Anda di halaman 1dari 2

Bab 2 : Prinsip-Prinsip Etis dalam Bisnis

2.1 Utilitarianisme: Menimbang Biaya dan Keuntungan Sosial


Utilitarianisme adalah istilah umum semua pandangan yang menyatakan bahwa
tindakan dan kejadian dievaluasi berdasarkan keuntungan dan biaya yang dibebankan pada
masyarakat. Dalam siatuasi apapun, tindakan atau kebijakan yang benar adalah yang
memberikan keuntungan paling besar atau biaya paling kecil. Ketika perusahaan Ford di
hadapkan untuk membuat sebuah mobil yang murah bernama Pinto, namun timbul
kecemasan dari perusahan terhadap 2 pilihan yakni pertama mereka harus mengeluarkan
biaya lebih untuk membuat modifikasi pengaman, jika hal ini di lakukan maka harus
menaikan harga Pinto di pasaran atau perusahaan akan mengalami kerugian. Kedua, tidak
perlu melakukan modifikasi, namun resiko kecelakaan yang di dapat oleh pembeli lebih besar
namun harga Pinto tetap murah dan perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang banya.
Sehingga keputusan Ford untuk tetap memproduksi Pinto tanpa modifikasi keselamatan di
anggap benar oleh paham utilitarianisme. Sehingga dapat digambarkan bawa kasus Pinto,
jelas bahwa utilitarianisme mengabaikan aspek-aspek penting dari etika.
2.2 Hak dan Kewajiban
Para eksekutif Microsoft mengajukan permasalahan terkait pelanggaran HAM pekerja
di China pada April 2000, namun para manajer Microsoft beranggapan teah menjalankan
bisnis di China sudah sesuai dengan kode etik, dan tidak melakukan pelanggaran serta tidak
perlu mempertimbangkan HAM karena hal itu berarti meniadakan netralitas politik. Para
manajer beranggapan bahwa mereka harus menghargai aturan yang berlaku di negara tempat
menjalankan operasi perusahaan. Selain utilitarianism, terdapat dasar hak moral yang di
sampaikan oleh teori etis yang kemudian dikembangkan oleh Immanuel Kant (1724-1804).
Kant berusaha menunjukan bahwa ada hak dan kewajiban moral yang dimiliki oleh semua
manusia, apapun keuntungan utilitarian yang diberikan dari pelaksanaan hak dan
kewajibantersebut kepada orang lain. Namun Kant di bantah oleh Robert Nozik yang
menyatakan bahwa satu-satunya hak sassi yang di miliki setiap orang adalah hak negatif
untuk tidak mendapatkan paksaan atau tekanan dari orang lain.
2.3 Keadilan dan kesamaan
Brown lung merupakan penyakit pernapasan kronis disebabkan oleh menghirup debu
kapas dan menyebabkan kematian. Sedangkan kasus Black lung yang di derita oleh pekerja
tambang mendapatkan perhatian lebih dari negara federal, hal ini membuat para penderita
brown lung merasa tidak adanya keadilan. Dalam kasus brown lung istri dari korban
mengklaim demi keadilan, mereka berhak mendapakan kompensasi dari pabrik kapas karena
kerugian yang mereka dapat sesuai dengan keadilan kompensatif.
2.4 Etika Memberi Perhatian
Pabrik Malden Mills di Lawrence, Massachussets mengalami kebakaran, yang
menghancurkan pabrik dan melukai pekerja sehingga pabrik ini mengalami banyak kerugian,
namun pemilik pabrik ini justru ingin tetap membangun pabrik baru di Lawrence dan tetap
menggaji para pekerja meskipun tidak bekerja selama pabrik di bangun. Dalam kasus ini,
alasan mengapa pemilik pabrik Malden melakukan hal di atas karena memperhatikan etika
komunitarian dan tidak hanya memandang ke arah ulitias. Etika komunitarian adalah etika
yang melihat komunitas dan hubungan-hubungan yang ada di dalamnya sebegai sesuatu yang

melihat nilai fundamental dan perlu dipertahankan. Memadukan Utilitas, Hak, Keadilan dan
Perhatian
Standar Moral:
1.Memaksimalkan
utilitas sosial
2.Menghargai hak
moral
3.Mendistribusikan
keuntungan dan beban
secara adil

Informasi
Faktual:
Berkaitan
dengan
kebijakan.
Institusi, atau

Penilaian Moral atas


baik buruknya
kebijakan, institusi,
atau perilaku

2.5 Prinsip Moral Alternatif: Etika Kebaikan


Etika kebaikan melihat pokok permasalahan tidak hanya fokus pada tindakan namun
pada karakter pelaku tindakan itu sendiri. Sehingga pada kasus yang di lakukan oleh Boesky
yang terkenal baik namun suatu waktu Boesky melakukan kesalahan yang menjerat dia
kedalam penjara. Kemudian hal ini di maknai tidak hanya melihat kesalahan Boesky saat itu,
namun perlu di pertimbangkan karakternya selama ini.
2.6 Moralitas dalam konteks Internasional
Ketika berbicara moralitas dalam dunia Internasional tentunya setiap negara memiliki
standar moralitas yang berbeda-beda yang boleh jadi berbenturan antara satu negara dengan
negara lain. Jika perusahaan Internasional atau Multinational Coorporation yang tentunya
melakukan ekspansi ke luarnegeri maka ada baiknya memperhatikan apa yang menjadi
standar moral di pemerintahan lokal negara tersebut, karena pemerintah lokal merupakan
representasi dari warga mereka.

Traidos Bank and Roches Drug Trial in China


Apabila melihat dari sudut pandang utilitarian maka hal yang telah di lakukan oleh
Roche benar, karena dapat menurunkan biaya sosial namun dapat memaksimalkan
keuntungan sosial yang lebih besar. Sedangkan apabila dilihat dari kasus tersebut, Roche
hanya menggunakan tahanan yang akan di eksekusi mati, sehingga lebih baik tubuhnya dapat
bermanfaat setelah meninggal dibandingkan meninggal dengan sia-sia. Pemanfaatan organ
tersebut bukan tanpa alasan. Roche memiliki alasan kuat, karena dengan di lakukannya riset
di China, Roche mampu membuat obat bernama CellCept yang dapat berpotensi untuk
menyelamatkan ribuan pasien yang mengalami post-transplant organ rejection, penemuan
obat ini dapat menyelamatkan hidup banyak orang.
Namun jika di lihat dari sudut pandangan dari prinsip etika hak, maka perbuatan
Roche tidak bisa dibenarkan karena dalam pandangan prinsip etika hak, setiap individu dapat
memilih dengan bebas apapun kepentingan dan aktivitas yang ingin di lakukannya, termasuk
hak untuk mengklaim perlakuan orang lain kepadanya. Jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa
dalam prinsip etika hak yang dilakukan oleh Roche telah melanggar hak milik pribadi karena
telah mengambil organ dari tahanan di China, serta tidak boleh adanya pemaksaan terhadap
tahanan tersebut untuk memberikan organnya.
Sumber: Manuel G. Velasquez, Business Ethics