Anda di halaman 1dari 7

Faktor yang mempengaruhi Keberhasilan GTL

Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan
lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL:
a. Faktor fisis: Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek
retensi dari tekananatmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi
gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigitiruan atas, pada permukaan bukal gigi
tiruan bawah.Peripherial seal bersambung dengan Postdam padarahang atas
menjadi sirkular seal. Sirkular seal ini berfungsi membendung agar udara dari luar
tidak dapatmasuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga
tekanan atmosfer di dalamnya tetapterjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat
kebocoran (seal tidak utuh/terputus) maka protesa akan mudahlepas. Hal inilah
yang harus dihindari dan menjadi penyebab utama terjadinya kegagalan dalam
pembuatanprotesa gigi tiruan lengkap.Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior
garis getar dari palatum molle dekatfovea palatina.
b. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak
antara basis gigi tiruan denganmukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya
fisik dari adhesi dan kohesi, yang bersama-sama dikenalsebagai adhesi selektif.
c. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi
gigi tiruan berbandinglangsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi
tiruan.
d. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai
pegangan terutama pada rahangatas.
e. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang di bawahnya untuk menghindari
rasa sakit dan terlepasnyagigi tiruan saat berfungsi
Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior (depan) karena harus
mengingat estetis (ukuran,bentuk, warna) walaupun tidak kalah pentingnya untuk
pemasangan gigi posterior (belakang) yang tidak harus samaukurannya dengan gigi asli,
tetapi lebih kecil, untuk mengurangi permukaan pengunyahan supaya tekanan padawaktu

penguyahan tidak memberatkan jaringan pendukung.


Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality expression, umur, jenis
kelamin yang mananantinya akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur
gigi. Disamping itu juga perlu diperhatikan keberadaan over bite, over jet, curve von
spee, curve monson, agardiperoleh suatu keadaan yang diharapkan pada pembuatan gigi
tiruan
RETENSI
Menurut A. Roy MacGregor dan David M.Watt, retensi dapat didefinisikan sebagai
ketahanan gigi tiruan untuk melawan gaya-gaya yang melepaskannya dari mulut. Di dalam
bukunya digambarkan dengan sederhana mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
retensi gigi tiruan lengkap sebagai berikut : Gigi tiruan lengkap diibaratkan dua balok yang
mempunyai berat yang sama tetapi ukuran berbeda, menempel pada dasar suatu bak. Diantara
balok dan dasar bak terdapat selapis tipis air (lapisan saliva), ternyata balok yang lebih besar
mengalami hambatan yang lebih besar saat dikeluarkan, karena permukaan yang berkontak
lebih luas dan karena adanya gaya-gaya dalam cairan.
Menurut A. Roy MacGregor dan David M.Watt gaya yang berhubungan dengan
lapisan saliva ( gaya-gaya fisik ) yang berhubungan dengan retensi suatu gigi tiruan secara
garis besar dapat dibagi atas tiga :

1.

Adhesi
Gaya tarik-menarik antara saliva dengan basis gigi tiruan dan antara saliva dengan
mukosa

2.

Gaya-gaya dalam cairan


Gaya-gaya dalam cairan ( tegangan permukaan saliva, gaya kohesi dalam cairan
saliva, dan viskositas saliva), semua mempengaruhi retensi gigi tiruan dan
berhubungan dengan ketepatan kontak basis terhadap kontak mulut.

3.

Tekanan atmosfir

Tekanan atmosfir yang lebih rendah dalam cairan saliva dapat menahan gaya-gaya
yang akan melepaskan gigi tiruan asal peripheral seal utuh.
A. Roy MacGregor juga menjelaskan bahwa, retensi gigi tiruan lengkap dipengaruhi juga
oleh tiga faktor utama dalam desain gigi tiruan yaitu :
1

Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut.


Ketepatan antara basis gigi tiruan dan mukosa mulut tergantung pada aktivitas
gaya fisik dari adhesi dan kohesi yang bersama-sama. Untuk mendapatkan
retensi yang maksimal dari gigi tiruan, gigi tiruan harus pas atau tepat dengan

permukaan mukosa yang tidak tertekan.


Perluasan basis gigi tiruan.
Retensi gigi tiruan berbanding langsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh

basis gigi tiruan.


Peripheral seal.
Peripheral seal adalah kontak antara mukosa dan tepi serta permukaan gigi
tiruan yang dipoles yang mencegah keluar masuknya udara.
Sifat utama yang harus dimiliki oleh daerah ini adalah kontinuitas sepanjang
tepi gigi tiruan, sehingga penutupan benar-benar utuh. Mengenai hubungan
peripheral seal dengan gaya dalam saliva serta retensi gigi tiruan lengkap
dikatakan bahwa; Retensi berhubungan dengan aliran saliva yang melalui tepi
gigi tiruan. Retensi bertambah dengan adanya faktor-faktor yang menghalangi
aliran cairan dan berkurang dengan adanya faktor-faktor yang membantu
aliran tersebut, dalam hal ini adalah peripheral seal.

Pemeriksaan terhadap retensi dapat dilakukan dengan cara memasang gigi tiruan kuat-kuat di
dalam mulut dan mencoba melepaskan gigi tiruan dengan gaya yang tegak lurus pada bidang
oklusal. Bila gigi tiruan dapat bertahan terhadap gaya tersebut, gigi tiruan mempunyai retensi
yang cukup.

ESTETIKA
Pada pemerikasaan estetika menurut A. Grant (1) terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan :
1

Dukungan dari gigi tiruan terhadap bibir dan pipi sehingga memperlihatkan

ekspresi wajah yang wajar.


Garis median muka berhimpit dengan garis median gigi tiruan.

Bidang oklusal sejajar dengan garis inter pupil dan alatragus, serta pada saat

istirahat setinggi bibir atas


Gigi anterior rahang atas dan rahang bawah cukup terlihat pada saat mulut

setengah terbuka.
Terdapat keharmonisan antara ukuran, bentuk, kontur, warna, serta susunan

6
7

gigi tiruan dengan wajah pasien.


Tidak ada gigi tiruan yang berubah posisi.
Susunan gigi anterior tidak terlalu ke anterior, palatal atau lingual, tetapi
tersusun pada daerah neutral zona ( daerah penyusunan gigi yang tidak
mengganggu fungsi otot ). Permukaan labial dari gigi incisive sentral atas
berada kira-kira 8 10 mm sebelah anterior dari pertengahan papilla incisive.
Bila penyusunan gigi terlalu ke posterior ( berjarak kurang dari 8 mm )
menyebabkan dukungan gigi tiruan papda bibir berkurang yang ditandai
dengan penurunan sudut bibir, berkurangnya bagian vermillion border yang
terlihat, penurunan dan pendalaman sulcus nasolabialis, garis-garis vertical
kecil atau kerutan-kerutan diatas vermillion border, philtrum tidak Nampak
dengan nyata, dan juga dapat diperkirakan adanya ruang lidah yang sempit di
anterior. Bila penyusunan terlalu ke anterior mengakibatkan penampilan wajah
yang Nampak kaku, bibir Nampak tegang, perubahan bentuk bibir, sulcus dan
philtrum, dan gigi tiruan cenderung lepas sewaktu berfungsi.

Estetis yang kurang memuaskan dapat disebabkan oleh kesalahan penentuan


hubungan rahang, kesalahan prosesing sehingga susunan gigi geligi kurang bagus, atau
kontur gigi yang kurang baik. Keadaan ini tidak dapat diperbaiki di ruang praktek, tetapi
harus melalui pengulangan proses laboratorium atau dengan pembuatan gigi tiruan baru.

KESTABILAN
Dalam Glossary of Prosthodontic terms ( 1962 ) kestabilan didefinisikan sebagai gigi
tiruan untuk tetap bertahan di tempat, melawan tekanan functional yang menggerakkannya
dan tidak sebagi subjek yang mudah berubah posisi bila tekanan jatuh padanya.
Sedang kestabilan gigi tiruan menurut A. Roy MacGregor adalah daya tahan gigi
tiruan untuk bertahan pada tempatnya melawan gerakan-gerakan, dan sifat gigi tiruan untuk
tetap dalam keadaan seimbang terhadap jaringan pendukung.

Selain faktor retensi kestabilan gigi tiruan lengkap dipengaruhi juga oleh :
1

Faktor jaringan pendukung.


Jaringan pendukung adalah jaringan yang merupakan tempat gigi tiruan bertumpu,
yang terdiri dari jaringan yang menerima beban pengunyahan yang jatuh pada gigi
tiruan, yaitu mukosa mulut serta tulang dibawahnya. Dalam pembuatan gigi tiruan
diusahakan jaringan pendukung yang seluas mungkin.

Keseimbangan terhadap otot-otot.


Permukaan gigi tiruan yang berkontak dengan otot-otot bibir, pipi dan lidah harus
disesuaikan dengan aktivitas otot-otot tersebut, karena aktifitas otot-otot diatas secara
aktif maupun pasif dapat mempengaruhi gigi tiruan dengan cara menekan gigi tiruan.
Ketidakstabilan gigi tiruan biasanya dihubungkan dengan kontraksi otot yang
melampaui batas fungsi normal.

Penyusunan gigi geligi.


Sehubungan dengan kestabilan gigi tiruan pada waktu penyusunan gigi-geligi perlu
diperhatikan posisi gigi terhadap sumbu processus alveolaris dan puncak processus
alveolaris.
Posisi gigi terhadap sumbu processus alveolaris
Kestabilan yang baik akan diperoleh bila sumbu gigi sejajar atau berhimpit
dengan sumbu processus alveolaris karena tekanan akan jatuh pada puncak
alveolar. Gigi yang disusun terlalu ke bukal akan mengurangi kestabilan
karena tekanan akan jatuh pada lereng alveolar, disamping itu akan

mengganggu gerakan otot-otot sehingga gigi tiruan akan mudah terangkat.


Posisi gigi terhadap puncak processus alveolaris.
Permukaan bidang oklusal gigi tiruan bawah yang disusun terlalu jauh dari
puncak alveolaris akan mengakibatkan lidah terpaksa harus menggunakan
kekuatan yang lebih besar untuk menempatkan makanan ke permukaan
oklusal, sehingga memperbesar kemungkinan terangkatnya gigi tiruan bawah.

Hubungan rahang
Hubungan rahang terbagi menjadi dua :
Hubungan rahang dalam arah vertical ( dimensi vertical ).
Yaitu jarak antara rahang atas dan bawah yang memberikan ekspresi wajah
normal
Saat rahang atas dalam keadaan instirahat gigi geligi agak terpisah, dan tinggi
wajah sedikit lebih besar daripada saat gigi berkontak, sehingga terdapat
ruangan antara permukaan oklusal gigi yang disebut free way space. Free way

space ini penting artinya untuk kelancaran pengucapan huruf, dan sebagai
pedoman dalam mengembalikan tinggi wajah pasien yang sudah tidak bergigi.
Besarnya free way space yang dianggap normal adalah 2 4 mm. untuk
mendapatkan dimensi vertical yang tepat dilakukan pengukuran dan diperiksa
dengan cara fonetik, dimana pasien diinstruksikan untuk mengucapkan katakata yang banyak mengandung bunyi desis misalnya missisipi.
A. Roy MacGregor mengatakan umumnya pasien lebih bias menerima
dimensi vertical yang lebih kecil daripada yang lebih besar, karena dimensi
vertical yang lebih besar free way spacenya menjadi kurang sehingga pada
waktu berbicara gigi atas dan bawah sering menimbulkan benturan antar tonjol
gigi-geligi sehingga mengganggu proses bicara dan fonetiknya. Pada keadaan
yang lebih parah terdengar suara benturan yang lebih keras. Sedang menurut
Sheldon Winkler (1975) selain hal diatas, kemampuan pengunyahan berkurang
serta estetika kurang memuaskan, karena mulut tampak penuh, otot muka
terlihat tegang dan penderita sukar menutup mulut, menelan, serta pasien akan
mengeluh sakit pada jaringan pendukung gigi tiruan. Pada dimensi vertical
yang besar karena kemungkinan otot-otot tidak rileks, akan mengakibatkan
otot-otot merasa lelah.

Hubungan rahang dalam arah horizontal (relasi sentrik)


Relasi sentrik adalah hubungan paling posterior dari mandibula terhadap
maksila dimana kondilus terletak paling posterior dan rileks dalam fossa
glenoidea pada dimensi vertical oklusal tertentu.
Relasi sentrik dapat diperiksa dengan melihat kontak gigi posterior. Pada
waktu pasien menggigit dalam keadaan relasi sentrik, gigi atas dan bawah
harus menggigit dalam oklusi sentrik ( maximal intercuspation ). Jadi harus
sama dengan oklusi sentrik dalam articulator, karena oklusi sentrik dibuat
sama dengan relasi sentrik dalam pembuatan. Bila oklusi sentrik tidak sama
dengan relasi sentrik, gigi tiruan tidak akan stabil, karena pada saat menggigit
tonjol-tonjol lingual gigi tidak jatuh dalam fossa atau marginal ridge
lawannya, tetapi jatuh pada lereng tonjol dulu dan setelah menggigit keras
baru masuk ke fossa sehingga terjadi pergeseran yang disebut Slide in
Centric

Oklusi dan artikulasi.

Oklusi adalah hubungan kontak statis antara tonjol-tonjol atau permukaan kunyah
gigi-gigi atas dan bawah.
Pada saat sekarang ini oklusi cenderung diartikan sebagai tiap hubungan kontak
antara gigi atas dan bawah karena kontak yang benar-benar statis itu tidak ada.
Secara klinis terdapat empat posisi dari oklusiyang dapat dicari :
1 Oklusi sentries ( posisi kontak mundur )
2 Oklusi protrusive
3 Oklusi lateral kanan
4 Oklusi lateral kiri
Artikulasi adalah kontak geser yang dinamis antara tonjol gigi atas dan bawah pada
saat rahang melakukan gerakan dengan mulut tertutup.
Sedangkan yang dimaksud dengan artikulasi yang seimbang adalah kontak geser yang
terus-menerus antar tonjol gigi atas dan bawah di seluruh lengkung rahang pada setiap
gerakan mandibula dengan mulut tertutup.
Ketidakseimbangan oklusi dan artikulasi akan mempengaruhi kestabilan gigi tiruan,
karena gigi tiruan akan terasa longgar, dan bergeser pada ridge setelah kontak oklusi.
Akibatnya pasien hanya dapat memakai gigi tiruan dengan nyaman pada waktu tidak
makan, tetapi akan terasa longgar dan menimbulkan nyeri pada saat makan.
Keseimbangan oklusi harus diperiksa pada tahap mencoba gigi tiruan malam, tetapi
artikulasi baru bisa dibuat lebih sempurna setelah melakukan pengasahan secara
selektif pada permukaan gigi tiruan. Pengasahan secara selektif maksudnya adalah
memodifikasi permukaan gigi-geligi dengan mengasah pada tempat-tempat tertentu,
setelah ditentukan tempatnya dengan menggunakan kertas artikulasi. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan oklusi dan artikulasi yang seimbang.