Anda di halaman 1dari 22

PAPER NEUROLOGI

BELLS PALSY
Disusun Oleh:
Nur Azimah Bt Nor Mohhemmad
110100416

Pembimbing:
dr. Fasihah Irfani Fitri, M.Ked(Neu) , Sp.S

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


DEPARTEMEN NEUROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan
judul BELLS PALSY.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dokter
pembimbing, dr. Fasihah Irfani Fitri, M.Ked(Neu)Sp.S yang telah meluangkan
waktunya dan memberikan masukan dan bimbingan dalam penyusunan paper ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan paper ini masih jauh dari
kesempurnaan, baik isi maupun susunan bahasanya, untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sebagai masukan dalam penulisan
paper selanjutnya. Semoga paper ini bermanfaat, akhir kata penulis mengucapkan
terima kasih.

Medan, 02 oktober 2016

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1

Latar Belakang.......................................................................... 1

1.2 Tujuan....................................................................................... 2
1.3

Manfaat..................................................................................... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA................................................................... 3


2.1. Definisi..................................................................................... 3
2.2. Etiologi..................................................................................... 3
2.3. Anatomi.................................................................................... 4
2.4. Patofisiologi.............................................................................. 5
2.5. Patologi..................................................................................... 6
2.6. Manifestasi Klinis..................................................................... 6
2.7. Diagnosis.................................................................................. 8
2.8. Penatalaksanaan........................................................................ 9
2.9. Pemeriksaan Fisik..................................................................... 11
2.10. Pemeriksaan Penunjang............................................................ 12
2.11. Komplikasi................................................................................ 13
2.12. Tatalaksana..13
2.13. Prognosis.16
BAB 3 KESIMPULAN................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 19

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Bells palsy merupakan suatu sindrom kelemahan wajah dengan tipe lower

motor neuron yang disebabkan oleh keterlibatan saraf fasialis perifer yang bersifat
unilateral di luar sistem saraf pusat, idiopatik, akut dan tidak disertai oleh
gangguan pendengaran, kelainan neurologi lainnya atau kelainan lokal.
Insidensi sindrom ini sekitar 23 kasus per 100 000 orang setiap tahun dan
meningkat sesuai pertambahan umur. Insiden meningkat pada penderita diabetes
dan wanita hamil. Sekitar 8-10% kasus berhubungan dengan riwayat keluarga
pernah menderita penyakit ini.
Kelumpuhan saraf facialis akan menimbulkan kelainan bentuk wajah yang
menyebabkan penderita sangat terganggu, terutama pada waktu mengekspresikan
emosinya. Keadaan ini selain menimbulkan perasaan rendah diri, juga
mengganggu kosmetik. Walaupun syaraf facialis mudah terkena trauma, tetapi
dilain pihak merupakan syaraf yang mempunyai kemampuan regenerasi yang
cukup besar
Berbagai teori mencoba menerangkan abnormalitas yang terjadi, salah
satunya adalah keterlibatan virus Herpes Simplex tipe 1. Kontroversi dalam tata
laksana masih diperdebatkan, walaupun hampir sebagian besar kasus (85%)
sembuh sempurna dalam 1-2 bulan dan rekurensi terjadi pada 8% kasus.
Dokter di pelayanan primer diharapkan dapat menegakkan diagnosis Bells
palsy serta mengobati dengan tepat tanpa melupakan diagnosis banding yang
mungkin didapatkan.

1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menguraikan teori-teori

mengenai neuralgia trigeminal, dimulai dari pembahasan definisi, etiologi,


diagnosis, penatalaksanaan, dan pencegahannya. Penyusunan makalah ini
sekaligus untuk memenuhi persyaratan kegiatan Program Pendidikan Profesi
Dokter (P3D) di Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
1.3.

Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan penulis

maupun pembaca khususnya peserta P3D untuk lebih memahami tentang berbagai
penyakit neurologi yang umum terjadi, dan mampu melaksanakan diagnosis dan
pengobatan yang tepat terhadap penyakit tersebut sesuai dengan standar
kompetensi dokter Indonesia.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Definisi
Bells palsy atau prosoplegia adalah kelumpuhan fasialis tipe lower motor
neuron akibat paralisis nervus fasial perifer yang terjadi secara akut dan
penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat tanpa disertai
adanya penyakit neurologis lainnya.
Bells palsy adalah kelumpuhan wajah sebelah yang timbul mendadak akibat lesi
saraf fasialis, dan mengakibatkan distorsi wajah yang khas. Dengan kata lain
bells palsy merupakan suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan
kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot di satu sisi wajah.
2.2.Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui, umumnya dianggap akibat infeksi semacam
virus herpes simpleks. Virus tersebut dapat dormant (tidur) selama beberapa
tahun, dan akan aktif jika yang bersangkutan terkena stres fisik ataupun
psikik.Sekalipun demikian Bell's palsy tidak menular.
Bell's palsy disebabkan oleh pembengkakan nervus facialis sesisi,
akibatnya pasokan darah ke saraf tersebut terhenti, menyebabkan kematian sel
sehingga fungsi menghantar impuls atau rangsangnya terganggu, akibatnya
perintah otak untuk menggerakkan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan.
2.3 Anatomi
Saraf fasialis atau saraf kranialis ketujuh mempunyai komponen motorik
yang mempersarafi semua otot ekspresi wajah pada salah satu sisi, komponen
sensorik kecil (nervus intermedius Wrisberg) yang menerima sensasi rasa dari 2/3
depan lidah, dan komponen otonom yang merupakan cabang sekretomotor yang
mempersarafi glandula lakrimalis. Saraf fasialis keluar dari otak di sudut
serebello-pontin memasuki meatus akustikus internus. Saraf selanjutnya berada di
3

dalam kanalis fasialis memberikan cabang untuk ganglion pterygopalatina


sedangkan cabang kecilnya ke muskulus stapedius dan bergabung dengan korda
timpani. Pada bagian awal dari kanalis fasialis, segmen labirin merupakan bagian
yang tersempit yang dilewati saraf fasialis; foramen meatal pada segmen ini hanya
memiliki diameter sebesar 0,66 mm. Saraf fasialis (N.VII) mengandung sekitar
10.000 serabut saraf yang terdiri dari 7.000 serabut saraf motorik untuk otot-otot
wajah dan 3.000 serabut saraf lainnya membentuk saraf intermedius (Nerve of
Wrisberg) yang berisikan serabut sensorik untuk pengecapan 2/3 anterior lidah
dan serabut parasimpatik untuk kelenjar parotis, submandibula, sublingual dan
lakrimal. Saraf fasialis terdiri dari 7 segmen yaitu :
1. Segmen supranuklear
2. Segmen batang otak
3. Segmen meatal
4. Segmen labirin
5. Segmen timpani
6. Segmen mastoid
7. Segmen ekstra temporal

(sumber:

Ropper, Allan H. Robert H Brown.

2005. Adams and Victors

Principles of Neurology 8th edition. United States of America : The McGraw-Hill


Companies )

2.4. Patofisiologi
Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bells
palsy, yaitu iskemik vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Teori virus
lebih banyak dibahas sebagai etiologi penyakit ini.
1. Teori iskemik vaskuler
Teori ini sangat popular, dan banyak yang menerimanya sebagai penyebab dari
bells palsy. Menurut teori ini terjadi gangguan regulasi sirkulasi darah ke N. VII.
Terjadi vasokontriksi arteriole yang melayani N. VII sehingga terjadi iskemik,
kemudian diikuti oleh dilatasi kapiler dan permeabilitas kapiler yang meningkat,
dengan akibat terjadi transudasi. Cairan transudat yang keluar akan menekan
dinding kapiler limfe sehingga menutup. Selanjutnya akan menyebabkan keluar
cairan lagi dan akan lebih menekan kapiler dan vena dalam kanalis fasialis
sehingga terjadi iskemik. Dengan demikian akan terjadi keadaan circulus vitiosus.
Pada kasus-kasus berat, hal ini dapat menyebabkan saraf mengalami nekrosis dan
kontinuitas yang terputus.
2.

Teori infeksi virus

Menurut teori ini bells palsy disebabkan oleh virus, dengan bukti secara tidak
langsung adanya riwayat penyakit virus yang terjadi sebelum bells palsy. Juga
dikatakan perjalanan klinis BP sangat menyerupai viral neuropathy pada saraf
perifer lainnya. Walaupun etiologi dari Bells palsy tidak diketahui, penyakit ini
dipercaya disebabkan oleh infeksi virus yang melibatkan ganglion genikulatum.
Adalah mungkin bahwa beberapa kasus bells palsy disebabkan oleh infeksi
herpes simpleks yang laten.
Walaupun penyebab virus dicurigai, ternyata beberapa studi prospektif
untuk membuktikan peranan infeksi virus sebagai seriologi bells palsy adalah
negative, berarti tidak dapat mendukung teori infeksi virus.

3.

Teori herediter
Willbrand, 1974, mendapatkan 6% penderita bells palsy yang kausanya

herediter yaitu autosomal dominan. Ini mungkin karena kanalis falopii yang
sempit pada keturunan atau keluarga tersebut sehingga menyebabkan predisposisi
untuk terjadinya paresis fasialis.
4.

Teori imunologi
Dikatakan bahwa BP terjadi akibat reaksi imunologi terhadap infeksi virus

yang timbul sebelumnya atau setelah pemberian imunisasi. Berdasarkan teori ini
maka penderita bells palsy diberikan pengobatan kortikosteroid dengan tujuan
untuk mengurangi inflamasi dan edema di dalam kanalis fasialis falopii dan juga
sebagai immunosupressor .
2.5. Patologi
Menurut Dachlan (2001) patologi berarti ilmu tentang penyakit,
menyangkut penyebab dan sifat penyakit tersebut. Patologi yang akan dibicarakan
adalah mengenai pengaruh udara dingin yang menyebabkan bells palsy. Udara
dingin menyebabkan lapisan endothelium dari pembuluh darah leher atau telinga
rusak,

sehingga

terjadi

proses

transfusi

dan

mengakibatkan

foramen

stilomastoideus membengkak, nervus fasialis yang melewati daerah tersebut


terjepit sehingga rangsangan yang dihantarkan terhambat yang menyebabkan otototot wajah mengalami kelemahan atau kelumpuhan.
2.6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis motorik yang dijumpai pada pasien Bells palsy yaitu
adanya kelemahan otot pada satu sisi wajah yang dapat dilihat saat pasien
kesulitan melakukan gerakan volunter seperti (saat gerakan aktif maupun pasif)
tidak dapat mengangkat alis dan menutup mata, sudut mulut tertarik ke sisi wajah
yang sehat (mulut mencong), sulit mencucu atau bersiul, sulit mengembangkan
cuping hidung, dan otot-otot yang terkena yaitu m. frontalis, m.orbicularis oculi,
m. orbicularis oris, m. zigomaticus dan m. nasalis. Selain tanda-tanda motorik,
6

terjadi gangguan pengecap rasa manis, asam dan asin pada 2/3 lidah bagian
anterior, sebagian pasien mengalami mati rasa atau merasakan tebal di wajahnya.
Tanda dan gejala klinis pada Bells Palsy menurut Chasid (1990) dan Djamil
(2000) adalah:
a)

Lesi di luar foramen stilomastoideus, muncul tanda dan gejala sebagai

berikut : mulut tertarik ke sisi mulut yang sehat, makanan terkumpul di antara gigi
dan gusi, sensasi dalam pada wajah menghilang, tidak ada lipatan dahi dan apabila
mata pada sisi lesi tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar
terus menerus.
b)

Lesi di canalis fasialis dan mengenai nervus korda timpani. Tanda dan gejala

sama seperti penjelasan di atas, ditambah dengan hilangnya ketajaman


pengecapan lidah 2/3 bagian anterior dan salivasi di sisi lesi berkurang. Hilangnya
daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius,
sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik dimana korda timpani
bergabung dengan nervus facialis di canalis facialis.
c)

Lesi yang tinggi dalam canalis fasialis dan mengenai muskulus stapedius.

Tanda dan gejala seperti penjelasan pada kedua poin di atas, ditambah dengan
adanya hiperakusis (pendengaran yang sangat tajam).
d)

Lesi yang mengenai ganglion genikuli. Tanda dan gejala seperti penjelasan

ketiga poin diatas disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga dan
di belakang telinga.
e)

Lesi di meatus austikus internus. Tanda dan gejala sama seperti kerusakan

pada ganglion genikulatum, hanya saja disertai dengan timbulnya tuli sebagai
akibat terlibatnya nervus vestibulocochlearis.
f)

Lesi di tempat keluarnya nervus facialis dari pons. Tanda dan gejala sama

seperti di atas disertai tanda dan gejala terlibatnya nervus trigeminus, nervus
abducens, nervus vestibulocochlearis, nervus accessories dan nervus hypoglossus.

2.7. Diagnosis
Dalam mendiagnosis kelumpuhan saraf fasialis, harus dibedakan
kelumpuhan sentral atau perifer. Kelumpuhan sentral terjadi hanya pada bagian
bawah wajah saja, otot dahi masih dapat berkontraksi karena otot dahi dipersarafi
oleh korteks sisi ipsi dan kontra lateral sedangkan kelumpuhan perifer terjadi pada
satu sisi wajah. Untuk menegakan diagnosis Bell Palsy harus ditetapkan dulu
adanya paralisis fasialis tipe perifer. Untuk membuat diagnosis diperlukan
beberapa pemeriksaan.
a.Pemeriksaan telinga dan audiometri, ini untuk menyingkirkan adanya infeksi
telinga tengah dan kolestoma.
b.Pemeriksaan neurologi dan nervi kraniales. Ini untuk mencari adanya Ca
nasopharing atau tumor pada sudut serebelo pontin.
c.Pemeriksaan radiologi pada os temporal dan mastoid untuk mencari adanya
mastoiditis dan fraktur os temporal.

Derajat kelumpuhan saraf fasialis dapat dinilai secara subjektif dengan


menggunakan sistem House-Brackmann (HBS), metode Freyss atau Yanagihara
grading system (Y-system). Disamping itu juga dapat dilakukan tes topografi
untuk menentukan letak lesi saraf fasialis dengan tes Schirmer, reflek stapedius
dan tes gustometri.
Grade
HBS
Normal, fungsi pada semua area simetris
I
Sedikit kelemahan pada inspeksi mata, bisa menutup mata dengan II

Y-system
40
32-38

penuh dengan sedikit usaha, sedikit asimetris pada senyuman dengan


usaha maksimal, sedikit sinkinesis, tidak ada kontraktur atau spasme
Kelemahan yang jelas namun tidak merubah penampakan wajah III

24-30

secara statis, tidak mampu mengangkat alis, penutupan mata yang


penuh dan kuat, gerakan mulut yang tidak simetris pada usaha
maksimal, selain itu terdapat sinkinesis, mass movement atau spasme
(walaupun tidak terlihat saat statis/ menyebabkan disfigurasi)
Kelemahan yang jelas dan menyebabkan disfigurasi, ketidakmampuan IV

16-22

menggangkat alis, penutupan mata yang tidak penuh dan asimetri


mulut dengan usaha maksimal, sinkinesis yang parah, mass movement,
dan spasme
Hanya sedikit gerakan yang mampu dilakukan, penutupan mata yang V

8-14

tidak penuh, sedikit gerakan pada ujung mulut, sinkinesis, kontraktur,


namun spasme umumnya tidak didapati.
Tidak ada gerakan, tidak ada sinkinesis, kontraktur, maupun spasme

VI

0-6

(Sumber : http://www.springerimages.com/Images/MedicineAndPublicHealth/110.1007_s00405-008-0646-4-3)
House-Brackmann Scale

(Sumber : http://www.utmb.edu/otoref/grnds/Bells-palsy-2012-10/facial-paral2012-10.docx)

2.8. Pemeriksaan Fisik


Paralisis fasialis mudah didiagnosis dengan pemeriksaan fisik yang
lengkap untuk menyingkirkan kelainan sepanjang perjalanan saraf dan

10

kemungkinan penyebab lain. Adapun pemeriksaan yang dilakukan adalah


pemeriksaan gerakan dan ekspresi wajah. Pemeriksaan ini akan menemukan
kelemahan pada seluruh wajah sisi yang terkena. Kemudian, pasien diminta
menutup mata dan mata pasien pada sisi yang terkena memutar ke atas. Bila
terdapat hiperakusis, saat stetoskop diletakkan pada telinga pasien maka suara
akan terdengar lebih jelas pada sisi cabang muskulus stapedius yang paralisis.
Tanda klinis yang membedakan Bells palsy dengan stroke atau kelainan yang
bersifat sentral lainnya adalah tidak terdapatnya kelainan pemeriksaan saraf
kranialis lain, motorik dan sensorik ekstremitas dalam batas normal, dan pasien
tidak mampu mengangkat alis dan dahi pada sisi yang lumpuh.
2.10. Pemeriksaan Penunjang
Bells palsy merupakan diagnosis klinis sehingga pemeriksaan penunjang
perlu dilakukan untuk menyingkirkan etiologi sekunder dari paralisis saraf
kranialis. Pemeriksaan radiologis dengan CT-scan atau radiografi polos dapat
dilakukan untuk menyingkirkan fraktur, metastasis tulang, dan keterlibatan sistem
saraf pusat (SSP). Pemeriksaan MRI dilakukan pada pasien yang dicurigai
neoplasma di tulang temporal, otak, glandula parotis, atau untuk mengevaluasi
sklerosis multipel. Selain itu, MRI dapat memvisualisasi perjalanan dan
penyengatan kontras saraf fasialis. Pemeriksaan neurofisiologi pada Bells palsy
sudah dikenal sejak tahun 1970 sebagai prediktor kesembuhan, bahkan dahulu
sebagai acuan pada penentuan kandidat tindakan dekompresi intrakanikular.10,11
Grosheva et al melaporkan pemeriksaan elektromiografi (EMG) mempunyai nilai
prognostik yang lebih baik dibandingkan elektroneurografi (ENG). Pemeriksaan
serial EMG pada penelitian tersebut setelah hari ke-15 mempunyai positivepredictivevalue (PPV) 100% dan negative-predictive-value (NPV) 96%. Spektrum
abnormalitas yang didapatkan berupa penurunan amplitudo Compound Motor
Action Potential (CMAP), pemanjangan latensi saraf fasialis, serta pada
pemeriksaan blink reflex didapatkan pemanjangan gelombang R1 ipsilateral. 11
Pemeriksaan blink reflex ini sangat bermanfaat karena 96% kasus didapatkan

11

abnormalitas hingga minggu kelima, meski demikian sensitivitas pemeriksaan ini


rendah. Abnormalitas gelombang R2 hanya ditemukan pada 15,6% kasus.
2.11. Komplikasi
Sekitar 5% pasien setelah menderita Bells palsy mengalami sekuele berat
yang tidak dapat diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bells
palsy :
(1) Regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan
paresis seluruh atau beberapa muskulus fasialis.
(2) Regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan
pengecapan), ageusia (hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau
sensasi yang tidak sama dengan stimuli normal).
(3) Reinervasi yang salah dari saraf fasialis. Reinervasi yang salah dari saraf
fasialis dapat menyebabkan :
a. Sinkinesis yaitu gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter,
contohnya timbul gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi
platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan mata.
b. Crocodile tear phenomenon, yang timbul beberapa bulan setelah
paresis akibat regenerasi yang salah dari serabut otonom, contohnya air
mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan.
c. Clonic facial spasm (hemifacial spasm), yaitu timbul kedutan secara
tiba-tiba (shock-like) pada wajah yang dapat terjadi pada satu sisi wajah
saja pada stadium awal, kemudian mengenai sisi lainnya (lesi bilateral
tidak terjadi bersamaan).

2.12. Tatalaksana
Algoritma Tatalaksana Bells Palsy (Brackmann 2010)

12

Terapi Non-farmakologis
Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing.
Proteksinya dapat dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears),
pelumas (saat tidur), kaca mata, plester mata, penjahitan kelopak mata atas, atau
tarsorafi lateral (penjahitan bagian lateral kelopak mata atas dan bawah).
Masase dari otot yang lemah dapat dikerjakan secara halus dengan
mengangkat wajah ke atas dan membuat gerakan melingkar. Tidak terdapat bukti
adanya efektivitas dekompresi melalui pembedahan saraf fasialis, namun tindakan
ini kadang dilakukan pada kasus yang berat dalam 14 hari onset.
Rehabilitasi fasial secara komprehensif yang dilakukan dalam empat bulan
setelah onset terbukti memperbaiki fungsi pasien dengan paralisis fasialis.
Namun, diketahui pula bahwa 95% pasien sembuh dengan pengobatan prednisone
dan valasiklovir tanpa terapi fisik.13 Rehabilitasi fasial meliputi edukasi,
pelatihan neuro-muskular, masase, meditasirelaksasi, dan program pelatihan di
rumah.
13

Terdapat empat kategori terapi yang dirancang sesuai dengan keparahan


penyakit, yaitu kategori inisiasi, fasilitasi, kontrol gerakan, dan relaksasi.
A. Kategori inisiasi ditujukan pada pasien dengan asimetri wajah sedangberat saat istirahat dan tidak dapat memulai gerakan pada sisi yang
lumpuh. Strategi yang digunakan berupa masase superfisial disertai latihan
gerak yang dibantu secara aktif sebanyak 10 kali yang dilakukan 1-2 set
per hari dan menghindari gerakan wajah berlebih.
B. Kategori fasilitasi ditujukan pada pasien dengan asimetri wajah ringansedang saat istirahat, mampu menginisiasi sedikit gerakan dan tidak
terdapat sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi jaringan
lunak otot wajah yang lebih agresif dan reedukasi neuromuscular di depan
kaca (feedback visual) dengan melakukan gerakan ekspresi wajah yang
lambat, terkontrol, dan bertahap untuk membentuk gerakan wajah yang
simetris. Latihan ini dilakukan sebanyak minimal 20-40 kali dengan 2-4
set per hari.
C. Kategori kontrol gerakan yang ditujukan pada pasien dengan simetri wajah
ringan-sedang saat istirahat, masih mampu menginisiasi sedikit gerakan,
dan terdapat sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi
jaringan lunak dalam otot wajah dengan agresif, reedukasi neuromuskular
di depan kaca seperti kategori fasilitasi, namun secara simultan
mengontrol gerakan sinkinesis pada bagian wajah lainnya, dan disertai
inisiasi strategi meditasi-relaksasi.
D. Kategori relaksasi yang ditujukan pada pasien dengan kekencangan
seluruh wajah yang parah karena sinkinesis dan hipertonisitas. Strategi
yang digunakan berupa mobilisasi jaringan lunak dalam otot wajah dengan
agresif, reedukasi neuromuskular di depan kaca, dan fokus pada strategi
meditasi-relaksasi yaitu meditasi dengan gambar visual atau audio
difokuskan untuk melepaskan ketegangan pada otot yang sinkinesis.
Latihan ini cukup dilakukan 1-2 kali per hari. Bila setelah menjalani 16
minggu latihan otot tidak mengalami perbaikan, pasien dengan asimetri
dan sinkinesis perlu dipertimbangkan untuk menjalani kemodenervasi
untuk memperbaiki kualitas hidupnya, baik gerakan, fungsi sosial, dan

14

ekspresi emosi wajah. Pada keadaan demikian perlu dikonsultasikan ke


bagian kulit atau bedah plastik. Konsultasi ke bagian lain, seperti Telinga
Hidung Tenggorok dan kardiologi perlu dipertimbangkan apabila terdapat
kelainan pemeriksaan aufoskop atau pembengkakan glandula parotis dan
hipertensi secara berurutan pada pasien.
Terapi Farmakologis
Inflamasi dan edema saraf fasialis merupakan penyebab paling mungkin
dalam patogenesis Bells palsy. Penggunaan steroid dapat mengurangi
kemungkinan paralisis permanen dari pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis
yang sempit. Steroid, terutama prednisolon yang dimulai dalam 72 jam dari onset,
harus dipertimbangkan untuk optimalisasi hasil pengobatan. Dosis pemberian
prednison (maksimal 40-60 mg/hari) dan prednisolon (maksimal 70 mg) adalah 1
mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti empat hari tappering off.
Efek toksik dan hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid
jangka panjang (lebih dari 2 minggu) berupa retensi cairan, hipertensi, diabetes,
ulkus peptikum, osteoporosis, supresi kekebalan tubuh (rentan terhadap infeksi),
dan Cushing syndrome.
Ditemukannya genom virus di sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat
antivirus digunakan dalam penanganan Bells palsy. Namun, beberapa percobaan
kecil menunjukkan bahwa penggunaan asiklovir tunggal tidak lebih efektif
dibandingkan kortikosteroid. Penelitian retrospektif Hato et al mengindikasikan
bahwa hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang diterapi dengan
asiklovir/valasiklovir dan prednisolon dibandingkan yang hanya diterapi dengan
prednisolon. Axelsson et al juga menemukan bahwa terapi dengan valasiklovir
dan prednison memiliki hasil yang lebih baik. deAlmeida et al menemukan bahwa
kombinasi antivirus dankortikosteroid berhubungan dengan penurunan risiko
batas signifikan yang lebih besar dibandingkan kortikosteroid saja.
Data-data ini mendukung kombinasi terapi antiviral dan steroid pada 4872 jam pertama setelah onset. Namun, hasil analisis Cochrane 2009 pada 1987
pasien dan Quant et al22 dengan 1145 pasien menunjukkan tidak adanya

15

keuntungan signifikan penggunaan antiviral dibandingkan plasebo dalam hal


angka penyembuhan inkomplit dan tidak adanya keuntungan yang lebih baik
dengan

penggunaan

kortikosteroid

ditambah

antivirus

dibandingkan

kortikosteroid saja. Studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keuntungan


penggunaan terapi kombinasi.
Dosis pemberian asiklovir untuk usia >2 tahun adalah 80 mg per kg per
hari melalui oral dibagi dalam empat kali pemberian selama 10 hari. Sementara
untuk dewasa diberikan dengan dosis oral 2000-4000 mg per hari yang dibagi
dalam lima kali pemberian selama 7-10 hari. Sedangkan dosis pemberian
valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih tinggi) untuk dewasa adalah 10003000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali selama lima hari. Efek samping
jarang ditemukan pada penggunaan preparat antivirus, namun kadang dapat
ditemukan keluhan berupa adalah mual, diare, dan sakit kepala.
2.13. Prognosis
Perjalanan alamiah Bells palsy bervariasi dari perbaikan komplit dini
sampai cedera saraf substansial dengan sekuele permanen. Sekitar 80-90% pasien
dengan Bells palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus
membaik dalam 3 minggu.11 Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis
persisten, dan 5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren.
Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit (risiko
sekuele berat), riwayat rekurensi, diabetes, adanya nyeri hebat post-aurikular,
gangguan pengecapan, refleks stapedius, wanita hamil dengan Bells palsy, bukti
denervasi mulai setelah 10 hari (penyembuhan lambat), dan kasus dengan
penyengatan kontras yang jelas.
Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial
inkomplit pada fase akut (penyembuhan total), pemberian kortikosteroid dini,
penyembuhan awal dan/atau perbaikan fungsi pengecapan dalam minggu pertama.

16

Kimura et al menggunakan blink reflex sebagai prediktor kesembuhan


yang dilakukan dalam 14 hari onset, gelombang R1 yang kembali terlihat pada
minggu kedua menandakan prognosis perbaikan klinis yang positif. Selain
menggunakan pemeriksaan neurofisiologi untuk menentukan prognosis, HouseBrackmann Facial Nerve Grading System dapat digunakan untuk mengukur
keparahan dari suatu serangan dan menentukan prognosis pasien Bells palsy.

BAB 3
KESIMPULAN

17

3.1.

Kesimpulan
Pasien Bells palsy pada awalnya merasakan ada kelainan pada mulut yang

tampak mencong ke satu sisi, salah satu kelopak mata tidak dapat dipejamkan,
mulut tidak dapat mencucu, apabila berkumur atau minum maka air akan tumpah
melalui salah satu sisi mulut yang lesi. Keadaan tersebut disebabkan adanya
paralisis otot- otot wajah pada sisi yang sakit.
Electrical Stimulation arus Faradik yang diberikan dapat menimbulkan
kontraksi otot dan membantu memperbaiki perasaan gerak sehingga diperoleh
gerak yang normal serta bertujuan untuk mencegah/ memperlambat terjadinya
atrofi otot. Pada kasus Bells Palsy ini rangsangan gerak dari otak tidak dapat
disampaikan kepada otot-otot wajah yang disyarafi. Akibatnya kontraksi otot
secara volunter hilang sehingga diperlukan bantuan dari rangsangan arus faradik
untuk menimbulkan kontraksi otot.Rangsangan arus faradik yang dilakukan
berulang- ulang dapat melatih kembali otot- otot yang lemah untuk melakukan
gerakan sehingga dapat meningkatkan kemampuan kontraksi otot sesuai
fungsinya.
Massage diberikan dengan tujuan memberikan penguluran pada otot-otot wajah
yang letaknya superfisial sehingga perlengketan jaringan dapat dicegah, selain itu
memberikan efek rileksasi dan mengurangi rasa kaku pada wajah. Stroking
memiliki efek penenangan dan dapat mengurangi nyeri, Efflurage dapat
membantu pertukaran zat-zat dan melancarkan metabolisme dengan mempercepat
peredaran darah, Finger Kneading berfungsi untuk memperbaiki peredaran darah
dan memelihara tonus otot. Sedangkan tapping dengan ujung jari dapat
merangsang jaringan otot untuk berkontraksi. Dengan massage tersebut maka efek
relaksasi dapat dicapai dan elastisitas otot tetap terjaga dan potensial timbulnya
perlengketan jaringan pada kondisi Bells Palsy ini dapat dicegah.

DAFTAR PUSTAKA

18

1. Lowis, H., Maula, N.G. 2012. Bells Palsy, Diagnosis dan Tata Laksana di
Pelayanan Primer. Artikel

Pengembangan Pendidikan Keprofesian

Berkelanjutan (P2KB). Universitas Pelita

Harapan,Tangerang.

Departemen Saraf Rumah Sakit Jakarta Medical Center. Jakarta.


2. Mardjono M, Sidharta P. 1981. Neurologis Klinis Dasar. Jakarta: PT Dian
Rakyat.
3. Munilson, J., Yan Edward., Wahyu Triana. 2010. Diagnosis dan
Penatalaksanaan Bells Palsy. Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala Leher. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP.
Dr.M.Djamil. Padang.
4. Sunaryo, U. 2012. Bells Palsy. 25 September 2013.
http://fkuwks2012c.files.wordpress.com/2013/06/pakar-bells-palsy.pdf

19