Anda di halaman 1dari 72

1

KAJIAN FISIKA IV
CHAPTER REPORT 5
PHYSICS NUCLEAR : BETA PARTIKEL AND
BETA ACTIVITY
( PARTIKEL

DAN AKTIVITAS PARTIKEL


)

Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Prabowo, M. Pd

Disusun Oleh :
Amin Dwi Sesanti

Erna Suhartini

127795117

127795152

Rustika Novita
Sari
127795101

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS


2013

BAB I
PENDAHULUAN
Kita telah melihat pada bab sebelumnya bahwa Rutherford menemukan partikel
kemudian dua unsur lainnya dari radiasi ini adalah partikel (elektron dengan energi
tinggi) dan sinar (radiasi gelombang elektromagnetik yang sangat pendek). Pada
awalnya tahun radioaktivitas, perbedaan radiasi dibedakan oleh perbedaan daya serap
pada materi. Lebih lanjut, perilaku partikel-partikel tersebut pada medan magnet juga
ditemukan perbedaan yang ditunjukkan pada gambar 1.

Gambar 1

Jalur sinar , , dan pada medan magnet.

Sinar hanya terlihat dibelokkan sedikit oleh medan magnet, sementara sinar
terlihat lebih kuat dibelokkan, dan sinar tidak dibelokkan sama sekali. Hal ini
menunjukkan bahwa sinar secara elektrik adalah netral. Pembelokan sinar dan
menunjukkan bahwa sinar tersebut adalah partikel bermuatan listrik dan membawa
muatan yang berlawanan. Pembelokan yang kuat dari partikel menunjukkan bahwa
partikel jauh lebih ringan daripada partikel dan partikel menunjukkan bermuatan
yang berbeda dengan .
Selain fenomena itu, pembahasan partikel yang akan diuraikan dalam makalah
ini adalah dimulai dengan penentuan beban, eksperimen Bucherer, penentuan energi ,
pemfokusan partikel-partikel beban oleh medan magnet, energi dari peluruhan , asalusul tidak terhentinya spektrum : hipotesis neutrino, teori Fermi tentang peluruhan
yang diijinkan. Memperbolehkan dan melarang transisi , peraturan seleksi peluruhan,
diagram Sargent.

BAB II
PEMBAHASAN
5.1 Penentuan Muatan dari Partikel Beta
Kita dapat melihat bahwa partikel- teremisi dengan zat radioaktif dengan energi
elektron yang sangat tinggi. Curie adalah orang yang pertama yang menunjukkan bahwa
partikel- adalah tipe muatan partikel yang negatif dan lebih berpenetrasi daripada
partikel-. Setelah itu, Becquerel mengamati bahwa partikel- lebih terbelokkan
daripada partikel- pada medan magnet. Ini membuktikan bahwa partikel- lebih
bercahaya daripada partikel-. Becquerel memperkirakan e/m dari partikel- dimana
ditunjukkan bahwa partikel- adalah elektron. Beliau juga memperoleh perbedaan antara
partikel- dengan partikel- yang teremisi dengan zat radioaktif.
Kaufmann memperlihatkan perbandingan e/m dari partikel- secara akurat
(1901) (gambar 5.1). Dengan menggunakan ruang hampa A, sejumlah radium yang
berada di sumber Q yang terletak di antara dua plat logam P 1 dan P2 dimana terdapat
perbedaan potensial beberapa ribu volt. Partikel- terlihat dari sisi luar dari plat P1 dan P2
yang melewati sekat D dan terlihat pada plat fotografis P. alat ini terletak di antara dua
kutub magnet N dan S. Medan magnet yang paralel dengan bidang dan tegak lurus
dengan arah gerak dari partikel-.

Gambar 5.1

Peralatan Kaufmann untuk menentukan perbandingan e/m partikel-.

Jika m adalah massa, e adalah muatan, dan v adalah kecepatan dari partikel- ,
kemudian gerakan dari induksi medan magnet B terhadap bidangnya, partikel-
dibelokkan secara tegak lurus terhadap bidang, ketika dibelokkan dengan medan listrik

X diantara P1 dan P2. Pembelokkan magnet yang sebanding dengan perbandingan e/m
ketika pembelokkan listrik secara sebanding untuk e/mv 2 (lihat bab II di Vol. I). Ketika
pembelokkan listrik dan magnet selalu pada sudut yang tepat satu sama lain, maka cara
tersebut sama dengan pembiasan untuk menentukan beban dari sinar positif menurut J. J.
Thompson. Ion-ion dari muatan yang sama, namun dengan kecepatan yang berbeda akan
2
terfokus pada garis lengkung. Menurut eksperimen yang dilakukan oleh Kaufmann:
partikel- dari sumber yang ada difokuskan pada garis lengkung yang berarti bahwa
partikel-partikel tersebut dipancarkan dengan kecepatan yang berbeda dari sumbernya.
Dengan membalikkan bidang magnet, maka garis lengkung akan jatuh pada bidang lain
dari garis aksial (lihat gambar 5.2). Dari jarak titik-titik yang sama pada dua garis
lengkung pada dua sisi axis, maka e/m dapat ditentukan. Menurut Kaufmann: walaupun
e/m dengan partikel- yang lebih lamban memiliki nilai yang sama, maka e/m dengan
partikel- yang lebih cepat kelihatannya tergantung pada kecepatannya. Selanjutnya
disebutkan pula bahwa lebih tinggi kecepatannya, maka lebih rendah nilai e/m nya. Garis
pada partikel- yang lebih cepat difokuskan berbeda dengan garis lengkung dimana
partikel- yang lebih lamban difokuskan.

Gambar 5.2

Pemfokusan garis lengkung untuk partikel- dari kecepatan yang berbeda


menurut teori penelitian Kaufmann. Perhatikan bahwa ada perbedaan dengan
garis lengkung untuk partikel- yang lebih cepat.

Pengamatan Kaufmann ini sesuai dengan prediksi dari teori relativitas Einstein.
Menurut teori ini massa m dari partikel kecepatan v lebih besar dari seluruh massa m,
dengan perumusan sebagai berikut

m=

m0

1 2

(5.1-1)

Dimana = v/c, jika ada partikel lebih ringan seperti elektron pada suatu energi
MeV, maka kecepatan (v) dari partikel akan menjadi sebanding dengan kecepatan

dengan kecepatan cahaya (c). Karena itu untuk partikel-partikel seperti itu peningkatan
relativitas dari suatu massa menjadi lebih besar; semakin berat partikel yang ada seperti
proton atau partikel- dengan energi yang sebanding v << c, maka besarnya massa dapat
diabaikan. Contoh elektron dari 1 MeV energi beta = 0,941 yaitu m = 3m 0. Proton
dengan energi yang sama yaitu = 0,0462 sehingga besarnya massa dapat diabaikan.
Ketika kecepatan partikel meningkat lebih besar, maka m semakin tinggi lalu
e/m menjadi semakin kecil sesuai dengan yang diamati oleh Kaufmann. Namun dalam
pengamatan yang dilakukan oleh Kaufmann: semakin besar massa tidak dapat diukur
secara tepat. Oleh karena itu tidak dapat dipastikan apakah pembesaran tersebut sesuai
dengan teori Einstein.
Perbandingan garis fokus untuk elektron kecepatan tinggi dari garis lengkung
dapat perlu dipahami dari teori relativitas khusus. Dalam teori garis lengkung Thomson
untuk menentukan muatan sinar positif, hubungan garis lengkung (parabola) antara
koordinat x dan y dari titik fokus beberapa ion dari kecepatan yang berbeda tergantung
pada muatan terentu. Jika massa dari suatu ion berubah maka hubungan matematikanya
tidak lagi ada. Karena massa elektron berkecepatan tinggi berubah sesuai dengan
kecepatan, maka garis fokusnya akan berbeda dengan garis lengkungnya.
5.2 Eksperimen Bucherer
A. H. Bucherer berasal dari Jerman menemukan metode yang sangat terakurasi
dalam menentukan e/m partikel . Eksperimennya juga memberikan hasil yang tepat
untuk verifikasi hubungan dengan Einstein yaitu variasi massa dengan kecepatan
(persamaan 5.1-1).
Eksperimen Bucherer ditunjukkan pada gambar 5.3. Sejumlah kecil radium
florida yang digunakan sebagai sumber (S) dari partikel yang ditempatkan antara dua
plat gelas berbentuk bundar pipih P 1, P2 dilapisi dengan perak pada bagian dalamnya
yang dianggap sebagai dua plat kondenser paralel. Ukuran plat tersebut adalah
diameternya 8 cm dengan jarak diameter 0, 25 mm. Sumber (S) ditempatkan ditengah
system plat. F merupakan film foto yang dibungkus dalam bentuk silinder yang
melingkari plat P1 dan P2 pada sumbunya dengan jarak 5 cm dari pinggiran plat. Seluruh
peralatan tersebut dimasukkan kedalam ruangan yang disimpan dalam tempat yang
sangat vakum.

Gambar 5.3

Metode Bucherer untuk menentukan e/m untuk partikel .

Perbedaan besar terjadi antara plat P 1 dan P2 agar menghasilkan bidang listrik X
dalam arah vertikal. Medan magnet dipasang paralel dengan plat-plat sehingga
pembiasan magnet dan listrik menjadi paralel. Hal ini disebabkan karena jarak antara P 1
dan P2 sangat kecil, maka hanya partikel yang dipancarkan secara paralel terhadap
permukaan yang berada diluar bidang antara P 1 dan P2 yang dapat mencapai film foto F.
gaya listrik pada partikel dengan muatan e karena bidang X adalah F e = Xe. Oleh
karena itu, partikel yang dipancarkan dari sumbernya dibiaskan kebawah tanpa medan
magnet serta mengenai plat P 2 bagisan bawah sehingga partikel-partikel tersebut tidak
berasal dari daerah antara plat-plat tersebut. Arah dari bidang induksi magnet B tersusun
secara baik sehingga gaya magnet Fm = Bev menunda gaya listrik F e yang menyebabkan
partikel terpancar dari S yang paralel dengan P1 dan P2 yang berasal dari daerah antara
plat-plat tersebut.
Karena medan magnet ada dalam arah yang paralel dengan plat tersebut, amka
pancaran partikel pada arah yang berbeda dengan S cenderung membentuk sudut dan
B yang berbeda (lihat gambar 5.4).

Gambar 5.4

Gerak dari medan magnetik pada partikel dari arah yang berbeda.

Jika v adalah kecepatan pancaran partikel pada sudut dan w.r.t.B maka gaya
magnet adalah sebagai berikut

Fm =Bev sin
Jika gaya listrik dan magnet seimbang, maka rumusnya dapat ditulis sebagai
berikut

Bev sin = Xe

v=

X
B sin

(5.2-1)

Untuk menentukan nilai X dan B hanya partikel-partikel yang dipancarkan


kearah dapat berasal kondenser yang mana kecepatannya ditentukan dari persamaan
(5.2-1). Setelah sumbernya dari kondenser, maka hanya gaya magnet yang berpengaruh.
Gaya listrik tidak berlaku diluar plat-plat kondenser. Sehingga partikel dibiaskan
keatas dan kebawah lalu menuju ke F disepanjang bidang spiral. Hanya partkel-partikel
yang mana = /2 saja yang kearah bidang itu disebut dengan lengkung melingkar.
Persamaan gaya magnet dengan gaya sentripetal adalah sebagai berikut

Bev=

Gambar 5.5

mv
r

(5.2-2)

Jari-jari kelengkungan dari partikel .

Partikel-partikel ini mempunyai pembiasan yang maksimum. Jika l adalah jarak


dari pinggir plat kondenser ke film F dan pembiasan partikel-partikel yang keluar yaitu
= /2 adalah d maka dari gambar 5.5, diperoleh bahwa = /2

( 2 rd ) d=l 2

r=

atau

l 2 +d 2
2d

(5.2-3)

Untuk mengukur pembiasan d pada film F, maka e/m dapat diperoleh. Pada
eksperimen Bucherer, partikel yang dipancarkan dari sumber dengan arah yang
berbeda jauh pada film sehingga keseimbangan X dan B konstan. Setelah mengenai film
selama beberapa saat maka gaya magnet dan listrik dipancarkan terbalik lalu film
tersebut dipancarkan kembali seperti beberapa saat sebelumnya. Untuk mengembangkan
film harus dilakukan melalui dua garis gelap simetris pada salah satu sisi garis axial yang
ditunjukkan pada gambar 5.6. Pembiasannya maksimal untuk = /2 sedangkan = 0
dan adalah pembiasannya maksimum. Diantara pembiasan secara monoton didapat
diantara dua nilai diatas.

Gambar 5.6

Jejak produk grafis pada plat fotografik pada eksperimen Bucherer.

Untuk menyusun eksperimen Bucherer maka medan magnet dan listrik diatur
sehingga X/B = c/2 dimana c adalah kecepatan cahaya dalam ruang vakum. Sehingga

tepat dengan persamaan (5.2-1),

sin =

1
2 . Karena maksimum nilai adalah 1 maka

nilai minimumnya adalah min = 300. Sehingga bekas garis gelap dan besarnya nilai
bukan mulai 00 hingga 1800 tetapi dari 300 hingga 1500. Perlu diketahui bahwa perbedaan
nilai pada garis gelap yang terlacak pada film karena partikel dari kecepatan yang
berbeda. Jika dihitung besarnya massa relativitas dari massa elektron maka rumusnya
adalah sebagai berikut

e
2 d
1
= 2 2 2
m0 B ( l +d ) 1 2

(5.2-5)

Pada penelitian Bucherer adalah max menjadi 0,7 (vmax = 0,7c). Menurut
persamaan (5.1-1), massa elektron dalam hal ini 7/5 kali dari semua massa. Eksperimen
Bucherer sesuai dengan teori relasi Einstein yaitu besarnya massa relativitas dengan

10

kecepatan. Persamaan (5.2-5) digunakan untuk menentukan nilai e/m 0 yang sesuai
dengan nilai dari beban elektron tertentu yang ditentukan oleh metode lain.
Ada beberapa sumber lain dari eksperimen Bucherer yang ditemukan yang
kemudian dikoreksi oleh para peneliti lain. Ketentuan yang telah diperbaiki tersebut
telah dijadikan sebagai tolak ukur yang lebih akurat yaitu dengan pengembangan
validitas relasi relativitas. Dalam beberapa kaitan eksperimen yang dilakukan oleh M. M.
Rogers, A. W. McReynolds dan F. T. Rogers ternyata cocok. Mereka menggunakan
elektron konversi internal dari campuran RaB dan RaC dalam eksperimennya. Elektron
konversi internal adalah mono energetik. Yang pertama mereka mengukur momentum
elektron dengan bantuan medan magnet. Kemudian elektron-elektron tersebut dibiaskan
dengan jari-jari medan magnet. Elektron mono energetik dapat menyeberangi medan
magnet dan muncul pada sisi lain bilamana medan tersebut memiliki nilai tertentu. Dari
nilai medan yang tepat e/m, maka elektron-elektron energi tinggi dapat dihitung.
5.3 Ketentuan Energi Beta
Eksperimen yang dilakukan oleh Bucherer dan Kaufmann menunjukkan bahwa
partikel dari sumber radioaktif dipancarkan dengan distribusi energi yang terus
menerus.
Distribusi energi dari partikel ditentukan dengan bantuan spektograph magnet
yang berbentuk semisirkular fokus. Alat seperti itu yang dibuat oleh Rutherford dan
Robinson dapat dilihat pada gambar 5.7 berikut ini. S merupakan kawat yang sangat tipis
yang dibungkus dengan zat radioaktif dan merupakan sumber partikel . Partikel yang
dipancarkan dari sumber S berjalan melalui celah A seperti sebuah cahaya yang sedikit
memancar secara berbeda lalu menjelaskan bahwa ada medan sirkular karena medan
magnet yang homogen serta tegak lurus dengan bidang diagram. Partikel dengan
kecepatan tertentu dalam pancaran sinar yang berbeda setelah melalui medan yang semi
sirkular kesemuanya difokuskan pada titik fotograpik plat P seperti pada gambar. Karena
pendeknya celah A maka partikel-partikel itu akan difokuskan pada bidang sepanjang
garis pendek yang tegak lurus dengan bidang kertas. Dalam kasus seperti tersebut diatas
yaitu perbedaan kecepatan pada partikel selalu difokuskan pada setiap garis fokus yang
berbeda yang paralel satu sama lain. Pemfokusan medan magnet akan dibahas pada
subbab 5.4.

11

Gambar 5.7

Semisirkular pada pusat magnetik spektograf sinar .

Untuk mencegah partikel dari sumber langsung mengenai plat film maka plat
film ditutup dengan plat timah R. semua peralatan disimpan dalam ruang yang vakum.
Karena partikel memancar dari sumber dengan kecepatan yang terus menerus,
maka garis fokus yang berbeda seperti yang diterangkan diatas akan membentuk
spektrum yang terus menerus. Karena plat tersebut selalu terkena secara terus menerus
maka akan selalu hitam (gelap) dari ujung yang paling terdekat hingga celah pada tempat
yang terjauh yang menunjukkan bahwa partikel dipancarkan dengan kecepatan dan
oleh karena itu menghasilkan nilai dari 0 hingga maksimum. Intensitas kegelapan
berbeda antar tiap titik yang berbeda dengan indikator dari intensitas partikel dari
perbedaan kecepatan yang berbeda.
Menurut Geiger Muller bahwa plat photografik tidak dapat dipakai untuk
mendeteksi dan menghitung jumlah partikel dari kecepatan yang berbeda. Dengan
mengubah posisi penghitungan disemua garis AP, maka partikel yang berbeda
kecepatan dapat dideteksi dan dihitung. Dengan demikian distribusi energi dari partikel
dari zat radioaktif yang ada dapat ditentukan. Penetapannya disebut dengan spektrometer
sinar magnetik. Pada persamaan gaya magnet karena induksi medan magnet B serta
gaya sentripetalnya adalah sebagai berikut
2

mv
=Ber
r
Atau

p=mv=Ber

(5.3-1)

12

Disini

m=

m0

1 2

adalah massa elektron telativitas,

P=mv

adalah momentum

partikel dan r adalah radius kurva dari sumber ke perhitungan. Untuk B yaitu partikelpartikel dengan momentum tinggi (energi yang lebih tinggi) merambat pada radius kurva
yang lebih besar sehingga mereka difokuskan jauh dari celah. Ada jarak maksimal dari
konter A hingga terdeteksinya partikel yang sekaligus menjelaskan keterangan diatas
yaitu partikel yang dipancarkan dengan kecepatan mulai dari 0 hingga maksimum.
Metode alternatifnya seperti menjaga posisi perhitungan secara tepat serta
perubahan B secara berangsur-angsur. Dalam hal ini r adalah konstan sehingga partikel
dari kecepatan yang tinggi difokuskan pada suatu perhitungan dengan nilai B yang lebih
tinggi.
Perlu diketahui pula bahwa spektrometer magnet mengukur momentum p dari
partikel dari semua energi yang dihasilkan, W dapat ditentukan dengan menggunakan
hubungan dari

W 2= p2 c 2 +m20 c 4

(5.3-2)

Energi kinetik dari partikel adalah

E =W m0 c 2= p 2 c 2 +m20 c 4m0 c 2

(5.3-3)

Dari persamaan (5.3-1), maka didapatkan

E = B2 e2 r 2 c2 +m20 c 4m0 c 2

(5.3-4)

Sehingga dari nilai-nilai B dan r, E B dapat ditentukan. Jumlah partikel dari


setiap EB ditentukan dengan bantuan perhitungan G-M.

13

Gambar 5.8

Distribusi energi partikel dari RaE.

Gambar 5.9

Distribusi momentum Br partikel dari isotop 198Au.

Pada gambar 5.8 diperlihatkan grafik distribusi energi dari partikel dengan
N(EB) sesuai dengan ordinat dan E B sesuai dengan absis. N(E B) d EB adalah jumlah
partikel dalam rangkaian energi EB hingga (EB + dEB) sehingga N(EB) merupakan
jumlah partikel dalam interval kesatuan energi pada energi E B. gambar menunjukkan
distribusi energi dari partikel yang dipancarkan oleh elemen radio secara alami RaE
(210Bi) ditempatkan berlawanan dengan EB. Hal itu menunjukkan adanya distribusi yang
berlangsung secara terus menerus dengan energi dari 0 hingga jumlah maksimum Em =
1,17 MeV. Perhatikan bahwa jumlah partikel dengan EB = 0 dianggap terbatas. Pada
gambar 5.9 ditunjukkan distribusi momentum dari partikel yang dipancarkan oleh zat
radioaktif buatan

109

Au (Z = 79). Absis dalam grafik ini adalah hasil (Br) yang

merupakan ukuran momentum P dari partikel (lihat persamaan 5.3-1). Namun dalam
kasus lain disebutkan bahwa jumlah partikel selalu berbeda dengan Br. Namun nilai
mutlak dari Br, beberapa perbedaan yang sangat terlihat telah ditunjukkan yaitu
kelompok elektron energetik mono berpengaruh pada distribusi tersebut secara terus
menerus. Hal ini disebut dengan interval konversi elektron-elektron atau konversi
elektron sederhana. Rutherford beserta kawan-kawan mengatakan bahwa elektron
sekunder tidak dipancarkan dari peluruhan inti yang dimana akan dibahas pada bab
6.11.
Pada tahun terakhir, spektrometer canggih telah ditemukan. Misalkan, K.
Siegbahn dari Swedia menemukan spektrometer lensa magnetik dengan fokus panjang.
Alatnya terdiri dari solenoid yang dimasukkan kedalam silinder yang terbuat dari besi

14

yang memiliki sumbu yang sama. Arus listrik yang ada didalam solenoid menghasilkan
medan magnet axial. Solenoid melapisi ruang vacuum coaxial pada salah satu ujung
dimana sumber berada. Konter GM kecil ditempatkan pada ujung lain dari partikel
dari energi yang berbeda yang difokuskan didalamnya dengan membedakan medan
magnet. Semua rangkaian merupakan lensa magnet (lihat gambar 5.4). Untuk mencegah
pancaran dari sumber agar tidak masuk dalam konter secara langsung, maka harus
dipasang layar timah antara sumber dan konter. Partikel yang dipancarkan oleh sumber
dengan sudut kecil akan terus berjalan dan terfokus pada konter yang terbuat dari mika.
Medan pemfokusan tergantung pada kecepatan partikel sehingga dengan mengubah
medan magnet, maka partikel yang berbeda kecepatan dapat dipaksa untuk masuk ke
dalam konter dengan bantuan beberapa jumlah yang dihitung.
Kemungkinan dapat menentukan distribusi energi dari partikel secara akurat
dengan menggunakan spektrometer yang powernya tinggi.
Gambar 5.11 memperlihatkan jenis spektrometer magnet lensa pendek. Solenoid
M yang merupakan lensa magnet mempunyai ukuran linear kecil dibandingkan dengan
jarak antara sumber R dan konter. Oleh karena itu namanya adalah spektrometer lensa
kecil (lihat gambar 5.4).
5.4 Fokus Partikel Bermuatan Oleh Medan Magnet.
Ada beberapa parameter penting yang dapat menetukan kerja spektrometr
magnet misalnya resolusi, faktor transmisi. Seperti halnya optik, resolusi menentukan
seberapa baik dua kelompok partikel bermuatan, dengan sedikit perbedaan energy, dapat
dibedakan/ dipisahkan oleh spectrometer magnetic. Untuk mencapai performa terbaik
pada spectrometer, hal ini seharusnya menjadi kemungkinan yang besar. Berbicara
mengenai kerja dari spektrometer ini, jika dua kelompok tidak dapat memecahkan suatu
masalah, maka setiap bagian kelompok akan dimasukkan ke dalam konter GM untuk
medan magnet yang sama dan maka bentuk energi serta distribusinya tidak akan
menghasilkan distribusi yang bagus. Beberapa faktor transmisi dari suatu instrumen
akana menentukan fraksi sejumlah partikel yang dipancarkan dari sumbernya dalam
jangkauan energi tertentu yang masuk ke dalam konter. Jumlah ini begitu penting dalam
kasus sumber yang sangat lemah.
Seperti yang kita lihat untuk electron mono- energetic, maka akan adanya agris
yang tampak pada plat fotografik. Garis yang tampak memiliki ketebalan tanpa batas
tergantung pada lebar dari celah dimana partikel itu dapat masuk ke dalam medan

15

spektrometer serta banyaknya sinar yang masuk. Jika konter GM digunakan sebagai
detector lalu jumlah variasi medan magnet akan meningkat selagi menghitung untuk
elektron mono -energetik. Alasan-alasan yang dikemukakan diatas disebabkan oleh lebar
dari celah yang tak terbatas didepan detector sehingga puncaknya memiliki jumlah yang
tidak terbatas.
Resolusi (kehalusan grafik) terhadap instrumen ditampilkan dengan istilah E/E
atau p/p dimana E merupakan kepadatan garis (tingginya resolusi) pada setengah
maksimum (FWHM) ketika energi energi mengalami nilai tertinggi. p adalah sama
dengan kepadatan momentum.

Gambar 5.10

Gerak pusat dari medan magnet terhadap spektrometer magent yang mana jenis
fokusnya berbentuk semi sirkular.

Dengan menganggap hal-hal yang paling mudah terhadap spektrometer magnet


yang mana jenis fokusnya berbentuk semi sirkular. Jika system celah membatasi
pencahayaan dalam sudut interval (lihat gambara 5.10). Partikel dari titik sumber
yang mengawali secara langsung tegak lurus dengan garis OP yang berarti bahwa bentuk
setengah lingkaran OAP ada pada medan magnet homogeny yang tegak lurus dengan
bidang kertas. Hal ini memotong faris OP pada P. Partikel dengan energi yang sama
dimulai dari 0 dengan arah tegak lurus dengan OM yang membuat sudut dengan OP
yang berarti bahwa bidang OBMQ yang berbentuk lengkung dimana OM merupakan
diameter. Bidang OBMQ berpotongan dengan garis OP pada titik Q. karena bidang
OBM itu semi lingkaran, maka sudut OQM merupakan segitiga yang tepat. Jika R adalah
radius dari dua bidang maka kita mendapatkan rumus sebagai berikut

OQ=OM cos =2 R cos

OP=2 R
Oleh karena itu jarak antara luas dari partikel pada garis OP adalah

16

PQ=OPOQ=2 R ( 1cos )

2 R 11+

2 a 4

2 24

R 2

(5.4-1)

Jika kecil. Sehingga untuk perhitungan secara tepat, maka diabaikan jarak
antara P dan Q jika sangat kecil yang berarti bahwa partikel dengan perbedaan sudut
kecil pada tempat masuk yang semuanya difokuskan pada titik yang sama. Hal ini
disebut dengan first order fokusing, sebenarnya seperti yang kita perhatikan diatas,
partikel tidak semuanya terfokus pada satu titik sehingga garis cahaya mempunyai
luas yang tidak terbatas bahkan ketika garis itu mempunyai energi mono. Jika s
merupakan luas garis pada plat fotografik, lalu dianggapnya sebagai suatu titik maka
sumber dari partikel yang terpancar terbatas pada sudut interval dengan celah serta p
adalah momentum dan bidang B yang ada dengan rumus di bawah ini

s=2 R ( 1cos ) R 2

(5.4-2)

Resolusi momentumnya adalah

p R
s 2
=
=
=
p
R 2R 2

(5.4-3)

Sudut yang cenderung dengan masuknya celah pada sumber adalah

Q=2 (1cos ) sehingga faktor transmisi adalah sebagai berikut

1cos

2
Q
T=
=
4
Nilai-nilai tertentu adalah

(5.4-4)

R
1 dan T 0,1
R

Ketidakpastian E pada nilai absolute energi seperti yang dikur dengan


spektrometer tergantung pada permulaan dimana medan magnet dapatdiukur. Hal itu
juga tergantung pada keseragaman medan.

17

Plat fotografik digunakan sebagai detector yang biasanya ketika magnet yang
permanen digunakan karena diperlukan sorotan lama dengan catatan bahwa medan harus
tetap kuat. Lebih sering digunakan adalah denga menggunakan electromagnet serta
konter pada posisi yang tepat lalu membedakan medan magnet agar partikel yang
berbeda masuk kedalam konter. Dengan menulis N(P)/P terhadap B maka akan diperoleh
momentum spektrum.
Dalam hal bidang partikel yang terpancar dari sumber S pada sudut dengan
aksis solenoid adalah helix dan medan magnetnya adalah axial. Setelah menjelaskan satu
lingkaran penuh, maka helix memotong axis pada fokus F dimana konter berada.

Gambar 5.11 (a) menunjukkan adanya proyeksi bidang helix pada bidang kertas.
(b) Medan magnet spektrometer lensa kecil.
Jika v adalah kecepatan partikel , maka komponennya akan tegak lurus dengan
axis adalah v sin sehingga rumusnya dapat ditulis sebagai berikut

m ( v sin )
Bev sin =
R
Atau

18

R=

mv sin
Be

(5.4-5)

Jika kecepatan sudut tentang axis adalah sebagai berikut

v sin Be
=
R
m

(5.4-6)

Dan waktu periodenya adalah

T=

2 2 m
=

Be

(5.4-7)

Bagian v cos dari kecepatan partikel tidak terpengaruh oleh medan magnet.
Sehingga untuk memfokuskan setelah lingkaran helix maka rumusnya adalah sebagai
berikut

SF=l=v cos x T =

2 mv cos
Be
2

2 p

1 +
Be
2 24

(5.4-8)

Karena jarak l adalah sudah betul, maka rumusnya adalah P B. Ketika naik
maka l akan turun untuk energi yang ada (yaitu P) sehungga daerah fokus akan meluas
disepanjang axis.
Gambar 5.11 (a) menunjukkan bahwa lintasan dari sinar yang berbeda akan
memotong titik sebelum axis. Hal ini akan menimbulkan daerah celah sepanjang axis.
Pada spektrometer jenis lensa panjang, selonoid meluas dari sumber hingga
konter. Medannya harus benar-benar homogen pada semua bagian yang tidak mudah
didapat. Untuk alasan ini, spektrometer lensa pendek lebih baik. Medan dihasilkan oleh
aliran arus pada solenoid jarak pendek didaerah pusat antara sumber dan konter yang
mudah dimasuki. Orientasi dari alat kumparan ini sangat sukar untuk memberikan
simetri silinder tentang garis yang menghubungkan sumber dengan konter.
Semua instrumen diatas adalah jenis fokus tunggal yang berarti bahwa mereka
membentuk bayangan garis dari titik sumber. Alat yang memiliki fokus ganda telah pula
direncanakan yang membentuk titik sumber. Prinsip pemfokusan dari partikel muatan
oleh medan magnet merupakan alat yang penting untuk mendesain spektrometer massa.

19

5.5 Energi dari Peluruhan


Tiga jenis dari peluruhan yang berbeda telah diamati. Mereka diantaranya
yaitu peluruhan -, peluruhan +, serta penangkapan elektron bebas. Dari kesemuanya
yang ada jumlah massa A dari inti induk tetap tidak berubah. Hanya jumlah atom Z
berubah dengan satu unit. Karena A = Z + N dimana N adalah jumlah neutron hal ini
berarti bahwa seluruh jumlah neutron dan proton pada inti tetap tidak berubah setelah
peluruhan . Pada peluruhan , Z naik dengan satu unit menjadi (Z + 1) sehungga N
turun menjadi (N 1). Hal ini terjadi arena satu neutron dalam inti dipindahkan menjadi
satu neutron.
Banyak radioaktif buatan ditemukan dan telah mengalami peluruhan + atau
positronnya adalah anti partikel elektron. Peluruhan + memiliki massa yang sama
dengan elektron namun meiliki muatan yang berlawanan (+ e). Jika inti mengalami
peluruhan * maka akan kehilangan satu unit muatan positif sehungga Z turun menjadi
(Z 1) dan N naik menjadi (N + 1). Hal ini terjadi karena satu proton dalam inti berubah
menjadi neutron.
Akhirnya, pada proses penangkapan elektron bebas yang mana pengamatan
diantara banyak pembuat inti radioaktif buatan, proton berada didalam inti dengan
penangkapan dalam orbit elektron dan merubahnya menjadi neutron. Dengan demikian
maka peluruhan +, Z berkurang menjadi (Z 1) dan N bertambah menjadi (N + 1) pada
penangkapan elektron bebas tipe peluruhan .
Jika peluruhan - dari inti atom X dari massa atomic M (A, Z) masuk kedalam
inti atom Y dari atom massa M (A, Z +1), maka rumusnya adalah sebagai berikut
A
Z

X Z+1AY +

Dengan menggunakan rumus Einstein E = mc2 antara massa (m) dan energi (E)
dari satu partikel maka kita dapat menulis peluruhan energi dalam peluruhan akrena
perbedaan antara massa inti, maka rumusnya adalah sebagai berikut
2

=[ M n ( A , Z )M n ( A , Z +1 )M e ] c
Q

Jika semua massa ditulis dalam unit energi maka persamaannya adalah sebagai
berikut

20

=[ M ( A , Z )Z M e M ( A , Z +1 )+( Z+ 1) me me ] c 2
Q
[ M ( A , Z ) M ( A , Z+ 1) ] c 2

(5.5-1)

Dalam persamaan diatas, kontribusi dari elektron yang mengikat energi atom
telah diabaikan. Maka persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut

=[ M ( A , Z )M ( A , Z +1) ]
Q

(5.5-2)

Dari persamaan diatas memberikan pengaruh terhadap energi elektronik


pengikat dari atom yang diabaikan
A
Z

dan

+
X Z1A Y +

+
2
=[ M n ( A , Z )M n ( A , Z1 )m e ] c
Q

[ M ( A , Z ) Z M e M ( A , Z 1 )+(Z1)me me ] c 2
[ M ( A , Z ) M ( A , Z 1 )2 me ] c 2

(5.5-3)

Dengan jelas maka kita akan mendapatkan energi massa dari tiap unit, untuk
awal kita mendapatkan

+=M ( A , Z )M ( A , Z1 )2 m e
Q

(5.5-4)

Yang terakhir dari permasalahan dari proses penangkapan elektron bebas dapat
ditulis
A

Z1Y
A

Z X +e
Karena elektron dalm orbitnya memiliki ikatan energi B, maka harus dikurangi
dari energi yang dibebaskan dalam proses penangkapan elektron. Untuk mendapatkan
peluruhan energi Qe

Q e =[ M n ( A , Z )+ me M n ( A , Z1 ) ] c 2Be

21

[ M ( A , Z ) Z m e M ( A , Z 1 )+(Z1) m e m e ] c 2
2

[ M ( A , Z ) M ( A , Z1 ) ] c Be

(5.5-5)

Oleh karena itu peluruhan dapat terjadi jika massa dari induk atom X lebih
besar daripada anak atom.

Qe =[ M ( A , Z ) M ( A , Z 1 ) ]Be

(5.5-6)

Dari persamaan (5.5-2) menunjukkan bahwa

>0
Q

sehingga peluruhan - menunjukkan jika massa induk atom


jumlah massa dari induk atom

A
Z+1

A
Z

jika

M (A , Z +1)
M ( A , Z ) >

lebih besar daripada

Y .
+

Dalam persamaan lain yaitu persamaan (5.5-4) menunjukkan bahwa

jika

>0
Q

M ( A , Z ) M ( A , Z 1 )2 me sehingga peluruhan + dimungkinkan jika massa

induk atom lebih besar daripada penjumlahan dari massa produk atom dan dua kali dari
massa elektronik. Karena elektron memiliki semua energi 0,511 MeV yang berarti bahwa
massa induk atom harus lebih besar daripada anak atom (yang keduanya ditulis dalam
unit energi) dengan jumlah sedikitnya sama dengan 1,022 MeV.
Akhirnya, dalam masalah penangkapan elektron bebas akan didapatkan
persamaan (5.5-6) yaitu

Qe > 0

jika

M ( A , Z1 )> M ( A , Z 1 ) . Hal ini berarti

bahwa penangkapan elektron peluruhan memungkinkan jika massa dari induk atom
A
Z

lebih besar daripada anak atom

A
Z+1

dengan paling sedikit elektron yang

mengikat energi.
Jika elektron yang mengikat energi Be kecil seperti misalnya atom yang lebih
ringan maka kondisi ini akan mengurangi hingga M(A,Z) yang lebih besar daripada

M ( A , Z1 ) .

22

Penangkapan elektron dari peluruhan dan peluruhan + akan bergabung menjadi


satu dalam inti yang sama jika keduanya memenuhi. Jika persamaan (5.5-6) memenuhi,
tapi tidak persamaan (5.5-4) lalu kemudian hanya penangkapan elektron yang mungkin
namun bukan peluruhan +. Lihat rumus dibawah ini

73 Li
7

4Be + e
Peluruhan tidak akan terjadi dengan emisi karena perbedaan massa atom dari
dua inti yang mana 0,864 MeV lebih kecil dari

2 me c 2=1,022 MeV .

Dipihak lain kekurangan 80Br hingga 80Se dapat terjadi baik oleh hilangnya +
dan penangkapan elektron dengan rumus sebagai berikut
80
35

Br 80
34 Se +

80
34 Se
80

35 Br +e
Perbedaan massa atom antara dua inti adalah 2,66 MeV yang lebih besar dari

2 me c

5.6 Asal Usul Tidak Terhentinya Spektrum : Hipotesis Neutrino


Seperti yang dibahas pada bab 5.3 elektron kedua yang menimbulkan hubungan
yang berlainan yang tidak terpancar dari peluruhan inti . Hanya beberapa elektron pada
bagian spektrum yang terus menerus mengeluarkan emisi selama proses peluruhan
dari inti.
Bagian disekitar lengkung distribusi energi pada gambar 5.8 atau 5.9 sebanding
dengan seluruh elektron yang dipancarkan. Biasanya didaerah yang erlainan yang kecil
kemungkinan dibandingkan dengan didaerah yang didstribusi secara terus menerus
(tidak lebih dari beberapa persen) yang menunjukkan bahwa sejumlah elektron kedua
yang membentuk bagian hanya beberapa persen saja dari semua peluruhan yang
terpancar.

23

Pengukuran secara cermat telah menunjukkan bahwa sejumlah elektron


termasuk elektron yang berada diatas demikian pula didalam spektrum yang sedikit lebih
besar dibandingkan dengan jumlah inti yang mengalami peluruhan . Terakhir yang
emmbuat menjadi sama dengan jumlah eketron dalam spektrum yang sekaligus
menunjukkan adanya elektron yang terpancar selama peluruhan yang membentuk
hanya spektrum dan tidak termasuk bagian teratas.
Baik peluruhan - maupun +, banyaknya partikel-partikel yang terus
didistribusikan berupan energi atau kecepatan antara 0 hingga diatas maksimum. Tentang
penangkapan elektron, tidak ada partikel yang dapat diamati yang terpancar dari inti.
Hanya foto sinar X elektron Auger yang merupakan cirri-ciri dari produk atom yang
terlihat.
Kita telah melihat sebelumnya bahwa selama proses peluruhan sejumlah
massa A tetap tidak berubah sedangkan jumlah atom Z berubah. Hal ini berarti bahwa
baik neutron yang berubah menjadi neutron (peluruhan + atau dalam proses
penangkapan elektron) sehingga jumlah semua proton dan neutron (Z + N = A) tetap
tidak berubah.
Studi penelitian tentang peluruhan menunjukkan bahwa spectra partikel
berlainan bentuknya yang menunjukkan bahwa inti ada dalam energi yang berlainan
seperti yang diharapkan pada mekanika kuantum untuk system mikro tertutup.
Perpindahan antara tingkat yang berlainan dalam inti induk serta inti produk
menimbulkan pancaran mono energetik dari partikel .
Kesimpulan yang sama ditarik dari hasil penelitian spektrum sinar . Karena
adanya perpindahan antara tingkat energi yang berlainan pada inti induk serta inti produk
dalam proses peluruhan , maka partikel juga akan dipancarkan dengan satu atau
beberapa energi yang tertentu, atau adanya perbedaan energi antara yang pertama dan
yang terakhir atau kurangnya energi massa dari partikel . Namun pancaran energi
yang terus menerus bertentangan dengan harapan. Sehingga adanya prinsip konservasi
energi pecah dalam hal ini adalah peluruhan . Perlu diketahui bahwa peluruhan energi
Q yang dibahas pada subbab 5.5 sesuai dengan perbedaan massa energi antara inti induk
sdan inti produk yang sedikit memiliki energi elektron baik untuk peluruhan - maupun
+ yang menyamai energi maksimum E dari partikel yang dipancarkan.

24

Gambar 5.12

Transisi diantara dua distrik energy yang menyatakan induk (X) dan anak inti
(Y) menunjukkan penurunan penampilan dari kekekalan energi.

Beberapa hal yang membingungkan tentang peluruhan adalah gagalnya prinsip


kekekalan momentum angular. Kita tahu bahwa proton dan neutron yang terdiri dari inti

atom memiliki putaran momentum

s=

1
2

(dalam tiap unit ). Jika jumlah bilangan

inti A itu genap maka total putaran momentum angulernya dari inti S = s adalah 0 atau
integral. Namun jika bilangan A itu ganjil maka S merupakan integral ganjil. Lagipula
mungkin memiliki orbital meomentum angular L yang hanya merupakan integral lipat
dua dari . Karena jumlah semua momentum anguler dari inti (putaran inti) adalah I = L
+ S, maka nilai l merupakan integral atau setengah integral ganjil pada bagian yang
tergantung pada apakah jumlah inti A dalam inti itu ganjil atau genap. Misalkan jika A
genap, maka l adalah integral atau 0. Sehingga dalam proses peluruhan , karena A ettap
tidak berubah, maka l akan tetap integral atau 0 yaitu l tidak berubah atau perubahan
oleh integral lipat dua . Dan hal sama juga pada A bilangan ganjil.
Sekarang pada hakikatnya elektron memiliki putaran sehingga selama proses
pancaran terjadi dari inti maka akan menghilangkan unit integral ganjil dari
momentum anguler karena ada perubahan pada momentum anguler sebesar perkalian
integral ganjil . Sejauh ini pemancaran dari elektron pada dasar perubahan pada
momentum anguler sebesar perkalian integral ganjil yang selalu bertentangan
dengan apa yang telah ditetapkan diatas yaitu dalam proses peluruhan I yang akan
berubah dengan integral lipat dua dari .
Untuk menjelaskan persamaan itu, Wolfgang Pauli pada tahun 1930 berpendapat
bahwa pada saat proses permulaan peluruhan sampai saat ini yang tidak diamati

25

merupakan partikel ke dua yang memancarkan elektron sehingga menghilangkan


keseimbangan energi

Ev = EmE

sehingga seluruh energi dari kedua partikel itu

sama mencapai energi (Em) maksimum. Jika elektron terpancar dengan energi kinetik 0
maka partikel kedua terpancar dengan energi E v = Em secara maksimum. Sebaliknya jika
elektron dipancarkan dengan energi Em maka partikel lain akan memiliki energi Ev = 0.
Disini kita telah mengabaikan energi dari inti yang terpental yang menyebabkan
peluruhan karena energinya lebih berat dibandingkan dengan partikel yang
dipancarkan. Partikel yang baru ini oleh Pauli diberi nama Neutrino. Pastinya memiliki
bentuk fisik yang lebih rumit untuk dideteksi. Sebenarnya pengamatan ini sudah tidak
diungkapkan selama lebih dari 25 tahun setelah Pauli mengumumkan hasil hipotesisnya.
Kita dapat menerka apakah neutrino itu:
1. Neutrino (v) harus dihubungkan dengan kelistrikan arus netral sehingga satusatunya perubahan pada muatan inti selama peluruhan disebabkan oleh emisi
dari elektron atau positron atau karena penangkapan dari elektron bebas. Hal ini
sesuai dengan observasi.
2. Massa neutrino harus 0 atau paling tidak mendekati 0. Ini sesuai dengan fakta
bahwa energi Em maksimum dari elektron yang terpancar sama dengan
perbedaam energi massa antara inti induk dan inti produk yang memiliki energi
diam elektron. Jika neutrino memiliki massa yang tidak terbatas maka seluruh
energinya juga berkurang untuk mendapatkan Em.
3. Spin neutrino harusnya , sehingga dua putaran partikel terpancar selama
proses peluruhan . Oleh karena itu keduanya bersama-sama akan menarik
integral bagian dari momentum anguler yang sesuai dengan penjelasan diatas
dengan menghubungkan perubahan dari momentum anguler pada peluruhan .
4. Neutrino harus sesuai dengan statistic Fermi-dirac seperti elektron karena spinya
adalah .
Seorang ahli fisika berkebangsaan Italia Enrico Fermi merupakan ilmuwan
pertama yang mengulas tuntas tentang teori peluruhan berdasarka hipotesa neutrino
(1934). Menurut Fermi, peluruhan terjadi karena adanya perubahan neutron menjadi
proton didalam inti dengan emisi elektron dan anti neutrino ( v ) yang merupakan anti
partikel neutrino yang sama halnya dengan positron yaitu anti partikel elektron.

26

+ v
n p+ e

(5.6-1)

Setiap proses peluruhan sebenarnya sudah sering diamati yaitu neutron bebas
yang waktu paruhnya 10,6 menit ketika berada diluar inti. Perubahan terbalik dari proton
menjadi neutron melalui emisi positron dan neutrino juga terjadi didalam inti dalam
proses peluruhan .

++ v

p n+ e

(5.6-2)

Namun perubahan ini tidak akan terjadi bila proton bebas karena cadangan
energi tidak sepadan sehingga proton lebih ringan daripada neutron. Perlu dicatat bahwa
elektron, positron, neutrinos dan anti-neutrinos akan lepas dari inti dalam proses
peluruhan yang tidak ada didalam inti. Semuanya itu ada pada saat proses peluruhan
yaitu peluruhan ada pada saat transisi radioaktif didalam atom (atau didalam inti). Hal
ini tidak akan terjadi pada peluruhan inti karena dua proton dan dua neutron
membentuk partikel yang sudah ada didalam peluruhan inti.
Jika peluruhan tidak mungkin terjadi karena intinya paling berat, maka
berbeda halnya dengan peluruhan yang dimulai dari inti yang paling ringan pada A = 1
(didalam neutron) hingga beberapa inti yang paling berat yang dikenal bentuknya
ataupun produk tiruannya.
Energi yang dibebaskan dalam proses peluruhan juga berbeda-beda besarnya.

Misalnya peluruhan

3
1

dalam proses peluruhan

H 32 He + . Peluruhan energi hanya 0,02 MeV sedangkan

12
5

B 126C + yaitu 13,4 MeV.

Bentuk neutrinos memang sukar dideteksi. Karena neutrinos tidak membawa


beban dan tidak dapat memproduksi ionisasi pada benda. Sehingga metode yang biasa
untuk mendeteksi beberapa partikel yang dimuati tidak menampakkan pendeteksian.
Disamping itu zat ini juga tidak memiliki massa sehingga tidak dapat mentransfer energi
kedalam partikel lainnya dengan cara pembelahan elastic. Oleh karena itu metode yang
dipakai dalam masalah pendeteksian partikel yang netral seperti neutron tidak dapat

27

digunakan dalam hal ini. Ada beberapa alasan yang dapat dipercaya yang dapat
dipercaya dimana matahari memancarkan neutrinos sebanyak mungkin. Dengan
demikian Bumi yang terus menerus dibombardir oleh neutrinos. Sudah dapat dipastikan
bahwa 1014 neutrinos lepas mengenai tubuh manusia setiap saat. Namun kemungkinan
interaksi dengan atom didalam tubuh sedemikian kecil dan bahkan tidak akan
bertabrakan selama bertahun-tahun. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tidak ada
bukti langsung dalam pendeteksian neutrino dalam kurun waktu yang lama. Akhirnya
pada tahun 1956 dua ilmuwan asal Amerika Serikat F. Reines dan C. L. Cowan Jr telah
berhasil mendeteksi neutrino secara langsung.
Seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan bahwa neutrino (v) memiliki
anti partikel yang dikenal sebagai anti neutrino ( v ). Neutrino dipancarkan pada
waktu peluruhan + serta dalam proses penangkapan elektron sedangkan dalam proses
penangkapan elektron dipancarkan pada waktu peluruhan -. Perhatikan rumus dibawah
ini:
Peluruhan

+ v }
{ X Z +1A Y +
A
Z

(l =0
Peluruhan +

-1)

+ +v }
{ X Z1AY +
A
Z

(l =0

Penangkapan elektron

(5.6-3)

-1

(5.6-4)
1)

+ v }
X + e Z1AY +
{
A
Z

(l =0

(5.6-5)

1)

Neutrino dan anti neutrino merupakan partikel yang kurang muatan maupun
kurang massa dengan perputaran instrinsik sama ( 1/2). Dapatlah dipercaya bahwa
perbedaan antara keduanya terletak pada fakta bahwa perputaran vektor S dari neutrino
bersifat antiparalel dengan momentum linearnya P sedangkan untuk anti-neutrino kedua
vektor paralel seperti yang terlihat pada gambar 5.13 dan sub bab 5.18.

28

Gambar 5.13

Neutrino dan anti neutrino.

Partikel itu berinteraksi sangat lemah seperti elektron, positron, neutrino, dan
anti neutrino yang termasuk kelompok partikel dasar yang disebut leptons. Biasanya kita
menghubungkan nomor lepton l dengan elektron, positron, neutrino dan anti neutrino.
Untuk elektron dan neutrino kita beri rumus l = +1. Untuk anti partikel positron dan anti
neutrino kita beri rumus l = -1. Pada waktu proses peluruhan , ada cadangan lepton
yang berarti bahwa l tetap sama sebelum ataupun setelah peluruhan. Misalkan: pada
peluruhan - l = 0 (lihat contoh). Lihat contoh pada sebelah kanan: jumlah total lepton
adalah 1-1 = 0 sehingga bilangan lepton dicadangkan. Hal yang sama juga terjadi pada
peluruhan +. Pada contoh penangkapan peluruhan elektron l = +1 keduanya ada
disebelah kanan dan kiri. Sehingga konservasi bilangan lepton memenuhi.
5.7 Teori Fermi tentang Peluruhan yang Diizinkan
Enrico Fermi membuat teori tersebut pada tahun 1934 untuk istilah mengijinkan
peluruhan berdasarkan hipotesa Pauli tentang neutrino. Fermi tekah menetapkan
teorinya yaitu hasil dari pembuatannya yang membingungkan menurut tingkat transisi
dari pertama dengan kode I dan akhir dengan kode f yang ditulis dengan menjabarkan

w=

2
2
H ij| ( E )
|

(5.7-1)

Dimana Hij adalah elemen matrik dari interaksi gangguan H karena transisi dan
dijelaskan dalam

H ij = f H i d

(5.7-2)

Perbaikan Coulomb
Gelombang elektron dipengaruhi oleh medan Coulomb dari inti oleh karena
itu bukan gelombang bidang seperti yang telah diterangkan diatas. Sebenarnya ada dua
jenis perbaikan Coulomb.
1. dipengaruhi oleh medan listrik nuklir. Prakiraan yang paling sederhana adalah
dengan melakuakn perbaikan pada elektron sebagai suatu permasalahan yang

29

berhubungan dengan medan elektrostatis pusat dari inti serta mengesampingkan


elektrik berlipat empat dan momen magnetik. Fungsi gelombang radial dalam
hal ini berbeda dengan fungsi bidang gelombang dengan dua cara. Yang pertama
mempunyai normalisasi yang berbeda karena kecepatan Coulomb, waktu yang
diperlukan bila mendekati inti juga berbeda. Yang kedua elektron relativistic
memiliki ketergantungan radial yang berbeda. Perbaikan Coulomb dapat
ditentukan dalam batas non relativistic menurut persamaan berikut
2

| ( 0 )|
2
F ( Z , E )=
=
2
| ( 0 )|free 1exp(2 )

(5.7-

22)
2

Dimana

Sekarang

| ( 0 )|free
=

Z e2
v

fungsi gelombang elektron tanpa pengaruh Coulomb.

untuk elektron dan

Z e 2
v

untuk positron. Z

adalah nomor inti produk, v adalah kecepatan elektron yang jauh dari inti.
Perbaikan Coulomb meningkatkan kemungkinan emisi elektron dan menurunkan
kemungkinan emisi positron khususnya pada tingkat energi rendah. Pada energi
yang tinggi, gaya Coulomb kehilangan pengaruh pada bentuk spektrum yang
hampir sama dengan pengaruh yang terhitung tanpa perbaikan Coulomb.
Jika pengaruh relativitas diperhitungkan maka faktor Coulomb nuklir untuk
medan Coulomb asli (tidak ada muatan) menjadi
2

( 1+ s ) exp ( ) | ( s+i )|
2 ( s1)
F ( Z , E )=
.
. ( 2 R )
2
2
1
( 1+2 s )
2

(5.7-

23)
Sekarang

2 1 /2

s=[ 1( Z )

; dimana

e2
4 0c

Sommerfelds sangat

bagus untuk susunan tetap dengan menurut urutan angka ~1/137. adalah
momentum tiap bagian dari mec2.

30

Untuk

1
,

F ( Z , E ) 1

2. Pengaruh lain yang membutuhkan perbaikan adalah menaring muatan nuklir


dengan elektron atom yang lebih penting untuk emisi positron daripada untuk
emisi elektron. Untuk emisi elektron, perbaikan maksimum adalah -5%. Hal itu
tidak tergantung pada E kecuali pada energi yang sangat rendah (<35 hingga V).
untuk emisi positron energi yangs angat rendah, faktor perbaikannya mungkin
sebesar 10 untuk Z tinggi.
Jika perbaikan Coulomb diperhitungkan maka r, h, s dari persamaan (5.7-21)
dikalikan dengan fungsi f (Z, E) atau F(Z, ) sehingga didapat rumus

P ( p ) d p =

2
g2
2
2
M if | F (Z , P ) p ( E mE ) d p
3 3 7|
2 c

(5.7-24)

Jika jumlah partikel yang terpancar perdetik dalam jangkauan momentum p


menuju

( p +dp )

N ( p ) d p

adalah

maka total semua emisi perdetik

adalah N0, yaitu

N ( p ) dp =N 0 P( p )dp
A F ( Z , p ) p2 ( Em E )2 d E

(5.7-25)

Dimana A tetap dengan rumus sebagai berikut


2

g N
2
A= 3 3 0 7 |M if |
2 c

(5.7-

26)
2

Nilai dari

|M if |

adalah tidak pasti tanpa pengetahuan yang mendukung yang

berhubungan dengan bentuk operator interaksi 0 atau fungsi gelombang nuklir ui


2

dan uif. Untuk memenuhi transisi

|M if | 1

yang mana membuat

A=

g N0
3 3

2 c

(5.7-

27)
Bentuk Spektrum
Dari persamaan (5.7-25) memberikan distribusi momentum dari emisi partikel .
Diperoleh distribusi energi sehingga total energi dari partikel adalah sebagai berikut

31

W =E + me c 4 = p2 c 2 +m2e c 4

(5.7-28)

Dimana

( E + me c 2) =E2 +2 E me c 2+ m2e c 4 =p 2 c 2 +m2e c 4

Atau

E +2 E me c =p c

2 ( E +me c 2 ) dE =2 c 2 p dp

Selanjutnya
2

E +m c
p dp = 2 e dE
c

(5.7-

29)
Kemudian

E
E ( + me c 2)
(5.7-30)

c2
p2 =
Karenanya akan diperoleh persamaan (5.7-25)

N ( E ) dE =N ( p ) dp

A
F ( Z , p ) p ( E +me c 2) ( E mE ) 2 dE
2
c

C F ( Z , p ) { E ( E m e c

2 1 /2

)}
2

( E + m e c 2 ) ( Em E ) dE

(5.7-31)

Dimana C = A/c3 yang lain tetap. Saat E sangat besar (< mec2) persamaan (5.371) menjadi

N ( E ) dE =C 1 F (Z , p ) E ( EmE )2 dE

(5.7-

32)
Untuk yang rendah
membuat

Z , F(Z , p )

N ( E ) = 0 selama

akan selalu tetap (1) yang mana akan

E 0 untuk keduanya baik - ataupun +. Untuk Z

32

yang bernilai besar akan memiliki pertimbangan perbaikan Coulomb. Untuk itu juga

|| menjadi besar maka diperoleh emisi -

F( Z , p ) 2 1/ E

Dan

N (E ) dE

(5.7-33)

1
E ( Em E )2 dE

E2m dE

(5.7-33a)

Untuk energi yang rendah. Maksudnya jika ada nilai nol (0) dari energi partikel
tidak berarti tidak ada energi. Dalam rumus diatas, untuk partikel + memiliki energi
yang sangat rendah, dimulai pada saat memiliki besaran negatif, maka akan diperoleh

F( Z , E)

1
exp (b E )
E

(5.7-

34)
dan

N (E )dE E2m exp (b E ) dE


Sebagai

E 0 , akan membuat

N ( E )=0

(5.7-35)
hal ini karena faktor

eksponensial.

Gambar 5.14

(a) Distribusi energi Fermi partikel . (b) Distribusi momentum.

Bentuk-bentuk garis lengkung distribusi seperti yang terlihat pada gambar


5.14a. Perlu diperhatikan disini bahwa E jika kita merencanakan momentum p yang
mendekati absis maka jumlah baik - maupun + adalah nol karena

p 0

ketika pengaruh kekuatan Coulomb itu diperhitungkan (lihat gambar 5.14b).

bahkan

33

34

Currie Plot
Persamaan (5.7-25) diperoleh

N ( p )
p2 F ( Z , p )

1/ 2

=K ( Em E )

(5.7-

36)
Disini K adalah konstan. Persamaan (5.7-36) menunjukkan bahwa perencanaan
fungsi pada sebelah kiri dari persaamaan E adalah garis lurus dengan garis landai
negatif yang memotong absis pada E = Em. Model grafik ini disebut dengan Currie
Plot. Pada gambar 5.15 menunjukkan Currie plot untuk mengijinkan peluruhan yang
merupakan garis lurus yang sesuai dengan teori.

Gambar 5.15

Plot Kurie.

Kadang-kadang perbedaan ada garis lurus Currie plot. Hal ini disebabkan oleh
dua alasan sebagai berikut.
1. Dilarangnya transisi (perpindahan) yang biasanya menyebabkan gambar grafik
berbentuk cekung keatas. Teori ini akan dimodifikasi.
2. Alasan lain untuk suatu perbedaan adalah spektrum kompleks karena transisi
ke dua bagian yaitu anak inti atau lebih (lihar gambar 5.16a). Situasi ini sama
dengan emisi sinar dengan struktur yang bagus. Transisi ke posisi atas
biasanya diikuti dengan emisi sinar atau perubahan internal elektron (lihat
gambar 5.16b).

35

(a) Spektrum kompleks dengan dua pengamatan. Garis akhir adalah 0,63 MeV

Gambar 5.16

dan 1,33 MeV. (b) Pergantian

187

187

Re menghasilkan spektrum

kompleks

Massa Neutrino
Perlu diketahui bahwa bentuk kurva distribusi dekat titik akhir adalah

E =E m

tergantung pada massa neutrino mv. Perhitungan sederhana menunjukkan

bahwa keadaan populasi p(Em) sama sebangun dengan momentum neutrino untuk

( E =E m )

1 /2

. Kurva distribusi untuk mv 0 lalu mendekati batas atas dengan garis

singgung tegak lurus dan bukan garis singgung mendatar untuk m 1 = 0. Lihat pada
skema gambar 5.17. Ekpserimen terkini yang dilakukan oleh Lubinov dan yang lainnya
(1980) terhadap peluruhan

Gambar 5.17

3 H 3 H

memiliki nilai

14 eV < m ( v ) < 46 eV .

Pengabaian massa neutron pada kurva distribusi . (a) untuk mv = 0. (b) untuk
mv 0.

5.8 Memperbolehkan dan Melarang Transisi


Teori Fermi tentang peluruhan menunjukkan hubungan antara peluruhan
tetap dari inti serta energi maksimum (Em). Dengan melakukan peluruhan persamaan

36

(5.7-24) telah mendapatkan total kemungkinan perdetik tentang emisi partikel untuk
semua momentum 0 hingga maksimum Pm.
m

P( p )dp
0

m
2

C F ( Z , p ) p ( E mE ) d E

(5.8-1)

Dimana

C=

2
g2
M if|
3 3 7|
2 c h

(5.8-2)

Pengintegrasian sangat sesuai untuk menerima alasan mengikuti transformasi.

=E /me c 2 , =p /me c

dan

(5.8-3)

adalah dimensi dari bentuk energi dan momentum. Dengan

menggunakan persaman (5.3-3) kita dapatkan

Em E =W mW = p2m c 2 +m2e c 4 p2 c2 +m2e c 4


me c

[ 1+ 1+ ]
2
m

Dimana perlu digarisbawahi bahwa m merupakan maksimum dari energi dan


momentum.

g2
2
3 3 7 | M if | F ( Z , ) m2e c 2 2
2 c
0
2

m e c
Untuk elemen Z rendah,
2

g c me
3

2
m

F ( Z , )=1 , kita dapatkan


2

M if | { 1+ 2m 1+ 2}
7 |
2

{ 1+ 1+ } m c d

2 d

(5.8-4)

37

g2 c 4 m5e
2
M if | f ( m )
3 7 |
2

(5.8-5)

Sehingga kemungkinan peluruhan meningkat sesuai dengan peningkatan nilai


2

|M if |

. Faktor perkalian

f ( m ) terhadap persamaan (5.8-5) adalah tetap jika

|M if |

dianggap tetap. Karena total kemungkinan dari disintegrasi perdetik tidak ada

0,693/

maka dianggap peluruhan tetap yaitu

, menjadi setengah penggerak

maka akan didapat rumus sebagai berikut

g 2 c 4 m5e
2
ln 2
M if | f ( m )=
3 7 |

2
f ( m )=

atau

g2 c 4 m5e ln2
2

2 3 7|M if |

=konstan

(5.8-6)

Nilai tetap pada persamaan (5.8-6) yang sebelah kanan tergantung pada bidang
2

elemen matriks

|M if |

yang sebaliknya tergantung pada fungsi gelombang dari inti

induk maupun inti produk yang juga tergantung pada kekuatan interaksi yang
meyebabkan peluruhan lemah.
Produk

f (m)

disebut perbandingan paruh waktu. Persamaan (5.8-6)


2

menunjukkan nilai yang lebih besar dari

kecil. Sehingga nilai kecil dari

f (m)

|M if |

maka perbandingan paruh waktu lebih

menunjukkan kemungkinan peluruhan lebih

besar dan sebaliknya. Perbandingan paruh waktu dapat ditentukan dengan menghitung
integral pada persamaan (5.8-5) yaitu lihat rumusnya

38

f ( m )= { 1+ 2m 1+2 } 2 d
0

1
1
1
m 3m + 5m
4
12
30
+1
2
2
1+m ln (m + 1+m )
4

Persamaan (5.8-7) memberikan nilai batasan


kecil

(5.8-7)

f (m)

untuk nilai besar dan

m , yaitu:
1 5

5
f

(
)
m
m
Untuk,
,
30 m
Untuk,

2
m 0,5 , f ( m )=
7
105 m

Antara batas nilai ,

(5.8-8)

f ( m ) harus dihitung dengan menggunakan formula yang

lebih tepat yaitu persamaan (5.8-7). Lihatlah tabel 5.1 dibawah ini.
Tabel 5.1

0,05

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

1,48x10-11

1,9x10-8

2,44x10-7

4,17x10-6

3,12x10-5

1,4x10-3

1,0

2,0

3,0

4,0

5,0

6,0

7,0

8,0

1,153x10-2

0,707

6,54

29,96

95,45

243,5

534,6

1092

f (m)
m

f (m)

Pada perhitungan

f (m)

diatas kita yakin bahwa itu adalah bidang

gelombang untuk elektron. Jika terjadi penyimpangan karena medan Coulomb dihitung

39

maka faktor

F ( Z , )

harus dipertahankan dalam integrasi pada persamaan (5.8-4).

Kemudian integrasi memberikan fungsi

f ( Z , m )

untuk mengganti

f (m)

sehingga kita mendapat rumus sebagai berikut.


2

f ( m )=

g c me ln2
3

2 |M if |

=konstan

(5.8-9)
2

Nilai konstan pada rumus diatas menyangkut

|M if |

yang mana seperti yang

kita perhatikan tidak dapat dievaluasi secara tepat. Karena adanya transisi yang masuk
akal maka biasanya dilakukan gabungan.
Dengan menggunakan nilai integral yang telah ada pada persamaan (5.8-7) maka
dapatlah diperkirakan perbandingan paruh waktu terhadap perbedaan inti dari suatu teori
tentang paruh waktu. Hal ini akan membantu kita menentukan nilai konstan g dengan
cara memberikan dorongan pada interaksi yang lemah.
Jika nilai

( log 10 f )

dihitung untuk mengetahui perbedaan pancaran dengan

menggunakan nilai eksperimen Pm dan maka nilai-nilai akan terlihat pada suatu
kelompok seperti yang terlihat pada gambar 5.18. Berdasarkan pengelompokkan tersebut
maka akan dapat mengklarifikasikan pancaran kedalam kelompok yang berbeda. Lihat
gambar dibawah ini:

Gambar 5.18

Distribusi nilai log f.

40

1. Log f = 3 banding 4: transisi paling mungkin bagi inti pada kelompok ini.
Mereka disebut allowed dan favoured atau super allowed. Jumlah inti pada
kelompok ini relative kecil.
2. Log f = 4,5 banding 5: transisi dianggap allowed namun bukan favoured atau
mudahnya allowed. Jumlah mereka paling besar. Kemungkinan transisi untuk
inri lebih rendah daripada untuk (i).
3. Log f = 7 banding 9: hal ini membentuk first forbidden transitions,
kemungkinan transisi lebih rendah dibandingkan untk (i) atau (ii).
Bagi nilai f yang masih tinggi maka masuk pada transisi forbidden yang mana
kemungkinan transisi masih lebih rendah. Kalsifikasi transisi diatas tidak selama jelas
serta tepat maka perlu bukti untuk ini (lihatlah gambar 5.18).
Pada tabel 5.2 termasuk pancaran yang ditulis berdasarkan nilai log f.
Pengelompokkan transisi seperti yang telah disebutkan diatas yaitu allowed atau
forbidden sama dengan yang terjadi pada transisi radioaktif pada atom yang diatur oleh
nilai matriks elemen Hif untuk transisinya. Seperti yang telah kita lihat, H if termasuk
potensi gangguan yang tergantung pada waktu dan tergantung pula pada elektron dan
gelombang fungsi. Misalkan bentuk bidang gelombang itu dan v, maka
penjelasannya dapat kita lihat pada persamaan (5.7-9) serta (5.7-10). Dalam diskusi
sebelumnya kita hanya mempertahankan istilah pertama dalam suatu pengembangan
yang kemudian digabungkan dalam transisi allowed. Dalam hal ini partikel dipancarkan
( dan v) tidak emmbawa orbital momentum anguler sehingga L = 0. Istilah-istilah
yang dikembangkan akhirnya jatuh pada suatu faktor yaitu
adalah radius nuklir dan

2 n

KR=R/

dimana R

adalah panjang gelombang deBroglie dari partikel

yang dipancarkan. Untuk peluruhan energi dari susunan 1 MeV,

R
0,1 sehingga

istilah yang ditulis tersebut dalam potongan perluasan oleh satu faktor 1/10.
Kemungkinan untuk transisi penuh tergantung pada matriks elemen nuklir M if
yang ditulis dengan persamaan (5.7-14). Jika ini terjadi menjadi 0 maka harus ditentukan
istilah yang lebih besar (tinggi) dalam pengembangan dan v. Seperti yang kita lihat

41

istilah yang lebih tinggi lebih rendah faktor

R
0,1 . Walaupun hal kecil

dibandingkan dengan kemungkinan transisi allowed namun tidak sekecil transisi


2

radioaktif pada atom dimana

R 2 108
= 5 =106 sehingga transisi terlarang lebih

10

( ) ( )

penting untuk peluruhan .


Jika istilah kedua dikembangkan juga nilainya 0 untuk Mif maka kita harus
mengambil istilah ketiga yang berhubungan dengan transisi kedua terlarang dengan
kemungkinan lebih rendah lagi dengan faktor ~1/100. Dalam pengembangan istilah
digunakan yang ketiga, keempat, dan seterusnya, maka kemungkinan transisi terlarang
lebih rendah dengan faktor -1/1~1/100 dibandingkan dengan yang terdahulu.
Lintasan momentum anguler yang hilang oleh partikel yang terpancar adalah 1,
2, 3, dan seterusnya, unti untuk pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya berturut-turut.
Untuk mengevaluasi elemen matriks dari transisi maka perlu dilakukan
peenghitungan secara benar yang tidak termasuk yang diatas. Hal ini disebut dengan
massa perbaikan relativistic yang merupakan permintaan (v/c) dan yang harus ada pada
elemen matriks, v adalah kecepatan inti. Karena bidang elemen matriks ikut serta dalam
kemungkinan transisi dank arena v/c ~1/100 maka massa perbaikan ini dianggap ~1/100
yang besarnya sama dengan massa perbaikan lainnya.
5.9 Peraturan Seleksi Peluruhan
Transisi diatur oleh peraturan seleksi tertentu yang tergantung pada apakah
peluruhan tersebut termasuk diijinkan atau dilarang.
Cirri khas rumusan nuklir yaitu adanya momentum total anguler I dan
keseimbangan . Momentum total anguler atau putaran inti adalah jumlah orbital vektor
serta pancaran momentum anguler yaitu: I = L + S. Jika semua transisi terjadi dari
keadaan awal I, hingga keadaan akhir If maka rumusnya akan mengalami perubahan
dalam I menjadi

I =I f I i , sedemikian sehingga
I = L + S
Tabel 5.2

(5.9-1)

42

Elektron dan neutrino fungsi gelombang dan v dapat diwakili dengan bidang
gelombang jika pengaruh Coulomb diabaikan untuk . Dalam pengembangan bidang
gelombang istilah pertama memberikan transisi yang berhubungan dengan emisi dan v
pada keadaan S dengan I = 0. Perhatikan rumusnya

=exp ( ik r ) =exp ( ip r / )

i
i
1+ ( p r ) + p r +

(5.9-2)

Sekarang pr yang merupakan rumusan dari lintasan momentum anguler yang


menurut teori kuantum dapat ditulis dengan

i , l adalah besarnya lintasan

momentum enguler dari emisi dan v. dengan mengesampingkan kesemuanya kecuali


istilah pertama maka istilah yang dipakai adalah l = 0 karena r = 0.
Istilah permintaan yang lebih tinggi berhubungan dengan nilai yang leih tinggi l.
Lintasan momentum anguler yang terpengaruh oleh sepasang elektron neutrino harus
sama untuk mengubah L dari inti pada transisi . Demikian pula dengan transisi yang

43

diijinkan

I =l=0

lalu dari persamaan (5.9-1) kita menulis rumus untuk transisi

yang diijinkan dengan

L= S . Pada gambar 5.19 ditunjukkan suatu diagram

vektor untk perubahan momentum anguler dalam transisi , jika Ii dan If adalah vektor
perputaran inti untuk keadaan awal maupun keadaan akhir dalam transisi maka

I =I f I i

sehingga

diijinkan, karena

I f =I i + I . Lihat gambar 5.19(a). Untuk transisi yang

L=0, I = S

maka diagram vektor yang ada harusnya seperti

apa yang ditunjukkan pada gambar 5.19b. elektron dan neutrino adalah partikel setengah
putaran. Perputarannya dapat digabung baik paralel maupun anti paralel satu sama lain
sehingga total putaran momentum anguler akan terpengaruh olehnya (lihat gambar 5.19c
dan d) dalam rumusan S = 0 (paralel) atau S = 1 (anti paralel). Pada masalah pertama
perubahan perputaran dari keadaan inti yaitu
kaitannya

disebut

| I |=| S|=1

dengan

peraturan

(dalam tiap unit dari

I = S=0

seleksi

Fermi.

. Hal-hal yang ada

Dalam

kasus

kedua

) yang berhubungan dengan peraturan

seleksi gamow-teller. Perubahan yang mungkin dalam perputaran nuklir dalam masalah
peraturan seleksi GT dapat dilihat pada diagram vektor yaitu gambar 5.20 dari gambar
ini jelas sudah bahwa perubahan l dapat memiliki nilai

Gambar 5.19

I =0, 1 .

(a) Diagram vektor untuk muatan inti pada transisi . (b) Perubahan I pada
transisi yang diijinkan. (c) dan (d) alignments dari dan putaran v.

44

Gambar 5.20

Muatan putaran inti pada kasus aturan seleksi GT yang diijinkan.

Perlu diperhatikan bahwa pada peraturan seleksi GT, transisi tidak dapat terjadi
dari keadaan Ii = 0 hingga keadaan If = 0 karena transisi ini menyangkut perubahan
putaran momentum anguler dari satu unit

(| S|=1 ) .

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa keadaan nuklir juga diwarnai
oleh kesamaaan. Untuk keadaan dengan nilai ganjil L, maka kesamaannya genap.
Karena tidak ada perubahan dari L yang terjadi dalam transisi yang diijinkan, maka tidak
ada perubahan kesamaan. Rumusnya adalah tidak sesuai dengan peraturan seleksi diatas.
Untuk menerangkan peraturan seleksi diatas, sebagai contoh mengambil
permasalahan peluruhan dari 6He:

63 Li

6
2

He

(Ii=0+)

(If=1+)

Tidak ada perubahan l = l tanpa perubahan kesamaan (tidak) dalam transisi ini.
Sehingga transisi ini diatur dengan diijinkan peraturan seleksi Gamow-Teller. Bahwa
diijinkannya transisi dikonfirmasi dengan nilai f seperti yang terlihat pada tabel 5.2
yang menunjukkan menjadi super allowed. Contoh dari teori peraturan seleksi Fermi
dilihat dari peluruhan dari 14O yaitu
14
7

N +
+

14
8

(keadaan keluaran)

45

Disini transisi dari keadaan berat I = 0+ dari 14O hingga keadaan dari 14N dengan
I = 0+. Jadi perubahan putaran adalah I = 0 tanpa perubahan kesamaan. Oleh karena
itu transisi diatur oleh teori peraturan seleksi Fermi yang diijinkan. Peraturan seleksi GT
tidak digunakan karena ada bukti bahwa Ii = 0 hingga transisi If = 0.
Perlu sekali dicatat bahwa ada teori transisi yang diijinkan GT terhadap keadaan
dasar (1+) dari 14N pada rumus I = 1 tidak.
Pada saat transisi yang diijinkan baik Fermi maupun peraturan seleksi GT dapat
dipakai. Lihatlah contoh dibawah ini

2+
2+ menuju 1/
1/

1
1

0n 1H +
2+
+
2 menuju 1/
1/

3
3

1H 2H +
2+
2 menuju 3/
3 /

35
35

16 S 17 Cl +
+

Setiap transisi diatas telah dipakai baik oleh Fermi maupun peraturan seleksi GT.
Lihatlah pada tabel 5.2 yang menunjukkan ada perijinan khusus sedangkan yang terakhir
allowed namun bukan transisi favoured.
Peraturan seleksi yang dapat dipakai dalam masalah transisi yang dilarang
dijelaskan dibawah ini.
Transisi first forbidden: dalam masalah perubahan orbital momentum anguler
dengan satu unit karena dan v menarik satu unit orbital momentum anguler. Dengan
mengikuti peraturan seleksi:
a. Peraturan seleksi Fermi: diawali
terlarang.

S=0, I =0, 1 ; ya

0 0

yang

46

b. Peraturan

seleksi

GT:

S=1 ,

diawali

maka

rumusnya

adalah

I =0, 1 ; 2.
Beberapa contoh dari transisi first forbidden dapat dilihat pada daftar tabel 5.2
sedangkan ringkasan tabel 5.3 dapat pula dilihat.
Tabel 5.3

Yang diijinkan

Peraturan seleksi Fermi


Perubahan
I
Paritas
0
Tidak

First forbidden

0, 1

Transisi

Peraturan seleksi Gamow-Teller

Ya

Perubahan Paritas

0, 1

Tidak

(kecuali 0 0)
0, 1, 2

Ya

(kecuali

(kecuali 0 0,

0 0)

, 0 1)

Dalam permasalahan transisi pencampuran, elemen matriks nuklir dapat ditulis


sebagai berikut
2

M if =C 2F|M F| +C 2|M |

(5.9-3)

Dimana CF dan CGT tetap dalam bagian g dan


2

C F +C =1
f=

(5.9-3a)

B
2

(1x )|M F| + ( x )| M |

(5.9-4)

Nilai konstan B diberikan

B=

2 3 7 ln 2
g 2 c 4 m5e ( C 2F + C2 )

x=

C
2
2
C F +C

(5.9-5)

dan
2

(5.9-6)

47

Bilai konstan B dan x dapat diperoleh dari hasil eksperimen untuk pure Fermi
14

14

N
6
6
O dan pure GT ( He Li ) . Peluruhan dan pencampuran transisi pada

( 1n 1 H )

atau peluruhan

( 3 H 3 H )

. Nilai dari elemen matriks inti dapat

dilihat karena struktur nuklir sederhana. Hasilnya adalah x = 0,56 dan

g =g F =1,403 1062 J m3

(5.9-7)

Nilai dari gGT adalah rendah. Dua nilai memiliki kesimpulan dari dua bagian dari
ekperimen waktu paruh dari neutron.

g /g F =1,244(Chistensen)
g /g F =1,279(Spirak )

5.10 Diagram Sargent


Perlu dicatat bahwa pengelompokkan transisi berbdasarkan hubungan antara
paruh waktu emisi dan batas akhir energi (Em) yang pertama dilakukan oleh B. W.
Sargent (1933). Garis empiris Sargent yang sama dengan hubungan Geiger Nutall dalam
peluruhan yang biasanya dilihat dalam bentuk grafik antara (log ) dan (log Em) yang
disebut dengan diagram Sargent dan bentuknya dapat dilihat pada gambra 5.21. Seperti
yang tampak pada diagram bahwa titiktitik yang menghubungakan emisi yang berbeda
yang ada pada radioaktif alami yang berbeda itu tidak mungkin emisi . Mereka tidak
berhubungan dengan paruh waktu (atau peluruhan konstan) yang berbeda dengan suatu
faktor 100 untuk Em yang serupa. Transisi dalam masalah titik-titik pada grafik bagian
atas menyangkut allowed transisi sedangkan titik-titik pada grafik bawah berhubungan
dengan transisi forbidden.

48

Gambar 5.21

Diagram Sarpent.

Sekarang kita memiliki klasifikasi dari emisi sesuai dengan derajat batasan
dari transisi yang diperkirakan berdasarkan dari teori peluruhan , hal ini melengkapi
penjelasan teori dari aturan Sargent.
5.11 Sifat Dasar dari Elemen Penyusun Inti
Nilai dari elemen nuklir Mif matriks tergantung pada sejauh mana fungsi
gelombang awal nuklir tumpang tindih fungsi gelombang akhir. Secara umum, karena
fungsi gelombang nuklir tidak diketahui, tidak banya yang bisa dikatakan tentang sejauh
mana tumpang tindih dari pertimbangan teoritis. Kita bisa mendapatkan gagasan tentang
hal itu hanya dari nilai eksperimental dari tingkat peluruhan . Namun, dalam kasus inti
cermin, fungsi gelombang dengan mempertimbangkan hal yang sederhana berikut.
Dengan asumsi proton dan neutron untuk mengisi ruang berturut-turut dari sumur
potensi masing-masing dari bawah ke atas seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.22,
masing-masing daerah dapat ditempati oleh hanya dua nucleon dari jenis yang sama
dengan lawan berputar (1/2) karena prinsip Pauli. Kemudian pada sebuah inti dengan
nomor yang sangat berbeda dari proton (Z) dan neutron (N), jumlah tingkat proton dan
neutron yang diisi adalah sangat berbeda seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.23
untuk kasus Z = 6 dan N = 12.

Gambar 5.22

Pengisian level proton dan neutron.

49

Gambar 5.23

Nomor proton dan neutron dalam perpektif level dalam induk dan hasil inti
dalam transformasi .

Seperti yang terlihat dalam gambar tiga tingkat terendah proton dan enam
neutron tingkat terendah adalah terisi penuh di inti ini. Ketika mengalami transformasi ,
neutron di tingkat paling atas diisi berubah menjadi proton seperti yang ditunjukkan di
bagian tengah gambar. Namun, sejak dua tingkat lebih rendah tidak terdapat proton
sehingga proton yang ada di tingkat atas kemudian turun ke tingkat empat, sehingga
daerah ini seperti ditunjukkan di sebelah kanan untuk Z = 7 dan N = 11. Jelas keadaan
awal dan akhir sangat berbeda dalam transformasi ini, sehingga ada sedikit tumpang
tindih antara fungsi gelombang kedua (lihat gambar 5.24).

Gambar 5.24

Fungsi gelombang dari perubahan inti pada inti induk dan inti anak ketika
terjadi sedikit overlapping.

Di sisi lain, untuk Z N = 1 seperti dalam inti cermin, jumlah yang sama tingkat
proton dan neutron benar-benar dipenuhi dari bawah ke atas dengan satu proton ekstra di
tingkat paling atas, seperti dapat dilihat dari arah 5.25a untuk kasus Z = 8, N = 7. Ketika
inti mengalami transformasi , proton kedelapan di tingkat paling atas berubah menjadi
neutron, sehingga keadaan akhir telah menjadi Z = 7 dan N = 8. Neutron yang dihasilkan

50

oleh transformasi proton kemudian menempati tingkat keempat teratas seperti yang
ditunjukkan pada r.h.s dari angka (b). Distribusi proton dan neutron untuk inti induk dan
produk yang kemudian sangat mirip. Satu-satunya yang berbeda adalah bahwa
penempatan proton di tingkat keempat paling atas dimana kita memiliki neutron pada
tingkat keempat paling atas materi (lihat gambar 5.25a dan b).

Gambar 5.25

(a) dan (b), level proton dan neutron pada peluruhan inti (15O

15

N). (c)

fungsi gelombang transformasi inti ketika terjadi overlapping.

Oleh karena itu, fungsi gelombang untuk dua intin harus sangat mirip, jika kita
mengabaikan efek Coulomb sehingga ada tumpang tindih dari dua (gambar 5.25c).

sehingga nilai

M if = U f O U i d

adalah yang tertinggi dalam kasus ini, sehingga

transisi super-allowed.
5.12 Orbit Penangkapan Elektron
Kita melihat bahwa penangkapan elektron jenis peluruhan terjadi ketika emisi
positron tidak mungkin karena terjadi secara cepat. Ketika inti menagkap elektron
orbital, hanya neutrino dipancarkan dan sangat sulit untuk dideteksi. Jadi satu-satunya
cara untuk mendeteksi suatu peluruhan tangkapan elektron adalah mengamati
karakteristik sinar X sebagai atom anak. Ketika electron berada pada kulit K,
karakteristik dari kulit K sinar X akan teramati, sebagai akibat kekosongan kulit K akan
diisi eleh electron kulit L, M dan lain sebagainya. Energi dari foton sinar X akan menjadi

B k B L , B K B M , dll, dimana

B K , BL , B M

dll adalah energy ikat electron yang

sesuai dengan orbitnya. Ada juga proses alternatif untuk emisi sinar X. kelebihan energi
dari bentuk berikut ini penangkapan kulit K dapat langsung ditransfer ke elektron pada

51

kulit L. ini dikenal sebagai elektron Auger dan proses Auger atau transisi radiation less
(lihat vol. I).
Kemungkinan penangkapan elektron tergantung pada dua faktor: (a) peluang
elektron pada posisi inti dan (b) peluang penangkapan elektron oleh inti. Dalam banyak
kasus orbita K menempati peluang terbesar menggantikan posisi inti, adalah tangkapan
kulit K yang diamati. Bagaimanapun, inti mungkin saja sebuah electron di kulit L,
meskipun itu kecil kemungkinanya, karena electron di kulit L lebih jauh dari inti
disbanding electron pada kulit K. tangkapan L diikuti oleh adanya emisi dari
karakteristik orbit sinar X pada orbit L sebagai atom anakan.
Emisi dari karakteristik sinar X atau elektron Auger pada penangkapan kulit K
hanya menunjukkan bahwa tangkapan telah terjadi. Ini tidak memberikan ide tentang
perubahan energi yang terjadi. Ini dapat ditemukan dengan mengukur energi dari inti
produk yang berlawanan aarah dengan arah emisi neutrino. Hal Ini sebenarnya telah
dilakuakn oleh (a) penerapan potensi perlambatan untuk menghentikan inti dan (b)
mengukur waktu mundur nucleus dari peristiwa pancaran electron.
Peluang penangkapan pada kulit K terpengaruh pada sifat dari elektron di sekitar
inti. Dengan demikian transformasi inti yang sama terjadi dengan peluang yang berbeda
(yaitu berbeda waktu paruh jika sifat elektron berubah karena mengikat molekul dari
atom radioaktif dengan atom lain. Efek ini sebenarnya diamati oleg E. Segre, CE
Wiegand dan RF Leninger (1951) di penangkapan kulit K 7Be (Z=4) . Efek ini
diharapkan cukup besar untuk unsur ringan. Perbedaan sekitar 0,08% telah ditemukan
antara tingkat peluruhan 7Be di BeF2 dan dalam logam berilium.
5.13 Teori Penangkapan Orbit Elektron
Probabilitas penangkapan orbit elektron dengan inti dapat dihitung dengan
menggunakan hasil dari teori pertubasi yang bergantung pada waktu seperti yang
dilakukan dalam kasus peluruhan .

P=

2
2
H if| ( E )
|

Kita akan mengembangkan teori penangkapan pada kulit K. teori ini relative
lebih sederhana daripada dalam kasus emisi , karena hanya satu partikel (neutrino) yang
dipancarkan dalam kasus ini. Karena proses dua bentuk, neutrino dipancarkan dengan
energi Ev yang diberikan oleh

52

Ev = E0 +me c 2Bk

(5.13-1)

Dimana E0 adalah energi transformasi nuklir, sama dengan perbedaan massa


energi antara inti induk dengan inti produk. Bk adalah energy ikat elektron dalam kulit K
yang ditangkap oleh inti.
Karena dalam keadaan akhir suatu neutrino energi tertentu yang dipancarkan,

( E)

v =E v /c . Jumlah neutrino dalam

sesuai dengan neutrino momentum

rentang momentum

untuk

( v +d v )

adalah:

4 p 2v dp v 4 p2v dp v
dN v =
=
3
h3
(2 )

(5.13-

2)
Disini kita menganggap transformasi secara keseluruhan untuk mengambil
sedikit pun terjadi dalam volume sebagian . Transformasi untuk energi yang kita
dapatkan

dN v =

4 E 2v dEv

(5.13-3)

( 2 ) c3

Kemudian kepadatannya dinyatakan dengan


2

dN v
Ev
( Ev ) =
= 3 3 3
dEv 2 c

(5.13-

4)
Seperti dalam kasus emisi , transformasi inti induk ke dalam produk terjadi
karena interaksi lemah (lihat persamaan (5.7-6). Hal ini berisi fungsi gelombang neutrino
dan v, yang dalam pendekatan diperbolehkan harus dievaluasi pada posisi
transformasi nucleon (proton). Seperti sebelumnya untuk neutrino yang diberikan untuk
r = 0.

v =

1
1
exp ( ik v r )=

Untuk elektron, kita mengambil fungsi gelombang kulit K untuk atom hydrogen
seperti (lihat jilid I):

53

v = K =

1 Z
a0

3/ 2

( )

exp (Zr /ao )

(5.13-

5)
Dimana

a0 =4 0 /m0 e

adalah jari-jari Bohr. Z adalah nomor atom dari inti

induk. Untuk r = 0, ini menjadi:


2
1 me Ze
e ( 0 )=
4 0 2

3/ 2

(5.13-

6)
Probabilitas tangkapan elektron K per detik kemudian diberikan oleh:

K =

2
2
2 2
2
g |e ( 0 )| |v ( 0 )| |M if | p ( Ev )

Z 3 g 2 m2e e6 E2v
2

M if |
5 2 3 10 |
32 0 c

(5.13-7)

Oleh karena itu kami telah memperhitungkan fakta bahwa ada dua elektron dalam kulit
K.
Jika energi Ev dinyatakan dalam satuan mec2 kita mendapatkan
2

g c Z me e ( E 0 +1B K )
2
K =
|M if |
5 3 10
32 0

(5.13-

8)
Teori diatas dapat disesuaikan dengan kasus penangkapan elektron dari orbit
yang lebih besar nomor kuantum utama (misalnya penangkapan kulit L) untuk transisi
yang diijinkan, tanpa banyak perbedaan dalam aproksimasi non-relativistik. (lihat Fisika
Inti oleh M. A. Preston) tertulis:

f K=

Z 3 e6 ( E0 +1B K )2
16 2 30 c 3 3
3

4 ( Z ) ( E0 +1B K )

(5.13-9)

54

1/137

Dimana

adalah struktur halus konstanta Sommerfeld, kita dapat

menuliskan:

K =

ln2
=C ' f K
K

(5.13-10)

K adalah waktu paruh pada kulit K dan C adalah sebuah konstanta, kita kemudian
memiliki

f K K=

ln 2
=C
C'

(5.13-11)

Dimana
2

C=2 3 3 ln 2/g 2 c 4 m5e |M if| = tetap

(5.13-

12)
C adalah konstanta yang sama yang muncul untuk menyatakan probabilitas
peluruhan (persamaan 5.8-6).
Persamaan (5.13-7) untuk K seharusnya diperbaiki untuk efek relativistic dan
untuk penyaringan muatan nuklir oleh orbit elektron yang mengurangi nilai efektif dari Z
secara perlahan (dengan ~0,35 untuk elektron K dan ~4,15 untuk elektron L).
Binding energi elektron K (dalam unit mec2)
2 4

2 4
m3 Z e
( Z )
1
Z e
BK=

=
=
2
2 2 2
2 2 2
2
me C 32 0 h 32 0 h

(5.13-

13)
Nilai numerik dari produk f dalam menentukan apakah transisi penangkpan K
diperbolehkan atau dilarang (lihat 5.8). Misalnya 7Be + eK

Li, ditemukan bahwa

energi transformasi E0 = 0,3508 MeV = 0,686 mec2 sementara K = 53,28 d. Karena


energi yang mengikat kulit K di berilium (Z = 4) adalah hanya 112 eV, ini dapat
diabaikan sehingga kita mendapatkan:

f K =4 ( Z )3 ( E0 +1 )2
2

4
2
( 1,686 ) =8,9 104
137

( )

55

K =53,28 d=4,603 106 s


f K K =4097

Karena itu

log f K K =3,61

Dan

Hal ini menunjukkan agar menjadi transisi super yang diperbolehkan (superallowed transition). Karena ini adalah kasus (3/2) - untuk (3/2)- transisi, itu adalah Fermi
dicampur dan transisi GT super allowed. Nilai menunjukkan fKK mengingat bahwa
kekuatan interaksi menyebabkan penangkapan elektron orbital harus dari urutan yang
sama besarnya seperti dalam kasus emisi partikel .
Ini mungkin menjadi catatan bahwa ekspresi untuk K melibatkan kuadrat dari
2

elemen matriks nuklir

|M if |

yang sama dengan yang munculnya dalam ekspresi

(persamaan 5.8-5) untuk probabilitas peluruhan . Jadi probabilitas relative dari


penangkapan K dan peluruhan + untuk inti yang sama (K dan untuk rasio
2

percabangan) adalah independen dari

|M if |

yang seperti kita lihat tidak dapat

ditentukan secara akurat. Kami dapat menentukan:

Z3 e 6 ( E 0 +1B K )2
K
=
16 2 m2 3 3 c 7 f ( Z , )
e 0
m

(5.13-

14)
Untuk unsur yang ringan dan nilai tinggi, kemungkinan penangkapan K
kurang. Di sisi urutan, proses penangkapan K menjadi relative lebih penting daripada
peluruhan untuk elemen Z tinggi, khususnya ketika energi transformasi inti pendekatan
ambang . Selanjutnya, persamaan (5.13-8) menunjukkan bahwa proses penangkapan K
pada umumnya lebih penting bagi elemen Z tinggi.
5.14 Penyerapan Elektron dalam Suatu Zat
Hilangnya ionisasi: mekanisme berkurangnya energi oleh ionisasi pada dasarnya
adalah sama untuk elektron berenergi tinggi, seperti dalam kasus partikel pengisi daya
berat (lihat 4.12). Namun ada dua faktor yang memodifikasi rumus daya (4.12-23).
Karena massa elektron kecil, variasi massa relativistic dengan energi harus

56

dipertimbangkan pada energi relative jauh lebih rendah (dari urutan sebuah MeV). Juga
karena pelanggaran dalam kasus ini adalah antara dua partikel identik, pertukaran efek
kuantum mekanis harus diperhitungkan. Hal ini dilakukan oleh Moller (1932), pada
dasar yang rumus berikut untuk tenaga pengereman karena ionisasi, yang dikemukakan
oleh Bethe (1933)
2

4 0

1 1 2 2 ]

dE
f

=
dx ion

(5.14-1)

Dimana

E=

me c 2

v
c , sehingga:

me c 2

Untuk ultrarelativistik dimana

dE
dx

ion

=1 , kita peroleh:

1
2 e NZ
E
1
.
ln 2
+
2
(4 0 ) m e y 2
2 I 1 8

(5.14-

2)
Pelepasan radiasi: selain dari kehilangan ionisasi dibahas di atas, relativistic
elektron yang kehilangan energi oleh sebuah proses yang dikenal sebagai pelepasan
radiasi. Besarnya energi radiasi per sekon oleh partikel bergantian berputar dengan
percepatan f diberikan oleh:
2 2

W=

q f
3
6 0 c

(5.14-

3)
Sehingga dapat dirumuskan pelepasan energi total rata-rata oleh elektron adalah:

dE
dE
=
dx
dx

ion

dE
dx

rad

(5.14-6)

57

Dua jenis pelepasan energi ditunjukkan oleh grafik pada gambar 5.26 untuk
elektron pada timah.

Gambar 5.26

Jenis pelepasan energi yang hilang dengan electron.

Rentang elektron-elektron tidak mempunyai banyak definisi rentang yang tepat.


Mereka mempunyai energi yang sangat sedikit dalam masing-masing tumbukan daripada
kilatan partikelnya. Hal ini diilustrasikan pada gambar 5.27. Ini sedemikian tidak
mungkin untuk mengkalkulasi dengan teori tentang elektron karena fungsi energinya
tidak seperti posisi partikel.

Gambar 5.27

Garis edar elektron sebenarnya pada suatu zat.

Dalam ilustrasi gambar 5.27. hal ini menunjukan ketidakmungkinan


mengkalkulasikan electron sebagai sebuah fungsi energy mereka, tidak seperti dalam
kasus partikel bermassa berat

(lihat persamaan 4.12). hal ini terjadi berdasarkan data

empiric yang diperoleh dari hasil eksperimen


Hal yang lebih penting untuk mengetahui kisaran dalam kasus partikel dari
zat radioaktif yang memiliki distribusi energi kontinu. Bentuk kurva penyerapan dalam
hal ini adalah nyata berbeda dari elektron homogen. Kurva penyerapan dalam kedua
kasus ditunjukkan dalam gambar 5.28 untuk perbandingan. Karena elektron energi

58

rendah lebih mudah diserap, kurva serapan untuk distribusi kontinu jatuh lebih cepat
daripada elektron homogen.

Gambar 5.28

(a) Kurva penyerapan kelompok elektron yang sejenis pada suatu zat. (b) Kurva
penyerapan sinar pada suatu zat.

Besarnya

intensitas

penyerapan

dari

kurva

yang

ditunjukkan

dapat

diformulasikan sebagai berikut:

I =I 0 exp(x)
Dengan x dalam meter (m) dan adalah dimensi kebalikan dari panjang
gelombang (m-1). Dengan koefisien absorpsi:

m=k / Em1,33

(5,14-7)

Dimana k adalah konstanta dan E m adalah energi dalam MeV. Dimensi dari m
adalah meter2 per kg.
Rentang maksimum (R) daya absorpsi dapat diformulasikan oleh Gledenin dan
Coryell sebagai berikut:

R=5.42 Em

(5.14-

8)
Untuk nilai Em < 0,8 MeV, maka

R=4.07 E

1
m

(5.14-

9)
Perlu dicatat bahwa dimensi R adalah kg/m2, rentang ini sama untuk semua zat.
5.15 Waktu Paruh Neutron Bebas

59

Kita mempunyai neutron bebas yang tidak stabil. Neutron tersebut mengalami
peluruhan dari emisi menjadi sebuah proton melalui skema sebagai berikut:
1
0

Gamabr 5.29

+ v
n 11 H +

Eksperimen Robson.

Waktu paruh neutron pertama kali diselidiki oleh J. M. Robson, seorang


ilmuwan berkebangsaan Kanada tahun 1951 dengan menggunakan fluks neutron yang
tinggi dari reactor inti. Fluks termal neutron dari reactor adalah sebesar 1,5 x 10 14
neutron per m2 per sekon. Neutron diizinkan untuk melewati sebuah dalam ruang vakum
yang mana disitu memproduksi proton dari hasil peluruhan . Proton mempunyai energi
kinetik sebesar 1000 eV dan mempunyai energi potensial rata-rata sekitar 13 kV, dan
kemudian di belokan oleh medan magnet di P focus msuk ke sebuah penguat electron

D2 . Produksi partikel
antraksin

dalam peluruhan neutron serupa dengan Scintilator

D 1 oleh medan magnet di dalam spectrometer magnet B.

Pulsa yang timbul karena paertikel

terdeteksi secara kebetulan dengan

pulsa proton, dengan penundaan untuk memungkinkan selama selang waktu proton yang
bergerak lambat. Bahkan dengan fluks neutron tinggi, kesempatan neutron meluruh
dalam volume kecil terlihat oleh detector yang juga sangat kecil hanya beberapa
kesempatan per jam neutron terdeteksi.
Pada diagram Kurie gambar 5.30 yang diperoleh oleh Robson dalam disintegrasi
ditunjukkan sebagai berikut:

60

Gambar 5.30

Diagram Kurie untuk peluruhan

neutron

Waktu paruh yang dikemukakan oleh Robson adalah 12,8 2,5 menit. Nilai
tersebut kemudian diperbaiki dengan pengukuran di Oak Ridge Amerika Serikat dan
Rusia. Nilai yang saat ini diterima adalah:

=10,13 0,09 menit


5.16 Paritas Non-Konservatif dalam Peluruhan
Konsep peluruhan fungsi gelombang telah dibahas pada materi 11.18 volume I.
Ini terlihat dari operator peluruhan dengan Hamiltonian suatu system. Maka peluruhan
ini dapat terjadi terus menerus dan P adalah bilangan kuantum. Terdapat bukti yang kuat
yang menunjukkan peluruhan berlaku dalam linteraksi elektromagnet dan interaksi kuat.
Dapat diyakini bahwa peluruhan adalah hukum universal dan berlaku juga untuk
interaksi gaya lemah yang menyebabkan peluruhan radioaktif dan peluruhan partikel
elementer. Bagaimanapun, sekitar tahun 1955 perkembangan yang tidak terduga terjadi
menyebabkan keraguan mengenai validitas asumsi ini.
Teori Fermi mengenai peluruhan dan modifikasi lebih lanjut yang didasarkan
pada asumsi dari keseimbangan pada interaksi lemah. Fakta-fakta eksperimental seperti
yang tersedia pada masa situ dapat dijelaskan berdasarkan teori-teori ini.
Sekitar tahun 1915, dua meson ditemukan di sinar kosmik yang disebut dan
seperti yang ditunjukkan sebagai berikut:
0

++
+

61

++ 0 + 0
+

++
++

Berikut adalah eksperimen yang dilakukan untuk mendeteksi adanya peluruhan
partikel yang dilakukan oleh C. S. Wu, E. Ambler, R. W. Hayward, D. D. Hopps dan R.
P. Hudson yang ditunjukkan oleh gambar 5.31.

Gambar 5.31

Eksperimen C. S. Wu dan teman-temannya.

Mereka menggunakan

Co sebagai sumber pemancar yang mana memiliki

60

waktu paruh 5,3 tahun dari energi maksimum 0,31 MeV. Skema peluruhan 60Co 60Ni +
- ditunjukkan pada gambar 5.32.
Syarat yang paling penting dalam eksperimen ini adalah proses produksi yang berada
pada suhu sangat ekstrem (0,01 K) dan menggunakan medan magnet yang sangat besar

( 10T ) untuk menghasilkan polarisasi dari inti atom Cobalt

60

Co .

Mereka menggunakan proses demagnetik adiabatic dari materi/zat yang bersifat


paramagnetic (Cerium magnesium nitrat) untuk memproduksinya diperlukan suhu yang
sangat rendah.

62

Gambar 5.32

Diagram tingkat energi dalam peluruhan dari 60Co.

Gambar 5.33

Hasil eksperimen buatan (non-coservation).

Hasil dari eksperimen di tunjukan pada gambar 5.33a. yang mana intensitas beta di plot
sebagai fungsi waktu ke atas t, untuk arah ke depan dan ke belakang. Hasil menunjukan
partikel beta terpancar istimewa dari arah belakang , ke arah polarisasi nuclear,
diindikasikan dalam gambar oleh arah polarisasi meddan magnet H.

garis yang

berpisahllama-lama mengilang dan menjadi satu seiring menghangatnya sampel


Dari skema peluruhan diatas diperoleh kurva peluruhan 60Co. Berikut diinterpretasikan
hasil eksperimen dalam keseimbangan buatan (non-conservation).

63

Gambar 5.34

Interpretasi hasil eksperimen buatan (non-conservation).

5.17 Helicity Neutrino


Gambar 5.34 menunjukkan orientasi relative dari spin dan momentum linear
elektron dan anti neutrino selama peluruhan -. Keduanya longitudinal terpolarisasi yang
berarti bahwa mereka berputar sejalan paralel (untuk

v ) atau antiparalel (untuk -)

untuk masing-masing momentum linier mereka untuk emisi dari partikel -.


Meskipun polarisasi partikel - diamati dalam peluruhan

H=

p
||| p|

(5.17-1)

Dimana adalah spin dari neutrino dan p adalah momentum. Fisikawan


Pakistan Abdus Salam dan L. Landau dari Rusia adalah yang pertama yang
menunjukkan, berdasarkan terori dua komponen neutrino* (asumsikan massa neutrino mv
= 0), yang merupakan sifat dasar helicity neutrino. Untuk memahami ini kita perhatikan
bahwa untuk sebuah partikel dengan massa terbatas, kecepatan bisa berbeda dalam

64

kerangka acuan yang berbeda. Jika misalnya, spin partikel sejajar dengan momentum
dalam beberapa kerangka acuan, maka untuk pengamat bergerak lebih cepat daripada
pada kerangka sebelumnya, hal itu akan tampak bergerak kea rah yang berlawanan maka
akan memiliki momentum berlawanan dengan berputar. Sehingga akan memiliki
polaritas subjektif dalam kerangka acuan yang berbeda. Namun, hal ini tidak terjadi
untuk sebuah partikel tak bermassa (fermion) yang harus selalu bergerak dengan
kecepatan cahaya c. Maka tidak ada kerangka acuan yang akan bergerak lebih cepat
daripada itu. Dari pernyataan yang diberikan di atas, helicity tersebut adalah H = 1
terg\antung pada orientasi relative dari spion dan momentum partikel paralel atau
antiparalel. Menurut teori dua komponen yang disebutkan diatas, neutrino memiliki H =
-1 (orientasi antiparalel spin relative terhadap momentum) sementara antineutrino
memiliki H = 1 (orientasi paralel spin relative terhadap momentum). Ini adalah satusatunya perbedaan antara dua partikel.
Jika spin dianggap sebagai rotasi maka gerakan neutrino sama dengan sebuah
sekrup tangan kiri sedangkan gerakan antineutrino mirip dengan gerakan tangan kanan
sekrup.
Keberadaan helicity neutrino secara langsung berkaitan dengan pelanggaran
konservasi peluruhan pada interaksi lemah. Jika partikel memiliki simetri kanan-kiri
maka pada refleksi cermin fungsi gelombang baik tetap tanda perubahan sama atau
sederhana, sedangkan partikel bertransformasi dengan sendirinya. Bagaimanapun,
partikel yang mempunyai helicity terbatas tidak memiliki simetri kanan-kiri. Jadi setelah
refleksi cermin, sebuah partikel sekrup seperti tangan kanan berubah menjadi partikel
seperti sekrup kiri. Jadi partikel tidak akan bertransformasi dengan sendirinya yang
dimana berarti pelanggaran konservasi.
Pengukuran helicity neutrino:
Helicity neutrino dikukur secara langsung dalam percobaan yang dilakukan oleh
M. Goldfather, L. Grodzin, dan A. W. Sunyar (1958). Mereka menggunakan sumber
penangkapan K 152 Eu ( = 9,3 jam) isomer yang memiliki skema peluruhan ditampilkan
pada gambar 5.35.

65

Gambar 5.35

Skema peluruhan 152Cu.

Inti produk

152

Sm akan berada di keadaan dasar dengan emisi (E = 961 keV)

yang merupakan transisi E 1. Dalam percobaan resonansi fluoresensi diproduksi oleh


sinar yang dipelajari (lihat 6.16). Karena inti

Sm yang terpancar energi berkurang

152

sekitar Er = 3,26 eV dari energi transisi yang dapat dihitung dengan persamaan (6.16-1).
Karena waktu paruh yang sangat singkat, lebarnya relative besar menjadi 0,02 eV.
Meskipun demikian, tidak cukup lebar untuk mengkompensasi hilangnya energi ( <<
Er). Namun kompensasi tersebut disediakan oleh pergeseran Doppler karena kecepatan
dari sumber yang merupakan produk dalam penangkapan K

152

Eu yang memancarkan

enenri neutrino Ev = 900 keV (c metode kompensasi dibahas dalam 6.16). Energi pental
adalah sekitar 2,86 eV. Perhatikan bahwa ada dua jenis pental dari inti

152

Sm karena ada

dua alasan berbeda: pertama karena emisi neutrino dalam pengkapan elektron oleh inti
induk dank arena kedua untuk emisi dari inti produk 152Sm.
Karena kompensasi akibat pergeseran Doppler sedikit berkurang dari perubahan
energi yang terpental dari emisi sinar , sinar yang terproses memiliki sudut kurang
dari 1800 w.r.t arah emisi neutrino dalam penangkapan

152

Eu, seperti yang terlihat pada

gambar 5.36a yang menunjukkan percobaan Goldhaber et al. gambaran eksperimennya


ditunjukkan pada gambar 5.37.

66

Gambar 5.36

(a) Eksperimen Goldhaber dalam pengukuran helicity neutrino. (b) Hasil dari
Eksperimen helicity neutrino.

Dalam kasus ini momentum sudut akan dipertahankan jika spin neutrino dan inti
152

Sm berputar berlawanan. Sejak berputar berlawanan yang mengikuti polarisasi

longitudinal dari inti

152

Sm harus memiliki tanda yang sama seperti helicity neutrino.

Dalam transisi kedua kami memiliki.

Gambar 5.37

Eksperimen dalam ukuran helicity neutrino.

Besi magnet yang digunakan sebagai polarimeter (lihat gambar 5.36a)


memungkinkan sinar yang ditransimikan memiliki polarisasi sirkular sehingga hanya
berputar dan karena spinnya 1 - keadaan

152

Sm. Dengan demikian tanda dari polarisasi

melingkar harus sama dengan tanda polarisasi longitudinal inti yang memancarkan dank
arena itu sama dengan tanda helicity neutrino.

67

Jadi eksperimen ini berasal dari pengukuran polarisasi melingkar dari sinar . Ini
diukur dari perubahan jumlah penting dalam detector sinar diatas reorientasi medan
magnet di besi magnet. Hasilnya ditunjukkan pada gambar 5.36b.
Helicity neutrino ditemukan untuk menjadi negatif. Meskipun tidak ada
penentuan eksperimen secara langsung dari helicity antineutrino, semua data eksperimen
menunjukkan bahwa hal itu harusnya posfitif. Hal itu terlihat diatas bahwa elektron yang
dipancarkan di peluruhan adalah polarisasi longitudinal (lihat percobaan Wu).
Polarisasi longitudinal telah diukur dan persamaannya adalah

P ( )=

v
c

(5.17-

2)
5.18 Sifat Dasar Neutrino: Peluruhan Ganda
Kita dapat menuliskan peluruhan ganda sebagai berikut:

+ v 1
n1 p1 + 1
+ v 2
n2 p2 + 2

dan

+2 v

Te 130
54 Xe +

130
52

Apabila neutrino dan anti neutrino serupa

( v v )

, maka proses

peluruhannya dapat dituliskan sebagai berikut:

+ v

+ v p+
n p+
Sehingga hasil akhir dari peluruhan ganda akan ditransformasikan oleh dua
neutron dalam inti induk kedalam dua proton pada inti hasil dengan emisi dua partikel
tetapi tanpa emisi neutrino (atau antineutrino).

Te 130
54 Xe +2

130
52

68

Berikut disajikan tabel peluruhan ganda partikel .


Tabel 5.4
Transmisi ganda

(teori)

untuk

( v v )

Te

82
34

130
54

Xe

Se 82
36 Kr

untuk

(exp) (y)

( v v )

(y)
130
52

(teori)

(y)
16

2 10

4 1022

2,5 1021

1016

1022

6 1019

5.19 Eksperimen untuk Mendeteksi Neutrino


Persamaan transformasi dalam inti dapat ditulis sebagai berikut:

+ v

n p+

++ v
p n+

Dan
Atau ekuivalen dengan

Apabila v dan

persamaan kita dapat menulis

n+ v p +

(5.19-1)

+
p+ v n+

(5.19-2)

diidentifikasi

( v )

( v v ) , kemudian d akhir kedua

dalam tempat pada bagian sebelah kiri.

Bagaimanapun, akan diperlihatkan proses peluruhan ganda sebagai berikut

n+v p+
+
n+v p+
Eksperimen pertama yang dilakukan oleh F. Reines dan C. L. Cowan tahun 1956
di Amerika Serikat menghasilkan diagram sekmatik pengaturan eksperimental yang
ditunjukkan oleh gambar berikut:

69

Gambar 5.38

Eksperimen untuk mendeteksi neutrino.

5.20 Susunan dari Interaksi Peluruhan


Terlihat pada subbab 5.7 interaksi peluruhan yang dapat dikonstruksikan dari
kombinasi linear fungsi gelombang dua nucleon dan dua lepton. Masing-masing
mempunyai keempat komponen Dirac espinor, ini yang memungkinkan untuk
mengkonstruksikan 44 atau 256 bentuk linear bebas dari interaksi tersebut. Meskipun
nilainya mengalami penurunan yang sangat drastic oleh gangguan variasi Lorents, lima
tipe kovarian yang dapat diperoleh sebagai berikut:
Scalar

S,

I =0

Tidak.

Vektor (polar)

V,

I=0

Tidak.

Tensor (anti-simetrik)

T,

I =0, 1

Tidak.

Vektor axial

A,

I =0, 1

Tidak.

Scalar Pseudor

P,

I =0

Ya.

Masing-masing dari lima interaksi itu memberikan kenaikan yang menimbulkan


aturan seleksi sendiri. Sehingga versi scalar (S) dan vektor (V) menimbulkan aturan
seleksi Fermi, sedangkan aturan Gamow-Teller mengikuti selksi dari tensor (T) dan versi
vektor aksial (A).versi pseudo skalar meskipun tidak cocok untuk menggambarkan
transisi tetapi diperbolehkan karena pprediksi perubahan paritas

l=0 .

70

71

BAB III
KESIMPULAN
Ketika kecepatan partikel meningkat lebih besar maka massa m semakin
meningkat lalu e/m menjadi semakin kecil sesuai yang diamati oleh Kaufman. Namun
semakin besarnya massa tidak dapat diukur secara tepat. Oleh karena itu tidak dapat
dipastikan apakah pembesaran tersebut sesuai dengan toeri Einstein. Dalam teori garis
lengkung Thompson untuk menentukan muatan sinar positif. Jika massa dari suatu ion
berubah maka hubungan matematikanya tidak ada. Karena amssa elektron kecepatan
tinggi berubah sesuai dengan kecepatan, maka garis fokusnya akan berbeda dengan garis
lengkungnya. Pada eksperimen Bucherer, sesuai dengan teori relasi Einstein yaitu
besarnya massa relativitas dengan. Ketentuan yang telah diperbaiki tersebut telah
dijadikan sebagai tolak ukur yang lebih akurat yaitu dengan pengembangan validitas
relasi relativitas.
Tiga jenis peluruhan yang berbeda telah diamati yaitu peluruhan -, peluruhan
+, serta penangkapan orbital elektron. Wolfgang Pauli berpendapat tentang yaitu
Hipotesis Neutrino ketika partikel meluruh. Eksperimen terhadap peluruhan
mengungkapkan bahwa dipancarkan dengan suatu distribusi yang kontinu yang
berkisar dari nol hingga nilai yang diharapkan secara teoritis yang didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan energi massa untuk transisi khusus. Pauli mengusulkan
suatu hipotesa tentang keberadaan suatu partikel yang disebut dengan neutrino yang
menyertai partikel beta yang energi sama dengan selisih antara energi kinetik yang
menyertai partikel dan energi maksimal dari distribusi spektrum, seperti neutrino yang
tidak bermuatan dan memiliki massa tak berhingga kecilnya sehingga dengan
karakteristik ini partikel ini sangat sulit untuk dideteksi.
Peluruhan partikel akan menghasilkan peluruhan ganda. Interaksi peluruhan
dapat dikonstruksikan dari kombinasi linear fungsi gelombang dua nukleon dan dua
lepton yang masing-masingmempunyai keempat komponen Dirac Espinor yang
memungkinkan dapat mengkonstruksi 44 atau 256 bentuk linear bebas dari interaksi
tersebut. Meskipun nilainya mengalami penurunan yang sangat drastic oleh gangguan
variasi Lorentz.

56

72

DAFTAR PUSTAKA
Ghoshal, S. N. 2002. Nuclear Physics. New Delhi. S Chand & Company Ltd.

57