Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sungai adalah suatu alur alamiah di permukaan bumi yang berfungsi untuk
mengalirkan air (dan sedimen). Sungai merupakan jalan air alami. mengalir menuju
Samudera, Danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai
secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya.
Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk
mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau.
Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari
tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan
pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5
ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai
(DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga
mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya,
transportasi, pariwisata dan lainnya.
Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai
akibat dari perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya
kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan
Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan
terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi kuantitas
(debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga

penurunan cadangan air serta tingginya laju sedimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan
kemudian adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah permasalahan yang terjadi pada sungai?
2. Mengapa permasalahan tersebut dapat terjadi dan apa penyebab terjadinya masalah
tersebut?
3. Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut?

1.3 Tujuan
Melalui Paper ini penulis ingin memberikan informasi kepada pembaca tentang
permasalahan sungai dan mengajak pembaca agar lebih peduli pada kelestarian sungai.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan yang terjadi pada sungai
2.1.1 Pencemaran sungai
Pencemaran sungai adalah tercemarnya air sungai yang disebabkan oleh limbah
industri, limbah penduduk, limbah peternakan, bahan kimia dan unsur hara yang terdapat
dalam air serta gangguan kimia dan fisika yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Saat
ini hampir 10 juta zat kimia telah dikenal manusia, dan hampir 100.000 zat kimia telah
digunakan secara komersial. Kebanyakan sisa zat kimia tersebut dibuang ke badan air atau air
tanah. Pestisida, deterjen, PCBs, dan PCPs (polychlorinated phenols) adalah salah satu
contohnya. Pestisida digunakan di pertanian, kehutanan dan rumah tangga. PCB, walaupun
telah jarang digunakan di alat-alat baru, masih terdapat di alat-alat elektronik lama sebagai
insulator, PCP dapat ditemukan sebagai pengawet kayu, dan deterjen digunakan secara luas
sebagai zat pembersih di rumah tangga.

Gambar 2.1 Pencemaran Sungai


Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum,
meracuni makanan hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan
danau, perusakan hutan akibat hujan asam dsb.
1. Dampak terhadap kesehatan
Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara lain :
a) air sebagai media untuk hidup mikroba patogen
b) air sebagai sarang insekta penyebar penyakit
c) jumlah air yang tersedia tak cukup, sehingga manusia bersangkutan tak dapat
membersihkan diri
d) air sebagai media untuk hidup vektor penyakit
2. Dampak terhadap estetika lingkungan
Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan perairan, maka
perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya ditandai dengan bau yang menyengat
di samping tumpukan yang dapat mengurangi estetika lingkungan. Masalah limbah minyak
atau lemak juga dapat mengurangi estetika. Selain bau, limbah tersebut juga menyebabkan
tempat sekitarnya menjadi licin. Sedangkan limbah detergen atau sabun akan menyebabkan
penumpukan busa yang sangat banyak. Ini pun dapat mengurangi estetika.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian


Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK), di tahun 2015 hampir 68 persen atau mayoritas mutu air sungai di 33 provinsi di
Indonesia dalam status tercemar berat.
Penilaian status mutu air sungai itu mendasarkan pada Kriteria Mutu Air (KMA) kelas
II yang terdapat pada lampiran Peraturan Pemerintah mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air atau PP 82/2001. Berdasarkan kriteria tersebut sekitar 24
persen sungai dalam status tercemar sedang, 6 persen tercemar ringan dan hanya sekitar 2
persen yang masih memenuhi baku mutu air.
Apabila dilihat perkembangan dari tahun sebelumnya, mutu air sungai yang tercemar
berat mengalami penurunan. Di tahun 2014 tak kurang ada 79 persen sungai statusnya
tercemar berat. Seiring dengan penurunan tersebut, persentase sungai yang dalam status
tercermar sedang dan ringan otomatis mengalami kenaikan di tahun 2015.
Kendati sungai yang masuk kategori tercemar berat mengalami penurunan, namun
persentasenya masih sangat tinggi. Hal ini terutama terjadi di sungai-sungai yang terletak di
wilayah regional Sumatera (68 persen), Jawa (68 persen), Kalimantan (65 persen) dan Bali
Nusa Tenggara (64 persen). Sementara itu, persentase sungai yang tercemar berat di wilayah
regional Indonesia Timur, yakni di Sulawesi dan Papua relatif lebih kecil, yakni 51 persen.

Gambar 2.2 Trend Status Mutu Air Sungai di Indonesia


Data di atas menunjukkan bahwa kualitas air sungai di semua lokasi di negeri ini
sebagian besar dalam kondisi tercemar berat. Hal ini sangat mengkhawatirkan, mengingat air
sungai hingga saat ini merupakan sumber utama air bersih yang dikonsumsi mayoritas
penduduk di Indonesia. Sumber air yang kualitasnya buruk akan mengancam kondisi
kesehatan masyarakat maupun makhluk hidup lain yang mengkonsumsi air tersebut.

2.1.2 Erosi
Erosi adalah suatu perubahan bentuk batuan, tanah atau lumpur yang disebabkan oleh
kekuatan air, angin, es, pengaruh gaya berat dan organisme hidup. Angin yang berhembus
kencang terus-menerus dapat mengikis batuan di dinding-dinding lembah. Erosi merupakan
proses alam yang terjadi di banyak lokasi yang biasanya semakin diperparah oleh ulah
manusia. Proses alam yang menyebabkan terjadinya erosi merupakan karena faktor curah
hujan, tekstur tanah, tingkat kemiringan dan tutupan tanah. Intensitas curah hujan yang tinggi
di suatu lokasi yang tekstur tanahnya merupakan sedimen, misalnya pasir serta letak tanahnya
juga agak curam menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah hujan, tekstur
tanah dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang gundul

tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi. Erosi juga dapat
disebabkan oleh angin, air laut dan es.

Gambar 2.3 Erosi pada Pinggir Sungai


Berdasarkan Konggres Sungai Indonesia Ke II di Kawasan Waduk Selorejo,
Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Sabtu (24/9/2016). Sedikitnya 65 persen sungai di
seluruh wilayah Indonesia rusak. Kerusakan itu akibat erosi dan terjadinya sedimentasi pada
tanggul dan bibir sungai yang ada.
Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu tempat yang rawan terjadi erosi. Erosi
yang terjadi di dalam DAS ini bisa menyebabkan beberapa masalah. Berikut ini adalah
beberapa akibat erosi sungai :
1. Pelumpuran dan Pendangkalan
Tanah yang terangkut air dalam aliran sungai ini akan mengendap atau berhenti pada
beberapa tempat seperti waduk, di dalam sungai itu sendiri, danau dan saluran air lainnya. hal
ini akan membuat pengendapan di dalam daerah tersebut sehingga bisa menyebakan
pelumpuran dan pendangkalan. Hal ini akan semakin diperparah dengan terangkutnya bahan
organic sehingga memungkinkan tumbuhnya organisme yang akan semakin mempercepat
terjadinya pendangkalan. Jika hal ini terjadi di dalam waduk sebagai penampung air maka
kapasitas waduk menampung air akan berkurang sehingga bisa menyebabkan air meluap dan
membanjiri daerah sekitar.
2. Menghilangnya Mata Air
Saat proses erosi terjadi biasanya tanah yang tidak ikut terbawa atau yang tersisa
adalah jenis jenis tanah yang memiliki daya serap atau infiltrasi yang kecil sehingga

kemampuan air untuk masuk ke dalam tanah tersebut juga kecil. Jika kondisi ini terus
berlangsung maka bisa membuat bagian hulu sungai kehilangan mata airnya.
3. Kualitas Air yang Memburuk
Erosi pada daerah sungai yang terjadi juga bisa merusak vegetasi yang berada di
atasnya. Hal ini lebih parah jika erosi dilakukan karena unsur sengaja. Karena tidak ada
vegetasi di atasnya akan membuat berbagai unsur yang dibutuhkan untuk membuat air
menjadi sehat sudah hilang. Hal ini akan membuat kualitas air menjadi menurun apalagi
ditambah adanya penaikan kasus pencemaran karena pembuangan limbah.
4. Merusak Ekosistem Air
Tanah dan berbagai vegetasi yang hidup di dalam air juga bisa menjadi salah satu
media dari tempat bertelurnya ikan. Jika vegetasi dan tanah ini mengalami pengikisan dan
mengalir ke dalam air maka jumlah ekosistem pada daerah hulu sungai tentunya akan
berkurang.
5. Meningkatnya Bencana Banjir dan Kekeringan
Karena adanya erosi ini akan membuat kekuatan tanah menyerap air berkurang
sehingga menyebabkan daerah hulu dan hilir kekeringan saat pembagian musim kemarau
serta daerah hilir akan terjadi banjir saat musim kemarau.
2.1.3 Pendangkalan atau Sedimentasi
Secara umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel
padat yang terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam,
ataupun muara sungai. Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan
lainnya. Namun, sumber utama partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari
erosi yang berlebihan di daerah hulu sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah
subur di permukaan dan melarutkannya yang kemudian akan terbawa ke sungai. Proses
transportasi partikel semacam ini disebut sebagai suspensi. Hasil partikel yang terbawa ini
biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di dasar sungai.
Dampak dari terjadinya sedimentasi di sungai adalah dapat menimbulkan
pendangkalan dan penyempitan sungai sehingga mempermudah timbulnya luapan air sungai
yang dapat menyebabkan terjadinya banjir.
Gambar 2.4 Sedimentasi pada Sungai

Contoh Kasus Sedimentasi


DAS Citarum mempunyai peran yang sangat penting bagi aktivitas perekonomian di
Jawa barat. Sebagai sumber kebutuhan air untuk sektor irigasi, industri, air bersih, dan juga
berfungsi besar untuk menghasilkan energi listrik bagi bagi masyarakat sekitar Citarum
bahkan bagi pulau Jawa. Namun peran dan potensi yang cukup besar dari DAS Citarum
tersebut belum di dukung oleh upaya-upaya pelestarian yang optimal dari masyarakat dan
pemerintah untuk menjaga Daerah aliran sungai di Citarum tersebut.
Terjadinya kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai citarum, terutama di daerah
hulu sungai Citarum di akibatkan oleh banyak faktor penyebab, seperti:
Kondisi kawasan hutan yang terletak sekitar empat kilometer dari hulu sungai citarum
sudah sangat buruk, karena banyak hutan di daerah tersebut telah gundul dan pohon baru
yang ditanam pun tidak tumbuh karena tidak mampu menyerap air dengan baik, dan
akibatnya ketika hujan turun, hutan yang telah gundul tadi tidak dapat menahan aliran
lumpur yang mengalir ke DAS Citarum sehingga mengakibatkan pengendapan di DAS
Citarum.

Indeks pencemaran air Citarum dari hulu ke hilir merupakan tingkat pencemaran air
dari sangat berat. Penyebab pencemaran sungai Citarum sangatlah kompleks, yaitu di
sebabkan oleh penduduk yang membuang sampah plastik yang langsung ke sungai citarum,
dan juga oleh pabrik-pabrik industri yang membuang limbah industri ke DAS citarum, dan
bisa disebabkan oleh banyak hal lainnya. Dan telah mengakibatkan penumpukan sampahsampah buangan di sungai Citarum yang telah mengendap dan mengakibatkan sedimentasi di
sungai citarum.
Sungai Citarum yang tidak pernah dikeruk semenjak tahun 1992 tersebut mengalami
sedimentasi yang cukup parah di sejumlah wilayah daerah aliran sungai (DAS) dan
banyaknya sampah plastik disekitarnya sehingga selalu meluap dan banjir dikala musim
penghujan.
Tingkat pencemaran dan sedimentasi (pengendapan) Sungai Citarum saat ini
mencapai tahap mengkhawatirkan. Sampai dengan tahun 2003 sedimentasi Sungai Citarum di
mulut Waduk Saguling mencapai 4 juta meter kubik/tahun. Tingginya laju sedimentasi ini
akan sangat berpengaruh. Tingginya laju sedimentasi ini merupakan tanda tingginya
degradasi sumber daya lahan dan air di wilayah hulu Citarum.
Akibat

Gambar 2.5 Dampak Terjadinya Sedimentasi di Sungai


Kondisi empat bendungan di Sungai Citarum atau Kaskade Sungai Citarum sudah
mengkhawatirkan karena terjadi sedimentasi yang tinggi dan dekomposisi yang signifikan.
Dengan demikian, mengurangi debit air dan mutu air baku. Padahal, waduk di Kaskade
Sungai Citarum penghasil listrik 1.858 MW dan cadangan air tawar untuk bahan baku air
minum.
Kualitas air baku waduk juga menurun dan mulai tercemar logam berat. Padahal, air
waduk merupakan cadangan air tawar untuk air minum dan ikan-ikan yang dibudidayakan
dalam KJA juga untuk dikonsumsi masyarakat. DAS Citarum rusak karena baik di hulu dan

di hilir pertumbuhan penduduk yang pesat, tidak bijaknya manusia dalam membuang limbah
industri, perternakan, rumah tangga, dan pertanian, serta penyalahgunaan tata ruang.
Sampah-sampah yang menumpuk di DAS sungai citarum membuat bau yang sangat
busuk ketika kita mendekat ke sungai citarum yang membuat sungai Citarum merupakan
salah satu sungai terkotor di dunia yang telah mengakibatkan berbagai penyakit mucul, yang
mengakibatkan masyarakat sekitar terkena penyakit-penyakit yang berbahaya.
Banjir yang melanda sejumlah kabupaten di Jawa Barat yang dilalui oleh aliran
Sungai Citarum dinilai terjadi akibat buruknya kebijakan pengelolaan Daerah Aliran Sungai
(DAS) Citarum selama ini. Yang telah mengakibatkan banyak akibat dan kerugian yang
diderita masyarakat sekitar sungai citarum, seperti sawah yang terendam banjir di Jawa barat
merupakan salha satu akibat sedimentasi di DAS Citarum.

2.2 Penyebab Terjadinya Permasalahan di Sungai


2.2.1 Penyebab Terjadinya Pencemaran Sungai
1. Pabrik membuang limbahnya ke sungai sehingga air sungai tercemar. Seperti di kotakota besar, air sungai tidak lagi jernih. Melainkan berbau dan terlihat hitam. Hewanhewan yang hidup di sungai akan mati karena tidak bisa bertahan hidup. Pada air yang
tercemar, air tidak lagi mengandung oksigen.
2. Pembuangan limbah rumah tangga yang ke sungai. Memang mudah sekali membuang
limbah sisa cucian atau bekas air mandi kita ke sungai. Padahal air tersebut dapat
mencemari dan akan merusak ekosistem sungai.
3. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan kelestarian
sungai.
4. Penggunaan racun pada saat menangkap ikan. Banyak orang yang menangkap ikan di
sungai dengan menggunakan racun. Racun tersebut akan membunuh ikan kecil dan
ikan besar. Jika ikan itu dikonsumsi oleh manusia, racun tersebut juga akan masuk ke
dalam tubuh kita.

2.2.2 Penyebab Terjadinya Erosi di Sungai


Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya erosi diantaranya adalah:
1. Iklim dapat mempengaruhi erosi oleh karena menentukan indeks erosifitas hujan.
Selain itu, komponen iklim yaitu curah hujan dapat mempengaruhi laju erosifitas secara terus
menerus sesuai intensitas hujan yang terjadi. Kecepatan air sungai juga mempengaruhi
terjadinya erosi.
2. Tanah dengan sifat-sifatnya itu dapat menentukan besar kecilnya laju pengikisan
(erosi) dan dinyatakan sebagai faktor erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi atau
ketahanan tanah terhadap adanya erosi).
3. Kemampuan tanah terbawa air erosi dipengaruhi oleh topografi suatu wilayah.
Kondisi wilayah yang dapat menghanyutkan tanah sebagai sedimen erosi secara cepat adalah
wilayah yang memiliki kemiringan lereng yang cukup besar. Sedangkan pada wilayah yang
landai akan kurang intensif laju erosifitasnya, karena lebih cenderung untuk terjadi
penggenangan.
4.Tanaman penutup tanah (vegetasi) berperan untuk menjaga agar tanah lebih aman
dari percikan-percikan yang terjadi akibat jatuhnya air hujan ke permukaan tanah. Selain
melindungi dari timpaan titik-titik hujan, vegetasi juga berfungsi untuk memperbaiki susunan
tanah dengan bantuan akar-akar yang menyebar.
5. Manusia dapat berperan sebagai penyebab cepatnya laju erosi maupun menekan
laju erosi. Dalam proses mempercepat erosi, manusia banyak melakukan kesalahan dalam
pengelolaan lingkungan, seperti penambangan, eksploitasi hutan, pengerukan tanah, dan lain
sebagainya.
2.2.3 Penyebab Terjadinya Sedimentasi
Proses sedimentasi meliputi erosi, transportasi, pengendapan dan pemadatan dari
sedimentasi itu sendiri. Proses tersebut berjalan sangat kompleks, dimulai dari jatuhnya air
hujan yang menghasilkan energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu
tanah menjadi partikel halus, lalu menggelinding bersama aliran, sebagian akan tertinggal di
atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk ke sungai terbawa aliran menjadi angkutan
sedimen. Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi erosi tanah adalah curah hujan,
tumbuh-tumbuhan yang menutupi permukaan tanah, jenis tanah dan kemiringan tanah.

Karena peranan penting dari dampak tetesan air hujan, maka tumbuhan memberikan
perlindungan yang penting terhadap erosi, yaitu dengan menyerap energi jatuhnya air hujan
dan biasanya mengurangi ukuran-ukuran dari butir-butir air hujan yang mencapai tanah.
Tumbuh-tumbuhan dapat juga memberikan perlindungan mekanis pada tanah terhadap erosi.
Karena sedimen merupakan kelanjutan dari proses erosi maka faktor-faktor yang
mempengaruhi erosi sedimen juga merupakan faktor yang mempengaruhi sedimen di lahan,
tetapi sedimen di sungai masih dipengaruhi pula oleh karakteristik hidrolik sungai,
penampang sedimen dan kegiatan gunung berapi. Jumlah sedimen yang terangkut aliran
sungai ditentukan oleh rantai erosi pengangkutan sedimen, muka pengangkutan sedimen dan
produksi sedimen dipengaruhi oleh keadaan topografi, sifat tanah penutup tanah, laju dan
jumlah limpasan permukaan, juga sumber sedimen, sistem pengangkutan, tekstur tanah dan
sifat daerah aliran sungai, luas topografi, bentuk dan kemiringan tanah. (Suroso,Ruslin dan
Rahmanto.)
Dari penjelasan di atas disebutkan beberapa penyebab percepatan pembentukan
sedimentasi. Namun penyebab yang paling berpengaruh adalah besarnya erosi yang terjadi
pada daerah hulu. Besarnya erosi ini tidak lepas dari besar kecilnya tutupan lahan di wilayah
tersebut. Ketika tutupan lahan dalam hal ini vegetasi yang semakin rapat, maka potensi untuk
terjadi erosi semakin kecil. Hal ini dikarenakan vegetasi memiliki peranan yang sangat besar
di dalam mempertahankan tanah agar tidak mengalami erosi secara besar-besaran, namun
akan dilakukan secara perlahan.

2.3 Cara Mengatasi Permasalahan pada Sungai


2.3.1 Pencegahan Pencemaran Sungai
1. Melestarikan hutan di hulu sungai
Agar tidak menimbulkan erosi tanah di sekitar hulu sungai sebaiknya
pepohonan tidak digunduli atau ditebang atau merubahnya menjadi areal pemukiman
penduduk. Dengan adanya erosi otomatis akan membawa tanah, pasir, dan sebagainya ke
aliran sungai dari hulu ke hilir sehingga menyebabkan pendangkalan sungai.

2. Tidak buang air di sungai


Buang air kecil dan air besar sembarangan adalah perbuatan yang salah. Kesan
pertama dari tinja atau urine yang dibuang sembarangan adalah bau dan menjijikkan. Tinja
juga merupakan medium yang paling baik untuk perkembangan bibit penyakit dari yang
ringan sampai yang berat, oleh karena itu janganlah buang air besar sembarangan khususnya
di sungai.
3. Tidak membuang sampah di sungai
Sampah yang dibuang sembarangan di sungai akan menyababkan aliran air di sungai
terhambat. Selain itu juga sampah akan menyebabkan sungai cepat dangkal dan akhirnya
memicu terjadinya banjir di musim penghujan sampah juga membuat sungai tampak kotor
dan terkontaminasi
4. Tidak membuang limbah rumah tangga dan industri
Tempat yang paling mudah untuk membuang limbah industri atau limbah rumah
tangga berupa cairan adalah dengan membuangnya ke sungai namun apakah limbah itu
aman? Limbah yang dibuang secara asal-asalan tentu saja dapat menimbulkan pencemaran
mulai dari bau yang tidak sedap, pencemaran air gangguan penyakit kulit serta masih banyak
lagi.
2.3.2 Pencegahan Terjadinya Erosi di Sungai
1. Membuat tembok batu kerangka besi di sepanjang aliran sungai untuk mencegah
terkikisnya tanah.
2. Melakukan reboisasi khususnya di sepanjang tepian sungai.
Cara vegetasi memberi perlindungan terhadap erosi adalah sebagai berikut :
a. mencegah gaya curah hujan,
b. menambah akumulasi air ke bawah,
c. membuat tanah basah sehingga mampu menyerap air,
d. membuat tanah porus karena adanya akar-akar dan kehidupan biologis,
e. membuat tanah terpadu / terikat karena adanya akar-akar,

f. memberikan tahanan terhadap aliran (koefisien pengaliran () menjadi kecil, sehingga


aliran permukaan berkurang sekaligus menambah akumulasi air tanah.

2.3.3 Pencegahan Terjadinya Sedimentasi


Cara yang masih efektif sebenarnya adalah dengan mempertahankan dan melakukan
konservasi pada vegetasi di daerah rawan erosi. Karena kerapatan formasi vegetasi yang
kuarng rapat dapat mendorong terbentuknya arus berputar yang bersifat meningkatkan erosi.
Untuk menurunkan erosi, maka vegetasi haruslah diusahakan serapat mungkin. Selain itu
dengan adanya sistem perakaran dari vegetasi tersebut akan mencegah terjadinya tanah
longsor, terutama di daerah dengan kemiringan lereng terjal dan di pinggir-pinggir sungai.
Secara garis besar pencegahan untuk mengurangi besarnya erosi yang menyebabkan
sedimentasi adalah sebagai berikut (Asdak,1995).
1. Menghindari praktek bercocok tanam yang bersifat menurunkan permeabilitas tanah.
2. Mengusahakan agar permukaan tanah sedapat mungkin dilindungi oleh vegetasi
berumput atau semak selama dan serapat mungkin.
3. Menghindari pembalakan hutan.
4. Merencanakan dengan baik pembuatan jalan di daerah rawan erosi/tanah longsor
sehingga aliran air permukaan tidak mengalir ke selokan-selokan di tempat yang
rawan tersebut.
5. Menerapkan teknik-teknik pengendali erosi di lahan pertanian, dan mengusahakan
peningkatan laju infiltrasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari
tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan
pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Kerusakan ini disebabkan oleh adanya beberapa masalah yang ada pada sungai di
Indonesia yaitu pencemaran sungai, erosi dan pendangkalan sungai atau sedimentasi.
Permasalahan tersebut di antaranya akibat ulah manusia yang kurang peduli terhadap
kelestarian sungai seperti membuang sampah ke

sungai, menebang hutan secara

sembarangan. Selain akibat ulah tangan manusia permasalahan tersebut juga timbul akibat
fenomena alam seperti iklim dan disebabkan juga oleh topografi dari daerah itu sendiri.
Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan beberapa upaya seperti melakukan
reboisasi, dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga
kebersihan dan kelestarian sungai.

DAFTAR PUSTAKA
Akko,

W.

(2012,

November

24).

pencemaran-air-sungai.

Retrieved

from

http://wildanakko.blogspot.co.id:
http://wildanakko.blogspot.co.id/2012/11/pencemaran-air-sungai.html
BeritaJatim.com. (2016, September 2016). erosi,_65_persen_sungai_di_indonesia_rusak.
Retrieved

from

BeritaJatim.com:

http://www.beritajatim.com/politik_pemerintahan/277748/erosi,_65_persen_sungai_d
i_indonesia_rusak.html
Copo,

H.

(2012,

October

kutukikuk.blogspot.co.id:

21).

permasalahan-sungai.

Retrieved

from

http://kutukikuk.blogspot.co.id/2012/10/permasalahan-

sungai.html
Indonesia, N. G. (2016, Mei 1). air-sungai-di-indonesia-tercemar-berat. Retrieved from
http://nationalgeographic.co.id:

http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/air-

sungai-di-indonesia-tercemar-berat
Kurniawan, B. (2013, May 12). penyebab-erosi. Retrieved from fokusgeografi.blogspot.co.id:
http://fokusgeografi.blogspot.co.id/2013/05/penyebab-erosi.html
Silitonga, J. L. (2010, April 23). analisis-sedimentasi-di-sungai-citarum. Retrieved from
josuasilitonga.wordpress.com:
https://josuasilitonga.wordpress.com/2010/04/23/analisis-sedimentasi-di-sungaicitarum/

http://kutukikuk.blogspot.co.id/2012/10/permasalahan-sungai.html
http://wildanakko.blogspot.co.id/2012/11/pencemaran-air-sungai.html
http://fokusgeografi.blogspot.co.id/2013/05/penyebab-erosi.html
https://metohidrocean.wordpress.com/sedimentasi/
http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/air-sungai-di-indonesia-tercemar-berat
http://www.beritajatim.com/politik_pemerintahan/277748/erosi,_65_persen_sungai_di_indon
esia_rusak.html
https://josuasilitonga.wordpress.com/2010/04/23/analisis-sedimentasi-di-sungai-citarum/