Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN KASUS

ANAMNESA PRIBADI
Nama

: Fadhilah Khairunnisa

Umur

: 16 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Suku

: Melayu

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jl. Kolonel Bejo gg Turi No.22

Nomor RM

: 90.89.31

Tanggal Masuk

: 17 Desember 2013

ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan Utama

: Penglihatan kedua mata kabur

Telaah

: Hal ini dialami OS sejak lebih kurang 2 bulan yang lalu pada
kedua mata OS. Mata terasa kabur dialami OS sejak lebih kurang 1
tahun yang lalu. Mata kabur timbul secara perlahan, awalnya mata
kabur dirasakan tidak terlalu mengganggu yang kemudian lamakelamaan dirasakan OS mengganggu kegiatan hariannya. Pasien
juga mengeluhkan mata terasa kabur jika membaca agak jauh tetapi
lebih jelas waktu baca dekat. OS suka menyipitkan matanya saat OS
melihat jauh dan selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda
pada matanya. Mata merah (-), Mata berair (-), Nyeri pada mata (-),
1

Mata gatal (-), kotoran mata (-) .Riwayat pemakaian kaca mata (-).
Riwayat kebiasaan membaca sambil tidur-tiduran (+) dan
mengerjakan tugas di depan komputer dalam jangka waktu yang
cukup lama (+). Penderita pernah menggunakan obat tetes mata
namun tidak ada perbaikan sehingga penderita datang berobat ke
poli mata RSUD dr. Pirngadi medan.
RPT

: Tidak dijumpai

RPO

: Tidak dijumpai

STATUS PRESENT
Anemis

: Tidak dijumpai

Ikterik

: Tidak dijumpai

Sianosis

: Tidak dijumpai

: 80 x/i

Dispnea

: Tidak dijumpai

Frekwensi Nafas

: 20 x/i

Edema

: Tidak dijumpai

Suhu

: 36,50C

Sensorium

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Frekwensi Nadi

STATUS GENERALISATA
Kepala
Mata

: Pada status opthalmikus

Telinga : Tidak ada kelainan


Hidung : Tidak ada kelainan
Mulut
Leher

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan
2

Toraks

: Tidak ada kelainan

Abdomen

: Tidak ada kelainan

Genitalia

: Perempuan, tidak ada kelainan

Ekstremitas

: Tidak ada kelainan

STATUS OPTHALMIKUS
PEMERIKSAAN

OCULI DEXTRA

OCULI SINISTRA

Visus

6/12 (PH : 6/8)

6/12 (PH : 6/8)

Koreksi

Kor. Sph 0.50 menjadi 6/6

Kor.Sph 0.50 menjadi 6/6

Posisi

Orthoporia

Orthoporia

Palpebra Superior

Dalam Batas Normal

Dalam Batas Normal

Palpebra Inferior

Dalam Batas Normal

Dalam Batas Normal

Conj. Tars. Superior

Dalam Batas Normal

Dalam Batas Normal

Conj. Tars. Inferior

Dalam Batas Normal

Dalam Batas Normal

Conj. Bulbi

Dalam Batas Normal

Dalam Batas Normal

Kornea

Clear

Clear

COA

Sedang

Sedang

Pupil

Bulat, 2-3 mm,RC (+)

Bulat, 2-3 mm,RC (+)

Iris

Cokelat

Cokelat

Lensa

Jernih

Jernih

Gambar

DIAGNOSA : Miopia Oculi dextra et sinistra

TERAPI :

Kacamata Spheris -0.50 pada mata kanan dan -0.50 pada mata kiri

SARAN :

Kontrol pemeriksaan visus setiap tahun

EDUKASI

Menjaga kesehatan badan dan mata


Menjelaskan pada penderita bahwa penyakitnya bisa perbaiki dengan

kacamata.
Menjelaskan tidak boleh membaca sambil tiduran, tidak boleh membaca

ditempat remang-remang/cahaya kurang.


Kecocokan dengan kacamata yang diresepkan sekarang bisa berubah

sewaktu-waktu karena pertambahan usia dan perubahan struktur bola mata.


Menjelaskan tentang penting nya memakai kacamata koreksi dan
menjelaskan tentang komplikasi yang akan terjadi bila tidak memakai
kacamata.

PROGNOSIS

Dubia ad bonam

ANALISA KASUS
Pasien perempuan berusia 16 tahun, datang dengan keluhan mata terasa kabur
sejak lebih kurang dua bulan yang lalu. Mata terasa kabur dialami OS sejak lebih kurang 1
tahun yang lalu. Mata kabur timbul secara perlahan, awalnya mata kabur dirasakan tidak
terlalu mengganggu yang kemudian lama-kelamaan dirasakan OS mengganggu kegiatan
hariannya. Pasien juga mengeluhkan mata terasa kabur jika membaca agak jauh tetapi
lebih jelas waktu baca dekat. OS suka menyipitkan matanya saat OS melihat jauh dan
selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda pada matanya. Riwayat kebiasaan
membaca sambil tidur-tiduran (+) dan mengerjakan tugas di depan komputer dalam jangka
waktu yang cukup lama (+). Penderita pernah menggunakan obat tetes mata namun tidak
ada perbaikan sehingga penderita datang berobat ke poli mata RSUD dr. Pirngadi medan.
Berdasarkan kepustakaan bahwa pasien dengan miopia datang dengan keluhan kabur
melihat jauh, membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat, dan pasien dengan
miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi spheris
atau untuk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).
Diagnosis miopia ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi.
Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan berupa penglihatan kabur terutama saat
melihat benda atau tulisan pada jarak jauh. Penderita merasa lebih enak bila melihat atau
membaca dalam jarak dekat. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan
suatu keadaan refraksi mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga
dalam keadaan mata istirahat, dibiaskan di depan retina sehingga retina didapatkan
lingkaran difus dan bayangan kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat
mungkin dibiaskan tepat diretina tanpa akomodasi. Pada pemeriksaan oftalmologi
didapatkan visus okuli dekstra 6/12 dan visus okuli sinistra 6/12. Setelah menggunakan
pinhole, visus mengalami kemajuan menjadi visus okuli dekstra 6/8 dan visus okuli
sinistra 6/8. Mata kanan dikoreksi dengan lensa spheris (-) 0.50 D, dan mata kiri dikoreksi
dengan lensa spheris (-) 0.50 D. Berdasarkan kepustakaan, miopia dapat dikoreksi dengan
pemakaian lensa spheris negatif.

Pasien ini diterapi dengan kacamata menggunakan lensa spheris negatif. Ukuran
lensa yang digunakan adalah yang terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat
dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa penderita
miopia diberikan lensa spheris negatif yang terkecil yang memberikan visus maksimal
agar penderita dapat melihat dengan baik tanpa melakukan akomodasi.
Komplikasi terburuk dari miopia adalah terjadinya ablasio retina, dimana sumbu
antero posterior bola mata yang terlalu panjang dapat menyebabkan terjadinya penipisan
sklera (skleraektasi) sehingga dapat terjadi ablasi dari retina. Selain itu komplikasi lain
yang dapat terjadi adalah terjadinya strabismus divergen.
Pada penderita miopia usia muda dianjurkan untuk menjaga kesehatan badan dan
mata, Usahakan untuk cukup beristirahat, Bila membaca jangan terus menerus dan
usahakan dalam posisi tegak, Kacamata harus terus dipakai, Penerangan haruslah sesuai,
yang terbaik adalah penerangan dari atas dan belakang.
Prognosis pada pasien ini adalah Dubia ad bonam, Hal ini sesuai dengan
kepustakaan bahwa Apabila penderita miopia dikoreksi dengan baik dan menjaga agar
mata dan badannya sehat maka prognosisnya baik.