Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PKN

HUBUNGAN ANTARA SISTEM


PEMBAGIAB PEMERINTAH NEGARA,
KEMENTRIA
NEGARA,DAN PERDA

NAMA ANGGOTA :
1. IMAM THORIQURRAHMAN
2. MAULANA ADIL HAMZAH
3. MAULIDIA AYU N
4. RAISYA YUNITA R
5. SIRWI NINDIA
6. TRI NANDA AYU L

(8)
( 13 )
( 16 )
( 23 )
( 30 )
( 35 )

A.PEMERINTAHAN NEGARA

Pemisahan kekuasaan berarti kekuasaan negara itu terpisah-pisah dalam beberapa bagian,
baik mengenai organnya maupun fungsinya. Dengan kata lain, lembaga pemegang kekuasaan
negara yang meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif merupakan lembaga yang
terpisah satu sama lainnya, berdiri sendiri tanpa memerlukan koordinasi dan kerjasama.
Setiap lembaga menjalan fungsinya masing-masing. Contoh negara yang menganut
mekanisme pemisahan kekuasaan adalah Amerika Serikat.
Berbeda dengan mekanisme pemisahan kekuasaan, di dalam mekanisme pembagian
kekuasaan, kekuasaan negara itu memang dibagi-bagi dalam beberapa bagian (legislatif,
eksekutif dan yudikatif), tetapi tidak dipisahkan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa
diantara bagian-bagian itu dimungkinkan ada koordinasi atau kerjasama. Mekanisme
pembagian ini banyak sekali dilakukan
oleh banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.
Mekanisme pembagian kekuasaan di Indonesia diatur sepenuhnya di dalam UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945. Penerapan pembagian kekuasaan di Indonesia terdiri atas
dua bagian, yaitu pembagian kekuasaan secara horizontal dan pembagian kekuasaan secara
vertikal.
1. embagian kekuasaan secara horizontal
Pembagian kekuasaan secara horizontal yaitu pembagian kekuasaan menurut fungsi lembagalembaga tertentu (legislatif, eksekutif dan yudikatif). Berdasarkan UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, secara horizontal pembagian kekuasaan negara di lakukan pada
tingkatan pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah.
Pembagian kekuasaan pada tingkatan pemerintahan pusat berlangsung antara lembagalembaga negara yang sederajat. Pembagian kekuasaan pada tingkat pemerintahan pusat
mengalami pergeseran setelah terjadinya perubahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Pergeseran yang dimaksud adalah pergeseran klasifikasi kekuasaan negara yang
umumnya terdiri atas tiga jenis kekuasaan (legislatif, eksekutif dan yudikatif) menjadi enam
kekuasaan negara, yaitu:
1.
Kekuasaan konstitutif, yaitu kekuasaan untuk mengubah dan menetapkan UndangUndang Dasar. Kekuasaan ini dijalankan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menyatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan
Undang-Undang Dasar.
2.
Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang dan
penyelenggraan pemerintahan Negara. Kekuasaan ini dipegang oleh Presiden sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menyatakan bahwa Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan
menurut Undang-Undang Dasar.
3.
Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang. Kekuasaan
ini dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 20 ayat (1)
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Dewan Perwakilan
Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang.
4.
Kekuasaan yudikatif atau disebut kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan ini dipegang
oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 24

ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Kekuasaan
kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di
bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi.
5.
Kekuasaan eksaminatif/inspektif, yaitu kekuasaan yang berhubungan dengan
penyelenggaraan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan
negara. Kekuasaan ini dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana ditegaskan
dalam Pasal 23 E ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan
bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan
satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
6.
Kekuasaan moneter, yaitu kekuasaan untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan
moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta memelihara kestabilan
nilai rupiah. Kekuasaan ini dijalankan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral di Indonesia
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 23 D UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang menyatakan bahwa negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan,
kewenangan, tanggung jawab, dan indepedensinya diatur dalam undang-undang.
Pembagian kekuasaan secara horizontal pada tingkatan pemerintahan daerah berlangsung
antara lembaga-lembaga daerah yang sederajat, yaitu antara Pemerintah Daerah (Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pada tingkat
provinsi, pembagian kekuasaan berlangsung antara Pemerintah provinsi (Gubernur/wakil
Gubernur) dan DPRD provinsi. Sedangkan pada tingkat kabupaten/kota, pembagian
kekuasaan berlangsung antara Pemerintah Kabupaten/Kota (Bupati/wakil Bupati atau
Walikota/wakil Walikota) dan DPRD kabupaten/kota.
2. Pembagian kekuasaan secara vertikal
Pembagian kekuasaan secara vertikal merupakan pembagian kekuasaan menurut tingkatnya,
yaitu pembagian kekuasaan antara beberapa tingkatan pemerintahan. Pasal 18 ayat (1) UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerahdaerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan
kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang
diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan ketentuan tersebut, pembagian kekuasaan secara vertikal di negara Indonesia
berlangsung antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah (pemerintahan provinsi dan
pemerintahan kabupaten/kota). Pada pemerintahan daerah berlangsung pula pembagian
kekuasaan secara vertikal yang ditentukan oleh pemerintahan pusat. Hubungan antara
pemerintahan provinsi dan pemerintahan kabupaten/kota terjalin dengan koordinasi,
pembinaan dan pengawasan oleh Pemerintahan Pusat dalam bidang administrasi dan
kewilayahan.

Pembagian kekuasaan secara vertikal muncul sebagai konsekuensi dari diterapkannya asas
desentralisasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan asas tersebut, Pemerintah
Pusat menyerahkan wewenang pemerintahan kepada pemerintah daerah otonom (provinsi
dan kabupaten/kota) untuk mengurus dan mengatur sendiri urusan pemerintahan di
daerahnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, yaitu

kewenangan yang berkaitan dengan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi,
agama, moneter dan fiskal.
Hal tersebut ditegaskan dalam Pasal 18 ayat (5) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang menyatakan Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.

B. KEMENTRIAN REPUBLIK INDONESIA


Menteri adalah pembantu presiden. Ia diangkat dan diberhentikan oleh presiden untuk suatu
tugas tertentu. Kementrian di Indonesia dibagi ke dalam 3 kategori yaitu Kementerian
Koordinator, Kementrian Departemen, dan Kementrian Negara. Kementrian Koordinator
bertugas membantu presiden dalam suatu bidang tugas. Di Indonesia, menteri koordinator
terdiri atas 3 bagian, yaitu : Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan;
Menteri Koordinator bidang Perekonomian; Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan
Rakyat. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan bertugas membantu
Presiden dalam mengkoordinasikan perencanaan dan penyusunan kebijakan, serta
mensinkronkan pelaksanaan kebijakan di bidang politik, hukum, dan keamanan.
Fungsi yang ada padanya adalah :
1. Pengkoordinasian para Menteri Negara dan Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non
Departemen (LPND) dalam keterpaduan pelaksanaan tugas di bidang politik dan
keamanan, termasuk permasalahan dalam pelaksanaan tugas.
2. Pengkoordinasioan dan peningkatan keterpaduan dalam penyiapan dan perumusan
kebijakan pemerintahan Kantor Menteri Negara, Departemen, dan Lembaga
Pemerintah Non Departemen (LPND) di bidang politik dan keamanan.
3. Penyampaian laporan hasil evaluasi, saran, dan pertimbangan di bidang tugas dan
fungsinya kepada Presiden.
Menteri Negara bertugas membantu presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi
terhadap kebijakan seputar bidang yang diembannya. Menteri Negara RI terdiri atas 10
bidang strategis yang harus dipimpin seorang menteri negara. Ke-10 bidang tersebut adalah :
4. Menteri Negara Riset dan Teknologi,
5. Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah,
6. Menteri Negara Lingkungan Hidup,
7. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan,
8. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara,
9. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal,
10.Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional,
11.Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara,
12.Menteri Negara Perumahan Rakyat, dan
13.Menteri Negara Pemuda dan Olahraga.

Menteri Departemen, adalah para menteri yang diangkat presiden dan mengatur bidang kerja
spesifik. Menteri Departemen mengepalai satu departemen. Di Indonesia kini dikenal ada 21
Departemen yang dipimpin seorang menteri. Departemen-departemen tersebut adalah :
1. Sekretaris Negara
2. Dalam Negeri
3. Luar Negeri
4. Pertahanan
5. Hukum dan HAM
6. Keuangan
7. Energi dan Sumber Daya Mineral
8. Perindustrian
9. Perdagangan
10. Pertanian
11. Kehutanan
12. Perhubungan
13. Kelautan dan Perikanan
14. Tenaga Kerja dan Transmigrasi
15. Pekerjaan Umum
16. Kesehatan
17. Pendidikan Nasional
18. Sosial
19. Agama
20. Kebudayaan dan Pariwisata
21. Komunikasi dan Infomatika
LEMBAGA SETINGKAT MENTERI
Lembaga Setingkat Menteri adalah lembaga-lembaga yang secara hukum berada di bawah
Presiden. Namun, lembaga ini memiliki karakteristik tugas khas yang membutuhkan tata cara
pengurusan tersendiri. Di Indonesia, lembaga setingkat menteri terdiri atas :
1.
2.
3.
4.
5.

Sekretaris Kabinet
Kejaksaan Agung
Tentara Nasional Republik Indonesia
Kepolisian Negara Republik Indonesia
LEMBAGA PEMERINTAH NON DEPARTEMEN (LPND)

LPND mirip dengan kementrian departemen, akan tetapi lebih sempit wilayah yang dibidangi
dan biasanya dikepalai oleh seorang Kepala. LPND yang dikenal di Indonesia adalah :
1. Arsip Nasional Republik Indonesia

2. Badan Intelijen Negara


3. Badan Kepegawaian Negara
4. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
5. Badan Koordinasi Penanaman Modal
6. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
7. Badan Metereologi dan Geofisika
8. Badan Pengawasan Obat dan Makanan
9. Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi
10.Bedan Pengawas Tenaga Nuklir
11.Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
12.Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
13.Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
14.Badan Pertanahan Nasional
15.Badan Pusat Statistik
16.Badan Standarisasi Nasional
17.Badan Tenaga Atom Nasional
18.Badan Urusan Logistik
19.Lembaga Administrasi Negara
20.Lembaga Ilmu Pengetahuan Nasional
21.Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
22.Perpustakaan Nasional Republik Indonesia