Anda di halaman 1dari 31

5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Skizofrenia
Menurut Paul Gunadi (2009), skizofrenia adalah penyakit otak yang timbul akibat
ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Skizofrenia juga
merupakan gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif
atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali
skizofrenia diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa
ada rangsang pancaindra).
Delusi adalah pikiran yang tidak rasional atau anggapan-anggapan yang tak berdasar
yang tidak rasional lagi. Misalnya, kita menganggap bahwa kita adalah superman atau
kita menganggap kita adalah hewan. Inilah yang disebut dilusi, pikiran tidak lagi rasional.
Sedangkan halusinasi adalah kelanjutan dari dilusi, dia bukan saja tidak memiliki pikiran
yang tidak lagi rasional, namun dia melibatkan panca indranya di alam khayalnya itu.
Jadi, halusinasinya kita sebut halusinasi penglihatan karena dia mulai melihat hal-hal
tertentu yang sebetulnya tidak ada. Misalnya, dia melihat seseorang dan seseorang itu
berbicara dengan dia, atau halusinasi pendengaran, yaitu dia mulai mendengar orang
berkata-kata dengan dia sehingga dia juga memberi respons bercakap-cakap dengan
orang tersebut meskipun sebetulnya keduanya ini tidak ada. Skizofrenia bisa mengenai
siapa saja (Gunadi, 2009).
Kreapelin, seorang ahli kedokteran jiwa di kota Munich, mengumpulkan gejala-gejala
dan sindroma serta menggolongkannya ke dalam satu kesatuan yang dinamakan
demensia prekox. Menurut Kreapelin, skizofrenia terjadi karena kemunduran intelegensi

6
sebelum waktunya, oleh sebab itu dinamakan nya demensia (kemunduran inteligensi)
prekox (muda, sebelum waktunya).
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal,
fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non
spesifik yang lamanya bisa mingguan, bulanan ataupun lebih dari satu tahun sebelum
onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi
sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan
ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan
mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin
buruk prognosisnya (Nantingkaseh, 2007).
Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,
inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang
berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang
spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan (Nantingkaseh, 2007)..
Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase
prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala
yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan
kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan
eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial) (Nantingkaseh, 2007).
Menurut Teguh Vedder (2007), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya
penyakit skizofrenia antara lain sejarah keluarga, tumbuh kembang di tengah-tengah kota,
penyalahgunaan obat seperti amphetamine, komplikasi kehamilan, stress yang
berlebihan, dan depresi.

7
Depresi adalah gangguan perasaan (afek) yang ditandai dengan afek disforik
(kehilangan kegembiraan/gairah) disertai dengan gejala-gejala lain seperti gangguan tidur
dan menurunnya selera makan. Depresi sulit dibedakan dari gangguan cemas. Orang
yang depresi mungkin tampil dengan kecemasan yang mencolok sehingga gejala-gejala
depresi yang lebih ringan seperti kehilangan selera makan, gangguan tidur, dan capek
sering kali terlewatkan (Reborn, 2008).

2.2 Epidemioilogi
Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1
sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. Berdasarkan
jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan
perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35
tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita
(Nantingkaseh, 2007).
Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita
penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum
kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba
bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh
diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi
(Nantingkaseh, 2007).
Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira kina 30% sampai
50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian
menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena

8
penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa
kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi
umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti
psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga
menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak
dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan
bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia (Nantingkaseh, 2007).

2.3 Etiologi
2.3.1. Teori somatogenik
Teoi somatogenik adalah teori yang mencari penyebab skizofrenia dalam kelainan
badaniah. Faktor somatogenik terdiri dari keturunan, endokrin, metabolisme dan
kerusakan susunan saraf pusat.
1. Keturunan
Faktor keturunan menentukan timbulnya skizofrenia, hal ini telah di buktikan
dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skozofrenia dan terutama
anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri adalah 0,9-1,8%, bagi
saudara kandung 7-15%, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita
skizofrenia 7-16%, bila kedua orang tua menderita skizofrenia 40-68%, bagi kembar
dua telur (heterozigot) 2-15%, bagi kembar satu telur (monozigot) 61-86%. Disangka
bahwa potensi untuk mendapatkan skizofrenia diturunkan melalui gene yang resesif.
Potensi ini mungkin kuat, mungkin lemah, tetapi selanjutnya tergantung pada

9
lingkungan individu, apakah akan terjadi skizofrenia atau tidak (mirip hal genetik
pada diabetes mellitus)
2. Endokrin
Dahulu skizofrenia dikira disebbakan olehsuatu gangguan endokrin dihubungkan
dengn sering timbulnya skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan, dan
waktu klimakterium. Tetapi hal ini tidak dapat dibuktikan.
3. Metabolisme
Ada yang menyangka bahwa skizofrenia diakibatkan oleh gangguan metabolism.
Hal ini dikarenakan penderita skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung ekstrimitas
agak sianotis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun. Tapi hal ini belum
dapat dibuktikan
4. Susunan saraf pusat
Ada yang mencari penyebab skizofrenia ke arak kelainan saraf pusat, yaitu pada
diensefalon dan kortex otak. Tetapi kelainan patologis yang disesabkan oleh
perubahan-perubahan postmortem atau merupakan artefak pada waktu mau membuat
sediaan.
Dari uraian diatas, dapat dipastikan bahwa faktor keturunan dapat menimbulkan
terjadinya skizofrenia sedangkan endokrin, metabolisme dan kerusakan susunan saraf
pusat, ketiga hal ini tidak dapat dibuktikan.

10
2.3.2 Teori psikogenik
Teori psikogenik adalah teori yang mengatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh
suatu gangguan fungsional dan penyebab utamanya adalah konflik, stres psikologik, dan
hubungan antar manusia yang mengecewakan.

2.3.3 Teori Adolf Mayer


Menurut Mayer (1906), skizofrenia adalah suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi.
Oleh karena itutimbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu dapat
menjaukan diridari kenyataan (otisme). Dan inilah yang disebut dengan reaksi
skizofrenik.

2.3.4 Teori Sigmund Freud


Menurut Freud, pada diri penderita skizofrenia terdapat :
1. kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik atupun somatik
2. superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan terjadi suatu regresi
ke fase narsisme.
3. Kehilangan kapasitas untuk pemindahan sehingga terapi psikoanalitik tidak
mungkin dilakukan.

2.3.5 Teori Eugen Bleuler


Menurut Bleuler, pada penderita skizofrenia tidak terdapat demensia, tetapi keinginan
dan pikiran berlawanan, terdapat suatu disharmoni. Pada tahun 1911 Bleuler
menganjurkan supaya lebih baik dipakai istilah skizofrenia karena nama ini tepat sekali

11
menonjolkan gejala utama penyakit ini, yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan
atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan (schizos = pecah belah
atau bercabang, phren = jiwa)

2.3.6 Teori skizofrenia sebagai suatu sindroma


Teori ini menganggap bahwa skizofrenia dalah suatu sindroma yang disebabkan oleh
bermacam-macam sebab, antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi,
tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosa otak, dan penyakit lain
yang belum diketahui.

2.3.7 Teori skizofrenia sebagai suatu gangguan psikosomatik


Pada teori ini meyebutkan bahwa skizofrenia memiliki kesukaran untuk menentukan
mana yang primer dan mana yang sekunder, atau dapat dikatakan, mana yang merupakan
penyebab, dan mana yang hanya akibatnya saja.

2.4 Gejala-Gejala
Menurut Bleuler, gejala skizofrenia dibagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder
2.4.1. Gejala primer
1. Gangguan proses pikiran
Gangguan isi pikir adalah gejala paling sulit untuk dimengerti bagi banyak
klinis dan mahasiswa. Gangguan berpikir pada kenyataannya dapat merupakan
gejala inti dari skizofrenia. Satu cara untuk memperjelas gangguan berpikir
adalah membaginya menjadi isi pikiran, bentuk pikiran dan proses berpikir

12
Pada skizofrenia inti gangguan terdapat pada proses pikiran, yang
terganggu terutama asosiasi. Kadang suatu ide belum selesai diutarakan, tetapi
sudah timbul ide baru, atau terdapat pemindahan maksud. Jalan pikiran
skizofrenia sukar atau tidak dapat diketahui dan dimengerti serta tidak dapat
diikuti sama sekali, hal ini yang dinamakan inkoherensi. Jalan pikiran mudah
dibelokkan dan hal ini menambah inkoherensinya.
Gangguan proses berpikir dapat berupa flight of ideas, hambatan pikiran
(though blocking), gangguan perhatian, kemiskinan isi pikiran, kemampuan
abstraksi yang buruk, perseverasi, asosiasi idiosinkratik (sebagai contohnya,
predikat identik, dan asosiasi bunyi), melibatkan diri secara berlebihan (overinclusion), dan sirkumstansialitas (Karpalin, 1997).
Bentuk pikiran, gangguan bentuk pikiran secara objektif terlihat dalam
ucapan dan bahasa tulisan pasien. Gangguan berupa kelonggaran asosiasi, hal
yang keluar dari jalurnya, inkoherensi, tangensialitas, sirkumstansialitas,
neologisme, ekolalia, verbigerasi, gado-gado kata, dan mutisme. Walaupun
kelonggaran asosiasi pernah digambarkan sebagai patognomonik untuk
skizofrenia. Gejala sering sekali didapatkan pada mania. Membedakan antara
kekenduran asosiasi dan tangensialitas mungkin sulit bahkan bagi dokter yang
berpengalaman (Karpalin, 1997).
Seorang dengan skizofrenia dapat juga mempunyai kecendrungan untuk
menyamakan hal-hal, atau kadang pikiran seakan-akan berhenti, tidak timbul
ide lagi, keadaan ini yang dinamakan blocking yang biasanya berlangsung
hanya beberapa detik atau bisa dalam beberapa hari.

13
Ada penderita yang mengatakan bahwa seperti ada sesuatu yang lain di
dalam pikirannya, timbul ide-ide yang tidak dikehendaki yaitu sebuah tekanan
pikiran pressure of thought. Bila suatu ide berulang-ulang timbul dan
diutarakan dinamakan perseverasi atau stereotipi pikiran.
2. Gangguan afek dan emosi
a. Kedangkalan afek dan emosi
Penderita menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal yang penting untuk
dirinya sendiri, seperti keadaan keluarga dan masa depannya. Perasaan
halus sudah hilang.
b. Parathimi
Sesuatu yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada
penderita timbul rasa sedih atau marah.
c. Paramimi
Penderita merasa senang dan gembira akan tetapi ia menangis
d. Gangguan afek dan emosi yang khas pada skizofrenia
1. Emosi, afek dan eksperinya tidak memiliki kesatuan.
2. Emosi yang berlebihan, sehingga seperti terlihat dibuat-buat, atau
seperti penderita yang sedang bermain sandiwara.
3. Hilangnya kemampuan untuk melakukan hubungan emosi dengan baik
karena itu sering kali perasaan penderita skizofrenia tidak dapat kita
rasakan.

14
4. Karena terpecah-belahnya kepribadian, maka dua hal yang berlawanan
mungkin terdapat bersama-sama. Ini yang dinamakan ambivalensi
pada afek.
3.

Gangguan kemauan
Penderita skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan, tidak dapat
mengambil keputusan, dan tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan.
Gangguan kemauan ini meliputu negativisme, ambivalensi kemauan dan
otomatisme. Negativisme adalah sikap atau perbuatan yang negatif atau yang
berlawanan dengan permintaan. Ambivalensi kemauan adalah menghendaki
dua hal yang berlawanan pasa waktu yang sama, jadi sebelum suatu
perbuatanselesai sudah timbul dorongan yang berlawanan. Otomatisme adalah
penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau oleh tenaga
dari luar, sehingga ia melakukan sesuatu secara otomatis.

4.

Gangguan psikomotor
Gejala ini juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan.
Sebenarnya gangguan katatonik sering mencerminkan gangguan kemauan.

2.4.2 Gejala sekunder


1. Waham
Mayer-Gross membagi waham dalam 2 kelompok, yaitu waham primer dan
waham sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa
penyebab

apa-apa

dari

luar.

Sedangkan

waham

sekunder

biasanya

15
kedengarannya logis. Waham dinamakan menurut isinya, contohnya waham
kebesaran, waham sindiran, waham dosa, dan sebagainya.
Gangguan isi pikiran mencerminkan gagasan, keyakinan, dan interpretasi
pasien tentang stimuli. Waham adalah contoh yang paling jelas dari gangguan
isi pikiran. Waham dapat bervariasi pada pasien skizofrenia, waham kejar,
kebesaran, keagamaan, atau somatic. Pasien mungkin percaya bahwa
lingkungan luar mengendalikan pikiran atau perilaku mereka, atau sebaliknya.
Bahwa mereka mengendalikan kejadian-kejadian di luar dalam cara yang luar
biasa (sebagai contohnya, menyebabkan matahari terbit dan tenggelam dan
mencegah gempa bumi). Pasien mungkin memiliki keasyikan (preokupasi) yang
kuat dan menghabiskan waktu dengan gagasan yang hanya dapat diketahui dan
dipahami oleh orang tertentu saja (esoterik), abstrak, simbolik, psikologis, atau
filosofi. Pasien mungkin juga memperhatikan tentang kondisi somatik yang
diduga mengancam kehidupan tetapi sangat kacau dan tidak masuk akal,
sebagai contohnya adanya benda asing di dalam testis pasien dan
mempengaruhi kemampuannya untuk memiliki anak (Kaplan, 1997).
2. Halusinasi
Pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini
merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Paling
sering pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran (oditif atau akustik) dalam
bentuk suara manusia, bunyi barang-barang atau siulan. Terdapat juga halusinasi
penciuman (olfaktorik), halusinasi cita rasa (gustatorik) atau halusinasi

16
singgungan (taktil). Halusinasi penglihatan agak jarang pada skizofrenia, bila ada
maka biasanya itu adalah stadium permulaan.
Gangguan persepsi, pada pasien psikiatrik sebab dari 5 indera dapat
dipengaruhi oleh pengalaman halusinasi. Tetapi, halusinasi yang paling sering
adalah halusinasi dengar. Suara-suara seringkali mengancam, kotor, menuduh.
Dua atau lebih suara dapat saling berbicara satu sama lainnya, atau sebuah suara
mungkin berkomentar tentang perilaku atau kehidupan pasien. Halusinasi lihat
adalah sering ditemukan, tetapi halusinasi raba, cium, dan kecap adalah jarang.
Keberadaan halusinasi tersebut harus segera mengarahkan dokter untuk
mempertimbangkan kemungkinan gangguan medis atau neurologis yang
mendasari yang menyebabkan keseluruhan sindroma. Halusinasi kenestetik,
adalah sensasi perubahan keadaan organ tubuh yang tidak mempunyai dasar.
Contoh dari halusinasi kenestetik adalah perasaan terbakar di otak, sensasi
mendorong dipembulu darah, dan sensasi memotong di sum-sum tulang (Kaplan,
1997).
Ilusi, berbeda dengan halusinasi, ilusi adalah suatu penyimpangan (distorsi)
dari citra atau sensasi yang sesungguhnya, sedangkan halusinasi adalah tidak
didasari pada citra atau sensasi yang nyata. Ilusi dapat terjadi pada pasien
skizofrenia selama fase aktif gangguan, tetapi juga dapat terjadi selama fase
prodromal dari gangguan dan selama periode remisi. Bilamana ilusi atau
halusinasi terjadi, klinis harus masih mempertimbangkan kemungkinan penyebab
gejala yang berhubungan dengan obat, bahkan pada seseorang pasien yang telah
mendapat diagnosis skizofrenia (Kaplan, 1997).

17
2.5 Jenis Skizofrenia
Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders Fourth Edition Text Revised
(DSM-IV-TR) membagi skizofrenia atas subtipe secara klinik, berdasarkan kumpulan
symptom yang paling menonjol. Pembagian subtipe skizofrenia:
1. Tipe katatonik
Yang menonjol simptom katatonik.
2. Tipe disorganized
Adanya kekacauan dalam bicara dan perilaku, dan afek yang tidak sesuai atau
datar.
3. Tipe paranoid
Simptom yang menonjol merupakan adanya preokupasi dengan waham atau
halusinasi yang sering.
4. Tipe tak terinci (undifferentiated)
Adanya gambaran simtom fase aktif, tetapi tidak sesuai dengan kriteria untuk
skizofrenia katatonik, disorganized, atau paranoid. Atau semua kriteria untuk
skizofrenia katatonik, disorganized, dan paranoid terpenuhi.
5. Tipe residual
Merupakan kelanjutan dari skizofrenia, akan tetapi simptom fase aktif tidak lagi
dijumpai.
Menurut Kreapelin pembagian skizofrenia menjadi beberapa jenis, yaitu :
1. Skizofrenia simplex

18
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utamanya adalah kedangkalan
emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan. Waham dan
halusinasi jarang sekali didapatkan. Skizofrenia jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali.
2. Skizofrenia hebefrenik
Permulaan nya perlahan-lahanatau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau
antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan
kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor
seperti mannerism, neologisme atau prilaku kekanak-kanakan. Waham dan halusinasi
banyak sekali.
3. Skizofrenia Katatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut dan sering
didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor
katatonik. Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali
terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Gejala yang penting adalah gejala
psikomotor seperti :
a. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup.
b. Muka tanpa mimik, seperti topeng.
c. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberpa
hari, bahkan kadang sampai beberapa bulan.
d. Bila diganti posisinya penderita menentang, negativisme.
e. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam mulut
dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
f. Terdapat grimas dan katalepsi

19
Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai
dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara dan bergerak saja, menunjukan stereotipi, manerisme, grimas
dan neologisme. Penderita tidak dapat tidur, tidak makan dan tidak minum sehingga
mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps dan kadang-kadang kematian.
4. Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia jenis ini agak berbeda dengan jenis yang lainnya. Skizofrenia paranoid
perjalanannya agak konstan. Gejala-gejala yang menyolok adalah waham primer disertai
dengan waham-waham sekunderdan halusinasi, adanya gangguan proses berfikir,
gangguan afek, emosi dan kemauan. Jenis ini sering mulai sesudah umur 30 tahun.
Penderita skizofrenia jenis ini mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak, dan
kurang percaya pada orang lain.
Skizofrenia tipe paranoid ditandai dengan keasyikan (preokupasi) pada satu atau lebih
waham atau halusinasi dengar, dan tidak ada perilaku spesifik lain yang mengarah pada
tipe terorganisasi atau katatonik. Halusinasi yang paling sering adalah halusinasi dengar.
Suara-suara seringkali mengancam, kotor, menuduh. Dua atau lebih suara dapat saling
berbicara satu sama lainnya, atau sebuah suara mungkin berkomentar tentang perilaku
atau kehidupan pasien (Kaplan, 1997).
Tipe paranoid ini ditandai terutama oleh adanya waham persekutorik (waham kejar),
atau waham kebesaran.juga kekuatan ego pasien paranoid cenderung lebih besar dari
pasien katatonik dan terdisorganisasi (Kaplan, 1997).

20
5. Episoda Skizofrenia Akut
Gejalanya timbul mendadak sekali dan penderita seperti dalam keadaan mimpi.
Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia
luar maupun dirinya sendiri berubah, senmuanya seakan-akan mempunyai satu aarti yang
khusus baginya (keadaan oneiroid)
6. Skizofrenia Residual
Keadaan skizofrenia denga gejala-geljala primer yang telah dibagi oleh Bleuler tetapi
gejal-gejala sekundernya tidak jelas. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan
skizofrenia. Biasanya terdapat asosiasi longgar, simbolisme dan asosiasi bunyi.
7. Skizofrenia skizo-afektif
Disamping gejala-gejala skizofrenia dapat menonjol secara bersamaan juga gejalagejala depresi (skizo-depresif) atau gejala-gejala mania (skizo-manik). Jenis ini
cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek , tetapi mungkin juga timbul serangan.

2.6 Diagnosa
Berdasarkan PPDGJ III, kriteria diagnostik untuk skizofrenia adalah :
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. 1. thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama,
namun kualitasnya berbeda; atau
2. thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan

21
3. thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. 1. delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
2. delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas merujuk
kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau
penginderaan khusus);
3. delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat.
c. Halusinasi auditorik:
1. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku
pasien, atau
2. Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara
berbagai suara yang berbicara), atau
3. Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan
mahluk asing dan dunia lain)
2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
a. Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau
berbulan-bulan terus menerus;

22
b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation),
yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau
neologisme;
c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
d. gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi
oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
3. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal)
4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat
sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri
secara sosial.
Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima
karakter berikut: F20.X0 Berkelanjutan, F20.X1 Episodik dengan kemunduran progresif,
F20.X2 episodik dengan kemunduran stabil, F20.X3 Episode berulang, F20.X4 remisi tak
sempurna, F20.X5 remisi sempurna, F20.X8. lainnya, F20.X9 periode pengamatan
kurang dari satu tahun.
F.20 Skizofrenia Paranoid
Pedoman diagnostik :

23
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
a. Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
1. Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,
atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit
(whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
2. Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau
lain-lain perasaan tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang
menonjol.
3. Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan
(delusion of control), dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity
(delussion of passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka
ragam, adalah yang paling khas;
b. Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata / tidak menonjol.
Diagnosa Banding :
1. Epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
2. Keadaan paranoid involusional (F22.8)
3. Paranoid (F22.0)

24
F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik
1. Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).
3. Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary),
namun tidak harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas
berikut ini
4. Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3
bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
memang benar bertahan :perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat
diramalkan, serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan
perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien yang
dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan
(gigling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self
absorbed smiling) atau sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai,
(grimaces), manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases), dan proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang
tak menentu (rambling) dan inkoherens.

25
5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya
menonjol, halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and
fragmentaty delusion and hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan tampa
maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat
dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin
mempersukar orang memahami jalan pikirannya.
F20.3 Skizofrenia Tak terinci (undifferentiated)
Pedoman diagnostik :
1. Memenuhi kriteria umu untuk diagnosa skizofrenia
2. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik.
3. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca
skiszofrenia

F20.5 Skizofrenia Residual


Pedoman diagnostik:
Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan, persyaratan berikut harus di penuhi semua:
1. Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan
psikomotorik, aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketidak

26
adaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non
verbal yang buruk, seperti ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi
tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang buruk.
2. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang
memenuhi kriteria untuk diagnosa skizofrenia
3. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan
frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang
(minimal) dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia
4. Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi
kronis atau institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.
F20.6 Skizofrenia Simpleks
Pedoman diagnostik :
1. Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada
pemantapan perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari: (1) gejala
negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi
waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. Dan (2) disertai dengan
perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai
kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu tanpa tujuan hidup, dan
penarikan diri secara sosial.
2. Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type
skisofrenia lainnya.

27
Menurut Bleuler, diagnosa skizofrenia sudah boleh dibuat apabila terdapat gangguangangguan primer dan disharmoni pada unsur-unsur kepribadian (proses berfikir,
afek/emosi, kemauan dan psikomotorik), diperkuat dengan adanya gejala-gejala
sekunder.
Menurut Kurt Schneider, yang telah menyusun gejala ranking pertama, diagnosa
skizofrenia sudah boleh dibuat apabila terdapat satu gejala dari kelompok A dan satu
gejala dari kelompok B dengan syarat bahwa kesadaran penderita tidak menurun. Gejala
ranking pertama menurut Schneider :
a. Halusinasi pendengaran
1. Pikirannya dapat didengar sendiri.
2. Suara-suara yang sedang bertengkar.
3. Suara-suara yang menomentari perilaku penderita.
b. Gangguan batas ego
4. Tubuh dan gerakan-gerakan penderita dipengaruhi oleh suatu kekuatan dari
luar.
5. Pikirannya diambil atau disedot keluar.
6. Pikirannya dipengaruhi oleh orang lain atau pikirannya itu dimasukkan
kedalamnya oleh orang lain.
7. Pikirannya diketahui oleh orang lain atau pikirannya disiarkan keluat\r secara
umum.
8. Perasaannya dibuat oleh orang lain .
9. Kemauannya atau tindakannya dipengaruhi oleh orang lain.
10. Dorongannya dikuasai orang lain.

28
11. Persepsi yang dipengaruhi oleh waham.
Menurut

Kusumanto

Setyonegoro,

diagnosa

skizofrenia

adalah

dengan

memperhatikan gejala-gejala pada tiga buah koordinat, yaitu :


1. Koordinat pertama, yaitu otisme, gangguan afek dan emosi, gangguan asosiasi
(proses berfikir), ambivalensi (gangguan kemauan), gangguan aktivitas (abulia
atau kemauan yang menurun), dan gangguan konsentrasi.
2. Koordinat kedua, yaitu gangguan pada cara berfikir yang tidak sesuai lagi dengan
perkembangan

kepribadian,

dengan

memperhatikan

perkembangan

ego,

sistematik motivasi dan psikodinamika dalam interaksi dengan lingkungan.


3. Koordinat ketiga, yaitu gangguan pada kehidupan sosial penderita yang
diperhatikan secara fenomenologik.

2.7 Tinjauan Yang Mempengaruhi Tingginya Kejadian Skizofrenia


1. Jenis kelamin
gejala-gejala awal biasanya terjadi pada masa remaja atau awal dua puluhan,
dan perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki
laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih
buruk pada laki laki dibandingkan wanita (Nantingkaseh, 2007).
2. Status marital
Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orangorang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa
menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia (Nantingkaseh, 2007).

29
2.8 Prognosis
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang
mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu
sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan.
Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi
sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti
: usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial atau pekerjaan pramorbid baik,
gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan
gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada
faktor

pencetus,

onset

tidak

jelas,

riwayat

sosial

buruk,

autistik,

tidak

menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala


negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat
agresif akan memberikan prognosis yang buruk (Nantingkaseh, 2007).
Fase residual sering mengikuti remisi gejala psikotik yang tampil penuh, terutama
selama tahun-tahun awal gangguan ini. Gejala dan tanda selama fase ini mirip dengan
gejala dan tanda pada fase prodromal; gejala-gejala psikotik ringan menetap pada sekitar
separuh penderita. Penyembuhan total yang berlangsung sekurang-kurangnya tiga tahun
terjadi pada 10% pasien, sedangkan perbaikan yang bermakna terjadi pada sekitar dua per
tiga kasus. Banyak penderita skizofrenia mengalami eksaserbasi intermitten, terutama
sebagai respon terhadap situasi lingkungan yang penuh stress. Pria biasanya mengalami
perjalanan gangguan yang lebih berat dibanding wanita. Sepuluh persen penderita
skizofrenia meninggal karena bunuh diri (Reborn, 2008).

30
Prognosis baik berhubungan dengan tidak adanya gangguan perilaku prodromal,
pencetus lingkungan yang jelas, awitan mendadak, awitan pada usia pertengahan, adanya
konfusi, riwayat untuk gangguan afek, dan system dukungan yang tidak kritis dan tidak
terlalu intrusive. Skizofrenia Tipe I tidak selalu mempunyai prognosis yang lebih baik
disbanding Skizofrenia Tipe II. Sekitar 70% penderita skizofrenia yang berada dalam
remisi mengalami relaps dalam satu tahun. Untuk itu, terapi selamanya diwajibkan pada
kebanyakan kasus (Reborn, 2008).

2.9 Terapi
Menurut dr.Luana Nantingkaseh A, SpKJ (2007), tatalaksana terapi pada skizofrenia,
meliputi:
1. Psikofarmaka
a.Pemilihan obat
Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek
klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder
(efek

samping:

sedasi,

otonomik,

ekstrapiramidal).

Pemilihan

jenis

antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek


samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat
antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah
optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat
antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis
ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya
sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih
kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari

31
gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal, Sebaliknya bila
gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah
tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal
pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar dipasaran
dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama
(APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja dengan
memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan
tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi
pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan
ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan
menyebabkan disfungsi seksual/peningkatan berat badan dan memperberat
gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping
antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi
dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang
digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine,
fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk
mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri,
hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50
mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada
penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur.
APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau
antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke
empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping

32
extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia
untuk

golongan

ini

adalah

clozapine,

olanzapine,

quetiapine,

dan

danrispendon.
b.
Pengaturan dosis
1. Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:
Onset efek primer (efek klinis) : 2-4 minggu
2. Onset efek sekunder (efek samping) : 2-6 jam
3. Waktu paruh : 12-24 jam (pemberian 1-2 x/hr)
4. Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar)
sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita.
5. Obat antipsikosis long acting : fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau
haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4 minggu. Berguna untuk
pasien yang tidak/sulitininum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.
c. Cara / Lama pemberian
Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 23 hr sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap
2ininggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan
8-12 minggu (stabilisasi). Diturunkan setiap 2 minggu (dosis maintenance)
lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun ( diselingi drug holiday 1-2 /
hari / minggu) setelah itu tapering off (dosis diturunkan 2-4 minggu) lalu
stop. Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multiepisode, terapi
pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat
kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat antipsikosis
sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua
gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul
gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing
dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian anticholmnergic

33
agent seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg IM, tablet trhexyphenidyl 3x2
mg / hari.
2. Terapi Psikososial
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :
a.

b.
c.
d.
e.

Psikoterapi individual
1. Terapi suportif
2. Sosial skill training
3. Terapi okupasi
4. Terapi kognitif dan perilaku
Psikoterapi kelompok
Psikoterapi keluarga
Manajemen kasus
Assertive Community Treatment (ACT)

Menurut Reborn (2008), terapi skizofrenia adalah dengan selalu memberikan obat
neuroleptik, kecuali obat-obat ini terkontraindikasi, karena 75% penderita skizofrenia
memperoleh perbaikan dengan obat-obat neuroleptika. Kontraindikasi meliputi
neuroleptika yang sangat antikolinergik seperti klorpromazin, molindone, dan
thioridazine pada penderita dengan hipertrofi prostate atau glaucoma sudut tertutup.
Antara sepertiga hingga separuh penderita skizofrenia dapat membaik dengan lithium.
Namun, karena lithium belum terbukti lebih baik dari neuroleptika, penggunaannya
disarankan sebatas obat penopang. Meskipun terapi elektrokonvulsif lebih rendah
disbanding dengan neuroleptika bila dipakai sendirian, penambahan terapi ini pada
regimen neuroleptika menguntungkan beberapa penderita skizofrenia.
Hal yang penting dilakukan adalah intervensi psikososial. Hal ini dilakukan dengan
menurunkan stressor lingkungan atau mempertinggi kemampuan penderita untuk
mengatasinya, dan adanya dukungan sosial. Intervensi psikososial diyakini berdampak
baik pada angka relaps dan kualitas hidup penderita. Intervensi berpusat pada keluarga

34
hendaknya tidak diupayakan untuk mendorong eksplorasi atau ekspresi perasaanperasaan, atau mempertinggi kewaspadaan impuls-impuls atau motivasi bawah sadar.
Tujuannya adalah :
1. Pendidikan pasien dan keluarga tentang sifat-sifat gangguan skizofrenia.
2. Mengurangi rasa bersalah penderita atas timbulnya penyakit ini. Bantu penderita
memandang bahwa skizofrenia adalah gangguan otak.
3. Mempertinggi toleransi keluarga akan perilaku disfungsional yang tidak
berbahaya. Kecaman dari keluarga dapat berkaitan erat dengan relaps.
4. Mengurangi keterlibatan orang tua dalam kehidupan emosional penderita.
Keterlibatan yang berlebihan juga dapat meningkatkan resiko relaps.
5. Mengidentifikasi perilaku problematik pada penderita dan anggota keluarga
lainnya dan memperjelas pedoman bagi penderita dan keluarga.
Psikodinamik atau berorientasi insight belum terbukti memberikan keuntungan bagi
individu skizofrenia. Cara ini malahan memperlambat kemajuan. Terapi individual
menguntungkan bila dipusatkan pada penatalaksanaan stress atau mempertinggi
kemampuan social spesifik, serta bila berlangsung dalam konteks hubungan terapeutik
yang ditandai dengan empati, rasa hormat positif, dan ikhlas. Pemahaman yang empatis
terhadap kebingungan penderita, ketakutan-ketakutannya, dan demoralisasinya amat
penting dilakukan.

35