Anda di halaman 1dari 45

Laporan Studi Pustaka (KPM 403)

DAMPAK AKTIVITAS PERTAMBANGAN TERHADAP TINGKAT


KESEJAHTERAAN MASYARAKAT TEPIAN HUTAN

NURLAILA

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Studi Pustaka yang berjudul Dampak
Aktivitas Pertambangan Terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Tepian
Hutan benar-benar hasil karya saya sendiri yang belum pernah diajukan sebagai karya
ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun dan tidak mengandung bahanbahan yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain kecuali sebagai bahan rujukan
yang dinyatakan dalam naskah. Demikian pernyataan ini saya buat dengan
sesungguhnya dan saya bersedia mempertanggungjawabkan pernyataan ini.

Bogor, November 2014

Nurlaila
NIM. I34110065

ABSTRAK
NURLAILA. Dampak Aktivitas Pertambangan Terhadap Tingkat Kesejahteraan
Masyarakat Tepian Hutan. Di bawah bimbingan ENDRIATMO SOETARTO.
Pertumbuhan penduduk Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan ini tidak diikuti
dengan penambahan jumlah wilyah yang tersedia di muka bumi. Sekitar 237.641.326
jiwa penduduk Indonesia kini harus menggantungkan hidupnya pada lingkungan yang
akan menghidupkan mereka. Pertumbuhan industri menjadi salah satu usaha bagi
negara untuk dapat meningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Pertumbuhan ini diikuti
dengan pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan bersama, terutama
sumberdaya yang berada pada kawasan hutan. Pertumbuhan ekonomi yang
menitikberatkan pada aktivitas pertambangan menjadi salah satu sumber penghasilan
utama bagi negara namun memberikan dampak buruk baik terhadap lingkungan
maupun tingkat kesejahteraan masyarakat, seperti yang terdapat pada tepian hutan.
Kata kunci : masyarakat tepian hutan, pertambangan, dan tingkat kesejahteraan
ABSTRACT
Nurlaila. Impact of Mining Activity Levels Against Public Welfare Forest Margins.
Supervied by of Endriatmo Soetarto.
Indonesia's population growth has increased. This increase was not accompanied by an
increase in the number of available region of the earth. Approximately 237 641 326
Indonesian people now must depend on an environment that will turn on them. The
growth of the industry to be one of the business for the state to be able to increase
welfare. This growth is accompanied by the utilization of natural resources to meet the
needs of joint, especially the resources are in the forest areas. The economic growth that
focuses on mining activities became one of the main sources of income for the country it
gives negative impact for the environment and the welfare of the community, as well as
on forest edges.
Keywords: community forest edges ,mining, and welfare

DAMPAK AKTIVITAS PERTAMBANGAN TERHADAP TINGKAT


KESEJAHTERAAN MASYARAKAT TEPIAN HUTAN

Oleh
NURLAILA
I34110065

Laporan Studi Pustaka


Sebagai syarat kelulusan KPM 403
Pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT


FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa Studi Pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa : Nurlaila
Nomor Pokok
: I34110065
Judul
: Dampak Aktivitas Pertambangan Terhadap Tingkat Kesejahteraan
Masyarakat Tepian Hutan
dapat diterima sebagai syarat kelulusan mata kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor.

Disetujui oleh

Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA


Dosen Pembimbing

Diketahui oleh

Dr. Ir. Siti Amanah, MSc


Ketua Departemen

Tanggal Pengesahan : _______________

PRAKATA
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan Studi Pustaka yang berjudul Dampak Aktivitas Pertambangan
Terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Tepian Hutan ini dengan baik. Penulisan
laporan Studi Pustaka ini ditujukan untuk memenuhi syarat kelulusan MK. Studi
Pustaka (KPM 403), pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan
Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT, terima kasih penulis
sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Endriatmo Soetatrto, MA selaku pembimbing yang
telah memberikan saran dan masukan selama proses penulisan hingga penyelesaian
laporan Studi Pustaka ini. Penulis juga menyampaikan hormat dan terima kasih kepada
Ibu Nur Asia dan Bapak Syarifuddin selaku orang tua yang senantiasa memberikan
dorongan semangat dan doa yang sangat bermanfaat untuk penulis dalam
menyelesaikan Studi Pustaka ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada teman suka duka dan seperjuangan, Ardika, Laorensia, Tiffany, Sri Anindya,
Ulfa Lestari, dan Ichris D.M yang telah memberikan dukungan baik moril maupun
materil dalam proses penyelesaian laporan Studi Pustaka ini. Ucapan terima kasih juga
penulis sampaikan kepada mahasiswa Departemen SKPM seluruh angkatan, khususnya
angkatan 48, yang selalu menemani dalam proses perkuliahan selama beberpa tahun ini
dan memberikan pelajaran bermanfaat kepada penulis.
Semoga laporan Studi Pustaka ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, November 2014

Nurlaila
I34110065

DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... viii
PENDAHULUAN............................................................................................... 1
Latar Belakang............................................................................................ 1
Tujuan Tulisan............................................................................................ 2
Metode Penelitian........................................................................................ 2
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA...............................................................5
1. Sinkronisasi Kegiatan Pertambangan Pada Kawasan Hutan (PG Ardhana,
2009)................................................................................................. 5
2. Dampak Kebijakan Pertambangan Batubara Bagi Masyarakat bengkuring

Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara (Ilmi Hakim, 2014)


......................................................................................................... 6
3. Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Pertambangan dan Kehutanan
(DSDM Pertambangan)........................................................................7
4. Sengketa Usaha Pertambangan di Wilayah Hutan Elang Dodo Kabupaten
Sumbawa (Iwan Harianto, 2012)............................................................9
5. Pengelolaan Tambang Berkelanjutan (Dr. Arif Sulkifli, S.T., M.M.,
2014) .........10
6. Impact of Mining Sector Invesment in Ghana : A Study of The TarkwaMining
Region (Thomas Akabzaa dan Abdulai Darimani,2001)...................11
7. Philippine Environmental Impact Assessment, Minning and Geneuine
Development (Allan Ingelson, William Holden, & Meriam Bravante,
2007)............................................................................................. 13
8. Perlindungan Hukum Masyarakat Adat di Wilayah Pertambangan (Helza
Nova Lita, Fatmie Utarie Nasution, 2013).......................................14
9. Implementasi Kebijakan Lingkungan di Indonesia : Hambatan dan Tuntutan
(Hartuti Purnaweni,2004)...............................................................16
10. Izin Pemanfaatan Kawasan Hutan Negara Untuk Pertambangan dalam Era
Otonomi Daerah. (Josep M. Monteiro, 2006).........................................17
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN..................................................................21
Konsep Pertambangan................................................................................. 21
Kebijakan Perizinan Usaha Pertambangan........................................................22
Masalah Pengelolaan Tambang......................................................................22
Pertambangan Berkelanjutan.........................................................................23
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan............23
Hukum Kehutanan di Indonesia.....................................................................24
Definisi Kesejahteraan................................................................................25
Pengelolaan Tambang Terhadap Masyarakat Kawasan Tepian Hutan.......................26
SIMPULAN..................................................................................................... 29
Hasil Rangkuman dan Pembahasan................................................................29
Perumusan Masalah dan Pertanyaan Analisis Baru..............................................30
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 33
LAMPIRAN..................................................................................................... 35
Riwayat Hidup.................................................................................................. 35

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Aktivitas Pertambangan


Gambar 2. Kerangka Hukum
Gambar 3. Kerangka Pemikiran

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk Indonesia mengalami peningkatan. Peningkatan ini
tidak diikuti dengan penambahan jumlah wilyah yang tersedia di muka bumi. Sekitar
237.641.326 jiwa1 penduduk Indonesia kini harus menggantungkan hidupnya pada
lingkungan yang akan menghidupkan mereka. Pertumbuhan industri menjadi salah
satu usaha bagi negara untuk dapat meningkatan kesejahteraan masyarakatnya.
Pertumbuhan ini diikuti dengan pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi
kebutuhan bersama.
Dituliskan dalam pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat2. Kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia
menjadi peluang besar bagi para pemangku kepentingan dengan pengetahuan yang
dimilikinya. Berdirinya kawasan industri diikuti dengan semakin banyaknya kawasan
pertambangan sebagai salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
wilayah. Pada Undang-Undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
nomor 32 tahun 2009 menyebutkan bahwa instrumen ekonomi lingkungan hidup
adalah seperangkat kebijakan ekonomi untuk mendorong pemerintah, pemerintah
daerah atau setiap orang ke arah pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Pertambangan merupakan salah satu aktivitas yang memanfaatkan sumberdaya alam.
Pemanfaatan sumberdaya alam ini dapat dilakukan dengan pencairan, penggalian atau
bahkan peledakan guna memperoleh hasil tambang yang diharapkan. Kegiatan
pertambangan banyak dilakukan pada kawasan hutan yang memiliki potensi, bahkan
sejumlah kawasan pertambangan telah mengubah fungsi hutan menjadi kawasan
kematian meskipun terdapat upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup namun tidak
seimbang. Pembabatan hutan primer, kawasan hutan yang dilindungi hingga kawasan
hutan yang berisi peninggalan sejarah purbakala menjadi kawasan tambang yang
dimanfaatkan, terbukti dengan besarnya laju deforestrasi hutan mencapai 610.375,92 Ha
per tahun pada tahun 20113. Desakan kebutuhan menjadi faktor utama untuk menjaga
keberlangsungan hidup manusia. Namun keberlangsungan itu tidak terjadi dalam waktu
yang lama, degradasi lahan menyebabkan permasalahan lingkungan timbul bahkan
mengancam keberlangsungan makhluk hidup yang lain.
1 http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12 (diakses pada tanggal 16
September 2014)
2 UUD 1945
3 WWF Indonesia
(http://www.wwf.or.id/cara_anda_membantu/bertindak_sekarang_juga/mybabytree/)

Pemikiran mengenai pertumbuhan ekonomi akan selalu berseberangan dengan


pemikiran mengenai pelestarian. Dampak pertumbuhan ekonomi terutama pada
aktivitas pertambangan menyebabkan sejumlah wilayah di Indonesia memiliki
peninggalan galian yang tidak dapat dikembalikan lagi kebentuk semula. Para
pemegang kepentingan memiliki kuasa untuk memberikan izin pembukaan lahan hingga
terjadi tumpang tindih aturan antara UU No. 11 Tahun 1967 mengenai Ketentuan
Pokok Pertambangan dengan UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan 4. Adanya
aktivitas lobi dengan departemen pemerintahan tersebut serta campur tangan dari
investor yang akan membuka kawasan tambang, menyebabkan terbentuknya
sinkronisasi penerapan peraturan dari kedua undang-undang yang pada akhirnya
menyebabkan terjadinya perusakan dan pencemaran sumber daya alam.
Undang-undang yang bersifat sentralistik dan pembagian wilah akibat otonomi
daerah menyebabkan kegiatan pertambangan dipegang secara penuh oleh pemerintah
pusat untuk aktivitas pertambangan golongan A dan B, sedangkan pemerintah daerah
hanya memegang perizinan untuk aktivitas tambang bahan galian C. Akibat pembagian
ini, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk melarang aktivitas
pertambangan terbuka yang secara nyata dapat merusak lingkungan bahkan
meninggalkan kubangan yang sulit untuk dikembalikan seperti keadaan semula.
Permasalahan yang terjadi tidak hanya pada pemegang kuasa dan pemberian izin,
namun permasalahan yang semakin mencuat adalah dampak yang ditimbulkan akibat
aktivitas pertambangan. Ketidakseimbangan yang terjadi tidak hanya pada segi
ekologinya, melainkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat akan dipengaruhi.
Peluang kerja, pendapatan, migrasi hingga peluang usaha dalam penelitian yang
dilakukan Dharma (2011) menjadi dampak dari aktivitas pertambangan batu bara.
Namun dampak ini dapat dilihat dari dua sisi, dampak positif dan negatif. Dampak
negatif terlihat pada segi ekologi dan perubahan struktur agraria, namun pada dampak
positif dapat dilihat pada jumlah industri kerajinan kecil atau UKM terutama pada
pertambangan marmer di Tulungagung sudah mencapai 201 unit pada tahun 1990
(Mubarok dan Ciptomulyono; 2012 : 2301-9271). Dampak aktivitas pertambangan
dapat memicu banyak kemungkinan yang terjadi, namun dari aktivitas pertambangan ini
yang akan didalami adalah Bagaimana dampak aktivitas pertambangan terhadap
tingkat kesejahteraan masyarakat tepian hutan?

Tujuan Tulisan
Pertumbuhan penduduk tidak akan lepas dari kebutuhan terhadap sumberdaya.
Aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan sudah tidak memperhatikan yang harus dijaga
dan diperbaharui. Kegiatan pertambangan salah satu langkah untuk meningkatkan
kualitas hidup untuk dapat bersaing. Namun, langkah ini menjadi salah satu langkah
menuju krisis sumberdaya. Pemanfaatan lahan pada kawasan hutan primer, lindung
hingga hutan yang menjadi kawasan peninggalan sejarah menjadi sasaran aktivitas
4 IPG Ardhana.2009. Sinkronisasi Kegiatan Pertambangan Pada Kawasan Hutan. Hal. 290.

pertambangan. Oleh karena itu, tujuan dari penulisan studi pustaka ini adalah untuk
menganalisis dampak dari aktivitas pertambangan pada masyarakat tepian hutan
terhadap tingkat kesejahteraan. Kemudian, konsep pembangunan berkelanjutan yang
mampu mengurangi dampak dari aktivitas pertambangan.

Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penulisan studi pustaka ini ialah penelaahan dan
analisis data sekunder yang relevan dengan topik studi pustaka. Langkah pertama ialah
pengumpulan berbagai data sekunder berupa hasil penelitian seperti skripsi, tesis, jurnal,
disertasi, maupun buku-buku mengenai ekologi, kehutanan, dan pertambangan.
Kemudian data sekunder tersebut dipelajari, diringkas, serta disusun menjadi sebuah
ringkasan studi pustaka yang relevan terhadap ekologi, kehutanan, dan pertambangan.
Selanjutnya dilakukan sintesis dan analisis dari hasil ringkasan studi pustaka. Terakhir
ialah penarikan hubungan dari semua hal yang telah dilakukan sehingga memunculkan
sebuah kerangka teoritis yang menjadi dasar perumusan masalah bagi penelitian
yang akan dilakukan.

RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA


Ringkasan 1
Judul

: Sinkronisasi Kegiatan Pertambangan Pada Kawasan


Hutan
Tahun
: 2009
Jenis Pustaka
: Jurnal
Bentuk Pustaka
: Elektronik
Nama Penulis
: IPG Ardhana
Kota dan nama penerbit
: Universitas Udayana, Bali
Nama jurnal
: Jurnal Bumi Lestari
Volume (edisi) : hal
: 9(2) : 288-299
Alamat URL
: http://ojs.unud.ac.id/index.php/blje/article/view/1526
Tanggal diunduh
: 19 September 2014
Kebijakan pemerintah mengizinkan kegiatan pertambangan di kawasan hutan
lindung dan konservasi mempercepat kiamat Indonesia. Industri ini akan mengubah
hamparan hutan Indonesia menjadi padang pasir dengan lubang-lubang beracun yang
akan mengancam umat manusia secara global, sedangkan satu-satunya peruntukan
hutan Indonesia yang masih bisa diharapkan dalam kondisi baik adalah hutan lindung
dan kawasan konservasi. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan terdapat sekitar 150
perusahaan yang telah mengantongi izin Departemen Energi dan sumber Daya Mineral
(ESDM) untuk membuka tambang di kawasan hutan lindung dan konservasi yang
tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.
Adanya konsepsi pertambangan berkelanjutan menjadi salah satu upaya untuk
memuluskan alasan penggalian serta adanya usulan tambang dibawah tanah untuk
mengurangi dampak yang diberikan. Adanya pertentangan antara UU No. 11 Tahun
1967 mengenai Ketentuan Pokok Pertambangan dengan UU No. 41 Tahun 1999
mengenai Kehutanan menyebabkan terjadinya tumpang tindih aturan serta
ketidakjelasan sehingga muncul hasil sinkronisasi penerapan peraturan perundangundangan dalam bentuk SK Menko ekoin nomor KEP-04/M.EKOIN/09/2000 tentang
Tim Kordinasi Pengkajian Pemanfaatan Kawasan Hutan Untuk Pertambangan yang
mengabaikan keselamatan hutan lindung dan konservasi.
Keterbatasan teknologi danbesarnya biaya yang mereka pakai sebagai alasan
menelantarkan tanah yang porak poranda setelah sumberdaya mereka nikmati dan tidak
lagi bisa diperah hasilnya. Sinkronisasi penerapan peraturan dari kedua perundangundangan yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya perusakan dan pencemaran
sumber daya alam. Pada kasus Freeport di Irian Jaya yang dinilai menimbulkan
pencemaran berat pada perairan dengan limbah tailingnya dan diniliai merusak
keberadaan puncak es tropika di Irian Jaya. Kerusakan lahan bekas tambang dibeberapa
wilayah seperti tambang timah di Bangka-Singkep, ataupun kerusakan lahan bekas
tambang galian di Pulau Jawa, Bali dan sumatera. Selain itu, permasalahan yang
dihadapi saat ini adalah kerusakan hutan lindung yang menyebabkan hilangnya habitat
satwa dan akan menurunkan biodiversitas flora dan fauna, hilangnya mata air,
menurunnya debit air danau dan menurunnya kesakralan kawasan suci yang merupakan
hal yang sangat peka bagi masyarakat, seperti di Bali.
Adanya dorongan krisis ekonomi yang menyebebkan pemerintah pusat bersikeras
melaksanakan rencana kegiatan pembangunan yang memprioritaskan pelaksanaan
pertumbuhan ekonomi dengan dalih untuk mengurangi tingkat kemiskinan, disamping

memang Indonesia harus membayar utangnya dari desakan International


Monetery Fund (IMF) melalui Letter of Intent (LoI) yang telah ditandatangani
pemerintah dimana salah satu skema yang disetujui adalah konversi hutan alam
untuk meningkatkan devisa negara pada waktu itu.
Penentuan kawasan tambang yang bersifat sentralistik yakni berada pada tangan
pemerintah pusat tanpa ada penentuan putusan dengan pemerintah daerah akibat adanya
pembagian peran sebagai hasil dari otonomi daerah. Sinkronisasi penerapan peraturan
dari kedua perundang-udangan tersebut pada akhirnya hanya mengakibatkan terjadinya
perusakan dan pencemaran sumberdaya alam. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya
dalam hal kerusakan lingkungan namun sosial ekonomi juga menjadi penerima dampak
akibat aktivitas pertambangan yang terjadi dibeberapa kawasan nusantara seperti
Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Kalimantan, Papua yang terkenal
dengan hasil tambang yang melimpah.
Analisis :
Penulis telah mencantunkan kelengkapan data mengenai kondisi hutan dengan
penjelasan yang sangat lengkap disertai dengan kawasan yang memiliki aktivitas
pertambangan yang sangat besar. Mencantumkan sejumlah kasus dari aktivitas
pertambangan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia menggambarkan aktivitas
yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari aktivitas pertambangan,
serta pencantuman peraturan perundang-udangan semakin menguatkan bahwa aktivitas
pertambangan berada dalam dua kementrian yang menimbulkan tumpang tindih
peraturan untuk pemanfaatan kawasan sumberdaya milik negara. Penulis menjelaskan
hasil dari kegiatan lobi antara menteri kehutanan dan ESDM sehingga muncul
sinkronisasi penerapan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tim
kordinasi pengkajian pemanfaatan kawasan hutan untuk pertambangan yang
mengabaikan keselamatan hutan lindung dan konservasi. Selain itu, penulis juga
menuliskan saran yang dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk memberikan
masukan kepada pemerintah agar dapat mengurangi dampak negatif dari aktivitas
pertambangan yang sudah merusak hampir seluruh kawasan sumberaya negara demi
kepentingan kaum tertentu.
Ringkasan 2
Judul

Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

: Dampak Kebijakan Pertambangan Batubara Bagi


Masyarakat Bengkuring Kelurahan Sempaja Selatan
Kecamatan Samarinda Utara
: 2014
: Jurnal
: Elektronik
: Ilmi Hakim
: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Mulawarman, Samarinda
: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik
: Halaman 1731-1741
: ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id/.../jurnal%20ilmi%20fix
%20(02-24-14-02-.

Tanggal diunduh

: 19 September 2014

Industri pertambangan nasional dalam banyak kasus memiliki posisi dominan


dalam pembangunan sosial ekonomi, negara maju dan berkembang. Sektor industri
berdampak sangat signifikan dalam arti positif maupun negatif. Dampak timbul akibat
aktivitas yang terjadi pada pertambangan serta dimulai dengan adanya regulasi yang
berada di tangan pemerintah pusat sebagai pengendali pemberian izin pertambangan
perusahaan. Berlakunya Undang-Undang 32 Tahun 2004 menjadikan daerah memiliki
otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab sejalan dengan semakin besarnya
wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki pemerintah daerah,sehingga diperlukan
adanya pengaturan kewenangan yang jelas agar dapat menghasilkam kualitas yang baik.
Tidak hanya UU 32 Tahun 2004, juga Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang
Kewenangan Pemerintah dalam Pengelolaan Tambang Mineral dan Batubara, bab I ayat
7 yang menyatakan bahwa izin usaha pertambangan diberikan kepada bupati/walikota,
gubernur dan menteri. Akibat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah
dirasakan oleh masyarakat terutama kerugian akibat bencana alam seperti banjir,
longsor, bahkan kerugian materil dirasakan oleh peternak ikan yang kehilangan lebih
dari 4000 ekor bibit ikan akibat banjir yang merendam kawasan pemukiman dan tambak
warga.
Meskipun dampak negatif lebih mendominasi, namun dengan adanya
pembukaan tambang juga memberikan dampak positif. Misalnya dengan adanya
tambang maka membuka wilayah yang terisolasi sebelumnya, memberikan sumbangan
pendapatan asli daerah (PAD) dan masyarakat lokal serta menampung tenaga kerja
lokal. Melihat dampak dari aktivitas pertambangan ini lebih didominasi oleh dampak
negatif daripada dampak positif, maka perusahaan berupaya mengurangi dampak
tersebut terutama mengurangi dampak yang diterima oleh masyarakat dengan
melaksanakan aktivitas pertambangan yang berkelanjutan melalui kegiatan penanaman
pohon pada kawasan galian dan membuat alur kendaraan yang tidak melewati kawasan
pemukiman penduduk agar terhindar dari debu.
Analisis :
Penulis mencoba menuliskan dampak yang ditimbulkan akibat kebijakan
pertambangan batubara terhadap masyarakat Bengkuring, Samarinda Utara. Regulasi
yang dikeluarkan pemerintah menimbulkan dampak yang dilihat penulis berdasarkan
hasil pengamatan langsung di lapangan. Tidak hanya itu, penulis juga memberikan
kerangka dasar teori sehingga memudahkan pembaca untuk mendefinisikan apa yang
dimaksudkan dalam tulisannya. Penulis menceritakan mengenai dampak yang diterima
oleh masyarakat serta bencana alam yang merugikan masyarakat juga. Kerusakan
lingkungan akibat kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah demi kepentingan
tertentu menyebabkan penulis menceritakan dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas
pertambangan. Penulis juga memberikan masukan yang dapat menjadi salah satu bahan
yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah saat akan memberikan izin pemanfaatan
hutan untuk kegiatan pertambangan. Dampak yang dituliskan dalam jurnal telah
digambarkan secara spesifik secara satu persatu sebagai akibat dari kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah demi kepentingan pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan masyarakat.
Ringkasan 3
Judul
Tahun
Jenis Pustaka

: Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan


Pertambangan dan Kehutanan
:: Artikel

Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

: Elektronik
:: Direktorat Sumber Daya Mineral dan
Pertambangan
::: https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rj
a&uact=8&ved=0CBwQFjAA&url=http%3A%2F
%2Fwww.satudunia.net%2Fsystem%2Ffiles
%2F6tambang_final.pdf&ei=InpIVNv0HoapmwWe
oILgBA&usg=AFQjCNGx2ggY46y-dLA4XC3flhpH3AwUA&sig2=eYC_HjL_21UfbtfiFUHJw&bvm=bv.77880786,d.dGY

Tanggal diunduh
: 3 Oktober 2014
Pertambangan dan energi merupakan sektor pembangunan penting bagi
Indonesia. Industri pertambangan sebagai bentuk kongkret sektor pertambangan
menyumbang sekitar 11,2% dari nilai ekspor Indonesia dan memberikan kontribusi
sekitar 2,8% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Industri pertambangan
mempekerjakan sekitar 37.787 tenaga kerja Indonesia, suatu jumlah yang tidak sedikit.
Namun dari sisi lingkungan hidup, pertambangan dianggap paling merusak
dibanding kegiatan-kegiatan eksploitasi sumberdaya lainnya. Pertambangan dapat
mengubah bentuk bentang alam, merusak dan atau menghilangkan vegetasi,
menghasilkan limbah tailing, maupun batuan limbah, serta menguras air tanah dan air
permukaan, jika tidak direhabilitasi, lahan-lahan bekas pertambangan akan membentuk
kubangan raksasa dan hamparan tanah gersang yang bersifat asam.
Salah satu isu penting dalam pengembangan kegiatan pertambangan versus
kelestarian lingkungan hidup adalah tumpang tindih dan konflik penggunaan lahan,
terutama dengan kegiatan kehutanan. Di satu sisi, pertambangan merupakan andalan
pemasukan devisa negara, sekaligus motor penggerak pertumbuhan Kawasan timur
Indonesia (KTI). Di sisi lain, sektor kehutanan juga berperan penting dalam
perekonomian nasional. Tumpang tindih diantara keduanya berpontensi
menimbulkan konflik kepentingan.
Masing-masing sektor memiliki permasalahannya, sektor kehutanan dengan
gejala deforestasinya yakni luas hutan yang semakin sempit karena desakan ekonomi,
sementara lingkungan tetap menunut adanya kelestarian hutan, pada pertambangan
dengan aktivitasnya yang mencemari lingkungan. Semakin sedikitnya kawasan hutan
dituding sebagai akibat tumpang tindih pemanfaatan ruang dengan lahan kehutanan.
Disebutkan dakam TEMPO Interaktif (4 Maret 2003) terdapat 22 perusahaan tambang
beroperasi di kawasan hutan lindung dan sempat di tutup. Total investasi 22 perusahaan
tersebut mencapai US$12,2 miliar (Rp160 triliun). Kegiatan pertambangan dinilai
merusak ekosistem hutan lindung, yang berfungsi sebagai kawasan konservasi alam.
Tidak hanya itu, akibat kegiatan pertambangan, maka banyakanya penambangan liar
yang terbuka akibat kesenjangan ekonomi yang semakin besar di sekitar kawasan
pertambangan dan menyebabkan konflik dengan masyarakat lokal yang telah
kehilangan sumber penghidupan di sekitar kawasan hutan yang menjadi areal
penambangan.

Analisis :
Pada artikel yang dikeluarkan oleh Direktorat Sumber Daya Mineral dan
pertambangan telah menggambarkan kondisi hutan dan aktivitas pertambangan yang
telah memberikan dampak bagi perubahan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas
pertambangan pada kawasan hutan, terutama hutan lindung. Gambaran mengenai
kondisi hutan yang semakin menyempit dan aktivitas pertambangan yang semakin
banyak meninggalakan kubangan memberikan dampak kepada lingkungan sekitarnya,
tidak hanya pada kawasan hutan, namun mempengaruhi kehidupan masyarakat yang
berada disekitar kawasan. Banyaknya aktivias ilegal diakibatkan sebagai dampak
pertambangan yang tidak melibatkan masyarakat lokal, namun pada artikel ini tidak
dijelaskan secara mendalam mengenai penyebab adanya penambangan liar serta konflik
yang terjadi dengan masyarakat lokal. Kurangnya informasi mengenai dampak terhadap
masyarakat dan kehidupan sosial belum menggambarkan secara lengkap kawasan hutan
dan aktivitas pertambangan terhadap masyarakat lokal.
Ringkasan 4
Judul
: Sengketa Usaha Pertambangan di Wilayah
Hutan Elang Dodo Kabupaten Sumbawa
Tahun
: 2012
Jenis Pustaka
: Jurnal
Bentuk Pustaka
: Elektronik
Nama Penulis
: Iwan Harianto
Kota dan nama penerbit
: Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Udayana,
Denpasar
Nama jurnal
: Jurnal
Volume (edisi) : hal
:Alamat URL
:download.portalgaruda.org/article.php?
article=13994&val=944
Tanggal diunduh
: 13 Oktober 2014
Nusa Tenggara Barat salah satu daerah yang kaya bahan galian, baik galian
logam maupun non logam. Salah satu perusahaan pertambangan di daerah tersebut
adalah Newmont Gold Company (PT. Newmont) melalui kontrak karya yang dibuat
pada tanggal 6 November 1986 oleh Pemerintah RI. Atas persetujuan tersebut, pada
tahun 1996 perusahaan tersebut melakukan usaha eksplorasi yang pertama kali di
wilayah Batu Hijau Kabupten Sumbawa Barat dengan luasan 550.856 ha, kemudian
dilanjutkan dengan usaha eksploitasi.
Keberadaan perusahaan PT. Newmont di wilayah Batu Hijau tidak dapat
bertahan lama untuk melakukan usaha pertambangan, karena cadangan mineral yang
bersifat terbarukan yang terkandung di wilayah tersebut kemungkinan akan habis.
Sebagai wilayah perluasannya adalah wilayah hutan Elang Dodo yang berada di
Kabupaten Sumbawa. Pada tahun 2003 kegiatan eksplorasi PT. Newmont di wilayah
tersebut banyak memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, misalnya dapat
mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang dan memberikan manfaat bagi
pengusaha lokal, dimana pengusa tersebut dapat mendistribusikan berbagai kebutuhan
para tenaga kerja uang dipekerjakan oleh PT. Newmont. Namun kegiatan eksplorasi
tersebut tidak begitu lama, karena adanya gugatan dari masyarakat Desa Lebangkar
yang menginginkan PT. Newmont harus menghentikan aktivitas eksplorasi dan
sekaligus hengkang di tanah leluhur masyarakat Desa Lebangkar. Terdapat aksi untuk
meredakan konflik, namun masyarakat terpancing emosinya sehingga menimbulkan
tindakan anarkis dengan melibatkan elemen rakyat se-Kecamatan Ropang. Aksi
penolakan terhadap PT. Newmont dilaksanakan akibat PT. Newmont memberikan

batasan kepada masyarakat untuk melaksanakan aktivitas yang sering dilaksanakan


pada kawasan hutan yang menjadi kawasan perluasan pertambangan PT. Newmont.
Faktor penyebab sengketa yakni dilanggarnya kebiasaan (adat istiadat) warga Desa
Lebangkar terhadap Hutan Elang Dodo yakni dengan memanfaatkan hutan Elang Dodo
sebagai tempat ritualitas keagamaan (ziara kubur), faktor kekurangan sumber
pendapatan karena aktivitas pemanfaatan hutan terhadap produksi hutan jalid (hutan
untuk produksi gula merah dari pohon enau atau aren, produksi kemiri, kopi, serta kayu
yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhuan kebutuhan), faktor tidak adanya
sosialisasi serta faktor penguasaan sumberdaya alam menggunakan kekuasaan yang
menyebabkan terjadinya sengketa dan mengganggu aktivitas masyarakat desa.
Analisis :
Pada jurnal ilmiah ini, penulis telah menuliskan sebuah perusahaan yang ikut
memanfaatkan kawasan hutan namun menjadikan aktivitas eksplorasi dan
eksploitasinya mengganggu aktivitas masyarakat yang berada disekitar kawasan
tersebut. Akitivitas pertambangan yang dilaksanakan tidak berkaitan langsung dengan
dampak yang diperoleh masyarakat, namun terlihat penulis menjelaskan bahwa
keberadaan perusahaan PT. Newmont memberikan batasan terhadap aktivitas
masyarakat desa Lebangkar untuk melaksanakan aktivitas seperti biasanya, namun
penulis tidak menuliskan secara jelas mengenai hubungan akibat aktivitas pertambangan
terhadap kehidupan masyarakat desa sekitar perusahaan tambang. Sehingga dari jurnal
ini belum ditemukan fakta mendalam dan teori yang menguatan mengenai faktor yang
mempengaruhi langsung masyarakat sekitar kawasan hutan akibat aktivitas
pertambangan.
Ringkasan 5
Judul
: Pengelolaan Tambang Berkelanjutan
Tahun
: 2014
Jenis Pustaka
: Buku
Bentuk Pustaka
: Cetak
Nama Penulis
: Dr. Arif Zulkifli, S.T., M.M.
Kota dan nama penerbit
: Yogyakarta, Graha Ilmu
Nama jurnal
:Volume (edisi) : hal
:Alamat URL
:Tanggal diunduh
: 18 Oktober 2014
Pada buku ini digambarkan mengenai berbagai kasus pertambangan yang terjadi
di Indonesia. Aktivitas pertambangan yang dijalankan oleh setiap perusahaan dengan
hasil tambang yang berbeda-beda. Timah di Bangka menyebabkan rusaknya lingkungan
sekitar bahkan hutan tidak berfungsi, mengubah struktur kehidupan masyarakat yang
awalnya petani menjadi penambang dengan upah yang jauh berbeda bila sebagai petani.
Bukan hanya timah, batu bara di Kalimantan menggambarkan kondisi di wilayah
tersebut dikuasai oleh berbagai pihak namun kubangan besar menjadi peninggalan yang
menyebabkan hutan yang tidak berfungsi, merusak ekosistem yang ada disekitarnya
bahkan dekonstruksi lahan yang dicanangkan belum mampu mengembalikan kualitas
lahan yang telah digali.
Rusaknya lingkungan sekitar tambang, terutama kawasan hutan menyebabkan
banyak dampak yang terjadi. Dampak yang paling terasa adalah perubahan lingkungan
serta masyarakat disekitar kawasan tambang dan hutan. Selain itu pengelolaan hutan

yang dianggap sama-sama memiliki kuasa untuk memanfaatkan hutan menjadi salah
satu bentuk konflik penguasaan akan lahan. Melihat kondisi pertambangan yang berada
pada kawasan hutan dengan peninggalan kubangan yang tidak terkendali kemudian
adanya peraturan yang mengatur mengenai kewajiban perusahaan tambang untuk
mencantumkan dalam anggran perusahaannya mengenai dampak lingkungan yang akan
ditanggulangi sebagai akibat penggunaan lahan yang menyebabkan rusaknya
lingkungan hidup serta merugikan masyarakat yang berada pada kawasan tersebut.
Pertambangan yang dinyatakan dalam Pasal 1 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan
dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusaha mineral atau batubara yang
meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang.
Data dari ESDM (2009) menunjukkan bahwa sumberdaya batubara mencapai 104.760
juta ton, emas 4.250 ton, tembaga 68.960 ribu ton, timah 650.135 ton dan nikel
sebesar1.878 juta ton. Melihat potensi yang dihasilkan, maka dicanangkan
pertambangan berkelanjutan, yakni mengikutsertakan konstruksi lahan pada setiap
tahapan pelaksanaan tambang yang dilaksanakan oleh perusahaan tambang yang ada di
Indonesia. Yang menjadi indikator dalam buku ini adalah green minning atau
pertambangan hijau untuk menghindari dampak negatif yang dominan dan menjadikan
usaha tambang sebagai bentuk usaha yang menghasilkan bagi negara, menyejahterahkan
masyarakat namun mampu menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan
generasi mendatang.
Analisis :
Dalam buku ini dijelaskan secara lengkap mengenai pengelolaan tambang.
Penulis menjelaskan pelaksanaanya disertai dengan teori-teroi yang menguatkan
kegiatan pertambangan serta mendefinisikan kembali aktivitas pertambangan dengan
tahapan-tahapannya. Buku ini cukup jelas dalam memberikan gambaran mengenai
pertambangan yang terjadi di Indonesia, dengan memberikan contoh aktivitas
pertambangan yang meninggalkan kubangan hingga aktivitas yang memperoleh
penolakan dari masyarakatnya. Penjelasan mengenai dampak tidak hanya dilihatkan
pada dampak negatifnya saja, namun pada dampak positif juga dikembangkan bahwa
keuntungan dari usaha pertambangan sebenarnya telah mampu meingkatkan kehidupan
masyarakat, namun pengelolaan dan tumpang tindih peraturan dengan kekuasaan yang
dimiliki masing-masing pihak digambarkan dalam buku ini secara lengkap dan jelas.
Ringkasan 6
Judul

Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

: Impact of Mining Sector Invesment in


Ghana : A Study of The Tarkwa Mining
Region
: 2001
: Report
: Elektronik
: Thomas Akabzaa dan Abdulai Darimani
::::https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=
rja&uact=8&ved=0CCMQFjAA&url=http%3A%2F

%2Fwww.saprin.org%2Fghana%2Fresearch
%2Fgha_mining.pdf&ei=uz1JVOOnBoXEmwWgi
oCIBA&usg=AFQjCNEve64llTI6n5ofFl0l0TE5LB
ucVQ&sig2=lV54rcmGN63jUeJkkRJQg&bvm=bv.77880786,d.dGY

Tanggal diunduh
: 23 Oktober 2014
Pertumbuhan industri pertambangan di Ghana sejak tahun 1989 tidak dapat
dianggap sebagai fenomena langka. Hal ini didorong oleh paradigma global yang
menanamkan sektor pembangunan sebagai mesin pemulihan ekonomi negara-negara
berkembang. Program ini didukung oleh Bank Dunia dan lembaga yang bersekutu sejak
awal 1980-an. Dalam program-program ekonomi, negara Afrika dengan sektor
pertambangan yang penting wajib melaksanakan penekanan kebijakan terhadap tujuan
utamanya yakni memaksimalkan pajak pendapatan dari pertambangan dalam jangka
panjang.
Afrika terkenal sebagai kawasan penghasil berbagai mineral ke seluruh dunia.
Sektor ini menyumbang sekitar 8% dari produksi tambang dunia. Selain Afrika, Ghana
juga ternyata memiliki potensi pertambangan terbesar ketiga setelah Afrika dan
Zimbabwe. Ghana yang merupakan bagian dari negara-negara Sahara menjadi pemula
dari reformasi pada sektor pertambangan sebagai salah satu Program Pemulihan
Ekonomi pada tahun 1983. Pengembangan kelembagaan yang signifikan dan perubahan
kebijakan yang mencerminkan paradigma baru, menghasilkan Komisi Mineral pada
tahun 1984 dan sejak keluarnya perundangan Mineral dan Pertambangan pada tahun
1986, Ghana menjadi produsen kedua hasil tambang emas setelah Afrika Selatan.
Pertambangan di Ghana telah menghasilkan ledakan investasi yang cukup besar
dan peningkatan produksi pada sektor emas. Pertumbuhan pertambangan yang sangat
besar serta banyaknya perusahaan yang eksplorasi menjadi daya tarik sehingga mampu
meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan devisa bruto serta menarik substansial
asing langsung dana investasi selama bertahun-tahun. Akibat pertambangan ini
memberikan dua dampak yakni negatif dan positif. Dampak negatif yang cukup besar
pada segmen masyarakat yang paling rentan pada pedesaan, perempuan dan anak-anak
(kemiskinan) hal ini terjadi sebagai akibat dari izin mempertahankan keuntungan di
rekening luar negeri. Selain itu, dampak terhadap lingkungan terjadi pada redudansi
yang berkembang terkait dengan privatisasi perusahaan tambang milik negara. Namun,
disisi lain mampu meningkatkan devisa negara.
Kebijakan lingkungan nasional yang terbentuk belummampu menjaga, memadai
dan melindungi masyarakat lokal dari dampak yang merugikan dari operasi
pertambangan yang menyebabkan tingkat kemiskinan pada rakyat. Sektor reformasi
pertambangan yang terjadi, sangat sedikit yang dilakukan untuk mereformasikan adanya
undang-undang lingkungan yang mengakomodasi kehancuran yang akan timbul sebagai
akibat dari percepatan pertumbuhan di sektor pertambangan. Upaya yang dilakukan
untuk mengukur kerugian tahunan untuk ekonomi melalui degradasi lingkungan.
Terdapat AMDAL sebagai alat manajemen lingkungan dan prasyarat untuk semua
sektor proyek pembangunan, terutama dari jenis industri. Bersama AMDAL ini maka
dapat membantu industri pertambangan untuk beroperasi dalam lingkungan yang
berkelanjutan.
Pada kegiatan tambang yang terjadi di daerah Tarkwa, Ghana ini juga
mengalami tumpang tindih keputusan. Sejumlah aktor pertambangan lembaga publik
mengambil tindakan sepihak mengenai investasi pertambangan. Misalnya, Komisi

Mineral dapat memberikan lisensi kepada sebuah perusahaan pertambangan tanpa


mengacu pada Dinas Kehutanan, ataupun Komisi Pertanahan. Maka dari itu, dari
AMDAL diharapkan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat yang efektif dalam
menjalankan AMDAL untuk menyampaikan dampak dari aktivitas pertambangan yang
merugikan masyarakat lokal.
Analisis :
Dari laporan yang dituliskan ini, menggambarkan bagaimana Ghana mampu
bangkit dari keterpurukan yang melanda negara yang sedang berkembang ini. Penulis
mencoba menjelaskan proses pertumbuhan perekonomian di Ghana tepatnya di daerah
Tarkwa dengan dongkrakan dari potensi pertambangan yang dimiliki. Sebagai penghasil
tambang emas kedua setelah Afrika, Ghana menunjukkan eksistensinya dalam
pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu usulan yang ditebrikan oleh Bank Dunia.
Pertumbuhan ekonomi yang pesat menjadi salah satu sumber penghasilan bagi negara
berkembang seperti Ghana dan mengundang banyak invesor asing untuk dapat
bergabung dalam aktivitas pertambangan. Namun, aktivitas ini memberikan banyak
dampak hingga terjadi tumpang tindih pemegang kuasa pada perizinan. Sama halnya di
Inonesia, Ghana juga menjadi salah satu wilayah perebutan untuk aktivitas pertumbuhan
ekonomi terutama pada pertambangan, namun dampaknya juga menyebabkan
masyarakatnya miskin sama dengan kondisi di Indonesia. Dalam laporan ini dijelaskan
aktivitas yang dilakukan mengenai hal-hal yang harus dilaksanakan oleh pemerintah
terhadap perusahaan tambang yang tidak memenuhi kewajibannya namun hal itu tidak
menjadi teguran dan berlangsung tumpang tindih aturan yang merugikan masyarakat
lokal.
Ringkasan 7
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama penerbit

Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

: Philippine Environmental Impact Assessment,


Mining and Geneuine Development
: 2007
: Jurnal
: Elektronik
: Allan Ingelson, William Holden, & Meriam
Bravante
: Canada, University of London and The
International Environmental Law Research
Centre (IELRC)
: LEAD (Law, Environmental and Development
Journal)
: 5(1); 3-15
:https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&u
act=8&ved=0CGoQFjAI&url=http%3A%2F
%2Fwww.lead-journal.org%2Fcontent
%2F09001.pdf&ei=5UpJVKSkE4aR8QWTtoCgAg&us
g=AFQjCNFVC6QxcbOdO9ANLtlVdS8JEIK4A&sig2=WWm6jPJ16ct
I5j-JyYcCAA&bvm=bv.77880786,d.dGY

Tanggal diunduh

: 23 Oktober 2014

Di Filipina pembangunan sejati dikembangkan dengan konteks analisis


mengenai dampak lingkungan (AMDAL) untuk tambang. Artikel ini meneliti mengenai
proses AMDAL, undang-undang terkait serta keputusan peradilan dan administratif.
Berlakunya paradigma pembangunan ekonomi di Filipina disampaikan bahwa sistem
AMDAL menjadi dangkal dan dianggap lebih baik untuk proyek pertambangan dan
tidak mempromosikan pembangunan asli.
Republik Filipina merupakan salah satu negara berkembang yang ditandai
dengan ekonomi serta dibekali dengan mineral yang terkandung pada kawasannya.
Namun, pada awal 1990-an kemampuan industri pertambangan untuk memfasilitasi
pertumbuhan ekonomi dianggap kurang dimanfaatkan dan juga pemerintah memiliki
hutang untuk meminjam. Bank Asing Pembangunan Asia memberi masukan mengenai
kondisi investasi di Filipina dan menyuarakan liberalisasi hukum investasi untuk
pembangunan. Presiden Fidel V. Ramos kemudian mentandatangani undang-undang
pertambangan 1995, yang berisi mengenai insentif untuk mendorong pengembangan
mineral, termasuk empat tahun liburan pajak penghasilan, pajak dan peralatan modal
bebas bea impor, pembebasan pajak pertambahan nilai, pajak pendapatan pemotongan
dimana operasi posting kerugian, penyusutan dipercepat, dan jaminan hak repatriasi
seluruh keuntungan dari investasi sebagai bagian dari bebas ekspropriat. Tahun 19941996 jumlah perusahaan tambang asing di Filipina meningkat sebesar 400%. Namun,
besarnya investasi di industri pertambangan menyebabkan dampak lingkungan
termasuk satwa liar dan perikanan kehilangan habitat, perubahan kualitas air,
sedimentasi, racun dalam tailing kolam dan limbah, asam generasi hingga debu.
Pembangunan yang sejatinya berusaha untuk meningkatkan kerukunan antara
manusia dan lingkungan, dan petunjuknya pemerintah untuk menyeimbangkan
ekonomi, sosial dan tujuan lingkungan. Keberlanjutan membutuhkan perencanaan untuk
kebutuhan generasi sekarang dan masa depan serta mengoptimalkan penggunaan
sumber daya alam yang berfokus pada kualitas pertumbuhan ekonomi dan perencanaan
strategis untuk meminimalkan lingkungan degradasi dan konflik sosial. Meskipun
pemerintah Filipina telah mengindikasikan bahwa LSM memiliki komitmen untuk
melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan yang dianalisis dengan pendekatan
peraturan AMDAL yang diusulkan pada tambang. Namun proses AMDAL gagal dalam
menjalankan pembangunan dan kurangnya kolaborasi antar pihak menyebabkan
gagalnya pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan sebagai salah satu bentuk
analisis pengurangan dampak lingkungan.
Analisis :
Dari artikel ilmiah ini, digambarkan bagaimana pertambangan yang terjadi di
Filipina. Basis kolaborasi yang dicanangkan, perencanaan peraturan dengan pendekatan
AMDAL memberikan gambaran kegagalan kolaborasi yang tidak berhasil dijalankan
akibat proses pemberitahuan yang salah. Selain itu digambarkan bahwa rendahnya
partisipasi menjadi kendala sehingga dampak lingkungan yang diharapkan dapat
berkurang sebagai akibat dari aktivitas pertambangan tidak berajalan dengan baik,
sehingga dalam artikel ilmiah belum menunjukkan sebesar apa partispasi masyarakat
yang dilibatkan dalam pelaksanaan kebijakan untuk menjaga keberlangsungan
lingkungan untuk generasi mendatang.
Ringkasan 8
Judul

: Perlindungan Hukum Masyarakat Adat di Wilayah

Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama
penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

Pertambangan
: 2013
: Jurnal
: Elektronik
: Helza Nova Lita, Fatmie Utarie Nasution
: Bandung, Fakultas Hukum Universitas Padjajaran
: Lex Jurnalica
: Volume 10 Nomor , Desember 2013
:
http://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/view/367

Tanggal diunduh
: 3 Oktober 2014
Azas pemerataan merupakan salah satu landasan yang digunakan dalam
melaksanakan pembangunan nasional sebagaimana yang diatur dalam pasal 33 UUD
1945, namun pasal ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan
dengan kesejahteraan sosial. Pada Pasal 1 ayat (1) Konvensi ILO 169 mengatur bahwa
hak-hak masyarakat adat dan bangsa pribumi terhadap sumberdaya alam yang
berhubungan dengan tanah mereka, harus secara khusus dilindungi. Tujuan Hukum
Pertambangan Nasional atas dasar sumberdaya alam ialah keadilan sosial dan sebesarbesar kemakmuran rakyat.
Pengakuan dan perlindungan terhadap keberadaan masyarakat adat dalam pasal
18 B ayat 2 dan pasal 28 I ayat 3 UUD 1945 menegaskan bahwa Negara mengakui
dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dengan hak-hak
tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan prinsip negara kesatuan RI.
Terkait dengan pengelolaan tambang yang berada di wilayah masyarakat hukum adat,
memiliki pengaruh dan dampak yang luas bagi masyarakat hukum adat sendiri.
Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan kegiatan pengembangan ekonomi dan produksi
tambang, namun juga masalah-masalah sosial dan budaya, juga lingkungan tempat
tinggal masyarakat adat.
Pembangunan ekonomi memiliki 2 (dua) sisi dampak bagi masyarakat baik yang
bersifat membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maupun dampak
suram bagi sisi kehidupan masyarakat itu sendiri yakni terutama terkait dengan
lingkungan baik secara fisik maupun sosial. Diharapkan perusahaan yang melakukan
kegiatan pertambangan memiliki tanggung jawab secara sosial maupun lingkungan di
wilayah tempat usaha mereka, termasuk jika usaha tersebut dilakukan di wilayah
masyarakat hukum adat. Tanggung jawab perusahaan ini antara lain diatur dalam Pasal
74 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang perusahaan terbatas. Maka perlu
adanya pengawasan pemerintah dalam melakukan pengawasan pengelolaan tambang di
wilayahnya, termasuk peran pemerintah daerah agar pengusahaan tambang mengikuti
ketentuan yang telah ditetapkan dan menjamin keselamatan masyarakat sekitarnya
termasuk masyarakat adat.
Analisis :
Pada jurnal ini menceritakan mengenai bagaimana sebuah perusahaan tambang
yang berada di kawasan hutan adat memberikan dampak kepada hutan dan masyarakat
adat yang ada di dalamnya. Jurnal ini juga menjelaskan mengenai ketentuan yang harus
dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan tambang dengan aktivitas pertambangan pada
kawasan hutan serta berhubungan langsung dengan masyarakat adat. Tulisan yang
menjelaskan mengenai perlidungan hukum masyarakat adat di wilayah pertambangan
dikuatkan dengan peraturan-peraturan hingga aturan perundang-undangan mengenai

masyarakat adat yang berada dalam kawasan hutan dan pertambangan serta kewajiban
yang harus dipenuhi oleh perusahaan agar tidak memberikan banyak dampak negatif
bagi masyarakat namun mampu meningkatkan dan memberdayakan masyarakat adat
sesuai dengan kebiasaan dan budaya yang dianutnya.
Ringkasan 9
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama
penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) :
hal
Alamat URL

: Implementasi Kebijakan Lingkungan di Indonesia :


Hambatan dan Tuntutan
: 2004
: Jurnal
: Elektronik
: Hartuti Purnaweni
: Bandung, Universitas Padjajaran
: Dialogue JIAKP
: Vol. 1, No. 3, September 2004 : 500-512
:
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/dialogue/article/view/537

Tanggal diunduh
: 3 Oktober 2014
Pembangunan di Indonesia selama puluhan tahun sudah banyak membawa hasil
nyata dalam kemajuan kesejahteraan rakyat, mengangkat sebagian masyarakat dari
kemiskinan. Sebagian sumber daya alam yang merupakan kekayaan alam Indonesia
memang sudah banyak didayagunakan untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan.
Akibat dari pembangunan ini memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup
di Indonesia, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, yang semakin parah dan
kompleks dari hari ke hari. Sumberdaya alam dimanfaatkan dengan pengelolaan yang
tidak baik, namun diperlukan komitmen yang kuat dan bijaksana dalam hal penegakan
hukum demi kepentingan lingkungan. Kebijakan lingkungan yang diformulasikan dan
diterapkan di Indonesia seharusnya selalu bermuara pada pelestarian fungsi lingkungan,
dengan menerapkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan.
Akibat dari kegiatan pertumbuhan ekonomi mempengaruhi fungsi lingkungan
yang mempunyai fungsi penting dalam kehidupan manusia. Manusia sangat
membutuhkan lingkungan untuk keberlangsungan hidupnya, sebagai sumber kehidupan
dan pemenuhan berbagai kebutuhan dan kepentingannya. Prinsip pembangunan yang
berkelanjutan, tidak hanya generasi sekarang saja yang sangat berkepentingan dengan
lingkungan. Kerusakan lingkungan disebabkan juga kemajuan yang diperoleh sebagai
hasil pembangunan di Indonesia. Dibalik keberhasilan itu terdapat hal yang tidak atau
nyaris tidak diperhatikan dalam pembuatan dan terutama adalah dalam hal implementasi
kebijakan, yaitu kerusakan lingkungan yang merupakan dampak negatif dari kegiatan
pembangunan. Lingkungan sosial dapat dilihat dari berbagai bentuk kerusakan
lingkungan menyebabkan rakyat tidak menjadi semakin kaya, namun sebaliknya
menjadi semakin miskin. Selain itu, luas lahan tidak bertambah sedangkan jumlah
penduduk semakin meningkat. Kontribusi Dunia Usaha, sering dituding sebagai salah
satu penyebab utama pencemaran dan berbagai kerusakan lingkungan. Aktivitas
pengusaha dan kegiatan kontribusi dunia usaha berdampak besar pada lingkungan, baik
yang datang dari area domestik, maupun dari area internasional. Implementasi
Kebijakan Otonomi Daerah, kondisi yang menambah parah dengan adanya otonomi

daerah, UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomor 25 tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, berimplikasi
pada perubahan dan perkembangan hampir seluruh bidang pemerintah, kecuali bidang
politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fisikal, agama
serta kewenangan bidang lain. Implikasi Hukum Lingkungan dijelaskan dalam UU
No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup ditegaskan tentang filosofi,
paradigma dan tujuan pengelolaan lingkungan hidup yang berwawasan lingkungan dan
berkelanjutan.
Analisis :
Pada jurnal ilmiah ini, digambarkan mengenai kebijakan yang terdapat dalam
pelaksanaan pelestarian kawasan lingkungan. Dalam jurnal ini juga digambarkan
mengenai bagaimana otonomi daerah menyebabkan adanya pembagian kawasan yang
harus dipegang masing-masing pemerintahan, namun pada kawasan tertentu menjadi
suatu pegangan wajib bagi pemerintah pusat untuk memberikan izin. Berbagai
hambatan digambarkan dalam jurnal ini, namun tidak terlalu menggambarkan mengenai
tuntutan-tuntutan yang harusnya dilaksanakan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam
implementasi kebijakan lingkungan di Indonesia demi menjaga keberlangsungan masa
depan generasi mendatang, terutama mengurangi dampak aktivitas pertambangan yang
meraup banyak keuntungan bagi negara namun tidak bagi lingkungan dan masyarakat
disekitar kawasan terkena dampak. Kurangnya implemantasi dan pemberitahuan
menyebabkan kurangnya partisipasi semua golongan untuk meningkatkan pelaksanaan
kebijakan demi kepentingan bersama, demi kesejahteraan bersama.
Ringkasan 10
Judul

Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan nama penerbit
Nama jurnal
Volume (edisi) : hal
Alamat URL

: Izin Pemanfaatan Kawasan Hutan Negara


Untuk Pertambangan dalam Era Otonomi
Daerah
: 2006
: Jurnal
: Elektronik
: Josep M. Monteiro
:
: Jurnal Hukum Pro Justitia
: Oktober 2006, Volume 24, No. 4
:https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&
uact=8&ved=0CBoQFjAA&url=http%3A%2F
%2Fdownload.portalgaruda.org%2Farticle.php
%3Farticle%3D178777%26val%3D3922%26title
%3DIzin%2520Pemanfaatan%2520Hutan
%2520Negara%2520Untuk%2520Pertambangan
%2520Dalam%2520Era%2520Otonomi
%2520Daerah&ei=spFIVM3NFOS4mAW6voLwAw&u
sg=AFQjCNEAWxKKDytbUUGItS3UNMGYxuivQ&sig2=gFhD_LucGThd
0_VOw5NYyw

Tanggal diunduh
: 3 Oktober 2014
Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945 sebagai dasar konstitusional
negara telah menetapkan bahwa negara kesatuan RI dibagi atas daerah propinsi,
kabupaten dan kota yang tiap-tiap daerah tersebut mempunyai pemerintahan yang diatur

dengan undang-undang. Penyelenggaraan pemerintahan daerah didasari atas prinsip


Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan. Penyelenggaraan pemerintah
diketahui bahwa kewenangan pemberian izin tersebut dikeluarkan oleh pemerintah
pusat dan pemerintah daerah kabupaten atau kota sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum. Kewenangan pemerintah pusat menetapkan izin didasarkan pada
Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang hutan dan Undang-Undang no. 32
Tahun 2004 tentang pemerintah daerah menjadikan tumpang tindih kewenangan dalam
pemberian izin.
Prinsip desentralisasi adalah penyerahan kewenangan oleh pemerintah yang
lebih tinggi kepada suatu pemerintah yang lebih rendah berkairan dengan penyerahan
kewenangan izin, bertalian erat dengan ketiga prinsip tersebut dalam operasionalitasnya
berbaur satu dengan lainnya. Kewenangan pemberian izin dapat diperoleh secara
atribusi, delegasi dan mandat. Berbagai ketentuan dalam pelaksanaannya
menimbulkan tumpang tindih kewenangan seperti pada izin pemanfaatan kawasan hutan
negara untuk pertambangan, yang terjadi antara pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah atau kabupaten. Prinsip desentralisasi dilaksanakan secara utuh dan bulat di
daerah kabupaten atau kota, sedangkan daerah provinsi lingkup otonominya sangat
ditentukan oleh luas dan sempitnya kewenangan yang diberikan kepada daerah.
Kewenangan secara atribusi terjadi apabila UU dalam arti formil memberikan
kepada suatu badan kekuasaan sendiri dan tanggung jawab sendiri serta wewenang
untuk melaksanakan kekuasaan. Delegasi merupakan pelimpahan wewenang dari
pejabat atau badan pemerintah kepada pejabat atau badan pemerintah lainnya.
Sedangkan mandataris merupakan bentuk pelimpahan kekuasaan namun berbeda
dengan delegasi. Dengan adanya kewenangan pemerintah maka dilaksanakan dalam
bentuk perbuatan atau tindakan nyata, mengadakan pengaturan, mengeluarkan
keputusan, termasuk memberikan izin, yang pada hakikatnya izin merupakan
pembatasan usaha.
Dalam ketentuan pasal 33 UUD negara Republik Indonesia Tahun 1945
dinyatakan bahwa : cabang-cabang produksi yang penting dikuasai oleh negara dan
digunakan sepenuhnya untuk hajat hidup orang banyak, tetapi penguasaan negara atas
sumber-sumber kekayaan tersebut bukan berarti memiliki, melainkan suatu pengertian
yang mengandung arti kewajiban dan wewenang hukum publik. Pengaturan
kewenangan negara atas hutan dapat diartikan : (a) kewenangan yang bersifat publik
rechterlijk, dan bukan merupakan kepemilikan; (b) kewenangan ini lebih menunjuk
pada kedaulatan negara atas seluruh hutan di wilayah negara kesatuan Indonesia.
Kewenangan negara untuk mengatur hutan di dasarkan pada azas manfaat dan lestari,
kerakyatan, keadilan, keterbukaan, dan keterpaduan. Izin pemanfaatan kawasan hutan
negara untuk pertambangan di dalam pasal 38 ayat (3) UU No. 41 tahun 1999 tentang
kehutanan dinyatakan bahwa : pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan
pertambangan dilakukan melalui pemberian izin pinjaman kawasan oleh menteri dengan
mempertimbangkan batasan luas dan jangka waktu serta kelestarian lingkungan.
Pinjam pakai kawasan hutan (PPKH) diatur dengan keputusan Menteri Kehutanan
Nomor 55/kpts-II/1994 tentang pedoman pinjam pakai kawasan hutan.
Pengaturan kewenangan perizinan didasarkan pada pemikiran bahwa kehutanan
dan pertambangan merupakan kekayaan negara oleh karena itu negara berkewajiban dan
berwenang mengaturnya dengan melakukan koordinasi dan kolaborasi untuk mengatasi
tumpang tindih aturan.
Analisis :

Jurnal yang menjelaskan mengenai aturan yang berlaku pada aktivitas


pertambangan di kawasan hutan negara dijelaskan dengan lengkap mengenai tumpang
tindih aturan yang dipegang oleh pemerintah yang berbeda. Adanya prinsip
desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan menjadikan pemecahan penentuan
keputusan untuk mengeluarkan izin dikuasai oleh masing-masing pemerintah. Namun,
jurnal ini tidak menjelaskan mengenai dampak secara nyata yang diperoleh akibat
tumpang tindih aturan terhadap keadan sosial ekonomi masyarakat yang berada
disekitarnya. Jurnal ini juga tidak menggambarkan hukum yang menguatkan hak yang
harus dipenuhi oleh perusahaan tambang sebagai hak masyarakat yang terkena dampak
akibat aktivitas pertambangan yang berada di sekitar kawasan tempat tinggal
masyarakat dan hutan negara yang dapat diakses atau tidak. Kurangnya gambaran
mengenai kondisi sebagai dampak penetapan hukum dari pemerintah yang berbeda
menjadikan jurnal ini masih belum memberikan pemahaman mendalam mengenai
dampak yang signifikan pada kondisi sosial ekonomi sebagai penerima terbesar dari
aktivitas pertambangan yang terjadi hampir diseluruh kawasan negara.

RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN


Konsep Pertambangan
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan
dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang (UU
Minerba No. 4 Tahun 2009).
Tahapan kegiatan pertambangan yaitu (UU Minerba No. 4 tahun 2009) :
a. Penyelidikan umum, adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk
mengetahui kondisi geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
b. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usai pertambangan untuk memperoleh
informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi,
sebaran, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
c. Studi kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk
memperoleh informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk
menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk
analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pascatambang.
d. Operasi Produksi adalah kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan
dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan
hasil studi kelayakan.
e. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan
pembangunan seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian
dampak lingkungan.
f. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan
memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.

untuk

g. Pengolahan dan pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk


meningkatkan mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan
dan memperoleh mineral ikutan.

h. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan


mineral dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengolahan
dan pemurnian sampai tempat penyerahan.
i. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil
pertambangan mineral atau batubara.
j. Kegiatan pascatambang adalah kegiatan terencana, sistematis, dan berlanjut
setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk
memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut kondisi lokal
di seluruh wilayah pertambangan.
k. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha
pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas
lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai
peruntukannya.
l. Pemberdayaan masyarakat adalah usaha untuk meninggalkan kemampuan
masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik
tingkat kehidupannya.
Kebijakan Perizinan Usaha Pertambangan
Izin usaha dan atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis
untuk melakukan izin usaha dan kegiatan (UU No. 32 Tahun 2009). Perizinan usaha
pertambangan ini meliputi Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) dan Izin Usaha
Pertambangan (IUP). Dengan adanya otonomi daerah, perizinan pengelolaan
sumberdaya alam tambang saat ini berada di bawah wewenang pemerintah daerah.
Masalah Pengelolaan Tambang
Pengaruh positif kegiatan penambangan yaitu memberikan kontribusi terhadap
peningkatan pendapatan asli daerah, membuka keterisolasian wilayah, menyumbangkan
devisa negara, membuka lapangan kerja, pengadaan barang dan jasa untuk konsumsi
dan yang berhubungan dengan kegiatan produksi, serta dapat menyediakan prasarana
bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya (Mangkusubroto, 1995).
Menurut Salim (2005) dampak positif dari kegiatan pembangunan di bidang
pertambangan adalah :
1. Memberikan nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional;
2. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD);
3. Menampung tenaga kerja, terutama masyarakat lokal sekitar tambang;
4. Meningkatkan ekonomi masyarakat lokal sekitar tambang;

5. Meningkatkan usaha mikro masyarakat lokal sekitar tambang;


6. Meningkatkan kualitas SDM masyarakat lokal sekitar tambang; dan
7. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat lokal sekitar tambang.
Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak
langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui
kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (UU No. 32 Tahun 2009).
Sebagai dampak negatif dari kegiatan pertambangan dapat dilihat dari terjadinya
ancaman terhadap lingkungan fisik, biologi, sosiak budaya, ekonomi, dan warisam
nasional, ancaman terhadap ekologi dan pembangunan berkelanjutan (Marwoto, 1995).
Industri pertambangan juga berpotensi merusak lingkungan sosial, yaitu nilainilai sosial budaya lokal dan ekonomi masyarakat yang bermukim di wilayah lingkar
tambang (Mangkusubroto,1995), mempengaruhi pola kepemilikan lahan, pemanfaatan
dan penguasaan sumberdaya alam, pertumbuhan dan perkembangan fasilitas sosial yang
pada gilirannya menurunkan tingkat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat
(Djajadiningrat, 2001).
Sebagai dampak dari aktivitas pertambangan, digambarkan dalam kerangka
berikut :
Aktivitas Pertambangan

Dampak

Negatif

Positif

Sosial-Ekonomi
Lingkungan

Gambar 1. Aktivitas Pertambangan


Pertambangan Berkelanjutan
International Council on Mining and Metals (2003) telah menyusun sepuluh prinsip
pengelolaan pertambangan berkelanjutan (sustainable mining management) sebagai
berikut :
1. Mengimplementasikan dan memelihara praktik bisnis yang beretika dan tata
kelola perusahaan yang baik (implement and maintain ethical business practices
and sound system of corporation governannce);
2. Mengintegrasikan prinsip-pronsip pembangunan berkelanjutan di dalam proses
pengambilan keputusan perusahaan (integrate sustainable development
considerationsn within the corporate decision making process);
3. Menegakkan hak asasi manusia dan menghormati budaya adat istiadat dan nilainilai yang berkaitan dengan pekerja dan pihak lainnya yang bersinggungan

dengan aktifitas tambang yang dilakukan (uphold fundamental human right and
respect cultures, customs and value in dealing with employees and other who
are affected by our activities);
4. Menerapkan strategi manajemen resiko berdasarkan data yang valid dan ilmiah
(implement risk management strategies based on valid data and sound science);
5. Terus meningkatkan kinerja kesehatan dan keselamatan (seek continual
improvement of our health and safety performance);
6. Terus meningkatkan kinerja lingkungan (seek continual improvement of our
enviromental performance);
7. Berkontribusi terhadap konservasi biodiversitas dan pendekatan kegiatan yang
terpadu dengan pendekatan perencanaan tata ruang (contribute to conservasion
of biodiversity and integrated approaches to land use palnning);
8. Memfasilitasi dan mendorong desain produksi, penggunaan, penggunaan
kembali, daur ulang, dan pembuangan produk yang dihasilkan secara
bertanggung jawab (facilitate and encourage responsible product design,use, reuse recycling and disposal of our products);
9. Berkontribusi terhadap pembangunan sosial, ekonomi, dan kelembagaan
masyarakat di lokasi operasi (contribute to the social, economic and instituonal
development of the communities in which we operate);
10. Mengimplementasikan keterlibatan secara efektif dan transparan, pengaturan
dan pelaporan independen dengan para pemangku kepentingan (implement
effective and transparent engagement, communication and independently
verified reporting arragment with our stakeholder).
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan
Dalam UU No. 11 Tahun 1967 konsep penguasaannya sebagaimana diatur dalam
Pasal 1 yaitu segala bahan galian yang terhadap dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia yang merupakan endapan-endapan alam sebagai karunia Tuhan Yang Maha
Esa, adalah kekayaan Nasional Bangsa Indonesia dan karenanya dikuasai dan
dipergunakan oleh negara untuk memberikan manfaat sebesar-besar bagi kepentingan
nasional.
Dalam UU No. 11 Tahun 1967 pemanfaatan pertambangan dilakukan melalui
penguasaan seperti berikut :
1. Dikerjakan langsung oleh suatu Instansi Pemerintah, penguasaan oleh
Instansi Pemerintah itu terutama ditujukan untuk penyelidikan umum dan
eksplorasi sebagai usaha inventarisasi kekayaan alam Indonesia dan tidak
dalam arti pengusahaan untuk mencari keuntungan, karena usaha
2. pertambangan untuk mencari keuntungan tersebut seyogianya diserahkan
kepada perusahaan-perusahaan Tambang Negara atau Swasta.
3. Diusahakan oleh Perusahaan Negara;

4. Diusahakan dengan perusahaan atas dasar modal bersama oleh pihak negara
dengan Daerah;
5. Diusahakan oleh Perusahaan Daerah;
6. Diusahakan oleh perusahaan yang modalnya adalah modal campuran oleh
Negara dan Pihak Swasta, boleh pula modal campuran dengan perseorangan,
asal berkewarganegaraan Indonesia dan boleh pula dengan badan swasta
yang pengurusnya seluruhnya adalah warga negara Indonesia;
7. Diusahakan oleh Pihak Swasta boleh oleh perseorangan asal
berkewarganegaraan Indonesia, atau boleh oleh badan swasta yang
seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia, terutama yang mempunyai
bentuk koperasi.
Hukum Kehutanan di Indonesia
Pada pasal 28 (1) adalah Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan
kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan,pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu,
serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. (2) Pemanfaatan hutan produksi
dilaksanakan melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha
pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, izin
pemungutan hasil hutan kayu, dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu.
Pada pasal 40 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan mengemukakan,
rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan, dan
meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas, dan
perannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.
Pasal 41, (1) Rehabilitasi hutan dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan : (a)
reboisasi, (b) penghijauan, (c) pemeliharaan, (d) pengayaan tanaman, atau (e) penerapan
teknik konservasi tanah secara vegetatif dan sipil teknis, pada lahan kritis dan tidak
produktif. (2) Kegiatan rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di
semua hutan dan kawasan hutan kecuali cagar alam dan zona inti taman nasional.
Pasal 45 (1) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud Pasal 38 Ayat
(1) yang mengakibatkan kerusakan hutan, wajib dilakukan reklamasi dan atau
rehabilitasi sesuai dengan pola yang ditetapkan pemerintah. (2) Reklamasi pada
kawasan hutan bekas areal pertambangan, wajib dilaksanakan oleh pemegang izin
pertambangan sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan. (3) Pihak-pihak yang
menggunakan kawasan hutan untuk kepentingan di luar kegiatan kehutanan yang
mengakibatkan perubahan permukaan dan penutupan tanah, wajib membayar dana
jaminan reklamasi dan rehabilitasi.
Seperti digambarkan pada jurnal yang dituliskan oleh Ardhana, tumpang tindih
peraturan :

Menteri ESDM
UU No. 11 Tahun
1967 mengenai
Ketentuan Pokok

Menteri
Kehutanan
UU No. 41 Tahun
1999 mengenai
Tumpang
Tindih

Sinkronisasi Peraturan
8.
perundang-undangan

Dampak : Rusaknya
kawasan hutan dan
meninggalkan sisa
kubangan yang tidak
dapat dikembalikan

Gambar 2. Kerangka Hukum


Definisi Kesejahteraan
Konsep kesejahteraan merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk
mengukur keadaan seseorang pada kondisi tertentu pada wilayah tertentu. Konsep
kesejahteraan berbeda di setiap daerah, sehingga tingkat kesejahteraan di setiap daerah
dapat berbeda-beda pula, tergantung pendefinisian daerah tersebut mengenai
kesejahteraan. Namun secara umum, konsep kesejahteraan yang ideal tersebut
dikemukakan oleh BPS dikutip Bappenas (2005), bahwa indikator yang digunakan
untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ada tujuh yaitu, pendapatan, konsumsi atau
pengeluatan keluarga, fasilitas tempat tinggal, kesehatan keluarga, kemudahan
mendapatkan pelayanan kesehatan, kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi, dan
kemudahan mendapat akses pendidikan. Lebih rinci dalam BPS (2010) dijelaskan
bahwa:
1. pendapatan adalah penghasilan tetap yang diperoleh dalam satu bulan oleh
responden yang merupakan pemasukan untuk pemenuhan kebutuhan hidup
mereka. Semakin tinggi pendapatan maka semakin berkurang persentase
pengeluaran untuk makanan pokok, namun cenderung semakin tinggi
persentase pengeluaran untuk makanan/minuman jadi atau yang berprotein
tinggi. Penduduk miskin cenderung persentase pengeluaran untuk makanan
pokok masih sangat tinggi.
2. Konsumsi atau pengeluaran keluarga adalah jumlah biaya yang dikeluarkan
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengeluaran yang
menunjukkan tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat yaitu
pengeluaran yang lebih kecil dibandingkan pendapatan yang diperoleh sehingga
selisih tersebut merupakan kelebihan yang dapat disimpan sebagai tabungan.

3.

4.
5.
6.

7.

Secara nasional, modus rata-rata pengeluaran perkapita sebulan adalah pada


golongan pengeluaran Rp. 300.000Rp 499.999.
Fasilitas tempat tinggal yang dapat diukur dari luas lantai rumah,
penerangan, jenis alas/lantai rumah, kondisi MCK, kondisi bangunan, atap,
sumber air. Kondisi dan kualitas rumah yang ditempati dapat menunjukkan
keadaan sosial ekonomi rumah tangga. Semakin baik kondisi dan kualitas rumah
yang ditempati dapat menggambarkan semakin baik keadaan sosial ekonomi
(kesejahteraan) suatu rumah tangga.
Kesehatan anggota keluarga merupakan indikator kebebasan dari penyakit.
Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan
penduduk adalah dengan melihat kondisi keluhan kesehatannya.
Akses terhadap layanan kesehatan merupakan kemudahan responden dalam
menjangkau
dan memperoleh
fasilitas
untuk
kesehatan
seperti
JAMKESMAS dan lain-lain.
Akses terhadap pendidikan merupakan kemudahan responden dalam
memperoleh jenjang pendidikan yang baik dan tinggi. Ijazah/STTB tertinggi
yang dimiliki seseorang merupakan indikator pokok kualitas pendidikan
formalnya. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata
masyarakat di suatu wilayah maka semakin tinggi taraf intelektualitas di
wilayah tersebut.
Kepemilikan alat transportasi merupakan jenis alat transportasi yang dimiliki
responden untuk mempermudah akses ke berbagai tempat.

Secara umum kesejahteraan ada kaitan dengan kemiskinan. Intervensi kapitalis


ke dalam wilayah yang belum mengetahui secara jelas tentang konsep-konsep
kepemilikan lahan cenderung akan dipermainkan oleh para kapitalis, hingga
terampasnya kesejahteraan mereka. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Tauchid (2009)
yang menyatakan bahwa, arena penanaman modal selalu mencari sasaran tanah dan
memerlukan tenaga manusia yang cukup banyak dan murah, maka dicarilah tempat
yang tanahnya baik dan cukup banyak penduduknya. Alhasil di daerah-daerah tersebut
menjadi makin sempit dan rakyatnya makin terdesak. Secara serentak , kemiskinan
masih merupakan wajah pedesaan yang utama dimana dua-pertiga dari penduduk
miskin dunia merupakan kaum miskin pedesaan (Bernstein 2008). Berdasarkan
pendapat para ahli dan hasil penelitian di atas terkait kesejahteraan, maka dapat dibuat
sebuah konsep baru bahwa kesejahteraan adalah suatu konsep yang menggambarkan
kondisi seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi dan politik serta
memiliki akses pada sumberdaya agraria sesuai dengan ukuran kesejahteraan yang
ditentukan pada daerah tersebut.
Pengelolaan Tambang Terhadap Masyarakat Kawasan Tepian Hutan
Kegiatan penambangan yang telah tutup mengakibatkan perubahan mobilitas
penduduk. Bekas karyawan tambang pindah kedaerah lain dan sebagian besar pulang ke
kampung halaman. Penutupan tambang telah menimbulkan berbagai dampak yang perlu
ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan lingkungan biofisik di areal tambang
secara langsung; perlunya mengembangkan sektor-sektor primer yang bertumpu pada
potensi sumberdaya lokal agar masyarakat dapat melangsungkan kehidupannya; dan
perlunya memperbaiki dan membangun fasilitas umum di bidang sosial dan ekonomi.
Dampak perubahan iklim dapat dirasakan pada daerah penambangan, akibat
konservasi hutan menjadi pertambangan menjadikan suhu di beberapa kota daerah

pertambangan, seperti di Kalimantan berubah. Menurut Salim (2005) dampak dari


pembangunan di bidang pertambangan adalah :
1. Kehancuran lingkungan;
2. Penderitaan masyarakat adat;
3. Menurunnya kualitas hidup penduduk lokal;
4. Meningkatnya kekerasan terhadap perempuan;
5. Kehancuran ekologi pulau-pulau;
6. Terjadinya pelanggaran HAM pada kuasa pertambangan.
Industri pertambangan juga berpotensi merusak lingkungan sosial yaitu nilai-nilai
sosial budaya lokal dan ekonomi masyarakat yang bermukim di wilayah lingkar
tambang (Mangkusubroto, 1995), mempengaruhi pola kepemilikan lahan,
pemanfaatan dan penguasaan sumberdaya alam, pertumbuhan dan perkembangan
fasilitas sosial yang pada gilirannya menurunkan tingkat kehidupan sosial dan
ekonomi masyarakat (Djajadiningrat,2001).
Banyaknya persoalan kehutanan di Indonesia : Over Eksploitasi (akibat Illegal
logging, bahkan ketidakjelasan illegal-illegal dan hutan menjadi open access
resources), kebakaran hutan sehingga kehancuran hutan, disebabkan oleh berbagai
kelemahan pada berbagai pihak (stakeholder). PHBM dapat menjadi salah satu
strategi penting untuk menyelesaikan masalah-masalah kehutanan menuju
perwujudan pengelolaan hutan yang lestari.

SIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali memaksa pertumbuhan ekonomi
untuk menyeimbanginya. Pertumbuhan ekonomi yang telah dijalankan belum mampu
meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan industri sebagai salah
satu langkah peningkatan kesejahteraan suatu negara dan masyarakat telah ditempuh
sejak berakhirnya penjajahan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia tahun 1942.
Sumberdaya Indonesia yang melimpah dibandingkan dengan negara-negara asing yang
pernah menduduki kawasan Indonesia, serta sumberdaya hutan yang melimpah
mengandung berbagai sumberdaya baik yang terbarukan maupun tidak terbarukan.
Dituliskan dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa Bumi dan
air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kekayaan alam yang dimiliki
oleh Indonesia menjadi peluang besar bagi para pemangku kepentingan, diikuti dengan
berdirinya kawasan industri serta diikuti dengan semakin banyaknya kawasan
pertambangan sebagai salah satu penunjang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
wilayah. Pada undang-undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
nomor 32 tahun 2009 menyebutkan bahwa instrument ekonomi lingkungan hidup
adalah seperangkat kebijakan ekonomi untuk mendorong pemerintah, pemerintah
daerah atau setiap orang ke arah pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Dualisme aturan yang memegang kekuasaan mengenai izin pemanfaatan hutan
dan aktivitas pertambangan menjadikan tumpang tindih aturan dan sinkronisasi aturan
sehingga menjadikan aktivitas pertambangan dapat berjalan walaupun terdapat aturan
mengenai kawasan hutan yang lindungi serta pertambangan yang berada pada kawasan
pemukiman. Aktivitas pertambangan yang berada pada kawasan hutan dan sekitar
pemukiman masyarakat lokal maupun adat, telah memberikan dampak negatif, selain
mengubah struktur kehidupan masyarakat lokal tetapi juga mampu menghilangkan hak
asasi manusia untuk memanfaatkan hutan yang rusak akibat aktivitas pertambangan.
Dampak dari kegiatan pertambangan di kawasan hutan diakibatkan karena tumpang
tindih yang menyebabkan tidak adanya kordinasi antar pemerintah, selain itu adanya
penyerahan wewenang akibat otonomi daerah menggambarkan keputusan yang
dikeluarkan pemerintah daerah dan pusat untuk aktivitas pertambangan.
Sejumlah artikel, jurnal dan buku telah menggambarkan mengenai kondisi
masyarakat akibat dari aktivitas pertambangan. Masyarakat menjadi subjek dari dampak
aktivitas pertambangan. Selain itu, hutan yang banyak menjadi kawasan pertambangan
juga menjadi salah satu penerima manfaat pertumbuhan ekonomi. Desakan ekonomi
pada negara berkembang menjadikan usaha pertambangan sebagai salah satu jalan
keluar pelunasan hutang luar negeri. Banyaknya tuntutan ekonomi menjadikan
pengerukan sumberdaya mineral menjadi penghasil devisa terbesar negara namun dari
sekian banyak tulisan yang dicantumkan menggambarkan mengenai kondisi masyarakat
dan lingkungan sebagai penerima dampak terbesar terutama pada kehidupan
kesejahteraan masyarakat, karena tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap
kondisi masyarakat yang berada di sekitar tambang terutama pada tepian hutan.

Perumusan Masalah dan Pertanyaan Analisis Baru


Berdasarkan rangkuman penelitian, analisis dan rangkuman dan pembahasan
serta kesimpulan yang dibuat, maka munculah pertanyaan analisis baru yang akan
dijadikan dasar penelitian selanjutnya, pertanyaan tersebut diantaranya:
1. Bagaimana pengelolaan usaha tambang berdampak terhadap pembangunan
berkelanjutan?
2. Bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah terhadap pelaksanaan usaha tambang
pada kawasan hutan?
3. Bagaimana dampak aktivitas pertambangan terhadap tingkat kesejahteraan
masyarakat lokal?
Usulan Kerangka Analisis Baru

Keberadaan
Perusahaan
tambang

Masyarakat Tepian
Hutan

Aktivitas
Pertambangan
Eksplotasi
Eksplorasi

Dampak
Tingkat
Kesejahteraan
Masyarakat

Sosial
Ekonomi

Penguasaan
Sumberday
a Agraria

Gambar 3. Kerangka Pemikiran


Keterangan :
: Hubungan Mempengaruhi
: Fokus Penelitian
Keberadaan perusahaan tambang pada kawasan hutan menjadi salah satu isu
yang cukup menarik untuk dikaji dengan dua objek yang berbeda yakni antara aktivitas
pertambangan dengan masyarakat yang berada di tepian hutan sebagai penerima
Tingkat
dampak dari aktivitas pertambangan. Hal yang menarik dapat dilihat dari tingkat
kesejahteraan yang terbentuk pada masyarakat dan mengkaji mengenai masyarakatkesejahteraan
masyarakat
lokal atau masyarakat adat yang berada pada kawasan hutan. Selain itu, keberadaan
perusahaan tambang pada kawasan hutan juga menjadi bahan kajian setelah adanya
13. Ekonomi
1.
4.
7.
10.
2. Sosial
5.
8.
11.
14.
3. Politik
6.
9.
12.Politik
15.Politik

pertauran perundang-undangan yang melibatkan dua kementrian sebagai penghasil


devisa negara terbesar untuk kesejahteraan negara Indonesia.selain itu, hal yang
menarik diuji adalah masyarakat yang berada di tepian hutan juga sebagai penerima
dampak dari berbagai aktivitas pertambangan pada kawasan hutan yang kini marak
mengeruk kekayaan hutan demi peningkatan pertumbuhan ekonomi namun tidak
dengan kesejahteraan masyarakat penerima dampak.

DAFTAR PUSTAKA
Akabzaa, Thomas., Darimani, Abdulai. 2001. Impact of Mining Sector Invesment in
Ghana : A Study of The TarkwaMining Region. [internet]. Report (diunduh pada
tanggal 23 Oktober 2014). Dapat diunduh dari : https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CCMQFjAA&url=
http%3A%2F%2Fwww.saprin.org%2Fghana%2Fresearch
%2Fgha_mining.pdf&ei=uz1JVOOnBoXEmwWgioCIBA&usg=AFQjCNEve64llTI6n5o
fFl0l0TE5LBucVQ&sig2=lV54rcmGN63jUeJ-kkRJQg&bvm=bv.77880786,d.dGY

Ardhana, IPG. 2009. Sinkronisasi Kegiatan Pertambangan Pada Kawasan Hutan.


[jurnal]. Vol. 9, No. 2, (Augst, 2009), hlm. 288-299.
Arya Wardhana, Wisnu. 2010. Dampak Pemanasan Global. Yogyakarta : CV. ANDI
OFFSET.
DSDM Pertambangan.[]. Mengatasi Tumpang Tindih antara Lahan Pertambangan dan
Kehutanan. [internet]. Jurnal [diunduh tanggal 3 Oktober 2014]. Dapat diunduh
dari
:
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBwQFjAA&url=
http%3A%2F%2Fwww.satudunia.net%2Fsystem%2Ffiles
%2F6tambang_final.pdf&ei=InpIVNv0HoapmwWeoILgBA&usg=AFQjCNGx2ggY46y
-dLA-4XC3flhpH3AwUA&sig2=eYC_HjL-_21UfbtfiFUHJw&bvm=bv.77880786,d.dGY

Dharma Pertiwi, Hardiyanti. 2011. Dampak Keberadaan Pertambangan Batubara


Terhadap Ekologi, Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Era Otonomi Daerah.
[Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekologi Manusia.
H. Mubarok, Ahmad. Ciptomulyono, Udisubakti. 2012. Valuasi ekonomi Dampak
Lingkungan Tambang Marmer di Kabupaten Tulungagung dengan Pendekatan
Willingness to pay dan Fuzzy MCDM. [jurnal]. Vol 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN :
2301-9271.
Hakim, Ilmi. 2014.Dampak Kebijakan Pertambangan Batubara Bagi Masyarakat
bengkuring Kelurahan Sempaja Selatan Kecamatan Samarinda Utara. [internet].
Jurnal [diunduh tanggal 19 September 2014]. Hal 1731-1741. Dapat diunduh
dari :ejournal.ip.fisip-unmul.ac.id/.../jurnal%20ilmi%20fix%20(02-24-14-02-..
Harianto, Iwan. 2012. Sengketa Usaha Pertambangan di Wilayah Hutan Elang Dodo
Kabupaten Sumbawa. [internet]. Jurnal (diunduh pada tanggal 13 Oktober
2014). Dapat diunduh dari : download.portalgaruda.org/article.php?
article=13994&val=944
Ingelson, Allan., Holden William., Bravante, Meriam. 2007. Philippine Environmental
Impact Assessment, Minning and Geneuine Development. [internet]. Jurnal
(diunduh pada tanggal 23 Oktober 2014). 5(1); 3-15. Dapat diunduh dari :
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&cad=rja&uact=8&ved=0CGoQFjAI&url=
http%3A%2F%2Fwww.lead-journal.org%2Fcontent
%2F09001.pdf&ei=5UpJVKSkE4aR8QWTtoCgAg&usg=AFQjCNFVC6QxcbOdO9ANLtlVdS8JEIK4A&sig2=WWm6jPJ16ctI5jJyYcCAA&bvm=bv.77880786,d.dGY

Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. 2014. Perkembangan izin Pinjam Pakai


Kawasan Hutan Untuk Pertambangan (Mei 2014). (Diunduh pada tanggal 16
September
2014
melalui
:
http://www.dephut.go.id/uploads/files/54daa663b0a7332b6622624c49
710a95.pdf ).

M. monteiro, Josep. 2006. Izin Pemanfaatan Kawasan Hutan Negara Untuk Pertambangan

dalam Era Otonomi Daerah. [internet]. Jurnal (diunduh pada tanggal 3 Oktober
2014). 24 (4) : -. Dapat diunduh dari : https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBoQFjAA&url=
http%3A%2F%2Fdownload.portalgaruda.org%2Farticle.php%3Farticle
%3D178777%26val%3D3922%26title%3DIzin%2520Pemanfaatan%2520Hutan
%2520Negara%2520Untuk%2520Pertambangan%2520Dalam%2520Era
%2520Otonomi
%2520Daerah&ei=spFIVM3NFOS4mAW6voLwAw&usg=AFQjCNEAWxKKDytbUUGItS3UNMGYxuivQ&sig2=gFhD_LucGThd0_VOw5NYyw

Muis Yusuf, Abdul.,Taufik Makarao, Mohammad. 2011. Hukum Kehutanan di


Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Nova Lita, Helza., Utarie Nasution, Fatmie. 2013. Perlindungan Hukum Masyarakat Adat di
Wilayah Pertambangan. [internet]. Jurnal (diunduh pada tanggal 3 Oktober
2014).
10
(-):-.
Dapat
diunduh
dari
:
http://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Lex/article/view/367
Purnaweni, Hartuti.2004. Implementasi Kebijakan Lingkungan di Indonesia : Hambatan

dan Tuntutan. [internet]. Jurnal (diunduh pada tanggal 3 Oktober 2014). 1 (3) :
500-512.
Dapat
diunduh
dari
:
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/dialogue/article/view/537

Redi, Ahmad. 2014. Hukum Pertambangan. Jakarta : Gramata Publishing.


Suharjito, Didik. 2005. Pengembangan Kapasitas Masyarakat Lokal dam Stakeholder
lain dalam Pembangunan Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. [prosiding].
Bogor : Badan Eksekutif Kemahasiswaan Fakultas Kehutanan.
WWF Indonesia (org). Peluncuran Program MyBabyTree di Cisarua, Bogor.
(Diunduh
pada
tanggal
16
September
2014
melalui
:
http://www.wwf.or.id/cara_anda_membantu/bertindak_sekarang_juga/
mybabytree/ ).

Zulkifli,Arif. 2014. Pengelolaan Tambang Berkelanjutan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

LAMPIRAN
Riwayat Hidup
Nurlaila dilahirkan di Maros pada tanggal 07 April 1993, dari pasangan
Syarifuddin dan Nur Asia Rauf. Penulis tumbuh dan berkembang di Maros. Pendidikan
formal yang pernah dijalaninya dimulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) Pertiwi di
Maros. SDN 1 unggulan Maros, SMP Negeri 2 Unggulan Maros pada tahun 2005, SMA
Negeri 1 Maros pada tahun 2008, dan pada tahun 2011 penulis diterima di Institut
Pertanian Bogor (IPB) Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
(SKPM) melalui jalur SNMPTN Undangan. Selain Aktif dalam perkuliahan di Tingkat
Persiapan Bersama (TPB), penulis juga aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa dan
organisasi di IPB. Organisasi yang diikuti oleh penulis adalah organisasi mahasiswa
daerah (OMDA) Sulawesi. Selain organisasi, penulis juga mengikuti organisasi yaitu
Himpunan Profesi (HIMPRO) Departemen SKPM bernama Himasiera (Himpunan
Mahasiswa Peminat Ilmu-Ilmu komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) pada divisi
Jurnalistik periode 2012-2014. Hingga kini penulis masih menjadi mahasiswa aktif di
IPB.