Anda di halaman 1dari 4

Nama

: M. Rakha Rajasa Putra (03021181419063)


Komang Suta Wibawa (03021181419023)
Raveli Fino Lius (03021281419095)

Esai Mengenai Izin Pertambangan Rakyat Menurut UU No. 4


Tahun 2009 dan Contoh Kasusnya
Undang Undang No. 4 Tahun 2009 adalah undang undang yang membahas
mengenai pertambangan mineral dan batubara. Menurut UU No. 4 Tahun 2009,
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka
penelitian pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan
pascatambang. Sedangkan usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka
pengusahaan mineral mineral atau batubara yang meliputi kegiatan penyelidikan
umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang.
Undang Undang No. 4 Tahun 2009 juga mengatur mengenai Izin
Pertambangan Rakyat. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut
dengan IPR, adalah Izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah
pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan investasi yang terbatas. IPR diatur
dalam BAB IX mengenai Izin Pertambangan Rakyat. Kegiatan pertambangan
rakyat yang dimaksud dikelompokkan sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Pertambangan Mineral Logam,


Pertambangan Mineral Bukan Logam,
Pertambangan Batuan
Pertambangan Batubara
IPR diberikan kepada penduduk setempat, baik perseorangan, maupun

kelompok masyarakat atau koperasi oleh bupati / walikota setempat. Kewenangan


pelaksanaan pemberian IPR dapat dilimpahkan kepada camat oleh bupati/walikota
setempat dan untuk memperoleh IPR pemohon wajib memberikan surat
permohonan kepada bupati/walikota setempat. Luas wilayah yang diberika untuk

1 IPR adalah 1 Ha untuk usaha perseorangan, 5 Ha untuk kelompok masyarakat,


dan 10 Ha untuk koperasi. Dengan jangka waktu 5 tahun (dapat diperpanjang).
Pemegang IPR berhak untuk mendapatkan pembinaan dan pengawasan di
bidang K3, lingkungan, teknis pertambangan, dan manajemen dari pemerintah
setempat atau pemerintah daerah. Pemegang IPR juga berhak untuk mendapat
bantuan modal sesuai dengan ketentuan undang undang. Dengan adanya hak, ada
pula kewajiban yang harus dilakukan. Kewajiban pemegang IPR adalah
melakukan kegiatan penambangan selambat lambatnya 3 bulan setelah IPR
diterbitkan, mematuhi pertauran undang undang di bidang K3 pertambangan,
pengelolaan lingkungan, dan memenuhi standar yang berlaku. Mengelola
lingkungan hidup bersama pemerintah daerah, membayar iuran tetap dan iuran
produksi, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan
rakyat kepada pemberi IPR.
Pemerintah

kabupaten/kota

melaksanakan

pembinaan

di

bidang

pengusahaan, teknologi pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam


usaha meningkatkan kemampuan usaha pertambangan rakyat. Pemerintah
kabupaten/ kota juga bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis pada usaha
pertambangan

rakyat

yang

meliputi

K3,

pengelolaan

lingkungan,

dan

pascatambang. yang mana pengamanan teknis dilakukan oleh inspektur tambang


yang diangkat oleh pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah kabupaten kota juga
wajib mencatat hasil produksi dan seluruh kegiatan usaha pertambangan rakyat
dan melaporkannya kepada menteri dan gubernur.
Walaupun telah diatur dalam perundang undangan, pertambangan rakyat
sering menjadi masalah. Berikut adalah beberapa contoh permasalahan pada izin
pertambangan rakyat (IPR) dan pertambangan rakyat.
Salah satu kasus yang diakibatkan oleh pertambangan rakyat adalah
kerusakan lingkungan yang dapat dilihat pada artikel Izin Pertambangan Rakyat,
Pemprov Sumsel Minta Solusi ke Pusat Pada artikel tersebut dikatakan bahwa
banyak tambang rakyat yang berpotensi merusak ekosistem alam (golongan C).
Oleh karena itu pemprov tidak bisa mengeluarkan IPR dan untuk menyelesaikan
masalah, pemprov akan mengajukan IPR ke pusat. Peran dari kabupaten/kota juga

diperlukan untuk menyangkut AMDAL dan masyarakat yang melakukan


pertambangan berada di kabupaten/kota. (Industri.Bisnis, 16 Maret 2016)
Kasus berikutnya adalah penerbitan izin yang tak terkendali dan tak
merujuk pada peraturan, seperti adanya tumpang tindih izin di atas lahan.
Pembahasan masalah ini dapat dilihat di artikel Izin Pertambangan rakyat Sulit
Dikendalikan pada situs hukumonline.com. Pada artikel ini dikatakan
pertambangan rakyat masih sulit untuk diawasi dan dapat menyebabkan kerusakan
lingkungan dan pertanggung jawabannya sulit dijalankan. Sulitnya menjalankan
pertanggung jawaban apabila adanya pelanggaran ini dikarenakan tidak adanya
struktur pengelola. Kepala daerah setempat juga sering melanggar penetapan
WPR (Wilayah Pertambangan Rakyat) dengan cara memberikan IPR sebelum
ditetapkannya WPR. Hal ini dapat menyebabkan tidak terkendalinya penerbitan
izin dan kerusakan lingkungan. (hukumonline.com, 6 Maret 2013)
Memandang dari dua kasus di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan
yaitu, pelaksanaan pertambangan rakyat di Indonesia kurang maksimal, dalam
artian kurangnya pengawasan selama penambangan yang dapat mengakibatkan
kerusakan lingkungan. Selain itu adanya oknum oknum kepala daerah yang
melanggar aturan dengan cara menerbitkan izin sebelum ditetapkannya wilayah
pertambangan rakyat.
Masalah masalah di atas sebenarnya daapat diatasi dengan cara memperjelas
kembali batasan batasan pertambangan rakyat pada Undang Undang Nomor 4
Tahun 2009, menyusun struktur pengelola dan penanggung jawab pertambangan
rakyat agar mudah diawasi dan mempermudah pertanggung jawaban apabila
adanya pelanggaran, lalu menetapkan wilayah pertambangan rakyat sebelum
menerbitkan izin pertambangan rakyat. Dengan cara cara tersebut, permasalah
permasalahan dapat diatasi dan kerusakan lingkungan oleh oknum oknum tidak
bertanggung jawab dapat diminimalisir.

Referensi

Anonim. 2013. Izin Pertambangan Rakyat Sulit Dikendalikan (Online)


http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5136f22538495/izin-pertambangan-rakyat-sulit-dikendalikan (Diakses pada 19 Juni 2016)
Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara. Sekretariat Negara. Jakarta
Wulandari, Dinda. 2016. Izin Pertambangan Rakyat, Pemprov Sumsel Minta
Solusi

ke

Pusat

(Online)

http://industri.bisnis.com/read/20160316/44/528677/izin-pertambanganrakyat-pemprov-sumsel-minta-solusi-ke-pusat (Diakses pada 19 Juni 2016)