Anda di halaman 1dari 17
  • A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Reproduksi adalah kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan yang baru. Tujuannya adalah untuk mempertahankan dan melestarikan jenisnya agar tidak punah. Untuk dapat mengetahui reproduksi pada manusia, maka harus mengetahui terlebih dahulu organ- organ kelamin yang terlibat serta proses yang berlangsung didalamnya. Sistem reproduksi pada manusia akan mulai berfungsi ketika seseorang mencapai kedewasaan (pubertas) atau masa akhil baligh. Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan suatu generasi. Apabila makhluk hidup tidak dapat ber- reproduksi maka kelangsungan generasi makhluk hidup tersebut terancam dan punah, karena tidak dapat dihasilkan keturunan (anak) yang merupakan sarana untuk melanjutkan generasi. Berdasarkan fakta tersebut, penulis akan menguraikan tentang sistem reproduksi pada wanita.

  • B. Rumusan Masalah

    • 1. Apa saja bagian-bagian organ reproduksi wanita

    • 2. Apa saja macam-macam hormon reproduksi

    • 3. Apa saja kelainan atau penyakit pada organ reproduksi wanita

      • C. Tujuan

        • 1. Untuk mengetahui bagian-bagian organ reproduksi wanita

        • 2. Untuk mengetahui macam-macam hormon reproduksi

        • 3. Untuk mengetahui kelainan atau penyakit pada organ reproduksi wanita

BAB II PEMBAHASAN

1

  • A. Organ Reproduksi Wanita

A. Organ Reproduksi Wanita 1. Anatomi Alat Reproduksi Wanita Alat reproduksi sendiri adalah bagian-bagian tubuh kita
  • 1. Anatomi Alat Reproduksi Wanita

Alat reproduksi sendiri adalah bagian-bagian tubuh kita yang berfungsi dalam melanjutkan keturunan. Alat reproduksi wanita berbeda dengan alat reproduksi laki-laki. Alat

reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan luar. Bagian dalam memiliki fungsi sebagai berikut:

  • a. Bibir Kemaluan (Labium Mayora), yaitu daerah yang berambut, berfungsi sebagai pelindung dan menjaga agar bagian dalam tetap lembab.

  • b. Bibir Dalam Kemaluan (Labium Minora), yaitu daerah yang tidak berambut dan memiliki jaringan serat sensorik yang luas, sangat peka karena mengandung ujung saraf.

  • c. Vagina, yaitu rongga penghubung antara alat reproduksi wanita bagian luar dan dalam.

Sementara itu, alat reproduksi wanita bagian luar memiliki fungsi sebagai berikut:

  • a. Vagina Bagian Luar, yang merupakan jalan keluaar bagi darah haid dan jalan keluar ketika bayi lahir (sifatnya sangat lentur sehingga bayi dapat keluar melalui vagina).

  • b. Leher Rahim (Serviks), yang merupakan penghubung antara vagina dan rahim.

2

  • c. Rahim (Uterus), tempat dimana sel telur yang sudah dibuahi tumbuh dalam rahim selama kehamilan. Bila telur tidak dibuahi, maka sel telur menempel ke dinding rahim. Selanjutnya dinding rahim menebal lalu luruh dan menglair keluar dalam bentuk darah. Inilah yang disebut haid atau menstruasi.

  • d. Saluran Telur (Tuba Falopii), yaitu dua salurah yang terletak sebelah kanan dan kiri rahim yang berfungsi sebagai penghubung rongga rahim dan tindung telur.

  • e. Tindung Telur (Ovarium), berfungsi memproduksi sel telur dan hormone perempuan yaitu estrogen dan progesteron. Atas pengaruh hormon, sebanyak satu sampai dua sel telur masak setiap bulan, lalu dilepaskan kedinding rahim. Dinding rahim ini akan menebal, yang sebetulnya berguna sebagai tempat sel telur bersarang setelah dibuahi. Organ Reproduksi Bagian Luar

    • a. Vulva

perineum), Tampak dari luar ( mulai dari mons pubis sampai tepi terdiri dari mons pubis, labium
perineum),
Tampak dari luar ( mulai dari mons pubis sampai tepi
terdiri dari mons pubis, labium mayora, labium minora, clitoris,
hymen, vestibulum, oricifium urethrae externum, kelenjar-
kelenjar pada dinding vagina.
b.
Mons pubis/ mons veneris
Lapisan
lemak dibagian anterior symphisis os pubis pada masa pubertas

daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.

  • c. Labia Mayora (Bibir Besar)

Dua lipatan tebal yang membentuk sisi vulva, dan terdiri atas kulit dan lemak, jaringan otot polos, pembuluh darah, dan serabut saraf.

  • d. Labium Minora

Lipatan jaringan tipis di balik labium mayora ,tidak mempunyai folikel rambut. Banyak

terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.

  • e. Klitoris (Kelentit)

Terdiri dari caput atau glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva dan corpus

clitoridis yang tertanam di dalam anterior vagina. Homolog embriologik dengan penis pada pria. Terdapat juga reseptor androgen pada klitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung

serabut saraf sangat sensitif

  • f. Vestibula Di setiap sisi dibatasi lipatan labia dan bersambung dengan vagina. Uretra juga masuk ke

dalam vestibula di depan vagina, tepat di belakang klitoris. Kelenjar vestibularis mayor (Bartholini) terletak tepat di belakang labia mayora di setiap sisi. Kelenjar ini mengeluarkan

3

lender dan salurannya keluar antara himen dan labia minora. Himen adalah diafragma dari membrane tipis, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Letaknya di mulut vagina dan dengan demikian memisahkan antara organ reproduksi bagian dalam dengan organ reproduksi bagian luar.

  • g. Introitus/Orivicium vagina

Terletak di bawah vestibulum, padsa gadis (virgo) terdapat lapisan tipis bermukosa yaitu

selaput dara/hymen,utuh tanpa robekan. Himen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi dapat berbentuk bulan sabit,bulat, oval ,cribiformis,septum/frimbiae. Akibat

coitus atau trauma lain , himen dapat robek dan berbentuk tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk frimbiae). Bentuk himen fosetpartum disebut parous corruncurae myrtiformis adalah sisa-sisa selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan. Himen yang abnormal misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforate) menutup total lubang vagina,dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

  • h. Vagina (Liang Sanggama) Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi serviks uteri dibagian cranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah disekitar serviks disebut formix, dibagi dalam empat kuadran : formiz anterior, formix posterior dan fprmik lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastik. Dilapisi epitel skuamossa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.

lender dan salurannya keluar antara himen dan labia minora. Himen adalah diafragma dari membrane tipis, di

Fungsi vagina :

  • a. Untuk mengeluarkan eksresi uterus pada haid

  • b. Untuk jalan lahir

  • c. untuk kopulasi (persetubuhan)

Bagian atas vagina terbentuk dari duktus mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam

secara klinis yaitu fornices anterior, posterior, dan lateralis disekitar serviks uteri. Titik grayenbergh (g-spot), merupakan titik daerah sensorik disekitar sepertiga anterior dinding vagina, sangat sensitive terhadap stimulasi orgasme vaginal.

  • i. Perineum

Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis

4

(m. levatorani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transverses provunda,

m. constrictor urethra). Parineal body adalah raphe median m. levatorani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomy) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah rupture. Organ Reproduksi Bagian Dalam

  • a. Uterus (Rahim)

(m. levatorani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transverses provunda, m. constrictor urethra). Parineal body adalah raphe

1)

Struktur

Uterus adalah organ yang tebal, berotot, berbentuk

buah pir, terletak di dalam pelvis, antara rectum di belakang dan kandung kencing di depan. Ototnya disebut miometrium dan selaput lender yang melapisi sebelah dalamnya disebut endometrium. Uterus terbagi atas tiga bagian, yaitu Fundus (bagian cembung di atas muara tuba uterine), badan uterus melebar dari fundus ke serviks, sedangkan antara badan dan serviks terdapat ismus, dan serviks.

2)

Fungsi

Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan

Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implantasi, retensi, dan nutrisi konseptus Pada waktu melahirkan, uterus berkontraksi secara ritmis dan mendorong bayi dan

plasenta keluar kemudian kembali ke ukuran normalnya melalui proses involusi

  • b. Serviks Uteri

Bagian terbawah uteri terdiri dari pars vaginalis (perbatasan/menembus dinding dalam

vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari tiga kompomen utama : otot polos, jaringan-jaringan ikat (kolagen dan

glikosamin) dan elastin. Bagian luar didalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri exsternum (luar, arah vagina) dilapisi epitel sekuamokolumnat mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/ptimidravida) lubang ostium exsternum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (trimipara/mutigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin)

dan larutan berbagai garam ,peptide dan air.ketebalan mukosa dan viskositas lender serviks dipengaruhi siklus haid.

  • c. Corpus Uteri

Terdiri dari : paling luar lapisan serosa / peritoneum yang melekat pada ligamentum latum

uteru diintra abdomen,tengah lapisan muskuler /miometrium berupa otot polos 3 lapis ( dari luar kedalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular),sera dalam lapisan

5

endometrium yang melapisi dinding cavum uteri,menebal dan runtuh sesuai siklus haid

akibatpengaruh hormone-hormon ovarium. Posisi corpus intra abdomen mendatar dengan fleksi ke anterior,fundus uteri berada diatas vesika urinaria . proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dabn serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita .

  • d. Salping/Tuba Falopii

endometrium yang melapisi dinding cavum uteri,menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibatpengaruh hormone-hormon ovarium. Posisi corpus

Embriologik uterus dan tuba falopii berasal dari duktus Mulleri. Sepasang tuba falopii kanan dan kiri, panjang 8-14 cm. Berfungsi sebagai jalan transportasiovum dari ovarium sampai cavum uteri. Dinding tuba terdiri dari tiga lapisan, serosa, muscular (longitudinal dan silkural) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis serta pars

infundibulum dengan fimbriae dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda- beda pada setiap bagiannya.

  • e. Pars Itshcima (Proksimal/itshcimus)

Merupakan bagian dengan lumen tersempit terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet. Pars ampuralis (medial/ampula), tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula/infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini. Pars Infundibulum (distal) dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium dan membawanya ke tuba.

  • f. Mesosalping

Jaringan ikat tuba (seperti hanya mesenterium pada usus).

  • g. Ovarium (Indung Telur)

Organ endokrin berbentuk oval, terletak didalam rongga peritoneum, sepasang kanan dan kiri. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medulla. Ovarium berfungsi sebagai pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial dilapisan terluar, epitel ovarium dikorteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh taka internal folikel, progesterone oleh corpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum, tuba falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum saat dilepaskan pada saat ovulasi. Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii propium,

6

ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis. 2.

ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.

2.

Fisiologi

Alat

Reproduksi

Wanita

Menstruasi Pada siklus menstruasi, selaput lender rahim terjadi perubahan-perubahan yang berulang-

a.

ulang dari hari ke hari. Selama 1 bulan mengalami masa (stadium)

  • 1. Stadium menstruasi (Desquamasi)

Pada masa ini, endometrium terlepas dari dinding rahim disertai dengan perdarahan, hanya lapisan tipis yang tertinggal disebut stratum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari. Melalui haid, keluar darah, potongan-potongan endometrium, dan lender dari serviks. Darah ini tidak membeku karena adanya fermen (biokatalisator) yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan potongan-potongan mukosa. Banyaknya perdarahan selama haid kurang lebih 50 cc.

  • 2. Stadium post menstruum (Regenerasi)

Luka yang terjadi karena endometrium yang terlepas, lalu berangsur-angsur ditutup kembali oleh selaput lender baru dari sel epitel kelenjar endometrium. Pada masa ini, tebal endometrium kira-kira 0,5 mm. stadium ini berlangsung selama 4 hari.

  • 3. Stadium intermenstruum (Proliferasi0

Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal kurang lebih 3,5 mm, kelenjar-kelenjarnya

tumbuh lebih cepat dari jaringan lain. Stadium ini berlangsung kira-kira 5-14 hari dari hari pertama haid.

  • 4. Stadium pra menstruum (sekresi)

Pada stadium ini, endometrium tetap tebal, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panajng

dan berliku-liku serta mengeluarkan getah. Dalam endometrium telah tertimbun glikogen dan

kapur yang diperlukan sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini dilakukan untuk mempersiapkan endometrium dalam menerima sel-sel telur.

  • b. Siklus Ovarium Dalam ovarium banyak terdapat sel-sel telur muda yang dikelilingi oleh sel gepeng,

bangunan ini disebut folikel primordial. Sebelum pubertas, ovarium masih dalam keadaan

7

istirahat, sedangkan pada waktu pubertas ovarium berada dibawah pengaruh hormon dari lobus hipofisis anterior yaitu folikel stimulating hormone (FSH). Folikel primordial mulai tumbuh walaupun hanya satu yang matang, kemudian pecah, dan yang lainnya mati.

  • c. Pematangan Folikel Premordial Folikel yang masak disebut folikel de graaf dan menghasilkan estrogen, tempat pembuatan hormon ini terletak di thecainterna. Pada permulaan, sel-sel ovarium menjadi tipis

hingga pada suatu waktu folikel akan pecah dan mengakibatkan keluarnya liquor follikuli bersama ovum. Keluarnya sel telur dari folikel de graaf yang pecah disebut ovulasi.

  • d. Korpus Luteum Menstruationom

Mempunyai masa hidup 8 hari setelah berdegenerasi dan diganti dengan jaringan ikat yang menyerupai stroma ovarium. Pembentukan hormone progesterone dan estrogen mulai berkurang bahkan berhenti sama seklali. Estrogen dapat menyebabkan proliforasi dari endometrium, fase ini disebut fase folikuler yang berlangsung pada hari pertama menstruasi sampai ovulasi.

  • e. Korpus Luteum Grafiditatum

Setelah terjadi ovulasi, sel telur masuk ke dalam tuba dan diangkut ke kavum uteri. Hal ini

terjadi pada waktu ovulasi, dimana ujung ampula tuba akan menutup permukaan ovarium. Selanjutnya, sel telur digerakkan oleh peristaltic dan rambut getar dari sel-sel selaput lendir

tuba kea rah kavum uteri. Jika tidak terjadi kehamilan, sel telur mati dalam beberapa jam. Akan tetapi, apabila terjadi kehamilan, maka terjadilah pertemuan dan persenyawaan dari sel telur dan sel sperma dalam ampula tube. Sel telur yang telah dibuahi tersebut berjalan ke kavum uteri dan menanamkan diri dalam endometrium, inilah yang disebut nidasi. Zigot mengeluarkan hormone-hormon hingga korpus luteum biasanya hidup hanya 8 hari. Sekiranay tidak mati dan tumbuh menjadi lebih besar dinamakan korpus luteum graviditatum, yang hidup sampai bulan keempat dari kehamilan. Setelah bulan keempat fungsinya diambil alih oleh plasenta. Karena korpus luteum tidak mati, maka progesterone dan estrogen terus terbentuk. Keadaan ini membuat endometrium menajdi lebih tebal dan berubah menjadi deciduas (uterus dalam keadaan hamil) sehingga selama kehamilan berlangsung tidak terjadi haid. Perubahan pada endometrium dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dalam ovarium dan kejadian dalam ovarium akan dipengaruhi oelh kelenjar yang lebih tinggi kedudukannya yaitu kelenjar hipofisis.

  • f. Pubertas

8

Pubertas ialah dimulainya kehidupan seksual dewasa, sedangkan menarke adalah dimulainya

menstruasi. Periode pubertas terjadi karena kenaikan sekresi hormon gonadotropin oleh hipofisis, perlahan dimulai pada tahun kedelapan kehidupan dan mencapai puncaknya pada saat terjadinya menstruasi yaitu pada usia 11-16 tahun. Pada wanita, kelenjar hipofisis dan ovarium akan mampu menjalankan fungsinya secara penuh apabila dirangsang secara tepat. Timbulnya pubertas dirangsang oleh beberapa proses pematangan yang berlngsung di daerah otak yaitu hipotalamus dan sistem limbik yang ditandai dengan hal-hal berikut:

  • 1. Peningkatan sekresi estrogen pada pubertas

  • 2. Variasi siklus bulanan

  • 3. Peningkatan sekresi estrogen lebih lanjut selama beberapa tahun pertama dari kehidupan seksual

  • 4. Terjadinya penurunan progresif dari sekresi estrogen menjelang akhir kehidupan seksual

  • 5. Hamper tidak ada sekresi estrogen dan progesterone sesudah monopouse

    • g. Siklus Seksual pada Pubertas

Bila lonjakan LH praovulasi tidak cukup besar, ovulasi tidak akan berlangsung, keadaan ini disebut sebagai anpvulatorik (tidak ada ovulasi). Variasi siklus seksual terus berlanjut, tetapi mengalami perubahan dengan cara tidak adanya ovulasi sehingga menyebabkan korpus luteum gagal berkembang, sebagai akibatnya hamper tidak ada sekresi progesterone selama bagian akhir dari siklus. Siklus akan memendek beberapa hari, tetapi ritmenya terus berlanjut. Hal ini memungkinkan progesterone tidak dibutuhkan untuk mempertahankan siklus ini sendiri walaupun dapat mengubah ritmenya. Siklus anovulatorik biasanya terjadi selama

beberapa siklus pertama sesudah pubertas atau beberapa bulan bahkan tahunan sebelum menopause. Hal ini mungkin karena lonjakan LH tidak cukup kuat pada saat itu untuk terjadinya ovulasi.

  • h. Fisiologi Kelenjar Mamae Struktur Kelenjar Mamae

Terdapat di atas bagian luar fasia torakalis superfisialis di daerah jaringan lemak subkutis.

Ke arah lateral sampai ke linea axksilaris media

Medial melewati linea media mencapai kelenjar mamae sisi yang lain

Ke arah bawah, mencapai daerah aksila (lipatan ketiak)

Kelenjar mamae menyebar di sekitar aerola mamae dan mempunyai lobusa antara 15-20. Tiap lobusa berbentuk pyramid dengan puncak mengarah ke areola mamae. Masing-masing lobus dibatasi oleh septum yang terdiri atas jaringan fibrosa yang padat. Serat jaringan ikat fibrosa terbentang dari kulit ke fasia pektoralis yang menyebar di antara jaringan kelenjar. Tiap lobus kelenjar mamae mempunyai saluran keluar yang disebut duktus laktiferus yang

9

bermuara ke papilla mamae. Pada daerah areola mamae, duktus laktiferus melebar disebut

sinus laktiferus. Di daerah terminalis, lumen sinus ini mengecil dan bercabang-cabang ke alveoli. Di anatar jaringan kelenjar mamae dapat dipisahkan dengan mudah daru fasia dan kedudukan mamae mudah bergeser.

Pembuluh Darah Mamae

Berasal dari arteri mamae interna dan arteri torakalis lateralis. Vena superfisialis mamae mempunyai banyak anastomosis yang bermuara ke vena mamaria interna dan vena torakalis interna. Sebagian besar vena-vena bermuara ke vena torakalis lateralis.

Pembuluh Limfe Mamae

  • 1. Aliran limfe superfisialis 75% mengalir ke saluran torakalis lateralis berjalan bersama arteri dan vena dipinggir lateral muskulus paktoralis mayor bermuara di Nn. 11 aksilaris dan Nn. Supra klavikularis

  • 2. Aliran limfe profunda mengalir ke dinding toraks menembus muskulus pektolaris mayor bermuara ke N 11 pektolaris sepanjang arteri dan vena mamaria interna

  • 3. Bagian medial aliran limfe subkutan berhubungan antara kedua mamae dan bermuara ke nn 11 supra klavikularis

    • i. Fisiologi Laktasi

Dua faktor yang diatur oleh hormone dalam produksi air susu dan pengeluaran air susu

adalah sebagai berikut:

  • 1. Produksi Air Susu (Prolaktin)

Dalam fisiologi laktasi, prolaktin merupakan suatu hormon yang disekresi oleh glandula

pitutaria anterior yang penting untuk memproduksi air susu ibu. Kadar hormon ini di dalam sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan. Kerja hormon ini dihambat oleh plasenta, dengan lepasnya plasenta pada proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai pada tingkat terendah dan diaktifkannya prolaktin. Kenaikan pemasokan darah yang beredar lewat payudara dapat menyekresi bahan penting untuk pembuatan air susu, globulin, lemak, dan molekul-molekul protein yang akan membengkakkan acini dan mendorong menuju tubuli laktiferus. Kenaikan kadar protein akan menghambat ovulasi sehingga mempunyai fungsi kontrasepsi. Kadar prolaktin paling tinggi terjadi pada waktu malam hari.

  • 2. Pengeluaran Air Susu (Oksitosin)

Dua faktor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel elektrolik ke papilla mamae

adalah sebagai berikut :

10

  • a. Tekanan dari belakang : tekanan globuli yang baru terbentuk di dalam sel akan mendorong globuli tersebut ke dalam tubuli laktiferus dan hisapan bayi akan memacu sekresi air susu lebih banyak.

  • b. Reflex neurohormonal : gerakan menghisap bayi akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pitutaria posterior. Akibat langsung dari reflex ini adalah dikeluarkannya oksitosin dari pituitaria posterior. Disekitar alveoli akan berkontraksi mendorong air susu masuk ke dalam vasa laktiferus, dengan demikian lebih banyak air susu yang mengalir ke dalam ampula. Reflex ini dapat dihambat dengan adanya rasa sakit misalnya jahitan pada perineum. Selain itu sekresi oksitosin juga akan menyebabkan otot uterus berkontraksi dan membantu involusi (kemunduran) uterus selama puerporium (nifasi).

  • j. Perkembangan Payudara

Perkembangan payudara distimulasikan oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual bulanan, dimana akan merangsang pertumbuhan kelenjar mamaria dan ditambah dengan deposit lemak untuk memberikan massa pada kelenjar payudara. Pertumbuhan jauh lebih besar terjadi selama masa kehamilan dan jaringan kelenjar hanya berkembang sempurna untuk membentuk air susu. Selama kehamilan, estrogen disekresi oleh plasenta sehingga duktus payudara tumbuh dan berkembang. Hormone prolaktin, glukokortikoid adrenal, dan insulin berperan dalam metabolism protein dalam perkembangan payudara.

  • k. Fungsi Prolaktin

Pengaruh estrogen dan progesteron adalah mencegah meningkatnya sekresi air susu dan konsnentrasi prolaktin yang snagat tinggi pada akhir kehamilan. Cairan yang disekresi beberapa hari terakhir atau minggu sebelum kelahiran disebut kolostrum. Kolostrum ini mengandung protein dan laktosa dalam konsentrasi yang sama seperti air susu, tetapi mengandung lemak yang jumlahnya sedikit. Setelah bayi dilahirkan, hilangnya sekresi estrogen dan progesteron oleh plasenta memungkinkan laktogenik prolaktin dari kelenjar hipofisis yang berperan untuk memproduksi air susu dalam jumlah besar dan berfungsi

sebagai pengganti kolostrum. Lonjakan sekresi terjadi untuk mempertahankan kelenjar mamaria agar tetap menyekresi air susu ke dalam aveoli untuk periode laktasi berikutnya, sehingga produksi air susu dapat berlangsung terus menerus selama anak masih menghisap walaupun kecepatan pembentukan air susu berkurang.

  • l. Monopause

11

Terjadi pada usia 45-50 tahun, siklus seksual menjadi tidak teratur, ovulasi tidak terjadi selama beberapa siklus selama beberapa bulan atau beberapa tahun, dan terhenti sama sekali, siklus berhenti dan hormon kelamin wanita menghilang dengan cepat sampai hampir tidak ada. Penyebab monopause adalah matinya ovarium. Sepanjang kehidupan seksual seorang wanita kurang lebih 400 folikel primordial tumbuh menjadi folikel vesicular dan berproliferasi, serta sekitar berates-ratus ribu ovum berdegenerasi. Pada usia 45 tahun hanya tinggal beberapa folikel primordial yang akan dirangsang oleh FSH dan LH. Produksi estrogen berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol. Produksi estrogen menurun di bawah nilai kritis, estrogen tidak lagi menghambat produksi FSH dan LH, serta tidak menimbulkan siklus oksidasi karena estrogen diproduksi dalam jumlah di bawah kritis. Pada saat monopause, produksi estrogen dan progesterone menjadi kosong tanpa hormon.

Keadaan ini menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis yang bermakna pada fungsi tubuh yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut :

  • 1. Rasa panas kemerahan kulit yang ekstrim

  • 2. Sensai psikis dari dispena

  • 3. Rasa letih, gelisah, dan ansietas (rasa cemas yang berlebihan)

  • 4. Kadang-kadang keadaan psikotik (gangguan kepribadian)

  • 5. Penurunan kekuatan tulang seluruh tubuh

    • m. Kesuburan wanita

Setiap siklus seksual ovum akan tetap hidup dan mampu dibuahi, sesudah dikeluarkan dari ovum mungkin tidak lebih dari 24 jam. Oleh karena itu, sperma harus segera tersedia sesudah ovulasi agar dapat terjadi pembuahan. Sebaliknya, beberapa sperma dapat tetap subur di dalam saluran produksi wanita sampai 72 jam. Oleh karena itu, agar terjadi pembuahan maka hubungan kelamin dilangsungkan selama ovulasi karena periode kesuburan wanita pada setiap siklus seksual sangat pendek.

  • n. Kehamilan

Bila ovum dibuahi, maka terjadi rangkaian peristiwa baru yang disebut gestasi atau kehamilan. Pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Bila terjadi ovulasi, ovum bersama beratus ratus sel granulose yang melekat padanya akan dikeluarkan langsung ke dalam rongga peritoneum. Selanjutnya, masuk ke dalam salah satu tuba fallopii. Untuk mencapai kavum uteri, secara terus menerus bergerak kea rah pembukaan osteum tuba falopii yang terlihat seperti arus cairan lambat yang mengalir ke arah osteum dan masuk ke dalam salah satu tuba. Pembuahan ovum terjadi setelah ejakulasi dalam waktu 5-10 menit. Beberapa sperma akan dihantarkan melalui uterus ke ampula. Pada bagain akhir, dari

12

tuba falopii, ovarium yang dibantu oleh kontraksi uterus dan tuba falopii yang dirangsang oleh prostlagandin dalam cairan seminal dan cairan oksitosin yang dilepas dari kelenjar hipofisis posterior selama orgasme wanita. Hampir setengah milyar sperma di deposit ke dalam vagina, tetapi hanya beberapa ribu yang mencapai ampula. Pembuatan ovum umumnya terjadi segera setelah ovum memasuki ampula. Sebelum sperma memasuki ovum, sperma harus menembus berlapis-lapis granulose yang melekat disisi luar ovum yang disebut corona radiate. Sekali sebuah sperma telah masuk ke dalam ovum, kepala sperma akan membengkak dengan cepat untuk membentuk pronukleus pria. Kromosom yang telah berpasangan menyalurkan 46 kromosom atau 23 pasang dalam sebuah ovum yang sudah dibuahi.

  • o. Pembuahan

Adalah penyatuan antara sperma dan sel telur yang telah dewasa atau matang sehingga

terbentuk zigot. Zigot berarti berpasangan kedua belah kromosom gamet, pihak jantan dan pihak betina yang saling haplon-haploid (gen menyatu) sehingga zigot terjadi dalam susunan diploin-diploid (dua bentuk kromosom). Setelah terjadi pembuahan, zigot mengalami pertumbuhan (embriologi) sperma bergerak bersentuhan dengan sel telur dan sperma akan terikat oleh pengaruh semacam sekresi yang dikeluarkan oleh sel telur.

  • 3. Kematangan Alat Reproduksi Wanita

Kematangan Alat Reproduksi Wanita ditandai oleh terjadinya haid pertama, yaitu disebut menarke. Biasanya kita menyebut anak remaja wanita yang demikian sudah akhil baligh, yang dimulai sekitar umur 8-12 tahun. Bila seorang wanita sudah mengalami menarke, itu artinya tubuhnya sudah menghasilkan sel telur yang dibuahi sperma yang dihasilkan oleh tubuh laki-laki, dan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan.

  • B. Hormon-hormon Reproduksi

    • 1. GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone)

Diproduksi oleh hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior

untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH/LH).

  • 2. FSH (Folicle Stimulating Hormone)

Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan perkembangan folikel dan sel-sel granulose di ovarium wanita (pada pria memicu pematangan sperma di testis). Pelepasannya periodik, waktu paruh

13

eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah, melalui mekanisme feedback negative.

  • 3. LH (Luteinzing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)

Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH,LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulose) ddan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesterone. Pelepasannya juga periodik, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh

eliminasinya pendek sekitar 1jam. Kerjanya sangat cepat dan singkat. (Pada pria, LH memicu sintesis testoteron di sel-sel Leydig testis).

  • 4. Estrogen

Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara

primer, dan didalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormone androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita. Pada uterus, menyebabkan proliferasi endometrium. Pada serviks, menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lender serviks. Pada vagina, menyebabkan proliferasi epitel vagina. Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara. Juga mengatur pendistribusian lemak dalam tubuh. Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblast sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita, pascamenopause, untuk mencegah tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormone estrogen pengganti.

  • 5. Progesteron

Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian di produksi

di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi. Fungsi hormon progesteron diantaranya :

  • a. Efek pada uterus Meningkatkan perubahan sekresi pada endometrium, jadi menyiapkan uterus untuk implantasi ovum yang telah dibuahi

  • b. Efek pada tuba fallopii Meningkatkan perubahan sekresi pada mukosa yang melapisi tuba fallopii. Sekresi ini penting untuk nutrisi pada ovum yan telah dibuahi, yang sedang membelah waktu ia berjalan dalam tuba fallopii sebelum implantasi

  • c. Efek pada kelenjar mamae

14

Meningkatkan perkembangan lobules dan alveoli kelenjar mamae. Menyebabkan sel-sel alveolar perproliferasi, membesar, dan menjadi bersifat sekretoris. Progesterone juga menyebabkan kelenjar mamae membengkak, sebagian besar disebabkan karena timbulnya sekresi pada lobules dan alveoli, tetapi sebagian tampaknya akibat peningkatan cairan pada jaringan subkutis sendiri.

  • d. HCG (Human Choronic Gonadrotropin)

Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).

Kadarnya masih meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.00mU/mL), kemudian naik kembali sampai trimester kedua (sekitar 1000 mU/mL). Berfungsi meingkatkan dan mempertahankan korpus luteum dan produksi hormone-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunolik.

Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb)

  • e. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolaktin

Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi

pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL-Human Placental Lactogen). Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hipoprolaktinema) dapat terjadi gangguan pematangan folikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenhorea.

  • C. Kelainan/penyakit pada sistem reroduksi wanita

    • 1. Endometriosis

Yaitu terdapatnya jaringan endometrium di luar rahim akibat pengaliran balik darah menstruasi melalui tuba fallopii sewaktu menstruasi.

  • 2. Sifilis

Yaitu penyakit infeksi pada organ kelamin bagian luar yang disebabkan bakteri Treponema Pallidum

  • 3. Gonore

Yaitu penyakit infeksi akut pada selaput lender uretra, serviks, rektum, sendi, tulang, faring,

dan mata yang disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrhoeae

15

4.

Keputihan (Flour Albus)

Disebabkan oleh berbagai paarsit, antara lain jamur candida albicans protozoa dari jenis Trichomonas Vaginalis, bakteri dan virus. Candida Albicans menyukai lingkungan yang mengandung gula dan hangat. Jamur ini sering ditemukan pada perempuan hamil

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua bagian, yaitu organ reproduksi bagian dalam dan organ reproduksi bagian luar. Organ reproduksi bagian dalam terdiri dari uterus, serviks uteri, corpus uteri, tuba falopii, Pars Itshcima (Proksimal/itshcimus), Mesosalping, dan Ovarium (Indung Telur). Sedangkan organ reproduksi bagian luar terdiri dari Vulva, Mons pubis/ mons veneris, Labia Mayora (Bibir Besar), Labium Minora, Klitoris (Kelentit), Vestibula, Introitus/Orivicium vagina, dan Vagina (Liang Sanggama). Pada organ reproduksi juga terdapat hormon-hormon yang berperan di dalamnya, diantaranya yaitu hormon LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolaktin, FSH (Folicle Stimulating Hormone), LH (Luteinzing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone), Estrogen, Progesteron, HCG (Human Choronic Gonadrotropin), dan GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone). Pada organ reproduksi wanita terdapat beberapa kelainan atau penyakit yang bisa menyerang, diantaranya endometriosis, sifilis, dan gonore.

2. Saran Pengetahuan mengenai seks & seksualitas hendaknya dimiliki oleh semua orang. Dengan pengetahuan yang dimiliki diharapkan orang tersebut dapat menjaga alat reproduksinya untuk tidak digunakan secara bebas tanpa mengatahui dampaknya, Pengetahuan yang diberikan harus mudah dipahami, tepat sasaran, dan tidak menyesatkan. Dengan demikian orang tersebut akan dapat menghadapi rangsangan dari luar dengan cara yang sehat, matang danbertanggung jawab.

16

DAFTAR PUSTAKA

Pearce, Evelyn C.2013.ANATOMI DAN FISIOLOGI UNTUK PARAMEDIS.Jakarta:

PT Gramedia Pustaka Utama. S, Nugroho, dan Joseph HK, M.2011.CATATAN KULIAH GINEKOLOGI DAN OBSTETRI UNTUK KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN.Yogyakarta:

Mulia Medika. Syaifuddin. 2009. FISIOLOGI TUBUH MANUSIA UNTUK MAHASISWA KEPERAWATAN. Jakarta: Salemba Medika Guyton. 2012. Fisologi manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran: Jakarta.

17