Anda di halaman 1dari 14

Modul Pengantar Statistik Sosial

SKALA PENGUKURAN
(Donna Asteria)

Tujuan Instruksional Umum (TIU):


Setelah membaca dan mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui
jenis, ciri, dan fungsi dari empat skala pengukuran, yaitu nominal, ordinal, interval, dan
rasio.

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Selain TIU di atas, setelah membaca materi ini diharapkan agar mahasiswa memiliki
kemampuan, yaitu:
1. Membedakan jenis skala pengukuran dengan ciri dan fungsinya masing-masing.
2. Menjelaskan keterkaitan jenis data dan jenis skala pengukuran yang sesuai dalam
statistik.

1. PENGANTAR
Pada prinsip statistik yang bekerja dengan angka akan diperlukan perubahan
data agar menjadi berbentuk angka. Padahal angka-angka yang diolah dengan statistik
berasal dari perhitungan kuantitas atas objek ataupun penilaian kuantitatif terhadap
objek. Dalam kaitan dengan perubahan data agar berbentuk angka, skala pengukuran
merupakan hal mendasar yang perlu diketahui sebelum melakukan pengolahan data.
Pemilihan jenis statistik dalam pengolahan data memiliki persyaratan tertentu berkaitan
dengan skala pengukuran datanya. Apabila terjadi ketidaksesuaian antara skala
pengukuran dengan statistik yang digunakan, maka akan menghasilkan kesimpulan
yang bias dan tidak tepat.
Dalam statistik, data dapat berupa simbol atau angka dari sebuah variabel yang
diukur. Pengukuran hanya dilakukan terhadap variabel yang dapat didefinisikan,
misalnya pada konsep minat, kinerja ataupun sikap. Untuk mendapatkan hasil
pengukuran yang tidak memberikan interpretasi berbeda maka definisi operasional
terhadap variabel yang diteliti perlu dijelaskan terlebih dahulu. Dalam penerapan

Modul Pengantar Statistik Sosial

statistik, perbedaan data dan tujuan dari data akan disajikan, tidak bisa diasumsikan
dalam skala pengukuran yang sama.
Sebelum menjabarkan mengenai skala pengukuran, akan dibahas terlebih dahulu
mengenai pengukuran. Pengukuran adalah penggunaan aturan untuk menetapkan
bilangan pada objek atau peristiwa. Dengan kata lain, pengukuran memberikan nilainilai pada variabel (sesuai objek/peristiwa)

dengan notasi bilangan. Sebagai suatu

proses sistematik dalam menilai dan membedakan sesuatu objek yang diukur,

angka

atau simbol dilekatkan pada karakteristik sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Pengukuran berusaha memasangkan suatu angka dengan cara menyajikan ciri atau sifat
suatu objek. Misalnya saja dalam melakukan pengukuran,

orang/individu dapat

digambarkan dari beberapa karakteristik, baik dari aspek umur, pendidikan, pendapatan,
jenis kelamin, ataupun preferensi terhadap merek tertentu.

2. SKALA PENGUKURAN
Skala pengukuran merupakan prosedur pemberian angka pada suatu objek agar
dapat menyatakan karakteristik dari objek tersebut. Skala pengukuran menjadi dasar
penetapan aturan yang diperlukan untuk mengkuantitatifkan data (penggunaan notasi
bilangan) dari pengukuran suatu variabel. Ada empat jenis skala pengukuran yang
dapat digunakan untuk menyatakan ciri suatu objek. Sebagaimana Stevens (1946)
mengelompokkan skala pengukuran menjadi empat tingkatan (level of measurement),
yaitu: skala nominal, ordinal, interval, dan rasio.

2.1 Skala Nominal


Skala nominal adalah skala yang semata-mata hanya untuk memberikan indeks,
atau nama saja dan tidak mempunyai makna yang lain. Pengelompokan atau
kategorisasi kejadian ke dalam kelas/kategori,

dimana dalam satu kelas/kategori

memiliki atribut atau sifat yang sama. Kelas/kategori tersebut hanya sekadar penamaan
untuk membedakan suatu kejadian dengan kejadian lainnya. Perbedaan angka hanya
menunjukan adanya obyek atau subyek yang terpisah dan tidak sama. Data hasil
pengamatan diklasifikasikan ke dalam kategori-kategori, dan di antara kategori tidak
ada suatu urutan sehingga disebut pula sebagai skala kategorik.

Modul Pengantar Statistik Sosial

Sebelum memakai skala nominal biasanya data yang sudah diberi simbol
dipisahkan dan dikelompokan berdasarkan jenis atau beberapa kategori pembeda antara
data tersebut. Biasanya simbol yang digunakan adalah gambar yang mencirikan jenis
data tersebut, dapat pula berupa angka (hanya digunakan sebagai lambang dari suatu
kategori, tidak memiliki arti numerik, tidak boleh menjumlahkan, mengurangi,
mengalikan atau membagi). Angka tersebut hanya sebagai lambang untuk membedakan
satu data dengan data yang lainnya.

2.1.1 Ciri Skala Nominal


Dalam empat tingkatan skala pengukuran, skala nominal merupakan tingkatan
terendah karena skala ini hanya digunakan untuk membedakan satu objek dengan objek
lainnya berdasarkan lambang yang diberikan. Sebagaimana paparan sebelumnya, ciri
dari skala nominal, yaitu:
a. Angka digunakan hanya untuk membedakan satu objek dari objek lainnya dan tidak
mempunyai kaitan langsung dengan besaran fisik ataupun ciri fisik objek, karena
angka hanya sekadar nama untuk suatu objek. Kategori data bersifat saling lepas, di
mana satu objek hanya masuk pada satu kelompok saja.
b. Angka pada skala pengukuran ini penggolongannya mempunyai batas yang tegas.
Skala nominal akan dapat menghasilkan data diskrit (data yang satuannya bersifat
bilangan bulat, bukan pecahan).
c. Kategori data tidak disusun secara logis. Pengukuran menggunakan skala ini sama
sekali tidak menyatakan adanya urutan/tingkatan menurut besaran, tidak ada interval
yang sama, atau pun nol mutlak.

2.1.2 Fungsi Skala Nominal:


Berdasarkan paparan di atas, skala nominal memiliki fungsi untuk membedakan
data yang satu dengan yang lainya,

dalam penggunaannya tidak berlaku operasi

hitung/matematis (menjumlahkan, mengurangkan, mengalikan, ataupun membagi).


Hubungan antara angka yang digunakan hanya sebagai simbol untuk menyatakan
sama dan tidak sama dalam kategori tertentu.

Modul Pengantar Statistik Sosial

2.1.3 Keterkaitan skala nominal dan jenis data


Data dengan skala pengukuran nominal, seringkali disebut data nominal. Data
nominal adalah data yang diberikan pada objek/kategori dengan tidak menentukan
kedudukan objek/kategori tersebut terhadap objek/kategori lainnya (bervariasi menurut
jenisnya). Data nominal disebut juga data diskrit karena data hanya dapat digolonggolongkan secara terpisah, secara kategorik dan lebih merupakan lambang dari suatu
kategori. Jenis data yang termasuk data ini adalah data kualitatif atau disebut juga nonmetrik (data tidak berupa angka dan dapat berupa atribut, karakteristik, atau sifat
kategorik yang menunjukkan atau menggambarkan suatu objek). Namun data kuantitatif
yang hanya mengindikasikan adanya pelambang-pelambangan kategori

tanpa

menunjukkan urutan tinggi atau rendah, juga termasuk dalam data nominal. Contoh data
kuantitatif yang termasuk data nominal adalah nomor urut pada presensi mahasiswa.
Sebab mahasiswa dalam daftar presensi dengan nomor urut 1, bukan berarti yang
terbaik atau terpandai dalam kelas. Nomor tersebut hanya kode atau lambang dari
mahasiswa yang bersangkutan.
Berkaitan dengan skala nominal, dapat digunakan dalam perhitungan statistik
persentase, modus (frekuensi pemunculan), IQV (index qualitative variance), proporsi
dengan menggunakan statistik non parametrik, korelasi kontingensi,

phi atau chi-

square.
2.1.4 Contoh Skala Nominal
Berikut paparan mengenai contoh dari skala nominal dalam data, yaitu:
1. Penggunaan angka untuk nomor induk mahasiswa, nomor rumah, nomor klasifikasi
buku, nomor punggung pemain sepak bola, nama perguruan tinggi, nama tanaman
atau hewan dan lainnya.

Penggunaan

angka untuk nomor dalam

contoh-contoh di atas,

hanya untuk

pembedaan saja, tanpa makna menunjukkan tingkatan atau kategori lebih baik/lebih
buruk.

2. Pembuatan kategori:
Gender

: 1 = laki-laki
2 = perempuan

Modul Pengantar Statistik Sosial

Angka 1 dan 2 yang diberikan tidak menunjukkan bahwa tingkat perempuan lebih
tinggi daripada laki-laki, ataupun sebaliknya tingkat laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan. Angka-angka tersebut tidak memberikan arti apapun jika ditambahkan,
hanya berfungsi sebagai label saja.

3. Penerapan dalam kuesioner, sebagaimana contoh berikut:


Jenis sabun cuci yang Anda gunakan selama sebulan terakhir adalah:
a. Sabun cuci batangan
b. Sabun cuci deterjen krim
c. Sabun cuci deterjen bubuk
d. Sabun cuci cair
Peletakan sabun cuci batangan pada urutan pertama, bukan berarti bahwa sabun cuci
batangan memiliki kualitas tertinggi daripada jenis sabun cuci lainnya. Ini hanya
bentuk pembedaan agar memudahkan pemilihan.

2.2 Skala Ordinal


Satu tingkat pengukuran di atas skala pengukuran nominal adalah skala
pengukuran ordinal. Skala pengukuran ordinal masih memiliki ciri pengukuran nominal,
yaitu membedakan data dalam berbagai kelompok menurut lambang yang diberikan.
Perbedaan angka yang dimiliki objek yang satu dari yang lain tidak menunjukkan
adanya perbedaan kuantitatif melainkan hanya perbedaan jenjang kualitatif saja. Bila
terdapat jenjang 1, 2, 3 maka tidak dapat mengatakan bahwa terdapat jarak antara 3-2
sama dengan 2-1, tetapi hanya berlaku bahwa 3 lebih besar daripada 2, atau 2 lebih
besar daripada 1, atau 3 lebih besar daripada 1. Hal ini dikarenakan dalam skala ordinal,
jarak jenjang antara dua angka berurutan tidak selalu sama, karena tidak jelas batas dari
variasi nilai yang satu dengan lainnya. Angka untuk menunjukkan posisi dalam urutan
pada suatu seri.

2.2.1 Ciri Skala Ordinal


Ciri dari skala ordinal, yaitu:
a) Kategori data disusun berdasarkan urutan logis dan sesuai dengan besarnya
karakteristik yang dimiliki, hanya menyatakan ranking untuk menunjukkan

Modul Pengantar Statistik Sosial

tempat dalam susunan, tidak menyatakan jarak satu datum ke datum lainnya.
Angka hanya berupa urutan relatif dan tidak ada nol mutlak.
b) Tidak menyatakan nilai absolut, satuan angka tidak mempunyai satuan ukuran,
dan tidak menyatakan bahwa interval antara angka-angka tersebut sama
besarnya, karena jarak atau beda nilai tidak diukur. Data yang disusun secara
berjenjang mulai dari tingkat terendah sampai ke tingkat tertinggi, atau
sebaliknya dengan jarak/rentang yang tidak harus sama. Data ini setiap
jenjangnya memiliki sifat yang berbeda.
c) Skala ranking bukanlah skala yang mempunyai interval yang sama. Dalam hal
ini, tidak dapat diketahui berapa kali lebih besar ataupun lebih buruknya suatu
data dari data yang lain. Skala ordinal mempunyai batas yang bisa berubah
sesuai dengan kriteria yang digunakan.
d) Pada tingkat skala pengukuran ordinal, dapat mengatakan suatu data lebih baik,
lebih buruk, lebih besar ataupun lebih kecil dari data yang lainnya berdasarkan
informasi yang diberikan (perbandingan nilai tanpa memperhatikan jarak antara
nilai variabel yang diukur).

2.2.2 Fungsi Skala Ordinal


Fungsi dari skala ordinal adalah simbol/lambang untuk membedakan antara satu
data dengan data yang lainnya dan mengurutkan data sesuai tingkatannya berdasarkan
kualitas dari data tersebut dan ditentukan baik dari tingkat tinggi ke tempat yang lebih
rendah maupun sebaliknya.
Maka, berbeda dengan skala pengukuran nominal, dimana angka hanya
difungsikan sebagai lambang. Angka yang didefinisikan pada skala ordinal tidak
semata-mata hanya untuk sebagai lambang yang difungsikan untuk membedakan satu
data dengan data yang lainnya namun juga bisa digunakan untuk mengurutkan data
sesuai tingkatannya.

2.2.3 Keterkaitan skala ordinal dan jenis data


Jenis data dengan skala ordinal termasuk data kualitatif atau disebut juga nonmetrik (data tidak berupa angka dan dapat berupa atribut, karakteristik, atau sifat
kategorik yang menunjukkan atau menggambarkan suatu objek). Sebab angka yang

Modul Pengantar Statistik Sosial

diberikan pada objek hanya menyatakan tempat dalam suatu susunan, tidak menyatakan
jarak antara data yang satu dengan lainnya, hanya peringkat yang tidak mempunyai
satuan ukur. Untuk mengkuantifikasikan data dengan skala ordinal dilakukan dengan
menghitung frekuensi dan dibuat rangkingnya. Data Adapun teknik statistik yang dapat
digunakan untuk menganalisis data dengan skala ordinal antara lain median, modus,
persentil, IQV, range, dan korelasi tata jenjang dari Spearman.

2.2.4 Contoh Skala Ordinal


Berikut adalah beberapa contoh penerapan skala ordinal, yaitu:
1. Penetapan tingkatan untuk predikat kelulusan (sarjana):
Dengan pujian
Sangat memuaskan
Memuaskan
Cukup memuaskan
Predikat kelulusan dengan pujian/cum laude berada pada urutan lebih tinggi
daripada predikat sangat memuaskan, memuaskan dan cukup memuaskan.
Pada predikat kelulusan tersebut

tidak memiliki adanya perbedaan nilai/selisih

secara nyata dan tidak mengenal adanya titik nol.

2. Pembagian tingkatan pendidikan diurutkan berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu:


Taman kanak-kanak (TK)

=1

Sekolah Dasar (SD)

=2

Sekolah Menengah Pertama

(SMP)

=3

Sekolah Menengah Atas (SMA/SMU/SMK) = 4


Sarjana

(S1)

=5

Paparan di atas menunjukkan pendidikan TK dengan nomor urut 1 lebih rendah


dibandingkan dengan tingkat pendidikan SD dengan nomor urut 2 dan SD lebih
rendah dibandingkan SMP, SMA/SMU/SMK, serta S1.

3. Skala Interval
Skala interval memiliki sifat tambahan yang membedakannya dengan skala
nominal dan skala ordinal, selain dapat membedakan data yang satu dan lainnya
dengan menggunakan lambang serta dapat merangkingnya, juga dapat mengukur

Modul Pengantar Statistik Sosial

perbedaan/interval/jarak antara data yang satu dengan yang lainnya. Angka pada skala
interval memiliki batas variasi nilai satu dengan lainnya secara jelas, sehingga jarak atau
intervalnya dapat dibandingkan. Namun nilai mutlak dari angka dengan skala interval
tidak dapat dibandingkan secara matematis karena batas-batas variasi nilainya tidak
memiliki angka nol mutlak.

3.1.1 Ciri Skala Interval


Skala interval memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu:
a. Ciri dari jenis skala interval memiliki kesamaan dengan data ordinal, dimana
dapat dibedakan dan adanya urutan/tingkatan menurut besaran, namun juga
memiliki interval- interval yang sama, dengan tidak memiliki titik nol mutlak
atau nol absolut.
b. Angka digunakan untuk menyatakan interval- interval yang sama dengan
mempunyai besaran berlanjut/kontinu dan menggunakan nol relatif.
c. Pada skala interval, datanya dapat ditambahkan, dikurangi, digandakan, dan
dibagi tanpa memengaruhi jarak relatif dari skor-skornya. Dalam skala interval,
yang dijumlahkan bukanlah kuantitas atau besaran melainkan interval/jarak dan
tidak terdapat nilai nol.

3.1.2 Fungsi Skala Interval


Skala interval memiliki fungsi sebagai lambang yang berfungsi sebagai pembeda
antara satu data dengan data yang lainnya, dengan mengurutkan data sesuai
tingkatannya atau meranking suatu data menurut tingkatannya, dan untuk mengetahui
interval antara satu data dengan data yang lainnya (jarak antara satu data dengan data
yang lainnya).

3.1.3 Keterkaitan skala interval dan jenis data


Data dengan skala interval seringkali dikategorikan sebagai data metrik atau
kuantitatif (data berupa angka). Pada data ini pengukuran dilakukan sehingga suatu
objek dapat diketahui perbedaannya dalam jumlah atau derajat, dimana data dengan
skala interval tergolong data kontinum. Data dengan skala interval dapat dianalisis

Modul Pengantar Statistik Sosial

dengan teknik statistik antara lainnya mean, median, modus, variansi, range, standar
deviasi, t-Test, dan korelasi product moment.

3.1.4 Contoh Skala Interval


Berikut contoh dari penggunaan skala interval pada data, yaitu:
1. Penyajian indeks prestasi mahasiswa, yaitu:
IPK >3,50
IPK 3,003,49
IPK2,502,99
IPK 2,002,49
Dari data di atas, dapat diketahui memiliki interval yang sama, dimana pada rentang
IPK 2,00-2,49 memiliki interval 0,49 (diketahui dari selisih antara 2,49 dan 2,00),
begitu pula pada IPK 2,50-2,99 memiliki interval 0,49.

2. Pada hasil pengukuran suhu dari 5 jenis zat kimia yang berbeda di laboratorium oleh
seorang profesor diketahui sebagai berikut:
Jenis zat kimia
A
B
C
D
E

Suhu
20C
40C
55C
65C
70C

Berdasarkan tabel di atas, data memiliki interval, dengan dapat dibedakan, diranking
berdasarkan tingkatannya, serta diketahui adanya interval dari masing-masing data.
Interval pada data di atas adalah jarak/selisih antara data sebelum dan sesudahnya.
Pada data B memiliki interval 5C dari data C. Namun data tidak dapat dibandingkan
satu data dengan lainnya. Sebab pada skala interval tidak memiliki titik nol mutlak.
Titik nol mutlak yang dimaksudkan adalah benda bersuhu 0oC, bukan berarti tidak
memiliki panas (titik nolnya tidak bernilai kosong), dimana titik nol yang ditetapkan
adalah berdasarkan kesepakatan/perjanjian.

4. Skala Rasio
Tingkatan skala yang paling kompleks, berada tiga tingkat di atas skala nominal
atau dua tingkat di atas skala ordinal atau satu tingkat di atas skala interval adalah skala

Modul Pengantar Statistik Sosial

rasio. Skala rasio memiliki ketiga sifat yang dimiliki oleh skala nominal, skala ordinal,
dan skala interval. Selain dapat membedakan satu data dengan data yang lainnya karena
lambang/simbol yang diberikan, mengurutkan data berdasarkan tingkatannya, dan
mengetahui interval antara satu data dengan data yang lainnya, dalam skala rasio juga
dapat

membandingkan antara satu data dengan data yang lainnya berdasarkan

kuantitatif nilai yang dimiliki oleh data.

4.1.1 Ciri Skala Rasio


Adapun ciri dari skala rasio, yaitu:
a. Angka digunakan sebagai pembanding terhadap suatu satuan pengukuran yang
besarnya terstandar.
b. Angka/data

mempunyai

besaran

berlanjut/kontinu

dan

memiliki

nol

absolut/mutlak. Skala ini mempunyai keempat ciri skala pengukuran, yaitu dapat
dibedakan, urutan menurut besarnya, interval-interval yang sama, dan adanya
titik nol mutlak. Angka nol menyatakan tidak adanya objek tersebut, dengan
lambang angka nol.
c. Pada data dengan skala rasio dapat dibuat perkalian atau pembagian. Angka
pada data menunjukkan nilai yang sebenarnya dari objek/kategori yang diukur.

4.1.2 Fungsi Skala Rasio


Fungsi dari skala rasio adalah selain sebagai lambang untuk membedakan antara
data satu dengan data yang lain, mengurutkan peringkat, dengan semakin besar
bilangannya,

peringkat

akan

semakin

tinggi

atau

sebaliknya,

untuk

dapat

memperlihatkan jarak atau perbedaan antara data yang satu dengan data yang lainya,
juga untuk mengetahui rasio (perbandingan) antara satu data dengan data yang lainnya
dan mempunyai arti/makna. Titik nol yang digunakan dalam skala rasio merupakan
suatu titik mutlak (tidak memiliki nilai) atau bukan berdasarkan perjanjian, yang secara
jelas menunjukkan tidak adanya gejala sama sekali ketika digunakan angka nol dalam
pencatatan. Skala pengukuran rasio merupakan skala yang paling ideal dengan batasan
interval yang jelas dan variasi nilainya juga mempunyai batas yang tegas.

Modul Pengantar Statistik Sosial

4.1.3 Keterkaitan skala rasio dan jenis data


Sebagaimana data berskala interval, data dengan skala rasio termasuk kategori
data metrik atau kuantitatif (data berupa angka), dapat dilakukan pengukuran dilakukan
sehingga suatu objek dapat diketahui perbedaannya dalam jumlah atau derajatnya. Data
dengan skala rasio juga termasuk data kontinum. Pada data berskala rasio,

untuk

analisis datanya dapat digunakan teknik statistik yang sama dengan teknik statistik pada
skala interval.

4.1.4 Contoh Skala Rasio


Berikut beberapa contoh dari skala rasio, yaitu:
1.

Perbandingan tinggi badan dalam suatu keluarga, terdapat Ayah, Ibu, Kakak, dan
Adik. Ayah memiliki tinggi badan 172 sentimeter sedangan Ibu hanya 165
sentimeter, serta tinggi badan kakak 162 sentimeter

dan adik mencapai 86

sentimeter. Dalam skala rasio, dapat disimpulkan tinggi badan Ayah adalah dua kali
lipat dari tinggi badan adik (172 cm: 86 cm).

2. Nilai X adalah 50, sedangkan nilai Z adalah 100. Ukuran rasionya dapat dinyatakan
bahwa nilai X adalah 0,5 dari nilai Z.

Berdasarkan paparan di atas, dapat diketahui bahwa skala rasio merupakan skala
yang memiliki nilai lebih tinggi daripada skala lainnya. Kemudian diikuti dengan skala
interval, mengingat karakteristik skala interval yang tidak terlalu berbeda dengan skala
rasio. Skala ordinal mempunyai nilai lebih tinggi dari skala nominal yang merupakan
skala yang paling sederhana. Hal ini dapat dilihat sebagaimana dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Karakteristik dari Empat Jenis Skala Pengukuran
Jenis Skala

Ciri skala

Nominal

Ada perbedaan
kategori, tidak ada
urutan ataupun
titik awal

Ordinal

Ada perbedaan
kategori, ada

Operasi Empiris
dasar
Penentuan
kesamaan

Penentuan lebih
besar atau lebih

Contoh
Panjang benda 1 meter dan 2
meter sangat berbeda secara
nyata, sehingga dapat dibuat
kategori benda yang
berukuran 1 meter dan 2
meter
Ukuran panjang benda mulai
dari yang terpendek sampai

Modul Pengantar Statistik Sosial

urutan/tingkatan,
dan tidak ada titik
awal
Ada perbedaan
kategori, ada
urutan/tingkatan,
dan ada jarak antar
kategori, tetapi
tidak
ada titik awal
Ada perbedaan
kategori, ada
urutan/tingkatan,
ada jarak antar
kategori, dan
memiliki titik awal
(titik nol mutlak)

Interval

Rasio

kecil

yang paling panjang

Penentuan
kesamaan interval
atau perbedaan

Perbedaan panjang antara


benda 1 meter dengan 2
meter memiliki perbedaan
yang sama dengan panjang
antara benda 2 meter dengan
3 meter

Penentuan
kesamaan rasio

Pada data rasio, angka 0


meter, artinya tidak ada
benda yang diukur, dan
benda yang memiliki
panjang 4 meter, 2 kali lebih
panjang daripada benda yang
memiliki panjang 2 meter.

Konsekuensi dari jenis skala pengukuran akan menentukan analisis statistik


yang digunakan. Pada kondisi tertentu, menurunkan skala dimungkinkan. Namun
menaikkan skala tidak dapat dilakukan.

C. Rangkuman
1. Skala pengukuran berkaitan dengan penetapan angka yang diolah dan dianalisis
dalam statistik, serta pembatasan definisi dari suatu variabel yang diteliti dalam
menentukan analisis statistik yang sesuai untuk digunakan.
2. Dalam statistik,

terdapat empat tingkatan skala pengukuran dengan adanya

perbedaan karakteristik, seperti tampak dalam Tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2 Perbedaan karakeristik dari empat jenis skala pengukuran


JENIS SKALA
(LEVEL)

PERBEDAAN
KATEGORI

TINGKATAN

JARAK ANTAR
KATEGORI

NOMINAL

ORDINAL

INTERVAL

RASIO

TITIK NOL
MUTLAK

Modul Pengantar Statistik Sosial

Berdasarkan tabel di atas, angka dapat dikelompokkan dengan skala nominal, jika
berfungsi sebagai simbol atau tanda hanya untuk membedakan kategori, yang
tidak mempunyai daya pembeda yang berjenjang sehingga tidak dikenal lebih
besar ataupun lebih kecil) sehingga tidak mempunyai makna hitung. Pada skala
ordinal, jika angka mempunyai urutan/tingkatan tertentu sehingga mempunyai
daya pembeda untuk menentukan lebih besar atau lebih kecil, namun tidak
memiliki jarak yang tetap. Sementara pada skala interval, angka memiliki urutan
dan mempunyai daya pembeda, dengan memiliki jarak atau interval antara angka
yang satu dengan lainnya secara tetap, namun tidak memiliki angka nol mutlak.
Sebagai skala yang paling kompleks, skala rasio mempunyai urutan, mempunyai
daya pembeda, memiliki interval antara satu dengan lainnya secara tetap, dan
mempunyai titik nol mutlak.

D. Latihan
1. Jelaskan hubungan antara skala pengukuran dengan jenis data dalam statistik
dan berikan contoh konkret untuk masing-masing jenis skala pengukuran.
2. Pada tabel di bawah ini adalah hasil survei mengenai kepuasan mahasiswa di
wilayah Jabodetabek

dalam pemanfaatan jejaring sosial untuk relasi

pertemanan, yang dibagi dalam kategori STP, TP, N, P, dan SP. Angka dalam
tabel menunjukkan persentase (%).
Jenis jejaring
sosial yang
digunakan
Twitter
Facebook
Linkedln

Sangat
Tidak Puas
(STP)
5%
2%
10%

Tidak puas
(TP)

Netral
(N)

Puas
(P)

Sangat Puas
(SP)

5%
3%
10%

25%
20%
15%

25%
45%
35%

40%
30%
30%

Berdasarkan paparan data dalam tabel di atas, jelaskan jenis skala pengukuran
yang digunakan dan berikan argumen Anda.

Daftar Pustaka:
Hasan, I. 2005. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: Bumi
Aksara

Modul Pengantar Statistik Sosial

Irianto, H. 2010. Statistik: Konsep Dasar, Aplikasi, dan Pengembangannya. Jakarta:


Kencana Prenada Media Group
Neuman, W. L. 2003. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative
Approaches. Fifth Edition. USA: Pearson Education, Inc.
Siagian, Dergibson & Sugiarto. 2002. Metode Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi.
Gramedia Pustaka Utama

Jakarta:

Winarsunu, T. 2007. Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang:


UPT UMM