Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
I. Latar belakang
Pencucian uang (disebut dengan istilah Money Laundering). Mahmoeddin
As dalam bukunya Analisis Kejahatan Perbankan yang dikutip oleh Munir Fuady 1
mengemukakan bahwa dalam sejarah hukum bisnis munculnya money laundering
dimulai dari negara Amerika Serikat sejak tahun 1830. Pada waktu itu banyak
orang yang membeli perusahaan dengan uang hasil kejahatan (uang panas) seperti
hasil perjudian, penjualan narkotika, minuman keras secara illegal dan hasil
pelacuran.
Pusat-pusat gangster besar yang piawai masalah pencucian uang di Amerika
Serikat yang terkenal dengan nama kelompok legendaries Al Capone (Chicago).
Mayer Lansky memutihkan uang kotor milik kelompok Al Capone dengan
mengembangkan pusat perjudian, pelacuran, serta bisnis hiburan malam di Las
Vegas (Nevada). Lalu dikembangkan lagi offshore banking di Havana (Cuba) dan
Bahama. Kegiatan pencucian uang yang dilakukan oleh kelom-pok ini menjadikan
Mayer Lansky dijuluki sebagai bapak Money Laundering Modern.
Setelah memasuki tahun 1980 an kegiatan ini semakin jadi dengan
banyaknya penjualan obat bius. Bertolak dari sini dikenal istilah narco dollar atau
drug money yang merupakan uang hasil penjualan narkotika. Perkembangan
selanjutnya uang panas itu disimpan di lembaga keuangan antaranya di bank.
Penyimpanan uang panas ini dengan tujuan agar uang hasil dari kejahatan itu
menjadi legal.
Dunia internasional bersepakat melarang kejahatan yang berhubungan
dengan narkotika dan pencucian uang. Kesepakatan ini dituangkan dalam sebuah
konvensi the United Nation Convention Against Illicit Trafic in Narcotics, Drugs
and Psycotropic Substances of 1988, yang biasa disebut dengan the Vienna
Convention, disebut juga U N Drug Convention 1988 yang mewajibkan para
anggotanya untuk menyatakan pidana terhadap pelaku tindakan tertentu yang
berhubungan dengan narkotika dan money laundering2. Apabila uang hasil
kejahatan dipergunakan dan atau dimasukkan ke dalam dunia peredaran uang
termasuk lembaga keuangan, berarti status uang itu identik dengan uang yang
diperoleh dari kegiatan yang legal. Jika demikian berarti akan menumbuh suburkan kejahatan yang bermotif uang baik kejahatan konvensional maupun
modern,sehing-ga samar perbuatan yang legal dan illegal.
Pencucian uang tidak dilakukan seperti kejahatan tradisional lainnya
walaupun bentuk kejahatannya sama seperti penipuan atau penyuapan. Penipuan
1

Munir Fuady. 2001. Hukum Perbankan Indonesia. PT. CirtraAditya Bakti


Bandung halaman 154
2
Loc.cit

dan penyuapan ini merupakan tindak pidana kejahatan menurut KUHP. Apakah
sama cara melakukan kedua tindak pidana ini dari waktu ke waktu atau dari
situasi ke situasi berlainan atau oleh orang yang satu dengan orang yang lain atau
dapat terjadi pelakunya sama, akan tetapi objek dan korbannya tidak sama .
Kejahatan berkembang seiring perkembangan IPTEK. Kegiatan pencucian
uang akan menyesuaikan diri dengan perkembangan IPTEK. Penipuan,
penyuapan secra tradisional akan langsung dilakukan dengan tunai. Akan tetapi
penyuapan dan kegiatan penipuan dilakukan dengan kecanggihan teknologi tidak
harus pada suatu tempat terten-tu.
Praktik money laundering bisa dilakukan oleh seseorang tanpa harus
berpergian ke luar negeri. Sifat money laundering menjadi universal dan bersifat
internasional yakni melin tasi batas-batas yurisdiksi negara 3. Berarti Money
laundering berhubungan dengan dan dicapai dengan kemajuan teknologi melalui
system cyberspace (internet), pembayaran dilakukan melalui bank secara
elektronik (cyberpayment)4 Sudarmadji salah seorang penasehat hukum Bank
Indonesia5 menyebutkan bahwa tindak pidana penyuapan, korupsi, perjudian,
pemalsuan uang merupakan pemicu money laundering. Money Laundering dapat
menimbulkan ketidak percayaan nasabah dan masyarakat kepada sistem
perbankan.
Apabila dikatakan bahwa kegiatan pencucian uang telah menembus batas
negara berarti pemahaman hukum pidana terhadap kejahatan ini tidak lagi terkait
dengan azas teritorial suatu negara saja akan tetapi lebih dari satu hukum nasional
yang dilanggar. Uang hasil dari tindak pidana ini tidak saja disimpan atau
dimanfaatkan dalam suatu lembaga keuangan suatu negara asal, akan tepi juga
dapat ditransfer ke negara lain de-ngan berbagai macam cara dan kepentingan.
Ada kepentingan untuk membiayai kegiatan teroris dan ada juga untuk proses
bisnis. Kegiatan semacam ini melibatkan lebih dari satu hukum pidana nasional.
Kasus-kasus kejahatan money laundering6 seperti mantan Presiden
Phillipina Ferdinand Marcos, uang hasil tindak pidana koroupsi disimpan di bank
Credit Suisse. Mantan Presiden negara Panama yaitu Noriega. Noriega melakukan
perdagangan obat bius. Kegiatan money laundering sampai ke Amerika serikat
sehingga akhirnya dia di penjarakan di Amerika. Kegiatan money laundering oleh
bank seperti kasus Bank Bank of Credit & Commerce Internasional (BCCI) tahun
1991.

NHT. Siahaan. 2005. Pencucian uang dan Kejahatan Perbankan. Sinar


Harapan. Jakarta, halaman 103.
4
Ibid. halaman 3
5
Sudarmadji .Makalah yang berjudul Essensi dan Cakupan UU Tentang
Pencucian Uang di Indonesia, disampaikan pada seminar nasional Sosialisasi
UU No 15 tahun 2002 Kerjasama Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum
Unsri dengan PT. Bank Pembangunan Daerah Sumsel tgl 15 Juli 2002.halaman
12
6
Munir Fuady, 2001, op.cit halaman 186 195.

Salah satu kasus BCCI adalah dibukanya rekening di BCCI oleh sebuah
kantor konsultan keuangan yang mengatakan mempunyai klien berupa investor
kaya di negara Amerika Latin. Jenis-jenis kejahatan money laun-dering yang
dilakukan BCCI berhubungan dengan perdagangan obat bius. BCCI ber-tindak
sebagai penyalur uang hasil transaksi itu. Kemudian tahun 1990 Dinas Bea dan
Cukai Amerika Serikat berhasil membongkar jaringan perdagangan obat bius
yang melibatkan BCCI. Kasus Chemical Bank tahun 1977. Chemical Bank
cabang New York melalui salah seorang manajernya menerima suap dari seorang
yang terlibat dalam perdagangan obat bius agar transaskinya berupa setoran uang
(hasil kejahatan) dalam rekening valas tersebut tidak dilaporkan dengan tidak
mengisi formilir Currency Transaction Report (CTR).
Jika diperhatikan uang hasil money laundering itu telah melalui dua periode.
Pertama uang itu diperoleh dari kejahatan, kedua uang itu dibersihkan melalui
money laundering dengan berbagai cara sehingga menjadikan uang itu legal.
Memperhatikan konvensi yang berhubungan dengan money laundering dan kasus
money laundering, nampak kejahatan ini tersusun rapi dan bersifat internasional.
Munir Fuady menyebutkan bahwa money laundering merupakan kejahatan yang
teror-ganisir (organized crime). Menurut hemat penulis tentu ada beberapa
parameter untuk menentukan bahwa kejahatan money laundering ini merupakan
kejahatan terorganisir.
II. Permasalahan
Kejahatan konvensional sifatnya expressive hanya karena kebutuhan sesaat,
dan tidak memerlukan kecanggihan teknlogi serta pelakunya tidak memerlukan
keahlian, cukup dengan modal berani. Andainya mereka menggunakan teknologi
hanya bersifat kebetulan . Kejahatan terorganisir memerlukan organisasi dan
sistematika yang kuat. Akan tetapi pencucian uang disebut kejahatan terorganisir
(organized crime) belum ada indikator. Berdasarkan pemikiran tersebut, muncul
permasalahan :
Bagaimana deskripsi tindak pidana pencucian uang sebagai kejahatan
terorganisir?
III. Tujuan Penulisan
Mendeskripsikan indikator pencucian uang sebagai tindak pidana terorganisir
(organized crime)

BAB II
PEMBAHASAN
Pencucian Uang sebagai Kejahatan terorganisir (Organized Crime)
Mendeskripsikan pencucian uang sebagai kejahatan terorganisir dilihat dari
segi kriminalisasi dan pelaku. Kriminalisasi suatu tindak pidana merupakan
bagian dari proses penegakan hukum pidana. Penegakan hukum Pidana melalui
tiga tahap7 diantaranya tahap formulasi. Tahap ini disebut dengan tahap kebijakan
legislative8. Pada tahap inilah terjadi proses kriminalisasi. Pada proses
kriminalisasi tidak saja hanya merumuskan tindak pidana be-serta sanksinya saja,
akan tetapi menentukan atau memberikan sifat apakah tindak pida-na ini tindak
pidana konvensional atau transnasional.
Jika tindak pidana itu bersifat transnasional menunjukkan indikasi bahwa
tindak pidana itu melampaui batas negara dan tidak terikat dengan yurisdiksi
hukum satu negara saja. Semua negara (lebih dari satu) negara yang mengatur
tindakan itu merupakan tindak pidana. Demikian juga kegitan dan pelaku,
tentunya pelaku tidak terlepas dari perkem-bangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
1. Kriminalisasi Pencucian Uang
Pada tingkat internasional ada suatu konvensi the United Nation Convention
Against Illicit Trafic in Narcotics, Drugs and Psycotropic Substances of 1988,
yang biasa disebut dengan the Vienna Convention, disebut juga U N Drug
Convention 1988. Konvensi ini mewajibkan para anggotanya untuk menyatakan
pidana terhadap tindakan tertentu yang berhubungan dengan narkotika dan money
laundering. Berdasarkan kon-vensi ini RI telah meratifikasi dengan UU No 7
tahun 1997. Implementasi ratifikasi ini baru pada tahun 2002 RI membuat UU No
15 tahun 2002 menyatakan bahwa money laundering sebagai tindak pidana. UU
No 15 tahun 2002 kemudian diubah dengan UU No 25 tahun 2003.
Konsideran UU No 15 tahun 2002 jelas menyatakan bahwa pencucian uang
bu-kan saja merupakan kejahatan nasional tetapi juga kejahatan transnasional,
oleh karena itu harus diberantas, antara lain dengan cara melakukan kerja sama
regional atau inter-nasional mela-lui forum bilateral atau multilateral. Konsideran
UU No 25 tahun 2003 menyatakan bahwa agar upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dapat berjalan secara efektif, maka UU
7

Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Undip. Semarang


halaman 13.
8
Pada tingkat internasional usaha penegakkan hukum pidana tahap formulasi
atau kriminalisasi dituangkan dalam bentuk konvensi. Konvensi mewajibkan
negara-negara peserta membentuk undang-undang untuk memberantas
kejahatan yang disebutkan dalam konvensi.

No 15 tahun 2002 perlu disesuaikan dengan perkembangan hukum pidana tentang


pencucian uang dan standar internasional.
Kriminalisasi tindak pidana berpedoman kepada sifat hukum pidana, yaitu
clarity (jelas), certainty (pasti), proportion (terukur), speedy (cepat) dan
prevention (bersifat mencegah). Kriminalisasi pencucian uang terdapat dalam
Pasal 3. UU No 25 tahun 20039. Rumusan Pasal 3 paralel dengan rumusan Pasal 1
angka 1. Pencucian uang adalah per-buatan menempatkan, mentransfer,
membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, me-nyumbangkan, menitipkan,
membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lain-nya atas harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pi-dana
dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul harta kekayaan sehingga seolah olah menjadi harta kekayaan yang sah.
2. Kegiatan dan Pelaku Pencucian Uang
Pencucian uang sebagai tindak pidana yang terorganisir tentu ada beberapa
pi-hak yang terlibat dan mempunyai tugas masing-masing. Biasanya organisasi
seperti ini disebut dengan sindikat atau jaringan. Agar organisasi ini berjalan
dengan sempurna sesuai dengan rencana perlu adanya kerangka tertentu sebagai
sarana.
Beberapa literatur yang membahas pencucian uang mengemukakan bahwa
kegiatan pencucian uang mem-punyai kerangka, model, modus operandi,
instrumen, metode, tahapan serta pela-ku tertentu dalam kegiatan kejahatan
merupakan satu paket.. Masing-masing sarana terdiri dari berbagai jenis sebagai
alternatif. Sarana-sarana ini menjadi pedoman melakukan pencucian uang
sehingga untuk melakukan pencucian uang dapat dipilih dari beberapa alternatif.
2.1. Model Schaap
Cees sebagaimana dikutip oleh Munir Fuady10 mengemukakan banyak model
untuk melakukan kejahatan pencucian uang. Diantara model pencucian uang yang
paling lazim adalah :
1.

2.
3.
9

10

Model dengan operasi C-Chase. Model ini menyimpan uang di bank dibawah ketentuan sehingga bebas dari kewajiban lapor transaksi keuangan
(Non Currency Transaction Reports) dan melibatkan bank luar negeri
dengan memanfaatkan tax haven.
Model pizza connection. Model ini memanfaatkan sisa uang yang ditanam
di bank untuk mendapatkan konsesi Pizza, dan melibatkan negara tax haven
dengan memanfaatkan ekspor fiktif.
Model La Mina. Model ini memanfaatkan pedagang grosir emas dan
permata dalam negeri dan luar negeri.

Perubahan UU No 15 tahun 2002 tentang Pencucian Uang


Munir Fuady. 2001. op.cit halaman 198 206 ada 11 model

4.
5.

Model dengan penyelundupan uang kontan ke negara lain. Model ini mempergunakan konspirasi bisnis semu dengan system bank parallel.
Model dengan melakukan perdagangan saham di Bursa Efek.Model ini
melakukan kerja sama dengan lemabaga keuangan yang bergerak di bursa
efek.

2.2. Modus Operandi


Mahmoeddin, H.A.S11 yang dikutip oleh Munir Fuady mengemukakan ada 8
(delapan) modus operandi pencucian uang :
1. Kerjasama Penanaman Modal Uang hasil kejahatan dibawa ke luar negeri.
Kemudian uang itu dimasukkan lagi ke dalam negeri lewat proyek penanaman
modal asing(joint venture). Selanjkutnya keuntungan dari perusahaan joint
venture diinvestasikan lagi ke dalam proyek-proyek yang lain, sehingga
keuntungan dari proyek terse-but sudah uang bersih bahkan sudah dikenakan
pajak.
2. Kredit Bank Swiss Uang hasil kejahatan diselundupkan dulu ke luar negeri
lalu dimasukkan di bank tertentu, lalu di transfer ke bank Swiss dalam bentuk
deposito. Deposito dijadikan jaminan hutang atas pinjaman di bank lain di negara
lain. Uang dari pinjaman ditanamkan kembali ke negara asal dimana kejahatan
dilakukan. Atas segala kegiatan ini menjadikan uang itu sudah bersih.
3. Transfer ke luar Negeri Uang hasil kejahatan ditransfer ke luar negeri lewat
cabang bank luar negeri di negara asal. Selanjutnya dari luar negeri uang dibawa
kembali ke dalam negeri oleh orang tertentu seolah-olah uang itu berasal dari luar
negeri.
4. Usaha Tersamar di dalam Negeri Suatu perusahaan samaran di dalam negeri
didirikan dengan uang hasil keja-hatan. Perusahaan itu berbisnis tidak
mempersoalkan untung atau rugi. Akan tetapi seolah-olah terjadi adalah
perusahaan itu telah menghasilkan uang bersih.
5. Tersamar Dalam Perjudian Uang hasil, kejahatan didirikanlah suatu usaha
perjudian, sehingga uang itu dianggap sebagai usaha judi. Atau membeli nomor
undian berhadiah dengan nomor menang dipesan dengan harga tinggi sehingga
uang itu dianggap se-bagai hasil menang undian.
6. Penyamaran Dokumen Uang hasil kejahatan tetap di dalam negeri.
Keberadaan uang itu didukung oleh dokumen bisnis yang dipalsukan atau
direkayasa sehingga ada kesan bahwa uang itu merupakan hasil beberbisnis yang
berhubungan dengan do-kumen yang bersangkutan. Rekayasa itu misalnya
dengan melakukan double invoice dalam hal ekspor impor sehingga uang itu
dianggap hasil kegiatan ekspor impor.
7. Pinjaman Luar Negeri Uang hasil kejahatan dibawa ke luar negeri. Kemudian
uang itu dimasukkan lagi ke dalam negeri asal dalam bentuk pinjaman luar negri.
Sehingga uang itu dianggap diperoleh dari pinjaman (bantuan kredit ) dari luar
negeri.

11

Munir Fuady, 2001 ibid halaman 155

8. Rekayasa Pinjaman Luar Negeri. Uang hasil kejahatan tetap berada di dalam
negeri. Namun dibuat rekayasa dokumen seakan-akan bantuan pinjaman dari luar
negeri
2.3. Metode
NHT Siahaan12 mengemukakan ada tiga metode yang dipergunakan melaku-kan
pencucian uang, sbb:
1. Buy and Sell Conversions Metode ini dilakukan meallui transaksi barang dan
jasa. Suatu aset dapat dijual kepada konspirator yang bersedia membeli atau
menjual lebih mahal dengan mendapatkan fee atau deskon. Selisih harga yang
dibayar kemudian dicuci secara transaki bisnis. Barang atau jasa dapat diubah
menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau perusahaan yang ada di
suatu bank
2. Offshore Conversions Uang hasil, kejahatan dikonversi ke dalam wilayah yang
merupakan tempat yang sangat menyenagkan bagi penghindaran pajak (tax
heaven money laun-dering centers) untuk kemudian di depositokan di bank yang
berada di wila-yah tersebut. Negara yang termasuk atau berciri tax heaven
memang terdapat system hukum perpajakan yang tidak ketat. Akan tetapi system
rahasia bank sangat ketat. Birokrasi bisnis cukup mudah untuk memungkinkan
adanya ra-hasia bisnis yang ketat serta pembentukan usaha trust fund. Untuk
mendu- kung usaha itu pelaku memakai jasa pengacara, akuntan dan konsultan
keuangan dan para pengelola dana yang handal untuk memanfaatkan segala cela
yang ada di negara itu.
3, Legitimate Business Conversions Metode ini dengan melakukan kegiatan bisnis
yang sah sebagai cara peng-alihan atau pemanfaatan hasil uang kotor. Uang kotor
kemudian dikonversi secara transfer, cek atau alat pembayaran lain untuk
disimpan di rekening bank atau ditransfer kemudian ke rekening bank lainnya.
Biasanya pelaku bekerja sama dengan perusahaan yang rekeningnya dapat
digunakan sebagai terminal untuk menampung uang kotor.
2.4. Instrumen.
Instrumen yang dimaksud berupa lembaga penyedia jasa baik penyedia jasa
keuangan berupa bank ataupun non bank maupun non keuangan. Ada 8 (delapan)
Instrumen yang dipergunakan dalam pencucian uang. yaitu :
1. Bank dan Lembaga Keuangan lainnya
2. Perusahaan Swasta
3. Real estate
4. Deposit Taking Institution dan Money Changer
5. Institusi Penanaman Uang Asing
6. Pasar Modal dan Pasar uang.
12

NHT.Siahaan. 2005 Op.cit halaman 21

Menurut UU No 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, Pasar Modal adalah


kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek,
perusahaan public yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta
lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. (Pasasl 1 angka 13). Pasar
Uang adalah sarana yang menyediakan pembaiayaan jangka pendek (kurang
dari satu tahun). Pasar uang tidak mempunyai tempat fisik seperti pasar modal.
Pasar uang memperdagangkan antara lain : surat berharga pemerintah, sertifikat
deposito,surat perusahaan seperti aksep, dan wesel. Lembaga lembaga yang
aktif dalam pasar uang adalah bank komersial, merchant banks, bank dagang,
penyalur uang, dan bank sentral13.
7. Emas dan Barang Antik
8. Kantor konsultan keuangan
2.5. Tahapan14
1.Placement. Tahap ini upaya menempatkan uang tunai yang berasal dari tindak
pidana ke dalam system keuangan (financial system) atau upaya menempatkan
uang giral (cheque, weselbank, sertifikat deposito, dll) kembali ke dalam system
keuangan, terutama system perbankan.
2. Layering Upaya untuk mentransfer harta kekayaan yang berasal dari tindak
pidana (dirty money) yang telah berhasil ditempatkan pada penyedia jasa
keuangan (terutama bank) sebagai hasil upaya penempatan (placement ) ke
penyedia jasa keuangan yang lain. Dengan dilakukan layering, akan menjadi sulit
bagi pene-gak hukum untuk dapat mengetahui assal usul harta kekayaan tersebut.
3. Integration. Upaya menggunakan harta kekayaan yang berasal dari tindak
pidana yang te-lah berhasil masuk ke dalam system keuangan melalui penempatan
atau trans-fer sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan halal (clean money)
untuk kegiatan bisnis yang halal atau untuk membiayai kembali kegiatan
kejahatan.
2.6. Pelaku
Kejahatan terorganisir termasuk pencucian uang pelakunya juga lebih dari
satu atau dua orang15. Terorganisir dalam pengertian terdapat kerjasama diantara
pelaku dan masing-masing pelaku dapat berada pada tempat yang berlainan.
Pencucian uang sebagai kejhahatan terorgaanisir dilakukan oleh orang yang menguasai dunia penyedia jasa keuangan baik bank maupun non bank Tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dapat saja dilakukan oleh siapa
saja. Akan tetapi untuk melanjutkannya ke tingkat pencucian uang diperlukan
pengetahuan khusus tentang dunia penyedia jasa keuangan. Bahkan harus
menguasasi ilmu pengetah-uan computer.
13

M.Irsan Nasarudin dan Indera Surya 2004. Aspek Hukum Pasar Modal
Indonesia. Kencana Jakarta. halaman 19
14

Baca penjelasan umum UU No 25 tahun 2003 . LN No. 108 tahun 2003 dan
TLN No 4324 tahun 2003
15
Ilmu hukum pidana mengenal dengan istilah delneming:.

Pencucian uang merupakan kejahatan kerah putih (white collar crime).


Kejahatan kerah putih tidak ada rumusan yang jelas baik dari sisi kriminologi
maupun dalam perundang-undangan. Pergerakan kejahatan kerah putih sangat
luas yang dapat meliputi perekonomian, keuangan, dan biasanya dilakukan secara
terorganisir (organized crime)16.
Kejahatan kerah putih dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan
teknologi mulai dari manual hingga exrtra sophisticated atau super canggih yang
memasuki dunia maya (cyberspace) sehingga kejahatan kerah putih dalam bidang
pencucian uang disebut dengan cyber laundering17 merupakan bagian dari cyber
crime yang didukung.
Contoh kasus pencucian uang yang tergolong sebagai kejahatan
teroraganisir seperti kasus Bank of Credit & Commerce International (BCCI),
Pizza Connection, Penyelundupan uang dan Kasus Nusse. Kasus Bank of Credit
& Commerce International (BCCI Kasus BCCI dengan mempergunakan model
Operasi C-Chase, modus kerja sama penanaman modal, metode legitimate
business conversions dan dengan instrument bank dan lembaga keuangan lainnya
Kasus Bank of Credit & Commerce Internasional(BCCI) tahun 1991. Bank of
Credit & Commerce Internasional(BCCI) mengalami kemajuan sekitar tahun1970
hingga tahun 1980. BCCI banyak mempunyai anak cabang di Timur Tengah,
Eropa, Afrika, Asia dan di Amerika Serikat mempunyai anak perusahaan berupa
First American Bank of Washington sekaligus memiliki cabang di seluruh kota
besar di Amerika Serikat. Selain itu BBCCI mempunyai bank terafiliasi di Negara
Negara tax haven, seperti Luxemburg atau Cayman Islands. BCCI menggunakan
tenaga konsultan manajemen Kasus pencucian uang yang dilakukan lewat BCCI
adalah dengan menggunakan tenaga konsultan manajemen.
Salah satu kasus BCCI adalah dibukanya rekening di BCCI oleh sebuah
kantor konsultan keuangan yang mengatakan mempunyai klien beru-pa investor
kaya di negara Amerika Latin. Rekening tidak aktif selama 6 bulan lalu mendadak
ada masuk dana melalui telegram berkali kali dalam jumlah yang besar. Lalu
Direktur dari kantor konsultan keuangan tersebut memerintahkan mentransfer
sebagian besar dananya kesebuah rekening bank di Panama via bank besar di New
York.
Jenis-jenis kejahatan money laundering yang dilakukan BCCI berhubungan
dengan perda-gangan obat bius./ BCCI bertindak sebagai penyalur uang hasil
transaksi itu. Kemudian tahun 1990 Dinas Bea dan Cukai Amerika Serikat
berhasil membongkar jaringan per-dagangan obat bius yang melibatkan BCCI
sebagai penyalur uangbhasilm transaksi. Kasus BCCI lain, BCCI pernah membeli
sebuah bank di Kolombioa yang mempunyai 30 cabang di seluruh Kolombia,
sepertio di Madelin dan Cali yang terkenal dengan pusat kartel narkotika. Pada
suatu saat BCCI berperilaku sebagai Godfather. Hal ini dilakukan ketika negara
16

Marulak Pardede. 1995.Hukum Pidana Bank. Pustaka Sinar Harapan Jakarta


halaman 135
17

NHT. Siahaan. Op.cit halaman 41

Jamaika ditolak kredit sebanyak US $ 60 Juta dari dana Moneter International,


karena kredit lamanya belum lunas. BCCI sebagai Godfather datang dengan
menawar-kan kredit sebesar US $ 40 Juta, dengan syarat agar Bank Sentral Jamica
menyerahkan bisnisnya kepada BCCI, dan hal ini dipenuhi oleh Jamaica.
Kasus Pizza Connection Kasus Pizza Connection ini mempergunakan model
tersendiri yang disebut model Pizza Connection. Pizza Connection ini banyak
mempunyai restoran Pizza yang mengalirkan uang haram. Modus operandi yang
dipergunakan adalah kerjasama penanaman modal dan transfer ke luar negeri.
Metode dipergunakan metode offshore Conversion. Instrumen yang dipergunakan
adalah bank. Kasus Pizza Connection merebak pada tahun 1984 yang ditangani
oleh pihak polisi International (Interpol).
Kasus ini dilakukan investigasinya oleh investigator Amerika Serikat dan
Italy yang dipimpin oleh Hakim Italy Judge Falcone.Restoran Pizza yang tersebar
dimana-mana banyak menghasilkan uang haram sebagai hasil per-dagangan obat
bius di Amerika Serikat. Uang ini sebagian dipergunakan dan ditanam untuk
mendapat konsesi pizaa, selebihnya lewat negara tax haven di Karibia dan Swiss.
Uang tersebut dibwerikan kepada anggota mafia di Sicilya dalam bentuk
pembayaran terhadap ekspor juice buah-buahan ke Rumania, Bulgaria dan
Libanon, Padahal ekspor tersebut fiktif. Sasaran yang dituju adalah untuk
mendapatkan uang masyarakat Eropa terhadap reimbursements ekspornya.
Kasus Nusse. Kasus Nusse mempergunakan model perdagangan saham,
modus operandi kerjasama penanaman modal, metode Legitimate business
Conversions, dengan instrument Pasar modal dan lembaga keuangan bank. Kasus
Nusee terdeteksi di Belanda dengan bursa efek Amesterdam yang meli-batkan
perusahaan efek Nusse Brink Commissionairs di Pasar Modal. Nussee
mempunyai beberapa klien yang merupakan pelaku pencucian uang. Nusse Brink
membuat 2 rekening bagi kliennya. Satu rekening untuk transaksi menderita
kerugian, satunya lagi untuk transaski memperoleh untung. Rekening dibuka di
tempat yang sangat rahasia sehingga tidak terdeteksi siapa pemilik uang.

10

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kegiatan pencucian uang bukan merupakan kejahatan baru ditemukan.
Kejahatan ini pertama kali muncul di negara maju sebagai akibat perkembangan
perda-gangan obat bius (narkotika). Kejahatan terorganisir seperti Pencucian uang
tidak hanya didasarkan kepada jumlah pelaku. Pencucian uang dilakukan tidak
saja secara terorganisir berdasarkan jumlah pelaku akan tetapi sistematis yang
dapat melintasi batas yurisdiksi negara. Kejahatan terorganisir dibentuk
berdasarkan sistematika kerja yang tersusun secara rapi. Jaringan tidak harus
bersifat permanent akan tetapi daya kerja harus dinamis.. Antara model, modus
operandi, metode serta instrumen disesuaikan sehingga dapat berlaku efektif.
Unsur model tidak bersifat mutlak,tanpa model kegiatan pencuciasn uang dapat
terlaksana. Kejahatan teroganisir selalu didukung oleh perkembangan teknologi
serta berpeluang pada cyber space sehingga kejahatan terorganisir disebut cyber
crime termasuk pencucian uang.

11

Daftar Pustaka
Marulak Pardede. 1995.Hukum Pidana Bank. Pustaka Sinar Harapan Jakarta
M.Irsan Nasarudin dan Indera Surya 2004. Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia.
Kencana Jakarta.
Muladi. 1995. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Undip. Semarang Munir
Fuady. 2001. Hukum Perbankan Indonesia. PT. Cirtra Aditya Bakti Bandung
NHT. Siahaan. 2005. Pencucian uang dan Kejahatan Perbankan. Sinar Harapan.
Jakarta,
Romli Atmasasmita, 2003. Pengantar Hukum Bisnis Sudarmadji .
Makalah yang berjudul Essensi dan Cakupan UU Tentang Pencucian Uang di
Indonesia, disampaikan pada seminar nasional Sosialisasi UU No 15 tahun 2002
Kerjasama Kajian Hukum dan Bisnis Fakultas Hukum Unsri dengan PT. Bank
Pembangunan Daerah Sumsel

12