Anda di halaman 1dari 33

Pendekatan pada Pasien dengan Gangguan Tidur

Jennifer
11.2015.110
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Email: jenni.jhenn@gmail.com

Abstrak
Insomnia merupakan kesulitan untuk memulai tidur, mempertahankan tidur atau kualitas
tidur yang buruk. Insomnia ini dapat dibagi menjadi akut dan kronis berdasarkan lamanya
gangguan tidur tersebut terjadi. Semakin banyakanya populasi masyarakat yang mengalami
insomnia baik karena faktor psikologis, sosial dan biologi masing-masing individu. Diagnosis
dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Penatalaksanaan
insomnia secara garis besar lebih menekankan pada non-farmakologi seperti perubahan perilaku
dan sikap lainnya untuk memberikan hasil yang signifikan dalam mengurangsi latensi tidur,
menurunkan waktu terbangun di tengah malam dan memperbaiki waktu total untuk tidur.
Kata kunci: insomnia akut, insomnia kronis,behavioral (perubahan perilaku)
Abstrak
Insomnia is difficulty to initiate sleep, maintaining sleep or poor sleep quality. Insomnia
can be divided into acute and chronic sleep disorders based on the length of the case.
Increasingly banyakanya population who experience insomnia either due to psychological
factors, social and biology of each individual. Diagnosis can be confirmed by history, physical
examination and investigations. Management of insomnia outline more emphasis on nonpharmacological such as changes in behavior and attitudes of others to provide significant
results in mengurangsi sleep latency, decrease the time woke up at midnight and improve the
total

time

for

Keywords: acute insomnia, chronic insomnia, behavioral (behavior changes)

sleep.

Pendahuluan
Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut dapat
dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau rangsangan lainnya. Pada beberapa
orang tidur merupakan hal yang sulit dilakukan karena adanya gangguan tidur. Gangguan tidur
yang paling sering dikeluhkan adalah insomnia.
Menurut

DSM-IV

definisi

insomnia

adalah

kesulitan

untuk

memulai

tidur,

mempertahankan tidur atau kualitas tidur yang buruk selama 1 bulan atau lebih. Pembagian
insomnia dapat berdasarkan kepada DMS-IV yang dibagi menjadi 4 yaitu: 1) Gangguan tidur
yang berkolerasi dengan gangguan mental lain, 2) Gangguan tidur yang disebabkan gangguan
medis umum, 3) Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu, 4)
Gangguan tidur primer (gangguan yang tidak berhubungan dengan kondisi mental, penyakit
ataupun obat-obatan). Sedangkan menurut PPDGJ III insomnia sendiri dimasukkan dalam F51.
Penanganan insomnia yang dapat dilakukan dari segi farmakologi dapat berupa
pemberian penanganan hipnotik, antidepresan, dan anti histamine. Penanganan non-farmakologi
meliputi stimulus control terapi, sleep restriction, teknik relaksasi, intervensi kognitif, sleep
hygiene. Namun pada pengobatan insomnia akan lebih ditekankan terhadap penanganan secara
non-farmakologi dibandingkan dengan farmakologi diakibatkan efek candu pada golongan
benzodiazepin dan efek sampingnya cukup tinggi.
Melihat prevalensinya yang tinggi, banyaknya kasus insomnia yang tidak terdiagnosis
dan tidak diobati dan besarnya efek yang ditimbulkan maka dokter umum sebagai lini pertama
pelayanan kesehatan harus bisa mendiagnosis dan menangani secara komprehensif insomnia
kronik. Maka melalui tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai fisiologi tidur normal,
pembagian insomia menurut DSM IV dan PPDGJ serta penatalaksanaan yang tepat untuk
insomnia. Semoga bermanfaat.
Pembahasan
Pengertian Tidur
Tidur adalah suatu periode istirahat bagi tubuh berdasarkan atas kemauan serta kesadaran
dan secara utuh atau sebagian fungsi tubuh yang akan dihambat atau dikurangi. Tidur juga
digambarkan sebagai suatu tingkah laku yang ditandai dengan karakteristik pengurangan gerakan
tetapi bersifat reversible terhadap rangsangan dari luar.1

Tahapan Tidur
Selama malam hari, seseorang melalui dua stadium tidur yang saling bergantian, yaitu
tidur paradoksial atau tidur Rapid Eye Movement (REM) dan tidur gelombang lambat atau tidur
Non-Rapid Eye Movement (NREM). Keseluruhan tidur yang terjadi ialah tidur gelombang
lambat yang dialami pada jam pertama tidur setelah bangun selama berjam-jam sedangkan tidur
paradoksial terjadi pada 25% dari waktu tidur yang berulang secara periodik setiap 90 menit.
Tipe tidur ini umumnya disertai dengan mimpi.2
Tidur NREM terdiri dari 4 tahap yaitu:3
1. Tahap pertama adalah tahap transisi antara keadaan bangun (terjaga) dan tidur
yang dalam keadaan normal berlangsung antara 1-7 menit. Dalam tahap ini orang
dalam relaksasi dengan mata tertutup dan pikiran yang belum tidur sepenuhnya.
Apabila orang ini dibangunkan pada tahp ini maka mereka akan mengatakan
bahwa mereka belum tertidur.
2. Tahap kedua atau tidur ringan adalah tahap pertama orang dalam keadaan benarbenar tertidur.
3. Tahap ketiga adalah periode tidur dalam yang sedang. Suhu tubuh dan tekanan
darah menurun dan menjadi sulit untuk membangunkan orang pada tahap ini.
Tahap ini berlangsung kira-kira 20 menit setelah tertidur.
4. Tahap keempat adalah level terdalam dari tidur. Meskipun metabolisme otak
menurun secara signifikan dan suhu tubuh menurun sedikit pada tahap ini,
kebanyakan refleks masih terjadi dan hanya terjadi sedikit penurunan tonus otot.
Tidur berjalan sering terjadi pada tahap ini.
Pada tidur NREM yang terdiri atas tahap 1 sampai 4, sebagian besar fungsi fisiologis
sangat berkurang dibandingkan dengan keadaan terjaga. Tidur REM merupakan jenis tidur yang
secara kualitatif berbeda, ditandai dengan tingginya tingkat aktivitas otak dan tingkat aktivitas
fisiologis yang menyerupai tingkat aktivitas saat terjaga. Kira-kira 90 menit setelah awitan tidur.
NREM menghasilkan episode REM pertama malam tersebut. Latensi REM 90 menit ini
merupakan temuan yang konsisten pada orang dewasa normal: pemendekan latensi REM sering
terjadi pada gangguan seperti gangguan depresif dan narkolepsi.4

Peran Melatonin

Perubahan intensitas sinar yang terjadi setiap hari merupakan petunjuk lingkungan utama
yang digunakan untuk menyesuaikan jam induk nukleus suprakiasmatikus (SCN).
Fotoreseptor khusus di retina menangkap sinyal dan menyalurkannya langsung ke SCN.
Fotoreseptor ini berbeda dari sel batang dan sel kerucut yang digunakan untuk menerima atau
mempersepsikan cahaya. Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa melanopsin, suatu
protein yang terdapat di sel ganglion retina khusus, adalah reseptor untuk cahaya yang menjaga
tubuh tetap sinkron dengan waktu eksternal. Sebagian besar sel ganglion retina menerima
masukan dari fotoreseptor batang dan kerucut. Alasan dari sel-sel ganglion ini membentuk saraf
optik yang membawa informasi ke korteks penglihatan di lobus oksipitalis. Di antara sel-sel
ganglion retina yang berinteraksi secara visual terselip sekitar 1%-2% sel ganglion retina yang
membentuk sistem deteksi sinar yang sama sekali independen dan berespons terhadap tingkat
pencahayaan, seperti meteran cahaya di kamera, dan bukan terhadap kontras, warna, dan kontur
yang dideteksi oleh sistem visual pembentuk bayangan. Sel ganglion retina pendeteksi
pencahayaan dan mengandung melanopsin ini memberi petunjuk kepada kelenjar pineal tentang
ada tidaknya cahaya dengan mengirim sinyalnya melalui traktus retinohipotalamikus ke SCN.
Jalur ini berbeda dari sitem saraf yang menghasilkan persepsi visual.5
Melantonin adalah hormon kegelapan. Sekresi melatonin meningkat hingga 10 kali lipat
selama malam hari dan kemudian turun ke kadar rendah selama siang hari. Fluktuasi sekresi
melatonin, selanjutnya membantu menyamakan irama biologis tubuh dengan sinyal siang-malam
eksternal.5
Perkiraan peran melatonin selain mengatur jam biologis tubuh, juga mencakup yang
berikut:5

Melatonin menginduksi tidur alami tanpa efek samping yang menyertai obat

sedatif hipnotik.
Melatonin dipercayai

reproduksi. Pubertas mungkin dipicu oleh penurunan sekresi melatonin.


Dalam sebuah peran terkaitnya, pada sebagian spesies, fluktuasi musiman sekresi

menghambat

hormon

yang

merangsang

aktivitas

melatonin yang berkaitan dengan perubahan lama siang hari merupakan pemicu

penting perkembangbiakan, migrasi, dan hibernasi musiman.


Pada peran terkait lainnya, melatonin digunakan dalam percobaan klinis untuk
mengontrol kehamilan, karena pada kadar tinggi hormon ini menghentikan
ovulasi (pengeluaran sel telur). Kontrasepsi pria yang menggunakan melatonin
untuk menghentikan produksi sperma juga sedang dikembangkan.

Melantonin tampaknya merupakan antioksidan.


Melatonin dapat memperlambat proses penuaan.
Melatonin tampaknya meningkatkan imunitas dan telah dibuktikan melawan
sebagian dari penyusutan timus, sumber limfosit T.

Gangguan Tidur
Keluhan tidur tiap orang berbeda-beda. Banyak orang adalah penidur panjang (longsleeper) yang memerlukan tidur 9 hingga 10 jam tidur di malam hari dan yang lainnya adalah
penidur pendek (short-sleeper), tetapi lama tidur tidak selalu berhubungan dengan gangguan
tidur. Empat gejala utama menandai sebagian besar gangguan tidur; insomnia, hipersomnia,
parasomnia, dan gangguan jadwal tidur-bangun. Gejala ini sering bertumpang-tindih dan
dijelaskan di bawah.4
Insomnia
Insomnia adalah kesulitan memulai atau mempertahankan tidur. Gangguan ini merupakan
keluhan tidur yang paling lazim ditemui dan dapat bersifat sementara atau menetap. Suatu
periode singkat insomnia paling sering disebabkan ansietas, baik sebagai gejala sisa suatu
pengalaman yang mencemaskan atau antisipasi pengalaman yang mencetuskan anxietas (contoh
ujian atau wawancara pekerjaan yang akan berlangsung). Pada beberapa orang, insomnia
sementara jenis ini dapat disebabkan berkabung, kehilangan, atau nyaris semua perubahan
kehidupan maupun stress. Keadaan ini cenderung tidak berat, meskipun episode psikotik atau
depresi berat kadang-kadang dimulai dengan insomnia akut.4
Insomnia menetap adalah kelompok keadaan yang cukup lazim ditemukan dengan
masalah yang paling sering adalah kesulitan untuk jatuh tertidur bukannya untuk tetap
mempertahankan tidur. Insomnia ini melibatkan dua masalah yang kadang-kadang dapat
dipisahkan, tetapi sering saling berkaitan yaitu: tegangan somatisasi serta ansietas dan respons
asosiatif.4

Hipersomnia
Hipersomnia tampak sebagai tidur yang berlebihan, rasa mengantuk (somnolen) di siang
hari yang berlebihan atau kadang-kadang keduanya. Istilah somnolen harus diberikan kepada

pasien yang mengeluhkan keadaan mengantuk dan memiliki kecenderungan yang tampak jelas
untuk jatuh tertidur tiba-tiba pada keadaan terjaga yang mengalami serangan tidur, dan yang
tidak dapat tetap terjaga; istilah ini sebaiknya tidak digunakan untuk orang yang secara fisik lelah
atau letih. Keluhan hipersomnia jauh lebih jarang dibandingkan dengan keluhan insomnia.
Narkolpesi hanyalah satu keadaan yang dikenal menimbulkan hipersomnia.4
Narkolepsi
Narkolepsi adalah gangguan tidur kronis, berupa keinginan untuk tidur yang tidak
tertahankan pada keadaan dan waktu yang tidak sesuai. Serangan tidur ini biasanya muncul
mendadak dan dalam waktu yang singkat. Narkolepsi ditandai dengan 4 gejala klasik (classic
tetrad), yaitu kantuk di siang hari yang berlebihan, cataplexy (melemasnya otot secara mendadak
tanpa disertai penurunan kesadaran), halusinasi hypnagogic (halusinasi yang sering kali muncul
begitu saja saat penderita hendak tidur) dan sleep paralysis (tidak dapat bergerak/lumpuh saat
mulai tertidur atau beberapa menit setelah terbangun). Tidak semua penderita narkolepsi
mengalami cataplexy. Beberapa orang tidak mengalami cataplexy sama sekali atau baru
merasakannya setelah beberapa tahun.6
Parasomnia
Parasomnia merupakan fenomena yang tidak diinginkan atau yang tidak biasa yang
terjadi tiba-tiba saat tidur atau terjadi pada ambang antara bangun dan tidur. Parasomnia biasanya
terjadi pada tahap 3 dan 4 sehingga dikaitkan dengan ingatan buruk mengenai gangguan ini.4
Gangguan Jadwal Tidur-Bangun
Gangguan jadwal tidur-bangun melibatkan pergeseran tidur dari periode sirkadian yang
diinginkan. Pasien lazimnya tidak dapat tidur ketika mereka ingin tidur, meskipun mereka bisa
tidur pada waktu lain. Demikian juga, mereka tidak dapat benar-benar bangun ketika mereka
ingin benar-benar bangun ketika mereka ingin benar-benar bangun, tetapi mereka dapat bangun
di waktu lain. Gangguan ini tidak persis menimbulkan insomnia atau sombolen,
ketidakmampuan tidur dan bangun dapat dicetuskan hanya jika kita menanyakan dengan teliti.
Gangguan jadwal tidur-bangun dapat dianggap sebagai ketidaksejajaran antara perilaku tidur dan
bangun.4

Gangguan Tidur Menurut DSM IV

Gangguan susah tidur atau insomnia menurut DSM ( Diagnostic and Statistical Manual
of Mental disordes) IV dibagi menjadi 4 tipe yaitu:7

Gangguan tidur yang berkolerasi dengan gangguan mental lain,


Gangguan tidur yang disebabkan gangguan medis umum,
Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu,
Gangguan tidur primer (gangguan yang tidak berhubungan dengan kondisi mental,
penyakit ataupun obat-obatan).

Gangguan Tidur Akibat Gangguan Jiwa Lain (Aksis I atau Aksis II)
Insomnia yang terjadi selama sedikitnya 1 bulan dan jelas disebabkan gejala perilaku dan
psikologis gangguan jiwa yang dikenal baik secara klinis. Kategori ini mencakup suatu
kelompok keadaan yang heterogen. Masalah tidur biasanya, tetapi tidak selalu, merupakan
kesulitan untuk jatuh tertidur dan akibat ansietas yang merupakan bagian dari berbagai gangguan
jiwa yang masuk dalam daftar. Insomnia lebih lazim pada perempuan daripada laki-laki. Pada
kasus yang sangat jelas, yang ansietasnya memiliki akar psikologis, terapi psikiatrik ansietas
(psikoterapi individual, kelompok atau terapi keluarga) sering meredakan insomnia. Insomnia
yang terkait dengan gangguan depresif berat melibatkan onset tidur yang relatif normal tetapi
disertai bangun berulang pada paruh kedua malam dan bangun sangat dini di pagi hari, biasanya
dengan mood yang tidak nyaman di pagi hari (pagi hari merupakan waktu terbutuk pada sebagian
besar pasien gangguan depresif berat). Polisomnografi menunjukkan berkurangnya tidur tahap 3
dan 4, sering disertai latensi REM singkat, dan periode REM pertama yang lama. Penggunaan
pengurangan tidur parsial atau total dapat mempercepat respons terhadap obat anti-depresan.4
Hipersomnia Akibat Gangguan Jiwa Lain (Aksis I atau II)
Hipersomnia yang terjadi untuk selama sedikitnya 1 bulan dan terkait dengan gangguan
jiwa ditemukan di dalam berbagai keadaan, termasuk gangguan mood. Rasa mengantuk di siang
hari yang berlebihan mungkin dilaporkan pada tahap awal banyak gangguan depresif ringan dan
secara khas pada fase depresi gangguan bipolar I. Untuk waktu yang singkat, hipersomnia
kadang-kadang disebabkan berkabung tanpa penyulit. Gangguan jiwa lain seperti gangguan
kepribadian, gangguan disosiatif, gangguan somatoform, fugue disosiatif, dan gangguan
amnestik dapat menyebabkan hipersomnia. Terapi gangguan primer tersebut harus memberikan
perbaikan pada hipersomnia.4

Gangguan Tidur Akibat Keadaan Medis Umum


Hampir setiap keadaan medis yang disertai rasa nyeri atau tidak nyaman (artritis atau
angina) dapat menimbulkan insomnia. Beberapa keadaan disertai insomnia bahkan ketika rasa
nyeri dan tidak nyaman tidak khas muncul. Keadaan-keadaan ini mencakup neoplasma, lesi
vaskular, dan keadaan degeneratif serta traumatik. Keadaan lain, terutama penyakit endokrin dan
metabolik, sering meliputi beberapa gangguan tidur.4
Bangkitan Epileptik Terkait Tidur. Hubungan antara tidur dan epilepsi cukup rumit. Gangguan
tidur, apnea tidur khususnya dapat memperburuk bangkitan. Bangkitan, pada gilirannya dapat
mengganggu struktur tidur, terutama REM. Ketika bangkitan hampir selalu terjadi saat tidur,
keadan ini disebuat epilepsi tidur.4
Sakit Kepala Cluster Terkait Tidur dan Hemikrania Paroksismal Kronik. Sakit kepala
cluster terkait tidur adalah sakit kepala unilateral berat yang sering timbul saat tidur dan ditandai
dengan pola serangan on-off. Hemikrania paroksismal kronik adalah sakit kepala unilateral
sejenis yang terjadi setiap hari dengan onset yang lebih sering tetapi hanya berlangsung singkat
dan tanpa distribusi tidur yang lebih besar. Kedua tipe sakit kepala vaskuler tersebut merupakan
contoh keadaan yang diperberat oleh tidur dan muncul sehubungan dengan periode tidur REM;
hemikrania paroksismal sebenarnya adalah tidur REM yang terkunci.4
Sindrom Menelan Abnormal Terkait Tidur. Sindrom menelan abnormal merupakan suatu
keadaan saat tidur dengan penelanan yang tidak adekuat sehingga mengakibatkan aspirasi saliva,
batuk dan tersedak. Sindrom ini disertai dengan terbangun yang singkat dan silih berganti.4
Asma Terkait Tidur. Asma yang diperberat oleh tidur pada beberapa orang dapat menimbulkan
gangguan tidur yang signifikan.4
Gejala Kardiovaskular Terkait Tidur. Gejala kardiovaskular terkait tidur berasal dari
gangguan irama jantung, inkompetensi miokardial, insufisiensi arteria koronaria dan variabilitas
tekanan darah, yang dapat dicetuskan atau diperberat oleh fisiologi kardiovaskular yang diubah
oleh tidur atau yang dimodifikasi oleh keadaan tidur.4

Refluks Gastroesofagus Terkait Tidur. Refluks gastroesofagus terkait tidur merupakan suatu
gangguan berupa pasien terbangun dari tidur dengan rasa nyeri terbakar di substernal atau rasa
nyeri menyeluruh atau rasa sempit di dada atau rasa pahit di mulut. Batuk, tersedak, dan rasa
tidak nyaman pernapasan yang samar juga dapat terjadi berulang.4
Hemolisis Terkait Tidur (Hemoglobinuria Nokturnal Paroksismal). Hemoglobinuria
nokturnal paroksismal adalah anemia hemolitik kronis didapat yang jarang berupa adanya
hemolisis intravaskular yang menimbulkan hemoglobinemia dan hemoglobinuria. Hemolisis dan
hemoglobinuria yang ditimbulkan dipercepat saat tidur, dan urine pagi hari berwarna merah
kecokelatan. Hemolisis berkaitan dengan periode tidur, bahkan jika periode digeser.4

Gangguan Tidur yang Dicetuskan Zat


Somnolen yang berkaitan dengan toleransi atau putus zat akibat stimulan sistem saraf
pusat lazim terjadi pada orang-orang dengan putus zat amfetamin, kokain, kafein, dan zat terkait.
Somnolen dapat dikaitkan dengan depresi berat, yang kadang-kadang mencapai proporsi bunuh
diri. Penggunaan depresan SSP yang berlangsung lama, seperti alkohol, dapat menyebabkan
somnolen. Penggunaan alkohol berat di sore hari menimbulkan rasa mengantuk dan kesulitan
bangun keesokan harinya. Reaksi ini dapat memberikan masalah diagnostik ketika pasien tidak
mengakui penyalahgunaan alkohol.4
Alkohol adalah depresan SSP dan menimbulkan masalah serius depresan SSP lain, saat
pemberian mungkin terkait dengan timbulnya toleransi dan setelah putus zat. Insomnia setelah
mengonsumsi alkohol jangka panjang kadang-kadang berat dan berlangsung selama beberapa
minggu atau lebih lama.4
Di antara para perokok, kombinasi ritual relaksasi dan kecenderungan dosis rendah
nikotin untuk menyebabkan sedasi sebenarnya dapat membantu tidur, tetapi dosis tinggi nikotin
dapat mengganggu tidur, terutama onset tidur. Perokok secara khas tidur lebih sedikit daripada
orang yang tidak merokok. Putus zat nikotin dapat menyebabkan pusing atau terbangun dari
tidur.4

Gangguan Tidur Primer


Dissomnia

Insomnia Primer. Insomnia primer didiagnosis jika keluhan utama adalah tidur yang tidak
bersifat menyegarkan atau kesulitan memulai atau mempertahankan tidur, dan keluhan ini terus
berlangsung sedikitnya satu bulan. Istilah primer menunjukkan bahwa insomnia bebas dari
adanya gangguan fisik atau psikologis. Pasien dengan insomnia primer secara umum memiliki
preokupasi mengenai tidur cukup. Semakin mereka mencoba tidur, semakin besar rasa frustasi
dan penderitaan serta makin sulit terjadinya tidur.4
Kriteria diagnostik berdasarkan DSM IV: 8

Gejala yang predominan adalah kesulitan memulai dan mempertahankan tidur kurang

lebih 1 bulan.
Gangguan tidur (atau kelelahan pada siang hari) menyebabkan distress yang signifikan

terhadap pekerjaan, atau gangguan fungsi penting lainnya.


Gangguan tidur tidak selalu muncul selama adanya narkolepsi, gangguan pernapasan saat

tidur, gangguan irama tidur atau parasomnia.


Gangguan tidur tidak selalu muncul selama adanya gangguan mental lainnya (gangguan

depresi, kecemasan, umum, dan delirium).


Gangguan tidak selalu berhubungan dengan penyalahgunaan obat atau zat atau kondisi
medis lainnya.

Ada 3 jenis insomnia primer yaitu :


1. Gangguan tidur karena gangguan pernapasan (GTGP)
Gangguan tidur karena gangguan pernapasan ditandai dengan mengorok pada waktu tidur,
tersedak, batuk-batuk pada manifestasi klinik yang berat sering terjadi gerakan-gerakan
seperti orang kehabisan napas, gambaran klinik seperti itu biasanya dilaporkan oleh teman
tidurnya. Yang dirasakan oleh pasien adalah sering terbangun tanpa sebab, nokturia, dan
merasa tidak tidur semalaman, dan pada pagi hari sering muncul keluhan sakit kepala dan
mengantuk terus.7
Patofisiologi. Gangguan tidur karena gangguan pernapasan ini merupakan interaksi
kompleks dari system saraf pusat dan perifer, otot-otot saluran napas atas dan beberapa
neurotransmiter yang menghasilkan kolaps sebagian atau seluruh saluran pernapasan atas,
sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas dan hipoksia. GTGP dibagi menjasi 3 jenis
yaitu 1)Tipe obtruktif jalan napas 2) gangguan tidur karna henti napas di bagian sentral 3)
tipe kombinasi. Tipe obstruktif jalan napas kemungkinan bisa disebabkan oleh Hipertrofi
tonsil, obstruksi hidung, distribusi dan pengumpulan lemak tubuh. Tipe henti napas karna
proses sentral bisa dikarnakan oleh penurunan kemampuan atau tonus otot pernapasan yang

dikarnakan gangguan rangsangan napas dimedula oblongata. Gangguan rangsangan napas ini
bisa diakibatkan trauma pada batang otak, disfungsi otonom, distrofi otot pernapasan,
pernapasan cheyne stokes dan idopatik.7
Epidemiologi. Gangguan tidur tipe ini dialami oleh sekitar 28%-67% laki-laki berusia lanjut
dan 20%-54% perempuan berusia lanjut. Yang menderita GTGP tipe henti napas karna
obstrusi, dimana pada pasien laki-laki 8 kali lebih berat manifestasinya dibandingkan dengan
perempua. Di Hongkong ada 10% orang lanjut usia yang menderita insomnia karna obtruksi
jalan napas ini.7
2. Sindrom kaki kurang tenang dan gangguan gerakan tungkai periodic
Sindrom ini ditandai oleh rasa tidak enak yang berlebihan terutama pada kaki selama malam
saat pasien istirahat. Ini adalah bentuk akathisia, sering disebut perasaan dirayapi semut atau
hewan kecil. Perasaan ini mengakibatkan pasien menggerakan kakinya sehingga bangun lalu
berjalan guna menghilangkan rasa tidak enak ini. Biasanya gangguan gerakan tungkai
periodic ini bisa berdiri sendiri. Gerakan tungkai periodic ini ditandai dengan melakukan
gerakan yanag sama berulag-ulang biasanya pada kaki namun tidak menutup kemungkinan
terjadi pada tangan. Biasanya pasangan tidurnya akan melaporkan adanya gerakan
menendang-nendang selama 20-40 detik saat tidur dan muncul berulang ulang. Gerakan ini
biasanya tidak membangunkan pasien, meskipun pasien melakukannya 100 kali dalam
semalaman. Tetapi tendangan dengan kekuatan yang tinggi dapat membangunkan pasien.
Pasien sering mengeluh rasa lelah yang berlebihan saat bangun tidur dan tidur tidak nyenyak
sehingga mengantuk sepanjang hari. Epidemiologi. Gangguan tidur akibat sindrom kaki
kurang tenang dan gerakan tungkai periodic ini meningkat sesuai dengan meningkatnya usia.
Prevalensi pada usia lanjut sekitar 45%, sedangkan pada dewasa muda 4-6%. Tidak ada
perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebagian besar kedua sindrom ini terjadi secara
bersamaan, tidak jarang pula pasien disertai atau menyertai GTGP.7
Patofisiologi sampai saat ini belum jelas, hipotesis terbaru menyatakan mungkin gangguan
system dopamine dan opiate disistem saraf pusat yang mendasari kelainan ini. Hipotesis ini
dibuat karna dengan pemberian agonis dopamine memberikan hasil yang efektif untuk
mengatasi ganguan tidur ini.7
Diagnosis kelainan ini dibuat berdasarkan gejala klinis seperti diatas dan dikonfirmasi
dengan pemeriksaan elektromiografi (EMG) pada otot tungkai atas di labolatorium tidur.8

Terapi koservatif. Dilakukan dengan merendam kaki dan tungkai atas dengan air hangat
serta olahraga ringan yang dilakukan teratur dapat membantu menghilangkan gejala kedua
gangguan tidur ini. Bila belum berhasil dapat digunakan obat anti Parkinson seperti
karbidopa-levodopa 25-100 mg. Hati-hati bila gejala gangguan ini muncu pada saat siang
hari atau lebih awal, mungkin dapat diakibatkan efek samping obat, dosis harus diturunkan
atau digabung dengan anti Parkinson lain seperti bromokriptin, karbamazepin dan
klonazepam. Atau dapat pula digunakan obat lain seperti benzodiazepine (1kali saat ingin
tidur).7
3. Gangguan perilaku REM
Gangguan tidur ini sangat jarang ditemukan tapi sering muncul pada usia lanjut. Proses yang
mendasari gangguan tidur ini adalah adanya disinhibisi transmisi aktivitas motorik saat
bermimpi. Gangguan tidur ini sering muncul pada tengah malam saat periode REM terjadi.
Bentuk gangguan dapat berupa mengigau, bicara sambil tidur, berjalan, bahkan makan
sambil tidur. Pasien sering jatuh atau lompat dari tempat tidur sehingga banyak terjadi
perlukaan. Pada kasus ini banyak penelitian melaporkan prevalensi pada laki-laki lebih besar
dari perempuan. Patofisiologi terjadi ganguan perilaku REM sampai saat ini tidak
diketahui,penelitian menunjukan adanya hubungan antara ganguan perilaku REM dengan
pemakaian obat-obat anti depresi, trisiklik, fluoksetin, inhibitor monoamine oksidase, dan
ketagihan alcohol atau zat sedative lainnya. Gangguan ini pada fase kronik banyak
dihubungkan dengan penyaki neurodegenerative idiopatik seperti demensia dan penyakit
Parkinson.7
Terapi. Terapi insomnia primer merupakan salah satu terapi yang paling sulit pada gangguan
tidur. Ketika komponen yang dipelajari jelas, teknik deconditioning mungkin berguna. Pasien
diminta menggunakan tempat tidurnya hanya untuk tidur dan bukan untuk hal lain; jika mereka
tidak tertidur setelah 5 menit berada di atas tempat tidur, mereka diminta segera bangun dan
melakukan hal lain. Kadang-kadang, berganti tempat tidur atau ruangan lain berguna untuk
pasien ini. Ketika ketegangan somatisasi atau ketegangan otot tampak jelas, kaset relaksasi,
meditasi, ada respons relaksasi serta biofeedback. Psikoterapi belum terlalu berguna dalam terapi
insomnia primer. Pengalaman seksual yang memuaskan lebih meningkatkan tidur pada laki-laki
daripada perempuan.4

Terapi Obat. Insomnia primer biasanya diterapi dengan benzodiazepine serta hipnotik lainnya.
Obat hipnotik harus digunakan dengan hati-hati. Obat tidur yang bekerja lama (flurazepam,
quazepam) paling baik menangani insomnia malam hari; obat yang bekerja singkat (zolpidem,
triazolam) berguna untuk pasien yang mengalami kesulitan untuk jatuh tertidur. Sebaiknya tidak
diresepkan untuk waktu lebih dari 2 minggu karena toleransi dan putus obat dapat terjadi.4
Jenis-jenis Insomnia : Insomnia Sekunder
1. Insomnia karena Gangguan Organik
Keadaan ini merupakan gangguan tidur atau insomnia yang berhubungan dengan factor
organic. Factor organic adalah badan atau fisik kita sebagai manusia. Gangguan fisik yang
dapat terjai seperti apne tidur, penyakit Parkinson, mioklonus, sindrom nyeri maupun zat
psikoaktif. Menurut ASDC (Association of sleep disorders Centers), kategori ini dibagi
menjadi 1) sindrom apne tidur akibat hilangnya pernapasan sentral atau obtruksi saluran
napas bagian atas, sindrom hipoventilasi alveolar 3)insomnia yang berkaitan dengan
mioklonus nocturnal atau tungkai yang resah. Rentang obat-obatan yang luas dapat
menyebabkan gangguan tidur, baik pada penggunaan jangka panjang maupun pada saat
proses penurunan dosis obat. Dalam hal ini termasuk obat-obatan kemoterapieutik kanker,
steroid, stimulant, depresan, antihipertensi, preparat tiroid, MAOI, kontrasepsi oral,
antikonvulsi, opiate dan halusinogen. Penggunaan alcohol jangka panjang juga dapat
menimbulkan diintegrasi berat arsitektur tidur dengan penurunan waktu tidur, serta
fragmentasu dan penurunan tidur REM. Contoh nya Selama penarikan diri dari alcohol
pasien akan insomnia yang lama mungkin berminggu-minggu.9
2. Insomnia karena Gangguan Non-organik
Keadaan ini merupakan gangguan insomnia non organika Aksis I atau II. Depresi dan
anxietas merupakan gangguan penyerta yang paling lazim. Pada depresi mayor, insomnia
terminal adalah khas sebagai kelatenan REM yang diperpendek, periode REM pertama yang
di perpanjang, dan penurunan stadium 3 dan 4 tidur. Pasien manic dan hipomanik pada
umunya tidak mengeluh masalah tidur dan tampaknya mengalami penurunan sejati pada
kebutuhan tidur. Yang penting adalah bahwa ganguan tidur dapat menandai awitan
dekompensasi psikotik.7
a. Insomnia pada Skizofrenia
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Diagnosis skizofrenia,
menurut sejarahnya, mengalami perubahan-perubahan. Ada beberapa cara untuk
menegakkan diagnosis. Pedoman untuk menegakkan diagnostik adalah DSM-IV

(Diagnostic and Statistical Manual) dan PPDG2-III/ICD-X. Dalam DSM-IV terdapat


kriteria objektif dan spesifik untuk mendefinisikan skizofrenia. Belum ada penemuan
yang patognomonik untuk skizofrenia. Diagnosis berdasarkan gejala atau deskripsi klinis
dan merupakan suatu sindrom. Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia, pasien harus
memenuhi kriteria DSM-IV atau ICD X. Berdasarkan DSM-IV kriterianya adalah: 10
1. Berlangsung paling sedikit enam bulan
2. Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi kehidupan pribadi.
3. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama periode tersebut.
4. Tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor,
autisme, atau gangguan organik.
Insomnia pada skizofrenia merupakan salah satu gejala awal dari penyakit tersebut.
Pada dasarnya skizofrenia sama seperti penyakit-penyakit lain yang mempunyai
gejala awal. Gejala awalnya adalah peningkatan kegelisahan dan ketegangan,
penurunan nafsu makan, depresi ringan dan anhedonia, tidak bisa tidur, dan
konsentrasi terganggu.10
Umumnya pasien skizofren memiliki EEG normal tapi sebagian menunjukkan
turunnya aktivitas alfa dan naiknya aktivitas teta dan delta, gangguan paroksismal,
dan naiknya kepekaan terhadap prosedur aktivasi, misal deprivasi tidur.10
b. Insomnia pada Gangguan Depresi
Depresi merupakan penyakit mental yang paling sering menyerang orang usia lanjut atau
pasien yang berusia 60 tahun ke atas dan merupakan penyakit dengan tampilan tidak
spesifik pada pasien geriatric. Terdapat beberapa faktor biologi, fisis, psikologis dan
sosial yang membuat sesorang rentan terhadap depresi. Faktor psikososial juga berperan
sebagai faktor presdiposisi dari depresi. Orang tua sering kali mengalami periode
kehilangan orang-orang yang dikasihinya. Faktor kehilangan fisik juga dapat
meningkatkan kerentanan terhadap depresi dengan berkurannya kemampuan merawat diri
serta hilangnya kemandirian. Berkurangnya kapasitas sensori akan mengakibatkan
penderita merasa terisolasi dan berujung pada depresi. Berkurangnya kemampuan daya
ingat, fungsi intelektual, kehilangan pekerjaan, penghasilan dan dukungan sosial sejalan
dengan bertambahnya usia turut menjadi faktor predisposisi seseorang berusia lanjut
menderita depresi. Sedangkan prevalensi penyakit depresi pada usia lanjut lebih sering
terjadi di tempat perawatan seperti rumah sakit dan semakin lama perawatannya akan
semakin banyak kemungkinannya untuk mengalami depresi.7

Depresi mungkin juga dapat menjadi gangguan penyerta yangpaling lazim. Pada
penderita depresi mayor, insomnia terminal adalah khas sebagai kelatenan REM yang di
perpendek, periode REM pertama yang diperpanjang. Pasien manic dan hipomanik
umumnya tidak mengeluh karena masalah tidur dan tampaknya mengalami penurunan
sejati pada kebutuhan akan tidur. Yang penting bahwa gangguan tidur dapat menandai
dekompensasi psikotik.7
Depresi adalah masalah besar karena penyakit depresinya sering tertutupi oleh penyakit
somatic yang dideritanya sehingga sulit diidentifikasi dan hal ini mengakibatkan
terlambatnya terapi untuk depresi tersebut. Selain dapat tertutupinya diagnosis untuk
penyakit depresi karena penyakit somatiknya, depresi juga dapat memperberat penyakit
somatic yang diderita oleh pasien tersebut dan juga sebaliknya. Oleh karena itu obat
antidepresi yang efektif mempunyai potensi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
dan keluarganya serta menurunkan biaya perawatan.7
c. Insomnia pada Gangguan Demensia
Hampir 75% pasien penyakit Alzheimer dimulai dengan gejala memori, tetapi gejala awal
juga dapat meliputi kesulitan mengurus keuangan, berbelanja, mengikuti perintah,
menemukan kata, atau mengemudi. 7
Riwayat adanya strok dengan progresi bertahap dan tidak teratur mengarah pada
demensia multi-infark. Demensia multi-infark umumnya terjadi pada pasien-pasien
dengan faktor risiko hipertensi, fibrilasi atrium, penyakit vaskular perifer, dan diabetes.
Pada pasien yang menderita penyakit serebrovaskular dapat sulit ditentukan apakah
demensia yang terjadi adalah penyakit Alzheimer, demensia multi-infark, atau campuran
keduanya. Bila dikaitkan dengan berbagai penyebab penyakit demensia, maka anamnesis
harus diarahkan pula pada berbagai faktor risiko seperti trauma kepala berulang, infeksi
susunan saraf pusat akibat sifilis (neurosifilis), konsumsi alkohol berlebihan, intoksikasi
bahan kimia pada pekerja pabrik, serta penggunaan obat-obat jangka panjang. Riwayat
keluarga juga harus menjadi bagian dari evaluasi, mengingat bahwa pada penyakit
Alzheimer terdapat kecenderungan familial. Gejala depresi seperti insomnia dan
kehilangan berat badan sering tampak pada pseudodemensia akibat depresi, yang dapat
disebabkan oleh anggota keluarga yang baru-baru ini meninggal. 7
Pemerikasaan fisik yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan umum seperti
pemeriksaan tanda-tanda vital, selain itu dapat dilakukan juga pemerisaan fisiologis
untuk mencari keterlibatan sistem saraf dan penyakit sistemik yang mungkin dapat

dihubungkan dengan gangguan kognitifnya. Umumnya penyakit Alzheimer tidak


menunjukkan gangguan sistem motorik kecuali pada tahap lanjut. Yang tidak boleh
dilupakan adalah adanya gangguan pendengaran dan penglihatan yang menimbulkan
disalahartikan sebagai demensia. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah
Pemindaian MRI otak yang merupakan modalitas pencitraan yang paling sensitif dalam
mendiagnosis kelainan intrakranial. 7
Alzheimer mulanya dihubungkan dengan penurunan memori yang semakin lama
semakin buruk. Dari waktu ke waktu, pasien dengan Alzheimer dapat juga
memperlihatkan kecemasan, depresi, insomnia, agitasi, dan paranoia. Ketika penyakit itu
berlangsung, pasien dengan Alzheimer datang dengan membutuhkan bantuan dalam
aktivitas sehari-hari, termasuk menggunakan maju, mandi, dan ke toilet. Nantinya,
kesulitan dalam berjalan dan menelan akan berkembang. Makan dapat pula hanya
menggunakan gastrointestinal tube, dan kesulitan menelan dapat menyebabkan
pneumonia aspirasi.11
d. Insomnia karena Gangguan Fisiologis
Irama sirkadian tidur diatur oleh proses endogen berupa pengaturan temperature badan
dan pengeluaran hormon kortisol, hormone pertumbuhan dan melatonin yang dipicu oleh
nucleus supra chiasmatik dan proses eksogen berupa perubahan terang dan gelap. Pada
bbeberapa orang dapat terjadi gangguan irama sirkadian ini. Kelainan tersebut antara lain :
7

a. ketidaksingkronan respon proses endogen terhadap rangsangan eksogen, dimana terjadi


penurunan respon endogen terhadap perubahan siang dan malam, sehingga dapat terjadi
tidur bangun tak beraturan.
b. sindrom fase tidur cepat, gangguan berupa periode atau siklus tidue bangun lebih
cepat/maju. Misalnya tidurnya terlalu awal dan bangunnya terlalu awal. Gangguan
terletak pada teperatur badan, biasanya teperatur badan sudah turun pada pukul 6-7 sore
dan sudah meningkat pada pukul 2 atau 3.
Prevalensi gangguan tidur tipe ini tidak jelas. Hal ini karena banyak orang usia lanjut
yang menderita namun tidak membutuhkan terapi karena menganggap perubahan ini
adalah biasa. Paa usia pertengahan prevalensi sindrom fase tidur lebih cepat sekitar 1%
dari populasi di USA.7

Hipersomnia Primer. Hipersomnia primer didiagnosis jika tidak ada penyebab lain yang
ditemukan untuk somnolen berlebihan yang terjadi dalam waktu sedikitnya 1 bulan. Menurut

DSM-IV-TR, gangguan ini harus diberi kode sebagai berulang jika pasien memiliki periode rasa
mengantuk berlebihan yang berlangsung selama 3 hari dan terjadi beberapa kali dalam satu tahun
sedikitnya 2 tahun.4
Terapi. Terapi hipersomnia primer terutama terdiri dari obat stimulan seperti amfetamin, yang
diberikan di pagi atau sore hari. Obat antidepresan nonsedasi seperti buproprion dan stimulan
baru seperti modafinil juga mungkin berguna pada beberapa pasien.4
Narkolepsi. Narkolpesi terdiri atas rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari serta
manifestasi abnormal tidur rapid eye movement(REM) yang terjadi setiap hari selama sedikitnya
3 bulan. Serangan tidur ini khasnya terjadi dua sampai enam kali sehari dan berlangsung 10-20
menit. Serangan ini dapat terjadi pada saat yang tidak tepat (saat makan, berbicara, atau menyetir
dan saat berhubungan seksual).4
Terapi. Modafinil suatu agonis reseptor 1-adrenergik telah disetujui oleh U.S Food and Drug
Administration (FDA) untuk mengurangi jumlah serangan tidur dan meningkatkan kinerja
psikomotor

pada

narkolepsi,

pengamatan

ini

mengesankan

keterlibatan

mekanisme

noradrenergik dalam gangguan ini. Modafinil tidak memiliki efek samping merugikan
psikostimulan terdahulu. Walaupun terapi obat adalah terapi pilihan, keseluruhan pendekatan
terapeutik harus mencakup tidur siang yang terjadwal, penyesuaian gaya hidup, konseling
psikologis, libur obat untuk mengurangi toleransi, dan pengawasan teliti terhadap pembelian
ulang obat kesehatan umum dan keadaan jantung.4
Gangguan Tidur Irama Sirkadian. Gangguan tidur irama sirkadian mencakup suatu kisaran
luas keadaan yang melibatkan ketidaksejajaran antara periode tidur yang sebenarnya dengan
periode tidur yang diinginkan. DSM-IV-TR mendaftarkan empat jenis gangguan tidur irama
sirkadian: tipe fase tidur tertunda, tipe jet lag, tipe kerja bergiliran, dan tidak tergolongkan.4
-

Tipe fase tidur tertunda: pola onset tidur dan waktu bangun tertunda yang menetap dengan

ketidakmampuan untuk jatuh tertidur dan terbangun pada waktu lebih awal yang diinginkan.
Tipe jet lag: rasa mengantuk dan sadar yang terjadi pada saat yang tidak tepat dibandingkan
dengan waktu setempat, terjadi setelah perjalanan berulang melintasi lebih dari satu zona
waktu.

Tipe kerja giliran (shift work): insomnia selama periode tidur utama atau rasa mengantuk
yang berlebihan selama periode bangun yang utama karena pekerjaan dengan giliran malam

atau sering berubahnya jadwal bergiliran


Tipe tidak tergolongkan

Parasomnia
Gangguan Mimpi Buruk. Mimpi buruk adalah mimpi yang lama dan menakutkan yang
membuat orang terbangun dengan rasa ketakutan. Seperti mimpi lain, mimpi buruk hampir selalu
terjadi selama tidur REM dan biasanya setelah periode REM yang panjang di akhir malam.
Beberapa orang sering mengalami mimpi buruk sebagai keadaan yang berlangsung seumur
hidup; yang lainnya mengalami mimpi buruk terutama saat sres dan sakit. Agen yang menekan
tidur REM, seperti obat trisiklik, dapat mengurangi frekuensi mimpi buruk dan benzodiazepine
juga telah digunakan.4
Gangguan Teror Tidur. Gangguan teror tidur adalah terbangun pada sepertiga awal malam
selama tidur non-REM (NREM) yang dalam (tahap 3 dan 4). Gangguan ini hampir selalu diawali
dengan jeritan atau tangisan pilu dan disertai manifestasi perilaku ansietas hebat yang hampir
mendekati panik. Khasnya, pasien bangun di atas tempat tidur dengan ekspresi ketakutan,
berteriak keras, dan kadang-kadang bangun secepatnya dengan perasaan terteror yang intens.
Pasien mungkin tetap bangun dalam keadaan disorientasi tetapi lebih sering jatuh tertidur, dan
seperti pada berjalan di dalam tidur, mereka melupakan episode ini. Teror malam dapat
mencerminkan kelainan neurologis ringan, mungkin di lobus temporalis atau struktur yang
mendasari, karena jika teror malam dimulai pada masa remaja dan dewasa muda, teror ini
menjadi gejala pertama epilepsi lobus temporal. Terapi spesifik untuk gangguan teror malam
jarang diperlukan. Pemeriksaan situasi keluarga yang menimbulkan stres mungkin penting, dan
terapi individual serta keluarga kadang-kadang berguna. Jika diperlukan obat, diazepam dengan
dosis kecil pada waktu tidur memperbaiki keadaan dan kadang-kadang benar-benar
menghilangkan serangan.4
Gangguan Berjalan Sambil Tidur. Gangguan ini yang juga dikenal sebagai somnambulisme,
terdiri atas rangkaian perilaku kompleks yang diawali pada sepertiga pertama malam selama
tidur NREM yang dalam (tahap 3 dan 4) dan sering, meskipun tidak selalu, dilanjutkan-tanpa
kesadaran penuh atau ingatan mengenai episode tersebut-untuk meninggalkan tempat tidur dan
berjalan berkeliling. Pasien duduk dan kadang-kadang melakukan tindakan motorik prevasif

seperti berjalan, berpakaian, pergi ke kamar mandi, berbicara, berteriak dan bahkan menyetir.
Perilaku ini kadang-kadang berakhir dengan terbangun disertai beberapa menit kebingungan;
lebih sering lagi, mereka kembali tidur tanpa mengingat peristiwa berjalan sambil tidur ini.
Bangun yang diinduksikan dari tidur tahap 4 kadang-kadang dapat menimbulkan keadaan ini.
Terapi terdiri atas upaya mencegah cedera dan obat yang menekan tidur tahap 3 dan 4. Pelaku
berjalan sambil tidur ini dapat dibangunkan selama episode tanpa ada pengaruh buruk.4

Gangguan Tidur Menurut PPDGJ III


Ada beberapa jenis ganguan jiwa (misalnya, gangguan mental organic) terdapat pelbagai
tanda dan gejala yang sangat luas. Pada beberapaganguan jika lainnya (sepertinya, ganguan
cemas) hanya terdapat tanda dan gejala yang dangat terbtas. Atas dasar ini, dilakukan suatu
penyusunan urutan blok-blok diagnosis yang terdapat dalam urutan hierarki yang lebih tinggi ,
mungkin mempunyai ciri-ciri dari gangguan yang terletak dalam hierarki lebih rendah, tetapi
tidak sebaliknya. Terdapatnya hubungan hirarki ini memungkinkan untuk penyajian diagnosis
banding dari berbagai gejala utama.12
F0

: Gangguan mental organic dan simtomatik


: ciri khas etiologi organic/fisik jelas, primer/sekunder

F1

: Gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif


: ciri khas etiologi organic/fisik jelas, primer/sekunder akibat penggunaan zat

F2

: Skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham


: cirri khas gejala psikotik, etiologi organic tidak jelas

F3

: Gangguan suasana perasaan (mood/afektif)


: cirri khas memiliki gejala gangguan afek (psikotik dan non psikotik)

F4

: Gangguan neurotic, somatoform, dan gangguan stress


: cirri khas gejala non psikotik dan etiologi non organic

F5

: Sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan factor fisik
: ciri khas gejala disfungsional fisiologis, etiologi non organic

F50

: Gangguan makan

F51

: Gangguan tidur non organik

F51 Gangguan Tidur Non-Organik


Kelompok gangguan ini termasuk:12

Dyssomnia, kondisi psikogenik dimana gangguan utamanya adalah jumlah, kualitas, atau
waktu tidur yang idsebabkan oleh hal-hal emosional misalnya insomnia, hipersomnia,

gangguan jadwal tidur jaga.


Parasomnia, peristiwa episodik abnormal yang terjadi selama tidur (pada kanak-kanak ini
terkait dengan perkembangan anak, sedangkan pada dewasa terutama terpengaruh

psikogenik).
Misalnya somnabulisme (sleepwalking) terror tidur (night terrors) mimpi buruk (nightmare).
Pada kebanyakan kasus gangguan tidur adalah salah satu gejala dari gangguan lainnya, baik
mental atau fisik. Walaupun gangguan tidur yang spesdifik terlihat secara klinis berdiri sendiri,
sejumlah faktor psikiatrik dan atau fisik yang terkait memberikan kontribusi pada kejadiannya.
Secara umum adalah lebih baik membuat diagnosis lain yang relevan untuk menjelaskan secara
adekuat psikopatologi dan atau patofisiologinya.12
Pedoman diagnostik
Hal dibawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:12
a

Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang

b
c

buruk
Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan
Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur (sleeplessness) dan peduli yang berlebihan

terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari


Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup
berat dan memengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan

Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak menyebabkan
diagnosis insomnia diabaikan. Semua ko morbiditas harus dicantumkan karena membutuhkan
terapi sendiri. Kriteria lama tidur tidak digunakan untuk menentukan adanya gangguan, oleh
karena luasnya variasi inividual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria diatas (seperti
pada transient insomnia) tidak didiagnosis disini dapat dimasukan dalam reaksi stress akut
(F43.0) atau gangguan penyesuaian (F43.2).12
F51.1 Hipersomnia Non-organik
Gambaran klinis di bawah ini adalah sesnsial untuk diagnosis pasti: 12
a

Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur (sleep attacks) tidak
disebabkan jumlah tidur yang kurang atau transisi yang memanjang dari saat mulai bangun
tidur sampai tersadar sepenuhnya (sleep drunkenness)

Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau berulang dengan kurun
waktu yang lebih pendek, menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan memengaruhi

fungsi dalam sosial pekerjaan


Tidak ada gejala tambahan narcolepsy (catapelxy, sleep paralysis, hypnagogic hallucination)
atau bukti klinis untuk sleep apnoe (nocturnal breath cessation, typical intermittent snoring

sounds)
Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukan gejala rasa kantuk pada siang hari

Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari gangguan jiwa lain misalnya gangguan
afektif maka diagnosis harus sesuai dengan gangguan yang mendasari. Diagnosis hipersomnia
psikogenik harus ditambahkan bila hipersomnia merupakan keluhan yang dominan dari penderita
dengan gangguan jiwa lainnya.12
F51.2 Gangguan Jadwal Tidur Jaga Non-Organik
Pedoman diagnostic :12
a

Pola tidur jaga dari individu tidak seirama dengan pola tidur jaga yang normal bagi

masyarakat setempat
Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hipersomnia pada waktu kebanyakan orang jaga,
yang dialami hampir setiap hari untuk sedikitnya 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu

yang lebih pendek


Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup
berat dan memengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan

Adanya gejala gangguan lain seperti anxietas, depresi, hipomania, tidak menutup kemungkinan
diagnosis gangguan jadwal tidur jaga non organik yang penting adanya dominasi gambaran
klinis gangguan ini pada penderita. Apabila gejala gangguan jiwa lain cukup jelas dan menetap
harus dibuat diagnosis gangguan jiwa yang spesifik secara terpisah.12
F51.3 Somnabulisme (sleepwalking)
Pedoman diagnosis : 12
a

Gejala yang utama adalah satu atau lebih episode bangun dari tempat tidur biasanya pada

sepertiga awal tidur malam dan terus berjalan-jalan (kesadaran berubah)


Selama satu episode, individu menunjukan wajah bengong relatif tak memberi respon
terhadap upaya orang lain untuk memengaruhi keadaan atau untuk berkomunikasi dengan

penderita dan hanya dapat disadarkan dari tidur dengan susah payah
Pada waktu sadar atau bangun (setelah satu episode atau besok paginya) individu tidak ingat
apa yang terjadi

Dalam kurun waktu beberapa menit setelah bangun dari episode tersebut, tidak ada gangguan
aktivitas mental walaupun dapat dimulai dengan sedikit bingung dan disorientasi dalam

waktu singkat.
Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik

Somnabulisme harus dibedakan dari seranagn epilepsi psikomotor dan fugue disosiatif (F44.1).12
F51.4 Teror Tidur (night terrors)
Pedoman diagnostik:12
a

Gejala utama dalah satu atau lebih episode bangun dari tidur, mulai berteriak karena panik,
disertai anxietas yang hebat, seluruh tubuh gemetar, dan hiperaktivitas otonom seperti

jantung berdebar, nafas cepat, pupil melebar, dan berkeringat


Episode ini dapat berulang, setiap episode lamanya berkisar 1-10 menit dan biasanya terjadi

pada sepertiga awal tidur malam


Secara relatif tidak bereaksi terhadap berbagai upaya orang lain untuk memengaruhi keadaan
teror tidurnya, dan kemudian dalam beberapa menit setelah bangun biasanya terjadi

disorientasi dan gerakan-gerakan berulang


Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik

Teror tidur harus dibedakan dari mimpi buruk (F51.5) yang biasanya terjadi setiap saat dalam
tidur, mudah dibaangunkan dan teringat dengan jelas kejadiannya. Teror tidur dan somnabulisme
sangat berhubungan erat, keduanya mempunyai karakteristik klinis dan patofisiologis yang
sama.12
F51.5 Mimpi Buruk (nightmares)
Pedoman diagnostik: 12
a

Terbangun dari tidur malam atau tidur saling berkaitan dengan mimpi yang menakutkan yang
dapat diingat kembali dengan rinci dan jelas (vivid) biasanya perihal ancaman kelangsungan
hidup, keamanan, atau harga diri. Terbangunnya dapat terjadi kapan saja selama periode tidur

tetapi yang khas adalah paruh kedua masa tidur


Setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu segera sadar penuh dan mampu

mengenali lingkungannya
Pengalaman mimpi itu dan akibat dari tidur yang terganggu menyebabkan penderitaan cukup
berat bagi individu

Sangat penting untuk membedakan mimpi buruk dari teror tidur dengan memperhatikan
gambaran klinis yang khas untuk masing-masing gangguan. 12

F51.8 Gangguan Tidur Non-Organik lainnya12


F51.9 Gangguan Tidur Non-Organik YTT12

Faktor-faktor yang dapat Menyebabkan Insomnia


1

Faktor Psikologis
Perubahan psikologis yang terjadi pada seseorang dapat dihubungkan pula dengan

keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Kepribadian individu yang terdiri atas
motivasi dan inteligensi dapat menjadi karakteristik konsep diri dari seseorang. Konsep diri yang
positif dapat menjadikan seorang manusia mampu berinteraksi dengan mudah terhadap nilainilai yang ada ditunjang dengan status sosialnya. Kepribadian dasar seseorang amat ditentukan
pada masa kanak-kanak. Salah satunya adalah lingkungan sosial. Peristiwa tidak menyenangkan
pada masa kecil dapat mempengaruhi perilaku dan kepribadian seseorang ketika ia dewasa.
Misalnya, ketidakpedulian orangtua terhadap anak, juga tekanan dan penyiksaan yang
dialaminya. Adanya penurunan dari intelektualitas yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif,
memori, dan belajar pada seseorang menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi.
Dengan adanya penurunan fungsi sistem sensorik maka akan terjadi pula penurunan kemampuan
untuk menerima, memproses, dan merespons stimulus sehingga terkadang akan muncul
aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada. Kemampuan belajar yang menurun dapat terjadi
karena banyak hal. Selain keadaan fungsional organ otak, kurangnya motivasi pada diri juga
berperan. Motivasi akan semakin menurun dengan menganggap bahwa diri sendiri merupakan
beban bagi orang lain dan keluarga.13,14
2

Faktor Biologi
Sampai saat ini berbagai penelitian menunjukkan, penyebab gangguan tidur merupakan

gabungan banyak faktor, baik fisik, psikologis, pengaruh obat-obatan, kebiasaan tidur, maupun
penyakit penyerta lain yang diderita. Gangguan tidur primer terdiri atas gangguan tidur karena
gangguan pernapasan (sleep disoredered breathing), sindrom kaki kurang tenang (restless legs
syndrome) dan gangguan gerakan tungkai periodik (periodic limb movement disorder), dan
gangguan perilaku REM. Gangguan tidur karena gangguan pernapasan (GTGP) merupakan
interaksi komplek dari sistem saraf pusat dan perifer otot-otot saluran napas atas dan beberapa
neurotransmitter yang menghasilkan kolaps (collapse) sebagian atau seluruh lubang pernapasan
atas (faring) sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas dan hipoksia. Faktor dasar seperti

anatomi saluran napas (hipertrofi tonsil), obstruksi hidung, distribusi dan pengumpulan lemak
tubuh, dan tonus otot pernapasan atas, mungkin memegang peranan pada berat ringannya GTGP,
baik sendiri-sendiri ataupun bersama-sama. Sindrom kaki kurang tenang (RLS) ditandai oleh
rasa tidak enak yang berlebihan terutama pada kaki selama malam saat pasien istirahat. Ini
adalah bentuk dari akathisia, sering disebut sebagai perasaan seperti dirayapi semut atau hewan
kecil.8
Gangguan gerakan tungkai yang periodik (PLMS), mungkin menyertai sindrom kaki
kurang tenang atau berdiri sendiri. PLMS ditandai oleh munculnya episode gerakan yang sama
dan berulang, biasanya pada kaki tapi tidak jarang muncul juga pada tangan. Gangguan perilaku
REM (GPR) sangat jarang, tetapi sering muncul pada usia lanjut. Proses yang mendasari
terjadinya gangguan ini adalah adanya disinhibisi transmisi aktivitas motorik saat bermimpi.
Gangguan ini sering muncul tengah malam saat periode REM terjadi. Beberapa laporan
menunjukkan ada hubungan kejadian GPR akut dengan pemakaian obat-obatan antidepresi
seperti antidepresi trisiklik, floksetin, inhibitor monoamin oksidase, dan ketagihan alkohol atau
sedatif.

GPR

kronik

dihubungkan

dengan

narkolepsi

dan

beberapa

penyakit

neurodegeneratif idiopatik seperti demensia dan penyakit Parkinson.8


3

Faktor Sosial
Faktor social merupakan salah satu factor yang dapat mengakibatkan seseorang

mengalami gangguan tidur. Bisa dikarenakan oleh kekuasaan dan prestisenya berkurang,
sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri
dan kemampuan mereka untuk mengikuti perintah. Kemiskinan yang diderita dan menurunnya
derajat kesehatan mengakibatkan seorang secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan di
sekitarnya. Proses penyakit organic maupun psikologis juga dapat mengakibatkan interaksi sosial
lansia mulai menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas. Semua orang mempunyai peran di
dalam hidupnya baik itu peran dalam pekerjaan maupun dalam keluarga atau masyarakat. Pada
umumnya, pria kehilangan peran hidup terutama terjadi pada masa pensiun. Sedangkan pada
wanita terjadi pada masa ketika peran dalam keluarga berkurang, misalnya saat anak menginjak
dewasa serta meninggalkan rumah untuk belajar dan menikah. Pada lansia juga terjadi
kehilangan ganda (triple loss) yaitu kehilangan peran (loss of roles), hambatan kontak sosial
(restriction of contacts and relationships), serta berkurangnya komitmen (reduced commitment to
social morales and values). Tetapi selain hal-hal diatas kehilangan peran juga dapat dirasakan
seseorang contohnya bila dipecat dari pekerjaan, suami mempunyai istri ke dua, merasa diri tidak

berguna dan hanya menyusahkan dan keadaan social maupun keadaan psikologis lainnya juga
dapat memicu seseorang merasa kehilangan perannya.14

Penatalaksanaan
Penanganan terapi non farmakologi terdiri dari cognitive and behavioral therapy
meliputi: sleep hygine, sleep restriction atau pembatasan tidur, relaxation therapy atau terapi
relaksasi dan stimulus control therapy.15

Terapi Non-Farmakologi Insomnia


A. Sleep Hygiene
Sleep Hygiene membahas terapi perilaku yang sesuai untuk insomnia. Ini termasuk
menghindari kafein atau alkohol, kebisingan lingkungan, suhu kamar yang terlalu panas, dan
menonton TV di tempat tidur. Menurut pedoman AASM 2008 merekomendasikan sleep hygiene
sebagai aturan kebersihan untuk semua pasien dengan insomnia kronis dan menemukan bukti
yang cukup efektif ketika mengikuti aturan sleep hygiene ini sebagai monoterapi dan, dengan
demikian, menyarankan penggunaannya sebagai terapi tambahan.15
B. Cognitive Theraphy and Relaxation Theraphy
Dalam terapi kognitif, pasien dididik untuk memperbaiki keyakinan yang tidak benar
tentang tidur dan mengurangi pemikiran mengenai bencana dan hal yang mengkhawatirkan
terlalu berlebihan seperti pemikiran bahwa mereka tidak akan mendapatkan tidur yang cukup.15
Relaxation therapy meliputi relaksasi otot progresif, latihan pernafasan dalam serta
meditasi. Relaksasi otot progresif melatih pasien untuk mengenali dan mengendalikan
ketegangan dengan melakukan serangkaian latihan , pada latihan perrnafasan dalam maka pasien
diminta untuk menghirup dan menghembuskan nafas dalam perlahan lahan.15
C. Stimulus-control Theraphy
Stimulus control therapy terdiri dari beberapa langkah sederhana yang dapat membantu
pasien dengan gejala insomnia, dengan pergi ke tempat tidur saat merasa mengantuk, hindari

menonton TV, membaca, makan di tempat tidur. tempat tidur hanya digunakan untuk tidur dan
aktivitas seksual. jika tidak tertidur dalam 15-20 menit setelah berbaring, bangun dan pergi ke
ruangan lain dan melanjutkan teknik relaksasi, mengatur jam alarm untuk bangun pada waktu
tertentu setiap pagi, bahkan pada akhir pekan, hindari bangun kesiangan, hindari tidur siang
panjang di siang hari.15
D. Sleep Restriction Theraphy
Membatasi waktu di tempat tidur hanya untuk tidur sehingga dapat meningkatkan
kualitas tidur. Terapi ini disebut pembatasan tidur. Hal ini dicapai dengan rata-rata waktu di
tempat tidur dihabiskan hanya untuk tidur. Pasien dipaksa untuk bangun pada waktu yang
ditentukan walaupun pasien masih merasa mengantuk. Ini mungkin membantu tidur pasien yang
lebih baik pada malam berikutnya karena kurang tidur dari malam sebelumnya.15
Sleep restriction ini didasarkan atas pemikiran bahwa waktu yang terjaga di tempat tidur
adalah kontraproduktif sehingga mendorong siklus insomnia. Maka tujuannya adalah untuk
menigkatkan efisiensi tidur sampai setidaknya 85% . awalnya pasien disarankan ke tempat tidur
hanya pada saat tidur. Kemudian mereka diijinkan untuk meningkatkan waktu terjaga di tempat
tidur 15 20 menit permalam setiap minggu, asalkan efisiensi tidur melebihi 90%. Waktu di
tempat tidur berkurang sebesar 15 - 20 menit jika efisiensi tidur dibawah 90%.15
Karena banyaknya penyebab gangguan tidur, maka penatalaksanaan gangguan tidur harus
dilakukan secara individual, dengan meneliti dan menilai gejala dan tanda yang ada pada tiap
pasien. Beberapa hal yang dapat diterapkan pada semua jenis gangguan tidur adalah edukasi
tidur, mengubah gaya hidup, psikoterapi, dan medikamentosa. 7
Edukasi tidur diberikan baik kepada pasien maupun keluarga atau care giver. Edukasi
tersebut meliputi: 7

Tunggu sampai terasa sangat mengantuk sebelum naik ke tempat tidur.


Bila dalam 20 menit berbaring belum bisa tidur maka lebih baik bangun lagi, lakukan
kegiatan lagi dengan tenang dan lakukan relaksasi. Bila mengantuk baru kembali ke

tempat tidur.
Hindarkan penggunaan kamar tidur untuk bekerja, membaca atau menonton televisi.
Pada gangguan perilaku rem lebih baik melakukan penataan ulang kamar tidur dan
sebaiknya tempat tidur tidak diletakan ditempat yang tinggi dan dianjurkan untuk

memasang teralis besi dan selalu dikunci pada waktu tidur untuk menjaga pasien

tidak keluar kamar pada fase berjalan sambil tidur (Somnabulisme) .


Bangun tidur pagi hari pada jam yang sama, tidak peduli sudah berapa lama ia tidur.
Hindarkan minum kopi atau atau merokok.
Lakukan olahraga ringan setiap pagi setelah bangun tidur.
Kurangi tidur siang,, lakukan kegiatan/hobi yang menyenangkan.
Kurangi jumlah minum setelah makan malam, hindari minum alcohol.
Pelajari teknik relaksasi atau lakukan meditasi.
Hindarkan gerakan badan berlebihan saat di tempat tidur.
Berdoa sebelum tidur. Mengubah gaya hidup (life style), diperlukan untuk
memperbaiki faktor fisis dan psikis yang mendasari terjadinya gangguan tidur.
Perubahan tersebut meliputi:
- Usaha menurunkan berat badan dengan memperbaiki pola makan pada pasien
-

GTGP.
Menghindari perjalanan jauh atau bekerja sampai malam hari (shift malam), agar

tidak terjadi jet lag.


Menghindari membaca atau menonton atau mendengarkan cerita-cerita yang

menakutkan atau sangat menyedihkan.


Bila memungkinkan buat suasana lingkungan rumah bersih dan menyenangkan.
Perbaiki hubungan antar anggota keluarga, tumbuhkan suasana aman dan penuh

kasih antar sesama penghuni rumah.


Lakukan aktivitas fisis, jangan duduk diam sepanjang hari

Psikoterapi perlu diberikan pada pasien gangguan tidur yang disebabkan oleh
ansietas dan depresi. Di samping psikoterapi dari seorang psikolog, psikoterapi
berupa dorongan dan penghiburan sebaiknya dilakukan oleh anak atau cucu
pasien.

Farmakologi
Prinsip dasar terapi pengobatan insomnia yaitu, jangan menggunakan obat hipnotik
sebagai satu-satunya terapi, pengobatan harus dikombinasikan dengan terapi non farmakologi,
pemberian obat golongan hipnotik dimulai dengan dosis yang rendah, selanjutnya dinaikan
perlahan lahan sesuai kebutuhan, khususnya pada orang tua, hindari penggunaan
benzodiazepin jangka panjang, hati hati penggunaan obat golongan hipnotik khususnya
benzodiazepin pada pasien dengan riwayat penyalahgunaan atau ketergantungan obat, monitor
pasien untuk melihat apakah ada toleransi obat, ketergantungan obat atau penghentian
penggunaan obat, memberikan edukasi kepada pasien efek penggunaan obat hipnotik yaitu mual

dan kecelakaan saat mengemudi atau bekerja, khususnya golongan obat jangka panjang,
melakukan tapering obat secara perlahan untuk menghindari penghentian obat dan terjadi
rebound insomnia.16
Benzodiazepin
Dalam penggunaanya, efek benzodiazepin yang diinginkan adalah efek hipnotik-sedatif.
Sifat yang diinginkan dari penggunaan hipnotik-sedatif antara lain adalah perbaikan anxietas,
euporia dan kemudahan tidur sehingga obat ini sebagai pilihan utama untuk insomnia , jika
keadaan ini terjadi terus menerus , maka pola penggunaanya akan menjadi kompulsif sehingga
terjadi ketergantungan fisik . hampir semua golongan obat-obatan hipnotik-sedatif dapat
menyebabkan ketergantungan. efek ketergantungan ini tergantung pada besar dosis yang
digunakan tepat sebelum penghentian penggunaan dan waktu paruh serta golongan obat yang
digunakan. Obat-obatan hipnotik-sedatif dengan waktu paruh lama akan dieliminasi lama untuk
mencapai penghentian obat bertahap sedikit demi sedikit. Sedangkan pada obat dengan waktu
paruh singkat akan dieliminasi dengan cepat sehingga sisa metabolitnya tidak cukup adekuat
untuk memberikan efek hipnotik yang lama. Oleh karena itu , penggunaan obat dengan waktu
paruh singkat sangat bergantung dari dosis obat yang digunakan tepat sebelum penghentian
penggunaan.17 Gejala gejala abstinensi dapat terjadi pada penggunaan berbagai golongan obat
hipnotik- sedatif. Gejala gejala ini dapat berupa lebih sukar tidur dibanding sebelum
penggunaan obat- obatan hipnotik-sedatif . jika gejala ini terjadi , ada kecenderungan untuk
menggunakannya lagi . karena mungkin dari sisi psikologis , si pemakai akan merasakan rasa
nyaman karena sifat obat tsb sehingga terjadilah ketergantungan fisik.16 Dibeberapa Negara maju
dan berkembang seperti di Belanda dan Indonesia , benzodiazepin digolongkan ke dalam
golongan psikotropika , sehingga penggunaanya dibatasi karena penyalahgunaan dalam jangka
waktu lama dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikis.
Non-Benzodiazepine
Golongan non-benzodiazepine mempunyai efektifitas yang mirip dengan benzodiazepine
tetapi mempunyai efek samping yang lebih ringan. Efek samping seperti distress pernafasan,
amnesia, hipotensi ortostatik dan jatuh lebih jarang ditemukan pada penelitian-penelitian yang
telah dilakukan.17,18

Zolpidem merupakan salah satu derivat non-benzodiazepine yang banyak digunakan untuk
pengobatan jangka pendek. Obat ini bekerja pada reseptor selektif -1 subunit GABA A reseptor
tanpa menimbulkan efek sedasi dan hipnotik tanpa menimbulkan efek anxiolotik, melemaskan
otot dan antikonvulsi yang terdapat tanpa pada benzodiazepine. Pada clinical trial yang
dilakukan, obat ini dapat mempercepat onset tidur dan meningkatkan jumlah waktu tidur dan
mengurangi frekuensi terjadinya interupsi sewaktu tidur tanpa menimbulkan efek rebound dan
ketergantungan pada penderita.17,18
Zaleplon adalah pilihan lain selain zolpidem, ia adalah derivat pyrazolopyrimidine. Obat ini
mempunyai waktu kerja yang cepat dan sangat pendek yaitu 1 jam. Cara kerjanya sama seperti
zolpidem yaitu pada reseptor subunit -1 GABAA reseptor.17,20 Efektivitasnya sangat mirip
dengan zolpidem tetapi pada suatu penelitian dikatakan obat ini memiliki efek yang lebih
superior berbanding zolpidem. Sering menjadi pilihan utama pada penderita dengan usia
produktif karena masa kerja obat yang sangat pendek sehingga tidak mengganggu aktivitas
sehari-hari. Pada setengah penelitian, ada menyatakan pilihan lain seperti eszopiclone dan
ramelteon dimana mempunyai efektifitas yang mirip dengan zolpidem dan zaleplon.19
Eszociplone
Eszopiclone (lunesta) adalah obat untuk insomnia dan telah disetujui penggunaan oleh
FDA pada tahun 2004. Eszopiclone mempunyai waktu paruh cukup lama yaitu 5-6 jam
dibanding golongan hipnotik non-benzodiazepine yang lain dan obat ini diberikan hanya untuk
pasien yang memiliki waktu tidur terjaga minimal 8 jam. Dosis yang direkomendasikan yaitu 3
mg untuk dewasa sebelum tidur, 1 mg untuk sleep onset insomnia, 2 mg untuk sleep
maintenance insomnia pada lansia dan 1-2 mg pada pasien dengan gagal hati.20
Ramelteon
Ramelteon adalah melatonin reseptor agonis dengan selektivitas yang tinggi terhadap
reseptor MT1 dan MT2 di nucleus suprasiasma di hipotalamus. Reseptor ini dipercaya dapat
memberikan efek tertidur dan memelihara ritme sirkadian. Waktu paruh obat ini pendek yaitu
berkisar 1-6 jam, sehingga cocok untuk sleep onset insomnia atau sleep maintenance insomnia.
Ramelteon secara signifikan meningkatkan total waktu tidur pada chronic insomia dan pasien
lansia dengan chronic insomnia. Dosis yang direkomendasikan yaitu 8 mg yang diberikan 30
menit menjelang tidur.21

Sleep Promoting Agents


Melatonin
Melatonin adalah hormon yang dibentuk di glandula pineal, yaitu sebuah kelenjar yang
hanya sebesar kacang tanah yang terletak di antara kedua sisi otak. Hormon ini mempunyai
fungsi yang sangat khas karena produksinya dipicu oleh gelap dan hening tetapi dapat dihambat
oleh sinar yang terang. Hormon ini sedang menjadi fokus para peneliti saat ini.21
Sebenarnya belum ada penelitian yang menunjukkan adanya hubungan langsung antara
peningkatan melatonin dengan lelapnya tidur seseorang. Tetapi berdasarkan teori yang ada,
hormon melatonin ini meningkat pada saat seseorang tertidur, terutama pada saat suasana
sekitarnya gelap, sesuai dengan sebutan hormon ini, hormone of the darkness. Adanya hormon
ini dikatakan dapat membantu meningkatkan kualitas tidur seseorang. Dari beberapa penelitian
klinik menunjukkan bahwa penggunaan melatonin untuk insomnia ternyata sangat signifikan
dalam menurunkan waktu yang dibutuhkan seseorang untuk jatuh tertidur, memperpanjang
durasi tidur termasuk kualitas tidurnya, sehingga seseorang tidak mengantuk lagi saat beraktifitas
di pagi hari. Dosis yang direkomendasikan ialah 3 mg dan dapat ditingkatkan hingga 12 15mg.
efek samping yang dilaporkan ialah sakit kepala,pusing ,lemah, iritabel. Megadosis (300mg
perhari)dapat menghampat fungsi ovarium.kontraindikasi pada wanita hamil dan menyusui.22
Antihistamin
Three diphenhydramine hydrochloride , dypenhydramine citrate dan doxylamine yang
sering digunakan untuk membantu tidur . Efek samping penggunaanya adalah pusing, lemah,
mual pada 10 25% pada orang yang menggunakan obat ini.20
Antidepresan
Dosis rendah pada antidepresan yg memiliki efek sedasi seperti trazodone (desyrel),
amitriptyline (elavil), doxepine (sinequen, adapin) dan mirtazapin ( remeron) sering diresepkan
pada pasien bukan depresi untuk pengobatan insomnia, antidepresan sering diberikan untuk
insomnia karena pemberiannya tidak terjadwal, relatif tidak mahal, dan memiliki sedikit potensi
untuk disaalahgunakan. Namun demikian harus digunakan secara konservatif untuk insomnia
karena keberhasilannya terbatas dan berpotensi menghasilkan efek samping yang bermakna.20
Pengobatan alternative

Sejumlah pengobatan alternative dianggap dapat membantu memulai tidur dan


menigkatkan kualitas tidur namun tidak ada study yang jelas mengenai permasalahan ini.22
Kesimpulan
Tidur adalah suatu periode istirahat bagi tubuh berdasarkan atas kemauan serta kesadaran
dan secara utuh atau sebagian fungsi tubuh yang akan dihambat atau dikurangi. Selama malam
hari, seseorang melalui dua stadium tidur yang saling bergantian, yaitu tidur paradoksial atau
tidur Rapid Eye Movement (REM) dan tidur gelombang lambat atau tidur Non-Rapid Eye
Movement (NREM). NREM terdiri dari 4 tahap dimana tahan 3 dan 4 adalah tidur dalam.
Melatonin adalah salah satu hormon kegelapan yang memiliki peran penting dalam menginduksi
tidur alami. Sekresi melatonin meningkat hingga 10kali lipat selama malam hari dan kemudian
turun ke kadar rendah selama siang hari. Fluktuasi sekresi melatonin, selanjutnya membantu
menyamakan irama biologis tubuh dengan sinyal siang-malam eksternal.
Keluhan tidur tiap orang berbeda-beda. Banyak orang adalah penidur panjang (longsleeper) yang memerlukan tidur 9 hingga 10 jam tidur di malam hari dan yang lainnya adalah
penidur pendek (short-sleeper), tetapi lama tidur tidak selalu berhubungan dengan gangguan
tidur. Empat gejala utama menandai sebagian besar gangguan tidur; insomnia, hipersomnia,
parasomnia, dan gangguan jadwal tidur-bangun.
Gangguan susah tidur atau insomnia menurut DSM ( Diagnostic and Statistical Manual
of Mental disordes) IV dibagi menjadi 4 tipe yaitu:

Gangguan tidur yang berkolerasi dengan gangguan mental lain,


Gangguan tidur yang disebabkan gangguan medis umum,
Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu,
Gangguan tidur primer (gangguan yang tidak berhubungan dengan kondisi mental,
penyakit ataupun obat-obatan).

Gangguan susah tidur menurut PPDGJ III termasuk dalam

F51 Gangguan tidur non organik yang terdiri dari dyssomnia dan parasomnia
F51.1 Hipersomnia Organik
F51.2 Gangguan Jadwal Tidur Jaga Non-Organik
F51.3 Somnabulisme
F51.4 Teror Tidur
F51.5 Mimpi Buruk
F51.8 Gangguan Tidur Non-Organik lainnya
F51.9 Gangguan Tidur Non-Organik YTT

Insomnia dapat pula terjadi karena beberapa faktor seperti faktor psikologis yang

sangat ditentukan oleh kepribadian individu, peristiwa yang terjadi dalam hidup. Faktor biologi
lebih dikarenakan oleh individu tersebut memiliki penyakit organik di dalam tubuhnya. Dan
faktor sosial seperti interaksi yang kurang dengan masyarakat, kemiskinan dan menurunnya
fungsi hidup ketika memasuki masa lansia.
Penanganan terapi non farmakologi terdiri dari cognitive and behavioral therapy
meliputi: sleep hygine, sleep restriction atau pembatasan tidur, relaxation therapy atau terapi
relaksasi dan stimulus control therapy. Prinsip dasar terapi farmakologi pada pengobatan
insomnia yaitu, jangan menggunakan obat hipnotik sebagai satu-satunya terapi, pengobatan
harus dikombinasikan dengan terapi non farmakologi, pemberian obat golongan hipnotik dimulai
dengan dosis yang rendah, selanjutnya dinaikan perlahan lahan sesuai kebutuhan, golongan
benzodiazepin dan non-benzodiazepin adalah 2 golongan yang sering digunakan untuk
mengobati insomnia.
Daftar Pustaka
1. Sleepdex.

Stages

of

sleep.

[Cited

2016

April

20].

Available

from:

http://www.sleepdex.org
2. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 12nd Ed. Philadelphia, PA, USA:
Elsevier Saunders; 2010.p.1350.
3. Tortora GJ, Derrickson B. Principles of anatomy and physiology. 12nd Ed. USA: John
Wiley & Sons; 2012.p.590.
4. Saddock BJ, Saddock VA. Kaplan & Saddock buku ajar psikiatri klinis. Edisi 2. Jakarta:
EGC; 2010.h. 337.
5. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2012. h. 749-51.
6. Fernando M.S. Coelho. (2012). Sleep science. Narcolepsy in childhood and adolescence.
Volume 5. http://www.sleepscience.com. 21 April 2016.
7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009.
8. Dewanto G, Suwono WJ, Riyanto B, Turana Y. Diagnosis dan tata laksana penyakit saraf.
Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Saraf FK Unika Atmajaya; 2009. h. 188-193
9. Hoffman E, Rosenlicht N. Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC; 1997. Bab 16.
10. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar
Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2010.h.170-85.

11. Alzheimer Disease, diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1134817overview#aw2aab6b2b6, 21 April 2016.


12. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa : Rujukan ringkasan dari PPDGJ III dan DSM 5.
Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya; 2013. h. 7-20.
13. Santoso H, Ismail A. Memahami krisis lanjut usia: uraian medis dan pedagogis-pastoral.
Jakarta: Gunung Mulia; 2009. h. 101-2.
14. Maryam RS, Ekasari MF, Rosidawati, Jubaedi A, Batubara I. Mengenal usia lanjut dan
perawatannya. Jakarta: Salemba Medika; 2008. h. 47-8.
15. Schutte-Rodin S, Broch L, Buysse D, Dorsey C, Sateia M. Clinical guideline for the
evaluation and management of chronic insomnia in adults. J Clin Sleep Med. 2008 Oct
15. 4(5):487-504.
16. Savard J et al. Chronic insomnia and immune functioning. America: American
psychosomatic Society; 2003.

17. Petit L, Azad N, Anna B. Non-pharmacological management of primary and secondary


insomnia among older people. British Geriatric Society: 2003; 32:19-25.
18. Erika N, Susan L, John ED. Treatment of primary insomnia. JABFP. June: 2004; 17:212218.
19. Kumar B, Carlos R, Nancy FS. Advances in treating insomnia. Cleveland Clinic Journal
of Medicine. April: 2007; Vol 74: 251-265.
20. Ruth
M.
Diagnosis
and

treatment

of

insomnia.

http://ps.psychiatryonline.org/vol.56/no.3/march2005 (Downloaded on 23rd of April


2016).
21. Budur K et al. Advances in treating insomnia. 4th Ed. New York: Cleveland clinic journal
of medicine: 2007.p. 251-266.
22. Kramer M. Long term use of Hypnotic Agents in the treatment insomnia. Available at:
http://ps.psychiatryonline.org/vol.56/no.6/june2005 (Downloaded on 23rd of April 2016).