Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penggunaan pestisida kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500
SM) yaitu pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan
penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic, mercury dan serbuk timah diketahui mulai
digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15. Kemudian pada abad ke-17 nicotin
sulfate yang diekstrak dari tembakau mulai digunakan sebagai insektisida. Pada abad ke-19
diintroduksi dua jenis pestisidaalami yaitu, pyretrum yang diekstrak dari chrysanthemum dan
rotenon yangdiekstrak dari akar tuba Derris eliptica (Miller, 2002).
Pada tahun 1874 Othmar Zeidler adalah orang yang pertama kali mensintesis DDT
(Dichloro Diphenyl Trichloroethane), tetapi fungsinya sebagai insektisida baru ditemukan oleh
ahli kimiaSwiss, Paul Hermann Muller pada tahun 1939 yang dengan penemuannya ini
diadianugrahi

hadiah

nobel

dalam

bidang

Physiology

atau

Medicine

pada

tahun

1948(NobelPrize.org). Karena belum ada penemuan-penemuan baru, bahan arsenat ini bertahan
cukup lama. Meskipun hama-hama juga sudah menunjukkan segala kekebalan. Pada akhirnya
secara tidak disengaja seperti lazimnya penemuan yang lain, racun tembakau mulai
diperkenalkan pada masyarakat mulai tahun 1960 diEropa (Daly et al., 1998).
Ternyata racun nikotin ini cukup efektif pula sebagai obat sekaligus racun pembasmi
hama. Berbeda didaratan Eropa, di Malaysia dan sekitarnya lebih mengenal bubuk pohon deris,
yang mengandung bahan aktif Rotenon sebagai zat pembunuh. Disamping itu juga dipakai bahan
aktif Pirenthin I dan II, dan Anerin I dan II, yang diperoleh dari bunga Pyrentrum Aneraria
Forium. Metodenya masih sederhana Pembuatan pun cukup sederhana, karena pada masa itu
belum dikenal alat-alat industri dan pengetahuan yang cukup. Tembakau direndam didalam air
selama satu hari satu malam, baru kemudian dipakai untuk menyemprot atau disiramkan. Pada
tahun 1940an mulai dilakukan produksi pestisida sintetik dalam jumlah besar dan diaplikasikan
secara luas (Daly et al., 1998).
Perlunya penggunaan pestisida dikarenakan pestisida ini merupakan racun yang
mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani. Pestisida memiliki kemampuan membasmi
organisme selektif (target organisme), dengan adanya pestisida ini petani sangat terantu dalam
mencegah serangan hama dan penyakit yang mengganggu hasil panen produk petani baik pada

pra tanam, tanam, pemeliharaan, panen, sampai pasca panen keberadaan pestisida ini memiliki
andil besar untuk mempertahankan produk pertanian (Tarumingkeng, 2008).
Manfaat mempelajari pestisida ini adalah agar dapat lebih mengenal dan mengetahui apa
itu pestisida, golongan, dan formulasinya, dan dampak yang tejadi akibat penggunaan pestisida
ini sehingga kita dapat memilah mulai dari jenis tanaman, golongan dan jenis pestisida yang
akan digunakan sesuai dan dampak yang dihasilkan semaksimal mungkin untuk dihindarkan dan
juga formulasi pestisida yang aman untuk digunakan dengan menimbang dampak yang terjadi
tidak merusak lingkungan dan ekosistem.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum Acara Terakhir tentang identifikasi pestisida ini adalah sebagai berikut :
1. Agar Mahasiswa mengetahui jenis-jenis dan fungsi pestisida.
2. Agar Mahasiswa mengetahui kadar dan bahan-bahan aktif pestisida.
3. Agar Mahasiswa dapat membedakan Pestisida Hayati dan Kimiawi.
4. Agar Mahasiswa dapat membedakan Pestisida yang baik digunakan dan tidaknya.

II.

TINJAUAN PUSATAKA

Definisi Pestisida secara harfiah berarti pembunuh hama, berasal dari kata pest dan sida.
Pest meliputi hama penyakit secara luas, sedangkan sida berasal dari kata caedo yang berarti
membunuh. Pada umumnya pestisida, terutama pestisida sintesis adalah biosida yang tidak saja
bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap
manusia dan jasad bukan target termasuk tanaman, ternak dan organisma berguna lainnya
(Tarumingkeng, 2008).
Pestisida secara umum diartikan sebagai bahan kimia beracun yang digunakan untuk
mengendalikan

jasad penganggu yang merugikan kepentingan manusia. Dalam sejarah

peradaban manusia, pestisida telah cukup lama digunakan terutama dalam bidang kesehatan dan
bidang pertanian. Di bidang kesehatan, pestisida merupakan sarana yang penting. Terutama
digunakan dalam melindungi manusia dari gangguan secara langsung oleh jasad tertentu maupun
tidak langsung oleh berbagai vektor penyakit menular. Berbagai serangga vektor yang
menularkan penyakit berbahaya bagi manusia, telah berhasil dikendalikan dengan bantuan
pestisida. Dan berkat pestisida, manusia telah dapat dibebaskan dari ancaman berbagai penyakit
berbahaya seperti penyakit malaria, demam berdarah, penyakit kaki gajah, tiphus dan lain-lain
(Tarumingkeng, 2008).
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani.
Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), tetapi pada
praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Dampak
negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran
dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng,
2008).
Di bidang pertanian, penggunaan pestisida juga telah dirasakan manfaatnya untuk
meningkatkan produksi. Dewasa ini pestisida merupakan sarana yang sangat diperlukan.
Terutama digunakan untuk melindungi tanaman dan hasil tanaman, ternak maupun ikan dari
kerugian yang ditimbulkan oleh berbagai jasad pengganggu. Bahkan oleh sebahagian besar
petani, beranggapan bahwa pestisida adalah sebagai dewa penyelamat yang sangat vital.
Sebab dengan bantuan pestisida, petani meyakini dapat terhindar dari kerugian akibat serangan
jasad pengganggu tanaman yang terdiri dari kelompok hama, penyakit maupun gulma.

Keyakinan tersebut, cenderung memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat
dengan pesat (Tarumingkeng, 2008).
Tetapi pada praktiknya pemakaian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme
non target. Berbagai dampak dapat disebabkan oleh penggunaan pestisida mulai dampak yang
tak terlihat seperti residu hingga dampak keracunan baik bagi tanaman maupun manusia yang
menggunakannya. Dampak negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap
lingkungan berupa pencemaran dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan
kematian bagi manusia (Tarumingkeng, 2008).
Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan
jenis formulasi adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedangkan jenis pestisida yang lain
diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan
pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
1.

Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa

2.

serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.


Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa

cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.


3. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat,
seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan
4.

lain-lain. ( Arief . 1994 ).


Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman

5.

pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.


Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh :

Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
6. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa
7.

tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.


Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang
disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Benidiktus . 2010)
Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk
murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar, kemudian dapat diformulasi sendiri atau
dikirim ke formulator lain. Oleh formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi
pestisida yang sering dijumpai:

1.

Cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates) Pestisida yang berformulasi


cairan emulsi meliputi pestisida yang di belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES
(emulsifiable solution), WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution).
Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang menunjukkan besarnya persentase
bahan aktif. Bila angka tersebut lebih dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni.
Komposisi pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif, pelarut serta
bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan emulsi karena berupa cairan pekat

yang dapat dicampur dengan air dan akan membentuk emulsi.


2. Butiran (granulars) Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian sebagai
insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam untuk melindungi tanaman pada
umur awal. Komposisi pestisida butiran biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang
terdiri atas talek dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar 2-25
persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida butiran lebih mudah bila dibanding
dengan formulasi lain. Pestisida formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum
3.

singkatan G atau WDG (water dispersible granule).


Debu (dust) Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif dan zat
pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida formulasi debu ini kurang banyak
digunakan, karena kurang efisien. Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi

debu ini diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).


4. Tepung (powder) Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan aktif
dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75 persen). Untuk mengenal
pestisida formulasi tepung, biasanya di belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable
5.

powder) atau WSP (water soluble powder).


Oli (oil) Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO (solluble
concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak seperti xilen, karosen atau
aminoester. Dapat digunakan seperti penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan
menggunakan atomizer. Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas. (Untung, 2010)

III.
A. Waktu dan Tempat

METODELOGI PRAKTIKUM

Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman dilakukan di Labolatorium Agronomi Fakultas


Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada, hari Jumat, 08 Januari 2016 pukul
16.00-17.30 WIB.
B. Bahan dan Alat
1. Bahan
Macam-macam jenis pestisida, meliputi pestisida yang digunakan untuk pengendalian hama dan
penyakit, dengan berbagai formulasi, seperti : D, G, WP, EC, DC, ULV, dan lain-lain. Beberapa
bahan dasar pembuat pestisida.
2. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah buku dan alat tulis.
C. Cara kerja
1. Menyiapkan Lembaran Kertas Buram dan Alat tulis.
2. Mengamati contoh-contoh pestisida yang ada.
3. Memperhatikan nama pestisida, formulasi, warna, bahan aktif, kadar bahan aktif dan Petunjuk
penggunaan Pestisida.
4. Mencatat hasil pengamatan dalam bentuk Tabel.
5. Membuat Laporan Praktikum serta pembahasan Hasil.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum
Nama
dagang

Formulasi

Fungsi

Bahan aktif

Bentuk

Warna

Petunjuk penggunaan
Sasaran: Jagung ( Gulma
berdaun lebar ) Dosis: 1,52,5 Liter dalam air/Ha

Agroxone4

Herbisida

Kalium McPA
400 % 100 gr/l

Cair

Coklat

Aplikasi: Tanaman Jagung,


Bila gulma berdaun lebar
lebh banyak dan tinggi
tanaman telah mencapai
2030 cm
Sasaran:Padi(Gulma
berdaun lebar ) Dosis: 1-2

Prima-jos

SL

Herbisida
sistemik

Litr/ Ha

2,4D
Dimentilamina

Cair

Coklat

865 g/l

Aplikasi:
volume

Penyemprotan
tinggi

dilakukan pada 7-21 hari


sebelum

dan

sesudah

tanam
Sasaran: saebagai bahaan
pembasah,

perekat

poligikol

sintetis

958 g/l

eter

Cair

Kekunig

pestisida,

an

ml/10 liter

SL

Herbisida

Parakuat

kontak

diklorida
%

Dosis:

20-40

Aplikasi: insektisida dan


fungisida

gramoxon

dan

perekat pada semprotan

Perata dan Alkilatil


Sandovit

perata

Cair
276

pada

volume

tinggi
Hijau tua Sasaran: gulma berdaun
lebar dan sempit serta teki
di lahan tanpa tanaman
Dosis: 1,5-3 l/Ha
Aplikasi: pada tanaman

semusim

apabila

pertumbuhan

gulma

mencapai 40%
Sasaran: mengendalikan
alang-alang dan gulma lain
Basmilang

AS

Herbisida

Isopropilamina

Larutan

sistemik

glifosat 480 %

dalam air

pada tanaman karet, kelapa


Kuning

sawit

dan

lahan

tanpa

tanaman. Dosis: 2-4 ltr/Ha


Aplikasi:

Penyempotran

volume tinggi
Sasaran: Cabai ( Penyakit
bercak daun )
Dithane

WP

M-45

Fungisida

Mankozeb 80

protektif

Kuning
Tepung

keabuabuan

Dosis: 3-6 Gram/Liter air


Aplikasi:

Penyempotran

volume tinggi Pada saat


terlihat
dan

gejala

diulangi

serangan
1

miggu

sekali
Sasaran: kentang ( busuk
Ridomil
gold

M2

WP

4/64

Fungisida

Mefenoksam

sistemik

4%

dan

Mankozeb 46

kontak

Insektisida
racun
Akodan

EC

kontak
dan

Daconil
75

WP

Coklat
Tepung

kekuning
an

350 g/l

lambung
Fungisida

Klorotalonil 75

kontak

yang
diemulsika

Aplikasi:
dimulai

Penyempotran
sebelum

ada

( ulat grayak )
Coklat

n dengan
air
Tepung

Dosis: 2,5-5 gram/ liter air

serangan penyakit
Sasaran: bawang merah

Pekatan
Endosulfan

daun ).

Dosis: 1,5-3 ml/ l air


Aplikasi: bila da serangga

Putih

Sasaran: kentang ( busuk


daun )
Dosis: 15 gram/10 liter air
Aplikasi:penyemprotan

pertama dilakukan segera


setelah ditemukan gejala
dan diulangi 7-14 hari
Sasaran:
kedelai
dan
jagung ( layu)
Dosis: persemaian: 20
gram/ liter air
Trico
Green

WP

Biofungisi

Jamur

da

Trichoderma

Serbuk

Putih

Pra

tanam:

250

gram

dicampur organik padat


Pemeliharaan:

100

gram/12 liter air


Aplikasi: persemaian: 1
minggu sebelum tanam
Sasaran: layu tanaman

Streptomisin
Agrimycin
15/1,5

WP

Bakterisid

Sulfat 15%

a sistemik

Oksitetrasiklin

Bubuk

Coklat

Dosis:-

muda

Aplikasi:-

1,5 %
Insektisida
Decis 2,5

EC

Sasaran: cabai (thrips )

kontak

Deltametri 25

dan

g/l

Pekatan

Kuning

lambung

Dosis: 0,18-0,37 ml/liter


Aplikasi:

penyemprotan

volume tinggi
Sasaran: cabai ( tungau )
Dosis: 0,5-1 ml/liter

Antimit
570

Akarisida/
EC

Insektisida
kontak

Propargit 570
g/l

Coklat
Pekatan

kekuning
an

Aplikasi: gunakan spreyer


yang baik dan semprotkan
secara merata ke tajuk bila
ditemukan hama assaran
dengan swlang waktu 7-14
hari
Sasaran:

Bassa 50

EC

Insektisida
kontak

BPMC 500 %

Pekatan

Hama

wereng

Coklat

pada padi, jagung,dll

muda

Dosis:Aplikasi:-

Sasaran: padi ( tikus )


Petrokum
0,005

RB

Rodentisid Brodifakum
a

Blok

0,005%

Kebirubiruan

500

sistemik

Metil tiofonat

dan

500 g/l

Suspensi

WP

pucat

Aplikasi:

sistemik

Kanbedasim

dan

0,2 %

Dosis: 1-2 gram/liter


Tepung

Kuning

kontak

tanam
Sasaran:

minggu
kubis

setelah
(

ukat

plutela ) Dosis: 15-25

racun prut Permetin


dan

Aplikasi: pada umur 6, 8


dan

Insektisida
EC

penyemprotan

volume
Sasaran: bercak daun

kontak

Ambush 2

dilakukan pada saat bera

Dosis: 0,5-1 liter/Ha

Fungisida
MX-80

pengumpanan

Coklat

kontak

Delsene

Aplikasi:

hingga menjelang buting


Sasaran: lamur pada padi

Fungisida
Topsin

Dosis: 1-2 kg/Ha

g/l

20

Pekatan

Kuning
jernih

ml/10 liter aira


Aplikasi: segera setelah
terlihat

gejala

serangga

dan diulangi setiap 3-7


hari

B. Pembahasan
AGROXONE-4
Pestisida ini termasuk kedalam golongan herbisida dengan bahan aktif Colium mcpa 400
g/l formulasi AS(aquoes solution) dengan bentuk cair berwarna coklat sasaran gulma pada
jagung aplikasi dengan di semprotkan.
PRIMA-JOS
Pestisida ini termasuk kedalam herbisida sistemik dan purna bahan aktif 2,4Ddimetilamina 865 g/l formulasi WP(wettabel powder) dengan bentuk cair sasaran pada gulma
berdaun lebar aplikasi di semprotkan.
SANDOVIT
Pestisida ini termasuk kedalam insektisida dengan bahan aktif Alkilaril poliglikalenter
958 g/l formulasi AS(aquoes solution) dengan bentuk cair berwarna kekuning-kuningan sasaran
serangga apliokasi dengan penyemprotan dan pembasah
GRAMOXONE
Pestisida ini termasuk kedalam herbisida purna kontak bahan aktif yaitu Perkuat diklorida
276 g/l formulasi SL ( Solubel Liquid) dengan bentuk cair berwarna hijau tua sasaran mengen
dalikan rumput teki pada kelapa sawit aplikasi di semprotkan.
BASMILANG
Pestisida initermasuk kedalam herbisida sistemik purna dengan bahan aktif
Isopropilsmins glifosat 480 g/l formulasi AS(aquoes solution) dengan bentuk cair berwarna
kuning sasaran untuk mengendalikan alang-alang dan gulma pada karet aplikasi di semprotkan
DITHANE-45
Pestisida ini termasuk kedalam fungisida dengan bahan aktif Mankozeb 80% formulasi
WP(wettabel powder) dengan bentuk tepung berwarna kuning ke abu-abuan sasaran penyakit
pada tanaman cabai aplikasi di semprotkan.
RIDOMIL GOLD M2 4/64
Pestisida ini termasuk kedalam fungisida sistemik dan kontak dengan bahan aktif
Mefenaksan 4% mankozeb 64% formulasi WP(wettabel powder) dengan bentuk tepung
berwarna coklat kekuning-kuningan sasaran untuk mengandalikan penaykit busuk daun apliaksi
di semprotkan.

AKODAN
Peatisida ini termasuk kedalam insektisida kontak dan langsung bahan aktif Endosulfan
350 g/l formulasi EC(emulsiabel consentrate) dengan bentuk cairan berwarna coklat dengan
sasran untuk menekan ulat grayak aplikasi dengan cara di semprotkan.
DACONIL 75
Pestisida ini termasuk kedalam fungisida dengan bahan aktif Klorotaloni 75 % formulasi
WP(wettabel powder) dengan bentuk tepung berwarna putih sasaran penyakit pada tanaman
bawang merah aplikasi seprotkan.
TRICOGREEN
Pestisida ini termasuk kedalam Biofungisida yang berbahan aktif dari Jamur
Trichoderma dengan bentuk dasar tepung berwarna putih dan sering digunakan untuk tanaman
jagung.
AMBUSH 2
Pestisida ini termasuk ke dalam Insektisida racun prut dan kontak yang berbahan aktif
Permetin 20 g/l berbentuk pekatan yang berwarna kuning jernih.biasanya Pestisida ini digunakan
untuk tanaman kubis agar tidak terserang hama ulat.
BASSA 50
Pestisida ini termasuk kedalam Insektisida kontak yang berbahan aktif BPMC 500 % berbentuk
pekatan yang berwarna Coklat muda dan sering digunakan untuk tanaman padi dan jagung dalam
mengatasi hama wereng.
DELSENE
Pestisida ini termasuk kedalam Fungisida sistemik dan kontak yang berbahan aktif
Kanbedasim 0,2 % berbentuk tepung dan berwarna kuning. Digunakan untuk penyakit bercak
daun.
TOPSIN
Pestisida ini termasuk kedalam Fungisida sistemik dan kontak berbentuk Suspensi yang
berwarna Coklat pucat dan digunakan pada tanaman padi.
PETROKUM
Pestisida ini termasuk ke dalam Rodentisida yang berbahan aktif Brodifakum 0,005%,
berbentuk kebiruan dan digunakan untuk Tanaman padi yang terserang hama Tikus.

AGRIMYCIN
Pestisida ini termasuk ke dalam Bakterisida sistemik yang memiliki bahan aktif dari
Streptomisin Sulfat 15%,Oksitetrasiklin 1,5 % berbentuk Bubuk dan berwarna Coklat muda yang
digunakan untuk penyakit layu pada tanaman.
DECIS 2,5
Pestisida ini termasuk ke dalam Insektisida kontak dan lambung yang berbahan aktif
Deltametri 25 g/l, berbentuk Pekatan dan warnanya kuning. Digunakan untuk tanaman Cabai
yang terserang Hama Thrips.
ANTIMIT 570
Pestisida ini termasuk ke dalam Akarisida/ Insektisida kontak yang memiliki bahan aktif
Propargit 570 g/l, berbentuk pekatan dan berwarna Coklat kekuningan. Digunakan untuk
tanaman cabai yang terserang hama tungau.
Pestisida merupakan racun yang mempunyai nilai ekonomis terutama bagi petani.
Pestisida memiliki kemampuan membasmi organisme selektif (target organisme), tetapi pada
praktiknya pemakian pestisida dapat menimbulkan bahaya pada organisme non target. Dampak
negatif terhadap organisme non target meliputi dampak terhadap lingkungan berupa pencemaran
dan menimbulkan keracunan bahkan dapat menimbulkan kematian bagi manusia (Tarumingkeng,
2008).
Maka dapat dikatakan bahwa penggunaan Pestisida ini sangatlah harus memperhatikan
hal-hal penting yang utama seperti :
1.

Bahan aktif Pestisida, karena penggunaan Pestisida dengan merek berbeda namum memiliki
bahan aktif yang sama maka tidak akan berpengaruh nyata bahkan dapat membuat resistensi
( kekebalan ) pada hama itu sendiri.

2. Petunjuk Penggunaan, karena akan menentukan besar dan kecilnya penggunaan dari pestisida.
Jika pengguna pestisida ingin menggunakan harus mengetahui dengan baik dan memahami cara
kerja serta fungsinya untuk apa saja. Jangan sampai bahan yang berbentuk bubuk digunakan
dengan larutan air, maka hal itu akan menambah pengeluaran bagi petani atau pihak pengelola
walaupun hasil yang didapatkan sama-sama dapat menghambat pertumbuhan gulma dan
sserangan hama.
3.

Pertolongan Perama jika mengalami Kecelakaan dalam mengaplikasikan pestisida seperti


terkena mata atau terhirup dan lain sebagainya.

4. Fungsi Pestisida, agar penggunaan pestisida tepat sasaran dan tidak menimbulkan permasalahan
lain atau menambah pengeluaran.
Namun semua hal ini tergantung dari pengguna pestisida,maka dari itu diharapkan para
pengguna seperti petani harus sangat teliti dalam baik sebelum dan setelah menggunakan
pestisida. Banyak dijumpai pestisida hayati atau kimiawi dipasaran yang tidak jelas bahan aktif
dan penggunaannya, sehingga untuk mengantisipasi masalah yang dapat ditimbulkan dari itu
para petani harus benar-benar teliti dalam membeli dan mengunakan pestisida. Mahasiswa pun
dapat berperan aktif dalam hal ini ialah menghimbau para petani agar membaca dan memahami
dari pestisida itu sendiri.Jika semua hal telah dilakukan maka hal tersebut akan memperkecil
kerugian dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh salahnya penggunaan pestisida.
Penggunaan Pestisida pun harus diperhatikan dimana dengan berbagai macam bahan aktif
yang ada didalam pestisida dapat menyebabkan resisten dan berkurangnya nilai kandungan
Bahan organik tanah dan unsur-unsur hara baik makro ataupun mikro. Dalam penggunaan harus
tepat dan sesuai dengan dosis yang tertera dilabel agar tidak menambah peneluaran dan tidak
menyebabkan hal yang tidak diinginkan. Berlebihan dalam penggunaan pestisida pun sangat
tidak dianjurkan karena dapat merusak atau menimbulkan masalah lain.
Gunakan pestisida dengan tepat, memahami fungsi dan cara kerja sehingga dalam
penggunaan pestisida dapat memaksimalkan hasil Produksi pertanian.

V.

KESIMPULAN

Dari Acar Praktikum Identifikasi Pestisida maka dapat ditarik kesimpulan adalah sebagai
berikut :
1.

Banyak jenis dari pestisida dan fungsi yang sama,namun dapat dikelompokan dari fungsinya
seperti : Insektisida,Herbisida,Fungisida. Ada yang bersifat Sistemik, Kontak, Sistemik dan
Kontak, Sistemik lambung dan Kontang lambung.

2.

Kadar dan bahan aktif pestisida sangat beragam adapun dalam praktikum kali ini didapatkan
beberapa bahan aktif seperti : Kalium McPA, Dimaentilamina, Brodifakum, Permetin,
Kanbedasim BPMC dan lain-lain. Kadar bahan aktif pun selalu berbeda sesuai penggunaan pada
varietas dan tanaman yang beragam.

3.

Pestisida Hayati terbuat dari ekstrak tumbuhan atau tanaman seperti dari tumbuhan
Tekian,Rumputan dan lain-lain. Sedangkan Pestisida Kimiawi yang berasal dari bahan kimia
seperti Kalium, N, P, Permetin dan Kanbedasim dimana keduanya memiliki dampak dan
pengunaan dosis yang berbeda.

4. Pestisida yang baik digunakan adalah dimana Semua Petunjuk Penting dalam Pestisida seperti :
Formulasi, Bahan Aktif, Bentuk, warna, cara penggunaan, petunjuk perawatan dan pencegahan
atau pengobatan jika terjadi kecelakaan dalam pengaplikasian pestisida. Sedangkan pestisida
yang tidak baik adah dimana informasi yang ada dilabel pestisida tidak lengkap dan tidak jelas
penggunaannya.