Anda di halaman 1dari 25

PENGERINGAN ZAT PADAT

I.

TUJUAN
Untuk mengeringkan bahan padat dan mengalirkan udara panas dan
menentukan laju alir pengeringan.

II.

ALAT DAN BAHAN


ALAT
:
BAHAN

:
-

III.

Thermometer
Thermometer Bola Basah
Neraca Analitik
Hot Plate
Oven
Dryer

Potongan Kayu

DASAR TEORI
Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair
dari bahan padat. Pengeringan biasanya merupakan langkah akhir dari
sederetan operasi. Hasil pengeringan lalusiap dikemas. Zat padat yang akan
dikeringkan mungkin berbentuk biji, serbuk, kristal, lempengan/lembaran.
Klasifikasi pengeringan meliputi pengeringan adiabatik, non adiabatik,
atau gabungan keduanya. Pengeringan adiabatik dimana zat padat bersentuhan
langsung dengan gas panas sebagai media pengeringa. Pengering non adiabatik
dimana perpindahan kalor langsung dari medium luar atau pengering tak
langsung.
Udara memasuki ruang pengering jarang sekali berada dengan keadaan
benar kering. Tapi selalu mengandung air dan kelembaban relative. Air bebas
adalah selisih antara kandungan air total didalam zat padat dalam keadaan
kering
X

= Xt - X*

Dalam perhitungan kg menjadi pekdian adalah X, bukan Xt pada basis


kering.
X

= kg H2O / kg zat padat kering tulang

Dengan berjalannya waktu, kandungan kebasahan akan berkurang seperti


contoh yang ditunjukan pada gambar A. Selanjutnya saat umpan dipanaskan
sampai suhu penguapan dan sesudah itu grafik menjadi linier. Untuk kemudian
melengkung lagi kearah horizontal dan akhirnya mendatar. Lalu pengeringan
menunjukkan laju pengeringan kemudian melengkung kebawah.
Sesudah

periode

penyesuaian

masing-masing

kurva

mempunyai

segmentasi horizontal AB kg dinamakan laju pengeringan periode konstan.


Periode ini diartikan oleh laju pengeringan yang tidak bergantung pada
kandungan kebasahan.
Selama periode konstan, laju pengeringan persatuan luas adalah
h ( T Tw ) (3600)
kg/jam.m2
w
Bila udara panas mengalir sejajar permukaan zat padat, maka koefisien
RC

perpindahan panas (h):


H
= 0,002040,8
Dimana :
H : W/m C
G : kg/jam m2
Humiditi volume udara panas dapat ditaksir dengan persamaan:
= (2,8 X10-3 + 4,56 X10-3 H)T

Vh

Density udara ( G )
G

1+ H
VH

kg/m3

Kecepatan massa
G

= V G

kg/jam m2

Waktu pengeringan selama periode konstan


Tc

ms ( X 1X 2 )

A . RC
Bila difusi zat cair terkendali oleh laju pengeringan pada periode

menurun, maka saat laj pengeringan berkurang berlaku hukum ficks II tentang
difusi
Vx
V2 x
= DL
Vt
V Z2
Bila diasumsi kandngan kebasahan terdistribusi merata pada saat t = 0
maka integral
Bila difusi dimulai dari X1=X2 maka persamaan menjadi
Xc
X

X
8

DLt
2
4Z

Sehingga waktu pengeringan adalah


t

8X
4 z2
ln 2 C
2
DL X

Drying adalah suatu proses pemisahan sejumlah kecil air atau zat laninya dari
bahan padatan, sehingga mengurangi kandungan sisa air yang masih terikat pada zat
padat tersebut. Pengeringan ini merupakan salah satu langkah downstream dari suatu
proses yang hasilnya merupakan produk dari proses tersebut.
Pada umumnya pengeringan ini dilakukan pada slurry yang memiliki viscositas
yang sangat tinggi dapat dikeringkan dengan cara mengalirkan udara panas yang
tidak jenuh pada bahan yang akan dikeringkan. Sebagai contoh lain adalah
pengeringan air pada kayu, kapas, kertas dan lainnya. Pada bahan tersebut
mengandung air yang terikat yaitu air yang ada pada suatu bahan yang sulit
dipisahkan, walaupun sudah dipisahkan tetap pada. Bond dry adalah suatu bahan
yang tidak mengandung zat cair lagi.

Pada proses drying tidak merusak zat atau senyawa yang dikeringkan.
Evaporasi memiliki jumlah air diupakan lebih besar dari tadah medium pembawa air.
Sedangkan drying memiliki jumlah air diuapkan lebih sedikit karena sudah terjadi
evaporasi pada awalnya (untuk mendapatkan yang lebih pekat).
Klasifikasi Alat pengering dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok :
1. Berdasarkan proses
I. Proses batch
yaitu material dimasukkan kedalam pengering dan dikeringkan sampai
-

waktu tertentu yang diinginkan.


Proses continue
Yaitu material dimasukkan kedalam pengering dan bahan kering diambil

secara sinambung.
2. Berdasarkan sistem kontak
II. Pengeringan adiabatik yaitu bahan bersentuhan langsung dengan media
pengering uap air yang terbentuk dipindahkan oleh udara.
III. Pengeringan nonadiabatik yaitu perpindahan kalor berlangsung dari suatu
medium diluar penyaring.
IV. Pengeringan adiabatic dan nonadiabatik yaitu kombinasi antara pengeringan
adiabatic dan nonadiabatik.
3. Berdasarkan keadaan fisik bahan yang dikeringkan
V. Pengering hampa yaitu pengeringan pada tekanan rendah dan proses
penguapan berlangsung cepat.
VI. Pengering beku (freezing drying) yaitu air disublimasikan dari bahan yang
dibekukan sebgai contohnya N2 cair dan seperti silika gel tetapi menjaga
bahan tetap beku agar bahan tidak rusak seperti protein yang rentang
terhadap suhu.
Pengeringan dan Aplikasinya
Dalam pengeringan adiabatic zat padat itu bersentuhan dengan gas menurut salah
satu cara berikut :
1.

Gas ditiupkan menlintas zat permukaan hamparan atau lembaran zat padat
atau melintas satu atau kedua sisi lembaran atau film sinambung. Proses ini
dapat disebut juga pengeringan dengan sirkulasi silang.

2.

Gas yang ditiupkan melalui hamparan zat padat butiran besar yang
ditempatkan diatas awak pendukung.

3.

Zat padat disiramkan disiram ke bawah melalui suatu arus gas yang bergerak
perlahan-lahan ke atas, terkadang dalam hal ini terdapat pembawa ikutan yang
tidak dikehendaki dari partikel halus oleh gas.

4.

Gas dialirkan melaluizat padat dan dengan kecepatan yang cukup membuat
bahan terfluidisasikan.

5.

Zat padat seluruhnya dibawa ikut dengan arus gas kecepatan tinggi dan
diangkat secara pneumatik dari piranti percampuran ke pemisah mekanik.

Pengeringan adiabatic dibedakan menurut zat padatnya itu berkontak dengan


permukaan panas sumber kalor lainnya. Zat padat dihamparkan diatas permukaan
bersama dengan permukaan horizontal, yang stasioner atau bergerak lambat dan
dimasak hingga kering. Sedangkan yang satu lagi yaitu zat padat tersebar diatas
permukaan panas biasanya berbentuk silinder dengan batuan pengaduk.
Ada beberapa Faktor yang berpengaruh terhadap laju pengeringan diantaranya
adalah sebagai berikut:
VII. Sifat fisika dari bahan yang dikeringkan
VIII. Pengaturan geometris bahan pada permukaan alat atau media perantara
perpindahan panas
IX. Sifat fisik lingkungan pengering.
Operasi pengeringan zat padat yang mengandung cairan (dalam hal ini air)
dapat dilakukan pada alat-alat pengering dengan udara sebagai media
pengeringan. Operasi ini dapat ditempatkan di dalam alat itu sendiri atau di
luar alat pengering. Untuk pekerjaan ini dicapai tray dryer dengan sumber
energy udara panas dari electric heater yang dipasang diluar alat percobaan,
sebagai penghembus udara dipakai blower yang terpasang satu unit dengan
electric heater itu. Alat itu memakai x tray yang nantinya untuk menempatkan
zat yang akan dikeringkan secara batch. Saat pengeringan berlangsung,
permukaan kontak antara permukaan dengan udara yang selalu basah dengan
cairan sampai cairan habis teruapkan seluruhnya.

IV.

LANGKAH KERJA
a. Mengeringkan zat padat dengan ukuran tebal tertentu dalam oven 2 jam
hingga tidak mengandung air lagi, dinginkan lalu timbang ini adalah zat
padat kering tulang.
b. Merebus zat padat dalam air mendidih selama

15 menit dan

dinginkan hingga suhu ruang timbang beratnya.


c. Selisih berat zat padat basah kering tulang dengan zat padat kering adalah
kadar air awal zat padat yang akan dikeringkan.
d. Menyiapkan alat pengering, menghidupkan blower dan elemen pemanas
hingga suhu konstan 60 oC.
e. Mencatat volume humidity suhu bola basah udara masuk ruang panggang
menentukan dew point udara dengan menggunakan humidity chart.
f. Membaca tekanan uap air dari tabel tekanan uap dengan temperatur dew
point.
g. Mancatat laju alir udara
h. Menetukan laju alir udara kering masuk ruang pengering dengan
persamaan :

NH O
PH O
=
Nt N H O
Pt P H O
(Nt - N H O ) x BM adalah massa udara kering masuk ruang panggang
i. Setiap selang waktu 15 menit catat relative humidity, temperatur udara
2

keluar ruang pengering.


j. Mengulangi percobaan diatas untuk tebal material berbeda.
k. Laju alir udara dan temperatur pengering selama percobaan dijaga
konstan.
Catatan :
-

kering dan bola basah atau terhadap bola kering dengan relative humidity.
Perubahan berat ditentukan dari perubahan humidity udara
(H2O menguap = (H1 H2) x massa udara kering
Total Moisture (Xt) = Massa zat padat basah massa zat padat kering tulang /

massa zat padat kering tulang


Free moisture (X) = XT X*

V.

Humidity ditentukan dari humidity chart yakni hubungan terhadap bola

DATA PENGAMATAN

Sampel

Berat Awal
(gr)

Berat kering

7,5681

7,011

13,6544

8,5785

7,435

14,1066

7,6507

6,805

13,2170

waktu
(menit)

Temp. Bola kering


(oC)

Temp. Bola Basah


(oC)

Relatif Humidity
(H)
kg H2O/kg udara

Tulang
(gr)

Zat Padat Basah


(gr)

kering
0

58

32

0,03

VI.

10

55

32

0,032

20

54

33

0,038

30

56

32

0,033

40

56

32

0,033

50

56

32

0,033

60

59

32

0,029

70

58

31,5

0,0285

80

57

32

0,031

90

58

32

0,03

PERHITUNGAN
a. Mencari nilai air moisture
Pada t = 0 menit
Sampel 1
massa zat padat basahmassa zat padat keringtulang
Xt
=
massa zat padat kering tulang
( 0,01365440,007011 ) kg
=
0,007011 kg
= 0,9476 kg H2O / Kg zat padat kering tulang
Xo

= Xt - X*
= 0,9476 0,05
= 0,8976 kg H2O / Kg zat padat kering tulang

Sampel 2

massa zat padat basahmassa zat padat keringtulang


massa zat padat kering tulang
( 0,01410660,007435 ) kg
=
0,007435 kg
= 0,8973 kg H2O / Kg zat padat kering tulang

Xt

Xo

= Xt - X*
= 0,8973 0,05
= 0,8473 kg H2O / Kg zat padat kering tulang

Sampel 3

Xt

Xo

massa zat padat basahmassa zat padat k eringtulang


massa zat padat keringtulang
( 0,01321700,006805 ) kg
=
0,006805 kg
= 0,9422 kg H2O / Kg zat padat kering tulang
= Xt - X*
= 0,9422 0,05
= 0,8922 kg H2O / Kg zat padat kering tulang
=

b. Mencari Luas Permukaan


Sampel 1
L
=pxl
= 3,825 cm x 3,214 cm
= 12,29355 cm2

Sampel 2
L
=pxl
= 3,825 cm x 3,3 cm
= 12,6255 cm2

Sampel 3
L
=pxl
= 3,825 cm x 3,3 cm
= 12,6255 cm2

c. Mencari Vh
pada t = 0 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,03) 333 K
= 0,9879

pada t = 10 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,032) 333 K
= 0,9910

pada t = 20 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,038) 333 K
= 1,0001

pada t = 30 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,033) 333 K
= 0,9925

pada t = 40 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,033) 333 K
= 0,9925

pada t = 50 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,033) 333 K
= 0,9925

pada t = 60 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,029) 333 K
= 0,9864

pada t = 70 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,0285) 333 K
= 0,9857

pada t = 80 menit
Vh
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T
= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,031) 333 K
= 0,9895

pada t = 90 menit

Vh

= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. H) T


= (2,83. 10-3 + 4,56 . 10-3. 0,03) 333 K
= 0,9879

d. Mencari g (densitas udara) dan harga G


Asumsi v = 1,02 m/jam

Pada t = 0 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,03
=
0,9879
= 1,0426 kg/m3
G

Pada t = 10 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,032
=
0,9910
= 1,0414 kg/m3
G

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0414 kg/m3
= 1,0622 kg/jam m2

Pada t = 20 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,038
=
1,0001
= 1,0379 kg/m3
G

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0426 kg/m3
= 1,0635 kg/jam m2

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0379 kg/m3
= 1,0587 kg/jam m2

Pada t = 30 menit

1+ H
Vh
1+0,033
=
0,9925
= 1,0408 kg/m3
=

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0408 kg/m3
= 1,0616 kg/jam m2

Pada t = 40 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,033
=
0,9925
= 1,0408 kg/m3
G

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0408 kg/m3
= 1,0616 kg/jam m2

Pada t = 50 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,033
=
0,9925
= 1,0408 kg/m3
= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0408 kg/m3
= 1,0616 kg/jam m2
Pada t = 60 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,029
=
0,9864
= 1,0432 kg/m3
G

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0432 kg/m3
= 1,0641 kg/jam m2

Pada t = 70 menit
1+ H
g =
Vh

1+0,0285
0,9857
= 1,0434 kg/m3
=

Pada t = 80 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,031
=
0,9895
= 1,0419 kg/m3
G

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0434 kg/m3
= 1,0643 kg/jam m2

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0419 kg/m3
= 1,0627 kg/jam m2

Pada t = 90 menit
1+ H
g =
Vh
1+0,03
=
0,9879
= 1,0426 kg/m3

= v. g
= 1,02 m/jam . 1,0426 kg/m3
= 1,0635 kg/jam m2
e. Mencari koefisien perpindahan panas (h)
Pada t = 0 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0635)0,8
= 0,02143
G

Pada t = 10 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0622)0,8
= 0,02141

Pada t = 20 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0587)0,8
= 0,02135

Pada t = 30 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0616)0,8
= 0,0214

Pada t = 40 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0616)0,8
= 0,0214

Pada t = 50 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0616)0,8
= 0,0214

Pada t = 60 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0641)0,8
= 0,02144

Pada t = 70 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0643)0,8
= 0,02144

Pada t = 80 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0627)0,8
= 0,02142

Pada t = 90 menit
h
= 0,0204 . G0,8
= 0,0204 . (1,0635)0,8
= 0,02143

f. Mencari Interpolasi
Tabel interpolasi

Suhu

30

2625,4

35

2631,6

31,5
y

32
y

xx 1
(y2 - y1)
x 2x 1
3230
= 2625,4 +
(2631,6 - 2625,4)
3530
= 2627,88
= y1 +

xx 1
(y2 - y1)
x 2x 1
31,530
= 2625,4 +
(2631,6 - 2625,4)
3530
= 2627,26
= y1 +

33
y

xx 1
(y2 - y1)
x 2x 1
3330
= 2625,4 +
(2631,6 - 2625,4)
3530
= 2629,12
= y1 +

g. Mencari Rc (laju pengeringan)


Pada t = 0 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,02143(6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8220 kg/jam.m2

Pada t = 10 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,02141( 6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8212 kg/jam.m2

Pada t = 20 menit

h ( T Tw ) (3600)
w
0,02135(6033)(3600)
=
2629,12
= 0,7893 kg/jam.m2
Pada t = 30 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,0214(6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8209 kg/jam.m2
Pada t = 40 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,0214(6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8209 kg/jam.m2
Pada t = 50 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,0214(6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8209 kg/jam.m2
Pada t = 60 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,02144(6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8224 kg/jam.m2
Pada t = 70 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,02144(60 31,5)(3600)
=
2627,26
= 0,8373 kg/jam.m2
Pada t = 80 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
0,02142( 6032)(3600)
=
2627,88
= 0,8216 kg/jam.m2
Pada t = 90 menit
h ( T Tw ) (3600)
Rc
=
w
Rc

0,02143(6032)(3600)
2627,88
= 0,8220 kg/jam.m2
=

VII.

GRAFIK

Grafik waktu terhadap Vh


1.01
1
1
Vh 0.99
0.99
0.98
0.98
0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

90

100

Waktu

Grafik waktu terhadap h


0.02
0.02
0.02
0.02
h 0.02
0.02
0.02
0.02
0.02
0

10

20

30

40

50
Waktu

60

70

80

Grafik waktu terhadap Rc


0.85
0.84
0.83
0.82
0.81
Rc

0.8
0.79
0.78
0.77
0.76
0

10

20

30

40

50
Waktu

VIII. ANALISA DATA

60

70

80

90

100

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa


pengeringan zat padat yaitu pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari
bahan padat. Bahan padat yang digunakan pada percobaan ini yaitu kayu.
Kayu ini tentunya mengandung kadar air. Untuk menentukan berat kayu
tanpa adanya air yang dapat disebut juga berat kering tulang maka perlu
dilakukan pengeringan selama 2 jam.
Dari percobaan ini mengamati temperatur bola basah dan bola kering
dengan menggunakan termometer sehingga didapatkan humiditas udara atau
kelembaban udara. Dengan membaca grafik antara temperatur bola basah dan
temperatur bola kering. Disebut suhu bola kering karena dalam mekanisme
kerjanya tidak terpengaruh oleh kelembaban udara. Suhu bola kering dapat
diukur dengan menggunakan termometer normal yang terkena udara bebas,
tetapi terlindung dari radiasi dan kelembaban. temperatur bola basah (wet
bulb temperature) adalah temperatur yang bolanya diberi kasa basah,
sehingga jika air menguap dari kasa dan bacaan suhu pada termometer
menjadi lebih rendah daripada temperatur bola kering. Tingkat penguapan
dari kain kasa yang basah pada thermometer dan perbedaan antara suhu bola
kering dan suhu bola basah tergantung pada kelembaban udara. Penguapan
berkurang ketika udara mengandung uap air lebih banyak. Kelembaban udara
adalah sesuatu yang sangat penting, karena akan sangat mempengaruhi suhu
udara. Di dalam atmosfer terdapat uap air. Kadar uap air dalam udara disebut
kelembaban. Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada suhu udara
setempat. Kelembaban udara adalah presentase kandungan uap air di dalam
udara. Kelembaban udara juga ditentukan oleh jumlah uap air yang
terkandung di dalam udara.
Selain itu juga pada percobaan ini menentukan luas permukaan.
semakin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering. Air
menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian tengah
akan merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap. Ukuran kecil
dan tipis mengurangi jarak dimana panas harus bergerak sampai ke pusat
bahan. Ukuran kecil juga akan mengurangi jarak melalui massa air dari pusat

bahan yang harus keluar ke permukaan bahan dan kemudian keluar dari
bahan tersebut.
Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan bahan
padat makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula
penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang dikeringkan
akan menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan air
berkurang. Jadi dengan semakin tinggi suhu pengeringan maka proses
pengeringan akan semakin cepat. Selain itu juga semakin tinggi kecepatan
udara, makin banyak penghilangan uap air dari permukaan bahan sehinngga
dapat mencegah terjadinya udara jenuh di permukaan bahan. Udara yang
bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat mengambil uap air
juga akan menghilangkan uap air tersebut dari permukaan bahan, sehingga
akan mencegah terjadinya atmosfir jenuh yang akan memperlambat
penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat pengeringan berjalan
dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu semakin mudah
dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.

IX.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Humidity chart adalah grafik dari besaran besaran sistem campuran udarauap air pada tekanan 1 atmosfer.
2. Temperatur bola basah lebih rendah dari temperatur bola kering

3. Hubungan kecepatan udara terhadap temperatur bola basah adalah bila


kecepatan udara dinaikkan maka temperatur bola basah akan turun.
4. Humid volume dari campuran udara-uap air, yaitu volume total dari satu
satuan masa gas bebas uap (udara kering) ditambah uap yang aada di
dalamnya pada 1 atm dan suhuyang diberikan
5. Semakin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering.
6. Semakin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air dari
permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh di
permukaan bahan.
7. Kelembaban udara juga ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di
dalam udara.

DAFTAR PUSTAKA

Balzhiser., R.E ., 1977, Engginering Thermodinamik, India, Prentice Hall.


Bennet., C.O. 1962, Momentum, Heat and Mass Transfer, New York: Mc Graw Hill
Holman. JP. 1988. Thermodinamics. New York ; Mc Graw Hill International

Kreith, F . 1986 . Prinsip-Prinsip Perpindahan Panas. Jakarta : Erlangga


Reynolds. W.C. 1983 . Thermodinamika Teknik. Jakarta : Erlangga
https://denmoko.wordpress.com/2011/02/08/kelembaban-udara/

GAMBAR ALAT

Dryer

Oven

Termometer

Neraca Analitik

LAPORAN PRAKTIKUM
PENGERINGAN ZAT PADAT

Disusun Oleh :
Achmad Algan

061340411638

Dea Anggraini

061340411641

Fatimah Shohina Putri

061340411645

Indah Nurcahyanti

061340411649

M. Ridho Fitrianto

061340411652

Poppi Vamella Putri

061340411657

Raden Innu Romi Fahlevi

061340411658

Dosen Pembimbing

: Ir. Robert Junaidi, M.T.

Politeknik Negeri Sriwijaya


2016

Anda mungkin juga menyukai