Anda di halaman 1dari 20

PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN KOPERASI DI INDONESIA

Diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Koperasi


Dosen Pengampu Mata Kuliah:
Fivien Muslihatinningsih S.E., M.Si.

Disusun oleh :
1
2
3
4
5
6

Ayu Novita
Ahvin Satriyo Putra
Dzulfiqar Addarda
Yulida Rahmawati
Fariz Suryaputra
Handayani Novika S

(130810101106)
(130810101113)
(130810101120)
(130810101132)
(130810101149)
(130810101150)

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah Ekonomi Koperasi yang membahas tentang Perkembangan dan
Tantangan Koperasi. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah yang diampu
oleh Fivien Muslihatinningsih S.E., M.Si.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis sampaikan terima kasih kepada:
1 Fivien Muslihatinningsih S.E., M.Si. selaku dosen Pengampu mata kuliah
2 Seluruh anggota kelompok yang berpartisipasi dalam penyelesaian makalah
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini. Akhirnya, penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat.

Jember, 30 Mei 2016

Penyusun

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Belakangan masalah dalam sistem perekonomian Indonesia dikenal ada tiga pilar utama yang
menyangga perekonomian. Ketiga pilar itu adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha
Milik Swasta (BUMS), dan Koperasi. Ketiga pilar ekonomi tersebut mempunyai peranan yang
masing- masing sangat spesifik sesuai dengan kepasitasnya. Tetapi dari ketiga pilar itu, koperasi
meskipun sering disebut sebagai soko guru perekonomian, secara umum merupakan pilar ekonomi
yang jalannya paling terseok dibandingkan dengan BUMN dan apalagi BUMS.
Padahal koperasi selama ini sudah didukung oleh pemerintah (bahkan berlebih) sesusai
kedudukan istimewa dari koperasi di dalam sistem perekonomian Indonesia sebagai soko guru
perekonomian. Ide dasar pembentukan koperasi sering dikaitkan dengan pasal 33 UUD 1945,
khususnya ayat 1 yang menyebutkan bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar
asas kekeluargaan. Dalam penjelasan UUD 1945 itu dikatakan bahwa bangun usaha yang paling
cocok dengan asas kekeluargaan itu adalah koperasi dan tafsiran itu sering disebut sebagai perumus
pasal tersebut.
Kata azas kekeluargaan ini, walaupun bisa diperdaebatkan, sering dikaitkan dengan koperasi
sebab azas pelaksanaan usaha koperasi adalah kekeluargaan. Untuk lebih menata organisasi koperasi,
pada tahun 1967 pemerintah Indonesia (Presiden dan DPR) mengeluarkan UU No. 12 pada Tahun
1992 dan UU tersebut direvisi menjadi UU No. 25. Dibandingkan UU No. 12, UU No. 25 lebih
komprehensif tetapi juga lebih berorientasi ke pemahaman kapitalis. Ini disebabkan UU baru itu
sesungguhnya memberi peluang koperasi untuk bertindak bagai sebuah perusahaan yang
memaksimalkan keuntungan.
Tantangan untuk menjadi soko guru perekonomian Indonesia masih belum dapat dijawab
dengan baik oleh koperasi. Meskipun saat krisi melanda Indonesia pada periode 1997- 1998 koperasi
mampu bertahan dengan baik, tidak semerta- merta koperasi dapat menjawab tantangan sebagi soko
guru perekonomian Indonesia begitu saja. Terdapat banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka
mewujudkan rencana besar ini. Melalui makalah ini, kami akan coba menjawab hal- hal tersebut.

BAB 2. PEMBAHASAN
1

Perkoperasian di Indonesia
a. Kondisi Koperasi di Indonesia Secara Umum
Sampai dengan bulan November 2001, jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat

sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang. Jumlah itu
jika dibanding dengan jumlah koperasi per-Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali
lipat. Jumlah koperasi aktif, juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Jumlah

koperasi aktif per-November 2001, sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Corak koperasi Indonesia
adalah koperasi dengan skala sangat kecil. Satu catatan yang perlu di ingat reformasi yang ditandai
dengan pencabutan Inpres 4/1984 tentang KUD telah melahirkan gairah masyarakat untuk
mengorganisasi kegiatan ekonomi yang melalui koperasi.
Mengenai jumlah koperasi yang meningkat dua kali lipat dalam waktu 3 tahun 1998 2001,
pada dasarnya tumbuh sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan
pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998. Sehingga orang bebas mendirikan koperasi
pada basis pengembangan dan pada saat ini sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi.
Kesulitannya pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar
pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada
pengembangan aliansi bisnis maupun pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertical
maupun horizontal. Oleh karena itu jenjang pengorganisasian yang lebih tinggi harus mendorong
kembalinya pola spesialisasi koperasi. Di dunia masih tetap mendasarkan tiga varian jenis koperasi
yaitu konsumen, produsen dan kredit serta akhir-akhir ini berkembang jasa lainnya.
Struktur organisasi koperasi Indonesia mirip organisasi pemerintah/lembaga kemasyarakatan
yang terstruktur dari primer sampai tingkat nasional. Hal ini telah menunjukkan kurang efektif nya
peran organisasi sekunder dalam membantu koperasi primer. Tidak jarang menjadi instrumen
eksploitasi sumberdaya dari daerah pengumpulan. Fenomena ini dimasa datang harus diubah karena
adanya perubahan orientasi bisnis yang berkembang dengan globalisasi. Untuk mengubah arah ini
hanya mampu dilakukan bila penataan mulai diletakkan pada daerah otonom.
b. Potret Koperasi di Indonesia
Corak koperasi Indonesia adalah koperasi dengan skala sangat kecil. Satu catatan yang perlu
di ingat reformasi yang ditandai dengan pencabutan Inpres 4/1984 tentang KUD telah melahirkan
gairah masyarakat untuk mengorganisasi kegiatan ekonomi yang melalui koperasi.
Secara historis pengembangan koperasi di Indonesia yang telah digerakan melalui dukungan
kuat program pemerintah yang telah dijalankan dalam waktu lama, dan tidak mudah ke luar dari
kungkungan pengalaman tersebut. Jika semula ketergantungan terhadap captive market program
menjadi sumber pertumbuhan, maka pergeseran ke arah peran swasta menjadi tantangan baru bagi
lahirnya pesaing-pesaing usaha terutama KUD. Meskipun KUD harus berjuang untuk menyesuaikan
dengan perubahan yang terjadi, namun sumbangan terbesar KUD adalah keberhasilan peningkatan
produksi pertanian terutama pangan (Anne Both, 1990), disamping sumbangan dalam melahirkan
kader wirausaha karena telah menikmati latihan dengan mengurus dan mengelola KUD (Revolusi
penggilingan kecil dan wirausahawan pribumi di desa).
Jika melihat posisi koperasi pada hari ini sebenarnya masih cukup besar harapan kita kepada
koperasi. Memasuki tahun 2000 posisi koperasi Indonesia pada dasarnya justru didominasi oleh
koperasi kredit yang menguasai antara 55-60 persen dari keseluruhan aset koperasi. Sementara itu
dilihat dari populasi koperasi yang terkait dengan program pemerintah hanya sekitar 25% dari

populasi koperasi atau sekitar 35% dari populasi koperasi aktif. Pada akhir-akhir ini posisi koperasi
dalam pasar perkreditan mikro menempati tempat kedua setelah BRI-unit desa sebesar 46% dari
KSP/USP dengan pangsa sekitar 31%. Dengan demikian walaupun program pemerintah cukup gencar
dan menimbulkan distorsi pada pertumbuhan kemandirian koperasi, tetapi hanya menyentuh sebagian
dari populasi koperasi yang ada. Sehingga pada dasarnya masih besar elemen untuk tumbuhnya
kemandirian koperasi.
Mengenai jumlah koperasi yang meningkat dua kali lipat dalam waktu 3 tahun 1998 2001,
pada dasarnya tumbuh sebagai tanggapan terhadap dibukanya secara luas pendirian koperasi dengan
pencabutan Inpres 4/1984 dan lahirnya Inpres 18/1998. Sehingga orang bebas mendirikan koperasi
pada basis pengembangan dan pada saat ini sudah lebih dari 35 basis pengorganisasian koperasi.
Kesulitannya pengorganisasian koperasi tidak lagi taat pada penjenisan koperasi sesuai prinsip dasar
pendirian koperasi atau insentif terhadap koperasi. Keadaan ini menimbulkan kesulitan pada
pengembangan aliansi bisnis maupun pengembangan usaha koperasi kearah penyatuan vertical
maupun horizontal. Oleh karena itu jenjang pengorganisasian yang lebih tinggi harus mendorong
kembalinya pola spesialisasi koperasi. Di dunia masih tetap mendasarkan tiga varian jenis koperasi
yaitu konsumen, produsen dan kredit serta akhir-akhir ini berkembang jasa lainnya.
Struktur organisasi koperasi Indonesia mirip organisasi pemerintah/lembaga kemasyarakatan yang
terstruktur dari primer sampai tingkat nasional. Hal ini telah menunjukkan kurang efektif nya peran
organisasi sekunder dalam membantu koperasi primer. Tidak jarang menjadi instrumen eksploitasi
sumberdaya dari daerah pengumpulan. Fenomena ini dimasa datang harus diubah karena adanya
perubahan orientasi bisnis yang berkembang dengan globalisasi. Untuk mengubah arah ini hanya
mampu dilakukan bila penataan mulai diletakkan pada daerah otonom
2

Perkembangan Koperasi di Indonesia


Di Indonesia sendiri telah dibuat UU no. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian. Prinsip

koperasi menurut UU no. 25 tahun 1992 adalah :

Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka


Pengelolaan dilakukan secara demokrasi
Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan jasa usaha masing-masing anggota
Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
Kemandirian
Pendidikan perkoperasian
Kerjasa.ma antar koperasi

Kebijakan Untuk Perkoperasian Indonesia


Pemerintah di negara-negara sedang berkembang pada umumnya turut secara aktif dalam upaya

membangun koperasi. Keikutsertaan Pemerintah negara-negara sedang berkembang ini, selain


didorong oleh adanya kesadaran untuk turut serta dalam membangun koperasi, juga merupakan hal
yang sangat diharapkan oleh gerakan koperasi.

Pemerintah diharapkan dapat melakukan pembinaan secara langsung terhadap kondisi internal
koperasi. Sebagaimana terjadi di Indonesia, Departemen Koperasi dan PPK misalnya, dapat
melakukan pembinaan dalam bidang organisasi, manajemen, dan usaha koperasi. Sedangkan
departemen-departemen teknis yang lain dapat melakukan pembinaan sesuai dengan bidang teknis
yang menjadi kompentensinya masing-masing.Agar keikutsertaan pemerintah dalam pembinaan
koperasi itu dapat berlangsung secara efektif, tentu perlu dilakukan koordinasi antara satu bidang
dengan bidang lainnya. Tujuannnya adalah terdapat keselarasan dalam menentukan pola pembinaan
koperasi secara nasional. Dengan terbangunnya keselarasan dalam pola pembinaan

Kebijakan Pebangunan Koperasi


Selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama, pembangunan kopersi di Indonesia

telah menunjukkan hasil-hasil yang cukup memuaskan. Selain mengalami pertumbuhan secara
kuantitatif, secara kualitatif juga berhasil mendirikan pilar-pilar utama untuk menopang
perkembangan koperasi secara mandiri. Pilar-pilar itu meliputi antara lain: Bank Bukopin, Koperasi
Asuransi Indonesia, Kopersi Jasa Audit, dan Institut Koperasi Indonesia.
Walaupun demikian, pembangunan koperasi selama PJP I masih jauh dari sempurna. Berbagai
kelemahan mendasar masih tetap mewarnai wajah koperasi. Kelemahan-kelemahan mendasar itu
misalnya adalah: kelemahan manajerial, kelemahan sumber daya manusia, kelemahan modal, dan
kelemahan pemasaran. Selain itu, iklim usaha yang ada juga terasa masih kurang kondusif bagi
perkembangan koperasi. Akibatnya, walaupun secara kuantitatif an kualitatif koperasi telah
mengalami perkembangan, namun perkembangannya tergolong masih sangat lambat.
Bertolak dari pengalaman pembagunan koperasi dalam era PJP I itu, maka pelaksanaan
pembangunan koperasi dalam era PJP II diharapkan lebih ditingkatkan, sehingga selain koperasi
tumbuh menjadi bangun perusahaan yabg sehat dan kuat, peranannya dalam berbaai aspek kehidupan
bangsa dapat lebih ditingkatkan pula. Hal itu sejalan dengan salah satu sasaran pembangunan
ekonomi era PJP II, yaitu pertumbuhan koperasi yang sehat dan kuat.
Untuk mencapai sasaran itu, maka sebagaimana dikemukakan dalam GBHN, kebijakan
umum pembangunan koperasi yang dijalankan oleh pemerintah dalam Pelita VI ini diarahkan untuk
mengembangkan koperasi menjadi makin maju, makin mandiri, dan makin berakar dalam masyarakat,
serta menjadi badan usaha yang sehat dan mampu berperan di semua bidang usaha, terutama dalam
kehidupan ekonomi rakyat, dalam upaya mewujudkan demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945. Untuk itu, maka pembangunan koperasi diselenggarakan melalui peningkatan
kemampuan organisasi, manajemen, kewiraswastaan, dan permodalan dengan di dukung oleh

peningkatan jiwa dan semangat berkoperasi menuju pemantapan perannya sebagai sokoguru
perekonomian nasional.
Maka pada PJP II salah satu sasarannya adalah pertumbuhan koperasi yang sehat dan kuat.
Dimana terimplementasikan melalui kebijakan pemerintah dalam pembangunan dalam pembangunan
koperasi di Pelita VI, sebagai berikut :
1

Pembangunan koperaasi sebagai wadah kegiatan ekonomi rakyat diarahkan agar semakin
meiliki kemampuan menjadi badan usaha yang efisien dan menjadi gerakan ekonomi rakyat
yang tangguh dan berakar dalam masyarakat.

Pelaksanaan fungsi dan peranan koperasi ditingkatkan melalui upaya penngkatan semangat
kebersamaan dan manajemen yang lebih professional.

Peningkatan koperasi didukung melalui pemberian kesempatan berusaha yang seluas


luasnya disegala sector kegiatan ekonomi, baik didalam negeri maupun diluar negeri, dan
pencipyaan iklim usaha yang mendukung dengan kemudahan memperoleh permodalan.

Kerjasama antar koperasi dan antara koperasi dengan badan usaha negara dan badan usaha
swasta sebagai mitra usaha dikembangkan secara lebih nyata untuk mewujudkan kehidupan
prekonomian berdasarkan demokrasi ekonomi yang dijiwai semangat dan asas kekeluargaan,
kebersamaan, kemitraan usaha, dan kesetiakawanan serta saling mendukung dan saling
menguntungkan.
Beberapa sasaran utama pengembangan koperasi yang hendak ditempuh pemerintah dalam

era PJP II ini adalah sebagai berikut :

Pengembangan Usaha

Pengembangan Sumber Daya Usaha

Peran Pemerintah

Kerja sama Internasional

Kebijakan Pemerintah Terhadap Koperasi


Kebijakan pemerintah adalah tindakan-tindakan yang dilakukan Pemerintah dibidang ke

koperasian baik yang berupa rintangan terhadap pertumbuhan gerakan koperasi maupun yang

bersifat membantu memajukan gerakan koperasi. Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah


umumnya dapat dikelompokkan ke dalam dua besar yaitu :
a

Kebijakan yang merintangi (termasuk di dalamnya Antagonism dan yang menunjukkan sikap
acuk tak acuh (Indefference). Sebagai contoh di Jerman pada waktu Bismark berkuasa
melarang diadakannya Koperasi tahun 1859 dimana tokoh koperasi kredit Schultze Delitch
yang duduk dalam parlemen dikerja selama hidupnya karena dianggap membayakan. Di
Norwegia gerakan koperasi dihalang-halangi pada awal pertumbuhannya, tokohnya Marcus
Thrane pelopor gerakan koperasi dan penggerak serikat buruh di pandang berbahaya bagi

yang berkuasa.
Kebijakan yang membantu (termasuk pula Over Sympaty atau Well Balance).
Tiap-tiap negara mempunyai campur tangan dalam kehidupan koperasi, walaupun

intensitasnya berbeda. Mengenai seberapa campur tangan pemerintah dapat kita lihat contoh
berikut, yakni: Di negara-negara dimana perekonomian diatur oleh pemerintah, tugas memberi
dorongan dengan pengawasan dijalankan terutama melalui perencanaan nasional, dimana tiap
koperasi mengambil bagian tertentu dan pengawasan dijalankan secara sentral oleh suatu badan
dimana duduk wakil-wakil dari Pusat Koperasi disamping petugas-petugas resmi. Di negaranegara yang sedang berkembang peranan dipegang pemerintah lebih aktif. Karena cita-cita
koperasi dalam bentuknya yang modern adalah asing bagi masyarakat dan pertumbuhan yang
spontan tidak terlalu bisa diharapkan sehingga perlu diaktifkan.
Selain bersifat politis maka bantuan bisa berupa:
1

Financial (keuangan): subsidi, kredit, jaminan khususnya menyangkut pengembalian, dan

permodalan.
Bantuan lain dapat berupa keringanan pajak, kontrak dan lain-lain fasilitas, dan bantuan dalam
bentuk tanah atau bangunan untuk meringankan beban perkumpulan koperasi yang modalnya

tidak memadai.
Sikap dan Kebijakan Pemerintah Indonesia terhadap Koperasi
Sikap Pemerintah dalam pola kebijaksaan pemerintah Indonesia, dibagi dalam dua bagian

besar yaitu :
a. Sebelum adanya peraturan koperasi di Indonesia
b. Setelah adanya peraturan-peraturan koperasi yang terddiri dari :
a

Sebelum ada peraturan koperasi:


1895 : R. Aria Wiriaatmadja mendirikan semacam koperasi Simpan Pinjam yang
diperuntukkan bagi priyayi
1898 : Idea ini dikembangkan oleh de Volff J.V. Westerode dengan menambah petani sebagai
anggota koperasi
1908 : dengan tumbuhnya gerakan kebangsaan , maka dikembangkan type Rochdale.
1912 : Serikat Dagang Islam mulai mengembangkan Koperasi Simpan Pinjam type Schultze.

Setelah ada peraturan koperasi

Masa sebelum kemerdekaan


1915 : Diterbitkan Peraturan Raja No.413/1915 yang isinya menetapkan Badan Usaha yang
menamakan diri Koperasi harus memenuhi syarat tertentu :
- Akte dalam bahasa Belanda
- Membayar materai F 50,- Banyak Koperasi berguguran sebab tidak mampu memenuhi
persyaratan tsb.\
1927 : dikeluarkan Peraturan Perkoperasian No. 91 tahun 1927yang isinya mengatur
pertumbuhan Koperasi dan hanya berlaku bagi Bumi Putera.
1933 : dikeluarkan Peraturan perkoperasian No. 108 tahun 1933 yang isinya tidak jauh
berbeda dengan Peraturan perkoperasian No. 91 tahun 1927. Bedanya kalau Peraturan
Perkoperasian No.91 tahun 1927 mereka harus taat pada hukum adat, maka Peraruran
Perkoperasian No. 108 tahun 1933 mereka harus tunduk pada hukum barat.
1942 : zaman penjajahan Jepang, yang berlaku adalah peraturan- peraturan darurat Perang dan
Koperasi merupakan alat saja dari Pemerintah
1965 : pada tahun ini dikeluarkan Undang-undang No.14 tahun 1965 tentang Perkoperasian
dan Undang-undang ini hanya berlaku 2 tahun karena tahun 1967 dicabut.
1967 : pada tahun ini diundangkan Undang-undang Pokok Perkoperasian No. 12 tahun 1967.
1992 : pada tahun ini diundangkan Undang-undang Perkopersian No. 25 tahun 1992

menggantikan undang-undang Perkoperasian No. 12 tahun 1967.


ORDE BARU : kebijaksanaan dasar pengembangan Koperasi dinamakan kebijaksanaan tiap

tahap.
Koperasi Dalam Era Otonomi Daerah
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagai salah satu

perwujudan reformasi pemerintahan telah melahirkan paradigma baru dalam penyelenggaraan


pemerintahan daerah. Selama ini penyelenggaraan pemerintahan di daerah sebagaimana diatur UU
Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah mengandung azas dekonsentrasi,
desentralisasi dan pembantuan. Pada masa itu penyelenggaraan Otonomi Daerah menganut prinsip
Otonomi Daerah yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih
merupakan kewajiban dari pada hak.Hal ini mengakibatkan dominasi pusat terhadap daerah sangat
besar, sedangkan daerah dengan segala ketidakberdayaannya harus tunduk dengan keinginan pusat
tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat daerah.
Dengan UU 22/1999 pemberian otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota
didasarkan kepada azas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung
jawab.Daerah memiliki kewenangan yang mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan,
moneter dan fiskal, dan agama.Dengan demikian daerah mempunyai kewenangan untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakatnya menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Jadi UU Nomor 22 Tahun 1999 memberikan hak kepada daerah berupa kewenangan untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.Pengaturan dan pengurusan kepentingan

masyarakat tersebut merupakan prakarsa daerah sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dan bukan
lagi merupakaninstruksi dari pusat.Sehingga daerah dituntut untuk responsif dan akomodatif terhadap
tuntutan dan aspirasi masyarakatnya.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 ditetapkan kewenangan Pemerintah
(Pusat) di bidang perkoperasian yang meliputi :
1
2
3
4

Penetapan pedoman akuntansi koperasi dan pengusaha kecil menengah.


Penetapan pedoman tatacara penyertaan modal pada koperasi.
Fasilitasi pengembangan sistem distribusi bagi koperasi dan pengusaha kecil dan menengah.
Fasilitasi kerjasama antar koperasi dan pengusaha kecil menengah serta kerjasama dengan
badan usaha lain.
Sedangkan selain kewenangan tersebut di atas menjadi kewenangan Daerah, termasuk di

dalamnya untuk pembinaan terhadap pengusaha kecil, menengah dan koperasi.Sesuai dengan
kewenangan Daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat termasuk di dalamnya
kepentingan dari pengusaha kecil, menengah dan koperasi.
Implementasi undang-undang otonomi daerah, akan memberikan dampak positif bagi
koperasi dalam hal alokasi sumber daya alam dan pelayanan pembinaan lainnya. Namun koperasi
akan semakin menghadapi masalah yang lebih intensif dengan pemerintah daerah dalam bentuk
penempatan lokasi investasi dan skala kegiatan koperasi . Karena azas efisiensi akan mendesak
koperasi untuk membangun jaringan yang luas dan mungkin melampaui batas daerah otonom.
Peranan advokasi oleh gerakan koperasi untuk memberikan orientasi kepada Pemerintah didaerah
semakin penting. Dengan demikian peranan pemerintah di tingkat Propinsi yang diserahi tugas untuk
pengembangan koperasi harus mampu menjalankan fungsi intermediasi semacam ini. Mungkin juga
dalam hal lain yang berkaitan dengan pemanfaatan infrastruktur daerah yang semula menjadi
kewenangan pusat.
Peranan pengembangan sistem lembaga keuangan koperasi di tingkat Kabupaten/Kota sebagai
Daerah Otonomi menjadi sangat penting. Lembaga keuangan Koperasi yang kokoh di Daerah Otonom
akan dapat menjangkau lapisan bawah dari Ekonomi Rakyat. Disamping itu juga akan mampu
berperan menahan arus keluar Sumber Keuangan Daerah. Berbagai studi menunjukan bahwa lembaga
keuangan yang berbasis daerah akan lebih mampu menahan arus kapital keluar.
Dukungan yang diperlukan bagi koperasi untuk menghadapi berbagai rasionalisasi adalah
keberadaan lembaga jaminan kredit bagi koperasi dan usaha kecil di daerah. Dengan demikian
kehadiran lembaga jaminan akan menjadi elemen terpenting untuk percepatan perkembangan
koperasi di daerah. Lembaga jaminan kredit yang dapat dikembangkan Pemerintah Daerah akan
dapat mendesentralisasi pengembangan ekonomi rakyat dan dalam jangka panjang akan menumbuhkan kemandirian daerah untuk mengarahkan aliran uang di masing-masing daerah. Dalam jangka
menengah koperasi juga perlu memikirkan asuransi bagi para penabung.
Potensi koperasi pada saat ini sudah mampu untuk memulai gerakan koperasi yang otonom,
namun fokus bisnis koperasi harus diarahkan pada ciri universalitas kebutuhan yang tinggi seperti

jasa keuangan, pelayanan infrastruktur serta pembelian bersama. Dengan otonomi selain peluang
untuk memanfaatkan potensi setempat juga terdapat potensi benturan yang harus diselesaikan di
tingkat daerah. Dalam hal ini konsolidasi potensi keuangan, pengembangan jaringan informasi
serta pengembangan pusat inovasi dan teknologi merupakan kebutuhan pendukung untuk kuatnya
kehadiran koperasi. Pemerintah di daerah dapat mendorong pengem-bangan lembaga penjamin
kredit di daerah.
UU No. 22 thn 1999 tentang otonomi daerah akan memberikan dampak positif bagi koperasi
dalam hal alokasi sumber daya alam dan pelayanan pembiayaan lainnya. Peranan Dinas koperasi
tingkat provinsi dan kabupaten / kota yang secara fungsional dan diserahi untuk pengembangan
koperasi harus mampu menjalankan fungsi intermediasi semacam ini. Mungkin juga dalam hal lain
yang berkaitan dengan pemanfaatan infrastruktur daerah yang semula menjadi kewenangan instansi
pusat.
Koperasi-koperasi sekunder di tingkat provinsi atau kabupaten/kota harus menjadi barisan
terdepan untuk merintis pembelian bersama,terutama untuk produk-produk yang diimpor atau dibeli
dari pabrik-pabrik dan perusahaan besar.
Potensi koperasi pada saat ini sudah mampu untuk memulai gerakan koperasi secara otonom,
namun fokus bisnis koperasi harus diarahkan pada ciri universalitas kenutuhan yang tinggi seperti jasa
keuangan, pelayanan infrastruktur serta pembelian bersama.Dengan otonomi selain peluang untuk
memanfaatkan potensi setempat juga terdapat potensi terjadinya benturan yang harus diselesaikan di
tingkat daerah.
e

Kebijakan Pembinaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


Sejak lama Pemerintah sudah melakukan pembinaan terhadap koperasi dan usaha kecil

menengah.Pembinaan terhadap kelompok usaha ini semenjak kemerdekaan telah mengalami beberapa
perubahan.Dahulu pembinaan terhadap koperasi dipisahkan dengan pembinaan terhadap usaha kecil
dan menengah. Yang satu dibina oleh Departemen Koperasi sedangkan yang lain dibina oleh
Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan. Setelah melalui perubahan beberapa kali
maka semenjak beberapa tahun terakhir pembinaan terhadap koperasi dan usaha kecil menengah
dilakukan satu atap di bawah Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Berdasarkan kepada PROPENAS (Program Pembangunan Nasional) 2000-2004 ditetapkan
program pokok pembinaan usaha kecil menengah dan koperasi sebagai berikut:
Program penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif.
Program ini bertujuan untuk membukan kesempatan berusaha seluas-luasnya, serta
menjamin kepastian usahan dengan memperhatikan kaidah efisiensi ekonomi sebagai prasyarat
untuk berkembangnya PKMK. Sedangkan sasaran yang akan dicapai adalah menurunnya biaya
transaksi dan meningkatnya skala usaha PKMK dalam kegiatan ekonomi.
Program Peningkatan Akses kepada Sumber Daya Produktif.

Tujuan program ini adalah meningkatkan kemampuan PKMK dalam memanfaatkan


kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya, terutama sumber daya lokal yang tersedia.
Sedangkan sasarannya adalah tersedianya lembaga pendukung untuk meningkatkan akses
PKMK terhadap sumber daya produktif, seperti SDM, modal, pasar, teknologi dan informasi.
Program Pengembangan Kewirausahaan dan PKMK Berkeunggulan Kompetitif.
Tujuannya untuk mengembangkan perilaku kewira-usahaan serta meningkatkan daya
saing UKMK. Sedangkan sasaran adalah meningkatnya pengetahuan serta sikap wirausaha
dan meningkatnya produktivitas PKMK.
Sebelum dilaksanakannya kebijakan Otonomi Daerah pembinaan terhadap usaha kecil
menengah dan koperasi ditangani langsung oleh jajaran Departemen Koperasi dan UKM yang berada
di daerah.Sedangkan Pemerintah Daerah hanya sekedar memfasilitasi, kalau tidak boleh dikatakan
hanya sebagai penonton.Semua kebijakan dan pedoman pelaksanaannya merupakan kebijakan yang
telah ditetapkan dari Pusat, sementara aparat di lapangan hanya sebagai pelaksana.Pembinaan yang
diberikan tersebut cenderung dilakukan secara seragam terhadap seluruh Daerah dan lebih bersifat
mobilisasi dibandingkan pemberdayaan terhadap Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
f

Pola Pembinaan UKMK dalam Rangka Otonomi Daerah


Sejalan dengan kebijakan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan kepada Daerah

untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya maka pembinaan Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah harus melibatkan seluruh komponen di Daerah. Peran Pemerintah Daerah sebagai
pelaksana kewenangan penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom akan sangat menentukan bagi
pembinaan UKMK.
Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah maka pembinaan terhadap Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah perlu dirumuskan dalam suatu pola pembinaan yang dapat memberdayakan dan
mendorong peningkatan kapasitas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tersebut.Pola pembinaan
tersebut harus memperhatikan kondisi perkembangan lingkungan strategis yang meliputi
perkembangan global, regional dan nasional.Disamping itu juga pola pembinaan tersebut hendaknya
belajar kepada pengalaman pembinaan terhadap usaha kecil, menengah dan koperasi yang telah
dilaksanakan selama ini.
Pola pembinaan terhadap koperasi dan usaha kecil menengah yang ditawarkan untuk
meningkatkan kapasitas dan daya saingnya dalam rangka Otonomi Daerah antara lain adalah:
1. Pelaksana program-program pokok pengembangan UKMK yang telah diatur di dalam
Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) 2000-2004 yang meliputi; Program
Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif, Program Peningkatan Akses kepada Sumber Daya
Produktif, dan Program Pengembangan Kewirausahaan dan PKMK Berkeunggulan
Kompetitif secara terpadu dan berkelanjutan.

2. Pelaksanaan program-program pengembangan UKMK yang disusun dengan memperhatikan


dan disesuaikan kondisi masing-masing Daerah, tuntutan, aspirasi dan kepentingan
masyarakat, serta kemampuan Daerah.
3. Keterpaduan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, masyarakat, lembaga keuangan, lembaga
akademik dan sebagainya dalam melakukan pembinaan dan pengembangan koperasi dan
usaha kecil menengah.
4. Pemberdayaan SDM aparatur Pemerintah Daerah agar mampu melaksanakan proses
pembinaan dan pengembangan terhadap koperasi dan usaha kecil menengah.
5. Pengembangan pewilayahan produk unggulan sesuai potensi dan kemampuan yang dimiliki
dalam suatu wilayah bagi usaha kecil, menengah dan koperasi dalama rangka meningkatkan
daya saing.
6. Mensinergikan semua potensi yang ada di Daerah untuk meningkatkan pengembangan usaha
kecil, menengah dan koperasi sehingga mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan
implentasi kebijakan Otonomi Daerah.
7. Sosialisasi tentang kebijakan perekonomian nasional dalam rangka memasuki era pasar bebas
AFTA (ASEAN Free Trae Area), APEC ( Asia Pacific Cooperation) dan WTO (World Trade
Organization) kepada seluruh kelompok usaha kecil, menengah dan koperasi.
Berharap melalui pola pembinaan yang dikembangkan tersebut didapat outcomes yang
bersinergi antara kebijakan pembinaan usaha kecil, menengah dan koperasi dengan kebijakan
Otonomi Daerah.Sehingga antara kebijakan Otonomi Daerah dengan pembinaan usaha kecil,
menengah dan koperasi terdapat simbiosis mutualisme. Implementasi kebijakan Otonomi Daerah akan
menentukan bagi keberhasilan pembinaan usaha kecil, menengah dan koperasi serta sebaliknya
pelaksanaan pembinaan UKMK akan mendorong keberhasilan pelaksanaan Otonomi Daerah, dalam
rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Perbedaan Koperasi di Indonesia dan Eropa

Perbedaan Koperasi di Asia dan Eropa


Di Asia (Indonesia)
Di Asia koperasi sudah di kenal sejak lama,di Indonesia sendiri koperasi telah dikenal pada
saat jaman penjajahan pemerintahan Belanda,gerakan koperasi itu sendiri dimulai pada tanggal12 Juli
1947. Baru kemudian setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, dengan tegas
perkoperasian ditulis di dalam UUD 1945. DR. H. Moh Hatta sebagai salah seorang Founding
Father Republik Indonesia, berusaha memasukkan rumusan perkoperasian di dalam konstitusi.
Sejak kemerdekaan itu pula koperasi di Indonesia mengalami suatu perkembangan yang lebih
baikHanya saja perkembangan koperasi di Indonesia walaupun terbilang lumayan pesat tetapi
pekembanganya tidak sepesat di negara negara maju.Di Indonesia koperasi juga di atur dalam
undang-undang nomor 25 tahun 1992 tentang koperasi bahwa koperasi adalah badan usaha yang
beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas
kekeluargaan.Di negara berkembang, termasuk Indonesia, transparansi struktural tidak berjalan
seperti yang dialami oleh negara industri di Barat, upah buruh di pedesaan secara nyata telah naik

ketika pengangguran meluas sehingga terjadi lompatan ke sektor jasa terutama sektor usaha mikro dan
informal.
Di Eropa (Inggris)
Di Eropa koperasi telah muncul pada awal abad ke-16.Alasan yang mempengaruhi sosialisme
yaitu :pertama, adanya kesamaan motif antara gerakan koperasi dengan gerakan sosialis dan suatu
bentuk organisasi ekonomi yang berbeda dengan organisasi ekonomi kapitalis. Penderitaan yang
dialami oleh kaum buruh di berbagai Negara di Eropa pada awal abad ke-19 dialami pula oleh para
pendiri Koperasi konsumsi di Rochdale, Inggris, pada tahun 1844.Pada mulanya Koperasi Rochdale
memang hanya bergerak dalam usaha kebutuhan konsumsi. Tapi kemudian mereka mulai
mengembangkan sayapnya dengan melakukan usaha-usaha produktif. Dengan berpegang pada asasasas Rochdale, para pelopor Koperasi Rochdale mengembangkan toko kecil mereka itu menjadi usaha
yang mampu mendirikan pabrik, menyediakan perumahan bagi para anggotanya, serta
menyelenggarakan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan anggota dan pengururs Koperasi.
Dalam rangka lebih memperkuat gerakan Koperasi, pada tahun 1862, Koperasi-koperasi konsumsmi
di Inggris menyatukan diri menjadi pusat Koperasi Pembelian dengan nama The Cooperative Wholesale Society, disingkat C. W. S. Pada tahun 1945, C. W. S. telah memiliki sekkitar 200 buah pabrik
dan tempat usaha dengan 9.000 pekerja, yang perputaran modalnya mencapai 55.000.000
poundsterling. Sedangkan pada tahun 1950, jumlah anggota Koperasi di seluruh wilayah Inggris telah
berjumlah lebih dari 11.000.000 orang dari sekitar 50.000.000 orang penduduk Inggris.
Perbedaannya:
Koperasi di Indonesia yang dimulai dari atas (bottom up )tetapi dari atas (top down),artinya koperasi
berkembang di indonesia bukan dari kesadaran masyarakat, tetapi muncul dari dukungan pemerintah
yang disosialisasikan ke bawah. Berbeda dengan yang di luar negeri, koperasi terbentuk karena
adanya kesadaran masyarakat untuk saling membantu memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan
yang merupakan tujuan koperasi itu sendiri, sehingga pemerintah tinggal menjadi pendukung dan
pelindung saja. Di Indonesia, pemerintah bekerja double selain mendukung juga harus
mensosialisasikanya dulu ke bawah sehingga rakyat menjadi mengerti akan manfaat dan tujuan dari
koperasi.
Sementara itu, di inggris diperkirakan sekitar 9,8 juta orang adalah anggota koperasi, dan pertanian
merupakan sektor di mana peran koperasi sangat besar. Sektor lainnya adalah pariwisata. Di Perancis
jumlah koperasi tercatat sebanyak 21 ribu unit yang memberi pekerjaan kepada 700 ribu orang,
sedangkan di Italia terdapat 70400 koperasi yang mengerjakan hampir 1 juta orang pada tahun 2005.
Koperasi kredit atau Credit Union atau biasa disingkat CU adalah sebuah lembaga keuangan yang
bergerak di bidang simpan pinjam yang dimiliki dan dikelola oleh anggotanya, dan yang bertujuan
untuk

mensejahterakan

Koperasi
1)
2)

azas
azas

kredit

memiliki

swadaya
setia

(tabungan

kawan

(pinjaman

anggotanya
tiga

prinsip

hanya

diperoleh

hanya

diberikan

sendiri.
utama
dari
kepada

yaitu:
anggotanya)
anggota)

3) azas pendidikan dan penyadaran (membangun watak adalah yang utama hanya yang berwatak baik
yang

dapat

diberi

pinjaman).

Sejarah koperasi kredit dimulai pada abad ke-19. Ketika Jerman dilanda krisis ekonomi karena badai
salju yang melanda seluruh negeri. Para petani tak dapat bekerja karena banyak tanaman tak
menghasilkan. Penduduk pun kelaparan. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka
memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga yang sangat tinggi. Sehingga banyak orang

terjerat hutang. Oleh karena tidak mampu membayar hutang, maka sisa harta benda mereka pun disita
oleh lintah darat. Kemudian tidak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang
sebelumnya dilakukan manusia diambil alih oleh mesin-mesin. Banyak pekerja terkena PHK. Jerman
dilanda masalah pengangguran secara besar-besaran. Melihat kondisi ini wali kota Flammersfield,
Friedrich Wilhelm Raiffeisen merasa prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia mengundang
orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan uang dan roti, kemudian
dibagikan kepada kaum miskin. Ternyata derma tak memecahkan masalah kemiskinan. Sebab
kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tak terkontrol dan tak
sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya, para
dermawan tak lagi berminat membantu kaum miskin. Raiffeisen tak putus asa. Ia mengambil cara lain
untuk menjawab soal kemiskinan ini. Ia mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman untuk
dibagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini pun tak menyelesaikan
masalah. Hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu seterusnya. Berdasar pengalaman itu,
Raiffeisen berkesimpulan: kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri. Si
miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama
mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan yang produktif yang memberikan penghasilan.
Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam. Untuk mewujudkan impian tersebutlah Raiffeisen
bersama kaum buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi bernama Credit Union (CU)
artinya, kumpulan orang-orang yang saling percaya. Credit Union yang dibangun oleh Raiffeisen,
petani miskin dan kaum buruh berkembang pesat di Jerman, bahkan kini telah menyebar ke seluruh
dunia.
DZ

Bank

Sebuah akronim untuk Deustche Zentralgenossenschaftbank atau Bank Koperasi Sentral Jerman,
DZ Bank AG merupakan sebuah bank komersial dan, bersama dengan WGZ-Bank, administrasi
pusat untuk sekitar 1,400 bank koperasi mencakup lebih dari tiga perempat semua Volksbank dan
Raiffeisenbank (bank koperasi) di Jerman dan Austria, yang juga menggunakan nama AG. Bank
koperasi di Jerman diwakili oleh Bundesverband der Deutschen Volksbanken und Raiffeisenbanken
(BVR).
DZ Bank berbasis di distrik finansial Frankfurt dan merupakan salah satu bank terbesar di Jerman
dengan operasi domestik dan global. Bak ini memiliki cabang, subsidiari dan kantor perwakilan di
pusat-pusat
Koperasi

finansial

dan
Coop

daerah-daerah
DZ

ekonomi
Bank

di

seluruh

dunia.

Jerman

Sebagai tanah tempat lahirnya koperasi kredit, Jerman memiliki beberapa bank koperasi yang
kinerjanya menjulang tinggi. Salah satunya DZ Bank, yang bercokol dalam daftar lima besar bank di

Jerman.
Sejarah panjang koperasi kredit di Jerman, tidak berhenti sebatas nostalgia yang hanya indah
dikenang. Tapi, benar-benar telah menjadi akar kokoh, yang sanggup menopang perkembangan
koperasi di sektor perbankan, hingga menumbuhkan bank koperasi yang bisa melayani rakyat. Di
level

nasional,

bank

Zentralgenossenschaftbank

koperasi
(DZ

tersebut
Bank)

memiliki
atau

pusat

Bank

yang

bernama

Deustche

Koperasi

Sentral

Jerman.

Dengan kinerjanya yang menjulang, DZ Bank masuk dalam daftar lima besar bank di Jerman. Jika
digabung dengan jaringannya yang terdiri dari 1.250 ribu bank lokal, sekitar 60 persen pangsa pasar
kredit di negara berpenduduk 82,5 juta jiwa ini, dikuasai oleh koperasi. Jadi lebih besar dari bank
swasta terkenal seperti Deutsche Bank atau Dresdner Bank. DZ Bank sendiri memiliki cabang 14 ribu
unit, yang tersebar di seantero Jerman. DZ Bank telah menjelma sebagai grup bisnis keuangan
raksasa, memayungi sejumlah lembaga keuangan lain, termasuk perusahaan investasi. Lingkup bisnis
yang berkantor pusat di distrik finansial Frankfurt ini, sesungguhnya sudah jauh menjangkau skala
global, antara lain dengan membuka cabang di sejumlah kota penting dunia, seperti New York,
London, Moskow, Milan, Istambul, Luxemburg, Budapest, Dublin, Madrid, Warsawa, Zurich, bahkan
di Hongkong dan Singapura. Pada 2007, bank koperasi ini mampu mencetak keuntungan sebesar 1
miliar

euro.

Namun, yang lebih penting dari pencapaian kinerja ekonomi, bank koperasi di Jerman sesungguhnya
telah memainkan peran sangat vital dalam kebangkitan ekonomi negeri ini, yang nyaris hancur lebur
setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II dan perang saudara. Ketika itu, aroma kemiskinan
menyengat di mana-mana. Proses recovery ekonomi memang dilakukan dengan gencar. Namun,
faktor penting yang memungkinkan proses tersebut berjalan mulus dengan hasil yang
mencengangkan, adalah kiprah bank koperasi, yaitu Volksbank dan Raiffeisenbank, yang memang
sudah mengakar kuat di masyarakat. Merekalah yang setia memenuhi kebutuhan rakyat, sehingga
keadaan ekonominya bisa kembali pulih secara mandiri, sesuai dengan misi yang diusung: Bringing
people or companies together to achieve their goals. Jadi, pemerintah tidak terlalu repot lagi, karena
bisa memfokuskan program recovery-nya di tingkat makro saja. Peranan bank koperasi di daerahdaerah pedesaan Jerman, tidak pernah tergantikan apalagi tergusur oleh bank swasta, meskipun
kemudian Jerman berkembang menjadi negara industri dengan basis liberalisme murni, layaknya
negara Eropa Barat. Kontribusinya dalam menciptakan negara kesejahteraan (welfare state) sangat
besar, terutama menyangkut peningkatan kesejahteraan ekonomi secara merata hingga ke pelosok
desa.
Sebagai bank sentral koperasi, DZ Bank memang bergerak layaknya bank swasta. Namun, dana dan
keuntungan yang berhasil dihimpunnya, sebagian disalurkan ke masyarakat pedesaan, melalui bank
koperasi yang menjadi anggotanya. Bank swasta di Jerman, bukannya tidak ada yang mau bermain di
tingkat pedesaan dan melayani nasabah kecil. Deutsche Bank, yang termasuk bank terbesar itu,

bahkan pernah mempunyai devisi khusus. Namun, bank swasta akhirnya tak berdaya ketika harus
bersaing

dengan

jaringan

bank

koperasi

yang

sangat

luas.

Di Jerman, bank koperasi memang sudah sangat dekat dengan masyarakat, lantaran memiliki akar
sejarah panjang, dengan rentang 125 tahun. Dalam kurun waktu selama itu, bank koperasi selalu
mendampingi rakyat Jerman, terutama dari kalangan menengah bawah, baik di masa krisis maupun
dalam masa peningkatan kemampuan ekonomi. Misi menghantarkan masyarakat atau perusahaan
dalam mencapai tujuannya, memang diwujudkan dalam program nyata, bukan sekadar bahasa iklan.
Di samping memiliki akar sejarah yang panjang, kemampuan bank koperasi di Jerman untuk bertahan
dan berkembang hingga saat ini, juga diakibatkan oleh kemampuannya melakukan adaptasi terhadap
perubahan yang terjadi, hingga tetap mampu menghadapi persaiangan yang dari masa ke masa kian
ketat. Namun, perubahan yang terjadi pada bank koperasi Jerman, tetap membentuk sebuah untaian
yang tidak terputus. DZ Bank sendiri baru terbentuk pada 2001, sebagai hasil merger antara dua bank
koperasi

besar,

yaitu

GZ

Bank

dan

DG

Bank.

Di Jerman, koperasi merupakan organisasi ekonomi paling besar, dengan jumlah anggota secara
keseluruhan sekitar 20 juta orang. Bank koperasi sendiri memiliki anggota sebanyak itu 16 juta orang,
dan mempekerjakan 190 ribu orang. Tidak semua bank koperasi berafiliasi pada DZ Bank. Bank
koperasi yang masuk dalam jaringan DZ Bank, sekitar tiga per empat dari jumlah keseluruhan.
Setelah sukses merambah sejumlah negara Eropa dan Amerika, sekarang ini DZ Bank siap
mengepakkan sayapnya di wilayah Asia. Ekonomi Asia sangat prospektif, karena sedang mengalami
pertumbuhan luar biasa, ujar Heinz Hilget, Deputy CEO DZ Bank. Ekspansi ke wilayah Asia,
didukung oleh pembentukan kantor cabang, yang sudah ada di sejumlah negara, yaitu Jepang,
Hongkong, India, China (Beijing dan Shanghai), dan Singapura. Khusus untuk langkah-langkah
ekspansi ke Asia ini, DZ Bank telah membentuk tim handal berkekuatan 25 orang, yang dipimpin
Mahmood

Jumabhoy,

dengan

basis

di

Singapura.

Boleh jadi, kelak, DZ Bank akan masuk ke Indonesia, seperti Rabbo Bank, bank koperasi dari
Belanda. Namun, ia tetap akan bergerak seperti perusahaan swasta biasa, seperti yang dilakukan di
berbagai negara lain di luar Jerman selama ini. Koperasi di Indonesia, pada awal kelahirannya,
memang berkiblat pada model koperasi Raiffeisen, seperti ditunjukkan dalam sistem kerja Hulp En
Spaar Bank Der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren yang berdiri pada 1895. Namun, embrio koperasi
ini, dalam perkembangannya, lebih condong menjadi cikal bakal Bank BRI.

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Koperasi merupakan salah satu badan usaha Indonesia yang dianggap memiliki karakter yang
sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Sebagai lembaga yang diharapkan mampu menjadi soko
guru perekonomian Indonesia, koperasi telah membuktikan ketangguhannya melewati beberapa
periode krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Pemerintah sudah selayaknya memberikan perhatian
yang lebih. Namun, bentuk perhatian pemerintah kepada lembaga koperasi yang ada masih belum
tepat.
Bentuk bantuan berupa kemudahan fasilitas justru membuat lembaga koperasi seperti
disuapi terus menerus sehingga tidak muncul kemandirian. Pemerintah seharusnya memberikan
bantuan agar para insan koperasi mampu untuk membuat pancing sendiri, bukan hanya sekedar
mampu memancing ikan. Kuallitas SDM koperasi hingga saat ini dirasa masih belum merata.
Banyak sekali SDM koperasi tidak dapat berkoperasi dengan baik, dilihat dari kecilnya presentase
jumlah koperasi yang melakukan RAT. Hal ini juga mengakibatkan harapan agar koperasi dapat
segera menjadi soko guru perekonomian Indonesia menjadi terhambat.
Dalam rangka implementasi kebijakan Otonomi Daerah, pembinaan terhadap kelompok usaha
kecil, menengah dan koperasi perlu menjadi perhatian.Pembinaan terhadap kelompok usaha kecil,
menengah dan koperasi bukan hanya menjadi tanggung jawab Pusat tetapi juga menjadi kewajiban
dan tanggung jawab Daerah.
Implementasi undang-undang otonomi daerah, akan memberikan dampak positif bagi
koperasi dalam hal alokasi sumber daya alam dan pelayanan pembinaan lainnya. Namun koperasi

akan semakin menghadapi masalah yang lebih intensif dengan pemerintah daerah dalam bentuk
penempatan lokasi investasi dan skala kegiatan koperasi . Karena azas efisiensi akan mendesak
koperasi untuk membangun jaringan yang luas dan mungkin melampaui batas daerah otonom.
Peranan advokasi oleh gerakan koperasi untuk memberikan orientasi kepada Pemerintah didaerah
semakin penting. Dengan demikian peranan pemerintah di tingkat Propinsi yang diserahi tugas untuk
pengembangan koperasi harus mampu menjalankan fungsi intermediasi semacam ini. Mungkin juga
dalam hal lain yang berkaitan dengan pemanfaatan infrastruktur daerah yang semula menjadi
kewenangan pusat.
Berharap melalui pola pembinaan yang dikembangkan tersebut didapat outcomes yang
bersinergi antara kebijakan pembinaan usaha kecil, menengah dan koperasi dengan kebijakan
Otonomi Daerah.Sehingga antara kebijakan Otonomi Daerah dengan pembinaan usaha kecil,
menengah dan koperasi terdapat simbiosis mutualisme.
3.2 Saran
Capacity building di koperasi adalah suatu keharusan, terutama dalam pengembangan teknologi
dan sumber daya manusia. Perhatian terhadap pengembangan kedua faktor tersebut harus lebih
besar daripada terhadap penyaluran modal. Pelatihan SDM di dalam koperasi tidak hanya
menyangkut bagaimana menjalankan sebuah koperasi yang baik, tetapi juga dalam pemahaman
mengenai peluang pasar, teknik produksi, pengawasan kualitas (seperti bagaimana mendapatkan
ISO), meningkatkan efisiensi, dll. Misalnya, pengurus koperasi pertanian harus paham betul
mengenai perkembangan perdagangan pertanian di pasar dunia, termasuk ketentuan-ketentuan
dalam konteks WTO, FAO, dll.
Sudah waktunya pemerintah, dalam hal ini Kementrian Koperasi dan UKM, mempunyai database
koperasi yang komprehensif, misalnya jumlah koperasi produsen menurut komoditi, daerah dan
bentuk serta orientasi pasar. c. Dalam menghadapi persaingan, koperasi harus melakukan strategistrategi yang umum dilakukan oleh perusahaan-perusahaan modern (non-koperasi) atau bahkan
yang dilakukan oleh koperasi-koperasi di negara maju seperti penggabungan dua (lebih) koperasi,
akuisisi, atau kerjasama dalam bentuk joint ventures dan aliansi strategis, tidak hanya antar
koperasi tetapi juga dengan perusahaan-perusahaan non-koperasi; diversifikasi produksi,
spesialisasi, penerapan teknologi informasi, terutama untuk manajemen operasi dan komunikasi
elektronik dengan pembeli dan pemasok. Pemerintah bisa memfasilitasi upaya-upaya tersebut

DAFTAR PUSTAKA
http://dokumen.tips/documents/kondisi-koperasi-indonesia-saat-ini.html
(diakses Kamis, 26 Mei 2016)
https://elianggra.wordpress.com/2014/01/07/perkembangan-koperasi-di-indonesia-saat-ini/
(diakses Kamis, 26 Mei 2016)
http://rororori.blogspot.co.id/2015/11/tugas-1-perkembangan-koperasi-di.html
(diakses Kamis, 26 Mei 2016)
http://documents.tips/documents/perkembangan-koperasi-di-indonesia-saat-ini.html
(diakses Kamis, 26 Mei 2016)
https://astrisilfianingsih.wordpress.com/koperasi-dan-kewirausaaan/makalah-permasalahan-yangdihadapi-koperasi-di-indonesia-saat-ini/
(diakses Jumat, 27 Mei 2016)
http://selvianadianasari.blogspot.co.id/2015/01/peran-dan-perkembangan-koperasi-di.html
(diakses Jumat, 27 Mei 2016)
https://liasetianingsih.wordpress.com/2009/11/24/kebijakan-pemerintah-dalam-pembangunankoperasi/
(diakses Sabtu, 28 Mei 2016)
http://documents.tips/documents/sikap-dan-kebijakan-pemerintah-terhadap-koperasi.html
(diakses Sabtu, 28 Mei 2016)
ieconomy.blogspot.co.id/2015/06/kebijakan-pemerintah-tentang-koperasi.html