Anda di halaman 1dari 32

1

Skenario

Pertumbuhan Cepat

Seorang ibu membawa anaknya yang berumur 17 bulan ke poliklinik anak karna merasa pertumbuhannya cepat, berat badannya 14,2 kg dan tinggi badannya 94 cm. Dia tumbuh 7cm dalam 3 bulan terakhir. Wajahnya tampak kasar dengan dahi dan rahang menonjol. Tangan dan kakinya tampak disproporsi yang melebar. Saat menunggu dipanggil, ibu tersebut melihat pasien lain seorang anak yang tampak cebol meskipun usianya sudah 3 tahun. Ibu tersebut merasa heran mengapa keadaannya bisa terbalik dengan keadaan anaknya.

Step I

  • 1. Disproporsi

    • a. Ketidak seimbangan.

    • b. Pertumbuhan yang berlebihan.

    • c. Bentuk tidak sesuai ukuran normal.

  • 2. Pertumbuhan

    • a. Pertumbuhan bentuk tubuh dan tidak dapat kembali seperti semula.

    • b. Perkembangan fisik maupun non-fisik.

    • c. Dinyatakan secara kuantitatif.

      • 3. Cebol

        • a. Gangguan perkembangan akibat kekurangan protein

        • b. Gangguan pertumbuhan akibat kekurangan kekurangan hormon

        • c. Gambaran fisik tubuh yang pendek

Step II

  • 1. Organ apa yang menghasilkan hormon?

  • 2. Apa fungsi hormon?

  • 3. Bagaimana mekanisme sekresi hormon?

  • 4. Hormon apa yang mempengaruhi pertumbuhan?

  • 5. Faktor apa yang mempengaruhi kerja hormon?

  • 6. Kelainan apa saja yang terjadi pada hormon pertumbuhan?

  • 7. Apa hubungan mekanisme hormon terhadap keseimbangan tubuh?

  • 8. Apa saja ciri-ciri pertumbuhan cepat?

  • 9. Apa penyebab pertumbuhan cepat?

10. Faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan?

Step III

2

  • a. Hipotalamus

  • b. Pankreas

  • c. Tiroid

  • d. Paratiroid

  • e. Hipofisis

  • f. Kelenjar Endokrin

  • g. Parotis

  • h. Test

2.

Fungsi hormon

  • a. Sebagai proses perkembangan

  • b. Sebagai proses reproduksi

  • c. Sebagai stimulus

  • d. Merangsang sel darah merah

  • e. Keseimbangan tubuh

  • f. Metabolisme sel

  • g. Pengatur metabolik

    • 3. Mekanisme Sekresi hormon

      • a. Sintesis (transkripsi, translasi) -> Apparatus golgi

-> Terjadinya sekresi

Ca dan Camp distimulus oleh cairan ekstra sel.

  • b. Hormon -> Adeno Hipopisis -> Sistem portal hipopisis -> Neuro hipotalamus -> plexor kapiler primer -> Plexor sekunder berikatan dengan reseptor spesifik sel -> Merangsang penyekresi (penyimpanan di neuro hipopisis).

  • 4. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan

 
  • a. Tiroksin

  • b. GH (Growth Hormon)

  • c. Gonadotropin

 
  • d. Estrogen

  • e. Progesteron

  • f. Triodi tironin

  • g. TSH (Thyroid Stimularing Hormon)

 
  • h. Proklatin

  • i. Tiroid

  • j. Testosteron

5.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

  • a. : Penurunan glukosa darah

Faktor internal

  • b. : Trauma

Faktor eksternal

6.

Kelainan yang terjadi pada hormon pertumbuhan

  • a. Gigatisme

  • b. Akromegalik

  • c. Keratinisme

  • d. Dwarfisme

7.

Hubungan mekanisme hormon terhadap keseimbangan tubuh

Hipotalamus

: a. Kerja Hormon b. Homesotatis

3

  • a. Pertumbuhan tidak sesuai dengan usia yang normal

  • b. Tinggi badan lebih dari normal

  • c. Badan membesar

  • d. Berat badan naik

    • 9. Pertumbuhan cepat terjadi akibat kelebihan growth hormon pada tubuh.

10. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.

  • a. : Hormon, genetik

Faktor internal

  • b. : Gizi, pola hidup

Faktor eksternal

Step IV

  • 1. Hormon berfungsi sebagai regulator.

  • 2. Mekanisme kerja hormone Stimulus -> Hipotalamus -> Kelenjar yang dituju

  • 3. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan

a.

Tiroksin

fungsinya

mempengaruhi

metabolisme karbohidrat.

pertumbuhan

dan

perkembangan

  • b. GH berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan pada tulang.

    • 4. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

a.

Faktor Internal

: Genetik

b.

Faktor Eksternal :

1)

Gizi

2)

Setres

3)

Pola Hidup

Skema

Faktor
Faktor
3 a. Pertumbuhan tidak sesuai dengan usia yang normal b. Tinggi badan lebih dari normal c.
3 a. Pertumbuhan tidak sesuai dengan usia yang normal b. Tinggi badan lebih dari normal c.
Jenis-Jenis
Jenis-Jenis
Hormon Pertumbuhan
Hormon
Pertumbuhan
3 a. Pertumbuhan tidak sesuai dengan usia yang normal b. Tinggi badan lebih dari normal c.
3 a. Pertumbuhan tidak sesuai dengan usia yang normal b. Tinggi badan lebih dari normal c.

Fisiologi

(Fungsi)

 
Kelainan
Kelainan

4

Mekanisme
Mekanisme

Step V

  • 1. Anatomi dan Mikroskopis Hipofisis dan Hipotalamus?

  • 2. Organ apa yang menghasilkan hormon?

  • 3. Apa saja fungsi hormon pertumbuhan?

  • 4. Apa yang mempengaruhi kerja hormon?

  • 5. Mekanisme sekresi hormon?

  • 6. Hormon apa yang mempengaruhi pertumbuhan?

  • 7. Kelainan apa saja yang terjadi pada hormon?

  • 8. Apa hubungan mekanisme hormon dengan Homeostatis?

Step VI

Belajar Mandiri

Step VII

  • 1. Anatomi, makroskopis dan mikroskopis hipotalamus dan hipofisis. a. Hipotalamus

1)

Makroskopis hipotalamus

Gambar 1. Hipothalamus
Gambar 1. Hipothalamus

Struktur yang menjadi dasar ventrikel ketiga otak. Struktur ini tampak pada pembelahan sagittal otak, terdiri dari badan mammilaris, chiasma optikum, dan tuber cinerum yang bergabung dengan infundibulum dari hipofisis. Pada

5

bagian posterior, hipotalamus berbatasan dengan tegmentum mesencephalon. Pada bagian anterior berbatasan dengan chiasma opticum dan bersatu dengan membrane basal area olfaktori, dan pada bagian lateral, hipotalamus berbatasan dengan jaras optik dan crura cerebri serta bergabung dengan daerah sutalamus tanpa garis batas yang jelas.

  • a) Berasal dari lantai (ventral) diencephalon.

  • b) Hipotalamus dewasa terletak pada lantai otak mengelilingi bagian bawah ventrikel III.

  • c) Berbatasan dengan:

  • 1. anterior : opthicchiasma

  • 2. lateral : sulci cerebral temporal

  • 3. posterior : mammaliaries bodies

  • 4. ventral : tubercinerum (Eroschenko, Vektor.D. 2013)

2)

Mikroskopis

  • a) Bentuk tidak definitive tetapi berupa bagian-bagian yang dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok nuclei, antara lain:

    • 1. nuclei anterior hypothalami

      • a. Nucleus suprachiasmaticus : pemacu laju utama irama sirkadian, siklus bangun-tidur, suhu tubuh dan tekanan darah.

      • b. Nucleus paraventricularis et supraopticus : Produksi hormon ADH dan oksitoksin serta transport aksonal ke neurohypophysis.

  • 2. Nuclei intermedia hypothalami Nuclei tuberales, dorsomedialis, ventromedialis, etarcuatus: produksi dan sekresi hormon RH dan IH

  • 3. Nuclei posterior hypothalamic Nuclei corporis mammilaris : terintegrasi dengan system limbic dan sebagai serabut efferen ke thalamus (memodulasi fungsi seks dan berperan dalam ingatan dan emosi)

  • b) Dihubungkan dengan hipofisis melalui tangkai infundibulum.

(Mescher, 2012)

6

6 Gambar 2. Hipothalamus b. Hipofisis a) Anatomi Hipofisis Berukuran kira-kira 1x1 cm, tebalnya sekitar ½

Gambar 2. Hipothalamus

b. Hipofisis

  • a) Anatomi Hipofisis Berukuran kira-kira 1x1 cm, tebalnya sekitar ½ cm dan beratnya sekitar ½ gr pada pria dan sedikit lebih besar pada wanita. Kelenjar ini terletak di dalam lekukan tulang sphenoid yang disebut sella tursika, di belakang chiasma optikum. (Mescher, 2012) Hipofisis memiliki 2 subdivisi:

    • 1. Adenohipofisis, pada bagian anterior hasil perkembangan dari evaginasi ectoderm dorsal atap faring embrionik (stomodeum). 2. Neurohipofisis : menempel membentuk kelenjar tunggal.

b) Makroskopis

1) Berbentuk oval 2) Menempati lekukandalamos. Spenoidalis (cella tursica) 3) Dilapisi duramater 4) Selapis diatasnya disebut diafragmacella 5) Pada wanita hamil ukurannya bisa bertambah dua kali 6) Dilekatkan dengan hipotalamus oleh infundibulum 7) batas-batas:

  • a. anterior : sinus sphenoidalis.

  • b. posterior : dorsum sellae, arteriabasilaris, dan pons.

  • c. Superior : diafragmasellae

7

  • d. Inferior : corpus sphenoidalis

  • e. Lateral : sinus covernosus

c) Mikroskopis

1. Lobus anterior / adenohypophysis

  • a. Pars Distalis (Pars Anterior)

1)

Mengandung sel kromofob

2)

Mengandung sel kromofil : asidofil (sel α) dan basophil (sel β)

  • b. Pars Tubelaris

1)

Mengelilingi tangkai infundibulum

2)

Berbentuk corong

3)

Kebanyakan sel mensekresi gonadotropin (FSH dan LH)

  • c. Pars Intermedia

1)

Pada manusia, yang berkembang bagian dorsal kantung rathke

2) Tumpukan sel-sel basophil lemah, mengandung granula-granula

3)

sekretoris kecil Fungsi sel belum diketahui

2. lobus posterior/neurohipofisis

1)

Pars nervosa/pars posterior

  • a) Tidak mengandung sel sekretoris

  • b) 100.000 akson tak bermielin

  • c) Neuron-neuron sekretoris dari nucleus supraoptik dan paraventrikulat (neuron hipotalamus)

  • d) Banyak memiliki badan Nissl

  • e) Akson dan badan sel mengandung granula inklusi

  • f) 25% volume tersusun dari sel glia yang banyak bercabang disebut pituisit

Gambar 3. Hipofisis
Gambar 3. Hipofisis

8

Gambar 3. Hipofisis (Mescher, 2012)

9

Gambar 4. Hipofisis

(Mescher, 2012)

2. Organ penghasil hormon

Tabel Organ Penghasil Hormon

10

Kelenjar

Hormon

Sel Sasaran

Fungsi

Endokrin

Utama

Hormon

Hipotalamus

Releasing hormone dan

Hipofisis anterior

 

inhibiting hormone (TRH,

Mengont

rol

CRH, GnRH, GHRH, GHIH, PRH, PIH)

pengelua

ran

 

homon-

Hipofisis

Tubulus ginjal

hormon

posterior

Vasopresin (hormone

Ateriol

hipofisis

nterior

antidiuretik)

Meningk

atkan

reabsorp

si H2O

Hipofisis

Uterus Kelenjar mamaria

menyeba

anterior

Aksitosin

bkan

 

vasokons

riksi

Meningk

atkan

Sel folikel tiroid

kontrakti

Thyroid-stimulating

litas

hormone (TSH)

menyeba

bkan

 

Zona fasikulata dan

penyemp

zona retikularis

rotan

Adrenocortocatropic hormone (ACTH)

korteks adrenal

susu

Merangs

Tulang; jaringan

ang

Hormon pertumbuhan

lunak

sekresi

T3 dan

11

     

T4

Merangs

ang

sekresi

kortisol

Esensial

tetapi

pertumb

uhan

tidak

hanya

bergantu

ng

padanya;

merangs

ang

pertumb

uhan

Hati

tulang

dan

jaringan

lunak;

Wanita; folikel

efek

ovarium

metaboli

Stimulating hormone

c

(FSH)

mencaku

p

anabolis

me

protein;

Pria; tubulis

mobilisa

si lemak;

12

   

seminiferis di testis

dan

penghem

atan

Wanita;folikel

glukosa

Luteinizing hormone (LH) (ICSH)

ovarium dan korpus luteum

Merangs

ang

 

sekresi

somatom

edin

Mendoro

ng

pertumb

uhan dan

Pria; sel interstisium

perkemb

leydig di testis

anganfoli

kel,

merangs

ang

sekresi

estrogen.

Merangs

ang

produksi

sperma.

Merangs

ang

ovulasi,

perkemb

angan

korpus

luteum,

13

dan sekresi homon estrogen dan progester on. Merangs ang sekresi testoster one Prolaktin Wanita; kelenjar mamaria
dan
sekresi
homon
estrogen
dan
progester
on.
Merangs
ang
sekresi
testoster
one
Prolaktin
Wanita; kelenjar
mamaria
Merangsang
perkembangan
mamaria,
merangsang
sekresi air susu
Pria
Kelenjar
Melatonin
Tidak jelas
Otak; hipofisis
pineal

14

   

anterior; organ reproduksi; sistem imun; kemungkinan yang lain

Mensinkronkan irama biologis tubuh denga sinyal esternal; menghambat

Sel Folikel

gonadotropin, penurunannya mungkin merupakan peicu

Kelenjar

Tetraidototironin (T 4 ); triiodotironin (T 3 )

pubertas; bekerja sebagai

Tiroid

Sebagian besar sel

antioksidan; meningkatkan imunitas

Kalsitonin

Meningkatkan

laju metabolic;

Tulang

essensial bagi

Sel C

Aldosteron

prtumbuhan dan

Kelenjar

(mineralokortikoid)

Tubulus ginjal

perkembangan

Tiroid

saraf

Korteks

Adrenal

Kortisol

Menurunkan

Zona

(glukokortikoid)

Sebagian besar sel

konsetntrsi Ca 2+

Glomerulos

plasma

a

Meningkatkan reabsorpsi Na + dan sekresi K +

Androgen

(dehidroepiandosteron)

Wanita; otak dan

Meningkatkan

Zona

tulang

glukosa darah

Fasikulata

dengan

15

dan

   

mengorbankan

Retikularis

simpanan lemak

Epinefrin dan

dan protein;

norepinefrin

Reseptor simpatis

berperan dalam

Medula

di seluruh tubuh

adaptasi stress.

Adrenal

Insulin (sel β)

Berperan dalam lonjakan

Sebagian besar sel

pertumbuhan

Pankreas

masa pubertas dan dorongan

Endokrin

seks pada wanita

(pulau

Glukagon (sel α)

langerhans)

Sebagian besar sel

Memperkuat

sistem saraf

simpatis;

Somatostatin (sel D)

berperan dalam

Sistem pencernaan

adaptasi stress

dan regulasi

tekanan darah

Sel islet pancreas

Mendorong penyerapan, pemakaian, dan penyimpanan

Hormon paratiroid (PTH)

Tulang, ginjal,

nutrient oleh sel.

usus

Kelenjar

Penting untuk mempertahankan

paratiroid

kadar nutrient

Estrogen (estradiol)

dalam darah selama masa pascaabsorpsi

Organ seks wanita,

16

   

tubuh secara

Menghambat

Gonad

keseluruhan

pencernaan dan

Wanita;

penyerapan

ovarium

nutrient.

Menghambat

sekresi semua

hormone semua

Tulang

hormone

Progesteron

pankreas.

Uterus

Meningkatkan

3-

Testosteron

konsentrasi Ca 2+

Organ seks pria; tubuh secara

plasma, menurunkan

Pria; testis

keseluruhan

konsentrasi PO 4

Tulang

plasma, merangsang pengaktifan vitamin D

Inhibin

Mendorong perkembangan folikel, mengatur perkembangan karakteristik seks

Hipofisis anterior

sekunder, merangsang

Testis dan

pertumbuhan

Ovarium

Estrogen (estriol);

uterus dan

progesterone

Organ seks wanita

payudara.

Plasenta

Gonadotropin korion

Mendorong penutupan lempeng epifisis.

17

   

Korpus luteum

Mempersiapkan

ovarium

uterus untuk

kehamilan.

Renin (angiotensin)

Merangsang

Ginjal

Eritropoietin

Zona glomerulosa korteks adrenal (dipengaruhi oleh angiotensin, yang

produksi sperma, mengatur perkembangan karakteristik seks

Gastrin

diaktifkan oeh rennin)

sekunder; menimbulkan

Sumsum tulang

dorong seks.

Sekretin;

Meningkatkan

kolesistokinin

Lambung

Kelenjar eksokrin

lonjakan pertubuhan masa

Duodenum

dan otot polos

pubertas;

Peptide insulinotropik dependen glukosa

Somatomedin (faktor

saluran cerna; pancreas; hati; kandung empedu

mendorong penutupan lempeng epifisis.

pertumbuhan mirip

Pankreas endokrin

Merangsang

Hati

insulin; insulin-like

sekresi follicle-

growth factor, IGF)

Tulang jaringan

stimulating

Trombopoietin

lunak

hormone.

Timosin dan

Sumsum tulang

Membantu mempertahankan kehamilan,

Timus

somatotrof

Jantung

Peptida

natriuretikatrium

Limfosit T

mempersiapkan payudara untuk mrenyusui.

Tubulus ginjal

Mempertahanka

Leptin

18

Jaringan

   

n korpus luteum;

Merangsang

lemak

Hipotalamus

mempersiapkan

Adikopin lain

payudara untuk menyusui.

Berbagai tempat

sekresi

aldosteron

Merangsang

produksi

eritroprotein

Mengontrol

motilitas dan

sekresi untuk

mempermudah

proses

pencernaan dan

penyerapan.

Merangsang

sekresi insulin.

Mendorong

pertumbuhan.

Merangsang

produksi

trombosit.

Meningkatkan proliferasi dan

fungsi limfosit T.

19

     

Menghambat reabsorpsi Na + .

Menekan nafsu

makan, penting

dalam control

jangka panjang

berat badan.

Berperan dalam metabolisme dan

peradangan.

(Sherwood, 2011)

Sistem endokrin dalam tubuh manusia yang terdiri dari sejumlah kelenjar penghasil zat di namakan hormon. Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. (Guyton and Hall, 2011)

Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormone akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormone berbeda dengan saraf. Perubahan yang di control oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan perkembangan seksual pada manusia. (Guyton and Hall, 2011)

20

20 Gambar 5. pertumbuhan dan perkembangan seksual pada manusia (Guyton and Hall, 2011) Kelenjar endokrin dan

Gambar 5. pertumbuhan dan perkembangan seksual pada manusia

(Guyton and Hall, 2011)

Kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh manusia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu :

1)

Hipofisis.

Kelenjar ini terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam- macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu kelenjar hipofisis disebut master of gland.

Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :

  • a) Hipofisis bagian anterior. Hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis bagian anterior.

  • b) Hipofisis bagian tengah. Menghasilkan hormon perangsang melanosit atau Melanosit Stimulating Hormon (MSH). Apabila hormone ini banyak dihasilkan maka menyebabkan kulit menjadi hitam.

  • c) Hipofisis bagian posterior. (Guyton and Hall, 2011)

21

2)

Tiroid.

Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang menggenting. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormone tiroksin yang mempengaruhi metabolism sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh. (Guyton and Hall, 2011)

Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolism sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan fisik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan iodium yang masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam iodium di dalam makanan. (Guyton and Hall, 2011)

Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmik tiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut: kecepatan metabolisme meningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam. Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus) dan kelenjar tiroid membesar. (Guyton and Hall, 2011)

3)

Paratiroid.

Paratiroid menempel pada kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan parathormon yang berfungsi mengatur kandungan fosfor dan kalsium dalam darah. Kekurangan hormon ini menyebabkan tetani dengan gejala : kadar kapur dalam darah menurun, kejang di tangan dan kaki, jari-jari tangan membengkok ke arah pangkal, gelisah, sukar tidur, dan kesemutan. (Guyton and Hall, 2011)

Tumor paratiroid menyebabkan kadar parathormon terlalu banyak di dalam darah. Hal ini mengakibatkan terambilnya fosfor dan kalsium dalam tulang, sehingga urin banyak mengandung kalsium dan fosfor. Pada orang yang terserang penyakit ini tulang mudah sekali patah. Penyakit ini di sebut Von Recklinghousen. (Guyton and Hall, 2011)

22

4)

Kelenjar adrenalin (anak ginjal)

Kelenjar ini berbentuk bola, menempel pada bagian atas ginjal. Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal dan dibagi atas dua bagian, yaitu :

  • a. Bagian luar (korteks).

  • b. Bagian tengah (medula).

Kerusakan pada bagian korteks mengakibatkan penyakit Addison dengan gejala sebagai berikut: timbul kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntah- muntah, terasa sakit di dalam tubuh. Dalam keadaan ketakutan atau dalam keadaan bahaya, produksi adrenalin meningkat sehingga denyut jantung meningkat dan memompa darah lebih banyak. Gejala lainnya adalah melebarnya saluran bronkiolus, melebarnya pupil mata, kelopak mata terbuka lebar, dan diikuti dengan rambut berdiri. (Guyton and Hall, 2011)

5)

Pankreas.

Ada beberapa kelompok sel pada pankreas yang dikenal sebagai pulau Langerhans berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin. Hormon ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan dibawa kesel hati dan selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes. Selain menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan hormon glukagon yang bekerja antagonis dengan hormon insulin. (Guyton and Hall, 2011)

6)

Ovarium.

Ovarium merupakan organ reproduksi wanita. Selain menghasilkan sel telur, ovarium juga menghasilkan hormon. Ada dua macam hormon yang dihasilkan ovarium yaitu :

  • a. Estrogen. Hormon ini dihasilkan oleh Folikel Graaf. Pembentukan estrogen dirangsang oleh FSH. Fungsi estrogen ialah menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda

23

kelamin sekunder pada wanita. Tanda-tanda kelamin sekunder adalah ciri-ciri yang dapat membedakan wanita dengan Aria tanpa melihat kelaminnya.

Contohnya, perkembangan pinggul dan payudara pada wanita dan kulit menjadi bertambah halus. (Guyton and Hall, 2011)

b.

Progesteron.

Hormon ini dihasilkan oleh korpusluteum. Pembentukannya di rangsang oleh LH dan berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi. Plasenta membentuk estrogen dan progesterone selama kehamilan guna mencegah pembentukan FSH dan LH. Dengan demikian, kedua hormone ini dapat mempertahankan kehamilan. (Guyton and Hall, 2011)

7) Testis.

Seperti halnya ovarium, testis adalah organ reproduksi khusus pada pria. Selain menghasilkan sperma, testis berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon androgen, yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder. Misalnya suaranya membesar, mempunyai kumis, dan jakun. ( Guyton and Hall,

2011)

  • 3. Fungsi Hormon

Hormon

Sel Sasaran

Fungsi Utama Hormon

Tiroksin (T4) dan Triiodotironin (T3)

Sebagian besar sel

Meningkatkan laju metabolik; esensial bagi pertumbuhan dan perkembangan saraf

Androgen

Wanita: otak dan tulang

Berperan dalam lonjakan

(dehidroepiandrosteron

pertumbuhan masa

)

pubertas dan dorongan seks pada wanita

Tulang, ginjal, usus

Meningkatkat kosentrasi

Paratiroid (PTH)

kalsium plasma;

24

   

merangsang pengaktifan vitamin D

Estrogen (estradiol)

Organ seks wanita; tubuh secara kesuluruhan

Mendorong perkembangan folikel; mengatur perkembangan karakteristik seks sekunder; merangsang pertumbuhan uterus dan payudara.

Tulang; jaringan lunak

Mendorong pertumbuhan

Somatomedin (faktor pertumbuhan mirip insulin; insulin-like growth factor, IGF)Trombopoietin

Testosteron

Organ seks pria; tubuh secara keseluruhan

Merangsang produksi sperma, mengatur perkembangan karakteristik seks sekunder, menimbulkan dorongan seks.

Tulang

Meningkatkan lonjakan pertumbuhan masa pubertas; mendorong penutupan lempeng epifisis

Wanita: folikel ovarium

Mendorong pertumbuhan

Follicle-stimulating

dan perkembangan

25

hormone (FSH)

 

folikel; merangsang sekresi estrogen

Pria: tubulus seminiferus di testis

Merangsang produksi sperma

(Sherwood, 2008)

  • 4. Faktor yang mempengaruhi kerja hormon.

    • a. Penentu kontraksi hormon di sel target.

 

1)

Laju sintesis dan sekresi hormon.

2)

Letak sel target dengan sumber hormon.

3)

Konstanta disosiasi hormon.

4)

Hormon inaktif.

5)

Laju bersihan hormone. ( Guyton and Hall, 2011)

b.

Penentu reseptor sel target.

1)

Jumlah,aktivitas relatof reseptor.

2)

Metabolisme hormon disel target.

3)

Adanya faktor lain dalam sel.

4)

Regulasi reseptor dalam konsekuensi ligan.

5)

Desensitisasi sel setelah ligan. ( Guyton and Hall, 2011)

  • 5. Mekanisme sekresi hormon.

    • a) Reseptor Hormon

Hormon bekerja melalui pengikatan dengan reseptor spesifik. Pengikatan dari hormon ke reseptor ini pada umumnya memicu suatu perubahan penyesuaian pada reseptor sedemikian rupa sehingga menyampaikan informasi kepada unsur spesifik lain dari sel. Reseptor ini terletak pada permukaan sel atau intraselular. Interaksi permukaan hormon reseptor memberikan sinyal pembentukan dari "mesenger kedua". Interaksi hormon-reseptor ini menimbulkan pengaruh pada ekspresi gen. Distribusi dari reseptor hormon memperlihatkan variabilitas yang besar sekali. Reseptor untuk beberapa hormon, seperti insulin dan glukokortikoid, terdistribusi secara luas, sementara reseptor untuk sebagian besar hormon mempunyai distribusi yang lebih terbatas. Adanya reseptor merupakan determinan (penentu) pertama apakah jaringan akan memberikan respon terhadap hormon. Namun, molekul yang berpartisipasi dalam peristiwa pasca-reseptor juga penting, hal ini tidak saja menentukan apakah jaringan akan memberikan respon terhadap

26

hormon itu tetapi juga kekhasan dari respon itu. Hal yang terakhir ini memungkinkan hormon yang sama memiliki respon yang berbeda dalam jaringan yang berbeda. ( Guyton and Hall, 2011)

26 hormon itu tetapi juga kekhasan dari respon itu. Hal yang terakhir ini memungkinkan hormon yang

Gambar 6. Umpan balik hormon tiroid. (Ganong, 2013).

  • b) Interaksi Hormon-Reseptor.

Hormon menemukan permukaan dari sel melalui kelarutannya serta disosiasi mereka dari protein pengikat plasma. Hormon yang berikatan dengan permukaan sel kemudian berikatan dengan reseptor. Hormon steroid tampaknya mempenetrasi membrana plasma sel secara bebas dan berikatan dengan reseptor sitoplasmik. Pada beberapa kasus (contohnya, estrogen), hormon juga perlu untuk mempenetrasi inti sel (kemungkinan melalui pori-pori dalam membrana inti) untuk berikatan dengan reseptor inti-setempat. Kasus pada hormon tiroid tidak jelas. Bukti-bukti mendukung pendapat bahwa hormon-hormon ini memasuki sel melalui mekanisme transport, masih belum jelas bagaimana mereka mempenetrasi membrana inti (3,6). ( Guyton and Hall, 2011)

27

27 Gambar 7. Lintasan yang mungkin untuk transmisi sinyal hormon. ( Guyton and Hall, 2011) Hormon

Gambar 7. Lintasan yang mungkin untuk transmisi sinyal hormon.

( Guyton and Hall, 2011)

Hormon dapat bekerja melalui satu atau lebih reseptor; masing- masingkompleks hormon-reseptor dapat bekerja melalui satu atau lebih mediatorprotein (baik protein G atau mekanisme pensinyalan lainnya), dan masing-masing protein perantara atau enzim yang diaktivasi oleh kompleks- kompleks hormon reseptor dapat mempengaruhi satu atau lebih fungsi efektor. Umumnya hormon berikatan secara reversibel dan non-kovalen dengan reseptornya. Ikatan ini disebabkan tiga jenis kekuatan. Pertama, terdapat pengaruh hidrofobik pada hormon dan reseptor berinteraksi satu sama lain dengan pilihan air. ( Guyton and Hall, 2011)

Kedua, gugusan bermuatan komplementer pada hormon dan reseptor mempermudah interaksi. Pengaruh ini penting untuk mencocokkan hormon ke dalam reseptor. Dan ketiga, daya van der Waals, yang sangat tergantung pada jarak, dapat menyumbang efek daya tarik terhadap ikatan.Pada beberapa kasus, interaksi hormon-reseptor lebih kompleks. Hal ini sebagian besar terjadi jika hormon yang berinteraksi dengan suatu kompleks reseptor dengan subunit yang majemuk dan di mana pengikatan dari hormon dengan subunit pertama mengubah afinitas dari subunit lain untuk hormon. Hal ini dapat meningkat (kerjasama positif) atau menurun (kerjasama negatif) afinitas dari hormon untuk reseptor itu. Kerjasama positif menghasilkan suatu plot Scatchard yang konveks dan kerjasama negatif menghasilkan suatu plot yang konkaf . Artifak eksperimental dan adanya dua kelas independen dari tempat juga dapat menghasilkan plot

28

Scatchardnon-linier. Yang merupakan kejutan, ikatan kerjasama jarang diamati pada interaksihormon-reseptor; interaksi reseptor-insulin pada beberapa keadaan dapat merupakan suatu pengecualian. ( Guyton and Hall, 2011)

  • c) Pengikatan Hormon Non-Reseptor

Reseptor bukan merupakan satu-satunya protein yang mengikat hormon- banyak protein lain juga mengikatnya. Dalam hal ini termasuk protein pengikat plasma dan molekul seperti alat transpor lainnya yang lazim ditemukan dalam jaringan perifer, enzim yang terlibat dalam metabolisme atau sintesis dari steroid, dan protein lainyang belum diidentifikasi hingga sekarang. Protein ini dapat mengikat hormon seketat atau lebih ketat ketimbang reseptor; namun, mereka berbeda dari reseptor dimana mereka tidak mentransmisikan informasi dari pengikatan ke dalam peristiwa pascareseptor. ( Guyton and Hall, 2011)

Satu kelas molekul khusus mengikat hormon atau kompleks hormon pada permukaan sel dan berpartisipasi dalam internalisasinya. Yang paling diteliti secara luas adalah "reseptor" lipoprotein berdensitas-rendah (LDL) yang mengikat partikel LDL pembawa kolesterol dan menginternalisasinya. Reseptor ini penting untuk 23 ambilan kolesterol, contohnya, dalam sel-sel dari adrenal untuk biosintesis steroid dan dalam hati untuk membersihkan plasma dari kolesterol. Cacat genetik reseptor ini menimbulkan hiperkolesterolemia. Partikel LDL yang diinternalisasi dapat memberikan kolesterol untuk sintesis steroid atau penyisipan ke dalam membran sel. Di samping itu, kolesterol yang dilepaskan dari partikel menghambat umpan balik sistesis kolesterol. Dengan demikian, bukan reseptor tetapi LDL yang mengambil protein. Molekul reseptor dan non-reseptor pengikat hormon biasanya dibedakan melalui sifat-sifat pengikatannya serta kemampuan untuk memperantarai respon pascareseptor. Reseptor akan mampu untuk mentransfer responsivitas hormon dengan eksperimen transfer gen. ( Guyton and Hall, 2011 )

  • 6. Hormon yang mempengaruhi proses pertumbuhan, yaitu :

  • a. Growth Hormone (GH) Berfungsi merangsang sintesis dan pertumbuhan di sebagian sel dan jaringan. Hormon ini menambah ukuran sel dan meningkatkan proses mitosis

29

yang diikuti dengan bertambahnya jumlah sel dan diferensiasi khusus beberapa tipe sel tertentu seperti pertumbuhan tulang. ( Guyton and Hall, 2011)

Hormon ini juga memiliki efek metabolik yang spesifik, seperti :

  • a. Meningkatkan kecepatan sintesis protein di sebagian besar sel tubuh

b.

Meningkatkan mobilisasi asam lemak dari jaringan adiposa, meningkatkan

asam lemak bebas dalam darah, dan meningkatkan penggunaan asam lemak untuk energi, dan

  • c. Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa Jadi, efek Growth Hormone adalah meningkatkan protein dalam tubuh, menghabiskan simpanan lemak, dan menghemat karbohidrat.

1)

Tiroksin ( T 4 ) dan Triiodotironin ( T 3 )

Berfungsi meningkatkan kecepatan reaksi kimia di sebagian sel sehingga meningkatkan laju metabolisme tubuh. ( Guyton and Hall, 2011)

2)

Kalsitonin Berfungsi menambah deposit kalsium di tulang dan mengurangi konsentrasi ion kalsium di cairan ekstraseluler. (Guyton and Hall, 2011)

  • 7. Kelainan sekresi hormone pertumbuhan menyebabkan pola pertumbuhan.

    • a. Defisiensi Hormon Pertumbuhan

Defesiensi GH dapat disebabkan oleh defek hipofisis (ketiadaan GH) atau sekunder karena disfungsi hipotalamus (ketiadaan GHRH). Hoposekresi GH pada anak adalah salah satu penyebab dwarfism (cebol). Gambaran utama adalah tubuh pendek karena pertumbuhan tulang yang terhambat. Karakteristik yang relatif kurang tampak adalah otot yang kurang berkembang (berkurangnya sintesis protein otot) dan lemak subkutis yang berlebihan (mobilisasi lemak yang kurang ). Selain itu, pertumbuhan dapat terhambat karena jaringan tidak berespons secara normal terhadap GH. Salah satu contoh adalah dwarfism Laron, yang ditandai oleh kelainan reseptor GH yang tidak peka terhadap hormon. Gejala penyakit ini mirip dengan gejala defisiensi GH berat meskipun kadar GH adalah sebenarnya tinggi. ( Guyton and Hall, 2011)

30

Pada beberapa kasus, kadar GH adekuat dan dan responsivitas sel sasaran normal tetapi tidak ditemukan somatomedin. Orang Pigmi Afrika adalah contoh yang menarik. Tubuh mereka yang biasanya pendek berkaitan dengan ketiadaan IGF-I. Terjadinya defisiensi GH pada masa dewasa setelah pertumbuhan selesai menimbulkan gejala yang relatif sedikit. Orang dewasa dengan defisiensi GH cenderung mengalami pengurangan massa dan kekuatan otot (protein otot lebih sedikit) serta penurunan densitas tulang (aktivitas osteoblas berkurang selama remodeling tulang). Selain itu, karena GH penting untuk mempertahankan massa dan kinerja otot jantung pada massa dewasa maka defisiensi GH pada orang dewasa dapat menyebabkan peningkatan risiko gagal jantung. ( Guyton and Hall,

2011)

  • b. Kelebihan Hormon Pertumbuhan

Hipersekresi GH paling sering disebabkan oleh tumor sel penghasil Gh di hipofisis anterior. Gejala bergantung pada usia pasien ketika kelainan sekresi tersebut dimulai. Jika produksi berlebihan Gh tersebut terjadi pada massa anak sebelum lempeng epifisis menutup maka gambaran utamanya adalah pertambahan tinggi yang pesat tanpa distorsi proporsi tubuh. Karenanya penyakit ini dinamai gigantisme. Jika tidak diterapi dengan mengangkat tumor atau dengan obat yang menghambat efek GH, pasien dapat mencapai tinggi delapan kaki atau lebih. Semua jaringan lunak ikut tumbuh sehingga proporsi tubuh masih normal. Jika hipersekresi GH terjadi setelah massa remaja ketika lempeng epifisis telah tertutup maka tubuh tidak lagi dapat bertambah tinggi. ( Guyton and Hall, 2011)

Namun, dibawah pengaruh kelebihan GH, tulang menjadi lebih tebal dan jaringan lunak, khususnya jaringan ikat dan kulit, berproliferasi. Pola pertumbuhan yang tidak seimbang ini menimbulkan keadaan cacat yang dikenal sebagai akromegali (akro artinya “ekstremitas”; megali artinya “besar”). Penebalan tulang paling nyata di ekstremitas dan wajah. Wajah yang terus bertambah kasar sehingga hampir menyerupai kera terjadi karena rahang dan tulang pipi menjadi menonjol akibat penebalan tulang wajah dan kulit. Tangan dan kaki membesar, dan jari tangan dan kaki sangat menebal. Sering terjadi gangguan

31

saraf tepi karena saraf terjepit oleh jaringan ikat atau tulang yang tumbuh berlebihan. (Price and Wilson, 2014)

  • 8. Hubungan hormone dengan homeostatis Adaptasi homeostatis suatu organism terhadap lingkungan yang terus berubah sebagian besar terlaksana melalui perubahan aktivitas dan jumlah protein. Hormon adalah bagian penting yang memfasilitasi perubahan ini. Interaksi hormon-reseptor menyebabkan terbentuknya sinyal intrasel yang dapat mengatur aktivitas gen-gen tertentu sehingga mengubah jumlah protein tertentu di sel target, atau memengaruhi aktivitas protein spesifik, termasuk enzim dan pengangkut atau protein kanal (channel protein). (Murray, 2014)

DAFTAR PUSTAKA

Eroschenko, V.D. 2013. Edisi 11. Atlas Histologi defiore edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta Guyton, A.C. and John E.H. 2011. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 12. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta Murray. R.K, dkk. 2014. Biokimia Harper edisi 29. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Mescher,

A.L.

2011.

Histologi

Dasar

Junqueira edisi

12. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Price,

S.A. and

Lorraine M. W. 2014.

Patofisiologi edisi 6. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta. Sherwood. L. 2008. Fisiologi Manusia dari Sistem Sel edisi 1. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta.

32