Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Disusun oleh :
1.Adi Susilo
2.Ayu Ambarwati
3.Fajar Siti Fatimah
4.Susy Haryanti

STIE TRIBUANA KELAS PURBALINGGA


TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala, karena berkat rahmatNya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Amar maruf nahi munkar. Makalah ini
diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah
ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Purbalingga, Januari 2013


Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Segala puji hanya bagi Allah SWT, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada
baginda Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan
sebenarnya selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.. Amma Badu:
Allah SWT berfirman:



Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. QS. Ali Imron: 110
Umar RA berkata: Barangsiapa yang ingin dengan senang hati menjadi bagian dari umat
ini maka hendaklah dia memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT padanya.[1]
Imam Qurthubi berkata: Ayat ini menunjukkan sebuah pujian bagi umat ini selama
mereka menegakkan perintah yang disebutkan di dalam ayat tersebut dan mereka bersifat seperti
itu, namun jika meraka meninggalkan usaha untuk merubah kemungkaran bahkan bersekongkol
dengan kekejian tersebut maka hilanglah pujian tersebut, dan mereka akan menoreh celaan dan
hal itu sebagai sebab kehancuran mereka.[2]
Dan Allah SWT memebritahukan bahwa orang-orang yang sukses adalah orang-orang
yang menyeru kepada yang maruf dan mencegah yang mungkar. Allah SWT berfirman:


Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara lalim, sedang
penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. Hud: 117.
2. Identifikasi Masalah
1). Pengertian Amar maruf nahi munkar
2). Penjelasan yang berkaitan dengan amar maruf nahi munkar
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka persoalan mendasar yang hendak ditelaah

dalam makalah ini adalah bagaimana cara kita kita ber-amar maruf nahi munkar.
4. Metode Penulisan
Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah studi Pustaka.Dalam metode ini penulis
membaca buku-buku yang berkaitan dengan penulisan makalah ini dan sebagian hasil studi
internet dengan sumber yang bisa dipertanggung jawabkan.

BAB II

PEMBAHASAN
I. Pembahasan Pokok Bahasan
1. Pengertian
Amar ma'ruf nahi munkar, (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frase
dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan halhal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.
Dalil Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah:
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah
mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqman
17]
Jika kita tidak mau melaksanakan amar maruf nahi munkar, maka Allah akan menyiksa kita
dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala doa kita:
Hendaklah kamu beramar maruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang
berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling
jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdoa dan tidak
dikabulkan (doa mereka). (HR. Abu Zar)
Amar Ma'ruf Nahi Munkar dilakukan sesuai kemampuan. Yaitu dengan tangan/kekuasaan jika
dia adalah penguasa/punya jabatan. Dengan lisan/tulisan jika dia adalah jurnalis atau
intelektual. Atau minimal membencinya dalam hati atas kemungkaran yang ada. Ini adalah
selemah-lemah iman (Hadits).
2. Diantara Keutamaan Amar Maruf Dan Nahi Munkar, Yaitu:
Pertama, bahwa amar maruf dan nahi munkar merupakan profesi dan tugas agung para rasul
alaihimus salam, Allah Taala berfirman :


Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS.16:36)
Kedua, bahwa ia termasuk sebagai ciri-ciri orang-orang beriman, sebagaimana firman Allah
Taala :




Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang
melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat
mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang
mu'min itu. (QS.9:112)
Sebaliknya, orang-orang yang kerap berbuat kemungkaran dan kerusakan seperti yang
difirmankan-Nya :




Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah
sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma`ruf dan
mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah
melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.
(QS.9:67)
Ketiga, sesungguhnya amar maruf dan nahi munkar termasuk karakteristik orang-orang
shalih, Allah Taala berfirman :





113. Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka
membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud
(sembahyang). 114. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh
kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan)
pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (QS.03:113-114)
Keempat, diantara bentuk dari kebaikan umat ini, adalah amar maruf dan nahi munkar. Allah
Taala berfirman :



Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS.3:110)
Kelima, dapat meneguhkan kedudukan umat di muka bumi. Allah Taala berfirman :







orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya (yaitu )
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan..
(QS.22:41)
Keenam, bahwa ia termasuk sebagai sebab-sebab turunnya pertolongan Allah. Allah Taala
berfirman :






Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. ... .040
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. 041. (yaitu) orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS.22:40-41)
Ketujuh, betapa besarnya keutamaan penegakkan perkara amar maruf dan nahi munkar ini.
Allah Taala berfirman :





Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari
orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan
perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari
keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS.4:114)
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :


Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, baginya pahala seperti pahala-pahala orang
yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. (HR. Muslim).
Keedelapan, termasuk faktor yang dapat menggugurkan dosa-dosa, sebagaimana beliau
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :


Fitnah (bencana) seorang pria terletak pada istrinya, hartanya, dirinya, anaknya dan
tetangganya.

Puasa,

shalat,

sedekah,

amar

maruf

dan

nahi

munkar

dapat

menggugurkannya. (HR. Ahmad).


Kesembilan, pelaksanaan amar maruf dan nahi munkar merupakan (upaya) memelihara lima
perkara urgen (adh-dharuriyah al-khams), yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan
harta. Sementara itu, perkara amar maruf dan nahi munkar ini masih memiliki berbagai
keutamaan lagi, selain yang telah kami sebutkan tadi. Akan tetapi sekiranya perkara amar
maruf dan nahi munkar ini ditinggalkan dan panjinya ditelantarkan; Akan menimbulkan
berbagai kerusakan di daratan dan di lautan, serta akan melahirkan berbagai konsekuensi
serius, diantaranya yaitu :
1. Terjadi kebinasaan dan siksaan (adzab). Allah Azza wa Jalla berfirman :



Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS.8:25)
Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu secara marfu :


Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, hendaklah kamu menyuruh berbuat yang maruf
dan mencegah kemungkaran. Atau (jika tidak) nyaris Allah (akan) mengirimkan siksaan
(segera) atas kalian sebab (telah mengabaikan)nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya
.namun (doa kalian) tidak dikabulkan. (Muttafaqun Alaihi)
Ketika Ummul Mukminin Zainab Radhiyallahu Anha bertanya :

:


Apakah kita akan binasa, sementara di tengah-tengah kita masih ada orang-orang yang
soleh?. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Iya, ketika keburukan
telah marak.(HR. Bukhari).
2. Tidak diterimanya doa. Sesungguhnya telah diriwayatkan berbagai hadits mengenai hal
tersebut. Diantaranya hadits Aisyah Radhiyallahu Anha secara marfu :



Perintahkanlah (oleh kalian untuk) berbuat yang maruf dan laranglah kemungkaran,
sebelum (mengakibatkan) doa yang kalian panjatkan tidak diterima. (HR. Ahmad).
3. Menafikan kebaikan umat, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam :





Demi Allah, hendaklah kamu menyuruh berbuat yang ma'ruf dan melarang kemungkaran,
menghentikan orang yang berbuat zhalim, dan memalingkannya (kembali) kepada kebenaran,
atau memperketat (geraknya hanya) pada (lingkup) kebenaran. Atau (jika tidak dilakukan)
kelak Allah akan mempertentangkan hati sebagian kalian dengan sebagian yang lainnya,
kemudian Dia melaknat kalian sebagaimana Dia telah melaknat mereka (Bani Israil) (HR.
Abu Dawud).
4. Orang-orang fasik, berdosa dan kafir memerintah, kemaksiatan-kemaksiatan dikemas
indah, dan kemungkaran-kemungkaran tersebar luas serta terus menerus terpampang.
5. Munculnya kebodohan, lenyapnya ilmu, terpuruknya umat dalam kesewenang-wenangan
dan tenggelam tidak berakhir. Cukuplah menjadi dasar turunnya adzab Allah Azza wa
Jalla kepada orang yang meninggalkan perkara amar maruf dan nahi munkar, serta para
musuh Islam dan orang-orang munafik mampu menguasainya, dan melemah kekuatannya
dan berkurang kewibawaannya.

3.

Langkah-Langkah Al-Inkar (tindakan mengingkari) dan al-Amr (tsindakan menyuruh):


Pertama, pengenalan. Sesungguhnya seorang yang jahil (bodoh) melakukuan sesuatu
disebabkan ia tidak menduganya sebagai sebuah kemungkaran. Maka harus diberikan
penjelasan kepadanya, diperintahkan untuk berbuat yang maruf, dan diterangkan kepadanya
mengenai besarnya ganjaran, berlimpah pahala untuk orang yang melakukannya. Demikian
itu dilakukan dengan cara yang santun, lembut dan kasih sayang.
Kedua, nasehat. Demikian itu dengan membangun rasa takut akan siksa Allah Azza wa Jalla
dan sangsi-Nya, serta mengingatkan pengaruh-pengaruh berbagai perbuatan dosa dan
maksiat, hal itu dilakukan dengan bersahabat dan penuh kasih sayang kepadanya.
Ketiga, menyerahkannya ke ahlul hisbah (yaitu, Unit Pemerintahan yang bertugas melakukan

pengawasan dan penegakkan amar maruf dan nahi munkar, pent.) sekiranya telah tampak
sikap kedurhakaannya dan tak kunjung berhenti.
Keempat, berulang-ulang kali dan tidak berputus asa. Karena sesungguhnya para nabi dan
rasul semuanya menyuruh berbuat yang maruf, dan perkara yang paling besar dalam hal ini
adalah perkara tauhid. Dan mereka juga memberikan peringatan dari kemungkaran, dan
perkara yang paling besar dalam hal ini adalah yaitu kesyirikan. Mereka melakukannya
sepanjang tahun, tanpa jenuh dan bosan.
Kelima, memberikan hadiah buku dan kaset yang bermanfaat.
Keenam, kepada orang-orang yang dibawah tanggungjawabnya seperti istri dan anakanaknya, maka boleh baginya untuk mengisolirnya, melarangnya dan memukul dengan
pukulan yang mendidik.
Ketujuh, amar maruf dan nahi munkar mengharuskan pelakunya untuk bersikap lembut,
santun, lapang dada, sabar, menyayangi manusia, bersahabat atas mereka, kesemuanya ini
menuntut kesungguhan dan pengorbanan.
Saudara muslimku :
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan tahapan-tahapan tindakan merubah
kemungkaran, dengan sabdanya Shallallahu Alaihi wa Sallam :

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya
dengan tangannya. Sekiranya ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Sekiranya ia tidak
mampu (juga) maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnysa iman (HR. Muslim).
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah berkata, Demi Allah, wahai
saudara-saudaraku, berpegang teguhlah kalian kepada orsinalitas agamamu, muara dan
hilirnya, bawah dan atasnya. Yaitu syahadat La ilaha illallah dan pahamilah maknanya.
Cintailah pemeluknya. Dan kalian jadikanlah mereka sebagai saudara-saudara kalian,
sekalipun mereka itu jauh lokasinya. Ingkarilah para thagut dan musuhi mereka, serta bencilah
kepada orang-orang yang mencintai mereka. Atau bantahlah mereka, juga tidak mengafirkan
mereka. Atau berkata, Saya terlepas atas mereka. Atau berkata, Allah tidak membebaniku

atas mereka. Maka sungguh dia telah mendustakan ini kepada Allah dan telah membuat-buat
kebohongan (kamuflase). Bahkan Allah menjadikannya sebagai beban bagi mereka, dan
berlepas diri terhadap mereka, sekalipun mereka adalah saudara-saudaranya atau anakanaknya sendiri.
4. Amar ma'ruf nahi mungkar termasuk kewajiban terpenting bagi masyarakat muslim
Amar ma'ruf nahi mungkar termasuk kewajiban terpenting dalam masyarakat muslim,
selain shalat dan zakat, terutama di waktu umat Islam berkuasa di muka bumi, dan menang
atas musuh, bahkan kemenangan tidak datang dari Allah, kecuali bagi orang-orang yang tahu
bahwa mereka termasuk orang-orang yang melakukannya:
(Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya
Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar;
dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.) (QS. al Hajj: 40, 41)
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh bukhari, Rasulullah r menggambarkan masyarakat
yang amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan masyarakat tidak melakukan amar ma'ruf nahi
mungkar, dengan para penumpang kapal yang mengundi tempat di kapal, sebagian mendapat
tempat di atas dan sebagian mendapat tempat di bawah, orang-orang yang bertempat di bawah
apabila ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang ada di bagian atas,
maka mereka berkata: kalau saja kita melubangi kapal agar tidak mengganggu orang di atas.
Jika mereka membiarkan kemauan mereka, maka akan binasa semua, dan jika mereka
dihalangi maka semuanya akan selamat.
Ini adalah gambaran yang indah bagi pengaruh amar ma'ruf dan nahi mungkar dalam
masyarakat, dari hadits tersebut jelas bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar bisa
menyelamatkan orang-orang lalai dan orang-orang ahli maksiat dan juga orang lain yang taat
dan istiqamah, dan bahwa sikap diam atau tidak peduli terhadap amar ma'ruf dan nahi
mungkar merupakan suatu bahaya dan kehancuran, ini tidak hanya mengenai orang-orang
yang bersalah saja, akan tetapi mencakup semuanya, yang baik dan yang buruk, yang taat dan
yang jahat, yang takwa dan yang fasik.
5. Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan hak dan kewajiban rakyat
Dalam masyarakat muslim amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan hak dan juga

kewajiban bagi mereka, ia merupakan salah satu prinsip politik dan sosial, al-Qur'an dan
hadits nabi telah menjelaskan hal itu dan memerintah orang untuk memberikan nasihat atau
kritik bagi pemangku kekuasaan dalam masyarakat, dan minta penjelasan hal-hal yang
menjadi kemaslahatan rakyat, atau mengingkari hal-hal yang tidak menjadi maslahat bagi
rakyat.
Tolok ukur kebaikan dan kemungkaran adalah syari'at dalam satu sisi, dan kemaslahatan
rakyat dari sisi lain. Ini merupakan persoalan yang luas dari tuntutan rakyat pada penguasa,
khususnya dalam mencegah kezaliman, tidak menerimanya atau bersabar atasnya. Al-Qur'an
telah menganggap terjadinya kezaliman dari penguasa, dan diamnya rakyat atas kezaliman
tersebut merupakan suatu dosa besar dari kedua belah pihak, yang bisa mengakibatkan
turunnya siksa di dunia, dan juga di akhirat kelak.
Allah I berfirman: (Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa
Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah
memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.)
(QS. Ibrahim: 42)
Dan berfirman: (Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan
menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan
bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di
negeri (Mekah)". para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu
dapat berhijrah di bumi itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam
itu seburuk-buruk tempat kembali.) (QS. an Nisaa': 97)
Rasulullah r memperingatkan orang-orang hina dan lemah yang bersikap diam atas
kezaliman dan tidak mencegah orang yang zalim dengan siksa Allah yang akan mengenai
mereka semua, tidak ada di antara mereka yang luput:

Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim dan mereka tidak mencgahnya dari
kezaliman, maka Allah akan menimpakan siksa atas mereka semua (HR. Abu Daud,
Tirmidzi, dan Nasa'i)
6. Cara-cara memberikan nasihat
Di antara cara-cara amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah nasihat, Rasulullah r telah
menjadikannya sebagai agama dalam sabdanya:




Agama adalah nasihat, kami berkata: bagi siapa? Beliau berkata: "bagi Allah, bagi
kitab Allah, bagi rasulnya, dan bagi para pemimpin dan umat Islam secara umum (HR.
Muslim)
Tidak diragukan lagi bahwa pemberian nasihat kepada para penguasa dari rakyat,
terutama para ulama dan orang-orang yang berpengalaman, masing-masing dalam bidagnya
merupakan suatu hal yang baik sekali, ini akan menjamin keselamatan, keamanan dan
kesejahteraan bagi masyarakat, hal ini telah berjalan di kalangan umat Islam di masa
keemasannya, oleh karena itu dalam beberapa hadits ada anjuran bagi penguasa untuk
mengangkat orang-orang shalih dan jujur serta ikhlas memberikan nasihat menjadi
pendampingnya, yang tidak munafik dan tidak menipu penguasa.
7. Akibat buruk bagi diabaikannya amar ma'ruf dan nahi mungkar
Musibah paling buruk yang menimpa suatu umat dan masyarakat adalah berkuasanya
diktator, mulut dikekang, lisan dipasung, dan pena dipatahkan, sehingga tidak ada yang berani
bersuara, atau menulis kata-kata untuk mengungkapkan kebenaran yang disia-siakan, atau
keinginan yang dikekang, atau nasihat yang tulus. Dengan demikian kehidupan menjadi buruk,
hidup menjadi susah, sumber-sumber kebaikan menjadi kering, duri-duri kejahatan dan
kerusakan tumbuh, kenistaan merajalela, dan tidak ada yang bisa menghentikan, serta harga
diri manusia diinjak-injak.
Apabila keburukan sampai ke batas ini, maka semua anggota masyarakat wajib bergerak
untuk memperbaikinya dan menyingkirkan kerusakan, jika tidak melakukanya, maka mereka
berhak mendapat balasan dan siksa dari Allah, dan Allah telah menurunkan bencana dan
kerusakan kepada orang-orang yang melakukan kemungkaran dan yang mendiamkannya:
(Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.) (QS. al
Anfal: 25)
Dan Rasulullah r bersabda: Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim dan
mereka tidak mencegah kezalimannya, Allah akan menurunkan siksa kepada mereka semua
(HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa'i)
Nabi juga bersabda:
:

Jika engkau melihat umatku takut, sehingga tidak berani mengatakan kepada orang zalim:
wahai orang zalim, maka mereka tidak berarti lagi (HR. Ahmad, al Hakim dan al Bazzar)
Allah telah melaknat bani israil, mempertentangkan antara hati mereka dan menurunkan
siksa yang pedih kepada mereka, tatkala kemungkaran merajalela di antara mereka, dan tidak
ada seorangpun dari mereka yang bangkit untuk mencegahnya, itulah firman Allah I:
(Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera
Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka
satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya
amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.) (QS. al Maidah: 78, 79)
Terkadang kemungkaran merajalela di masyarakat, orang-orang sudah terbiasa dan
akrab, dan tidak ada lagi yang berbicara, sehingga ia meracuni perasaan mereka, dan mereka
tidak lagi merasa bahwa ia merusak agama, akhlak dan adapt yang mulia, mereka tidak lagi
bisa membedakan antara yang ma'ruf dan yang mungkar, antara yang baik dan buruk, halal
dan haram, ketika itu pemahaman masyarakat berubah, dan ukuran kebenaran sudah tidak
jelas, sehingga kejujuran, amanat, beragama dipandang sebagai keterbelakangan dan
kebodohan, sementara dusta, khianat, dan jauh dari agama dipandang sebagai kemajuan, yang
baik mereka katakana mungkar dan yang mungkar dikatakan baik.
Ini diperburuk lagi ketika di masyarakat banyak orang-orang munafik, yang
mempengaruhi penguasa yang zalim, mereka berkumpul di sekitar penguasa, membisiki
penguasa untuk melakukan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, suara-suara mereka
mengajak kepada kebatilan, mencegah kebaikan, menciptakan sifat masyarakat munafik yang
akan ditempatkan oleh di dasar neraka paling bawah:
(Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah
sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan
mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah
melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.)
(QS. at Taubah: 67)
Ini sangat bertentangan dengan masyarakat beriman:
(Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf,
mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada
Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana.) (QS. at Taubah: 71)


Inilah masyarakat muslim yang penuh dengan para da'I kepada Allah, yang mengerti
agamanya, yang menjaga syari'atnya, suara kebenaran tidak pernah padam, melaksanakan
amar ma'ruf dan nahi mungkar, walaupun kegelapan meliputi mereka, dan suara-suara
kebatilan membahana.
Tidak diragukan bahwasanya suara-suara mereka yang keras dalam membela kebenaran
akan menebarkan kesadaran di masyarakat muslim, membangkitkan rasa izzah dengan agama
Allah, dan membuat opini umum yang disinari oleh petunjuk Allah dan rasulnya.
8. Wajibnya mengingkari kemungkaran walaupun dengan hati
Banyak sekali nash-nash al-Qur'an dan hadits yang menunjukkan wajibnya amar ma'ruf
dan nahi mungkar dalam masyarakat muslim, yang mengakui kedaulatan Allah, yang
melaksanakan syari'atnya, walaupun terkadang ada penguasa yang zalim, dan terkadang
banyak kerusakan, sehingga dengan demikian masyarakat muslim benar-benar menjadi
masyarakat yang beramar ma'ruf dan nahi mungkar .
Adapun jika masyarakat diuji dengan disingkirkannya syari'at Islam dari kekausaan, dan
umat Islam dipaksa menerapkan hukum buatan manusia, maka dalam kondisi ini harus
menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar yang paling besar, yaitu mengakui kedaulatan
Allah, hukumnya dan syari'atnya dalam kehidupan, dan mencegah kemungkaran terbesar,
yaitu menolak ketuhanan Allah dengan menolak syari'atnya dalam kehidupan.
Rasulullah r bersabda:


Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah merubahnya
dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jka tidak mampu maka dengan
hatinya, dan inilah selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)
Akan tetapi terkadang datang suatu masa kepada umat Islam dimana umat Islam tidak
bisa mengubah kemungkaran dengan tangannya, dan tidak bisa mengubahnya dengan
lisannya, maka tidak ada lagi cara kecuali mengubah dengan hatinya, dan ini tidak ada orang
yang bisa menghalangi.
Mengubah kemungkaran dengan hati adalah selemah-lemahnya iman, sebagaimana
disebutkan dalam hadits, terkadang sekilas orang melihatnya sebagai amal yang pasif, dimana
hal ini tidak dilakukan kecuali oleh orang yang tidak mampu mengubah kemungkaran dengan

tangan atau dengan lisan.


Sebenarnya seorang muslim yang jujur yang tidak ada jalan di hadapannya kecuali
mengingkari dengan hati, tidak hilang dari pikirannya bahwa mengingkari dengan hati berarti
merubahnya, sebagaimana dikatakan demikian oleh Rasulullah r. Perkataan Rasulullah ini
menunjukkan bahwa hal itu adalah suatu perbuatan positif; karena mengingkari kemungkaran
dengan hati berarti mempertahankan hati dari sikapnya terhadap kemungkaran ia
mengingkarinya, membencinya, tidak menyarah kepadanya, dan tidak menerimanya bahwa itu
adalah suatu yang harus dipatuhi dan diakui.
Mengingkari dengan hati terhadap suatu kondisi adalah kekuatan positif, dan
merupakan langkah awal untuk menghancurkan kemungkaran ini, dan menegakkan kebaikan
kapan ada kesempatan, dan mengintai kemungkaran hingga ada kesempatan untuk
merubahnya. Dan ini jelas merupakan perbuatan positif dalam jalan menuju perubahan.
Memang benar bahwa ini adalah iman yang paling lemah, sebagaimana dikatakan oleh
Rasulullah r, akan tetapi kalau memang hanya iman paling lemah yang memungkinkan, maka
paling tidak seorang muslim memelihara iman yang lemah ini. Adapun kehilangan iman
secara keseluruhan, dan menyerah pada kemungkaran karena ia adalah suatu kenyataan pahit,
dimana ia tidak mampu melawannya, dan menerimanya karena tekanannya kuat sekali, maka
ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang mukmin yang hidup dalam masyarakat muslim,
kalau tidak maka ia dan masyarakatnya berhak mendapat laknya yang menimpa bani israil,
karena mereka tunduk kepada kemungkaran dan ridha padanya, dan mereka tidak
mencegahnya, sebagaimana firman Allah I: (Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil
dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka
dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar
yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.) (QS.
al Maidah: 78, 79)

BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Amar ma'ruf nahi munkar, (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frase
dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal
yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat.
Diantara Keutamaan Amar Maruf Dan Nahi Munkar, Yaitu:
Pertama, bahwa amar maruf dan nahi munkar merupakan profesi dan tugas agung para rasul
alaihimus salam
Kedua, sesungguhnya amar maruf dan nahi munkar termasuk karakteristik orang-orang shalih
Ketiga, bahwa ia termasuk sebagai ciri-ciri orang-orang beriman
Langkah-Langkah Al-Inkar (tindakan mengingkari) dan al-Amr (tsindakan menyuruh):
Pertama, pengenalan. Sesungguhnya seorang yang jahil (bodoh) melakukuan sesuatu disebabkan ia
tidak menduganya sebagai sebuah kemungkaran. Maka harus diberikan penjelasan kepadanya,
diperintahkan untuk berbuat yang maruf, dan diterangkan kepadanya mengenai besarnya ganjaran,
berlimpah pahala untuk orang yang melakukannya. Demikian itu dilakukan dengan cara yang santun,
lembut dan kasih sayang.
Kedua, nasehat. Demikian itu dengan membangun rasa takut akan siksa Allah Azza wa Jalla dan
sangsi-Nya, serta mengingatkan pengaruh-pengaruh berbagai perbuatan dosa dan maksiat, hal itu
dilakukan dengan bersahabat dan penuh kasih sayang kepadanya.
Ketiga, menyerahkannya ke ahlul hisbah (yaitu, Unit Pemerintahan yang bertugas melakukan
pengawasan dan penegakkan amar maruf dan nahi munkar, pent.) sekiranya telah tampak sikap
kedurhakaannya dan tak kunjung berhenti
II. Saran-Saran
Saran yang ingin penulis kemukakan dalam materi presentasi Amar maruf nahi munkar adalah
agar segenap kaum muslim menyadari akan kewajiban mereka ber-amar maruf nahi munkar

KLEPON manis,enak, murah dan bergizzi


kalo tidak percaya buktiin aja di toko Kami, pasti
ketagihaaan dech

SELAMAT MENCOBA
Nama
Kelas
No

: Dewi Wulansari
: IX F
: 08