Anda di halaman 1dari 15

KEHIDUPAN TINGKAT SEL

SITOSKELETON BESERTA MASALAH DAN SOLUSINYA

PENYUSUN (Kelompok 6):


Alfi Riyatna Hamidiyah

(14030654006)

Zidta Qisti Mafania

(14030654012)

Siti Fauza R.

(14030654021)

Hanis Pramudawardani

(14030654034)

Audia Nur Azizah

(14030654037)

PENDIDIKAN IPA A 2014

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2016
BAB 1
1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa-masa awal digunakannya mikroskopi elektron, para ahli biologi
berfikir bahwa organel sel eukariotik mengambang bebas dalam sitosol. Tetapi
penyempurnaan mikroskopi cahaya dan mikroskopi elektron telah mengungkapkan
adanya sitoskeleton, jaringan serabut yang membentang di seluruh sitoplasma.
Sitoskeleton memainkan peran utama dalam pengorganisasian struktur dan aktivitas
sel,yaitu dalam proses pengangkutan dan pergerakan sel.
Sitoskeleton terdiri dari mikrofilamen, mikrotubulus,dan filamen intermedier.
Dari ketiga penyusun sitoskeleton tersebut terdiri dari berbagai struktur. Dalam

hal

pengertian masing-masing struktur penyusun sitoskeleton tersebut mungkin sebagian dari


kita mengalami kesulitan dalam memahami lebih dalam tentang sitoskeleton. Maka dari
itu,

kelompok

kami

akan

membahas

tentang

sitoskeleton

dalam

makalah

ini.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian dari sitoskeleton?
2. Bagaimana fungsi sitoskeleton?
3. Bagaimana komponen-komponen penyusun sitoskeleton?
4. Bagaimana perbedaan komponen sitoskeleton?
5. Bagaimana pengaruh hipergiklemia pada fungsi sitoskeleton dan solusinya?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan pengertian dari sitoskeleton
2. Menjelaskan fungsi sitoskeleton?
3. Mengidentifikasi struktur sitoskeleton?
4. Membedakan komponen sitoskeleton?
5. Menjelaskan pengaruh hipergiklemia pada fungsi sitoskeleton dan solusinya?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sitoskeleton
2

Sitoskeleton atau kerangka sel adalah jaring berkas-berkas protein yang


menyusun sitoplasma eukariota. Masa awal digunakannya mikroskopi, para ahli biologi
berfikir bahwa organel sel eukariotik mengambang bebas dalam sitosol. Tetapi dengan
semakin sempurnanya mikroskop cahaya dan electron telah berhasil mengungkapkan
adanya jalinan sitoskeleton. Setelah lama dianggap hanya terdapat di sel eukariota,
sitoskeleton ternyata juga dapat ditemukan pada sel prokariota.. Dengan adanya
sitoskeleton, sel dapat memiliki bentuk yang kokoh, berubah bentuk, mampu mengatur
posisi organel, berenang, serta merayap di permukaan.

B. Fungsi Sitoskeleton
1. Memberi bentuk dan mempertahankan struktur sel
Peran sitoskeleton sangat diperlukan, seperti pada sel hewan yang tidak memiliki
dinding sel. Sitoskeleton distabilkan oleh keseimbangan antara gaya-gaya yang
berlawanan yang dikerahkan oleh unsur-unsurnya.
2. Penempatan berbagai organel dalam sel
Fungsinya dapat dibayangkan seperti rangka hewan secara umumnya, sitoskeleton
merupakan tempat bergantung banyak organel bahkan molekul enzim sitosol. Namun,
sitoskeleton lebih dinamis dari pada rangka hewan. Sitoskeleton dapat secara cepat
dibongkar pasang atau disusun di tempat baru, yang mengubah bentuk sel tersebut.
3. Motilitas sel
Sitoskeleton adalah suatu jalinan yang dinamis yang dapat berubah bentuk dan
akibatnya adalah gerakan sel. Motilitas ( gerak ) sel mencakup perubahan tempat sel
maupun pergerakan bagian sel yang lebih terbatas. Motilitas sel membutuhkan interaksi
sitoskeleton dengan protein yang disebut molekul motor.
4. Pergerakan materi-materi dan organel dalam sel.
Molekul motor dapat melekat pada reseptor organel, membuat organel tersebut bisa
berjalan di sepanjang mikrotubula sitoskeletonnya. Seperti vesikula, yang
mengandung neurotransmiter berpindah ke ujung akson , pemanjangan sel saraf yang
melepas molekul transmiter sebagai sinyal kimiawi ke sel saraf sebelahnya.
5. Pengaturan aktivitas biokimiawi dalam sel

Sitoskeleton dapat mengahantarkan gaya mekanis dari permukaan sel ke bagiaan


dalamnya, bahkan keserabut lain, kedalam nukleus. Seperti, terjadi pengaturan ulang
secara spontan susunan nukleoli dan struktur lain dalam nukleus.
C. Komponen-komponen Penyusun Sitoskeleton
Berdasarkan komponen-komponen penyusun strukturnya, sitoskeleton bisa dibagi
menjadi tiga komponen, yaitu filamen mikro, tubulus mikro dan filament intermediet.
Ketiganya sangat unik untuk sel eukariot yang berhasil diungkapkan akibat penggunaan
mikroskop elektron. Teknik-teknik biokimia dan imunologi kemudian memperdalam
pengetahuan kita tentang ketiga struktur penyusun sitoskeleton diatas. Akhirnya, teknik
immunofluorescence microscopy dan biologi molekular (termasuk rekayasa genetik)
masing-masing berperan dalam mengkarakterisasi lebih lanjut setiap protein penyusun
sitoskeleton, mulai dari ukuran, struktur, distribusi intraselularnya sampai ke mode
polimerasinya.
1. Mikrotubulus

Mikrotubulus atau mikrotubula adalah tabung yang disusun dari mikrotubulin.


Mikrotubulus dibagi menjadi dua, yaitu mikrotubulus singlet dan mikrotubulus doublet.
Mikrotubulus memiliki dua ujung, yaitu ujung negatif yang terhubung dengan pusat
pengatur mikrotubulus, dan ujung positif yang berada di dekat membran plasma. Organel
dapat meluncur di sepanjang mikrotubulus untuk mencapai posisi yang berbeda di dalam
sel, terutama saat pembelahan sel.
a. Penemuan Mikrotubulus
Penemuan keberadaan mikrotubulus (jamak: mikrotubuli) baru terungkap pada
saat Keith Porter dan sejawatnya mengembangkan suatu cara untuk melihat sel
tanpa penyelubungan (embedding) dan penyayatan, namun dengan menggunakan
HVEM (high voltage electron microscope), menunjukkan bahwa bagian sitoplasma
yang berada di sela-sela organela tampak penuh dengan anyaman trimatra dari
benang-benang yang sangat halus yang juga disebut jejala mikrotrabekular serta
terdapat pula filamen-filamen yang bermatra lebih besar yang di kelompokkan
menjadi mikrotubulus, mikrofilamen, dan filamen intermedia. Kemudian diadakan

penelitian lebih lanjut mengenai filamen-filamen tersebut yang salah satunya adalah
mikrotubulus.
b. Bagian-bagian mikrotubulus
Mikrotubulus ditemukan dalam sitoplasma semua sel eukariotik. Mikrotubulus
itu berupa batang lurus dan berongga. Mikrotubulus berukuran kecil, melengkung,
berbentuk silindris, dan kaku, dimana ditemukan di setiap sel yang sedang
mengalami pembelahan. Mikrotubulus tersusun atas protein yang dikenal sebagai
tubulin. struktur mikrotubul sangat menarik hampir sama di semua jenis organisme.
Analisis ultrastruktural secara negatif menunjukan noda pada potongan
mikrotubul, ini menunjukan bahwa dindingnya ialah polimer yang tersusun atau
subunit globular. Pemeriksaan potongan melintang dari dinding mikrotubulus
menunjukan biasanya 13 subunit yang memutar sehingga membentuk dinding.
Ketika

permukaannya

dilakukan

secara

membujur

maka

memperlihatkan

protofilament. Ketika mikrotubul yang retak, 13 protofilament pembuat dinding


tersebut dapat dilihat, menandakan perkumpulan dari subunit mengitari dinding
mikrotubul. Satu berkas dari subunit-subunit tadi terlihat berpola spiral seperti
bentuk sekrup. Setiap molekul rantai-rantai protein tubulin yang membentuk spiral
merupakan heterodimer yang terdiri dari dua subunit globular yang terikat erat.
Subunit-subunit tersebut merupakan protein sejenis yang diberi nama -tubulin dan
-tubulin. Kedua protein tersebut diperkirakan berat molekulnya kira-kira 54.000
dalton yang mempunyai hubungan dengan struktur dan urutan asam amino yang
kiranya berasal dari leluhur protein pada awal periode evolusi, Masing-masing
protein terdiri dari ikatan polipeptida tunggal yang panjangnya sekitar 500 asam
amino. Spiral ini membentuk tabung berlubang yang panjangnya dari 200 nm hingga
25 m dengan diameter 25 nm dan tebal 5nm.Mikrotubulus dapat dibongkar dan
tubulinnya digunakan untuk membangun mikrotubulus di mana saja di dalam sel.
Penambahan untuk tubulin yang mana tercatat 80-95% dari kandungan protein di
mikrotubul ialah MAPs (Microtubule-associated proteins) yang juga hadir di
organel dan sekarang ini sedang diteliti secara intensif.
Dalam banyak sel, mikrotubulus tumbuh dari sentrosom, suatu daerah yang
terletak dekat nukleus. Mikrotubulus memanjang dengan menambah molekul tubulin
di ujung-ujungnya. Tubulin dapat berpolimerisasi membentuk mikrotubulus.
Percobaan polimerisasi dapat dibuat dengan campuran tubulin, larutan penyangga,
dan GTP pada suhu 37 C. Dalam tahapannya, jumlah polimer mikrotubulus
5

mengikuti kurva sigmoid. Pada fase lag, tiap molekul tubulin berasosiasi untuk
membentuk agregat yang agak stabil. Beberapa di antaranya berlanjut membentuk
mikrotubulus. Saat elongasi, tiap subunit berikatan dengan ujung ujung
mikrotubulus. Saat fase plato, (mirip fase log pada pembelahan sel), polimerisasi dan
depolimerisasi berlangsung secara seimbang karena jumlah tubulin bebas yang ada
pas-pasan.
Dalam pembentukan mikrotubulus, sebelum molekul-molekul tubulin menjadi
mikrotubulus, telebih dahulu menyusun diri membentuk protofilamen dengan jalan
subunit -tubulin dari sebuah molekul tubulin berlekatan dengan subunit dari
molekul tubulin yang lain yang berada di sampingnya. Sebuah mikrotubulus yang
juga terdiri dari 13 protofilamen yang tersusun membentuk suatu lingkaran. Jika 3
buah protofilamen dari sebuah mikrotubulus (mikrotubulus A), juga menjadi milik
mikrotubulus lain (mikrotubulus B), maka dua buah mikrotubulus tersebut di beri
nama

doublet.

Mikrotubulus

memiliki

kutub

positif,

yaitu

kutub

yang

pertumbuhannya cepat, dan kutub negatif yaitu kutub yang pertumbuhannya lambat.
Hal ini di sebabkan oleh susunan profilamen yang sejajar satu terhadap yang lain
dan sesuai dengan polaritas masing-masing.
c. Pengelompokan Mikrotubulus
1) Mikrotubulus stabil adalah mikrotubulus yang dapat diawetkan dengan larutan
fisikatif apapun, misalnya MnO4 atau aldehida dan suhu berapapun. Contoh
mikrotubulus stabil adalah pembentukan silia dan flagella.
2) Mikrotubulus labil adalah mikrotubulus yang dapat diawetkan hanya dengan
larutan fisikatif aldehida dan pada suhu sekitar 4oC. Contoh yakni mikrotubulus
pembentuk gelendong pembelahan. Sifat kelabilan mikrotubulus ini berguna
untuk menerangkan arah pertumbuhannya. Mikrotubulus yang kedua ujungnya
terdapat bebas di dalam sitoplasma akan segera lenyap. Mikrotubulus yang
tumbuh dengan ujung negatif melekat pada sentroma dapat dibuat stabil apabila
ujung positifnya dilindungi sehingga menghalangi terjadinya depolimerisasi.
3) Mikrotubulus singlet
4) Mikrotubulus doublet
d. Fungsi Mikrotubulus
Mikrotubulus menjalankan beberapa fungsi yaitu:
1) Sarana transport material di dalam sel
2) Sebagai struktur supporting bagi fungsi-fungsi organel lainnya
3) Mempertahankan bentuk sel (sebagai balok penahan-tekanan)
4) Pergerakan kromosom dalam pembelahan sel, serta pergerakan organel.

Mikrotubulus juga dapat berfungsi untuk pergerakan sel, yaitu


menggetarkan silia dan flagel (alat bantu pergerakan yang menonjol dari sebagian
sel). Silia umumnya relatif pendek daripada flagel (panjangnya 5-10 m vs 150
m) dan jumlahnya lebih banyak. Sekalipun berbeda dalam hal panjang, jumlah
per sel, dan pola kibasannya, silia dan flagel sebenarnya memiliki kesamaan
ultrastruktur. Unsur-unsur aksoneme dari silia dan flagel hampir smua sama dan
berisi 9+2 susunan mikrotubula.
2. Mikrofilamen atau filament aktin

Mikrofilamen berupa rantai ganda protein yang saling bertaut. Memiliki diameter 7-8
nm. Rantai-rantai filamen ini tersusun atas bola-bola molekul protein yang disebut aktin.
Aktin dibangun oleh suatu protein struktural aktin yang mempunyai dua bentuk, yakni :
a. Protein globuler monomer (G-aktin) BM 43.000 Dal
b. Protein serabut atau filamen aktin (F-aktin)
Berbeda dengan mikrotubulus, mikrofilament cenderung sejajar dengan proses
pemanjangan ketika sel mulai memanjang. Akan tetapi, ketika pemanjangan sel berlanjut
maka mikrofilament menjadi makin melintang hingga hampir sejajar dengan
mikrotubulus.
a. Fungsi Mikrofilamen
1) Menahan tegangan ( gaya tarik )
Dengan bergabung bersama protein lain, mikrofilamen sering membentuk
jalinan tiga dimensi persis didalam plasma membran, yang membantu mendukung
bentuk sel. Jalinan ini membuat korteks ( lapisan sitoplasmik luar) memiliki
kekentalan semi-padat seperti gel , yang berlawanan dengan keadaan sitoplasma
yang bersifat cair ( sol ).
2) Mengatur arah aliran sitoplasma
Jika arah mikrofilamen berubah maka, maka berubah pula arah aliran
sitoplasma.
3) Kontraksi otot
Ribuan filamen aktin disusun sejajar satu sama lain disepanjang sel otot,
diselingi filamen yang lebih tebal terbentuk dari protein disebut miosin. Kontraksi

sel otot terjadi akibat filamen aktin dan miosin yang saling meluncur melewati
yang lain, yang akan memperpendek selnya.
3. Filamen antara (Serabut antara) atau Filament Intermediet

Filamen antara merupakan serabut penyusun sitoskeleton berupa rantai molekul


protein yang berbentuk untaian yang saling melilit. Disebut serabut antara karena
berukuran diantara ukuran mikrotubulus dan mikrofilamen Melintang membentuk
tubulus dan setiap tubulus di bangun oleh 4 atau 5 protofilamen. Pada sel epidermis
disebut tonofilamen , dan pada sel saraf disebut neurofilamen Filamen antara
berukuran 8-12 nm, yang dapat berbentuk tunggal / kelompok. Filamen antara
tersusun atas protein yang disebut fimentin.
Filamen merupakan peralatan sel yang lebih permanen daripada mikrotubulus
dan mikrofilamen yang sering dibongkar pasang dalam berbagai macam keadaan sel.
Perlakuan kimiawi yang memindahkan mikrotubulus dan mikrofilamen dari
sitoplasma meninggalkan jalinan filamen antara dalam bentuk aslinya.
a. Fungsi filament antara yaitu :
1. Memperkuat bentuk sel dan posisi organel tertentu.
Misalnya nukleus yang umunya terletak dalam suatu tempat yang terbuat dari
filamen antara, tetap berada ditempatnya karena adanya cabang- cabang
2.

filamen yang membentang ke dalam sitoplasma.


Pembentukan laminan nucleus
Filamen antara yang lain membentuk lamina nukleus yang melapisi bagian

dalam selubung nukleus.


3. Filamen antara mendukung sel
Uluran panjang ( akson ) dari sel saraf yang menghantarkan impuls diperkuat
oleh satu kelas filamen antara.

D. Perbedaan Komponen Sitoskeleton


Sebagaimana yang telah dijelaskan tentang masing-masing yang berperan sebagai
penyusun sitoskeleton yakni :
Tabel 2.1 Perbedaan Komponen Sitoskeleton
SIFAT

Struktur

MIKROTUBULA

Tabung

MIKROFILAMEN

FILAMEN

(FILAMEN AKTIN)

INTERMEDIET

2 untai aktin yang Protein

serabut

berongga,dinding terdiri saling terjalin

menggulung menjadi

atas

kabel yang lebih tebal

13

protofilamen

tubulin
Diameter

25 nm dengan lumen 15 7 nm

8-12 nm

nm
Subunit

Tubulin, dimer yg

Aktin

Salah

satu

dari

Protein

terdiri dari -tubulin

beberapa protein yang

dan -tubulin

berbeda pada keluarga


keratin,bergantung
pada sel.

Fungsi

Mempertahankan bentuk Mempertahankan


sel

Mempertahankan

sel (penopang

bentuk

penahankompresi),

penahan-tarikan)

motilitas sel,

Perubahan bentuk sel, tempat

pergerakan kromoson

kontraksi

dlm pembelahan sel,

pengaliran sitoplasma, tertentu

pergerakan organel

motilitas

sel, pembentukan

pembelahan

sel nukleus.

(pembentukan

(unsur bentuk

sel

(unsur

penahan-tarikan),
bertautnya

otot, nukleus dan organel


lainnya,
lamba

alur

pembelahan).

E. Pengaruh Hiperglikemia terhadap Fungsi Sitoskeleton dan Solusinya


Salah satu petanda khas dari diabetus militus (DM) adalah adanya hiperglikemi serta
adanya defisiensi insulin relatif maupun absolut. Hiperglikemia merupakan suatu
keadaan abnormal di mana kadar gula dalam darah lebih tinggi dari nilai normal. Dalam
keadaan normal, gula darah berkisar antara 70 100 mg/dL. Keadaan ini mampu
mempengaruhi berbagai struktur maupun fungsi jaringan, termasuk struktur dan berbagai
protein dalam sel. Setidaknya terdapat enam jalur biokimia yang terkait dengan
pebentukan spesies oksigen radikal (ROS) pada hiperglikemia. Peningkatan ROS sendiri
terbukti ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan struktur maupun fungsi sel.
Hiperglikemi akan meningkatkan metabolisme sorbitol yang langsung meningkatkan
produksi ROS. Melalui jalur peningkatan sintesa glukose-6P akan dilanjutkan dengan
peningkatan produksi fruktose 1,6 biPhosphate yang akan mendorong peningkatan
sintesa

glukosamine,

dehidrooksiaseton

dan

gliseraldehide.

Peningkatan

dehidrooksiaseton akan diikuti dengan peningkatan gliserol-3P, diasilgliserol (DAG) dan


aktifasi protein

kinase C (PKC) yang seterusnya meningkatkan produksi ROS.

Peningkatan sintesa gliseraldehide-3P diikuti dengan meningkatnya produksi enediol, 1,3


bs-P gliserat dan metiglioksal. Pembentukan enediol akan diikuti pembentukan

ketoaldehid, sedangkan peningkatan 1,3 bis-P gliserat akan diiukti dengan peningkatan
pembentukan piruvat, sedangkan meningkatnya metiglioksal akan diikuti peningkatan
proses glikosilasi. Baik

-ketoaldehid, piruvat dan proses glikosilasi akan meningkatkan

pembentukan ROS.
Proses glikosilasi yang terjadi pada berbagai molekul akan menghasilkan advances
glycation end products (AGEs). Hal ini merupakan salah satu penjelasan yang dapat
menerangkan pengaruh hiperglikemi pada jaringan maupun sel. AGEs ditandai dengan
timbulnya cross lingking serta chromogenicity yang luas. Salah satu target istimewa
proses glikosilasi ditingkat sel adalah sitoskeleton filamen aktin kortikal. Glikosilasi dari
protein sitoskeletal berakibat timbulnya ketidakstabilan plasmalemna dan menimbulkan
gangguan kemampuan transduksi mekanik.
Penelitian pada kultur sel didapatkan bahwa glukosa yang tinggi mempengaruhi
regulasi jaringan filamen aktin kortikal melalui modulasi siklus Cdc-42 endogen. Dengan
10

adanya glikosilasi Cdc-42 akan terjadi depolimerisasi sementara dari aktin kortikal. Cdc42, Rho dan Rac termasuk dalam superfamili Ras yang terlibat pada regulasi jaringan
filamen aktin dan memegang peran penting pada peristiwa adesi, migrasi, pagositosis,
sitokinesis dari sel. Peran lain dari Cdc-42 adalah pengaruhnya terhadap perubahan
morfologi seperti pembentukan baru lamelipodia maupun filopodia. Hiperglikemia
meningkatkan sintesa sorbinil yang dilanjutkan dengan meningkatnya diasilgliserol
(DAG). Melalui perannya pada PKC- II, DAG akan meningkatkan aktifitas
pospatidilinositol-3 kinase (PI3K) yang selanjutnya melalui jalur Akt mengaktifasi jalur
Raf dan MEK1/2 mendorong pembentukan filopodia. Selain melalui jalur Akt, PI3K juga
mengaktifasi FAK mendorong peningkatan dan melalui aktifasi protein kinase N (PKN),
mendorong pembentukan lamelipodia. Peningkatan aktifitas DAG melalui jalur Ras, Raf,
MEK1/2, ERK1/2 selanjutnya mendorong pembentukan filopodia. Lamelipodia maupun
filopodia ikut berperan pada proses pergerakan sel. Sel yang bergerak mengalami
polarisasi, salah satu bagian menjadi melebar membentuk lamelipodia, terjadi pula
pembentukan filopodia. Pada proses ini sitoskeleton aktin akan terorganisir sepanjang
sumbu sel memfasilitasi pergerakan, sedangkan filopodia berperan sebagai sensor
pengarah gerak.
Pengaruh hiperglikemi terhadap filamen aktin dapat pula terjadi melalui peningkatan
aktifitas protein kinase C-alpha (PKC-). Hasil penelitian ini menunjukkan peran PKC-
pada remodeling filamen aktin. Pada cell-line tubulus proksimal yang diberikan inhibitor
PKC ternyata menunjukkan adanya penurunan yang sangat berarti dari pembentukan
klaster filamen aktin.
Hiperglikemi tidak hanya berpengaruh terhadap filamen aktin. Dengan menggunakan
label imunofluoresen (immunofluorescent labeling) terlihat bahwa paparan hiperglikemi
pada sel akan menurunkan densitas tubulin- , yang merupakan komponen terbesar dari
mikrotubulus.
Pengaruh hiperglikemi pada filamen aktin maupun mikrotubulus ternyata terkait pula
dengan adanya defisiensi insulin. Insulin juga memegang peran kunci pada fungsi
organisasi jaringan mikrofilamen aktin, disamping juga berpengaruh terhadap
mikrotubulus. Insulin mempunyai berpengaruh pada regulasi tonus dari 2Ca2+
independent K+ currents pada miosit ventrikel tikus diabetes. Pada penelitian invitro,
adanya defisiensi insulin akan menurunkan tonus hubungan keduanya yang dapat
diperbaiki dengan penambahan insulin pada kultur jaringan tersebut. Perbaikan yang
11

terjadi ternyata dapat dihambat dengan pemberian sitosalasin, suatu bahan yang
menghambat pembentukan filamen aktin, maupun pemberian kolkisin yang menghambat
pembentukan mikrotubulus. Hal ini membuktikan bahwa insulin mampu mendorong
terbentuknya jaringan filamen aktin maupun mikrotubulus baru.
Pengaruh hiperglikemia pada protein signal pada umunya akan meningkatan ekspresi
maupun aktifitas protein tersebut. Peningkatan ekspresi dan aktifitas PKC- terbukti
berpengaruh pada remodeling sitoskeleton, khususnya filamen aktin. Hal ini akan
memberikan berpengaruh yang baik terhadap fungsi sitoskeleton.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Sitoskeleton atau kerangka sel adalah jaring berkas-berkas protein yang menyusun
sitoplasma pada eukariota dan prokariota.
2. Fungsi dari sitoskeleton antara lain memberi bentuk dan mempertahankan struktur sel,
sebagai penempatan berbagai organel dalam sel, motilitas sel, menggerakan materimateri dan organel dalam sel, dan pengaturan aktivitas biokimiawi dalam sel.
12

3. Berdasarkan komponen-komponen penyusun strukturnya, sitoskeleton bisa dibagi


menjadi tiga komponen, yaitu filamen mikro, tubulus mikro dan filament intermediet.
4. Perbedaan komponen sitoskeleton dapat dilihat dari struktur, diameter, subunut
protein, dan fungsinya.
5. Proses glikosilasi yang terjadi pada berbagai molekul akan menghasilkan advances
glycation end products (AGEs). Hal ini merupakan salah satu penjelasan yang dapat
menerangkan pengaruh hiperglikemi pada jaringan maupun sel. AGEs ditandai
dengan timbulnya cross lingking serta chromogenicity yang luas. Salah satu target
istimewa proses glikosilasi ditingkat sel adalah sitoskeleton filamen aktin kortikal.
Glikosilasi dari protein sitoskeletal berakibat timbulnya ketidakstabilan plasmalemna
dan menimbulkan gangguan kemampuan transduksi mekanik.
6. Solusi dari penyakit Hiperglikemia adalah Pada cell-line tubulus proksimal yang
diberikan inhibitor PKC ternyata menunjukkan adanya penurunan yang sangat berarti
dari pembentukan klaster filamen aktin.
7. Pada penelitian invitro, adanya defisiensi insulin akan menurunkan tonus hubungan
keduanya yang dapat diperbaiki dengan penambahan insulin pada kultur jaringan
tersebut. Perbaikan yang terjadi ternyata dapat dihambat dengan pemberian
sitosalasin, suatu bahan yang menghambat pembentukan filamen aktin, maupun
pemberian kolkisin yang menghambat pembentukan mikrotubulus. Hal ini
membuktikan bahwa insulin mampu mendorong terbentuknya jaringan filamen aktin
maupun mikrotubulus baru.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Sitoskeleton. (online). Diakses dari
http://bioselisthebest.blogspot.co.id/2013/05/sitoskeleton.html pada tanggal 9
Oktober 2016 pukul 13.20 WIB.
Nurmala. 2011. Makalah Sitoskeleton. (online). Diakses dari
http://numalablog.blogspot.co.id/2011/06/makalah-sitoskeleton.html pada tanggal 9
Oktober 2016 pukul 13.00 WIB.
Prakoso, FH. 2013. Sitoskeleton. (online) Diakses dari
http://fajarulhudaprakoso.blogspot.co.id/2013/11/sitoskeleton.html pada tanggal 9
Oktober 2016 pukul 13.35 WIB.

13

Rudijanto, Achmad dan Handono Kalim. 2016. Pengaruh Hiperglikemi terhadap Peran
Sitoskeleton (Cytoskeleton) sebagai Jalur Transduksi Signal (Signal Transduction).
(online) Diakses dari
https://www.researchgate.net/publication/267237793_Pengaruh_Hiperglemi_Terhad
ap_Peran_Sitoskeleton_Cytoskeleton_Sebagai_Jalur_Transduksi_Signal_Signal_Tra
nsduction pada tanggal 10 Oktober 2016 pukul 19.00 WIB.

Identifikasi Bahan,proses, produk kimia dalam sel


Reaksi Kimia

Lokasi dalam Sel

Proses Biokimia

Produk

Protein globular :
Dalam sitoplasma sel
tubulin (tubulin dan eukariotik
tubulin )

Molekul motor

Mikrotubula :
pergerakan sel /
motilitas sel

Molekul protein aktin Sitoplasma sel


eukariotik

Proses aliran plasma,


gerakan sel, gerakan
mikrovili internal,
defisiensi insulin,
tegangan (gaya

Mikrofilamen :
Regulasi tonus,
kontraksi otot.

14

tarik).
Protein

Sel otot

Megikat bagian
kontraktil sel pada
tempat yang tetap.

Intermediet : lamina
nucleus

15

Anda mungkin juga menyukai