Anda di halaman 1dari 9

GARIS BESARPROGRAMPEMBELAJARAN (GBPP)

Kode Mata Kuliah

TP 3121

Nama Mata Kuliah

STUDIO PERENCANAAN KOTA

SKS

4 SKS

Dosen

Nana Novita Pratiwi,ST,M.Eng


Vetty Puryanty, ST, MT
Anty Septianti, ST,MT

Semester

Ganjil

Deskribsi

Mata kuliah Studio Perencaan Kota ini merupakan


mata kuliah praktek lapangan dalam rangka upaya
menerapkan pengetahuan teori, konsep, pendekatan
dan metoda analisis perencanaan kota yang memuat
substansi dalam pembuatan Rencana Detail Tata
Ruang Kota (RDTR) pada bagian kota yang terpilih
sehingga dihasilkan suatu produk rencana yang akan
berfungsi sebagai arahan pengembangan kota dimasa
yang akan datang. Konsep dan pendekatan yang
spesifik dipilih berdasarkan pertimbangan obyektif
sesuai dengan persoalan kasus bagian kota yang
terpilih dengan mengacu pada peraturan-peraturan
terkait.

Manfaat

Mata kuliah studio perencanaan kota dimaksudkan


untuk memperoleh pemahaman dan keterampilan
yang komperhensif tentang bagaimana caranya
merencanakan suatu produk tata ruang berupa
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTR). Dengan
demikian, mahasiswa mampu mengenal, memahami,
menganalisis dan merencanakan suatu wilayah bagian
kota dengan menjabarkannya kedalam bentuk laporan
dan peta-peta.

Strategi Pembelajaran

Pembelajaran mata kuliah Studio Perencanaan Kota


menggunakan pendekatan yang berorientasi pada
kerja praktek melalui kegiatan berupa survey
lapangan, pengolahan data, analisis dan rencana
dimana setiap kegiatannya diperlukan bimbingan atau
asistensi pada dosen pendamping.

Kerangka Acuan Kerja

KAK tugas dapat dilihat pada lampiran berikut

TOR Studio Perencanaan Kota

Masing-masing kelompok akan mendapatkan satu wilayah perencanaan yaitu bagian


wilayah kota dengan unit wilayah kajiannya berupa kecamatan yang telah ditentukan oleh
Dosen melalui kesepakatan Kota terpilih bersama mahasiswa

Produk yang dihasilkan berupa Rencana Detail Tata Ruang Kota. RDTR merupakan
rencana yang menetapkan blok pada kawasan fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke
dalam wujud ruang yang memperhatikan keterkaitan antar kegiatan dalam kawasan
fungsional agar tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan
penunjang dalam kawasan fungsional tersebut. RDTR yang disusun lengkap dengan
peraturan zonasi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk suatu BWP
tertentu.

Menggunakan peta dengan kedetailan 1:5000

Kawasan: Kecamatan yang ada di suatu Kota/Kabupaten

Produk yang dihasilkan:


1. Laporan fakta-analisa, rencana dan kawasan prioritas
2. Album Peta

Muatan Materi
1. Tujuan Penetapan Bagian Wilayah Perencanaan (BWP). Contoh rumusan tujuan BWP :
mewujudkan Kawasan Koridor Ampenan-Mataram-Cakranegara (AMC) sebagai embrio
kawasan strategiscpertumbuhan ekonomi serta sebagai ikon kota Mataram Metro.
Prinsip penataan ruang adalah:
tersedianya aksesibilitas internal dan eksternal yang baik;
tersedianya jaringan prasarana dan sarana yang memadai untuk
terwujudnya kawasan atau kegiatan perdagangan dan jasa berskala
internasional;
tersedianya fungsi-fungsi ekologis yang cukup dan ruang terbuka hijau
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
tersedianya peraturan zonasi yang operasional dan sesuai dengan
karakteristik dari koridor AMC.
2. Rencana pola ruang. Rencana pola ruang dalam RDTR merupakan rencana distribusi
subzona peruntukan yang antara lain meliputi hutan lindung, zona yang memberikan
perlindungan terhadap zona di bawahnya, zona perlindungan setempat, perumahan,
perdagangan dan jasa, perkantoran, industri, dan RTNH, ke dalam blok-blok. Rencana
pola ruang dimuat dalam peta yang juga berfungsi sebagai zoning map bagi peraturan
zonasi.
Tujuan penetapan BWP dan rencana pola ruang tidak terlepas dari kajian sebagai
berikut:
a. Kajian kebijakan diatasnya
b. Kajian kebijakan sektoral
c. Analisis wilayah yang lebih luas yaitu Kota
d. Kajian kondisi fisik dasar wilayah perencanaan: Analisis sumber daya air, sumber
daya tanah, topografi/kelerengan, geologi lingkungan, klimatologi, zona lindung,
zona budidaya.

Kajian kondisi sosial budaya: mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang
mempengaruhi pengembangan wilayah perencanaan seperti elemen-elemen kota
yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi (urban heritage, langgam
arsitektur, landmark kota) serta modal sosial dan budaya yang melekat pada
masyarakat (adat istiadat) yang mungkin menghambat ataupun mendukung
pembangunan, tingkat partisipasi/peran serta masyarakat dalam pembangunan,
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, dan pergeseran nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat setempat.
f.
Kajian kependudukan: Proyeksi penduduk, analisis komposisi penduduk, analisis
pergerakan penduduk dan dinamika penduduk dll.
g. Kajian ekonomi dan sektor unggulan: Analisis struktur ekonomi, potensi dan
peluang ekonomi, keterkaitan ekonomi antar kawasan, disparitas antar BWP.
h. Kajian sumber daya buatan: Analisis kebutuhan sarana dan prasarana, analisis
transportasi
i.
Penataan kawasan dan bangunan: analisis jenis dan kapasitas fungsi/kegiatan
kawasan, kualitas dan intensitas bangunan dll.
j.
Kelembagaan: struktur organisasi dan tata laksana pemerintahan, SDM organisasi,
sarana dan prasarana kerja, produk2 peraturan pemerintah dll.
k. Pembiayaan pembangunan: Analisis pembelanjaan pembangunan, alokasi yang
terpakai dan sumber2 pembiayaan
3. Rencana Jaringan Prasarana, meliputi:
a. Rencana pengembangan jaringan pergerakan atau transportasi
b. Rencana pengembangan jariangan energy/kelistrikan
c. Rencana pengembangan jaringan telekomunikasi
d. Rencana jaringan air minum
e. Rencana pengembangan jaringan draianse
f. Rencana pengembangan jaringan air limbah
4. Indikasi program. Indikasi program dilakukan dalam rangka menyusun berbagai
program kegiatan pengembangan BWP dalam jangka waktu 5 tahunan sampai akhir
tahun masa perencanaan. Aspek yang terdapat dalam indikasi program dapat dilihat
pada tabel dibawah ini
e.

N
o

Program

Lokasi

Besaran

Sumber Dana

Instansi Pelaksana

Waktu

Kolom
program diisi
berdasarkan
program
kegiatan
prioritas yang
merupakan
kegiatan
paling urgen
serta program
tambahan
yang
merupakan
program
pendukung
bagi
terlaksananya
pembanguna

Lokasi
merupakan
tempat
dimana
usulan
program
akan
dilaksanaka
n

Besaran
merupakan
perkiraan
jumlah satuan
masing-masing
usulan
program
prioritas
pengembanga
n wilayah yang
akan
dilaksanakan

Sumber
pendanaan
dapat berasal
dari Anggaran
Pendapatan
dan Belanja
Daerah
(APBD)
kabupaten/kota
, APBD
provinsi,
Anggaran
Pendapatan
dan Belanja
Negara
(APBN),
swasta,
dan/atau

Instansi pelaksana
merupakan pihakpihak pelaksana
program yang
meliputi
pemerintah seperti
satuan kerja
perangkat daerah
(SKPD), dinas teknis
terkait, dan/atau
kementerian/lembaga
, swasta, dan/atau
masyarakat

Program
direncanaka
n dalam
kurun waktu
perencanaan
20 (dua
puluh) tahun
yang
dirinci setiap
5 (lima)
tahunan dan
masingmasing
program
mempunyai
durasi
pelaksanaan
yang

n
kawasan
perencanaan

masyarakat

bervariasi
sesuai
kebutuhan

5. Peraturan Zonasi. Peraturan zonasi memuat materi yang meliputi ketentuan kegiatan
dan penggunaan lahan, ketentuan intensitas pemanfaatan lahan, ketentuan tata
bangunan, ketentuan sarana dan prasarana minimal dan ketentuan pelaksanaan.
Peraturan zonasi dimuat dalam teks dan peta.
Contoh untuk zoning tekt: Misalkan pada zona perumahan (R) dan sub zona kepadatan
tinggi (R-1)
Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan
a. Peruntukan ruang yang merupakan bagian dari kawasan budi daya difungsikan
untuk tempat tinggal atau hunian dengan perbandingan yang sangat besar
antara jumlah bangunan rumah dengan luas lahan dan memiliki kepadatan
bangunan diatas 1000 (seribu) rumah/hektar
b. Kegiatan penggunaan lahannya al:
o Pemanfaatan Bersyarat secara Terbatas (T) : Supermarket, Ruko, warung,
toko, pasar lingkungan dll
o Pemanfaatan Bersyarat Tertentu (B) : Rumah tunggal, kopel, deret,
townhouse, Rumah mewah, rumah adat, SPBU dll.
Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang
a. KDB maksimum sebesar 70%
b. KLB maksimum sebesar 2.1-3.0
c. KDH minimal 30% dari keseluruhan luas lahan perumahan, setiap 100 m2 RTH
diharuskan minimum ada 1 pohon tinggi dan rindang
d. Kepadatan Bangunan atau Unit Maksimum: Kepadatan bangunan dalam satu
pengembangan kawasan baru perumahan tidak bersusun maksimum 200
rumah/ha dan dilengkapi PSU yang memadai, adapun kepadatan perumahan
bersusun maksimum 1000 rumah/ha dilengkapi PSU yang memadai pula.
Ketentuan Tata Bangunan
a. GSB
I.
Kavling besar:Sempadan muka bangunan adalah 14 meter, sempadan
samping bangunan adalah 8 meter, sempadan belakang bangunan adalah 10
meter
II.
Kavling sedang: Sempadan muka bangunan adalah 9 meter, sempadan
samping bangunan adalah 4 meter, sempadan belakang bangunan adalah 5
meter\
III.
Kavling kecil: Sempadan muka bangunan adalah 6 meter, sempadan samping
bangunan adalah 3 meter, sempadan belakang bangunan adalah 2 meter
IV.
Sempadan terhadap jalan dan bangunan public: Sempadan terhadap jalan
pada bangunan rumah tanah adalah minimal 6 meter, pada bangunan rumah
susun adalah minimal setengah dari panjang fasade bangunan
b. Ketinggian maksimum dan minimum :
I.
Ketinggian bangunan maksimum perumahan berkepadatan tinggi bersusun
adalah 40 meter (setara dengan 8 lantai).
II.
Ketinggian bangunan maksimum perumahan berkepadatan tinggi tidak
bersusun adalah 10 meter (setara dengan 2 lantai).
III.
Jarak vertikal dari lantai dasar ke lantai di atasnya tidak boleh lebih dari 7
meter
IV.
Bangunan yang memiliki luas mezanin lebih dari 50% dari luas lantai dasar
dianggap sebagai lantai penuh.

c. Jarak bebas antar bangunan minimum


Perumahan berkepadatan tinggi tidak bersusun dengan jarak bebas samping 2
meter dan jarak bebas belakang 2 meter.
d. Tampilan bangunan
I.
Ketentuan arsitektural yang berlaku pada subzona perumahan ini adalah
bebas, dengan catatan tidak bertabrakan dengan arsitektur tradisional lokal
serta tetap memperhatikan keindahan dan keserasian lingkungan sekitar.
II.
Warna bangunan, bahan bangunan, tekstur bangunan, tidak diatur mengikat.
Ketentuan Prasarana dan Sarana Minimum
a. Jalur pejalan kaki
Jalur pejalan kaki dengan tipe sidewalk dengan LOS B seluas 5,6m2/pejalan
kaki dan arus
pejalan kaki lebih dari 16-23 orang/menit/meter.
Dilengkapi fasilitas pejalan kaki seperti lampu jalan, bangku jalan, fasilitas
penyeberangan,
dan jalur hijau serta dapat terintegrasi dengan tempat parkir/jalur sepeda.
b. Ruang terbuka hijau
Ruang terbuka hijau berupa taman rekreasi skala kota.
Ruang terbuka hijau privat bagi rumah berlantai 2 atau lebih wajib
menerapkan konsep "green roof".
c. Ruang terbuka non hijau: Ruang terbuka non hijau berupa lapangan olahraga.
d. Utilitas perkotaan
Hidran halaman minimal memiliki suplai air sebesar 38 liter/detik pada tekanan
3.5 bar dan mampu mengalirkan air minimal selama 30 menit.
Hidran umum harus mempunyai jarak maksimal 3 meter dari garis tepi jalan.
Jalan lokal dan lingkungan harus memenuhi unsur luas bangunan dengan
lebar perkerasan minimal 4 meter dan mengikuti model cul de sac, model T,
rotary, atau melingkar.
e. Prasarana lingkungan
Memiliki kemudahan akses yang dapat dilewati pemadam kebakaran dan
perlindungan sipil, lebar jalan minimum 3,5 meter.
Tempat sampah volume 50 liter sudah dibedakan jenis sampahnya (organik
dan non organik) serta diangkut menggunakan gerobak berkapasitas 1,5
meter kubik dengan metode angkut tidak tetap.
Pembuangan sampah organik dilakukan di dalam lubang biopori pada setiap
blok.
Tersedia prasarana pembuangan limbah domestik sebelum dialirkan ke
bangunan pengolahan air limbah (sistem off site).
Drainase lingkungan tepi jalan dibuat berada dibawah trotoar.
Untuk rumah tanah, setiap bangunan rumah harus memiliki bak septik yang
berada di bagian depan kavling dan berjarak sekurang-kurangnya 10 meter
dari sumber air tanah, sedangkan rumah susun atau apartemen
diperkenankan menggunakan bak septik komunal.
Penyediaan lahan parkir umum untuk area hunian skala RT (250 penduduk)
memiliki standar penyediaan 100 m2 dan skala RW (2.500 penduduk) memiliki
standar penyediaan 400 m2 lokasinya tersebar di setiap pusat lingkungan
hunian pada skala RT atau RW dan penggunaannya yang juga sekaligus
berfungsi sebagai pangkalan sementara kendaraan angkutan publik

Penyediaan lahan parkir umum untuk area hunian skala kelurahan (30.000
penduduk) lokasinya tersebar di setiap pusat lingkungan hunian pada skala
kelurahan, dan memiliki standar penyediaan 2.000 m2, dengan penyebaran
lokasi pada area pusat lingkungan kelurahan, dan dipisahkan dengan terminal
wilayah kelurahan (seluas 1.000 m2) dan pangkalan oplet/angkot seluas 200
m2
Penyediaan lahan parkir umum untuk area hunian skala kecamatan (120.000
penduduk) lokasinya tersebar di setiap pusat lingkungan hunian pada skala
kecamatan, dan memiliki standar penyediaan 4.000 m2, dengan penyebaran
lokasi pada area pusat lingkungan kecamatan, dan dipisahkan dengan
terminal wilayah kecamatan (seluas 2.000 m2) dan pangkalan oplet/angkot
(seluas 500 m2)
f. Fasilitas pendukung
i. Fasilitas kesehatan minimal berupa puskesmas (skala kelurahan).
ii. Fasilitas pendidikan dari SD hingga SMA yang dikembangkan secara
terbatas jumlahnya.
6. Rencana Penetapan Sub BWP yang diproritaskan (Kawasan Prioritas).
Tema penanganan pada kawasan prioritas:
Perbaikan prasarana, sarana, dan blok/kawasan, contohnya melalui penataan
lingkungan permukiman kumuh (perbaikan kampung), dan penataan lingkungan
permukiman nelayan;
Pengembangan kembali prasarana, sarana, dan blok/kawasan, contohnya melalui
peremajaan kawasan, pengembangan kawasan terpadu, serta rehabilitasi dan
rekonstruksi kawasan pascabencana;
Pembangunan baru prasarana, sarana, dan blok/kawasan, contohnya melalui
pembangunan kawasan permukiman (Kawasan Siap Bangun/Lingkungan Siap
Bangun-Berdiri Sendiri), pembangunan kawasan terpadu, pembangunan desa
agropolitan, pembangunan kawasan perbatasan; dan/atau
Pelestarian/pelindungan blok/kawasan, contohnya melalui pelestarian kawasan,
konservasi kawasan, dan revitalisasi kawasan.

a.

Outline
i. Laporam Fakta dan Analisa
BAB 1 Pendahuluan (Fajar dan Ingga)
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Tujuan dan Sasaran
1.3.
Ruang Lingkup
1.31. Ruang Lingkup Lokasi
1.3.2. Ruang Lingkup Materi
1.4.
Landasan Hukum
1.5.
Sistematika Pelaporan
BAB 2 Landasan Teori dan Metodologi
I.1.
Landasan Teori (Irvan)
I.2.
Metodologi Pekerjaan (Aris)
BAB 3 Tinjauan Kebijakan (anggy)
I.1.
Kebijakan kota diatasnya
I.2.
Kebijakan sektoral
BAB 4 Tinjauan Wilayah Yang Lebih Luas
Kodisi Fisik Wilayah
i. Fisik Alami(Elsa)

b.
c.

ii. Fisik Binaan(Rendi)


Kondisi Kependudukan(Elsa)
Kondisi Ekonomi(Rendi)
BAB 5 Fakta Wilayah Perencanaan
5.1.
Kondisi Fisik Wilayah Perencanaan (INGGA IRVAN)
5.1.1. Kondisi Fisik Alami
1. Topografi/kelerengan
2. Jenis tanah/geologi
3. Klimatologi
4. Kondisi Sumber Daya Alam
5. Kawasan Lindung
6. Kawasan Budidaya
5.1.2. Kondisi Fisik Binaan (ARIS, FAJAR)
A. Penggunaan Lahan
B. Fasilitas (Perumahan, Perkantoran, Perdagangan dan Jasa,
Pendidikan, Kesehatan, Peribadatan, Fasilitas Umum, RTH dll)
C. Utilitas (Listrik Telepon, Air Bersih, Drainase, Saluran Air limbah,
Persampahan dll)
D. Transportasi (Prasarana Transportasi: kondisi dan dimensi jalan,
kelas jalan, fugsi jalan dll; Sarana Transportasi: moda transportasi,
pelabuhan, terminal, pangkalan ojek, fasilitas penunjang jalan, dll,
Pergerakan Orang dan Barang)
E. Intensitas dan Masa Bangunan (KDB, KLB, TB, KDH, GSB, Jarak
Bangunan dll)
F. Kondisi bangunan dan lingkungan (Kondisi Bangunan, Perkerasan
bangunan, Arah hadap bangunan,kondisi lingkungan dll)
5.2.
Kondisi Sosial Kependudukan(ELSA)
5.2.1. Kondisi Kependudukan
A. Jumlah dan Kepadatan Penduduk
B. Pertumbuhan Penduduk
C. Komposisi Penduduk (Penduduk menurut umur dan jenis kelamin,
pendidikan, mata pencaharian, agama, lahir-mati, migrasi masukkeluar)
5.2.2. Kondisi Sosial
A. Partisipasi masyarakat
B. Kebiasaan masyarakat
C. Adat istiadat (kearifan local)
D. Dll
5.3.
Kondisi Ekonomi(RENDI)
5.3.1. Kondisi Ekonomi Makro
5.3.2. Kondisi Ekonomi Mikro
A. Pendapatan Masyarakat
B. Mata pencaharian dan sector utama
C. dll
5.4.
Kondisi Kelembagaan (ANGGI)
5.5.
Pembiayaan Pembangunan (ANGGI)
BAB 6 Analisis Wilayah Perencanaan
6.1.
Analisis tinjauan kebijakan dan tinjauan wilayah lebih luas (ELSA, RENDI)
6.2.
Analisis Pemanfaatan Lahan (INGGA)
A. Kawasan Lindung

B. Kawasan Budidaya
Analisis Kependudukan dan Sosial (ELSA)
A. Proyeksi Penduduk
B. Analisa Kepadatan Penduduk
C. Analisa Karakteristik Penduduk dan Kualitas SDM
D. Analisa Sosial Kemasyarakatan
6.4.
Analisa Kebutuhan Fasilitas (FAJAR, ANGGY, IRVAN)
A. Analisa kebutuhan fasilitas perumahan
B. Analisa kebutuhan fasilitas perjas
C. Analisa kebutuhan fasilitas pendidikan
D. Analisa kebutuhan fasilitas kesehatan
E. Analisa kebutuhan fasilitas peribadatan
F. Analisa kebutuhan fasilitas Perkantoran
G. Analisa kebutuhan fasilitas Umum dan RTH
6.5.
Analisa Kebutuhan Utilitas (ARIS, RENDI, IRVAN)
A. Analisa kebutuhan Kelistrikan
B. Analisa kebutuhan Telepon
C. Analisa Kebutuhan Air Bersih
D. Analisa Kebutuhan Drainase dan Air Limbah
E. Analisa Kebutuhan Persampahan
F. Dll
6.6.
Analisa Transportasi (ARIS, ELSA, INGGA)
A. Analisa Kualitas dan Dimensi Jalan
B. Analisa Kondisi dan Kebutuhan Sarana Perangkutan (Angkutan darat, sungai
dan udara)
C. Analisa Kawasan Transit Area (pelabuhan, terminal, pangkalan ojek, bandara
dll)
D. Analisa Kondisi dan Kebutuhan Fasilitas Jalan (pedestrian, lampu penerang
jalan, penanda/rambu jalan, fasilitas lainya)
E. Analisa Pergerakan Orang dan Barang
6.7.
Analisa Kondisi Bangunan dan Lingkungan (FAJAR)
6.8.
Analisa Intensitas Bangunan (KDB, KLB, TB, GSB, KDH dll) (FAJAR)
6.9.
Analisa Ekonomi (RENDI)
6.10. Analisa Kelembagaan dan Pembiayaan Pembangunan (AJONG)
6.11. Analisis Penentuan Kawasan Prioritas (AJONG)
BAB 7 Konsep Rencana
7.1.
Tujuan BWP
7.2.
Konsep rencana struktur tata ruang dan Pola Pemanfaatan Ruang
7.3.
Konsep rencana sosial kependudukan
7.4.
Konsep rencana sarana dan prasarana
7.5.
Konsep rencana transportasi
7.6.
Konsep rencana intensitas dan kondisi bangunan-lingkungan
7.7.
Konsep rencana ekonomi
7.8.
Konsep rencana kelembagaan dan pembiayaan pembangunan
7.9.
Konsep pengembangan kawasan prioritas
6.3.

ii. Laporan Rencana


Bab 1 Konsep Rencana
Sama seperti Bab 7 Faknal
Bab 2 Rencana Struktur Tata Ruang dan Pola Pemanfaatan Ruang
Bab 3 Rencana Sosial Kependudukan dan Ekonomi

Bab 4 Rencana Pengembangan Infrastruktur


4.1.
Rencana Pengembangan Fasilitas
4.2.
Rencana Pengembangan Utilitas
4.3.
Rencana Transportasi
Bab 5 Rencana Intensitas dan dan Kosbang-Kosling
Bab 6 Rencana Pengembangan Kelembagaan
Bab 7 Rencana Kawasan Prioritas
Bab 8 Indikasi Program
Bab 9 Zoning Regulation

Timeline
Pertemua
n ke1
2
3-4
5
6-7
8
9
10-13
14
15
16

Kegiatan
Pengantar dan Penjelasan Mekanisme Kerja
Pematangan dan Persiapan Survey
Kegiatan Survey dan Pengolahan data
Progress Fakta
Progress Analisa dan Konsep Rencana
Presentasi FakNal
Progress Revisi Laporan Faknal
Progress Rencana
Progress Indikasi Program dan Zoning Regulation
Presentasi Rencana dan perbaikan
Ujian Studio dan Mahasiswa mengumpulkan
laporan faknal, rencana dan album peta

Nama Kelompok (Tentatif)