Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN TUBERKULOSIS PARU + HAEMOPTOE

A. Pengertian
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Kuman ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. Basil tuberkel ini
berukuran 0,3 x 2 sampai 4 m, ukuran ini lebih kecil dari satu sel darah merah.
Hemaptoe adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas
sehingga timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24
jam. Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari
pembuluh darah pada dinding kapitas.(Hood Al sagaff dkk:1995;85-86).
Hemoptisis adalah darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran
pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri
jika asal robekan pembuluh darah tidak luas , sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi .
(Hood Alsagaff, 1995, hal 301)
Batuk darah adalah suatu keadaan menakutkan/mengerikan yang menyebabkan beban
mental bagi penderita dan keluarga penderita sehingga menyebabakan takut untuk berobat ke
dokter .

B. Etiologi
Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang berbentuk batang
dan Tahan asam ( Price , 2000 ).
Penyebab Tuberculosis adalah M. Tuberculosis bentuk batang panjang 1 4 /
m. selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi yang sama yaitu M. Bovis, M. Kansasii, M.
Intracellutare.Dengan tebal 0,3 0,5
C. Patofisiologi

D. Klasifikasi
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan
riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor
determinan untuk menetapkan strategi terapi. Klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut:
1. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
a) Dengan atau tanpa gejala klinik
b) BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali disokong biakan positif satu
kali atau disokong radiologik positif 1 kali.
c) Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
2. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
a) Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif
b) BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.
3. Bekas TB Paru dengan kriteria:
a) Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negative
b) Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.

c) Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial foto yang tidak
berubah.
d) Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
E. Gejala klinis
Tuberkulosis sering dijuluki the great imitator yaitu suatu penyakit yang mempunyai
banyak kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah dan
demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga diabaikan bahkan
kadang-kadang asimptomatik.
Gambaran klinik TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan, gejala respiratorik dan gejala
sistemik:
1. Gejala respiratorik, meliputi:
a. Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan.
Mula-mula bersifat non produktif kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darah
terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar
kecilnya pembuluh darah yang pecah.
c. Sesak napas
Gejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal
yang menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila
sistem persarafan di pleura terkena.
2. Gejala sistemik, meliputi:
a. Demam

Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip
demam influenza, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya. Sedangkan masa
bebas serangan makin pendek.
b. Gejala sistemik lain
Keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise. Timbulnya gejala
biasanya gradual dalam beberapa minggu-bulan, akan tetapi penampilan akut dengan batuk,
panas, sesak napas walaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala pneumonia.
Gejala klinis Haemoptoe:
Kita harus memastikan bahwa perdarahan dari nasofaring dengan cara membedakan ciri-ciri
sebagai berikut :
1. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar berwarna merah muda
d. Darah bersifat alkalis
e. Anemia kadang-kadang terjadi
f. Benzidin test negative
2. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah berwarna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersifat asam
e. Anemia seriang terjadi
f. Benzidin test positif
3. Epistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah berwarna merah segar

d. Darah bersifat alkalis


e. Anemia jarang terjadi
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah : - Leokosit sedikit meninggi
- LED meningkat
2. Sputum : BTA
Pada BTA (+) ditermukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman pada satu sediaan dengna kata
lain 5.000 kuman dalam 1 ml sputum.
3. Test Tuberkulin : Mantoux Tes (PPD)
4. Roentgen : Foto PA

G. Medikamentosa
Jenis obat yang dipakai
Obat Primer - Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
6. Tiasetazon
7. Viomisin
8. Kapreomisin
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES.2000 yaitu :
Tahap INTENSIF
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya
kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA

positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat dalam tahab
intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Tahap lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih panjang dan jenis obat lebih
sedikit untuk mencegah terjadinya kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman
persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
Panduan obat kategori 1 :
Tahap

Lama

(H) / day

R day

Z day

F day

Jumlah
Hari X

Intensif

2 bulan

Nelan Obat
60

Lanjutan

4 bulan

54

Panduan Obat Kategori 2


Tahap

Intensif

Lama

(H)

Strep.

Jumlah

@30

@450

@500

@50

Injeks

Hari X

mg

mg

250

Nelan

mg
-

0,5 %

Obat
60

mg
1

mg
3

bulan

30

1
Lanjuta

bulan
5

bulan

66

Panduan Obat Kategori 3


Tahap

Lama

H @ 300 R@450m

P@500m

Hari

Intensif

2 bulan

mg
1

g
1

g
3

Obat
60

Lanjutan

4 bulan

54

3 x week

Nelan

OAT Sisipan
Tahap

Lama

@300mg @450m
Intensif

1 bulan

g
1

E day

Nelan X

@500mg @250mg Hari


3

30

(dosis
harian)
H. Kegagalan Pengobatan
Sebab-sebab kegagalan pengobataan :
a. Obat : - Paduan obat tidak adekuat
- Dosis obat tidak cukup
- Minum obat tidak teratur / tdk. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
- Jangka waktupengobatan kurang dari semestinya
- Terjadi resistensi obat.
b. Drop out : - Kekurangan biaya pengobatan
- Merasa sudah sembuh
- Malas berobat
c. Penyakit : - Lesi Paru yang sakit terlalu luas / sakit berat
- Ada penyakit lainyang menyertai contoh : Demam, Alkoholisme dll
- Ada gangguan imunologis
I. Penanggulangan Khusus Pasien
a. Terhadap penderita yang sudah berobat secara teratur
- menilai kembali apakah paduan obat sudah adekuat mengenai dosis dan cara pemberian.
- Pemeriksaan uji kepekaan / test resistensi kuman terhadap obat
b.Terhadap penderita yang riwayat pengobatan tidak teratur
3 bulan dengan evaluasi bakteriologis tiap-tiap bulan.- Teruskan pengobatan lama
- Nilai ulang test resistensi kuman terhadap obat
- Jangka resistensi terhadap obat, ganti dengan paduan obat yang masih sensitif.

c. Pada penderita kambuh (sudah menjalani pengobatan teratur dan adekuat sesuai
rencana tetapi dalam kontrol ulang BTA ( +) secara mikroskopik atau secara biakan )
1. Berikan pengobatan yang sama dengan pengobatan pertama
2. Lakukan pemeriksaan BTA mikroskopik 3 kali, biakan dan resistensi
3. Roentgen paru sebagai evaluasi.
4. Identifikasi adanya penyakit yang menyertai (demam, alkoholisme / steroid jangka lama)
5. Sesuatu obat dengan tes kepekaan / resistensi
6. Evaluasi ulang setiap bulannya : pengobatan, radiologis, bakteriologis.

II. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Data subjektif :
Identitas pasien :
Nama : Tuan X
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 20 tahun
Agama : Hindu
Status : Kawin
Pendidikan/pekerjaan : SMA/buruh pabrik
Alamat : Jl. Pengeng
Diagnosa medis : Tuberculosis paru
Rujukan : Keluarga
Keluhan utama pasien: Pasien mengeluh batuk terus-menerus sudah lebih dari 1 bulan, batuk
berdahak, nyeri dada, serta kelelahan.
Riwayat penyakit dahulu :
Penyakit utama dan pernah dirawat dirumah sakit

Tidak pernah dirawat dirumah sakit


Alergi
Pasien tidak pernah mengalami alergi obat.
Riwayat penyakit keluarga
Ada keluarga yang menderita TB paru dan ada keluarga yang memiliki kebiasaan merokok
Riwayat psikososial
Pekerjaan
Bekerja di daerah penambangan logam berat
Lokasi geografi
Daerah yang berpolusi tinggi dan kumuh.
Lingkungan tempat tinggal
Di tempat tinggal pasien ada keluarga yang menderita TB
Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan rokok.
Latihan
Pasien mengatakan sering batuk pada saat beraktivitas.
B. Pemeriksaan Fisik
Data objektif :
Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan
Napas pendek karena kerja
Tanda : Takikardi (108 x/mnt)
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut)
Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang (skala 6)
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit
Perilaku distraksi, gelisah
Pernapasan
Gejala : Batuk, produktif
Napas pendek (32 x/mnt)

Riwayat terpajan pada individu terinfeksi


Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura).
Pengembangan pernapasan tak simetris (effusi pleural).
Perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural/penebalan pleural), bunyi napas
menurun/tak ada secara bilateral atau unilateral (effusi pleural/pneumotorak). Krekels tercatat di
atas

apek

paru

selama

inspirasi

cepat

Karakteristik sputum hijau purulen.


Inspeksi
- Wajah pucat
- Tampak terangkat kedua bahunya
- Nafas tidak teratur, cepat (32 x/mnt)
- Batuk berdahak
- Malaise
Palpasi
- Nyeri dada (skala 6)
- Denyut nadi meningkat (108 x/mnt)
Aukskultasi
- Detak jantung meningkat
- Suara krekels, mengii
Perkusi
- Suara pekak pada dada
Pemeriksaan TTV
Nadi : 108 x/mnt
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Pernapasan : 32 x/mnt
Suhu : 40 Celcius
C. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
Uji Tuberculin mantoux (tes kulit)

setelah

batuk

pendek

(krekels

postussic).

Tuberculin positif, menunjukkan TBC aktif (area durasi 10 mm) terjadi 48 72 jam setelah
injeksi intra dermal. (Antigen menunjukan infeksi masa lalu dan adanya anti body tetapi tidak
secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit
berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mycobacterium yang
berbeda).
BCG
Terjadi reaksi cepat (3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm.
Pemeriksaan Radiology
Ditemukan infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau para trakeal. Karakteristik radiology
yang menunjang diagnostik antara lain :
a. Bayangan lesi radiology yang terletak di lapangan atas paru.
b. Bayangan yang berawan (patchy) atau berbercak (noduler)
c. Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat di lapangan atas paru
d. Bayang yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu
e. Bayangan milier
Foto thorax
Dapat menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh
primer atau efusi cairan, perubahan menunjukan TB dapat masuk rongga area fibrosa.
Pemeriksaan Bakteriologik (Sputum)
Setelah dilakukan kultur jaringan ditemukan adanya koloni matur akan berwarna krem
atau kekuningan seperti kutil dan bentuknya seperti kembang kol. Ditemukannya kuman
mycobakterium TBC dari dahak penderita memastikan diagnosis tuberculosis paru. Dilakukan 3
kali pemeriksaan dahak. Kultur sputum, positif untuk mycobakterium pada tahap akhir penyakit.
Pemeriksaan lain-lain
1. Ziehl Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) positif
untuk basil asam cepat.

2. Histologi atau kultur jaringan ( termasuk pembersihan gaster ; urine dan cairan serebrospinal,
biopsi kulit ) positif untuk mycobakterium tuberkulosis.
3. Biopsi jarum pada jaringan paru, positif untuk granula TB ; adanya sel raksasa menunjukan
nekrosis.
4. Elektrosit dapat tidak normal tergantung lokasi dan bertanya infeksi ; ex. Hyponaremia, karena
retensi air tidak normal, didapat pada TB paru luas. GDA dapat tidak normal tergantung lokasi,
berat dan kerusakan sisa pada paru.
5. Pemeriksaan fungsi pada paru, penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati,
peningkatan rasio udara resido dan kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder
terhadap infiltrasi parenkhim / fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (TB paru
kronis luas).
D. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
E. Rencana Tindakan
No. Diagnosa Tujuan Kriteria hasil Tindakan/intervensi Rasional
1.

Bersihan

jalan

napas

tak

efektif

berhubungan

dengan

sekret

kental.

Setelah diberikan askep selama 3x24 jam bersihan jalan napas pasien kembali efektif. - Sekret
pasien dpt keluar
- Tidak adanya penggunaan otot aksesori pernapasan Mandiri: Kaji fungsi pernapasan, cth. Bunyi
napas, kecepatan, irama & kedalaman serta penggunaan otot aksesori
Catat kemampuan utk mengeluarkan mukosa/batuk efektif (catat karakter, jmlh sputum, adanya
hemoptisis)
Berikan pasien posisi semi/fowler tinggi. Bantu pasien utk batuk & latihan napas dalam.
Bersihkan sekret dari mulut & trakea (penghisapan sesuai keperluan).
Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontraindikasi.
Kolaborasi: Lembabkan udara/oksigen inspirasi.

Beri obat-obatan sesuai indikasi:


Agen mukolitik, cth. Asetilsistein (Mucomyst).
Bronkodilator, cth. Okstrifillin (Choledyl), teofillin (Theo-Dur).
Kortikosteroid (Prednison).
Bersiap utk/membantu intubasi darurat.
Penurunan bunyi napas dpt menunjukkan atelektasis. Ronki, mengi menunjukkan akumulasi
sekret/ketidakmampuan utk membersihkan jalan napas yg dpt menimbulkan penggunaan otot
aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan.
Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal (mis. Efek infeksi dan/tdk adekuat hidrasi). Sputum
berdarah kental/darah cerah diakibatkan kerusakan (kavitas paru)/luka bronkial & dpt
memerlukan evaluasi/intervensi lanjut. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru &
menurunkan upaya pernapasan. Ventilasi maksimal membuka area atelektasis & meningkatkan
gerakan sekret ke dlm jalan napas besar utk dikeluarkan.
Mencegah obstruksi/aspirasi. Penghisapan dpt diperlukan jika pasien tak mampu mengeluarkan
sekret.
Pemasukan tinggi cairan membantu utk mengencerkan sekret, membuatnya mudah dikeluarkan.
Mencegah pengeringan membran mukosa (membantu pengenceran sekret).
Agen mukolitik meurunkan kekentalan & perlengketan sekret paru utk memudahkan
pembersihan.
Bronkodilator meningkatkan ukuran lumen percabangan trakeobronkial shg menurunkan tahanan
thd aliran udara.
Berguna pd adanya keterlibatan luas dg hipoksemia & bila respon inflamasi mengancam
hidup.
Intubasi diperlukan pd kasus jarang bronkogenik TB dg edema laring/perdarahan paru akut.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler Setelah
dilakukan askep selama 1x15 menit pertukaran gas efektif - Frekuensi napas pasien menurun
(16-24 x/mnt).
- Tidak terjadi sianosis
- Pasien tidak merasa lemas Mandiri: Kaji dispnea, takipnea, tak normal/menurunnya bunyi
napas, peningkatan upaya pernapasan, terbatasnya ekspansi dinding dada & kelemahan.

Evaluasi perubahan pd tingkat kesadaran. Catat sianosis &/perubahan pd warna kulit, termasuk
membran mukosa & kuku.
Tujukan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi, khususnya utk pasien dg fibrosis/kerusakan
parenkim.
Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas & bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
Kolaborasi: Awasi seri GDA/nadi oksimetri.
Berikan oksigen tambahan yg sesuai. TB paru menyebabkan efek luas pd paru dr bagian kecil
bronkopenumonia sampai inflamasi difus luas, nekrosis, effusi pleural & fibrosis luas. Efek
pernapasan

dpt

dr

ringan

sampai

dispnea

berat

sampai

distres

pernapasan.

Akumulasi sekret/pengaruh jalan napas dpt mengganggu oksigenasi organ vital & jaringan.
Membuat tahanan melawan udara luar, utk mencegah kolaps/penyempitan jalan napas, shg
membantu menyebarkan udara mll paru & menghilangkan/ menurunkan napas pendek.
Menurunkan konsumsi oksigen/kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dpt
menurunkan beratnya gejala.
Penurunan kandungan oksigen (PaO2) &/saturasi/ peningkatan PaCO2 menunjukkan kebutuhan
utk intervensi/perubahan program terapi.
Alat dlm memperbaiki hipoksemia yg dpt terjadi sekunder thd penurunan ventilasi/menurunnya
permukaan alveolar paru.
3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam nyeri pasien berkurang
- Saat batuk nyeri pasien berkurang
- Skala nyeri pasien menurun dari 6 menjadi 3. Mandiri: Bantu pasien melakukan teknik
relaksasi.
Kolaborasi: Pemberian analgesik. Dpt membantu pasien agar batuk tidak menyebabkan
nyeri/mengurangi nyeri saat batuk mengeluarkan dahak.
Menekan rasa nyeri pasien.
F. Evaluasi
No. Diagnosa Evaluasi
1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan sekresi yang kental.

S : Pasien mengatakan dapat mengeluarkan dahaknya.


O : Tanda-tanda penggunaan otot aksesori pernapasan berkurang.
A : Tujuan tercapai sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar-kapiler.
S : Pasien mengatakan lemas
O : Pasien tampak pucat, frekuensi napas menurun dari 32 x/mnt menjadi 30 x/mnt
A : Tujuan belum tercapai
P : Lanjutkan intervensi
3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akut.
S : Pasien tidak mengeluh nyeri lagi saat batuk.
O : Pasien tampak tidak meringis saat batuk.
A : Tujuan tercapai.
P : Pertahankan kondisi.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges. E. Marylin. 1992.Nursing Care Plan. EGC. Jakarta.
Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. Edisi 6 : 2006. Patofisiologi, EGC. Jakarta.
Nanda, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2005-2006