasadja. 1991. Langkah-Langkah Penelitian Sosial.


Cetakan I. Jakarta: Penerbit Acan.

Karya tiga penulis atau lebih

Primariantari; Rika Pratiwi; Ilsa Newlan dan Gail Maria Hardy. 1998. Perempuan
dan Politik Tubuh Fantastis. Cetakan Ke-1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suroso, Hadi (et.al). 1998. Bahasa dan Sastra Indonesia SMA. Klaten: Intan.
Idris, ZH (dkk). 1982. Bahasa Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Penulis dengan berbagai karya


Jika menggunakan beberapa buku yang ditulis oleh pengarang yang sama

maka penulisannya pun berbeda. Buku-buku yang diterbitkan pada tahun yang
sama ditulis seperti:
Agung, I Gusti Ngurah. 1992a. Metode Penelitian Sosial: Pengertian dan
Pemakaian Praktis. 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Agung,

Gusti

Ngurah.

Kependudukan.

1992b.

Analisis

Regresi

Ganda

untuk

Data

Bagian I. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan

Universitas Gadjah Mada.

Penulis tidak jelas

Anonimous. 2000. GBHN: Ketetapan MPR-RI 1993. Jakarta: Anugrah Karya


Aksara.

Buku terjemahan

Wolf, Naomi. 1997. Gegar Gender. Omi Intan Naomi (penerjemah). Yogyakarta:
Pustaka Semesta Press.

Terbitan lembaga

Departemen

Kehutanan

dan

Perkebunan.

Berkelanjutan Cerminan Iman dan Takwa.

1999.

Pembangunan

Hutan

Artikel majalah

Ratningdiah. 2000. Pembangunan Perspektif Gender. Info Bappeda NTB. Edisi


Mei. Hlm. 20-30.

Pustaka berupa laporan penelitian

Arga, Wayan (et.al). 1993. Sistem Pengelolaan Jaringan Irigasi di Subak Timpag
dan Subak Lodtunduh. Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas
Udayana.

Pustaka berupa Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Utari, Desak Ketut Ratna. 1999. Peranan Desa Adat dalam Menunjang Sektor
Pariwisata. Skripsi tidak dipublikasikan. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian, Universitas Udayana Denpasar.

Artikel surat kabar

Artika, I Wayan. Strategi Kebudayaan Berbasis Sekolah. 2001. Bali Post.


Kamis, 11 Januari, Th. Ke-53, No. 143, hlm. 7, kol. 3-4.

DAFTAR PUSTAKA
Ekosusilo, Madya dan Bambang Triyanto. 1995. Pedoman Penulisan Karya
Ilmiah. Semarang: Dahara Prize.
Kusmana, Suherli. 2010. Merancang Karya Tulis Ilmiah. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Lindsay, David. 1988. Penuntun Penulisan Ilmiah. Jakarta: UI-Press.
Wirartha, I Made. 2005. Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis.
Yogyakarta: Penerbit Andi