Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN HASIL DISKUSI BBDM

MODUL 5.2 SKENARIO 3

MATA CEKOT-CEKOT

KELOMPOK 14
Muhamad Wartono
Monica Destiani
Anisa Rochmah M.
Elisabeth Sukma P.
Rizal Ryamizard
Esti Widyastuti
Vionika Vitasari
Humairo Arum M.
Ahmad Munawwirul A.
Indah Dayanti D.
Novi Hasbyanti
Endah Herdianti
Dina Hisan N.
Galang Skontantinova
M. Nabil T. N. S.

22010114130191
22010114130192
22010114130193
22010114140194
22010114130195
22010114130196
22010114130197
22010114140198
22010114140199
22010114140200
22010114140201
22010114130202
22010114130203
22010114140204
22010114130205

Program Studi Pendidikan Dokter


Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Semarang
2016

SKENARIO 3 MODUL 5.2


MATA CEKOT-CEKOT
Seorang laki-laki usia 60 tahun datang dengan keluhan mata kiri
cekot-cekot. Keluhan dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, keluhan
disertai mata merah, penglihatan turun, dan fotofobia, melihat hallo
(+), nyeri kepala dan mual. Keluhan dirasakan makin lama makin
memerat. Pasien pernah mengalami hal serupa kurang lebih 6 bulan
yan lalu tetapi bisa sembuh sendiri. Pada pemeriksaan oftamologis
didapatkan mata kanan visus 6/6, kondisi mata tenang. Mata kiri visus
1/60, mixed injeksi (+), lakrimasi (+), secrer (-), kornea udem, COA
dangkal, pupil lonjong dengan reflek pupil melabat, lensa keruh.

I.

Terminologi
Hallo (+)
: melihat lingkaran seperti pelangi di
sekeliling cahaya. Biasa pada glaukoma, katarak, edema kornea,
pseudofakos.
Mata cekot-cekot
: sensasi nyeri berdenyut pada mata,
TIO meningkat.
COA dangkal
: kondisi proc. Siliaris lebih ke anterior
mendorong iris perifer lebih ke depan. Pada pemeriksaan COA
digunakan untuk mengetahui sudut terbuka/tertutup. Biasa pada
usia >50 th.
Mixed injeksi
: pelebaran lebih dari 1 pembuluh darah
pada mata.
Kondisi mata tenang : tidak adanya pelebaran pembuluh darah,
tidak ada kelainan.
Kornea udem
: peningkatan cairan di stroma, bisa karena
peradangan, kerusakan endotel, peningkatan TIO
Visus sinistra 1/60
: mata kiri dapat melihat pada jarak 1
m di mana dapat dilihat pada jarak 60 m pada orang normal
Pupil lonjong
: tidak seperti normalnya (bulat).
Lakrimasi
: peningkatan produksi air mata karena
rangsang berlebih pada klj. Lakrima
Fotofobia
: mata terlalu sensitif pada cahaya
Reflek pupil melambat
: saat disinari, proses mengecilnya
pupil melambat
Penglihatan menurun : penurunan ketajaman, penyempitan
lapangan padang

II.

III.

Rumusan Masalah
1. Mengapa nyeri kepala dan mual?
2. Mengapa bisa sembuh sendiri?
3. Mengapa pasien dapat melihat halo?
4. Mengapa gejala memberat?
5. Mengapa visus turun, fotofobia, cekot-cekot, dan hanya di kiri?
6. Apakah diagnosis banding dan diagnosis sementara?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang yang diperlukan?
8. Apa saja terapi awal?
9. Apakah ada hubungan lensa keruh dengan gejala?
10.
Bagaimana hubungan jenis kelamin dan usia dengan
penyakit?
11.
Mengapa pupil lonjong dan reflek melambat?
12.
Bagaimana prognosisnya?
13.
Apa penyebab lakrimasi pada pasien?
Hipotesis Masalah
1. Nyeri kepala : n. V yang tersensitisasi akibat peningkatan TIO
Mual
: Peningkatan TIO kompresi bilik mata depan
gg. Aliran darah konjungtiva & badan silier pelebaran pembuluh
darah nyeri akitivasi saraf otonom parasimpatis di sal cerna
2. Glaukoma sudut tertutup akut fase prodormal: keluhan bisa
sembuh sendiri dalam 2-3 jam
3. Kornea udem (akibat peningkatan TIO, iskemik pembuluh darah
sekitar mata, peningkatan produksi humor aqous) media
refrakta berubah indeks biasnya cahaya terdispersi menjadi 7
warna (halo)
4. Sudut tertutup aliran tersumbat tekanan meningkat gejala
terus memberat
5. Visus turun
: lensa keruh dan kornea udem kekeruhan media
refrakta cahaya << penurunan visus
Cekot-cekot
: peningkatan TIO, iskemi pemb. darah menekan
kornea korna udem menekan n. II nyeri cekot-cekot
Fotofobi
: kontraksi iris meradang
Kiri saja
: glaukoma biasanya unilateral
6. DD:
- Iritis akut fotofobi lebih nyata, tidak ada edema kornea,
TIO tidak meningkat
- Konjungtivitis akut reflek pupil normal, kornea jernih
DS: Glaukoma sudut tertutup akut
7. Pemeriksaan penunjang:
- Tonometri menilai TIO
- Px lap. Pandang
- Gonioskopi menilai COA pada mata yang sehat
- Oftalmoskop menilai n. II pada mata yang sehat
- Pachymetri menilai ketebalan kornea
8. Menurunkan TIO
: asetazolamid oral, steroid, pilokarpin (tidak
pada akut)

Iridotomi
9. Lensa pada usia tua cenderung cembung dan keruh.
Kecembungan tsb mendorong iris ke depan COA dangkal
10. Jenis kelamin
: Perempuan > Laki-laki bola mata lebih
pendek, bilik mata lebih sempit
Usia
: >40 th berisiko terjadi glaukoma akut
penyempitan pada sudut bilik mata
11. Dimasukkan dalam sasaran belajar yang belum terjawab
12. Jika ditangani cepat baik
Biasanya diperiksa keadaan lap. Pandang menurun, iris atrofi,
midriasis permanen buruk bisa menyebabkan kebutaan

IV.

Skema

Gelaja &
tanda
Pemeriksaa
n fisik dan
penunjang

Edukasi dan
Pencegahan
Glaukom
a Sudut
Tertutup
Akut

Tatalaksana
Medikamento
sa
Nonmedikament
osa

Diagnosis
banding
Patofisiologi
V.

Sasaran Belajar
1. Gejala glaukoma sudut tertutup akut
2. Tanda glaukoma sudut tertutup akut
3. Pemeriksaan penunjang
4. Patofisiologi glaukoma sudut terutup akut
5. Diagnosis banding mata merah dengan penurunan visus
6. Terapi medikamentosa dan penulisan resep
7. Terapi nonmedikamentosa/tindakan bedah
8. Edukasi

VI.

Belajar Mandiri
1. GEJALA GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT
Glaukoma akut merupakan presentasi klinis dari glaukoma
sudut tertutup. Kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat.
Gejala-gejala pada glaukoma sudut tertutup akut antara lain :
1. Penurunan tajam penglihatan mendadak

2.
3.
4.
5.
6.

Fotofobia
Tampak halo apabila pasien melihat sumber cahaya
Nyeri yang luar biasa pada mata dan kepala
Mual dan muntah (yang dapat mengaburkan gejala)
Bradikardia akibat refleks okulokardik

2. TANDA GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT


Tanda glaucoma akut
1. Penurunan tajam penglihatan mendadak (<6/60)
2. Mata merah, berair, fotofobia
3. Tampak halo saat melihat sumber cahaya
4. Nyeri luar biasa, mual, muntah
5. Peningkatan TIO, > 50mmHg
6. Injeksi siliar san konjungtiva hiperemis
7. Edema epitel kornea dan kornea keruh
8. Pupil dilatasi, oval vertikel, tidak reaktif
9. Mata kontralateral sudut bilik mata depan dengkal
(gonioskopi)
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Ketajaman Penglihatan
Pada glaucoma sudut terbuka, kerusakan saraf dimulai dari tepi
lapang pandang dan lambat laun meluas ketengah. Dengan
demikian penglihatan sentral (fungsi macula) bertahan lama
walaupun penglihatan perifer sudah tidak ada, sehingga penderita
seolah-olah melihat seperti malalui teropong (tunnel vision) dan
visusnya dapat tetap 6/6.

Tonometri

Cara yang cermat adalah dengan menggunakan Tonometer


Schiotz. Cara pemeriksannya adalah penderita berbaring tanpa
bantal, kemudian matanya ditetesi pantocain 1-2% satu kali.
Suruh pasien melihat ibu jarinya yang diacungkan didepan
matanya dan letakkan tonometer di puncak kornea. Tekanan
normalnya antara 10-20 mmHg atau 7/7,5-10,5/7,5.

Gonioskopi
Adalah suatu cara untuk menilai lebar sempitnya sudut bilik
mata depan. Dengan demikian dapat dibedakan glaucoma sudut
terbuka atau sudut tertutup, juda dapat dilihat apakah ada
perlekatan iris bagian perifer.

Oftalmoskopi
Yang harus diperhatikan adalah papil, yang mengalami
perubahan peggaungan dan degenerasi saraf optic. Harus
diwaspadai adanya glaucoma apabila terdapat penggaungan >0,3
diameter papil (Cup and Disc Ratio), terutama bila diameter
vertical lebih besar dari diameter horizontal.

Pemeriksaan lapangan pandang


TES KONFRONTASI
Tes konfrotasi dimana pada jarak sekitar 0.5 m, pasien dan
pemeriksa saling berhadapan dan pemeriksa menggerakkan

tangannya dari luar ke dalam sedangkan mata pasien dan


pemeriksa yang saling berhadapan ditutup sebelah. Pasien
memperlihatkan gerak tangan mata itu mulai terlihat atau tidak.
Hal itu dilakukan sampai 360 derajat.
KAMPIMETRI
Dibedakan atas lapangan pandang sentral, seluas 30 derajat,
diperiksa dengan layer hitam Byerrum, pada jarak 1 m dengan
menggunakan obyek putih 1 mm (isopter 1/1000) atau pada jarak
2 m dengan obyek sebesar 2 mm (2/2000); dan lapang pandang
perifer yang diukur dengan perimeter atau kampimeter pada
jarak 330 mm dengan menggunakan obyek sebesar 3 mm
(isopter 3/330). Pada glaucoma, kelainan lapang pandang
disebabkan oleh kerusakan serabut saraf. Yang paling dini berupa
skotoma relative atau absolute yang terletak pada 30 derajat
sentral.
Pemeriksaan secara kasarnya adalah dengan tes konfrontasi
dimana pada jarak 0,5 m, pasien dan pemeriksa saling
berhadapan dan pemeriksa menggerakkan tangannya dari luar
kedalam sedang mata pasien dan pemeriksa yang saling
berhadapan ditutup sebelah. Pasien memperhatikan kapan gerak
tangan mata itu mulai terlihat, dan diulangi sampai tercapai 360
derajat.pemeriksaan
ini
dapat
dikerjakan
dengan
catatan kampus pemeriksa harus normal.

Tes provokasi
Untuk glaucoma sudut terbuka, yang umum dilakukan adalah tes
minum air (water drinking test) d imana pasien puasa 4 jam
sebelum tes dan diukur TIO (Takanan Intra Okular)awal, kemudian
pasien disuruh minum 1 liter air dalam waktu 5 menit. TIO diukur
setiap 15 menit selama 1 jam, kemudian setiap 30 menit selama
1 jam. Bila TIO 8 mmHg, provokasi (+) glaucoma.
Untuk glaucoma sudut tertutup, yang umum dilakukan adalah
tes kamar gelap (karena pupil akan midriasis dan pada sudut bilik
mata yang sempit, ini akan menyebabkan tertutupnya sudut bilik
mata). Caranya adalah ukur TIO awal, kemudian pasien masuk
kamar gelap selama 60-90 menit. Ukur segera TIO nya. Kenaikan
8 mmHg, tes provokasi (+).

Pachymetri
Menunjukkan ketebalan kornea. Pemeriksaannya dengan
membuat mata mati rasa dengan obat anestesi local, ujung dari
pachymetri disentuhkan dengan ringan pada permukaan depan
mata (kornea). Ketebalan kornea bisa menunjukkan adanya
peningkatan TIO.
4. PATOFISIOLOGI GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT

Kontraksi muskulus dilator pupil akan meningkatkanoposisi iris dan


anterior lensa, mempertingi tingkat block papil fisiologis yang secara
simultan membuat iris perifer lebih flaccid sehingga mengakibatkan
tekanan bilik mata belakang meningkat dan iris perifer terdorong lebih
anterior, akhirnya iris kontak dengan permukaan kornea posterior dan
TIO meningkat.
Block pupil merupakan penyebab tersering penutupan sudut yang
menyebabkan aliran humour aquos dari bilik mata belakang kebilik
mata depan melalui pupil terganggu dan sumbatan tersebut
menciptakan perbedaan tekanan pada bilik mata depan dan belakang
dimana TIO bilik mata belakang lebih besar bilik mata depan

5. DIAGNOSIS BANDING MATA MERAH DENGAN PENURUNAN VISUS


ULKUS KORNEA
Ulkus kornea merupakan diskontinuitas jaringan kornea akibat
terjadinya defek epitel.
Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma pada oleh
benda

asing,

dan

dengan

air

mata

atau

penyakit

yang

menyebabkan masuknya bakteri atau jamur ke dalam kornea


sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Ulkus kornea
merupakan luka terbuka pada kornea. Keadaan ini menimbulkan
nyeri, menurunkan kejernihan penglihatan dan kemungkinan erosi
kornea.
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai
oleh adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung,
diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai
stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang
tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya
komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan
kebutaan.

Ulkus

kornea

yang

sembuh

akan

menimbulkan

kekeruhan kornea dan merupakan penyebab kebutaan nomor dua


di Indonesia.
a

Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui
cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina,
karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak
ada

pembuluh

darah.

Biasan

cahaya

terutama

terjadi

di

permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan


kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di
kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat
terutama bila letaknya di daerah pupil.
Karena

kornea

avaskuler,

maka

pertahanan

pada

waktu

peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang


mengandung

banyak

vaskularisasi.

Maka

badan

kornea,

wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma


kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul
dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan
tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi
infiltrasi

dari

sel-sel

mononuclear,

sel

plasma,

leukosit

polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat,


yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan
batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat
terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.6
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi
pada

kornea

baik

superfisial

maupun

profunda

dapat

menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat


dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior)
pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat
progresif,

regresi

iris,

yang

meradang

dapat

menimbulkan

fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea


merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya
dilatasi pada pembuluh iris.
Penyakit

ini

bersifat

progresif,

regresif

atau

membentuk

jaringan parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada
proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar
dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka
akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih
kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan

sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang


akan menyebabkan terjadinya sikatrik.
b Manifestasi Klinis
Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa :
Gejala Subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva

Sekret mukopurulen

Merasa ada benda asing di mata

Pandangan kabur

Mata berair

Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

Silau

Nyeri

Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus


terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan
robekan lapisan epitel kornea.
Gejala Objektif

Injeksi siliar

Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat

Hipopion

IRITIS AKUT
Uveitis anterior adalah peradangan pada iris (iritis) atau
peradangan pada iris dan badan siliar (iridosiklitis) yang
merupakan bentuk paling sering terjadi dari uveitis. Peradangan
yang terjadi sering dikaitkan dengan adanya penyakit autoimun,
tetapi banyak kasus terjadi pada orang sehat. Penyakit ini hanya
menyerang salah satu mata dan sering terjadi pada usia muda
dan pertengahan.

Penyebab dari iritis tidak dapat diketahui dengan melihat


gambaran klinisnya saja. Iritis dapat merupakan suatu
manifestasi klinik reaksi imunologik terlambat, dini atau sel
mediated terhadap jaringan uvea anterior. Uveitis anterior dapat
disebabkan oleh gangguan sistemik di tempat lain, yang secara
hematogen dapat menjalar ke mata atau timbul reaksi alergi
mata.

Konjungtivitis akut

Definisi
Radang konjungtiva (konjungtivitis) adalah penyakit mata
paling umum di dunia. Penyakit ini bervariasi mulai dari
hyperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis
berat dengan banyak sekret purulen. Penyebab umumnya
eksogen, tetapi bisa juga endogen.
Karena lokasinya, konjungtiva terpajan oleh banyak
mikroorganisme dan faktor-faktor lingkungan lain yang
mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan
mata dari substansi luar: pada film air mata, komponen akueosa
mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris, dan
aktivitas pompa palpebra membilas air mata ke duktus air mata
secara konstan; air mata mengandung substansi antimikroba,
termasuk lisozim dan antibody
(IgG dan IgA).
Patogen umum yang dapat menyebabkan konjungtivitis
adalah Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza,
Staphylococcus aureus, Neisseria meningitides, sebagian besar
strain adenovirus manusia, virus herpessimpleks tipe1 dan 2,
dan dua picornavirus. Dua agen yang ditularkan secara seksual
dapat menimbulkan konjungtivitis adalah Chlamydia trachomatis
dan Neisseria gonorrhoeae (Vaughan, 2008).
Epidemiologi
Konjungtivitis adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia
dan dapat diderita oleh seluruh masyarakat tanpa dipengaruhi

usia. Walaupun tidak ada dokumen yang secara rinci


menjelaskan tentang prevalensi konjungtivitis, tetapi keadaan ini
sudah ditetapkan sebagai penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat (Chiang YP, dkk, 1995 dalam Rapuano et al, 2005).
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan
paling sering dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang tidak
Hygiene.
Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal,
seperti:
a. Konjungtivitis bakteri.
b. Konjungtivitis klamidia.
c. Konjungtivitis viral.
d. Konjungtivitis ricketsia.
e. Konjungtivitis jamur.
f. Konjungtivitis parasit.
g. Konjungtivitis alergi.
h. Konjungtivitis kimia atau iritatif (Vaughan, 2008).

Manifestasi Klinis
Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:

a. Kemerahan di forniks dan makin berkurang ke arah limbus


karena dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior
(Hiperemia).
b. Produksi air mata berlebihan (epifora).
c. Eksudat yang berlapis-lapis dan amorf pada konjungtivitis
bakteri dan berserabut pada konkungtivitis alergika
(eksudasi).
d. Terkulainya palpebra superior karena infiltrasi di otot Muller
(pseudoptosis)
e. Penumpukan Limfosit di pembuluh darah (fliktenula).
f. Pengentalan (koagulum) di atas permukaan epitel
(pseudomembran).
g. Edema dari konjungtiva mata (Chemosis) (Kanski, 2000).
Gejala

Gejala-gejala pada konjungtivitis, yakni:


- Sensasi benda asing, yaitu sensasi tergores atau terbakar.
- Sensasi penuh di sekeliling mata, gatal, dan fotofobia
(Vaughan, 2008).
Komplikasi

Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa


menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan
menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis
yang tidak tertangani diantaranya:
i. Ulserasi kornea.
ii. Membaliknya bulu mata ke dalam (trikiasis).
iii. Membaliknya seluruh tepian palpebra (enteropion).
iv. Obstruksi ductus nasolacrimalis.
v. Turunnya kelopak mata atas karena kelumpuhan (ptosis)
(Vaughan, 2008).

Penatalaksanaan
Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan
agen mikrobiologiknya. Sambil menunggu hasil laboratorium,
dokter dapat memulai terapi antimikroba spectrum luas (mis.,
polymyxin-trimethoprim). Pada setiap konjungtivitis purulen
yang pulasan gramnya menunjukkan diplokokus gram negative,
dugaan neisseria, harus segera dimulai terapi topical dan
sistemik. Jika kornea tidak terlibat, ceftriaxone 1g diberikan dosis
tunggal per intramuscular biasanya merupakan terapi sistemik
yang adekuat. Jika kornea terkena, dibutuhkan ceftriaxone
parental, 1-2g perhari selama 5 hari.
Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, saccus
conjunctivalis harus dibilas dengan larutan saline agar dapat
dihilangkan sekret konjungtiva. Untuk mencegah penyebaran
penyakit ini, pasien dan keluarga diminta memperhatikan
hygiene perorangan secara khusus.

Prognosis

Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan


membahayakan. Namun jika bila penyakit radang mata tidak
segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada

mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Keratitis,


Glaukoma, katarak maupun ablasi retina (Barbara C.Long, 1996).

Perbedaan dapat di lihat dari table di bawah :


6. TERAPI MEDIKAMENTOSA DAN PENULISAN RESEP
Terapi Medikamentosa
Penatalaksanaan Glaukoma sudut tertutup terdiri dari
mengurangi tekananintra okular, menekan inflamasi, dan
pemulihan sudut tertutup.
1.) Agen osmotic
Agen ini lebih efektif untuk menurunkan tekan intra okuler dan
efeknya menjernihkan kornea, pemberiannya dianjurkan kepada
pasien yang tidak mengalami emesis. Agen-agen hiperosmotik
berguna untuk mengurangi volume vitreus, yang,kebalikannya,
menurunkan tekanan intraokular. Penurunan tekanan intra okular
memulihkan iskemia iris dan memperbaiki kepekaan terhadap
pilokarpin dan obat-obat lainnya. Agen-agen osmotic
menyebabkan diuresis osmotic dan mengurangicairan tubuh
total. Agen-agen tersebut tidak boleh digunakan pada pasien
penyakit jantung dan penyakit ginjal.

Gliserin
Dosis efektif 1-1,5 gr/kgBB dalam 50% cairan. Selama
penggunaanya gliserin dapat menyebabkan hiperglikemia dan
dehidrasi. Hati-hati terhadap pasien diabetes dan lansia dengan
gagal ginjal serta penyakit kardiovaskular karena agenini sendiri
dapat menyebabkan mual muntah. Menurunkan tekanan
intraokular dalam waktu 30-90 menit setelah pemberian.
Manitol
Dosis 1-2 gram/kgBB dalam 50% cairan. Aman digunakan pada
pasien diabetes karena tidak dimetabolisme. Puncak efek
hipotensif okular terlihat dalam 1-3 jam. Bila tidak dapat
diberikan oral (mis : mual muntah) dapat diberikan secara
intravena dalam 20% cairan dengan dosis 2 gr/kgBB selama 30
menit. Maksimal penurunan tekanan dijumpai dalam 1 jam
setelah pemberian iv. Pada penderita payah jantung pemberian
manitol berbahaya, karena volume darah yang beredar
meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah
gagal. Pemberianmanitol juga dikontraindikasikan pada penyakit
ginjal dengan anuria, kongestiatau udem paru yang berat,
dehidrasi hebat, dan perdarahan intra kranial, kecuali bila akan
dilakukan kraniotomi, serta pada pasien yang hipersensitivitas
terhadapmanitol.
Ureum intravena
Dosis 1-1,5 g/kg i.v. Tidak seefektif manitol karena berat
molekulnya lebih rendah sehingga lebih cepat dipenetrasi pada
mata. Penggunaannya harus dengan pengawasan ketat untuk
menghindari komplikasi kardiovaskuler.

2.) Karbonik Anhidrase Inhibitor


Mengurangi produksi akuos humor dengan menghambat
karbonik anhidrasedi badan siliar sehingga mengurangi TIO
secara cepat
Asetazolamide
Merupakan pilihan yang sangat tepat untuk pengobatan darurat
pada glaucoma akut. Acetazolamide sebaiknya diberikan dengan
dosis awal 500 mg IV yang diikuti dengan 250 mg per oral setiap
4 jam sesudah keluhan enek hilang. sekarang diketahui bahwa

karbonik anhidraseinhibitor oral sedikit atau tidak ada sama


sekali efek samping sistemik.
Methazolamide: Dosis 50-100 mg p.o. 2 atau 3 kali sehari
( total tidak lebih dari 600mg/hari)
Dorzolamide
Berbeda dengan obat-obat yang lebih tua, Dorzolamide
sanggup menerobos kedalam mata dengan aplikasi topical.
Dichlorphenamide
Dosis awal 100-200mg per oral, diikuti 100 mg setiap 12 jam
sampai tercapairespons yang diinginkan. Dosis pemeliharaan
(maintenance) yang biasa untuk glaukoma adalah 25-50 mg 3
atau 4 x/hari. Dosis harian total tidak melebihi 300mg.
Brinzolamide
Brinzolamide adalah penghambat karbonik anhidrasi yang
digunakan pada matadengan kadar 1 %. Brinzolamide digunakan
untuk mengobati tekanan yangmeningkat pada mata karena
glaukoma sudut terbuka. Brinzolamide jugadigunakan untuk
mengatasi kondisi yang disebut hipertensi pada mata.
1,7,9,10,12

3.) Miotik kuat (Parasimpatomimetik)


Pilokarpin 2% atau 4%: setiap 15 menit sampai 4 kali
pemberian sebagaiinisial terapi. Tidak efektif pada serangan
yang sudah lebih dari 1-2 jam. Hal inikarena muskulus sphingter
pupil sudah iskemik sehingga tidak dapat merespon pilokarpin.
4.) Beta blocker
Bekerja dengan cara mengurangi produksi akuos humor.
Levobunolol 0,25%, 0,5%
Betaxolol HCl
Betaxolol HCl adalah penghambat reseptor beta1 selektif yang
digunakan untuk pengobatan glaukoma dalam bentuk sediaan
gel untuk mata dengan kadar 0,1% dan tetes mata dengan
kadar 0,5%.

Timolol maleat
Merupakan beta bloker tetes mata nonselektif. Sebagai inisial
terapi dapat diberikan 2 kali dengan interval setiap 20 menit dan
dapat diulang dalam 4, 8 dan12 jam kemudian. Tersedia dalam
bentuk tetes mata dengan kadar 0,25%, 0,5%dan
0,68%.1,7,9,10,12
5.) Alpha adrenergic agonist
Dapat ditambahkan untuk lebih mengurangi produksi akuos
humor danmengurangi hambatan outflow akuos.
Brimonidine
Apraclonidine 0,5%, 1%
6.) Analog Prostaglandin
Latanoprost 0,005%
Merupakan senyawa analog prostaglandin yang
dapatmenurunkan tekanan intraokuler dengan cara
meningkatkan outflow akuos humor.Dosis 1 tetes/ hari. Tersedia
dalam bentuk tetes mata dengan kadar 0,005%, dan
jugadikombinasi dengan Timolol maleate. 1,7,9,10,12
7.) Kortikosteroid Topikal
Inflamasi merupakan bagian penting dari patofisiologi dan
timbulnya gejala. Steroid topical mengurangi reaksi inflamasi
dan kerusakan nervus optikus.2
Pada serangan akut sebaiknya tekanan diturunkan terlebih
dahulu dengan pembeiran pengobatan topical berupa pilokarpin
2% setiap menit selama 5 menit yang disusul setiap 1 jam
selama sehari. Pengobatan sistemik diberikan secara intra vena
karena sering disertai mual. Diberikan Asetasolamid 500 mg iv,
dilanjutkan 250 mg tablet setiap 4 jam sesudah keluhan enek
hilang. Dapat juga diberikan manitol 1,5-2 g/kgBB dalam larutan
20%. Anastesi retrobulbar xilokain 2% dapat mengurangi
produksi humor akuos selain mengurangkan rasa sakit. Rasa
sakit dapat dihilangkan dengan pemberian morfin 50 mg
subkutis. Tetes mata kombinasi kortikosteroid + antibiotik 4-6 x 1
tetes sehari. Bila tekanan bola mata sudah normal dan mata
tenang dilakukan pembedahan.

Penulisan Resep Obat Penyakit Mata


Resep merupakan bentuk komunikasi tertulis yang diberikan
oleh dokter kepada apoteker untuk mengambilkan/memberikan
obat yang dianjurkan kepada pasien terkait dengan penyakit
yang diderita.
Dalam pemilihan obat yang rasional, harus diperhatikan 5
Tepat, yaitu: Tepat obat, Tepat dosis, Tepat BSO (Bentuk Sediaan
Obat), Tepat cara pemberian, dan Tepat waktu pemberian.
Terdapat banyak bentuk sediaan obat mata, yaitu: Tetes mata
(single dan multiple dose), Salep mata, dan Obat cuci mata
(Collyrium).
1 Obat Tetes Mata
- Merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang
digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada
selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata.
- Syarat Obat Tetes Mata: steril, isotonis, isohidris (pH larutan
sama dengan pH mata disesuaikan), jernih (bebas dari zarah
asing, serat, benang), dan suspensi sehalus mungkin.
- Penulisan resep yang benar sendiri harus terdiri dari: Inscriptio
(nama dokter, alamat, SIP, kota, tanggal, R/), Prescriptio (Nama
obat, bentuk obat, dosis, bentuk kemana, jumlah obat),
Signatura (S, cara pemakaian, BSO, jumlah obat per minum,
waktu minum), Subscriptio (Paraf Penutup resep), dan Pro (data
nama dan usia pasien)
.

Contoh:

2 Salep Mata
- Merupakan salep steril untuk pengobatan mata menggunakan
dasar salep yang sesuai
- Syarat untuk salep mata adalah: steril, bebas dari partikel kasar,
mengandung bahan atau bahan campuran yang sesuai untuk
mencegah pertumbuhan bakteri yang mungkin masuk secara
tidak sengaja saat wadah salep terbuka.

3 Obat Cuci Mata (Collyrium)


- Merupakan suatu larutan yang digunakan pada mata dengan
tujuan sebagai antiseptik serta membantu mengeluarkan kotoran
(debu) pada mata. Pada umumnya mengandung obat-obatan,
seperti asam borat, NaCl, NaHCO3, atau dapat ditambah dengan
adstigent, dan vasokonstriktor.

7. TERAPI NONMEDIKAMENTOSA/TINDAKAN BEDAH

Laser iridektomi
Indikasi
Iridektomi diindikasikan pada keadaan glaukoma sudut tertutup
dengan blok pupil, iridektomi juga diindikasikan untuk mencegah
terjadinya blok pupil pada mata yang beresiko, yang ditetapkan melalui
evaluasi gonioskopi. Iridektomi laser juga dilakukan pada serangan
glaukoma akut dan pada mata kontra-lateral dengan potensial glaukoma
akut.
Kontra indikasi
Iridektomi laser tidak dapat dilakukan pada mata dengan rubeosis
iridis, karena dapat terjadi perdarahan. Resiko perdarahan juga
meningkat pada pasien yang menggunakan anti-koagulan sistemik,
seperti aspirin. Argon laser lebih diutamakan pemakaiannya dari pada

Nd:YAG laser pada individu yang membutuhkan terapi laser iridektomi.


Walaupun laser iridektomi tidak membantu dalam kasus glaukoma sudut
tertutup yang bukan disebabkan oleh mekanisme blok pupil, tetapi
kadang-kadang laser iridektomi perlu dilakukan
untuk
mencegah terjadinya blok-pupil pada pasien dengan sudut bilik
mata sempit.
Pertimbangan sebelum operasi
Pada glaukoma sudut tertutup akut, sering mengalami kesulitan saat
melakukan iridektomi laser karena kornea keruh, sudut bilik mata depan
dangkal, pembengkakan iris. Dokter harus berusaha untuk menghentikan
serangan akut dengan tindakan medis sebelum melakukan operasi.
Sebelum dilakukan laser harus diberikan terapi inisial gliserin topikal
untuk memperbaiki edema kornea, agar mudah untuk mempenetrasi
kripta iris. Hati-hati pada saat melakukan iridektomi perifer dan jangan
terhalang oleh palpebra. Terapi-awal dengan pilokarpin dapat membantu
melebarkan dan menipiskan iris. Terapi-awal dengan aproklonidin dapat
membantu menurunkan tekanan intraokular.
Teknik
Pada umumnya iridektomi menggunakan argon laser, tetapi pada
keadaan kongesti, edem dan inflamasi akibat serangan akut, tehnik ini
sulit dilakukan. Setelah dilakukan indentasi gonioskopi, kekuatan inisial
laser diatur dalam 0,02-0,1 detik, ukuran tembakan 50 m, dan
kekuatan 800-1000 mW. Biasanya tehnik yang digunakan adalah tehnik
pewarnaan iris. Komplikasi dari argon laser adalah sinekia posterior,
katarak lokal, meningkatnya tekanan intraokular (dapat merusak nervus
optikus), iritis, lubang iridektomi lebih cepat tertutup kembali dan
terbakarnya kornea dan retina.
Argon laser dan Nd:YAG laser sama-sama dapat digunakan untuk
iridektomi. Namun, pemakaian Nd:YAG laser lebih disukai. Karena lebih
cepat, lebih mudah, dan energi yang dibutuhkan lebih sedikit dari pada
argon laser. Lebih lanjut lagi, keefektifan dari Nd:YAG laser ini tidak
berpengaruh pada keadaan iris dan lubang iridektomi yang dihasilkan
Nd:YAG laser lebih jarang tertutup kembali dari pada argon laser. Setelah
indentasi gonioskopi, inisial laser diatur 2-8 mJ. Komplikasi yang dapat
terjadi adalah terbakarnya kornea, kapsul anterior lensa robek,
perdarahan (biasanya tidak lama), tekanan intraokular meningkat
setelah operasi, inflamasi dan lubang iridektomi lambat tertutup kembali.
Untuk mencegah kerusakan lensa, operator harus berhati-hati pada saat
mempenetrasi Nd:YAG laser ke iris. Lokasi penetrasi harus seperifer
mungkin.
Perawatan setelah-operasi
Perdarahan dapat terjadi di tempat iridektomi, khususnya pada Nd:YAG
laser. Pada perdarahan ringan dapat diatasi dengan terapi antikoagulasi. Namun pada pasien yang mengalami kelainan pembekuan
darah dapat diatasi dengan argon laser. Karena argon laser dapat
membantu proses koagulasi pembuluh darah. Peningkatan tekanan
intraokular dapat terjadi setelah operasi, terutama pada pasien LTP,
mereka dapat diobati dengan penatalaksanaan LTP. Apabila terjadi

Inflammasi maka dapat disembuhkan dengan menggunakan


kortikosteroid topikal.
Komplikasi
Pada umumnya komplikasi yang sering terjadi pada laser iridektomi
meliputi kerusakan lokal pada lensa dan kornea, ablasio retina,
pendarahan, gangguan visus dan tekanan intraokular meningkat.
Kerusakan lensa dapat dihindari dengan cara menghentikan prosedur
dan segera penetrasi iris untuk iridektomi lebih ke superior iris perifer.
Ablasio retina sangat jarang, tetapi masih ditemukan pada prosedur
Nd:YAG laser iridektomi.
Laser iridoplasti
Merupakan tindakan alternatif jika tekanan intraokular gagal
diturunkan secara intensif dengan terapi medika mentosa. Bila tekanan
intraokularnya tetap sekitar 40 mmHg, visus jelek, kornea edema dan
pupil tetap dilatasi. Pada laser iridoplasti ini pangaturannya berbeda
dengan pengaturan pada laser iridektomi. Disini pengaturannya dibuat
sesuai untuk membakar iris agar otot spingter iris berkontraksi, sehingga
iris bergeser kemudian sudutpun terbuka. Agar laser iridoplasti berhasil
maka titik tembakan harus besar, powernya rendah dan waktunya lama.
Aturan yang digunakan ukurannya 500 m (200-500 m), dengan power
500 mW (400-500 mW), waktunya 0,5 detik (0,3-0,5 detik). Pada
penelitian ahli terhadap 20 mata penderita glaukoma akut, dari tekanan
intraokular rata-rata sebelum iridoplasti 43,2 mmHg turun menjadi ratarata 17 mmHg, pada 2 jam setelah dilakukan iridoplasti laser.

Operasi Scheie
Pada operasi Scheie
diharapkan terjadi pengaliran
langsung humor akuos di
COA menuju subkonjungtiva.
Tindakan yang dilakukan
adalah membuat flep
konjungtica di limbus atas
dan membuat insisi ke dalam
COA. Untuk
mempertahankan insisi ini
tetap terbuka, maka Scheie
melakukan kauterisasi tepi
luka insisi. Kemudian flep
konjungtiva ini ditutup. Pada
akhir operasi maka akan
terjadi filtrasi cairan ke
bawah konjungtiva.

Cyclodestructive Procedure
Prosedur ini bertujuan untuk mengurangi tekanan intra okular
dengan cara mengurangi produksi humor akuos oleh procesus
ciliaris. Pada tindakan ini, epitel sekretori dari epitel siliar akan
dirusak sehingga produksi humor akuos berkurang. Karena epitel
siliar dapat beregenerasi, tindakan ini perlu diulang beberapa kali
pada beberapa pasien untuk mempertahankan tekanan intra
okular yang normal.
Indikasi dilakukannya prosedur ini adalah glaukoma absolut yang
disertai nyeri hebat. Glaukoma absolut yang dimaksud adalah
glaukoma yang visusnya 0.

Terdapat 2 teknik pelaksanaan prosedur siklodestruktif yaitu :

Laser cyclophotocoagulation
Pada teknik ini, sinar laser digunakan untuk merusak korpus
siliaris. Sebelumnya, anestesi lokal mata diinjeksikan retrobulbar.
Komplikasi :
Pandangan buram
Perdarahan
Uveitis
Nyeri
Penyusutan bola mata akibat turunnya tekanan intraokular

Cyclocryotherapy
Pada teknik ini, instrumen yang sangat dingin diaplikasikan
berulang kali di sklera. Dengan cara ini, korpus siliaris akan rusak.
Sebelumnya, anestesi lokal mata diinjeksikan retroobulbar.
Komplikasi :
Peningkatan tekanan intra okular secara tiba-tiba

Perdarahan
Penyusutan bola mata akibat turunnya tekanan intraokular
Cyclocryotherapy dapat dilakukan sebagai terapi untuk
glaukoma sekunder, glaukoma sudut terbuka yang tidak respon
terhadap pengobatan medikamentosa maupun operasi, serta
glaukoma kongenital.

8. EDUKASI
Penyakit ini membutuhkan pengobatan seumur hidup. Tekanan
bola mata dapat dikontrol menggunakan obat dan/ atau operasi
namun obat/ operasi tidak dapat menyembuhkan penyakit ini. Oleh
sebab itu penting bagi kita untuk memberitahu keluarga pasien
bahwa kepatuhan pengobatan sangat penting untuk keberhasilan
pengobatan glaukoma. Penting pula bagi orang yang tidak memiliki
keluhan mata dan bagi yang memiliki riwayat keluarga terkena
glaukoma untuk tetap memeriksakan matanya teratur minimal 1
kali setahun.
PENCEGAHAN
Serangan pertama biasanya datang tanpa peringatan, tapi
profilaksis PI biasanya mencegah masalah lebih lanjut. Pasien
harus diberitahu tentang peningkatan risiko untuk keluarga tingkat
pertama: jika mereka ditemukan memiliki ruang anterior dangkal,
mereka dapat ditawarkan profilaksis PI.
Kriteria rujukan
Pada glaukoma akut, setelah dilakukan penanganan pertama.
Pada glaukoma kronik, dilakukan segera setelah penegakan
diagnosis.

Rujuk segera ke dokter spesialis mata/pelayanan kesehatan


tingkat sekunder/tersier setelah diberikan pertolongan pertama
tersebut.

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Atiyayul, Aryani.2007."Penatalaksanaan Glaukoma Akut".USU
Repository.
Ilyas S. Trauma Mata. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta:
Balai Penerbit FK-UI
Tanto, Chris dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius