Anda di halaman 1dari 7

ALAT-ALAT MUSIK

( CONTOH ALAT-ALAT MUSIK )

PIANO

KAYBOARD

SERULING
KENDANG

BIOLA
DRUM

TEROMPET
SIMBAL

HARMONIKA

NAMA
NO ABSEN
KELAS
TUGAS

GITAR
: NOVIA ARIANDINI
: 29
: VIII F
: SENI BUDAYA

CONTOH ALAT-ALAT MUSIK

PIANO

KAYBOARD

SERULING
KENDANG

BIOLA
DRUM

ANGKLUNG
TIFA

SASANDO
NAMA
KELAS
NO.ABSEN
TUGAS

: FELIK DIAN P
: VIII C
: 11
: SENI BUDAYA

HARMONIKA

CONTOH ALAT-ALAT MUSIK

PIANO

KAYBOARD

SERULING
KENDANG

BIOLA
DRUM

TEROMPET

TIFA

SASANDO

NAMA
: KHOLIK PRAKOSO
KELAS
:VIII A
NO ABSEN :18

HARMONIKA

ALAT MUSIK ANGKLUNG DARI JAWA BARAT

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam
masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan
dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan
bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun
kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan
pelog.
Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari
UNESCO sejak November 2010.
Asal-usul
Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.
Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan
dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga
angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.
Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad
ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat
Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini
melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi
kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli,
menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung
gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau.
Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri
turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda
Green Lipsus Fiksiana Freez
Home
Humaniora
Sosbud
Artikel

Sosbud
Cechgentong

TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Alah Bisa Karena Biasa Malu Bertanya Sesat Di Jalan Sesat Di Jalan Malu-maluin Besar
Kemaluan Tidak Bisa Jalan Pilihan selalu GOLTAM

0inShare

Gamelan : Alat Musik Tradisional Indonesia


OPINI | 03 December 2009 | 17:47 Dibaca: 1807

Komentar: 0

Nihil

ALAT MUSIK GAMELAN DARI JAWA TENGAH

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan
gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh
yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang
berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan
kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis
ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong
lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
( A Gamelan is a musical ensemble from Indonesia, typically from the islands of Bali or Java, featuring
a variety of instruments such as metallophones, xylophones, drums and gongs; bamboo flutes, bowed
and plucked strings. Vocalists may also be included. The term refers more to the set of instruments than
to the players of those instruments. A gamelan is a set of instruments as a distinct entity, built and tuned
to stay together instruments from different gamelan are generally not interchangeable. The word
gamelan comes from the Javanese word gamel, meaning to strike or hammer, and the suffix an,
which makes the root a collective noun. Real hammers are not used to play these instruments as heavy
iron hammers would break the delicate instruments. )

Tanjidor Musik Jazz Betawi


oleh
( Alwi Shihab )
Betawi sangat kaya dengan ragam kesenian tradisional. Maklum sejak berabad-abad kota ini sudah
didatangi beragam bangsa. Termasuk bangsa Portugis yang datang sebelum Belanda.
Bangsa di Eropa Selatan itu ikut memasukkan unsur keseniannya dalam bentuk musik tanjidor. Karena
dimainkan oleh sepuluh bahkan sampai belasan orang dengan berbagai alat musik, sehingga ada yang
mengkategorikannya sebagai ''musik jazz Betawi''.
Perkiraan asal muasalnya dari Portugis, karena berasal dari kata ''tanger'', yang berarti memainkan alat
musik--pada pawai militer atau upacara keagamaan. Entah kenapa, kata ''tanger'' kemudian diucapkan
jadi tanjidor.
Ngamen di kampung Mungkin generasi sekarang tidak banyak lagi mengenal musik klasik yang satu
ini. Padahal, sampai pertengahan 1950-an, tanjidor 'ngamen' dari kampung ke kampung, terutama
untuk memeriahkan perayaan Lebaran, pergantian tahun, dan Imlek (tahun baru Cina).
Pada saat Imlek, hari-hari ngamen tanjidor jauh lebih lama. Pasalnya, Imlek dirayakan sampai
Capgomeh atau hari ke-15 Imlek. Pengamen tanjidor berasal dari daerah pinggiran Betawi, yaitu

Karawang, Bekasi, Cibinong, dan Tangerang. Saat ngamen mereka terpaksa menginap di Jakarta,
meninggalkan keluarganya di kampung.
Peralatan yang mereka bawa pun cukup berat, seperti terompet Prancis, klarinet dan tambur Turki, serta
terompet besar. Yang menyedihkan, mereka ngamen dengan berjalan kaki tanpa alas sepatu atau sandal.
Berasal dari budak
Ernst Heiinz, ahli musik Belanda, berpendapat bahwa tanjidor asalnya dari para budak yang ditugaskan
main musik oleh tuannya. Hal ini dipertegas oleh sejarahwan Belanda yang banyak menulis tentang
Batavia bahwa orkes tanjidor kemudian muncul pada masa kompeni.
Sampai 1808, kota Batavia dikelilingi benteng tinggi. Tidak banyak tanah lapang. Para pejabat tinggi
kompeni membangun villa di luar kota, seperti di Cilitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng,
dan Cimanggis. Di vila-villa yang megah dan mewah itu, mereka mempekerjakan ratusan budak. Di
antara mereka ada yang khusus memainkan alat-alat musik untuk menghibur para tuan saat jamuan
makan malam dan kegiatan pesta lainnya. Ketika perbudakan dihapuskan 1860, mereka membentuk
perkumpulan musik yang dinamakan tanjidor.
Pengaruh Belanda
Dalam perkembangannya kemudian, orkes rakyat ini dipengaruhi musik Belanda. Lagu-lagu yang
dibawakan, antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara.
Judul lagu itu berbau Belanda meski dengan ucapan Betawi. Tapi, Tanjidor juga membawakan lagulagu Betawi asli, seperti Jali-Jali, Surilang, Kicir-kicir, Cente Manis, Stambul, dan Parsi. Pada 1954,
Walikota Sudiro melarang musik tanjidor ngamen. Pelarangan ini tentu saja membuat para senimannya
menjadi kecewa.
Kini, musik tanjidor dikabarkan merana di tengah situasi Betawi modern (Jakarta). Keberadaannya tak
lagi populer untuk ukuran Ibukota RI ini yang sudah kosmopolitan. Padatnya penduduk