Anda di halaman 1dari 5

Penggunaan Material Aluminium sebagai Bahan

Konstruksi

Oleh: Rakhmat Shafly Syabana (1506675472)


Material merupakan suatu hal yang memiliki peranan penting dalam dunia
konstruksi. Karena dalam membangun sebuah konstruksi, insinyur teknik sipil
harus mempertimbangkan material yang digunakan. Biaya yang efisien serta
material yang tahan lama (Long-life Materials) adalah sebagian dari hal-hal yang
dijadikan pertimbangan dalam memilih sebuah material.
Metal atau logam adalah material yang paling mudah ditemukan pada
sebuah konstruksi. Metal seperti aluminium, tembaga dan baja sangat sering
digunakan dalam pembangunan sebuah konstruksi. Mudahnya unsur-unsur logam
tersebut ditemukan dalam sebuah konstruksi, tentunya tidaklah terjadi tanpa
alasan. Sifat-sifat fisik, mekanik maupun kimiawi yang dimiliki oleh aluminium,
tembaga dan baja menjadi alasan mengapa penggunaan unsur-unsur tersebut
sangatlah lumrah.

Aluminium
Keberadaan logam ini sesungguhnya sudah terdeteksi semenjak tahun
1782 dimana Lavoiser seorang ilmuwan Prancis menduga aluminium terkandung
di dalam alumina. Dan setelah itu, perkembangan sejarah aluminium terus
berlanjut sebagai berikut:

Pada 1807, Humphrey Dhavy seorang kimiawan Inggris berhasil


memisahkan alumina dengan elektrokimia logam dan dari situ diperoleh

aluminium.
Pada 1821, biji sumber aluminium ditemukan di Lesbaux Prancis, dan
kemudian dinamakan bauksit.

Pada tahun 1825, Orsted, seorang ahli kimia Denmark berhasil


mendapatkan aluminium dengan memanaskan alumunium klorida dengan

kalium amalgam dan kemudian memisahkan merkuri secara destilasi.


Pada 1886, Charles Martin-Hall, mahasiswa Oberlin College Amerika
Serikat menemukan cara melarutkan alumina dengan lelehan klorit pada
960 derajat celcius dalam kotak yang dilapisi logam karbon yang
setelahnya dilewatkan arus listrik melalui ruang tersebut. Proses ini
dikenal dengan proses Hall-Heroult karena pada tahun yang sama seorang

prancis bernama Paul Heroult juga berhasil menemukannya.


Dan pada 1888, Karlf Josef Bayern seorang ahli kimia Jerman mampu
memperoleh aluina dari bauksit secara pelarutan kimia. Dan cara Bayer
inilah yang masih digunakan industry untuk memproduksi alumina dari
bauksit, dan cara ini disebut proses Bayer. (Davis, Jr, 1993)
Aluminium merupakan logam yang sangat mudah ditemui dalam kehidupan
sehari-hari karena aluminium merupakan unsur terbanyak ketiga yang dapat
ditemukan di kerak bumi setelah oksigen dan silicon. Dan sebagaimana hukum
supply and demand nyatakan ketika kuantitas suatu barang yang tersedia tinggi
maka harga dari barang tersebut akan rendah. Semakin menjadikan alasan
mengapa penggunaan aluminium dalam kehidupan sehari-hari sangatlah mudah
untuk ditemukan. Namun selain dikarenakan jumlah ketersediaan logam
aluminium yang berlimpah dan harganya yang murah, sifat aluminium yang
mudah berkombinasi dengan material lainnya juga menjadi alasan lain
penggunaan aluminium yang massive. Sebagai contoh penggunaan aluminium
dalam kehidupan sehari-hari, aluminium dapat digunakan untuk pintu garasi atau
kios, kaleng makanan cepat saji , atau bahkan komponen penyusun badan pesawat
terbang dan tentunya sebagai bahan konstruksi.
Aluminium atau yang dikenal sebagai unsur Al dalam tabel periodik
adalah unsur logam yang termasuk ke dalam golongan logam tidak ferus (nonferrous metal) yaitu logam yang tidak mengandung unsur besi. Aluminium secara
umum memiliki sifat fisik dan mekanik sebagai berikut :

Tabel 1.1 Karakteristik Logam Aluminium 1

Sifat
Notasi
Nomor Atom
Berat Atom (gr/mol)
Diameter Atom (Nm)
Densitas (gr/cm3)
Temperatur Lebur (Celcius)
Temperatur Didih (Celcius)
Modulus Elastisitas (GPa)
Yield Strength (MPa)
Poisson Ratio
Hardness (VHN)
Konduktivitas panas (J/KgC)
Ketahanan Korosi
Machinability
Formability

Nilai
Al
13
27
0,268
2,7
660
2467
71
25
0,35
15
237
Sangat Baik
Baik
Baik

Dari beberapa sifat umum aluminium, kita dapat melihat bahwa


aluminium merupakan logam yang memiliki massa jenis rendah serta kuat. Massa
jenis rendah yang dimiliki aluminium membuat logam ini menjadi logam yang
ringan. Namun meskipun ringan, logam ini tetaplah memiliki sifat yang kuat.
Namun sesungguhnya kekuatan aluminium terbilang rendah bila dibandingkan
dengan logam lain, khususnya baja. Akan tetapi dalam sebuah konstruksi, material
aluminium yang digunakan umumnya bukanlah aluminium murni melainkan
sebuah paduan (Alloy). Unsur Al, Mg dan Si biasanya dijadikan sebagai unsur
utama dan ditambahkan unsur-unsur lain, akan membuat paduan dengan sifat-sifat
tertentu yang dituju seperti yield strength yang meningkat, tahan korosi, dan
konduktifitas thermal yang baik. Dan dari unsur-unsur tertentu yang ditambahkan
inilah, kita dapat menentukan kualitas dari aluminium tersebut sebagai material
dalam konstruksi.
Aluminium adalah logam yang kuat, karena logam ini memiliki daya
ketahanan tinggi terhadap korosi. Aluminium resisten terhadap korosi karena
logam ini memiliki sifat kimiawi yang unik. Permukaan logam aluminium
terlapisi oleh lapisan tipis oksida yang melindungi logam ini dari udara, sehingga
aluminium menjadi resisten terhadap korosi. Ketahanan aluminium terhadap

korosi menyebabkan logam ini sangat sering dijadikan bahan untuk eksterior
seperti yang sering ditemukan pada bangunan tinggi (high rise building) atau
papan iklan (billboard). Selain korosi, aluminium juga memiliki ketahanan
terhadap suhu tinggi. Hal ini dibuktikan dengan tidak terjadinya perubahan bentuk
pada alumunium ketika dilakukan uji suhu. Dalam suhu tinggi, alumunium tidak
mengalami perubahan bentuk secara fisik. Namun terjadi perubahan komposisi
permukaan yang menyebabkan sifat fisik bahan berubah menjadi britle.
1

Brittleness is property of a material manifested by fracture without appreciable

prior plastic deformation. Sehingga ketika berada di suhu yang tinggi aluminium
akan cenderung patah. Karena sifat yang kuat terhadap korosi dan suhu tinggi,
maka aluminium sangatlah cocok untuk dijadikan sebagai material dalam sebuah
konstruksi.
Secara keseluruhan aluminium merupakan sebuah logam yang ideal untuk
digunakan sebagai material dalam konstruksi. Ketersediaannya yang berlimpah
serta harga yang murah, ditambah sifatnya yang kuat dan tahan terhadap korosi
dan panas membuat logam ini memang sangat cocok untuk digunakan sebagai
bahan konstruksi. Selain itu, ringannya logam ini juga mempermudah pekerjaan
insinyur sipil dalam mengkalkulasikan gaya yang muncul pada struktur yang akan
dibangun serta tidak menambahkan beban pada struktur. Dan yang terpenting,
mudahnya logam ini dijadikan sebagai paduan (alloy) membuat aluminium selalu
relevan untuk dijadikan sebagai material apapun.

Referensi:
Mark D. Licker (2003). Dictionary of Engineering (2 nd ed). New York: McGrawHill Education.
1 Mark D. Licker (2003). Dictionary of Engineering (2 nd ed). New York:
McGraw-Hill Education.

Atmodjo. SM, Harjanto. T, dan Jalil . A. 2007. Ketahanan Panas Paduan


Aluminium sebagai Bahan Konstruksi. Jurnal Perangkat Nuklir, Vol. 1, No.2.
http://jurnal.batan.go.id/index.php/jpn/article/view/567/496.

(Diakses

10

September 2016, 19.00 wib)


Effendi. A. 2012. Pembuatan Aluminium Busa melalui Proses Sinter dan
Pelarutan Garam. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125059-R040876-Pembuatan
%20aluminium-HA.pdf. (Diakses 11 September 2016, 16.00 wib)
http://chemistry.elmhurst.edu/vchembook/102aluminum.html