Anda di halaman 1dari 4

Kemunculan Kapak Perimbas

Peradaban manusia purba terbagi dalam beberapa masa, yaitu masa berburu
dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa
perundagian. Setiap masa memiliki ciri khas tersendiri. Pada masa berburu
dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah mengenal alat-alat berburu
seperti kapak perimbas, alat-alat serpih, dan alat-alat tulang. Pada masa
bercocok tanam, manusia purba telah mengenal sistem kepercayaan dan
telah mampu membuat bangunan besar dari batu (Megalit), berbagai alat dari
batu, gerabah, dan perhiasan. Pada masa perundagian, manusia purba telah
mengenal kehidupan sosial ekonomi dan mampu menghasilkan berbagai
benda dari perunggu.
Selain di Indonesia, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kapak
perimbas ini banyak ditemukan di wilayah luar Indonesia, khususnya kawasan
Asia Tenggara dan Asia Timur. Kapak perimbas diperkirakan sebuah
peralatan awal yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara merampingkan pada suatu
permukaan batu untuk memperoleh tajaman. Bentuk alat ini meruncing, dan
kulit batu masih melekat pada pangkal alatnya sebagai pemegang. Pada
umumnya alat ini dipersiapkan dari sebuah serpihan besar. Bentuk alat ini
mendekati bujur sangkar atau persegi empat panjang. Tajamnya dipersiapkan
melalui penyerpihan terjal pada permukaan alas menuju pinggiran batu
(Poesponegoro, 2008: 96).
Tajam kapak perimbas, yang berbentuk konveks (cembung) atau kadangkadang lurus, diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran
batu. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batu
(Poesponegoro, 2008: 96).
Melihat seluruh penemuan di wilayah Punung, dan dari hasil-hasil
penggolongan alat-alat Paleolitik yang tercapai, tampaklah bahwa jenis kapak
perimbas menduduki tempat utama di antara alat-alat yang masif. Kapak
perimbas budaya Pacitan oleh Heekeren dibagi dalam beberapa jenis atas
dasar ciri-ciri pokok yang sudah sebagai landasan penggolongan Movious.
Jenis-jenis penggolongan itu adalah:

Tipe setrika (iron-heater chopper), berciri: panjang menyerupai setrika,


berpenampang lantang plano-konveks, dan memperlihatkan
penyerpihan yang memancang dan tegas.

2.

Tipe kura-kura (tortoise ), berciri: beralas membulat dengan permukaan


atas yang cembung dan meninggi.

Tipe serut samping (side scraper), berciri: berbentuk tidak teratur dan
tampak gelap, tajamnya dibuat pada sebelah sisi.
Persebaran Kapak Perimbas

1. Luar Indonesia
Peralatan prasejarah yang sangat menonjol di Indonesia pada masa
Paleolitikum adalah kapak perimbas. Kapak ini merupakan jenis kapak yang
digenggam dan berbentuk masif. Manusia pendukung dari kapak perimbas ini
diduga adalah Pithecanthropus. Bukti-bukti pendukung dari kebudayaan ini
ditemukan pula di Cina, yaitu Chou-kou-tien, dan kapak ini ditemukan
bersamaan dengan fosil manusia Pithecanthropus pekinensis.
Mengenai persebaran kebudayaan kapak perimbas telah dilakukan penelitian
sejak tahun 1397 dan 1398 di Myanmar. Ada pun tempat persebaran kapak
perimbas adalah Thailand, Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, dan Indonesia.
Kalau dilihat dari sudut teknologinya, ternyata kapak perimbas yang
ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di negaranegara lain.

Paleolitik; berhubungan dengan penamaan tingkat


tradisi kebudayaan atas dasar teknik pembuatan
alat batu dari masa berburu dan mengumpulkan
makanan Movius berpendapat bahwa di Asia Tenggara dan Asia Timur
berkembang suatu budaya Paleolitik yang berbeda dengan corak yang
berkembang di daerah sebelah barat seperti Eropa, Afrika, Asia Barat, dan
sebagian India, khususnya mengenai bentuk dan teknik alat-alat batunya.
Hasil penemuan menunjukkan kalau teknik pembuatan yang ada di Asia Timur
dan Asia Tenggara adalah monofasial, yaitu pengasahan alat-alat batu
dilakukan pada salah satu permukaan saja. Kebudayaan kapak perimbas
digolongkan sebagai tingkat awal budaya batu di Asia Timur dan masa
perkembangannya pada umumnya ditentukan sejak kala Plestosen Tengah,
sesuai dengan keadaan geografisnya.
Perimbangan tipe-tipe alat di daerah persebaran Asia Tenggara dan Asia
Timur tidak sama. Ada tipe-tipe tertentu yang menonjol dari pada tempat lain.
Yang menonjol dalam kelompok lokal budaya Paleolitik di Asia Timur dan Asia
Tenggara adalah tipe kapak perimbas dan kapak penetak. Begitu pula jenis
batuan yang digunakan untuk membuat kapak perimbas berbeda-beda antara
satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya, fosil kayu banyak dipakai di
Myanmar, kuarsa di Punjab, Cina, dan Malaysia, sedangkan kapur kersikan
dan tufa kersikan banyak dipakai di Indonesia.

2. Di Indonesia
Salah satu ciri khas dari kehidupan prasejarah Indonesia adalah
berkesinambungan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Fenomena seperti
ini terus berkembang dari mulai zaman kehidupan awal manusia sampai
zaman sekarang. Bukti adanya kapak perimbas menunjukkan adanya sebuah

kehidupan pada zaman Paleolitikum, zaman yang diperkirakan sebagian bumi


masih diselimuti es.
Keberadaan kapak perimbas di Indonesia ternyata memiliki persebaran yang
luas dan khusus berkembang di tempat-tempat yang banyak mengandung
bahan batuan yang sesuai untuk pembuatan perkakas-perkakas batu.
Penelitian mengenai tradisi paleolitik di Indonesia dimulai pada 1935, ketika
Koenigsswald menemukan alat-alat batu di daerah Punung (Pacitan), di dasar
Kali Baksoko. Alat-alat tersebut bercorak kasar dan sederhana teknik
pembuatannya. Koenigswald beranggapan bahwa kebudayaan Paleolitik yang
tersebar ada di Pacitan sama dengan kebudayaan yang berkembang di Eropa
pada zaman awal Paleolitik. Temuan kapak perimbas di Pacitan ini
merupakan sebuah kebudayaan terawal di Indonesia.
Perhatian terhadap kebudayaan kapak batu dari zaman Paleolitik di Indonesia
mulai meluas. Dan penemuan-penemuan baru terus terjadi, seperti; Sumatra
Selatan (lahat), Lampung (Kalianda), Kalimantan Selatan (Awangbangkal),
Sulawesi Selatan (Cabbege), Bali (Sembiran, Trunyan), Sumbawa (Batutring),
Flores (Wangka, Maumere, Ruteng), dan Timor (Atambua, Kefanmanu,
Noelbaki). Daerah Punung ternyata daerah terkaya akan kapak
perimbas sehingga sekarang merupakan tempat penemuan terpenting di
Indonesia.
3.

Keadaan Manusia Pendukungnya

Kehidupan zaman batu ini telah berlangsung sejak 600.000 tahun yang lalu.
Selama kurun waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang
paling dekat dengan lingkungan kehidupan mereka, seperti kayu, bambu, dan
batu. Mereka menggunakan batu-batu tersebut untuk berburu maupun untuk
membersihkan makanan. Batu-batu tersebut juga mereka gunakan sebagai
kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang
buruan.
Kehidupan manusia pendukung zaman ini masih nomaden atau berpindahpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan mereka bergantung dari
tersedianya bahan-bahan makanan terutama binatang buruan. Jadi, inti
kegiatan hidup harian manusia pendukung kebudayaan kapak perimbas
(zaman Paleolitikum) adalah mengumpulkan bahan makanan untuk
dikonsumsi saat itu. Kegiatan seperti itu disebut peradaban food
gathering atau pengumpul makanan.
Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba yang hidup
pada zaman Paleolitikum adalahPithecanthropus erectus, Homo

wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo soloensis. Fosil ini


ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo.

Sumber Rujukan:

http://www.wacananusantara.org/kapak-perimbas/
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Daeng, J. Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan
Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djubiantono, T. 1985. Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi, dalam PIA
III. Jakarta: PuslitArkenas, hal. 10261033.
Driwantoro, Dubel. dkk. 2003. Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau
Nias, Prov. Sumatera Utara. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak
diterbitkan).
Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu; Prasejarah Song

Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur. Jakarta: Populer Gramedia.


Poesponegoro, M.D. dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai
Pustaka.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiradnyana, Ketut, Dominique Guillaud & Hubert Forestier. 2006. Laporan
Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera
Utara. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).
Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud. 2007. Laporan Penelitian EtnoArkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara. Medan:
Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).