Anda di halaman 1dari 12

MAKNA DAN HAKEKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Mata Kuliah Umum : Psikologi Pendidikan


Dosen Pengampu : Bapak Abdul Aziz

Disusun oleh :
Kelompok 2
1.
2.
3.
4.

Rima Nuzulun Nikmah


Riska Monika
Andri Widi Purnomo
Dwi Saputro

(2303415016)
(4001415025)
(4401415054)
(5202415041)

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


Tahun Akademik 2016/2017
MAKNA DAN HAKIKAT PSIKOLOGI PENDIDIKAN

A. Pengertian dan makna Psikologi Pendidikan


Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos
yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu
jiwa. Defenisi berikut ini menunjukkan beragamnya pendapat para ahli tentang
psikologi (Sobur, 2003). Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semua
tingkah laku dan perbuatan individu, dimana individu tersebut tidak dapat dilepaskan
dari lingkungannya. (ahmadi,1991)
Pendidikan dari kata didik, lalu kata ini mendapat awalan me sehingga
menjadi mendidik, artinya memelihara dan member i ahklak dan kecerdasan fikiran.
Selanjutnya menurut KBBI proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan,
Psikologi pendidikan merupakan

kajian tentang manusia belajar dilatar

pendidikan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pembelajaran, dan psikologi


social tentang sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan
bagaimana siswa belajar dan berkembang, dan sering terfokus pada sub kelompok
seperti berbakat anak-anak dan mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat .
(Rifai,2015)
1. Ernesrt Hilgert (1957) dalam bukunya Introduction to Psychology:
Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and
other animal etc. (psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia
dan hewan lainnya).
2. George A. Miller dalam bukunya Psychology and Communication:
Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental
and behavioral events (Psikologi merupakan ilmu yang berusaha menguraikan,
meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku).
3. Clifford T. Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology:
Psychology is the science of human and animal behavior (Psikologi adalah ilmu
yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan)
4. Robert S. Woodworth dab Marquis DG dalam bukunya Psychology:

Psychology is the scientifict studies of individual activities relation to the


inveronment (Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas
atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitar).
Jadi pada dasarnya, psikologi itu menyentuh banyak bidang kehidupan dan
organisme, baik manusia maupun hewan. Namun, meskipun demikian, secara lebih
spesifik psikologi sering dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia.
Psikologi pendidikan selalu berkaitan dengan bagaimana peserta didik itu
belajar dan berkembang, kajiannya terfokus pada anak-anak berbakat dan anak-anak
yang mengalami hambatan belajar. Psikologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai
psikologi belajar dan mengajar karena para pakar psikologi pendidikan banyk
meluangkan waktunya untuk mengkaji, mendeskripsikan, dan memperbaiki kegiatan
belajar mengajar. (Rifai,2015)
Dalam pengembangan pengertian psikologi pendidikan, mayer (1987) mulai
membedakan antara pendekatan behavioral dan kognitif, pendekatan behavioral
berkaitan dengan penentuan hubungan antara manipulasi pembelajaran dengan kinerja
atau hasil pembelajaran. Berbeda dengan itu, dalam pendekatan kognitif berkaitan
dengan penentuan hubungan antara factor internal dan eksternal dalam proses belajar
mengajar. Factor internal meliputi proses belajar, hasil belajar, pengetahuan dan
keterampilan peserta didik. Factor eksternal meliputi manipulasi pembelajaran dan
kinerja atau hasil pembelajaran. (Rifai,2015)
Dari berbagai pandangan terebut dapat disimpulkan

b ahwa pendidikan

merupakan cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami


pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. (Rifai,2015)
B. Peranan Psikologi Pendidikan
Psikologi dan ilmu pendidikan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya,
karena antara psikologi dengan ilmu pendidikan mempunyai hubungan timbal balik.
Ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup
manusia sejak ia lahir sampai mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik jika
tidak dibarengi dengan psikologi. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang
ditunjukkan oleh psikologi. Oleh karena begitu eratnya hubungan antara psikologi
dengan ilmu pendidikan, maka lahirlah yang namanya psikologi pendidikan. Dasar-

dasar psikologis ini sangat dibutuhkan para pendidik untuk mengetahui prilaku anak
didiknya, apakah anak didiknya dalam keadaan yang baik saat berlangsungnya
kegiatan pembelajaran, atau dalam keadaan yang tidak baik. Kalau demikian, pendidik
sangat membutuhkan pengetahuan ini untuk mengatasi anak didik yang seperti itu dan
memotivasinya agar tetap dalam keadaan yang semangat dalam belajar. Selain untuk
mengetahui

prilaku

anak

didiknya,

dasar-dasar

psikologis

ini

juga

dapat

mengendalikan prilaku para pendidik dan memberikan prilaku yang lebih bijaksana
dalam menghadapi keanekaragaman karakteristik anak didiknya. Seorang pendidik
memang sangat membutuhkan pengetahuan seperti ini, agar dalam proses
pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan dan tentunya dapat
berhasil mencapai tujuan dengan cemerlang sesuai dengan lembaga pendidikan itu.
Dengan pengertian diatas psikologi pendidikan memiliki peranan penting
dalam proses pendidikan yaitu :
1. Tujuan pendidikan
Dalam tujuan pendidikan psikologi pendidikan memberikan konstribusi
penting menganai pemecahan masalah yang dihadapi oleh pendidik dalam
merumuskan tujuan pembelajaran. Pakar psikologi pendidikan menyatakan bahwa
tujuan pembelajaran hendaknya menyatakan apa yang peserta didik mampu
lakukan dan apa

yang akan peserta didik itu lakukan jika mereka diberi

kemsempatan.(Rifai,2015)
2. Karakteristik peserta didik
Dalam karakteristik peserta didik psikologi pendidikan memberikan
konstribusi dengan cara membantu pendidik memperhatikan karakteristik dan
perilaku peserta didik sebelum pembelajaran dimulai.(Rifai,2015)
3. Proses belajar
Dalam hal ini pendidik dituntut memahami proses belajar peserta didik
karena cara yang berbeda dalam mempelajari materi pembelajaran tyang berbeda
akan diperoleh hasil yangg berbeda pula.(Rifai,2015)
4. Strategi pembelajaran
Para pakar psikologi pendidikan menyatakan bahwa pemilihan strategi
pembelajaran adalah sama pentingnya dengan unsur-unsur pembelajaran lainnya.

Strategi pembeljaran ini berkaitan dengan prosedur membantu peserta didik


bergerak dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup dalam
setiap pembelajaran, sehingga peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
(Rifai,2015)
5. Evaluasi pembelajran
Pendidik dituntut mampu melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar atau
perolehan hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Kegiatan ini disebut evaluasi.
Evaluasi dapat dilakukan pada awal kegiatan pembelajaran untuk mengetahui
kemampuan bawaan peserta didik sebelum mengikuti proses pembelajaran. Namun,
bisa juga dilakukan pada akhir pembelajaran untuk mengetahui perolehan peserta
didik terhadap tujuan pembelajaran. Dalam hal ini psikologi pendidikan
berkonstribusi tentang perumusan instrumen evaluasi, pelaksanaan ujian, analisis
hasil evaluasi, dan penafsiran hasil evaluasi.(Rifai,2015)

C. Pendidik sebagai Agen Pembelajaran


1. Hakekat Pendidik Profesional
Banyak orang beranggapan bahwa pendidik yang bak adaah yang memiliki rasa humor
yang tinggi, berkepribadian hangat dan peduli kepada peserta didik. Sebagian lain beranggapan
bahwa pendidik yang baik yaitu pendidik yang bekerja keras dan memiliki disiplin tinggi.
Sebagian lainnya ada juga yang berpandangan bahwa pendidik yang baik yaitu pendidik yang
sua belajar dan memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif. Pada dasarnya pandangan
tersebut tidak salah, namun tidak juga seluruhnya benar. Karena pendidik yang baik harus
memiliki persyaratan akademik dan kompetensi tertentu.
Pendidik merupakan jabatan profesional dan memberikan layanan ahli dan menuntut
persyaratan kemampuan yang secara akademik dan pendagogismaupun secara profesional dapat
diterima oleh pihak dimana pendidik bertugas, baik penerima jasa layanan secara langsung
maupun pihak lain siapa pendidik bertanggung jawab.
Pendidik sebagai penyandang jabatan profesional harus disiapkan melalui program
pendidikan yang relatif panjang dan dirancang berdasarkan standar kompetensi pendidik. Oleh
karena itu diperlukan waktu dan keahlian untuk membekali para lulusannya dengan kompetensi,

yaitu penguasaan bidang studi, landasan keilmuan dari kegiatan mendidik, maupun strategi
menerapkannya secara profesional di lapangan.
Sebagai pendidik profesional, penguasaan bidang studi bersifat terisolasi. Dalam
melaksanakan tugasnya penguasaan bidang studi terintegrasi dengan kemampuan memahami
peserta didik, merancang pembelajaran, melaksanakan proses dan hasil pembelajaran. Sebagai
seorang profesional, pendidik harus mengenal siapa dirinya, kekuatan, kelemahan, kewajiban
dan arah pengembangan dirinya, dunia yang selalu berubah menyebabkan tuntutan yang dinamis
pula terhadap kecakapan pendidik. Karenanya pendidik harus pandai memilih strategi yang
efektif untuk mengembangkan diri secara terus menerus.
Kepribadian pendidik merupakan hasil pembentukan pengalaman belajar yang bukan
hanya terjadi dalam proses pembelajaran secara langsung, tetapi terintegrasi dalam dampak
ikutaan (nurturant effect) kegiatan pembelajaran dan pengalaman-pengalaman panjang
sebelumnya. Kemampuan pendidik dengan berinteraksi dengan peserta didik adalah suatu proses
transaksional yang sangat khas dan non rutin. Hal ini berbeda dengan interaksi pendidik dengan
sejawat, orang tua dan masyarakat sekitar bersifat kontekstual. Sifat dan kualitas interaksi antara
pendidik dengan peserta didik menuntut kecakapan memilih strategi yang relevan karena sifat
interaksi berkembang secara dinamis. Sementara karakteristik subjek dengan siapa ia
berkomunikasi berbeda dengan satu dengan lainnya baik karena faktor budaya, usia dan
kedudukannya. Dengan demikian pendidik yang bermutu memungkinkan lulusannya:
1. Menunjukkan seperangkat kompetensi sesuai dengan standar yang berlaku.
2. Mampu bekerja dengan menerapkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi dalam
memberikan layanan seorang ahli.
3. Mematuhi kode etik profesi pendidik yang memintanya bertindak sesuai norma
4.
5.
6.
7.
8.

kepatutan.
Bekerja dengan penuh dedikasi.
Membuat keputusan secara mandiri maupun secara bersama.
Menunjukkan akuntabilitas kinerjanya kepada pihak-pihak terkait.
Bekerja sama dengan sejawat dan pihak lain yang relevan.
Secara berkesinambungan mengembangkan diri baik secara mandiri maupun melalui
asosiasi profesi.

Agar calon pendidik mampu melakukan hal-hal tersebut, diperlukan bukan saja persiapan
yang bersift akademik, namun juga pengalaman intensif dalam menerapkan prinsip-prinsip
akademik tersebut dalam situasi nyata di sekolah.
2. Kompetensi Pendidik
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional dan UndangUndang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa pendidik wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik
tersebut diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diplomat empat.
a. Kompetensi Pendagogik
Kompetensi pendagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang
meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pendagogik tersebut selanjutnya dijabarkan secara rinci dalam bentuk
kompetensi inti sebagai berikut :
1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional,
2)
3)
4)
5)

dan intelektual.
Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
Menguasai kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
Terampil melakukan kegiatan yang mendidik.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelanggaraan

kegiatan pengembangan yang mendidik.


6) Memfasilitasi pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik.
8) Terampil melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
10) Melakuka tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) mempunyai peran strategis
dalam mempersiapkan calon pendidik yang kelak mereka performansinya memenuhi standar

kompetensi yang sudah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan. Terkait dengan harapan tersebut, calon pendidik hendaknya
mendukung pencapaian kompetensi tersebut, khususunya berkaitan dengan proses pembelajaran.
Beberapa alternatif yang dapat ditempuh untuk pengembangan kompetensi pendagogik
adalah sebagai berikut:
1) Setiap pembelajaran yang berkaitan dengan pembuatan rancangan pembelajaran,
pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran dan evaluasi hasil belajar, mahasiswa
dituntut melakukan praktik tentang kaian tersebut dan hasilnya dikaji layaknya dalam uji
kompetensi.
2) Pembelajaran dengan nuansa humanis perlu ditekankan pada calon pendidik, sehingga
mereka dapat terbentuk Sense of Sensitivity terhadap peserta didik tatkala mengajar di
sekolah kelak.

D. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Program Pendidikan


Kontribusi psikologi pendidikan terhadap pengembangan program pendidikan
antara lain sebagai berikut :
1. Pengembangan program pendidikan, misalnya penyusunan jadwal pelajaran, jadwal
ujian, dst. Hal ini tidak bisa lepas dari aspek psikologis peserta didik;
2. Untuk menyusun jadwal pelajaran diperlukan pengetahuan

psikologi

pendidikan.Tingkat kesukaran mata pelajaran berbeda-beda untuk setiap mata


pelajaran. Agar seluruh materi pelajaran dapat diterima dengan baik oleh siswa, perlu
penyusunan jadwal pelajaran dengan mempertimbangkan tingkat kesukarannya baik
urutannya maupun waktunya. Misalnya mata pelajaran matematika ditempatkan pada
jam pertama agar dapat diterima dengan baik oleh siswa, sedangkan mata pelajaran
seni ditempatkan pada jam terakhir untuk meningkatkan gairah belajar siswa yang
sudah lelah oleh berbagai materi pelajaran yang berat sebelumnya
3. Penentuan jurusan atau program;
4. Pengembangan program harus mengacu pada upaya pengembangan kemampuan
potensial peserta didik.
E. Metode Psikologi

Dalam

proses

pengembangan

program

pendidikan

tersebut,

Psikologi

mempunyai banyak metode. Beberapa diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut.


1. Metode Eksperimental
Metode ekperimental merupakan observasi atau pengamatan terhadap suatu kejadian
atau gejala yang berlangsung di bawah kondisi atau syarat tertentu. Dalam psikologi,
metode ini bermaksud menyelidiki pengaruh kondisi tertentu terhadap tingkah laku
individu.
2. Metode Non Eksperimen
a. Metode Observasi
Metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk mempelajari
tingkah laku anak-anak, interaksi sosial, aktivitas keagamaan, peperangan,
aktivitas kejahatan, dan kejadian lain yang tidak dapat dieksperimenkan. Pada
hakikatnya, metode eksperimen merupakan metode observasi yang dibatasi
dengan menciptakan kondisi-kondisi tertentu.
b. Metode Studi Kasus
Metode ini terutama digunakan oleh dokter atau ahli psikologi klinis ketika
mereka mengobati pasien. Si ahli psikologi mencoba untuk mengkontruksi
kehidupan masa lalu subjek berdasarkan ingatannya, laporan anggota
keluarga, dan rekaman lain. Studi kasus dalam psikologi merupakan suatu
penjelasan tentang seseorang dalam suatu situasi, dan suatu rekonstruksi dan
interpretasi terhadap suatu episode penting dalam kehidupan seseorang. Studi
kasus tidak harus tentang seseorang yang menyimpang atau situasi yang tidak
biasa, tapi bisa tentang seseorang yang biasa dalam situasi yang biasa,
misalnya bagaimana cara seseorang mengatasi masalahnya dalam pekerjaan.
Studi kasus biasanya penelaahan secara mendalam terhadap suatu episode
singkat, penting, atau kritis dalam kehidupan seseorang.
c. Metode Survey
Survey adalah suatu metode yang bertujuan mengumpulkan sejumlah besar
variabel mengenai sejumlah besar individu melalui alat pengukur wawancara
(Vrendenbregt, 1981: 44). Defenisi tersebut dapat diurakan sebagai berikut:
i. Individu adalah satuan penelitian.

Data dikumpulkan melalui individu dengan tujuan agar melalui generalisasi,


kita dapat menarik kesimpulan mengenai suatu kelompok masyarakat.
ii. Variabel yang dikumpulkan dalam metode survey pada prinsipnya
tidak terhingga banyaknya, mulai dari variabel seperti latar belakang
responden berupa jenis kelamin, agama, dll, sampai sikap dan
pandangan responden, lingkungan sosial manusia, kelakuan manusia,
dan juga mengenai ciri-ciri khas demografis dari suatu kelompok
manusia.
iii. Alat pegukur yang dipakai adalah wawancara berupa daftar
pertanyaan yang berbentuk suatu schedule atau suatu kuisiner, yang
biasanya sangat berstruktur. Pada dasarnya, survey mempunyai dua
lingkup, yaitu survey sensus dan survey sampel.Sensus adalah survey
yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan; sedangkan survey
sampel adalah survey yang hanya dilakukan pada sebagian kecil dari
suatu populasi yang bersifat representative. Survey berguna bagi
politikus dan pengiklan, serta bermanfaat juga bagi ahli psikologi,
terutama jika hendak meneliti topic-topik seperti efek perumahan
pada kemampuan membaca atau berbagai cara mendisiplinkan anak
pada berbagai etnis.

d. Metode Korelational
Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara berbagai variabel.
Dengan kata lain,metode korelasional bermaksud mendeteksi sejauh mana
variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi atau
lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasinya (Usman & Akbar, 1996:
5).

Contoh:
Studi yang mempelajari tentang hubungan kedisiplinan orang tua dengan
prestasi belajar peserta didik

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu.1991.Psikologi Umum.Semarang: Rineka Cipta
http://harunnilah.blogspot.co.id/2013/11/hakikat-peranan-dan-ruang-lingkup.html
http://kbbi.web.id/hakikat (Diakses pada 12 September 2016)

http://teoribagus.com/hakikat-konsep-dasar-psikologi-pendidikan (Diakses pada 12


September 2016
Rifai, Achmad, dkk.2015.Psikologi pendidikan.Semarang: Unnes Press