Anda di halaman 1dari 30

CHAPTER REPORT 1st

RUTHERFORD SCATTERING OF ALPHA PARTICLES AND


NUCLEAR MODEL OF THE ATOM
(Hamburan Partikel-Partikel Alfa Rutherford dan Model Inti Atom)
Dari buku Nuclear Physiscs Karya S.N Ghoshal Vol.II

KAJIAN SAINS FISIKA 4


Dosen Pengampu:
Prof. Dr. Prabowo, M.Pd

Oleh
Abdul Hamid Sudiyono
NIM 127795168

Hidayat Sapari
NIM 127795141

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2013

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah S.W.T atas
segala nikmat yang telah diberikan kepada kita sehingga kita mampu hadir saat ini
dalam keadaan sehat. Shalawat serta salam semoga selalu terucap kepada
junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W, kepada keluarga, kerabat dan
pengikutnya hingga akhir zaman.
Chapter report merupakan bagian dari pelaksanaan perkuliahan pada mata
kuliah kajian sains fisika 4, pada bagian ini kami akan menyajikan chapter 1 yang
berjudul hamburan partikel-partikel Alfa dan model inti atom dari buku Nuclear
Physiscs karya S.N Ghoshal.
Partikel Alfa () merupakan partikel bermuatan positif yang berenergi
tinggi yang dipancarkan oleh bahan radioaktif. Keunikan partikel alpha
menambah ketertarikan Rutherford dan muridnya untuk mengkaji dan
bereksperimen. Salah satu temuan yang dihasilkan adalah bahwa inti atom
bermuatan positif dan netral.
Kami menyadari chapter report ini masih jauh dari kata sempurna, kami
mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun agar dapat memperbaiki
penulisan chapter report sehingga didapatkan hasil yang mendekati sempurna.

Surabaya, September 2013


Penyusun,

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .........................................................................................

KATA PENGANTAR ........................................................................................

ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii


DAFTAR GAMBAR .........................................................................................

iv

BAB I Hamburan Partikel-partikel Alfa dan Model Inti Atom


A. PENDAHULUAN ......................................................................................
B. PEMBAHASAN ........................................................................................
1.1 Pengenalan..............................................................................................
1.2 Teori Hamburan partikel Rutherford ..................................................
1.3 Verifikasi eksperimental dari rumus hamburan Rutherford oleh Geiger

1
2
2
2

dan Marsden ...........................................................................................


1.4 Model Inti Atom Rutherford ..................................................................
1.5 Penentuan Muatan Inti Chadwick ..........................................................
C. KESIMPULAN ...........................................................................................

12
16
19
24

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 25

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1

Halaman
Hamburan partikel Alfa menurut model atom Thomson............ 4

Gambar 1.2

Percobaaan dasar untuk kajian hamburan partikel . S adalah


sumber . F adalah lembaran logam penghambur dan M adalah
mikroskop dengan lapisan berpijar.............................................

Gambar 1.3

Lintasan partikel selama hamburan oleh inti...........................

Gambar 1.4

Partikel yang terhambur pada parameter impak yang berbeda

Gambar 1.5

Perhitungan jumlah partikel yang terhambur........................... 10

Gambar 1.6

Perhitungan jumlah hamburan inti per satuan luas hamburan


lembaran...................................................................................... 12

Gambar 1.7

Perhitungan luasan garis yang ditangkap oleh dua kerucut


lingkaran...................................................................................... 13

Gambar 1.8

Eksperimen Geiger dan Marsden pada verifikasi hukum


hamburan Rutherford.................................................................. 14

Gambar 1.9

Variasi jumlah hamburan partikel dengan lembaran tipis........ 16

Gambar 1.10. (a) Eksperimen Chadwick pada penentuan muatan inti


(b) Luasan efektif detektor diberikan untuk berkas sinar yang
dihambur secara normal
(c) ketebalan efektif lembaran penghambur ............................... 20

1
BAB I
HAMBURAN PARTIKEL-PARTIKEL ALFA
DAN MODEL INTI ATOM

A. PENDAHULUAN
Berdasarkan pada hasil percobaannya, Rutherford mengemukakan model
atom dengan menganggap atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif dan
electron yang bermuatan negatif dan bergerak mengelilingi elektron.
Eksperimen yang dilakukan Rutherford adalah penembakan lempengan
emas tipis dengan partikel alpha. Ternyata partikel itu ada yang diteruskan,
dibelokkan atau dipantulkan. Berarti di dalam atom terdapat susunan susunan
partikel bermuatan positif dan negatif. Hipotesa dari Rutherford adalah atom yang
tersusun dari inti atom dan elektron yang mengelilinginya. Inti atom bermuatan
positif dan massa atom terpusat pada inti atom.
Kelemahan dari Rutherford tidak dapat menjelaskan mengapa elektron
tidak jatuh ke dalam inti atom. Berdasarkan teori fisika, gerakan elektron
mengitari inti ini disertai pemancaran energi sehingga semakin lama energi
elektron akan berkurang dan lintasannya makin lama akan mendekati inti dan
jatuh ke dalam inti.

2
B. PEMBAHASAN
1.1 Pengenalan
Pandangan materi atom pertama kali dikemukakan oleh kimiawan Inggris
John Dalton pada awal abad ke-19. Membutuhkan waktu hampir seratus
tahun sebelum struktur dalam atom dapat dipahami. Penelitian J J. Thomson
tentang muatan listrik yang melalui gas menyebabkan penemuan elektron, yang
dapat dikatakan menjadi awal dari pemahaman kita tentang struktur atom.
Thomson mengusulkan model atom, yang telah dibahas dalam Bab 4 dari Vol. I,
di mana muatan negatif elektron dianggap tertanam di dalam tubuh atom yang
bermuatan positif, tersebar di seluruh permukaan atom yang memiliki jari-jari
10-10m. Model roti kismis (Plum Pudding) ini walaupun telah diabaikan
merupakan teori yang mendukung model inti atom yang diusulkan oleh Ernest
Rutherford berdasarkan penelitian pada hamburan partikel oleh materi.
1.2

Teori Hamburan Partikel Rutherford


Partikel Alfa () merupakan partikel bermuatan positif dengan energi

tinggi yang dipancarkan oleh zat radioaktif, jumlah listrik positifnya sama
dengan dua unit muatan listrik. Massanya sama dengan massa atom helium.
Partikel Alfa dipancarkan selama peluruhan radioaktif unsur berat tertentu seperti
uranium atau radium (lihat 3.1). Bila energi tunggal partikel dipancarkan dari
zat radioaktif melalui lembaran logam yang sangat tipis, partikel tersebut
ditemukan terhambur ke arah yang berbeda dengan arah sinar dari partikel
semula. Meskipun, sejauh ini, sebagian besar partikel dihamburkan pada sudut
kecil, sebagian kecil ditemukan terhambur pada sudut besar (lebih besar dari 90).
Hamburan sudut besar tersebut tidak dapat dijelaskan berdasarkan model
atom Thomson, alasan yang dapat dipahami secara kualitatif adalah sebagai

3
berikut. Gaya tolak elektrostatik antara muatan positif dari atom terhambur dan
partikel alfa berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (q) partikel alfa dari pusat
muatan yang terakhir dan berbanding lurus dengan muatan positif atom
terhambur yang terkandung dalam lingkaran berjari-jari q (lihat Gambar 1.1).
Seperti yang akan kita lihat, sudut hamburan meningkat dengan meningkatnya
muatan efektif atom, menolak partikel dan menurun dengan semakin jauh
jaraknya dari pusat atom di mana partikel melewati atom. Ketika partikel
lewat pada jarak yang relatif besar dari pusat atom (~10 -10m di dekat pinggiran
atom), jarak ini menjadi begitu besar sehingga sudut hamburan sangat kecil,
meskipun seluruh muatan positif dari atom menolak itu.

Gambar 1.1 Hamburan partikel Alfa menurut model atom Thomson

Di sisi lain, ketika partikel lewat pada jarak yang relatif dekat dari pusat
atom, muatan efektif terpental dengan sudut kecil, sehingga sudut hamburan
cukup kecil.
Untuk menjelaskan sudut hamburan besar dari partikel yang teramati,
Rutherford (1911) mengusulkan model baru dari atom. Menurutnya, seluruh muatan
positif suatu atom dan hampir seluruh massa atom terlingkup dalam lingkaran sangat
kecil di dekat pusat. Muatan positif yang berat ini diketahui sebagai inti atom. Ketika
sebuah partikel lewat sangat dekat dengan pusat atom, gaya tolak listrik kuat

4
dialami seluruh muatan positif atom dan menyebabkan partikel tersebut
dihamburkan pada sudut yang relatif besar.

Selama percobaan hamburan, berkas sinar sempit dari energi tunggal


partikel yang dijatuhkan pada lembaran logam yang sangat tipis seperti emas
(Z = 79) atau perak (Z = 47) yang dapat diputar atau dipukul sampai sangat tipis
pada orde 10-7 m (0,1 mikron) atau lebih kecil. Partikel tidak kehilangan energi
sedikitpun ketika melewati lembaran tipis tersebut. Pengaturan disiapkan untuk
menghitung jumlah partikel yang terhambur dalam arah yang berbeda. Pada
Gambar 1.2, ditunjukkan diagram skema dari eksperimen dasar untuk
mempelajari hamburan partikel .

Gambar 1.2 Percobaaan dasar untuk kajian hamburan partikel . S adalah sumber . F
adalah lembaran logam penghambur dan M adalah mikroskop dengan lapisan berpijar

Gaya yang dialami oleh partikel adalah gaya pusat yang berbanding
terbalik dengan kuadrat jaraknya dari inti atom. Hal ini diketahui dari hukum
mekanika bahwa lintasan partikel ditindaklanjuti oleh gaya seperti sebuah kerucut.

Gambar 1.3 Lintasan partikel selama hamburan oleh inti

Kerucut akan menjadi elips, parabola atau hiperbola, tergantung pada


apakah energi awal partikel E < 0, E = 0, atau E > 0. Dalam kasus ini energi awal
dari partikel adalah positif (E > 0). Sehingga lintasan PAP adalah sebuah
hiperbola dengan hamburan inti yang terletak di salah satu pusat fokus F.
Di sini kita mengasumsikan bahwa seluruh

muatan positif +Ze inti

terkonsentrasi pada titik F.


Pada Gambar 1.3, ditampilkan lintasan PAP dari partikel di
bawah aksi tolakan listrik karena inti bermuatan +Ze. Bila M adalah massa dan
Ze muatan partikel ; disini Z= 2, inti ini diasumsikan cukup berat.
Ketika partikel mendekati inti F dari jarak yang cukup besar, gaya tolak
listrik diabaikan atau dianggap kecil ketika jaraknya sangat jauh. Pada kasus ini
energi potensialnya diabaikan dan seluruh energi adalah energi kinetik:
E = Mv2/2 dimana v adalah kecepatan mula-mula dari partikel . Lintasan partikel
pada jarak yang cukup besar adalah garis lurus, bertepatan dengan asimtot QOR
dari hiperbola PAP. Jika kita membuat garis tegak lurus FG dari inti ke garis

6
asimtot ini, kemudian panjang garis FG = b diketahui sebagai parameter dampak
(impact parameter).
Selama partikel mendekati inti, lintasan lengkungannya lebih banyak dan
lebih jauh dari F karena tolakan elektrostatiknya meningkat. Akhirnya, ketika
mencapai Titik A pada jarak minimum dari F, ia mulai menjauh dari inti
sepanjang AP. Pada jarak yang sangat jauh dari inti, jalurnya mengalami
pemunduran bertepatan dengan asimtot ROQ dari hiperbola itu. Sudut ROQ
diantara dua asimtot QOR dan ROQ adalah sudut hamburan . Dua asimtot
sama-sama miring pada sudut terhadap sumbu FF dari hiperbola itu.
Ketika partikel mencapai titik A dari hiperbola, tolakan elektrostatiknya
maksimum. Tercatat jarak paling kecil dengan pendekatan FA = q. Energi potensial

dari partikel di A adalah

Z z 'e
V=
4 0q

dimana

0 =

10
36

F/m yaitu konstanta

dielektrik ruang hampa.


Kecepatan vm partikel di A adalah minimum. Energi kinetik pada titik ini

adalah

1
Ek= M v 2m sehingga energi total adalah
2

1
Z Z' e2
2
E=E k +V = M v m +
2
4 0 q
Persamaan ini sebagai energi awal partikel kita dapatkan
1
1
Z Z' e2
E = M v 2= M v 2m +
2
2
4 0 q
atau

(1.2-1)

7
2

' 2
vm
Zz e
=1
2
2
v
4 0 M v q

(1.2-2)

Sekali lagi, momentum linear partikel pada jarak besar adalah Mv


sepanjang garis QOR dan karenanya momentum sudut awal adalah:
Mv. FG = Mv. b
Di A, momentum linear Mvm dari partikel tegak lurus terhadap sumbu
FF hiperbola, sehingga momentum sudutnya pada titik ini
M vm.FA = M vm q
Karena gaya yang bekerja pada partikel merupakan gaya pusat,
momentum sudutnya harus kekal, berdasarkan hukum mekanika. Sehingga,
(1.2-3)

Mv b = M vm q

Mengacu pada Gambar. 1.3, kita tahu dari sifat-sifat hiperbola bahwa
OF = OF = .OA
dimana > 1 adalah eksentrisitas . Jadi
q = FA = OF + OA = OF

1
1+

Sekali lagi dari teori kerucut, kita tahu bahwa

1
=cos

sehingga
karena sin

1+cos
OF

= FG/OF, kita dapatkan

8
1+cos /sin

=b

/sin
1+cos
q=FG

(1.2-4)

Dari persamaan (1.2-3) dan (1.2-4), kita mendapatkan

b vm
sin
= =
q v 1+cos

(1.2-5)

Kemudian dari persamaan (1.2-2) dan (1.2-5), kita memiliki

1+cos

Z Z' e2
sin 2
1
=

2 0 M v 2 q
Subtitusi untuk q dari persamaan (1.2-5) , diperoleh
'

ZZ e
sin
1cos
1
.
=
2
2 0 M v b 1+cos 1+ cos

Atau
Z Z ' e2
sin 2cos
2
2 0 M v b
Akhirnya kita mendapatkan
'

b=

karena

ZZ e
tan
2
4 0 M v

(1.2-6)

+
=
2 2
b=

Z Z' e 2

cot
2
2
4 0 M v

(1.2-7)

9
Persamaan (1.2-7) menunjukkan bahwa selama parameter impact b
menjadi lebih kecil, sudut hamburan meningkat. Pada Gambar 1.4,
ketergantungan pada b ditunjukkan secara sistematis.

Gambar 1.4 Partikel yang terhambur pada impact parameter yang berbeda

Selama percobaan hamburan, sejumlah besar partikel diproyeksikan


menuju inti target. Jika kita membatasi perhatian kita pada inti hamburan tunggal,
maka partikel yang mendekati jalur asimtotik yang berbeda akan memiliki
parameter impact b yang berbeda. Jika kita menggambar dua silinder koaksial tak
terbatas berjari-jari b dan (b + db) yang sejajar sumbunya pada arah datang dengan
sumbu inti, maka semua partikel dengan garis asimtotik antara kedua silinder akan
terhambur antara dua sudut dan - d ditentukan oleh persamaan (1.2-7) (lihat
Gambar 1.5).

Gambar 1.5 Perhitungan jumlah partikel yang terhambur

Anulus antara proyeksi dua silinder pada bidang tegak lurus terhadap sumbu
tersebut mempunyai secara jelas luasan 2 b db sehingga jumlah dari kejadian

10
partikel pada anulus ini dalam interval waktu tertentu adalah dN = N2bdb, dimana
N merupakan jumlah kejadian per satuan luas. Kemudian menggunakan persamaan
(1.2-7), kita mendapatkan jumlah hamburan yang tersebar di antara dan -d,
Sehingga

Z Z ' e2

dN =N
cosec 3 cos d
2
2
2
4 0 M v

(1.2-8)

Semua partikel terhambur pada sudut ruang

d =2 sin d=4 sin cos d


2
2
Jadi jumlah hamburan per satuan sudut ruang adalah (dengan Z = 2)

dN
Z Z ' e2
4
=N
cosec
2
d
2
4 0M v

(1.2-9)

Dalam persamaan (1.2-9), tanda negatif menunjukkan persamaan (1.2-8)


telah diturunkan. Tanda negatif hanya menunjukkan bahwa selama parameter
impact b meningkat, sudut hamburan menurun.
Dalam pengurangan di atas, diasumsikan bahwa dari N kejadian partikel
pada satuan luas hamburan tersebut, jumlah dN tersebar oleh aksi dari inti
hamburan tunggal. Jadi jika hanya satu partikel yang terjadi per satuan luas,
sehingga N = 1, maka persamaan (1.2-9) memberikan probabilitas hamburan dari
partikel karena aksi dari inti hamburan tunggal. Nilai probabilitas hamburan ini
per unit sudut ruang diberikan oleh

d
Z e2

=
cosec 4
2
d 4 0 M v
2

(1.2-

10)
Persamaan (1.2-10) dikenal sebagai persamaan hamburan Rutherford

11
2

Sekarang

Ze
4 0

meiliki dimensi [energi x panjang] sedangkan Mv2

memiliki dimensi energi. Oleh karena itu

Ze
2
4 0 M v

memiliki dimensi

panjang. Oleh karena itu d/d memiliki dimensi kuadrat panjang, yaitu suatu
luasan. Karena alasan ini, probabilitas hamburan diberikan oleh persamaan (1.210) ditunjuk sebagai penampang hamburan tiap satuan sudut ruang atau
penampang hamburan diferensial. Karena unsur sudut ruang d adalah tidak
berdimensi, d memiliki dimensi suatu luas dan mengukur penampang hamburan
ke sudut ruang d. Total hamburan penampang diperoleh dengan
mengintegrasikan d pada semua sudut ruang yang juga berdimensi suatu luasan.
Lembaran hamburan dari daerah A

Satuan luas

Gambar 1.6 Perhitungan jumlah hamburan inti per satuan luas hamburan lembaran

Pada percobaan hamburan, sinar tumbukan dari partikel yang memiliki


energi tunggal diarahkan jatuh pada lembaran hamburan sangat tipis t seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.6. Jika N partikel yang terjadi pada lembaran dalam
interval waktu sejumlah N yang tersebar ke dalam sudut ruang pada sudut
akan sebanding dengan N . Hal ini juga akan tergantung jumlah inti hamburan

12
n1 yang ada per satuan luas lembaran (yaitu, rapat paket inti atom) sehingga kita
dapat menuliskan
N Nn1
atau

d
d

(1.2-

Nn1 = Nn1

11)
Dari Gambar 1.6, kita melihat bahwa n1 = nt dimana n adalah jumlah
hamburan inti tiap satuan volume lembaran. Jadi kita dapatkan, menggunakan
persamaan (1.2-10)

Ze

N =N nt
cosec 4
2
2
4 0 M v

Gambar 1.7 Perhitungan luasan garis yang ditangkap oleh dua kerucut lingkaran

Dari Gambar 1.7, kita melihat bahwa jika kita menggambar lingkaran
dengan jari-jari r dan menggambar dua kerucut semi-vertikal dengan sudut dan
+ , sehingga daerah garis diantara dua kerucut pada permukaan lingkaran
adalah
S=2 r sin r

2 r 2 sin =r 2
Partikel yang dihamburkan ke dalam sudut ruang pada sudut
hamburan seluruhnya melewati garis ini. Kemudian jumlah hamburan partikel
yang jatuh tiap satuan luas garis adalah

13

N N nt
Z e2

Ns=
= 2
cosec 4
2
S
2
r 4 0 M v
1.3

Verifikasi

eksperimental

dari

rumus

(1.212)
hamburan

Rutherford oleh Geiger dan Marsden


Dari persamaan (1.2-12) kita melihat bahwa
(a)
(b)
(c)
(d)

Ns

1
4

sin 2
N s t
1
N s 2 , ( E= 1 M v 2 , adalah energy dari partikel )
2
E
2
Ns Z

Kesimpulan di atas merupakan teori Rutherford yang telah diuji


oleh serangkaian Eksperimen yang dilakukan oleh H.Geiger dan Ernest
Marsden (1913), dua orang rekan Rutherford.

Gambar 1.8 Eksperimen Geiger dan Marsden pada verifikasi hukum hamburan
Rutherford

Penyusunan eksperimen mereka ditunjukkan pada Gambar 1.8. F adalah


lembaran logam yang sangat tipis (dari emas atau perak). R adalah tabung kaca
berdinding tipis yang dilapisi sejumlah kecil gas radon radioaktif ( 226Rn) yang
memancarkan energi tunggal partikel , yang setelah bertumbukan dengan

14
membuka melalui perisai A jatuh pada lembaran hamburan F. Setelah hamburan
dari F melalui sudut yang berbeda mereka jatuh pada layar berpijar S
untuk menghasilkan kerdipan cahaya (lihat Bab VII) yang dapat diamati melalui
M mikroskop yang dapat berubah di sekitar sumbu. Seluruh peralatan disimpan di
bawah tekanan tinggi melalui pompa bertekanan. Dengan menghitung jumlah
kerdipan cahaya yang dihasilkan pada S, Jumlah NS partikel dari kejadian pada
satuan luas dapat ditemukan.
Geiger dan Marsden menemukan bahwa ketika partikel dari kecepatan
tertentu v dihamburkan dari lembaran dengan ketebalan t, pada sudut yang
4

berbeda, hasil (NS x sin /2) tetap konstan dalam batas-batas kesalahan
eksperimen, seperti yang dapat dilihat pada kolom terakhir dari Tabel 1.1. Hal ini
memberikan konfirmasi kesimpulan (a) di atas.
Tabel 1.1

Sudut hamburan

sin4 /2

15
30
45
60
75
105
120
135
150

2,903X10
4,484X10-3
-2
2,146X10
0,0625
0,1379
0,3952
0,5586
0,7245
0,8695

-4

Jumlah partikel
yang jatuh tiap
satuan luas layar
(NS)
132.000
7.800
1.435
477
211
69,5
51,9
43,0
33,1

NS x sin4 /2
38,4
35,0
30,8
29,8
29,1
27,5
29,0
31,2
28,8

Geiger dan Marsden selanjutnya mengukur jumlah partikel yang


terhambur melalui sudut tertentu ( = konstan) menggunakan lembaran hamburan
dengan ketebalan yang berbeda-beda. Hasil eksperimen mereka ditunjukkan

15
secara grafik pada Gambar 1.9 yang mana jumlah hamburan NS yang masuk
kedalam daerah luasan diplot sebagai fungsi ketebalan lembaran. Ketebalan
dinyatakan dalam persamaan kesetimbangan

udara,

yang

mana

ketebalan

udara yang dihasilkan sama dengan energi yang hilang seperti yang sebenarnya
dihasilkan oleh ketebalan lembaran tertentu (konstan). Mereka menggunakan
lembaran dengan ketebalan yang berbeda dan menemukan bahwa untuk bahan
tertentu grafiknya adalah garis lurus, yang menunjukkan bahwa NS t, verifikasi

Banyaknya kelipan

kesimpulan (b).

Ketebalan penyerap (udara dengan satuan cm)


Gambar 1.9 Variasi jumlah hamburan partikel dengan lembaran tipis

Rentang kejadian
partikel (cm)
5,5
47,6
4,05
3,32
2,51
1,84
1,04

1
v4
(nilai relatif )
961,0
1,21
1,50
1,96
2,84
4,32
9,22

Jumlah partikel
yang jatuh tiap
satuan luasan layar
(NS)
24,7
29,0
33,4
44,0
81,0
101,0
255,0

NS x v4
25
24
22
22
28
23
28

16
Untuk menguji kesimpulan (c), Geiger dan Marsden menggunakan
partikel yang berbeda kecepatannya. Jika berkas sinar tumbukan energi
tunggal partikel dengan energi awal tertentu yang diberikan dilewatkan
pada lembaran mika tipis, maka partikel yang muncul dari lembaran kehilangan
sejumlah energi tertentu, tergantung pada ketebalan lembaran. Kemunculan
partikel dengan demikian merupakan pendekatan sinar energi tunggal dari
berkurang energi. Jika ini tersebar dari hamburan lembaran, maka hamburan
dari partikel pada kecepatan yang berkurang tersebut bisa dipelajari. Hal ini
dilakukan oleh Geiger dan Marsden menggunakan kertas logam mika dengan
ketebalan yang berbeda untuk mengurangi energi pada nilai-nilai yang berbeda
dan kemudian mempelajari hamburannya di sudut tertentu ( = konstan) oleh
lembaran hamburan dengan ketebalan tertentu (t = konstan). Kecepatan v dari
partikel bisa ditentukan dengan mengukur rentang R (lihat 4.7). Mereka
menemukan bahwa hasil (NS x v4) adalah konstan, seperti dapat dilihat pada
kolom

terakhir

dari

Tabel

1.2.

Dengan

cara

ini

hukum kecepatan

(kesimpulan c) teori Rutherford telah diverifikasi.


Karena kesalahan besar pada pengukuran Geiger dan Marsden,
kesimpulan terakhir (d) tidak dapat diverifikasi oleh mereka, yang bagaimanapun
telah dilakukan kemudian (lihat 1.5).
1.4

Model Inti Atom Rutherford


Verifikasi Percobaan dari teori Rutherford tentang hamburan partikel

oleh Geiger dan Marsden, dibahas dalam bagian sebelumnya, secara kuat tercipta
model inti atom yang diusulkan oleh Rutherford. Menurut model ini, seluruh

17
muatan positif dan hampir seluruh massa atom terkonsentrasi dalam lingkaran
berjari-jari R lebih kecil dibandingkan dengan jari-jari atom yang memiliki
-10

jangkauan 10

m (lihat Bab I, Vol. I).

Teori Rutherford tentang hamburan partikel memberi kita


beberapa gagasan tentang ukuran bola dimana di dalamnya
terdapat

muatan

inti.

Persamaan

(1.2-5)

dan

(1.2-6)

menunjukkan bahwa jarak pendekatan minimum q partikel ke


inti tergantung pada sudut hamburan dan menurun dengan
meningkatnya . Ketika
pendekatan qm

180 nilai

jarak

terkecil

adalah sedemikian rupa sehingga partikel

berbalik arah sepanjang jalan tempuh dari titik pendekatan


terdekat (titik balik) dan karenanya berada pada keadaan diam
sesaat (v = 0) pada titik ini. Jadi energinya sepenuhnya adalah
potensial pada titik ini dan dapat ditulis sebagai
'

1
ZZ e
E= M v 2=
2
4 0 qm
yang memberikan
q m=

(1.4-1)

Z Z' e 2
Z Z' e2
=
2 0 Mv 2 4 0 E

Untuk partikel dari isotop


-14

222

Rn memiliki energi E = 5,486 MeV kita

mendapatkan q m = 2,47 x 10 m untuk perak (Z = 47) dan

qm =

-14

4,15x 10 m untuk emas (Z = 79). Karena jari-jari inti atom harus lebih kecil
dari perkiraan di atas, jelaslah bahwa jari-jari inti lebih kecil dengan faktor orde

18
4

10 m sampai 10 m dibandingkan dengan jari-jari atom.


Dalam perhitungan qm di atas, telah diasumsikan bahwa hukum Coulomb
interaksi elektrostatik antara partikel dan inti hamburan berlaku baik
bahkan pada jarak pendek tersebut.
Eksperimen

Geiger dan Marsden memberikan bukti jelas yang

mendukung. Dalam percobaan mereka, sudut hamburan terbesar adalah 150 dan
bukan 180. Dalam hal ini jarak minimum pendekatan sedikit lebih tinggi
daripada q m seperti yang diperkirakan di atas. Namun demikian, pembahasan
di atas menunjukkan secara jelas bahwa Hukum Coulomb tentang gaya
-14

berlaku antara inti hamburan dan partikel pada jarak jangkauan 10

m.

Karena atom secara keseluruhan bermuatan listrik netral, harus ada


muatan negatif yang mengimbangi atom, yang mana muatan negatif tersebut
harus sama dengan muatan positif total inti. Seperti kita telah melihat dalam
4.3, Vol.I, bagian bermuatan negatif atom, sebenarnya terdiri dari elektron
bermuatan negatif yang berputar di sejumlah orbit tertentu yang jari-10

jarinya sebanding dengan jari-jari atom (~10 m) seperti planet-planet berputar


mengitari matahari. Gambaran atom Rutherford seperti ini secara fundamental
berbeda dari model roti kismis J.J. Thomson.
Perbandingan jari-jari inti (~10-15m) dengan jari-jari atom (105

10m) menunjukkan bahwa pembentuknya adalah sekitar 10 m kali lebih kecil


daripada atomnya. Selanjutnya, ikatan yang kuat dari gabungan inti dihasilkan
dari gaya yang harus dimiliki pada jarak yang sangat dekat, minimal kurang dari
-15

2 x 10 m.
Namun, model atom Rutherford memiliki satu kelemahan serius. Seperti,

19
atom tidak dapat terkonfigurasi stabil. Teori elektromagnetik tentang cahaya
memprediksi bahwa elektron yang mengitari, karena percepatan sentripetal
mereka, secara terus-menerus harus memancarkan radiasi elektromagnetik
sehingga mereka akan bergerak secara spiral ke dalam dan akhirnya jatuh ke inti.
Hal ini membuat Niels Bohr ilmuwan dari Denmark (1913) menyarankan jalan
keluar dari kesulitan ini, yang terlibat dengan konsep yang sama sekali baru dan
yang berbeda dengan beberapa konsep dasar dari mekanika klasik dan teori
elektromagnetik Maxwell tentang cahaya.
Hal ini dikenal sebagai teori kuantum Bohr. Teori kuantum, dalam bentuk
yang lebih maju saat ini, merupakan dasar teoritis dari semua fenomena
subatomik. Teori baru ini, yang dikenal sebagai mekanika kuantum, secara
singkat dibahas dalam Vol. I dari buku ini.
1.5 Penentuan Muatan Inti Chadwick
James Chadwick merupakan seorang mahasiswa

Rutherford,

menggunakan teknik perbaikan,dia adalah seseorang yang pertama (1920)


menentukan muatan inti beberapa elemen berdasarkan teori Rutherford tentang
hamburan partikel . Kita telah melihat bahwa jumlah partikel yang terhambur
2

oleh inti muatan +Ze ini sebanding dengan kuadrat muatan inti; yaitu Ns Z (
kesimpulan d di 1.3).
Peralatan Chadwick ini diperlihatkan pada Gambar 1.10. Untuk
meningkatkan jumlah partikel yang terhambur, Chadwick menggunakan
lembaran hamburan berbentuk cincin sempit RR dipasang pada bingkai yang
sesuai, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.10 (a)

20

(a)

(b)

(c)

Gambar 1.10. (a) Eksperimen Chadwick pada penentuan muatan inti


(b) Luasan efektif detektor diberikan untuk berkas sinar yang
dihambur secara normal
(c) ketebalan efektif lembaran penghambur

S adalah sumber sinar dan D adalah layar dari beberapa materi


berkilau sebagai detektor. Cincin RR yang ditempatkan pada bidang tersebut
adalah tegak lurus dengan garis SD yang melewati pusat cincin.

Cincin RR demikian tertutup antara dua kerucut yang memiliki sumbu


yang sama dengan S di puncaknya. S dan D berjarak sama dari bidang RR
sehingga SR = RD. Jika sudut semi-vertikal kerucut dalam adalah /2 seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.10 (a), maka SR dan RD miring dengan sumbu
SD di

/2. Jika sebuah partikel mengalami kejadian di cincin RR

sepanjang SR dan kemudian terhambur di sepanjang RD untuk mencapai


detektor, sudut rata-rata hamburan akan sebesar . Hal ini benar untuk seluruh
titik di RR. Sehingga luas hamburan lembaran RR cukup kecil untuk
eksperimen Chadwick pada daerah yang efektif

yang ditampilkan oleh

kejadian partikel untuk sudut hamburan tertentu yang relatif besar, yang
membantu meningkatkan jumlah hamburan partikel, paling tidak untuk
melengkapi perhitungan statistik.

21
Sebuah layar L yang mencegah partikel agar tidak jatuh secara
langsung dari

sumber

memungkinkan

ke

detektor.

Jika

dipindahkan,

maka

untuk menentukan jumlah N S partikel yang jatuh secara

langsung di D tiap sekon. Mengetahui sudut ruang oleh D di S, sehingga


memungkinkan untuk memperkirakan kekuatan sumber, seperti laju pancaran
partikel yang keluar dari sumber. Jika N 0 mewakili kekuatan sumber, A
adalah luas D dan SD = R, maka jumlah yang jatuh di D adalah
N D=

A
N0
2
4 R

Dengan mengetahui N 0 memungkinkan untuk menentukan jumlah


N partikel yang jatuh di RR tiap detik. Sudut ruang oleh RR di S adalah

=2 sin
=sin
2 2
2

()

N=

N0
N

= 0 sin
4
4
2

dan
N R2

=
sin
ND
A
2

(1.5-1)

dapat dihitung dari lebar cincin sehingga N dapat ditemukan dengan


bantuan persamaan (1.5-1).
Untuk menentukan muatan inti Ze dengan bantuan persamaan (1.2-12)
penting untuk mengetahui jumlah hamburan partikel yang jatuh pada
detektor per detik. Perlu dicatat pula bahwa partikel yang terhambur dari
RR yaitu peristiwa di D membuat sudut /2 dengan garis normal. Proyeksi
dari permukaan daerah normal A ke pola RD dari partikel terhambur
adalah A cos (/2) [lihat Gambar 1.10 (b)]. Maka untuk mendapatkan

22
jumlah partikel yang jatuh pada satuan luas D, N S diberikan dalam
persamaan (1.2-12) harus dikalikan dengan cos (/2).
Selanjutnya, setelah partikel mengenai lembaran hamburan RR
ketebalan t pada sudut /2 terhadap normal, ketebalan efektif lembaran untuk
berkas sinar adalah t / cos /2 [lihat Gambar 1.10(c)]. Akhirnya

dari

persamaan (1.2-12) dengan bantuan persamaan (1.5-1):


N ' S=

Nn
r

Ze

t
4
cosec cos
2
2
2

4 0 M v
cos
2
2

ntR2
Ze2

N0
2
2
Ar 4 0 M v sin 3
2

Disini r adalah jarak rata-rata lembaran hamburan RR dari S. Jika


a adalah jari-jari rata-rata cincin RR dengan a = r sin /2 sehingga r = a
cosec /2.
Jika w adalah lebar lembaran hamburan, maka dari Gambar 1.10
( a) kita lihat bahwa

=w cos /a cosec
2
2
2

(1.5-2)

Sehingga pada akhirnya kita dapatkan


N ' S=

2
2
2 N D R 2 w n t
Ze

cos
3
2
A
2
a
4 0 M v

(1.5-3)

Dengan demikian jumlah hamburan partikel yang jatuh di satuan


luas detektor adalah sebanding dengan cos /2.
Chadwick menentukan Z untuk sejumlah elemen logam menggunakan
persamaan di atas. Hasilnya untuk tembaga, perak, emas adalah seperti tabel

23
dibawah dan disesuaikan dengan nomor atomnya.
Tabel 1.3
Z yang ditentukan oleh
Chadwick
29.3
46.3
77.4

Elemen
Cu
Ag
Au

Nomor atom
29
47
78

Perlu dicatat bahwa nomor atom suatu unsur mewakili nomor urut
posisinya dalam Tabel periodik (lihat 6.6, Vol. I) dan sama dengan jumlah
elektron orbital dalam atom. Yang terakhir ini ditentukan langsung oleh
Barkla dari percobaan hamburan sinar-x dan ditemukan untuk dijadikan
kesepakatan dengan nilai-nilai nomor atom yang ditentukan dari studi tentang
karakteristik spektrum sinar-x oleh Moseley (lihat 8.9, Vol. I). Karena atom
secara keseluruhan adalah listrik netral, muatan inti Z (diukur dalam
satuan

muatan

listrik)

harus

sama dengan nomor atom. Penentuan

Chadwick tentang Z untuk unsur-unsur yang berbeda menegaskan hal ini


secara meyakinkan. Perubahan sedikit dari nilai Z dari jumlah integral
adalah karena kesalahan eksperimen.
Percobaan

Chadwick

yang

digambarkan

di

atas

juga

menyajikan ketepatan kesimpulan d pada teori hamburan Rutherford (lihat


1.3) yang seperti telah kita lihat, tidak bisa diverifikasi oleh Geiger dan
Marsden.

Catatan Referensi
1. Radiations from Radioactive Subsances by E. Rutherford, J. Chadwick and
C.D. Ellis, Mc Millan (1930).
2. The Theory of Atomic Collisions by N.F. Mott and H.S.W. Massey, 2 nd
Edition, Oxford, Clarendon Press (1950).

24
3. The Atomic Nucleus by R.D. Evans, Mc Graw Hill (1955).
4. Nuclear Physics by I. Kaplan, Addison Wesley Publishing Co. Inc. (1963).

25
C. KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan chapter report tentang hamburan partikel ,
terdapat beberapa kesimpulan yang dapat diambil, antara lain:
1.

Partikel Alfa () merupakan partikel bermuatan positif, memiliki energi


tinggi yang dipancarkan oleh zat radioaktif, jumlah listrik positif mereka

yang sama dengan dua unit muatan listrik.


2. Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel
diteruskan.
3. Model Atom Rutherford yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti
yang sangat kecil dan bermuatan positif, dikelilingi oleh electron yang
bermuatan negatif. Rutherford menduga bahwa di dalam inti atom terdapat
partikel netral yang berfungsi mengikat partikel-partikel positif agar tidak
saing tolak menolak.
4. Model atom Rutherford memiliki satu kelemahan, yakni atom tidak dapat
terkonsentrasi stabil.
5. Chadwick, merupakan seorang mahasiswa Rutherford yang dapat
menentukan muatan inti beberapa elemen berdasarkan teori Rutherford
tentang hamburan partikel Alfa ().

26
DAFTAR PUSTAKA

Ghoshal, S. N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi: S Chand & Company Ltd.