Anda di halaman 1dari 23

Tumbal Parpol Bernama Pilkada Tak

Langsung
by Damang September 25, 2014
Hampir semua permasalahan yang dipersoalkan dalam RUU Pilkada untuk menolak Pilkada
langsung, dan kembali pada Pilkada tak langsung. Ketika diperhatikan, dianalisis dan
dicermati secara jeli ternyata disebabkan oleh Partai Politik itu sendiri.
Beberapa kelamahan dari Pilkada langsung yang ditengarai saat ini merusak demokrasi
substantif. Adalah berbiaya mahal (high cost), menimbulkan konflik horizontal, sarat
transaksional, praktik money politic secara jor-joran, munculnya oligarki partai/ dinasti
politik, dan melahirkan kepala daerah yang korup.
Tumbal Parpol
Inilah hebatnya elit senayan (terutama Koalisi Merah Putih) sekarang. Alih-alih sudah berada
dipucuk akhir jabatannya, malah menciptakan kelemahan-kelemahan dari Pilkada langsung.
Seolah-olah semua efek buruk Pilkada langsung tersebut, disebabkan oleh rakyat yang telah
dilibatkan secara langsung memilih kepala daerahnya sendiri.
Padahal kalau mau ditilik dengan teliti, elit politiklah yang melakukan kesalahan. Rakyat di
sini hanya korban kebiadaban politik elit, yang telah menyunat demokrasi atas milik
nyata sang daulat rakyat.
Bila Pilkada langsung dianggap berbiaya mahal, oleh karena biaya untuk penyelenggaranya
dan kandidatnya yang dipaksa mengeluarkan ongkos politik. Kasus berbiaya mahal bukan
karena rakyat penyebabnya. Tetapi elit politiklah, dalam hal ini anggota DPR (sebagai hasil
produk partai) yang mempunyai fungsi legislasi gagal menciptakan regulasi untuk
penyelenggaraan dan pembiayaan Pemilukada yang murah. Soal anggota legislatifnya yang
amatiran dalam penerbitan regulasi, jelas tidak ada yang bisa disalahkan, kalau bukan Partai
Politik itu sendiri yang telah diberi kuasa penuh untuk merekrut calon anggota legislatif.
Lantas, bagaimana dengan Pilkada langsung yang dituding sebagai biang munculnya konflik
horisontal?

Sumber Gambar: citizenjurnalism.com


Lagi-lagi, konflik massa pendukung, perlu diamati secara jelas. Kalau itu juga bukan
kesalahan total rakyat. Dipastikan tidak akan ada konflik yang terjadi, seandainya saja
Partai Politik telah berhasil melakukan political education baik terhadap anggota partainya
yang kemudian diusung sebagai calon kepala daerah, maupun terhadap rakyat yang telah
digolongkan sebagai pemilih. Bahwa ketika calon kepala daerah dan pemilih (baca: massa
pendukung) telah matang didikan politiknya. Semuanya, sudah pasti benar-benar siap
menang dan kalah, karena itulah hakikat dari kedewasaan berdemokrasi.
Demikian pula, masalah politik transaksional. Ketika kandidat, pada tahap pencalonan hingga
masa kampanye. Menjadi keniscayaan untuk melakukan praktik transaksional terhadap partai
pengusung, berupa penyetoran mahar, ditambah lagi uang yang harus digelontorkan untuk
menggoda pemilih, agar menjatuhkan pilihan terhadap dirinya. Pun itu disebabkan oleh
Partai Politik. Partai Politik tidak mau mengusung hingga memberikan dukungan terhadap
kandidat, kalau hanya gratisan. Bukankah tidak ada makan siang gratis? Praktik money
politic juga bukan karena pemilihnya yang memaksa, Cuma saja pemilihnya yang belum
merasakan insentif elektoral dari nama-nama kandidat yang tersedia. Sebab seandainya
Parpol sejak dini mentransformasikan ideologinya terhadap semua ceruk pemilih,
kandidatnya sudah dikenal rekam jejaknya, rakyat pasti akan datang memilih di TPS, meski
tak ada lembaran rupiah yang sudah diterima.
Efek buruk lain dari Pilkada langsung, katanya juga dapat melahirkan dinasti politik dan
oligarki partai. Kasus yang selalu menguatkan masalah ini adalah kasus Banten sejak
tertangkapnya Ratu Atut oleh KPK.
Sejatinya, pemilih dalam Pilkada langsung bukanlah aktor utama yang akan mengantarkan
siapa pemenang Kepala Daerah. Namun calon-calon tersebut, Partai Politik yang harus
selektif dalam mengajukan calon. Jangan asal konglomerat, keturunan raja, anak ketua partai,
lalu dengan serta merta diusung sebagai kandidat yang maha sempurna. Namun yang selalu
terjadi saat ini, Partai Politik justru tidak pernah melihat integritas, kapasitas, profesionalitas
anggotanya, untuk kemudian diusung sebagai calon Kepala Daerah. Malah yang lebih
memperihatinkan, perekrutan Calon Kepala Daerah, minim regenerasi. Maka terjadilah
dinasti politik hingga oligarki, dan biangnya Partai Politik itu sendiri.
Penerapan Pilkada langsung yang sudah berjalan sepuluh tahun. Konon pula, banyak
mengantarkan Kepala Daerah dalam pusaran korupsi. Logikanya, Kepala Daerah korupsi,
sebagai tindak lanjut untuk mengembalikan pembiayaan politiknya selama Pemilukada.
Hemat Penulis, bahwa persoalan pembiayaan mahalnya Pemilukada, bukankah dapat ditekan
dengan regulasi yang ketat? Yang menjadi persoalan, bagaimana dengan Kepala Daerahnya
yang memang bermental korup, korupsi karena keserakahan (corruptio by greedy)?
Jawabannya, Partai Politiklah yang salah dalam melakukan perekrutan, sebab tidak mampu
melahirkan pejabat publik yang berintegritas, jauh dari niat untuk tidak berbuat korupsi.
Kesimpulan dari bangunan semua argumen di atas. Tidak ada yang salah dengan rakyat, jika
menuntut haknya untuk tetap bertahan pada Pilkada langsung. Yang salah adalah Partai
Politik. Gara-gara Partai Politik yang tidak memliki kemampuan menjalankan semua fungsifungsinya, seperti pendidikan politik, fungsi kaderisasi, fungsi rekrutmen. Sehingga pada

akhirnya Pilkada langsung yang memunculkan banyak keburukan, rakyat seolah-oleh


dipersalahkan atas hak pilih yang tetap mau dipertahankannya.
Niat beberapa elit senayan untuk kembali kepada Pilkada tak langsung, ternyata adalah
tumbal dari Partai Politik yang tidak mampu menjalankan semua fungsi asalinya.
Peran Parpol
Sebagai pilar demokrasi, peran Partai Politik tentunya tidak boleh dilupakan. Kini, sembari
tetap mempertahankan Pilkada langsung, tidak perlu kembali ke sistem perwakilan. Partai
Politik harus kembali berbenah atas segala kevakumannya di tingkat daerah-daerah. Pertama,
Partai Politik harus konsisten menjalankan pendidikan politik baik kepada kader, anggota,
hingga pada masyarakat. Kedua, Partai Politik harus memiliki sistem kaderisasi yang jelas,
guna melahirkan anggota yang sejalan dengan ideologi partai. Ketiga, transparansi perekrutan
calon Kepala Daerah harus diutamakan terhadap calon-calon yang diusung oleh Parpol
tersebut. Jika Parpol sehat, demokrasi akan sehat, dan rakyat pasti berdaulat. (*)

Mempertahankan Pilkada Langsung


by Damang September 9, 2014

Sumber Gambar: metrosiantar.com


GONJANG-ganjing untuk kembali ke sistem Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara tidak
langsung kini mulai digulirkan oleh DPR melalui Panja RUU Pilkada. Rencananya RUU
tersebut akan disahkan dalam batas tiga minggu ke depan.
Memang anggota DPR RI 2014-2019 belum dilantik. Tetapi efeknya kini sudah mulai
terasa. Koalisi merah-putih, partai-partai pendukung Prabowo-Hatta di parlemen mulai
menunjukan dominasinya. Seluruh fraksi dari partai eks pendukung Prabowo-Hatta, sudah
sepakat untuk mengegolkan RUU Pilkada tersebut. Pemilihan Kepala Daerah saatnya
dipilih oleh DPRD saja (Pilkada tak langsung).
Jika ditilik pada persoalan mendasarnya, nalar untuk kembali menganut Pilkada tak langsung,
tersimpul dalam beberapa alasan. Pertama, Pilkada langsung dianggap menelan biaya yang
sangat mahal, hingga membebani anggaran Negara, toh katanya anggaran tersebut bisa
dialihkan untuk sektor yang lainnya. Belum lagi banyaknya anggaran yang banyak
dikeluarkan oleh kandidat kepala daerah. Kedua, Pilkada langsung lebih banyak
menimbulkan konflik horizontal, yang beresiko mengancam stabilitas keamanan masingmasing daerah. Ketiga, Pilkada langsung menyebabkan maraknya politik transaksional,
hingga terjadi praktek money politic secara jor-joran. Keempat, hasil Pilkada langsung
disinyalir belum berkorelasi dengan perbaikan kesejahteraan tiap-tiap daerah. Kelima,
pemerintah ingin memperkuat posisi dan kewenangan Gubernur di daerah dengan dalih Pasal
18 UUD NRI 1945 membuka pintu tafsir tentang otonomi seluas-luasnya. Olehnya itu,
pemerintah menganggap otonomi luas terletak di provinsi, dengan otomatis Gubernur dapat
dipilih langsung, sedangkan pemilihan Bupati dan Wali Kota selaiknya dipilih melalui
DPRD saja. Keenam, Pemilihan Kepala Daerah dianggap bukan bagian dari rezim Pemilu
sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD NRI 1945. Bahwa pemilihan kepala daerah yang

dikehendaki oleh konstitusi adalah pemilihan demokratis, tidak ada kata pemilihan demokrasi
langsung (Pasal 18 Ayat 4 UUD NRI 1945).
Kambing Hitam
Saya menilai seluruh alasanpemerintah hendak kembali ke Pilkada tak langsung adalah
alasan yang tidak berdasar dan tidak tepat. Seluruh alasan tersebut hanya dijadikan kambing
hitam Pilkada langsung. Sebuah alasan yang sengaja dibuat-buat terhadap Pilkada
langsung dengan segala kecacatannya. Sehingga Pilkada langsung itu tidak ada
kelebihannya. Saya membantah semua dalil tersebut sebagai berikut:
Alasan Pertama, ketika Pilkada langsung dianggap mahal, ini bukan semata-mata kesalahan
rakyat. Namun ini bukti dari ketidakmampuan pemerintah menyelenggarakan Pemilu yang
berbiaya rendah. Sudah jamak diketahui, seandainya Pemilukada diselenggarakan secara
serentak sembari menerapkan sistem pemilihan elektronik (e-voting), sudah pasti persoalan
biaya tekhnis penyelenggaraan Pilkada dapat ditekan. Lagi pula kalau menganggap Pilkada
langsung boros, bagaimana pula dengan Pileg dan Pilpres yang juga demikian kasusnya?
Apakah penyelenggaraan Pileg dan Pilpres akan dikembalikan pula pada sistem pemilihan
tak langsung?
Kedua, kalau Pilkada langsung dianggap memicu terjadinya konflik horizontal. Dengan
sangat berat hati, saya berani mengatakan ini bukan konflik yang disebabkan oleh rakyat
ataukah para pendukung. Namun ini lebih tepat dikatakan konflik elit. Sudah merupakan
rahasia umum terjadinya konflik atas efek Pilkada langsung, banyak campur tangan Kandidat
Kepala Daerah yang belum siap kalah.Alih-alih berharap kepada elit menjadi afirmasi
demokrasi, justru sebaliknya belum menunjukan kedewasaan berdemokrasi, hingga
memobilisasi massa pendukung agar berbuat rincuh, hingga anarki terhadap beberapa
fasilitas publik.
Ketiga, lagi-lagi politik tranaksional yang terjadi dalam Pilkada langsung, ini bukan
disebabkan pemilih yang tidak cerdas. Malah Pemilu 2014 kemarin mengajarkan, banyak
pemilih yang sudah tidak gampang disuap dengan lembaran rupiah, agar memilih pasangan
tertentu. Politik transaksional setidaknya juga dapat dicegah, kalau ada regulasi limitasi
pembiayaan kampanye. Selain itu, kalau banyak terjadi praktek money politic, ini persoalan
hukum yang sudah jelas pengawasannya. Cuma saja lebih efektifnya, guna menghapuskan
yang namanya money politic, sebaiknya Bawaslu diberikan kekuatan eksekusi yang dapat
mendiskualifikasi kandidat jika terbukti terlibat dalam perbuatan itu.
Keempat, sebuah pendapat yang keliru kalau Pilkada langsung justru dijadikan kambing
hitam tidak dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejahtera atau tidak sejahteranya
masyarakat adalah persoalan kepala daerah yang tidak memiliki kemapuan managerial
mengatur dan mengelolah daerah yang dipimpinnya. Justru melalui Pilkada langsung, saat ini
perlahan kita sudah menuai hasilnya . Dari sanalah banyak terorbitkan champion daerah
yang berkinerja baik. Ada nama Tri Risma (Wali Kota Surabaya), ada Nurdin Abdullah
(Bupati Bantaeng), ada Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung). Bahkan mustahil kita bisa
menemukan nama sekelas Jokowi, seandainya bukan karena buah dari Pilkada langsung.
Kelima, adalah merupakan kesalahan besar jika Gubernurnya dipilih langsung, sementara
Bupati dan wali kota-nya melalui Pilkada tidak langsung. Perlu diketahui bahwa fungsi dan
kewenangan dari Gubernur sebagai lembaga koordinasi ke kota dan kabupaten saja.

Sementara kabupaten dan kota adalah dominan pelaksana tegas fungsi otonomi daerah, yang
mana dalam melaksanakan otonomi tersebut perlu penilaian atas dasar kemauan dari warga
daerah, yang lebih tahu-menahu siapa Kepala Daerah yang layak mengatur daerahnya.
Tetap Konstitusional
Terkait dengan alasan terakhir, bahwa Pilkada langsung inkonstitusional. Atau ada yang
menilai masih bias kata demokratis dalam Pasal 18 UUD NRI 1945. Sehingga Pemilukada
pantas untuk menganut demokrasi tidak langsung. Saya menganggapnya tetap konstitusional,
atas penyelenggaraan Pilkada langsung. Untuk menafsirkan makna demokratis tersebut,
sebaiknya ditafsirkan secara sistematis dalam satu kesatuan perundang-undangan. Yakni
perwujudan penyelenggaraan Pilkada demokratis harus menganut prinsip langsung
sebagaimana perintah Pasal 22 E Pemilihan Umum dilaksanakan secara langsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, dan adil setiap lima tahun sekali.
Ini sebuah kontradiksi dalam sistem pemerintahan Presidensial (Pasal 6 A UUD NRI 1945),
dalam satu Negara kesatuan RI. Jika pemilihan Presiden dan DPR dipilih secara langsung,
lalu kepala daerahnya dipilih oleh DPRD. Berarti kita menganut sistem presidensialisme
setengah hati, yang tidak konsisten untuk menerapkannya pula di setiap pemerintahan daerah.
Jika kepala daerah dipilih oleh DPRD. Bukankah ini ciri khas sistem pemerintahan
parlementer?(*)

A. Pengertian dan Landasan Hukum Pilkada


Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos yang
berarti pemerintahan. Sehingga demokrasi dapat diartikan pemerintahan dari rakyat dari
rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Pemerintahan yang kewenangannya pada rakyat. Semua
anggota masyarakat (yang memenuhi syarat ) diikutsertakan dalam kehidupan kenegaraan
dalam aktivitas pemilu. Pelaksanaan dari demokrasi ini telah dilakukan dari dahulu di
berbagai daerah di Indonesia hingga Indonesia merdeka sampai sekarang ini. Demokrasi di
negara Indonesia bersumberkan dari Pancasila dan UUD 45 sehingga sering disebut dengan
demokrasi pancasila. Demokrasi Pancasila berintikan musyawarah untuk mencapai mufakat,
dengan berpangkal tolak pada faham kekeluargaan dan kegotongroyongan
Indonesia pertamakali dalam melaksanakan Pemilu pada akhir tahun 1955 yang diikuti oleh
banyak partai ataupun perseorangan. Dan pada tahun 2004 telah dilaksanakan pemilu yang
secara langsung untuk memilih wakil wakil rakyat serta presiden dan wakilnya. Dan sekarang
ini mulai bulan Juni 2005 telah dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah atau sering disebut
pilkada langsung. Pilkada ini merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat. Ada lima
pertimbangan penting penyelenggaraan pilkada langsung bagi perkembangan demokrasi di
Indonesia.
1. Pilkada langsung merupakan jawaban atas tuntutan aspirasi rakyat karena pemilihan
presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, bahkan kepala desa selama ini telah dilakukan
secara langsung.
2. Pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Seperti telah
diamanatkan Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, Gubernur, Bupati dan Wali Kota, masing-masing
sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis.
Hal ini telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan,
Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
3. Pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat (civic
education). Ia menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang
diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya
memilih pemimpin yang benar sesuai nuraninya.
4. Pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Keberhasilan otonomi
daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Semakin baik pemimpin lokal
yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005, maka komitmen pemimpin lokal dalam
mewujudkan tujuan otonomi daerah, antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dengan selalu memerhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat agar dapat
diwujudkan.
5. Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan
nasional. Disadari atau tidak, stock kepemimpinan nasional amat terbatas. Dari jumlah
penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta, jumlah pemimpin nasional yang kita miliki
hanya beberapa. Mereka sebagian besar para pemimpin partai politik besar yang memenangi
Pemilu 2004. Karena itu, harapan akan lahirnya pemimpin nasional justru dari pilkada
langsung ini.
B. Pelaksanaan dan Penyelewengan Pilkada

Pilkada ini ditujukan untuk memilih Kepala daerah di 226 wilayah yang tersebar dalam 11
provinsi dan 215 di kabupaten dan kota. Rakyat memilih kepala daerah masing masing secara
langsung dan sesuai hati nurani masing masing. Dengan begini diharapkan kepala daerah
yang terpilih merupakan pilihan rakyat daerah tersebut. Dalam pelaksanaannya pilkada
dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah masing masing. Tugas yang
dilaksanakan KPUD ini sangat berat yaitu mengatur pelaksanaan pilkada ini agar dapat
terlaksana dengan demokratis. Mulai dari seleksi bakal calon, persiapan kertas suara, hingga
pelaksanaan pilkada ini.
Dalam pelaksanaannya selalu saja ada masalah yang timbul. Seringkali ditemukan pemakaian
ijasah palsu oleh bakal calon. Hal ini sangat memprihatinkan sekali . Seandainya calon
tersebut dapat lolos bagai mana nantinya daerah tersebut karena telah dipimpin oleh orang
yang bermental korup. Karena mulai dari awal saja sudah menggunakan cara yang tidak
benar. Dan juga biaya untuk menjadi calon yang tidak sedikit, jika tidak iklas ingin
memimpin maka tidakan yang pertama adalah mencari cara bagaimana supaya uangnya dapat
segera kemali atau balik modal. Ini sangat berbahaya sekali.
Dalam pelaksanaan pilkada ini pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Seringkali bagi
pihak yang kalah tidak dapat menerima kekalahannya dengan lapang dada. Sehingga dia akan
mengerahkan massanya untuk mendatangi KPUD setempat. Kasus kasus yang masih hangat
yaitu pembakaran kantor KPUD salah satu provinsi di pulau sumatra. Hal ini membuktikan
sangat rendahnya kesadaran politik masyarakat. Sehingga dari KPUD sebelum melaksanakan
pemilihan umum, sering kali melakukan Ikrar siap menang dan siap kalah. Namun tetap saja
timbul masalah masalah tersebut.
Selain masalah dari para bakal calon, terdapat juga permasalahan yang timbul dari KPUD
setempat. Misalnya saja di Jakarta, para anggota KPUD terbukti melakukan korupsi dana
Pemilu tersebut. Dana yang seharusnya untuk pelakasanaan pemilu ternyata dikorupsi.
Tindakan ini sangat memprihatinkan. Dari sini dapat kita lihat yaitu rendahnya mental para
penjabat. Dengan mudah mereka memanfaatkan jabatannya untuk kesenangan dirinya
sendiri. Dan mungkin juga ketika proses penyeleksian bakal calon juga kejadian seperti ini.
Misalnya agar bisa lolos seleksi maka harus membayar puluhan juta.
Dalam pelaksanaan pilkada di lapangan banyak sekali ditemukan penyelewengan
penyelewengan. Kecurangan ini dilakukan oleh para bakal calon seperti :
1. Money politik
Sepertinya money politik ini selalu saja menyertai dalam setiap pelaksanaan pilkada. Dengan
memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah, maka dengan
mudah mereka dapat diperalat dengan mudah. Contoh yang nyata saja yaitu di lingkungan
penulis yaitu desa Karangwetan, Tegaltirto, Berbah, Sleman, juga terjadi hal tersebut. Yaitu
salah satu dari kader bakal calon membagi bagikan uang kapada masyarakat dengan syarat
harus memilih bakal calon tertentu. Tapi memang dengan uang dapat membeli segalanya.
Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka dengan mudah orang itu dapat
diperalat dan diatur dengan mudah hanya karena uang.
Jadi sangat rasional sekali jika untuk menjadi calon kepala daerah harus mempunyai uang
yang banyak. Karena untuk biaya ini, biaya itu.
2. Intimidasi
Intimidasi ini juga sangat bahaya. Sebagai contoh juga yaitu di daerah penulis oknum
pegawai pemerintah melakukan intimidasi terhadap warga agar mencoblos salah satu calon.
Hal ini sangat menyeleweng sekali dari aturan pelaksanaan pemilu.
3. Pendahuluan start kampanye

Tindakan ini paling sering terjadi. Padahal sudah sangat jelas sekali aturan aturan yang
berlaku dalam pemilu tersebut. Berbagai cara dilakukan seperti pemasangan baliho, spanduk,
selebaran. Sering juga untuk bakal calon yang merupakan Kepala daerah saat itu melakukan
kunjungan keberbagai daerah. Kunjungan ini intensitasnya sangat tinggi ketika mendekati
pemilu. Ini sangat berlawanan yaitu ketika sedang memimpin dulu. Selain itu media TV lokal
sering digunakan sebagi media kampanye. Bakal calon menyam paikan visi misinya dalam
acara tersbut padahal jadwal pelaksanaan kampanye belum dimulai.
4. Kampanye negatif
Kampanye negatif ini dapat timbul karena kurangnya sosialisasi bakal calon kepada
masyarakat. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat masih sangat kurang terhadap
pentingnya informasi. Jadi mereka hanya manut dengan orang yang disekitar mereka yang
menjadi panutannya. Kampanye negatif ini dapat mengarah dengan munculnya fitnah yang
dapat merusak integritas daerah tersebut.
C. Solusi
Dalam melaksanakan sesuatu pasti ada kendala yang harus dihadapi. Tetapi bagaimana kita
dapat meminimalkan kendala kendala itu. Untuk itu diperlukan peranserta masyarakat karena
ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja. Untuk menggulangi permasalah yang timbul
karena pemilu antara lain :
1. Seluruh pihak yang ada baik dari daerah sampai pusat, bersama sama menjaga ketertiban
dan kelancaran pelaksanaan pilkada ini. Tokoh tokoh masyarakat yang merupakan panutan
dapat menjadi souri tauladan bagi masyarakatnya. Dengan ini maka dapat menghindari
munculnya konflik.
2. Semua warga saling menghargai pendapat. Dalam berdemokrasi wajar jika muncul
perbedaan pendapat. Hal ini diharapkan tidak menimbulkan konflik. Dengan kesadaran
menghargai pendapat orang lain, maka pelaksanaan pilkada dapat berjalan dengan lancar.
3. Sosialisasi kepada warga ditingkatkan. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan
masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat. Sehingga menghindari kemungkinan
fitnah terhadap calon yang lain.
4. Memilih dengan hati nurani. Dalam memilih calon kita harus memilih dengan hati nurani
sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain. Sehingga prinsip prinsip dari pemilu dapat
terlaksana dengan baik.

MAKALAH : Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung


BAB

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Sejak juni 2005, bangsa Indonesia memasuki babak baru berkaitan dengan
penyelenggaraan tata pemerintahan di tingkat lokal. Kepala daerah, baik
bupati/walikota maupun gubernur yang sebelumnya dipilih secara tidak langsung
oleh DPRD, sejak Juni 2005 dipilih secara langsung oleh rakyat melalui proses
pemilihan kepala daerah yang sering disingkat dengan Pilkada Langsung.
Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung
diatur dalam undang-undang nomor 32 tahun 20014 tentang Pemerintah
Daerah tentang

Tata

cara

pemilihan,

Pengesahan,

Pengangkatan,

dan

Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Pilihan Terhadap sistem pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan


koreksi atas pilkada terdahulu yang menggunakan sistem perwakilan oleh DPRD.
Digunakannya
penataan

sestem

format

pemilihan

demokrasi

langsung

daerah

yang

menunjukkan
berkembang

perkembangan

dalam

kerangka

liberalisasi politik. Tentu saja, dipilihnya sistem pilkada langsung mendatangkan


optisme dan pesimisme tersendiri.
Pilkada langsung dinilai sebagai perwujudan pengembalian hak-hak dasar
masyarakat di daerah dengan memberikan kewenangan yang utuh dalam rangka
rekrutmen pimpinan daerah sehingga mendinamisir kehidupan demokrasi di
tingkat lokal. Keberhasilan pilkada langsung untuk melahirkan kepemimpinan
daerah

yang

demokratis,

sesuai

kehendak

dan

tuntutan

rakyat

sangat

tergantung pada kritisisme dan rasionalitas rakyat sendiri.


Pilkada langsung tentu menimbulkan banyak problem, implikasi
politik, dan dampak sosial ekonomi baik yang menguntungkan maupun tidak.
Banyak wacana-wacana yang muncul mengkritik tentang pilkada langsung ,
tetapi ada juga wacana yang memberi penjelasan tentang dampak pilkada pada
proses penciptaan pemerintahan yang responsif dan implikasi-implikasi sosial
politik.

B.

Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan makalah ini yaitu
sebagai berikut

1.

Bagaimana mekanisme pemilihan kepala daerah secara langsung

2.

Bagaimana penetapan pemilihan

3.

Bagaimana tata cara kampanye dalam pemilihan kepala daerah

4.

Apa tujuan di buatnya suatu sitem pemilihan kepala daerah yaitu degnan
sistem pemilihan kepala daerah secara langsung.

C.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu diantaranya sebagai berikut :

1.

Untuk mengetahui yang menjadi landasan diselenggarakannya pemilihan


kepala daerah secara langsung.

2.

Untuk mengetahui tatacara pemilihan kepala daerah secara langsung.

3.

Memahami
langsung.

tujuan

diselenggarakannya

pemilihan

kepala

daerah

secara

BAB

II

PEMBAHASAN

A.

TATACARA DAN MEKANISME PILKADA


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomer 32 Tahun 2004
tentang

Pemerintahan

Daerah

menjadi

Undang-Undang

dan

Peraturan

Pemerintah Nomer 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan,


dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2005 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nemer 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan
Pengangkatan, dan Pemberhentian.
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Tahapan Pilkada secara langsung
dibagi menjadi 2 (dua) tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.
I.

Tahap Persiapan, meliputi :


1.

Pemberitahuan DPRD kepada KDH dan KPUD mengenai berakhirnya masa


jabatan Kepala Daerah.

2.

Dengan

adanya

menyampaikan

pemberitahuan

laporan

dimaksud

penyelenggaraan

KDH

berkewajiban

pemerintahan

daerah

untuk
kepada

pemerintah dan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD.


3.

KPUD dengan pemberitahuan dimaksud menetapkan rencana penyelenggaraan


Pemilihan KDH dan WKDH yang meliputi penetapan tatacara dan jadwal tahapan
PILKADA, membentuk Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan
Suara (PPS), dan Kelompok Penyelenggara pemungutan Suara (KPPS) serta
pemberitahuan dan pendaftaran pemantau.

4.

DPRD membentuk Panitia pengawas Pemilihan yang unsurnya terdiri dari


Kepolisian, Kejaksaan, perguruan Tinggi, Pers dan Tokoh masyarakat.

Dalam tahap persiapan tugas DPRD semenjak memberitahukan berakhirnya


masa jabatan Kepala Daerah, DPRD paling lambat 20 hari setelah pemberitahuan

tersebut, sudah membentuk Panitia pengawas (panwas) sampai dengan tingkat


terendah.
Misal untuk pemilihan Gubernur Panwas Provinsi, Panwas Kabupaten/Kota
dan Panwas Kecamatan. Hal ini agar Panwas dapat mengawasi proses penetapan
Daftar Pemilih Sementara (DPS) sampai dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT),
begitu juga proses pencalonan, kampanye sampai dengan pemungutan dan
penghitungan suara.
Kepada KPUD, dalam penetapan jadwal pelaksanaan Pilkada khususnya
terhadap hari pemungutan suara, diminta kepada KPUD untuk memperhitungkan
waktu penetapan hari pemungutan suara jangan terlalu cepat, karena Kepala
daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih baru dapat dilantik sesuai dengan
tanggal berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah yang lama.
Walaupun dalam ketentuan tidak diatur batasan waktu paling cepat untuk
hari pemungutan suara.

II.

Tahap Pelaksanaan.
Tahap

pelaksanaan

pendaftaran

dan

meliputi

penetapan

penetapan

pasangan

daftar

calon,

pemilih,

kampanye,

pengumuman
masa

tenang,

pemungutan suara, penghitungan suara, penetapan pasangan calon terpilih


serta pengusulan pasangan calon terpilih.

1.

Penetapan Daftar Pemilih


Untuk menggunakan hak memilih, WNRI harus terdaftar sebagai pemilih
dengan persyaratan tidak sedang terganggu jiwa/ingatannya dan tidak sedang
dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap. Meski telah terdaftar dalam daftar pemilih tetapi pada
saat

pelaksanaannya

ternyata

tidak

lagi

memenuhi

syarat,

maka

yang

bersangkutan tidak dapat menggunakan hak pilihnya.


Penetapan daftar pemilih. dalam Pilkada menggunakan daftar pemilih Pemilu
terakhir di daerah yang telah dimutakhirkan dan divalidasi ditambah dengan
data pemilih tambahan digunakan sebagai bahan penyusunan daftar pemilih
sementara.

Daftar pemilih sementara disusun dan ditetapkan oleh PPS dan harus
diumumkan oleh PPS ditempat yang mudah dijangkau oleh masyarakat untuk
mendapatkan tanggapan dari masyarakat. Setiap pemilih yang telah terdaftar
dan ditetapkan sebagai pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) diberi tanda
bukti pendaftaran untuk ditukarkan dengan kartu pemilih yang digunakan setiap
pemungutan suara.
Dalam penyusunan daftar pemilih sementara diminta kepada KPUD untuk
melibatkan RT dan RW untuk mendapat tanggapan masyarakat.

2.

Pengumuman Pendaftaran dan Penetapan Pasangan Calon


Peserta pemilihan adalah pasangan calon yang diusulkan oleh Partai Politik
atau Gabungan Partai Politik yang memenuhi persyaratan perolehan sekurangkurangnya 15 % jumlah kursi di DPRD atau 15 % dari akumulasi perolehan suara
sah dalam pemilihan anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.
Dalam hal Partai Politik atau gabungan Partai Politik dalam mengusulkan
pasangan calon menggunakan ketentuan memperoleh sekurang-kurangnya 15 %
jumlah kursi DPRD apabila hasil bagi jumlah kursi menghasilkan angka pecahan
maka perolehan 15 % dari jumlah kursi dihitung dengan pembulatan ke atas,
sebagai contoh jumlah kursi DPRD 45 dikali 15 % sama dengan 6,75 kursi
sehingga untuk memenuhi persyaratan 15 % adalah 7 kursi.
Selanjutnya di dalam melakukan penelitian persyaratan pasangan calon
diminta kepada KPUD untuk selalu independen dan memberlakukan semua
pasangan calon secara adil dan setara serta berkoordinasi dengan instansi teknis
seperti Diknas apabila ijazah cajon diragukan. Begitu juga apabila terjadi
pencalonan ganda oleh Partai Politik agar dikonsultasikan dengan pengurus
tingkat lebih atas Partai Politik yang bersangkutan.
Dalam melakukan penelitian persyaratan pasangan calon agar dilakukan
secara

terbuka,

apa

kekurangan

persyaratan

dari

pasangan

calon

dan

memperhatikan waktu agar kekurangan persyaratan tersebut dapat dilengkapi


oleh

pasangan

calon.

Bila

ada

persyaratan

yang

belum

lengkap

agar

diberitahukan secepatnya untuk menghindari prates dan ketidak puasan Partai


Politik atau pasangan calon yang bersangkutan.
Didalam menyelenggarakan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, KPUD
provinsi menetapkan KPUD kabupaten/Kota sebagai bagian pelaksana tahapan

penyelenggaraan pemilihan, sehingga diperlukan langkah-langkah koordinasi


yang optimal.

3.

Kampanye
Kampanye dilaksanakan antara lain melalui pertemuan terbatas, tatap muka,
penyebaran melalui media cetak/elektronik, pemasangan alat peraga dan debat
publik yang dilaksanakan selama 14 (empat belas) hari dan berakhir 3 (tiga) hari
sebelum pemungutan suara yang disebut masa tenang.
Terkait dengan kampanye melalui media cetak/elektronik, Undang-undang
menegaskan agar media cetak/elektronik memberi kesempatan yang sama pada
setiap pasangan calon untuk menyampaikan tema dan materi kampanye. Selain
daripada itu pemerintah daerah juga diwajibkan memberi kesempatan yang
sama pada setiap pasangan calon untuk menggunakan fasilitas umum.
Pengaturan lainnya tentang kampanye adalah :

1.

Pasangan calon wajib menyampaikan visi misi dan rogram secara lisan maupun
kepada masyarakat.

2.

Penyampaian materi kampanye dilakukan dengan

carasopan, tertib dan

bersifat edukatif.
3.

Larangan kampanye antara lain menghasut atau mengadu domba partai politik
atau kelompok masyarakat dan menggunakan fasilitas dan anggaran pemerintah
dan pemerintah daerah serta melakukan pawai arak-arakan yang dilakukan
dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan di jalan raya.

4.

Dalam kampanye pasangan calon atau tim kampanye dilarang melibatkan PNS,
TNI/Polri sebagai peserta kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan.

5.

Pejabat negara yang menjadi calon kepala daerah dan wakil Kepala daerah
dalam melaksanakan kampanye tidak menggunakan fasilitas yang terkait
dengan jabatannya dan harus menjalankan cuti.

4.

Pengaturan Suara dan Penghitungan Suara


Pemungutan

suara

adalah

merupakan

puncak

dari

pesta

demokrasi

diselenggarakan paling lambat 30 hari sebelum masa jabatan Kepala Daerah

berakhir, dan dilakukan dengan memberikan suara melalui katok suara yang
berisi namor dan foto pasangan calon di TPS yang telah ditentukan.
Dihari ini hati nurani rakyat akan bicara, sekaligus menentukan siapakah
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diinginkan untuk memimpin
daerahnya dan yang akan menentukan perjalanan daerah selanjutnya.
Pemungutan suara ditingkat TPS dilaksanakan mulai dari jam 07.00 sampai
dengan jam 13.00 waktu setempat dan pelaksanaan penghitungan suara di TPS
dimulai dari jam 13.00 sampai dengan selesai yang dapat dihadiri oleh saksi
pasangan calon Panwas, pemantau dan warga masyarakat.
Proses rekapitulasi perhitungan suara dilakukan berjenjang mulai dari TPS,
PPS, PPK sampai ke KPU Kabupaten/Kota.
Apabila Pemilihan Gubernur sampai dengan KPU Provinsi. Berita acara,
rekapitulasi hasil perhitungan suara disampaikan kepada pelaksana Pilkada
bersangkutan, pelaksana Pilkada satu tingkat di atasnya, dan juga untuk para
saksi yang hadir.
Jadi, jika proses rekapitulasi dilakukan ditingkat PPS berita acara dan
rekapitulasi itu disampaikan kepada PPS, PPK, dan para saksi pasangan calon
yang hadir. Berdasarkan berita acara dan rekapitulasi suara yang disampaikan
PPK, KPU Kabupaten/Kota kemudian menetapkan hasil rekapitulasi perhitungan
suara dan pengumuman hasil pemilihan Bupati/Wakil Bupati atau Walikota/Wakil
Walikota. Apabila Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur berita acara dan
rekapitulasi penghitungan suara dari KPU Kabupaten/Kota disampaikan kepada
KPU

Provinsi

dan

kemudian

KPU

Provinsi

menetapkan

hasil

rekapitulasi

perhitungan suara dan pengumuman hasil pemilihan Gubernur dan Wakil


Gubernur.
Pemungutan

suara

dilakukan

pada

hari

libur

atau

hari

yang

diliburkan. Penetapan hari yang diliburkan oleh Menteri Dalam Negeri untuk
pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur serta untuk pemilihan Bupati/Wakil
Bupati dan Walikota/Wakil Walikota oleh Gubernur atas usul KPUD masingmasing.

5.

Penetapan pasangan Calon

Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang memperoleh
suara lebih dari 50% jumlah suara sah langsung ditetapkan sebagai pasangan
terpilih. Apabila perolehan suara itu tidak terpenuhi, pasangan calon yang
memperoleh suara terbesar lebih dari25% dari suara sah dinyatakan sebagai
pasangan calon terpilih.
Dalam hal pasangan calon tidak ada yang memperoleh 25% dari jumlah
suara sah maka dilakukan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah
putaran kedua. Sesuai dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor
120/1808/SJ tanggal 21 Juli 2005, pelaksanaan Pilkada putaran kedua rentang
waktu pelaksanaannya dilaksanakan selambat-lambatnya 60 hari terhitung mulai
tanggal berakhirnya masa waktu pengajuan keberatan hasil penghitungan suara,
apabila terdapat pengajuan keberatan terhadap hasil penghitungan suara
selambat-lambatnya

60

hari

dihitung

mulai

tanggal

adanya

keputusan

Mahkamah Agung/Pengadilan Tinggi tentang sengketa hasil pemungutan suara.


Keberatan terhadap hasil penghitungan suara merupakan kewenangan MA
dan dapat mendelegasikan wewenang pemeriksaan permohonan keberatan hasil
penghitungan suara yang diajukan oleh pasangan calon Bupati/Walikota kepada
Pengadilan Tinggi di wilayah hukum Pengadilan Tinggi yang bersangkutan.
Mahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi memutus permohonan keberatan
pada tingkat pertama dan terakhir, dan putusannya bersifat final dan mengikat
selama 14 (em pat belas) hari. Keberatan terhadap hasil pemilihan hanya dapat
diajukan berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang mempengaruhi
terpilihnya pasangan calon dan diajukan paling lambat 3 (tiga) hari setelah
penetapan hasil akhir pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

6.

Pengesahan dan Pelantikan


DPRD Provinsi mengusulkan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur
terpilih, selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kepada Presiden melalui
Menteri Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon
terpiih dari KPUD Provinsi dan dilengkapi berkas pemilihan untuk mendapatkan
pengesahan pengangkatan.
Sedangkan
Walikota/Wakil

pengusulan
Walikota

pasangan

calon

selambat-lambatnya

Bupati/Wakil
dalam

waktu

Bupati

atau

hari

DPRD

Kabupaten/Kota mengusulkan pasangan calon melalui Gubernur kepada Menteri

Dalam Negeri berdasarkan berita acara penetapan pasangan calon terpiih dari
KPUD Kabupaten/Kota dan dilengkapi berkas pemilihan untuk mendapatkan
pengesahan pengangkatan.
Kepala Daerah danWakii Kepala Daerah sebelum memangku jabatannya
dilantik dengan mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh pejabat yang
melantik Gubernur bagi Bupati/Wakii Bupati dan Walikota/Wakil Walikota, Menteri
Dalam Negeri bagi Gubernur dan Wakil Gubernur.
Pelantikan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan di gedung
DPRD dalam rapat paripurna DPRD yang bersifat istimewa atau ditempat lain
yang dipandang layak untuk itu.
B.

MANFAAT PEMILIHAN KEPALA DAERAH DIPILIH SECARA LANGSUNG.


Salah satu ciri negara demokrasi adalah adanya pemilihan umum yang
dilaksanakan secara periodik, termasuk pemilihan pejabat publik pada tingkat
lokal (kepala daerah). Jadi dengan kata lain sebagus apa pun sebuah
pemerintahan dirancang, ia tak bisa dianggap demokratis kecuali para pejabat
yang memimpin pemerintahan itu dipilih secara bebas oleh warga negara
dengan
cara
yang
terbuka
dan
jujur.
Ada berbagai pendapat yang megnutarakan tentang keuntungan atau manfaat
dilaksanakannya pemilihan kepala daerah secara langsung, salah satunya yaitu
pendapat Warsito, Dekan FISIP UNDIP Semarang, yaitu ada enam keuntungan
pilkada langsung yaitu diantaranya sebagai berikut :

1.

Pemilihan langsung oleh rakyat anggota DPR, DPRD, presiden, kpala daerah
dan

kepala

desa,

menunjukkan

adanya

konsistensi

penyelenggaraan

pemerintahan dalam mekanisme pemilihan pejabat pubik.


2.

Pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat merupakan proses politik
untuk menuju pada kehidupan politik yang lebih demokratis dan bertanggung
jawab.

Para

pejabat

mempertanggungjawabkan

publik

yang

dipilih

oleh

kepada

rakyat,

karena

rakyat

rakyat
yang

akan
memiliki

kedaulatan. Harapannya adalah setiap keputusan politik yang diambil oleh


pejabat publik semata - mata untuk kepentingan rakyat. Pemilihan yang bebas
dan adil adalah hal yang penting dalam menjamin "kesepakatan mereka yang
diperintah " sebagai fondasi politik demokratis. Mereka dengan serta merta
menjadi instrumen baik untuk penyerahan kekuasaan dan legitimasi , karena
pemilu

yang

tidak

jujur

bisa

menimbulkan

keraguan

keraguan

pada

kemenangan seseorang yang menduduki jabatan di pemerintahan, keraguan


tersebut akan mengurangi kecakapannya dalam memerintah (Grier Stephenson,
2001 hal : 21).

3.

Pemilihan Kepala Daerah secara langsung merupakan proses politik yang dapat
memberikan pendidikan politik kepada rakyat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara dalam kerangka stabilitas nasional. Dengan pemilihan secara
langsung, rakyat lama kelamaan akan memahami tujuan untuk apa pemilihan
diselenggarakan

dengan

demikian

mereka

akan

semakin

kritis

dalam

mempertaruhkan hak-haknya.
4.

Pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat akan mendorong


pendewasaan partai politik, terutama dalam perekrutan kader partai politik yang
akan ditempatkan sebagai calon kepala daerah. Calon yang ditetapkan oleh
partai politik adalah mereka yang telah diseleksi oleh partai dan diperkirakan
memenangkan persaingan untuk merebut suara rakyat. Jadi pemilihan kepala
daerah secara langsung merupakan seleksi kepemimpinan lokal yang ideal untuk
mendapatkan sepasang gubernur, bupati dan walikota yang lebih berkualitas
dan bertanggung jawab. Seorang pejabat publik yang memperoleh dukungan
luas dan kuat dari rakyat akan menjalankan fungsi-fungsi kekuasaan negara
dalam rangka tercapainya tujuan negara pada tingkat lokal. Mereka akan merasa
terikat dengan suara rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Pemilihan
kepala daerah secara langsung dan periodik akan mengalami dinamika dalam
kehidupan politik rakyat. Rakyat akan semakin rasional dalam menentukan
pilihan sehingga tidak ada partai atau faksi dalam sebuah partai yang
mempunyai jaminan untuk selamanya berkuasa atau mampu menempatkan
kadernya sebagai kepala daerah.

5.

Pemilihan

kepala

mengembangkan

daerah

secara

konsep check

and

langsung

akan

memperkuat

balances dalam

dan

penyelenggaraan

pemerintahan . Pemilihan kepala daerah secara langsung, maka kepala daerah


akan bertanggung jawab kepada rakyat bukan kepada DPRD. Dengan demikian
kedudukan kepala daerah kuat sebagai pejabat pelaksana kebijakan politik, oleh
karena itu apabila posisi kepala daerah hasil pilihan rakyat didukung oleh DPRD
yang

aspiratif

dan

mampu

menjalankan

fungsinya

dengan

baik

maka

konsep check and balances akan dapat terlaksana dengan baik.


6.

Masyarakat paham terhadap kedaulatan. Dalam UU No 22 Th. 1999, disebutkan


kepala daerah dipilih oleh DPRD. Hal ini dapat dipahami bahwa kedaulatan
rakyat diserahkan kepada lembaga perwakilan yaitu DPRD . Penyerahan
kedaulatan seperti itu rasanya tidak dapat karena kedaulatan merupakan hak
yang tidak dapat didelegasikan atau diserahkan kepada lembaga manapun.
Kedaulatan melekat pada rakyat yang sewaktu-waktu dapat dikontrol dan
kemungkinan ditarik apabila dalam pelaksanaan kebijakan kepala daerah

menyimpang dari yang diharapkan , oleh karena itu seharusnya tidak diserahkan
kepada sebuah lembaga.

BAB

III

PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Dari pembahasan tentang pemilihan kepala daerah secara langsung
tersebut diatas, maka dapat disimpulkan kurang lebih sebagai berikut :
Untuk melaksanakan tugas-tugas dan fungsi pemerintahan daerah sudah
barang tentu harus memerlukan pemimpin yang akan mengambil kebijakankebijakan dalam menjalankan roda pemerintahan daerah tersebut. Untuk
memilih

pemimpin

sautu

daerah

tersebut

harus

dipilih

langsung

oleh

rakyatnya sebagai perwujudan pengembalian hak-hak dasar masyarakat di


daerah dengan memberikan kewenangan yang utuh dalam rangka rekrutmen
pimpinan daerah sehingga mendinamisir kehidupan demokrasi di tingkat lokal.
Tatacara pemilihan kepala daerah secara langsung mengacu pada undangundang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005, yaitu secara umum terdiri
dari dua tahap yaitu :
I.

Tahap persiapan

II.

Tahap Pelaksanaan, yang terdiri dari

Penetapan Daftar Pemilih

Pengumuman Pendaftaran dan Penetapan Pasangan Calon

Kampanye

Pengaturan Suara dan Penghitungan Suara

Penetapan pasangan Calon

Pengesahan dan Pelantikan

B.

SARAN
Dalam memilih pemimpin daerah secara langsung sudah merupakan
langkah yang sesuai dengan semestinya, sebab masyarakat dapat memilih
secara langsung pemimpin daerahnya yang menurut mereka pemimpin mana

yang lebih berkualitas untuk memimpin daerahnya. Akan tetapi dalam hal ini
harus penuh pengawasan dari yang berwenang untuk itu agar masyarakat yang
memililh secara langsung tersebut tidak melakukan berbagai penyimpangan
dalam tatacara melakukan pemilihan kepala daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Miriam, 1994, Demokrasi di Indonesia: Demokrasi Parlementer dan Demokrasi


Pancasila, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Prihatmoko,Joko,2005, Pemilihan Kepala Daerah Langsung: Filosofi, Sistem dan Problema


Penerapan di Indonesia, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Nadir, Ahmad,2005, Pilkada Langsung dan Masa Depan Demokrasi .Averroes Press, Malang.

http://liawinnipurba.blogspot.com/, Pilkada Langsung di Indonesia, diakses 26 November 2013.

http://www.4shared.com/file/62052989/dc37d403/tatacara_dan_mekanisme_pemilihan_kepala_
daerah.html, diakses tanggal 26 November 2013.

http://www.suaramerdeka.com/harian/0408/13/opi3.htm, Keuntungan Pilkada


Langsung, diakses tanggal 27 November 2013.