Anda di halaman 1dari 7

UJME 4 (3) (2015)

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujme

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VII PADA


PEMBELAJARAN MATEMATIKA
S D Dini, M Asikin, R B Veronica
Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Gedung D7 Lt.1, Kampus Sekaran Gunungpati, Semarang 50229

Info Artikel
Sejarah Artikel:
Diterima Mei 2015
Disetujui Mei 2015
Dipublikasikan Oktober 2015

Kata Kunci:
Analisis;
Kemampuan Berpikir Kritis;
PBL;
Pembelajaran Matematika;
Pendekatan Saintifik.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui proses pembelajaran


matematika menggunakan model PBL dengan pendekatan saintifik dalam upaya
menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa, (2) mengetahui apakah
kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada pembelajaran matematika
menggunakan model PBL dengan pendekatan saintifik lebih baik daripada
kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada pembelajaran matematika
menggunakan model ekspositori, (3) mengetahui tahap kemampuan berpikir
kritis siswa kelas VII pada pembelajaran matematika menggunakan model PBL
dengan pendekatan saintifik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi
model sequential explanatory design, yang menggabungkan metode penelitian
kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Hasil penelitian menunjukkan (1)
proses pembelajaran matematika menggunakan model PBL dengan pendekatan
saintifik dalam upaya menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa terlaksana
dengan sangat baik, (2) kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika menggunakan model PBL dengan pendekatan saintifik
lebih baik daripada kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada pembelajaran
matematika menggunakan model ekspositori, (3) karakteristik tahap kemampuan
berpikir kritis siswa kelas VII dari masing-masing TKBK 0, 1, 2, dan 3 pada
pembelajaran menggunakan model PBL dengan pendekatan saintifik.

Abstra
The purpose of this study was for (1) determine the learning process using the PBL models
of scientific approach in an effort to analyze the students' critical thinking skills, (2)
determine whether VII graders students critical thinking skills in learning mathematics
using the PBL models of scientific approach is better than VII graders students critical
thinking skills in learning mathematics using expository models or not, (3) determine the
stage of VII graders students critical thinking skills in learning mathematics using the
PBL models of scientific approach. This study is a kind of combination research models of
sequential explanatory design which combined the quantitative and qualitative research
methodology in a sequence. The results of the study showed (1) the learning process using
the PBL models of scientific approach and the expository models in an effort to analyze the
students' critical thinking skills was very well, (2) VII graders students critical thinking
skills in learning mathematics using the PBL models of scientific approach is better than
VII graders students critical thinking skills using expository models, (3) the characteristics
of each VII graders students critical thinking skills stage from each TKBK 0, 1, 2 and 3 on
learning process using the PBL models of scientific approach.

Alamat korespondensi:
E-mail: syamimadzatidini@gmail.com

2015 Universitas Negeri Semarang


ISSN 2252-6927

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

PENDAHULUAN
Terdapat dua hal penting yang
merupakan bagian dari tujuan pembelajaran
matematika, yaitu pembentukan sikap pola
berpikir kritis dan kreatif (Suherman,et al.,
2003). Duron menyatakan kemampuan berpikir
kritis adalah salah satu kemampuan penting
yang sangat dibutuhkan di dunia kerja nantinya,
dapat membantu memecahkan pertanyaan
spiritual dan mental, dapat digunakan untuk
mengevaluasi
orang,
dan
menghindari
permasalahan sosial. Akan tetapi kemampuan
berpikir kritis siswa, khususnya dalam mata
pelajaran matematika di Indonesia masih di
bawah rata-rata. Didapat hasil bahwa rata-rata
nilai hasil UAS ganjil bagian soal essay yang
merupakan soal-soal penyelesaian masalah yang
dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Moga
adalah 57,66, artinya skor yang didapat belum
mencapai 60%.
Berpikir kritis merupakan suatu proses
intelektual tentang konseptualisasi, penerapan,
analisis, sintesis, dan evaluasi secara aktif dan
mahir terhadap informasi yang diperoleh dari
observasi, pengalaman, refleksi. Elder (2007)
mengungkapkan 5 (lima) ciri seseorang yang
memiliki keterampilan berpikir kritis yaitu: (1)
dapat memunculkan pertanyaan dan masalah
yang penting dan merumuskannya dengan jelas
dan tepat, (2) dapat mengumpulkan dan menilai
informasi yang relevan serta menggunakan ideide abstrak untuk menafsirkannya secara efektif,
(3) dapat menyimpulkan dan memberikan solusi
yang baik, dan mengujinya berdasarkan kriteria
dan standar yang relevan, (4) memiliki
keterbukaan pemikiran terhadap pemikiran,
pengakuan dan nilai lain, (5) dapat
berkomunikasi secara efektif dengan orang lain
untuk memecahkan masalah yang kompleks.
Salah satu cara yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis
yang
masih
rendah
adalah
dengan
memaksimalkan
penggunaan
model
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based
Learning/PBL). Menurut Permendikbud 2013,
PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis,
menumbuhkan
inisiatif
peserta
didik/maha peserta didik dalam bekerja,
motivasi internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal dalam
bekerja kelompok. Selain menggunakan model
PBL, diperlukan sebuah pendekatan yang sesuai
yaitu pendekatan saintifik yang dapat
mendorong dan menginspirasi peserta didik

berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam


mengidentifikasi, memahami, memecahkan
masalah, dan mengaplikasikan substansi atau
materi pembelajaran.
Langkah-langkah dari Problem Based
Learning adalah (1) memberikan orientasi
tentang permasalahan kepada siswa; (2)
mengorganisasikan siswa untuk meneliti atau
belajar; (3) membantu investigasi mandiri dan
kelompok;
(4)
mengembangkan
dan
mempresentasikan artefak (hasil karya); dan (5)
menganalisis
dan
mengevaluasi
proses
mengatasi masalah. (Arrends, 2007) Sedangkan
pendekatan saintifik ini mengembangkan 3
ranah dalam proses pembelajaran yaitu
pengetahuan, sikap, dan keterampilan, secara
terintegrasi meliputi: mengamati, menanya,
menalar, mencoba, dan membentuk jejaring
pembelajaran (Kemendikbud, 2013).
Pada penelitian ini pembelajaran
dilakukan dengan menggunakan model PBL
dengan pendekatan saintifik. Adapun sintaks
pembelajaran menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik meliputi: (1) Memberikan
orientasi tentang permasalahannya kepada
siswa melalui mengamati dan menanya; (2)
Mengorganisasikan siswa untuk meneliti
melalui mengamati; (3) Membantu investigasi
mandiri dan kelompok melalui menalar; (4)
Pengembangan dan presentasi artefak (hasil
karya) melalui mencoba; (5) Menganalisis dan
mengevaluasi proses mengatasi masalah melalui
membentuk jejaring pembelajaran/pembelajaran
kolaboratif.
Proses pembelajaran diamati oleh
observer dan data nilai dari hasil tes
kemampuan berpikir kritis diuji pihak kanan.
Sedangkan analisis Tingkat Kemampuan
Berpikir Kritis (TKBK) siswa dari hasil jawaban
tes berdasarkan indikator empat elemen
bernalar Paul dan Elder(2010) meliputi
informasi, konsep dan ide, penyimpulan, dan
sudut pandang, dengan standar intelektual
bernalar yang digunakan meliputi kejelasan,
ketepatan, ketelitian, relevansi, kelogisan,
kedalaman, dan keluasan. Analisis TKBK pada
penelitian ini mengacu pada hasil penjenjangan
tingkat kemampuan berpikir kritis yang disusun
oleh Kurniasih yang sudah sesuai dengan siswa
Indonesia. Terdapat 4 Tingkat Kemampuan
Berpikir Kritis (TKBK), yaitu TKBK 3 (kritis),
TKBK 2 (cukup kritis), TKBK 1 (kurang kritis),
dan TKBK 0 (tidak kritis). Rincian penilaian
TKBK berdasarkan elemen bernalar dan
standar intelektual bernalar yang disusun

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

Tabel 1 Rincian Penilaian Komponen Elemen Bernalar dan Standar Intelektual dalam TKBK

Kurniasih dan digunakan dalam penelitian ini


pada tabel 1.
Sedangkan tahap kemampuan berpikir
kritis siswa yang dianalisis yaitu diwakilkan dari
tiap TKBK hasil analisis. Tahap kemampuan
berpikir kritis siswa yang digunakan pada
penelitian ini sesuai yang dirancang Perkins dan
Murphi (2006) yaitu (1) klarifikasi, (2) asesmen,
(3) penyimpulan, (4) strategi/taktik.
Permasalahan dalam penelitian ini
adalah (1) bagaimana proses pembelajaran
matematika menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik dalam upaya menganalisis
kemampuan berpikir kritis siswa? (2) apakah
kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik lebih baik
daripada kemampuan berpikir kritis siswa kelas
VII
pada
pembelajaran
matematika
menggunakan model ekspositori? (3) bagaimana
tahap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII
pada pembelajaran matematika menggunakan
model PBL dengan pendekatan saintifik?
Tujuan
penelitian
ini
untuk
menunjukkan proses pembelajaranmatematika
menggunakan model PBL dengan pendekatan
saintifik dalam upaya menganalisis kemampuan
berpikir kritis siswa, kemampuan berpikir kritis
siswa kelas VII SMP Negeri 1 Moga pada
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik lebih baik
daripada pembelajaran menggunakan model
ekspositori serta mengetahui kemampuan
berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik di SMP
Negeri 1 Moga.

METODE
Penelitian
ini
merupakan
jenis
penelitian kombinasi (mix method) model
sequential explanatory design, yaitu penelitian
kombinasi yang menggabungkan metode
penelitian kuantitatif dan kualitatif secara
berurutan (Sugiyono, 2014). Metode kuantitatif
untuk menguji apakah kemampuan berpikir
kritis siswa kelas VII pada pembelajaran
matematika dengan model PBL dengan
pendekatan saintifik lebih baik daripada
kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika dengan model
ekspositori
dilanjutkan
dengan
metode
kualitatif untuk menganalisis kemampuan
berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik.
Populasi penelitian ini adalah siswa
kelas VII SMP Negeri 1 Moga tahun pelajaran
2014/2015 dengan sampel diambil secara
random sampling dan terpilih kelas VII F
sebagai kelas eksperimen yang diterapkan
model PBL dengan pendekatan saintifik dan
kelas VII G sebagai kelas kontrol yang
diterapkan
model
ekspositori.
Prosedur
prngumpulan data pada penelitian ini meliputi
observasi, tes tertulis, wawancara, dan catatan
lapangan.
Sedangkan teknik analisis data meliputi
analisis data kuantitatif dan analisis data
kualitatif. Analisis kuantitatif berupa analisis
data awal meliputi uji normalitas, uji
homogenitas, dan uji kesamaan rata-rata; dan
analisis data akhir meliputi uji normalitas dari
kedua kelas, uji kesamaan varians, dan uji pihak
kanan rata-rata. Sedangkan analisis data
kualitatif dalam penelitian ini meliputi reduksi
data,
penyajian
data,
dan
penarikan

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

kesimpulan. Data berupa jawaban hasil tes


kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen
dianalisis sesuai dengan Tingkat Kemampuan
Berpikir Kritis (TKBK), lalu dari tiap TKBK
dipilih beberapa siswa untuk diwawancara untuk
menganalisis tahap kemampuan berpikir kritis
siswa yang meliputi (1) klarifikasi (2) asesmen
(3) penyimpulan (4) strategi/taktik. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
triangulasi untuk memeriksa keabsahan data.
Selain itu dilakukan pengamatan
pelaksanaan
pembelajaran
pada
kelas
eksperimen atau kelas yang diterapkan model
PBL dengan pendekatan saintifik oleh observer
berupa
pengamatan
kesesuaian
proses
pembelajaran dengan RPP dan aktivitas siswa
saat proses pembelajaran. Hasil pengamatan ini
bertujuan
untuk
menentukan
apakah
pembelajaran menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik terlaksana dengan baik atau
tidak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proses
Pembelajaran
Matematika
Menggunakan Model PBL dengan Pendekatan
Saintifik
Proses
pembelajaran
pada
kelas
eksperimen atau kelas yang diterapkan
pembelajaran menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik berjalan tiga kali
pertemuan dengan materi garis dan sudut.
Proses pembelajaran yang dilakukan peneliti
dalam upaya menganalisis kemampuan berpikir
kritis siswa ini diamati oleh seorang observer.
Observer mengamati proses pembelajaran yang
dilakukan apakah sesuai dengan RPP dan
aktivitas siswa saat pembelajaran. Hasil
pengamatan oleh observer dapat dilihat pada
tabel 2 dan tabel 3.
Pembelajaran menggunakan model PBL
dengan pendekatan saintifik dalam upaya
menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa
berjalan lancar sesuai dengan RPP yang
ditentukan. Hal ini sesuai hasil dengan hasil
pengamatan observer, yaitu diperoleh hasil
pengamatan
kesesuaian
pembelajaran
menggunakan model PBL dengan pendekatan
saintifik dalam upaya menganalisis kemampuan
berpikir kritis siswa untuk tiga pertemuan
adalah berkategori sangat baik yakni dengan
persentase sebesar 79%, 89%, dan 91%. Selain
itu hasil pengamatan aktivitas siswa pada saat
proses pembelajaran pada tiga pertemuan pun

Tabel 2 Hasil Pengamatan Kesesuaian Antara


RPP Dengan Proses Pembelajaran

Tabel 3 Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa

berkriteria sangat baik. Hal ini menunjukkan


bahwa proses pembelajaran menggunakan
model PBL dengan pendekatan saintifik dalam
upaya menganalisis kemampuan berpikir kritis
siswa terlaksana dengan sangat baik.
Rata-rata Kemampuan Berpikir Kritis Siswa
Setelah tiga kali pembelajaran pada
kelas eksperimen atau kelas yang diterapkan
pembelajaran model PBL dengan pendekatan
saintifik dan pada kelas kontrol atau kelas yang
diterapkan model ekspositori, dilakukan tes
kemampuan berpikir kritis dengan materi Garis
dan Sudut. Nilai hasil tes kemampuan berpikir
kritis dari kelas eksperimen maupun kontrol
diuji untuk mengetahui apakah kemampuan
berpikir kritis siswa pada pembelajaran
menggunakan model PBL dengan pendekatan
saintifik lebih baik daripada kemampuan
berpikir kritis siswa pada pembelajaran
menggunakan model ekspositori.
Dari hasil tes diperoleh rata-rata nilai
tes kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen
atau
kelas
yang
diberi
pembelajaran
menggunakan model PBL dengan saintifik
adalah 70,07 dengan nilai terendah yaitu 42,5
dan nilai tertinggi 95. Sedangkan pada kelas
kontrol atau kelas yang diberi pembelajaran
menggunakan model ekspositori diperoleh rataratanya adalah 57,26 dengan nilai terendah
adalah 27,5 dan nilai tertinggi 90. Secara
empiris, rata-rata nilai hasil tes kemampuan
berpikir kritis dari kelas eksperimen lebih tinggi

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

daripada kelas kontrol.


Dari uji pihak kanan diperoleh hasil
akhir kelas eksperimen lebih baik daripada kelas
kontrol. Sehingga rata-rata kemampuan berpikir
kritis siswa pada pembelajaran menggunakan
model PBL dengan pendekatan saintifik lebih
baik daripada rata-rata kemampuan berpikir
kritis siswa pada pembelajaran menggunakan
model ekspositori.
Faktor-faktor
yang
menjadi
kemungkinan penyebab adanya perbedaan ratarata kemampuan berpikir kritis siswa yang
mendapat pembelajaran menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik dan siswa
yang mendapat pembelajaran menggunakan
model ekspositori adalah sebagai berikut.
Faktor pertama. Dengan model PBL
dan pendekatan saintifik, siswa distimulasi
dengan diberi permasalahan pada awal
pembelajaran dan siswa terdorong untuk
mengamati dan menanya yang berkaitan
dengan masalah tersebut. Hal ini membuat
siswa
mempersiapkan
pembelajaran
sebelumnya
agar
dapat
memecahkan
permasalahan
dan
termotivasi
dalam
pembelajaran. Pada model ekspositori, guru
memberikan materi yang diajarkan pada
kegiatan inti, sehingga membuat sebagian siswa
kurang mempersiapkan materi pelajaran karena
nantinya akan diberikan oleh guru dan siswa
kurang aktif karena hanya mendengar apa yang
diajarkan guru.
Faktor kedua. Dengan model PBL dan
pendekatan saintifik, siswa diorganisasikan
untuk meneliti masalah dan melakukan
investigasi masalah dalam hal ini LKPD secara
kelompok serta didorong untuk mengamati dan
menalar untuk memecahkannya. Hal ini
membuat siswa mendapat pembelajaran yang
lebih bermakana karena siswa sendiri yang
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan
memecahkan permasalahan LKPD. Pada
model ekspositori, guru hanya memberikan
materi pembelajaran secara langsung yang
membuat siswa hanya mendengar apa yang
diajarkan dari guru.
Faktor ketiga. Pada model PBL dan
pendekatan saintifik, siswa diberi kesempatan
untuk menyajikan penyelesaian masalah LKPD,
dan membuat siswa terdorong untuk mencoba
menyajikan serta mencoba mendiskusikan hasil
sajian dari teman. Sehingga membuat siswa
lebih aktif dalam pembelajaran. Pada model
ekspositori tidak ada kesempatan siswa
menyajikan penyelesaian masalah.

Faktor
keempat.
Menurut
Permendikbud 2013, PBL dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan
inisiatif peserta didik/maha peserta didik dalam
bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan
dapat mengembangkan hubungan interpersonal
dalam
bekerja
kelompok.
Sedangkan
pendekatan saintifik adalah pendekatan non
ilmiah yang dimaksud meliputi semata-mata
berdasarkan intuisi, akal sehat, prasangka,
penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir
kritis (Kemendikbud, 2013). Artinya model
PBL dengan pendekatan saintifik dapat
mendukung kemampuan berpikir kritis siswa
yang diukur dalam penelitian ini.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada
Pembelajaran Menggunakan Model PBL
dengan
Pendekatan
Saintifik
Hasil tes kemampuan berpikir kritis
pada kelas eksperimen atau kelas yang
diterapkan model PBL dengan pendekatan
saintifik selanjutnya dikelompokkan sesuai
dengan tingkat kemampuan berpikir kritis
menggunakan acuan Tingkat Kemampuan
Berpikir Kritis (TKBK) yang disusun oleh
Kurniasih. Tujuannya adalah untuk mengetahui
TKBK tiap siswa.
Hasil analisis tingkat kemampuan
berpikir kritis siswa kelas eksperimen diperoleh
6 siswa tergolong dalam TKBK 0 (tidak kritis),
18 siswa tergolong dalam TKBK 1 (kurang
kritis), 9 siswa tergolong dalam TKBK 2 (cukup
kritis) dan 1 siswa tergolong dalam TKBK 3
(kritis). Selanjutnya dipilih beberapa siswa dari
masing-masing TKBK untuk diwawancara
dengan tujuan memvalidasi tingkat kemampuan
berpikir kritis dan menganalisis tahap
kemampuan berpikir kritis siswa. Berikut
beberapa siswa terpilih dengan pertimbangan
guru Mapel dan siswa yang mudah diajak
berkomunikasi pada tabel 4.
Tabel 4 Daftar Siswa Wawancara Kelas
Eksperimen

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

Tabel 5 Karakteristik Tahap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pembelajaran Matematika
Menggunakan Model PBL dengan Pendekatan Saintifik

Dari hasil wawancara pada beberapa


siswa terpilih, diperoleh validasi dari tiap-tiap
TKBK sesuai dengan TKBK yang dirancang
Kurniasih
dan
selanjutnya
diperoleh
karakteristik tahap kemampuan berpikir kritis
yang meliputi tahap klarifikasi, asesmen,
penyimpulan, dan strategi/taktik. Berikut
rincian karakteristik tahap kemampuan berpikir
kritis siswa yang diperoleh pada kelas
eksperimen atau kelas yang diterapkan
pembelajaran menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik pada tabel 5.
PENUTUP
Hasil penelitian menunjukkan proses
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik dalam upaya
menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa

terlaksana dengan sangat baik dan kemampuan


berpikir kritis siswa kelas VII pada pembelajan
matematika menggunakan model PBL dengan
pendekatan saintifik lebih baik daripada
kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada
pembelajaran matematika menggunakan model
ekspositori. Sedangkan hasil analisis tingkat
kemampuan berpikir kritis siswa pada
pembelajaran matematika menggunakan model
PBL dengan pendekatan saintifik diperoleh 6
siswa tergolong TKBK 0 (tidak kritis), 18
siswa tergolong TKBK 1 (kurang kritis), 9 siswa
tergolong TKBK 2 (cukup kritis) dan 1 siswa
tergolong TKBK 3 (kritis). Selain itu diperoleh
karakteristik tahap kemampuan berpikir kritis
siswa kelas VII dari masing-masing TKBK 0, 1,
2, dan 3 pada pembelajaran menggunakan
model PBL dengan pendekatan saintifik.

S D Dini et al / UNNES Journal of Mathematics Education 4 (3) (2015)

Saran dari peneliti yaitu guru dapat


menggunakan model PBL dengan pendekatan
saintifik untuk meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa pada saat pembelajaran
matematika dan perlu dilakukan penelitian
pembelajaran lanjutan untuk mencari cara yang
tepat dalam meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa yang masih rendah.

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis
mengucapkan
terimakasih
kepada Bapak Mohamammad Asikin, M.Pd.
dan Ibu Rahayu Budhiati Veronica, M.Si.
selaku dosen pembimbing, segenap temanteman Pendidikan Matematika angkatan 2011,
dan segenap civitas jurusan matematika dan
FMIPA UNNES.
DAFTAR PUSTAKA

Arrends, R.I. 2008. Learning To Teach: Belajar untuk


Mengajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Duron, R. & Husson C..
Critical Thingking
Framework For Any Discipline. International
Journal of Teaching and Learning in Hogher
Education,17(2):163-166.
Tersedia
di
http://sazlie.com/bahan/promotecriticalthi
nking.pdf
[diakses
30-03-2014].
Elder, Linda (2007). Our Concept of Critical Thinking.
Foundation for Critical Thinking. Tersedia di
http://www.criticalthinking.org [diakses 212-2014].
Kemendikbud.
2013.
Materi Pelatihan Guru
Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pendidikan
dan
Kebudayaan
dan
Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian
Pendidikan
dan
Kebudayaan.
Kurniasih,
A.W..2010.Penjenjangan
Kemampuan
Berpikir Kritis dan Identifikasi Tahap Berpikir
Kritis Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Matematika
FMIPA
UNNES
dalam
menyelesaikan masalah Matematika dalam
Seminar
Nasional
Matematika
dan
Pendidikan
Matematika.
Paul and Elder, 2010. The Miniature Guide to Critical
Thinking Concepts and Tools. Dillon Beach:
Foundation for Critical Thinking Press.
Perkins, C., & Murphy, E. 2006. Identifying and
measuring individual engagement in critical
thinking min online discussions: An
exploratory
case
study.
Educational
Technology & Society, 9(1): 298-307.
Tersedia
dihttp://research.library.mun.ca/2462/1/Id
entifying_and_measuring_individual_engage
ment_in_critical_thinking_in_online_discuss
ions_An_exploratory_case_study.pdf
[diakses
25-3-2014].

Sugiyono.
2014.
Metode
Penelitian
Kombinasi.Bandung:Alfabeta.
Suherman, E., et al. 2003. Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer. Jakarta: JICA
UniversitasPendidikan
Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai