Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN

PRAKTIKUM III
PEMERIKSAAN PROTEIN DAN GLUKOSA URINE

OLEH :
NAMA

: SULHADANA

STANBUK

: F1D1 14 025

KELOMPOK

: II (DUA)

ASISTEN

: SALWINDA

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Urine (Air kemih) merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah
yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Kandungan urine bergantung keadaan kesehatan dan makanan sehari-hari yang
dikonsumsi oleh masing-masing individu. Individu normal mempunyai pH
antara 5 sampai 7. Faktor yang memperngaruhi pH urine seseorang adalah
yaitu makanan sehari-hari dan ketidak seimbangan hormonal. Warna urine
adalah kuning keemasan. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa
seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.
Ekskresi merupakan pengeluaran bahan-bahan yang tidak berguna yang
berasal dari sisa metabolisme. Tubuh manusia terdapat organ-organ yang
berperan dalam ekskresi tersebut, yaitu par-paru, kulit, hati, ginjal. Kulit
merupakan salah satu organ ekskresi keringat, minyak dan garam-garam
mineral. Paru-paru mengekskresikan CO2 dan uap air (H2O). Sedangkan hati
mengekskresikan empedu dan ginjal mengekskresikan urin dan zat-zat
buangan seperti urea, asam urat,dll. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah
atau keadaan urine yaitu diantaranya jumlah air yang diminum, keadaan sistem
syaraf, hormon ADH, banyaknya garam yang harus dikeluarkan dari darah agar
tekanan menjadi osmotik, pada penderita diabetes melitus pengeluaran glukosa

diikuti kenaikan volume urine. Berdasrkan uraian diatas, maka dilakukan


praktikum pemeriksaan protein dan glukosa urine.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana mengetahui cara pemeriksaan protein dan glukosa urine?
2. Bagaimana mengetahui kadar protein dan glukosa urine?
C. Tujuan Praktikum
Tujuan yang ingin dicapai pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara pemeriksaan protein dan glukosa urine.
2. Untuk mengetahui kadar protein dan glukosa urine.
D. Manfaat Praktikum
Manfaat yang dapat diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Dapat mengetahui cara pemeriksaan protein dan glukosa urine.
2. Dapat mengetahui kadar protein dan glukosa urine.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Urine
Urine atau air kemih merupakan cairan sisa yang dieksresikan
oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui
proses urinalisasi. Eksresi urin diperlukan untuk membuang molekulmolekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk
menjaga homeostasis cairan tubuh, dalam mempertahankan homeostasis
tubuh. Peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan
oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Komposisi zat-zat dalam urin
bervariasi tergantung jenis makanan serta air yang diminumnya.
Urine normal berwarna jernih transparan, sedang urin warna kuning
muda urin berasal dari zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin). Urine
normal pada manusia terdiri dari air, urea, asam urat, amoniak, kreatinin,
asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam, garam terutama
garam dapur, dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah misalnya
vitamin C dan obat-obatan (marufah, 2011).
B. Kadar Protein Urine
Pemeriksaan urine di laboratorium dikenal dengan nama urinalisis.
Urinalisis meliputi pemeriksaan warna, kejernihan, berat jenis, pH,
protein, glukosa, keton, dan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan
tersebut berguna untuk mendiagnosis penyakit ginjal, infeksi saluran
kemih, dan untuk mendeteksi penyakit gangguan metabolisme yang tidak
berhubungan dengan ginjal. Salah satu pemeriksaan penyakit dengan urine
adalah

proteinuria.

Beberapa

keadaan

yang

dapat

menyebabkan

proteinuria adalah penyakit ginjal, nefropati karena diabetes, pielonefritis,


nefrosis lipoid), demam, hipertensi, multiple myeloma, infeksi saluran

kemih. Proteinuria juga dapat dijumpai pada orang sehat setelah kerja
jasmani, urine yang pekat atau stress karena emosi (Faizal, 2013).
Kegagalan ginjal dikarenakan kerusakan ginjal ditandai dengan
gejala adanya protein dalam urine (proteinuria atau albu-minuria), darah
dalam urine (hematuria) dan kenaikan tingkat urea atau kreatinin (sisa
produksi metabolisme protein) dalam darah. Seseorang yang mempunyai
kerusakan ginjal dianjurkan mengurangi konsumsi protein, karena semakin
tinggi konsumsi protein maka akan memperberat kerja. Penderita gagal
ginjal kronik dengan asupan protein yang tidak cukup maka tubuh
cenderung akan menggunakan simpanan protein dalam otot sehingga akan
terjadi katabolisme protein. Pemecahan protein darah yang berlebihan
akan menyebabkan peningkatan kadar ureum dan kadar kreatinin dalam
darah (Martini, 2012).
C. Kadar Glukosa Urine
Glukosa merupakan kelompok senyawa karbohidrat sederhana atau
monosakarida. Glukosa

terdapat

dalam

buah-buahan

dan

madu

lebah. Glukosa berfungsi sebagai sumber energi untuk sel-sel otak, sel
saraf, dan sel darah merah. Darah manusia normal mengandung glukosa
dalam jumlah atau konsentrasi yang tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap
100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan
makanan sumber karbohidrat, namun setelah kira-kira 2 jam setelah
makan, jumlah darah akan kembali seperti semula (Tamridho, 2003).
Peningkatan kadar glukosa di dalam darah memiliki efek
langsung terhadap organ ginjal. Normalnya glukosa tidak ditemukan di
dalam urin dikarenakan proses filtrasi ginjal yang memungkinkan glukosa

direabsorbsi kembali kedalam pembuluh darah. Ambang batas toleransi


ginjal terhadap glukosa yatu 160 mg/dl - 180 mg/dl. Jika ambang batas
terlampaui maka glukosa akan diekskresikan ke dalam urin karena ginjal
tidak mampu menampung kadar glukosa yang berlebih tersebut sehingga
timbul suatu keadaan yang dinamakan glukosuria. Urine seorang penderita
diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urine
orang yang sehat. Pemeriksaan terhadap adanya glukosa dalam urine dapat
dilakukan dengan cara yang berbeda- beda. Cara yang tidak spesifik dapat
dilakukan dengan menggunakan suatu zat dalam reagen yang berubah sifat
dan warnanya jika direduksi oleh glukosa (Rahmatullah, 2015).
Tes glukosa urin dapat dilakukan dengan menggunakan reaksi
reduksi, dikerjakan dengan menggunakan fehling, benedict, dan clinitest.
orang normal tidak ditemukan adanya glukosa dalam urin. Glukosuria
dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi
kapasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa. Hal ini dapat
ditemukan pada kondisi diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma
Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau
karena ambang rangsang ginjal yang menurun (Rahmawati, 2009).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Oktober 2016, pukul
13.00-15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas HaluOleo,
Kendari.

B. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Bahan dan kegunaan
N
Nama Bahan
o
1.
2.
3.
4.

Urine
Reagen fehling A
Reagen fehling B
Reagen Robert

Fungsi
Sebagai objek pengamatan
Sebagai larutan penguji adanya glukosa
Sebagai larutan penguji adanya glukosa
Sebagai larutan penguji adanya protein

C. Alat Praktikum
Alat yang digumnakan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Alat dan kegunaan
No
Nama Alat
1. Tabung reaksi
2. Gegep
3. Hot plate
4. Pipet tetes
5. Rak tabung reaksi
6. Alat tulis

Kegunaan
Untuk mencampur larutan
Untuk menjepit tabung reaksi
Untuk memanaskan larutan
Untuk mengambil larutan
Untuk menempatkan tabung reaksi
Untuk menulis hasil pengamatan

D. Prosedur kerja
Prosedur kerja yang akan dilakukan pada praktikum ini adalah:
1.

Menyiapkan alat dan bahan praktikum.

2.

Pemeriksaan protein dengan uji Robert dengan cara sebagai berikut :


a. Memasukan 3 mL larutan reagen Robert ke dalam tabung reaksi.
b. Menambahkan urine kedalam tabung reaksi di atas 3 mL melalui
dinding tabung dengan menggunakan pipet tetes.

c. Melihat reaksi urine yang ada dalam tabung reaksi.


d. Mengambil gambar pengamatan.
3. Pemeriksaan glukosa dalam urine dengan cara sebagai berikut :
a. Mencampurkan reagen fehling A dan reagen fehling B pada masingmasing 5 mL larutan.
b. Menambahkan kedalam tabung reaksi tersebut sebanyak 2,5 mL urine,
kemudian bagi kedalam 3 tabung reaksi yang sama banyak.
c. Memanaskan semua tabung reaksi sampai mendidih.
d. Melihat reaksi urine yang terjadi pada urine.
e. Mengambil gambar pengamatan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Pengamatan
Glukosa urine
Penambahan
Penambahan
No. Probandus
reagen tanpa
reagen setelah
pemanasan
pemanasan
1
2
3
4

Ket.

Protein
Urine

Ket.

1.

2.

3.

Hasriani
Biru
kehitama
n

Terdapat
cincin
putih

Hijau
keruh

Terdapat
cincin
putih

Hijau
pekat

Terdapat
cincin
putih

Sulhadana

Muhaimin

B. Pembahasan
Sistem eksresi merupakan hal yang pokok dalam fungsi homeostatis
karena sistem tersebut membuang limbah metabolism dan merespons terhadap
tingkat keseimbangan cairan tubuh dengan cara mengeksresikan ion-ion
tertentu sesuai kebutuhan dan mengeluarkan sebagian dari sisa metabolisme
yang tidak terpakai lagi oleh tubuh dalam bentuk yang bermacam-macam,
baik itu berupa lewat urine yang di didalamnya terkandung berbagai macam
kandungan mineral, glukosa, dan zat lain yang tidak diperlukan tubuh, selain

urine juga bisa melalui keringat.


Urine (Air kemih) merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh
ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi
urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urine
disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih,
akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urine normal biasanya
berwarna kuning, berbau khas jika didiamkan berbau ammoniak, pH berkisar
4,8-7,5 dan biasanya 6 atau 7. Berat jenis urine 1,002-1,035. Volume normal
perhari 900-1400 ml.
Urine terbentuk melalui 3 tahap, yaitu proses filtrasi, reabsorpsi dan
augmentasi. Tahap filtrasi yang terjadi di glomerulus akan menghasilkan urin
primer, glukosa, asam amino, garam, air, urea, asam urat, ion. Lalu terjadi
penyerapan kembali pada tahap reabsorpsi dan menghasilkan urin sekunder.
Kemudian pada tahap yang terakhir terjadi penambahan zat sisa seperti urea,
asam urat, sisa obat, H+, NH4+. Proses ketiga ini terjadi di tubulus kontortus
distal sampai tubulus kolektivus dan menghasilkan urine yang sebenarnya
yang kemudian akan menuju pelvis (rongga) lalu ke ureter, vesika urinaria
(kantong urine), jika kantong urine sudah penuh akan dikeluarkan melalui uret
ra. Urine yang dihasilkan oleh setiap orang tentu berbeda-beda. Banyak
sedikitnya urin yang dikeluarkan tiap harinya dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya, zat-zat deuretik seperti kopi, teh, alkohol, kemudian dipengaruhi
juga oleh suhu, volume larutan dalam darah dan emosi seseorang.

Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari fungsi


ginjal dalam pemeriksaan kadar protein dan glukosa yang ada pada urine.
Proses hasil percobaan protein urine terdapat sampel dari tiga mahasiswa,
ketiga mahasiswa tersebut yang telah diuji pada pemeriksaan protein pada
sampel tersebut semuanya menyatakan positif karena terdapat protein urine
pada semua tabung terdapat cicin putih, jadi dapat dipastikan bahwa urine
semua mahasiswa mengandung protein. Dasarnya urine yang normal tidak
ditemukan protein yang ada didalam urinenya, jika ditemukan maka bisa
terjadi kelainan atau gangguan fisiologi yang terjadi pada ginjal atau hal
yang lain yang menyangkut fungsi ginjal. Protein yang berlebih pada urine
atau yang biasa disebut proteinuria menunjukan kerusakan pada ginjal.
Proteinuria juga dapat dijumpai pada orang sehat setelah kerja jasmani, urine
yang pekat atau stress karena emosi.
Pengamatan pada proses pemeriksaan glukosa dalam urine terdapat
hasil yang negatif, dapat dipastikan bahwa terdapat glukosa urine dari
ketiga mahasiswa tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan pada sampel uji
tidak terjadi endapan merah bata, hal ini menunjukan adanya glukosa
dalam darah tetapi dalam kadar yang rendah. Glukosa yang memiliki kadar
tinggi apabila terjadi perubahan warna biru menjadi warna kuning atau
merah bata dan terdapat endapan. Urine orang sehat tidak mengandung
glukosa karena gula darah masih normal, sebab glukosa dalam darah telah
tersaring oleh ginjal di dalam glomerulus pada saat proses filtrasi
(penyaringan darah).

Semua proses pemeriksaan sampel protein dan glukosa pada urine


digunakan beberapa reagen, yang berfungsi sebagai indikator dalam
mengetahui adanya suatu glukosa dan protein seperti yang terjadi pada
reagen Robert dan Fehling A dan B. Larutan fehling mereduksi glukosa
terhadap kuprioksida (CuSO4) sehingga terbentuk endapan berwarna
merah bata (merah kekuningan).

V. PENUTUP
A. Simpulan
Simpulan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Cara pemeriksaan pemeriksaan sampel protein dan glukosa pada urine
digunakan beberapa reagen, yang berfungsi sebagai indikator dalam
mengetahui adanya suatu glukosa dan protein seperti yang terjadi pada
reagen Robert dan Fehling A dan B. Larutan fehling mereduksi glukosa

terhadap kuprioksida (CuSO4) sehingga terbentuk endapan berwarna


merah bata (merah kekuningan).
2. Kadar glukosa urine yang diamati rendah karena tidak adanya endapan
merah bata pada masing-masing sampel uji, sedangkan pengamatan kadar
protein urine

menunjukan semua sampel urine positif mengandung

protein.

DAFTAR PUSTAKA

Faizal, 2013, Perbedaan Hasil Pemeriksaan Protein Urine Metode Rebus Yang
Menggunakan Sampel Urine Segar dan Sampel Urine Simpan,
Prodi Analis Kesehatan Aakmal, Malang.
Martini, Nur, E., W. dan Mutalazimah, 2010, Hubungan Tingkat Asupan Protein
dengan Kadar Ureum dan Kreatinin Darah pada Penderita Gagal Ginjal
Kronik di Rsud Dr. Moewardi Surakarta, Kesehatan, 3 (1) : 19-26
Marufah, 2011, Hubungan Glukosa Urin Dengan Berat Jenis Urin, Glukosa Urin,
3 (1) : 1-2

Rahmatullah, A., Leva, BA., dan Agung, FS., 2015, Hubungan Kadar Gula
Darah dengan Glukosuria pada Pasien Diabetes Mellitus di RSUD AlIhsan Periode Januari-Desember 2014, Universitas Islam Bandung,
Bandung.
Rahmawati, K.S., Rianto, S., Mawati Dan Purnomoadi, A., 2009, Keluaran Kreati
nin Lewat Urin dan Hubungannya dengan Protein Tubuh Pada Domba
pada Berbagai Imbangan Protein-Energi, Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner .
Tamridho, R., 2003, Rancang Bangun Alat Pengukur Kadar Gula Darah,
Universitas Indonesia, Jakarta.