Anda di halaman 1dari 9

MANAJEMEN PRODUKSI BENIH

TUGAS KULIAH INDIVIDUAL


PERENCANAAN INDUSTRI BENIH JAGUNG HIBRIDA

Nama :

Feri Kurnia Sandy

NIM

135040107111018

Kelas :

G Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

PERENCANAAN INDUSTRI BENIH JAGUNG HIBRIDA


1. Perencanaan Agregat
Perencanaan agregat adalah keputusan perencanaan jangka menengah
dengan horizon waktu 3 bulan sampai 1 tahun. Dalam rentang ini fasilitas fisik
diasumsikan tetap selama masa perencanaan tersebut. (Kumar dan Suresh, 2008)
Perencanaan agregat hanya berfokus terhadap family produk dan tidak melihat
item individu. (Waters, 2003) Perencanaan agregat dibuat untuk menyesuaikan
kemampuan produksi dalam menghadapi permintaan pasar yang tidak pasti
dengan mengoptimumkan penggunaan tenaga kerja dan peralatan produksi yang
tersedia sehingga ongkos total produksi dapat ditekan seminim mungkin.
(Nasution, 2008). Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan
perencanaan yaitu dengan memanipulasi persediaan, laju produksi, jumlah tenaga
kerja, kapasitas atau variabel terkendali lainnya. Jika perubahan dilakukan
terhadap suatu variabel sehinggaterjadi perubahan laju produksi disebut strategi
murni (pure strategy), diantaranya adalah mengendalikan jumlah persediaan,
mengendalikan jumlah tenaga kerja, sub kontrak, mempengaruhi demand.
Sebaliknya strategi gabungan (mixed strategy) adalah menggabungkan dua atau
lebih strategi murni sehingga perencanaan produksi lebih fleksibel. (Ginting,
2007).
Dalam menerapkan strategi ini ada beberapa biaya yang menjadi
pertimbangan karena dapat berkontribusi terhadap total biaya produksi. Hiring
cost adalah biaya yang timbul dari penanambahan tenaga kerja. Ini termasuk
ongkos-ongkos untuk iklan, proses seleksi, training. Firing cost adalah biaya yang
timbul daripemberhentian tenaga kerja. Hal ini terjadi karena semakin rendahnya
permintaan produk, sehingga tingkat produksi akan menurun secara drastis.
Pemberhentian ini mengakibatkan perusahaan harus mengeluarkan uang pesangon
bagi karyawan yang diberhentikan. Overtime cost adalah biaya yang timbul dari
penggunaan waktu lembur sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan output
produksi. Perusahaan harus mengeluarakan ongkos tambahan lembur yang lebih
tinggidibandingkan dengan ongkos kerja regular. Inventory cost adalah biaya yang
timbul dari diadakannya persediaan (inventory) yang berperan mengantisipasi
timbulnya kenaikan permintaan pada saat-saat tertentu. Ongkos penyimpanan

termasuk ongkos tertahannya modal, pajak, asuransi, kerusakan bahan, dan


ongkos sewa gudang. Lost saless cost adalah biaya yang timbul dari kehabisan
persediaan. Ini dihitung berdasarkan berapa permintaaan yang datang tetapi tidak
dilayani karena produk yang diminta tidak tersedia. Sub-contract cost adalah biaya
dari pelimpahan order kepada perusahaan lain karena kapasitas perusahaan tidak
mencukupi. Biaya sub-contract biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan biaya
produksi reguler maupun produksi overtime. (Sukendar, 2008)
Kriteria strategi perencanaan yang diterapkan adalah stratagi yang
memberikan total biaya produksi yang minimum. Beberapa penelitian terdahulu
yang menerapkan perencanaan produksi agregat antara lain ; Chinguwa, et al.
(2013) dan Amri dan Harahap, (2010) dengan pendekatan heuristik dan optimasi,
Purnomo (2010) dengan pendekatan model integer programming. Wardani (2010)
dengan metode transportasi. Octavianti et al.(2013) dan Sukendar (2008) dengan
metode heuristik. Dari telaah beberapa penelitian terdahulu tersebut, metode
heuristik dan optimasi adalah metode yang paling banyak dipakai. perencanaan
agregat pada sebuah industri pertanian dengan menggunakan pendekatan heuristik
dengan menerapkan empat jenis strategi yaitu pengendalian tenaga kerja,
pengendalian inventory, overtime, overtime dan sub-contract.
2 Pengelolaan Industri Jagung Hibrida
2.1 Budidaya Tanaman Jagung
Jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah
padi yang akhir-akhir ini semakin meningkat pula, jagung biasanya digunakan
sebagai pakan dan bahan industri. Berbagai usaha telah dilakukan untuk
meningkatkan produksi benih jagung nasional dan tampaknya telah membawa
hasil yang nyata.
Budidaya Jagung Hibrida dan bersari bebas memiliki beberapa tahap antara lain
sebagai berikut:
2.1.1 Iklim
Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari
sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat
penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan
terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran

dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan


jagung adalah antara 23 27 C.
2.1.2 Kondisi Lahan
Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tanah tegalan,
sawah tadah hujan dan beriirigasi serta sebagian kecil di tanam di dataran tinggi.
Tanaman jagung umumnya ditanam pada akhir musim hujan (oktober-nopember)
dan menjelang musim kemarau.
Tanah yang baik untuk jagung adalah gembur dan subur, karena tanaman ini
memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung tumbuh baik pada berbagai
jenis tanah asalkan mendapatkan pengelolaan yang baik. Tanah dengan tekstur
lempung berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhan. Tanah-tanah dengan
tekstur berat masih dapat di tanami jagung dengan hasil yang baik bila pengolahan
tanah di kerjakan secara optimal, sehingga aerase dan ketersediaan air dalam
tanah berada dalam kondisi baik.
Kemasaman tanah biasanya erat sekali hubungannya dengan ketersediaan unsurunsur hara tanaman. Kemasaman tanah (pH) yang baik bagi pertumbuhan
tanaman jagung berkisar antara 5,6 7,5 (Aldrich, dkk. 1975)
2.1.3 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menyediakan
tempat tumbuh bagi tanaman jagung sehingga perakaran tanaman dapat
berkembang dengan baik. Dengan demikian absorbsi hara oleh tanaman berada
dalam kondisi optimal. Pengolahan tanah diusahakan agar kondisi air tanah dapat
terpelihara dengan baik.
Pada tanah-tanah bertekstur berat, pengolahan tanah sebaiknya dilakukan
secara intensif untuk mendapatkan drainase dan aerasi tanah yang dapat
menunjang pertumbuhan tanaman jagung. Untuk menghemat tenaga dan waktu
serta memanfaatkan air tersedia dalam tanah, pengolahan tanah secara minimum
dapat dilakukan terutama pada tanah bertekstur ringan. Pengolahan tanah secara
minimum yaitu dengan merotor atau mencangkul tanah pada barisan yang akan
ditanami selebar 40 cm, pda tanah bertekstur ringan tidak memberikan perbedaan
hasil yang berarti bila dibandingkan dengan pengolahan tanah secara
sempurna/seluruh permukaan tanah.

Setelah pertanaman jagung tumbuh kira-kira 4-5 minggu lalu dilakukan


pembumbunan. Pembumbunan, disamping untuk memperbaiki drainase dan aerasi
tanah, juga dimaksudkan sekaligus untuk mengurangi gulma yang ada pertanaman
jagung. Pembumbunan ini nyata dapat meningkatkan hasil biji jagung.
Pembumbunan yang dilakukan pada pertanaman jagung semula tanahnya hanya
diolah pada bagian yang akan ditanami saja dan pembumbumbunan juga dapat
meningkatkan hasil produksi.
2.1.4 Pertumbuhan Tanaman Jagung
Kira-kira 4-6 hari jagung di tanam, tanaman akan muncul di atas
permukaan tanah bila kondisi tanah cukup lembab. Laju pertumbuhan tinggi
tanaman pada fase awal relatif lambat, tetapi tanaman akan tumbuh dengan cepat
setelah tanaman berumur 4 minggu. Sistem perakaran jagung berkembang dengan
cepat pada saat tanaman berdaun 5-7 helai. Selanjutnya setelah berumur 7 9
minggu, terjadi pembungaan lalu rambut tongkol muncul dan selanjutnya
penyerbukan mulai langsung. Umumnya tongkol jagung tumbuh dari ruas 6 8
dibawah bunga jantan. Pada fase pembungaan ini biasanya akar cabang (brace
root) tumbuh darii ruas bagian bawah dekat tanah. Akar cabang ini selain berguna
untuk menunjang atau menompang tanaman agar tidak mudah rebah juga dapat
mengabsorbsi hara tanaman (Aldrich, dkk. 1975).
Setelah penyerbukan berlangsung, biji mulai berbentuk dan perkembang.
Pada fase pertumbuhan ini akumulasi bahan kering meningkat hingga menjelang
panen dan peningkatan ini hanya untuk pengisian biji. Kemudian tongkol jagung
dapat di panen bila kelobot terlihat berwarna kuning dan telah kering. Bila klobot
dikupas terdapat biji jagung yang mengkilat dan jika ditusuk dengan kuku ibu jari
tidak nampak bekasnya. Pada saat panen ini kadar air biji berkisar antara 30 35
%. Sebagai indikator lain untuk mengetahui masaknnya biji adalah adanya lapisan
hitam yang terdapat pada ujung biji jagung yang melekat pada tongkol (janggel).
Adanya lapisan hitam tersebut menunjukkan bahwa translokasi hasil fotosintesis
kedalam biji jagung telah terhenti. Pengamatan lapisan hitam ini agak sulit
ditemui di lapang. Akumulasi bahan kering selama pertumbuhan tanaman jagung
(hanway, 1966).
2.1.5 Kebutuhan Hara N, P dan K pada Produksi Benih Jagung

Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik yang memberikan


hasil tinggi, unsur-unsur hara yang tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman
harus dalam keadaan cukup. Unsur-unsur hara yang penting bagi pertumbuhan
tanaman jagung adalah N, P dan K
2.1.5.1 Nitrogen
Absorbsi N oleh tanaman jagung berlangsung selama pertumbuhannya.
Pada awal pertumbuhan, akumulasi N dalam tanaman relatif lambat dan setelah
tanaman umur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Pada saat pembungaan (bunga
jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi N sebanyak 50 % dari seluruh
kebutuhannya. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil yang baik, unsur hara N
dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan tersebut. Tanaman
jagung yang kekurangan unsur N akan memperlihatkan pertumbuhan yang kerdil
dan daun tanaman berwarna hijau kekuning-kuningan yang berbentuk huruf V
darii ujung daun menuju tulang daun dan dimulai dari daun bagian bawah terlebih
dahulu. Selain itu, tongkol jagung terbentuk menjadi kecil dan kandungan protein
dalam biji rendah.
2.1.5.2 Fosfor (P)
Tanaman jagung mengabsorbsi P dalam jumlah relatif sedikit dari pada
absorbsi hara N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama dengan
akumulasi hara N. Pada fase awal, pertumbuhan akumulasi P relatif lebih lambat,
namun setelah umur 4 minggu meningkat dengan cepat.
Pada saat keluar bunga jantan, akumulasi P pada tanaman jagung mencapai 35 %
dari seluruh kebutuhannya. Selanjutnya akumulasi meningkat hingga menjelang
tanaman dapat di panen.
Gejala kekuranagan P biasanya tampak pada fase awal pertumbuhan
tanaman yang kekuranagn P, daunnya berwarna keunguan. Kekurangan P juga
menyebabkan perakaran tanaman menjadi dangkal dan sempit penyebarannya
serta batang menjadi lemah. Selain itu, pembentukan tongkol jagung menjadi
tidak sempurna dengan ukuran kecil dan barisan biji tidak beraturan dengan biji
yang kurang berisi (Berger, 1977).
2.1.5.3 Kalium (K)

Kalium dibutuhkan tanaman jagung dalam jumlah paling banyak


dibandingkan dengan har N dan P pada fase pembungaan, akumulasi hara K telah
mencapai 60 75 % dari seluruh kebutuhannya.
Kekuranagan hara K pada tanaman jagung sering terlihat gejalanya pada
fase sebelum pembungaan. Tanaman jagung yang kekuranagan K memperlihatkan
pinggiran dan ujung daun menjadi berwarna kuning hingga menjadi kering.
Gejala kekurangan K ini pertama terlihat pada daun bagianbawah. Dalam keadaan
yang lebih parah, daun tersebut akan kering dan mati. Apabila batang tanaman
disayat, akan terlihat warna kecoklatan yang terdapat pada ruas (bukunya).
Kekuranagan K juga berpengaruh terhadap pembentukan tongkol. Ujung tongkol
bagian atas tidak penuh berisi oleh biji serta biji jagung tidak melekat secara kuat
pada tongkolnya (Aldrich, dkk. 1975).
2.1.6 Pemupukan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas jagung berumur dalam, lebih
tanggap terhadap pemupukan. Dengan demikian untuk mendapatkan hasil jagung
yang baik bagi varietas berumur dalam diperlukan pupuk yang relatif lebih
banyak. Waktu pemberian pupuk dan takaran yang tepat akan memberikan hasil
yang tinggi.
2.1.6.1 Waktu Pemberian Pupuk
Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut
di dalam air sehingga mudah hilang baik melalui pencucian maupun penguapan.
Untuk mengurangi kehilangan N, pemberian pupuk N sebaiknya diberikan secara
bertahap. Dikarenakan jikalau pupuk N di berikan secara langsung contoh urea,
maka akan menyebabkan pengurangan dalam produksi.dikarenakan pupuk N
mudah tercuci dan bersifat mudah menguap higrokopis.
Cara pemberian pemupukan N yang baik adalah dengan jalan meletakkan pupuk
di permukaan tanah dan segera dibumbun atau di tugal di samping tanaman dan di
tutup kembali dengan tanah
2.1.6.2 Dosis Pemupukan
Takaran per hektar pupuk kandang 2 ton, urea 300 kg, SP36 150 kg, KCl
75 kg. Pupuk urea diberikan 2 kali, masing-masing 1/2 bagian pada saat tanaman

berumur 18 hari dan 35 hari. Sedangkan pupuk kandang, SP36 dan KCl diberikan
seluruhnya pada saat tanam.
2.1.7 Roguing
Roguing dilakukan dengan cara membuang tanaman yang diragukan. Hal
ini dimaksudkan untuk menghindari penyerbukan tanaman tetua betina oleh
tanaman yang tidak dikehendaki, damn pembentukan benih bukan dari tanaman
tetua yang diinginkan
2.1.8 Panen dan Pasca Panen
Ciri tanaman jagung sudah waktunya dipanen adalah kelobotnya sudah
berwarna putih kecoklatan dan tidak meninggalkan bekas apabila bijnya ditekan
menggunakan kuku.
3. Analsis Kelayakan Industri Benih Jagung Hibrida
1. Penggunaan Sarana Produksi
Uraian
Benih (kg)
Curater (kg)
Urea (kg)
SP 36 (kg)
KCl (kg)
Gramozone (ltr)
Matador (ltr)

Volume
15
8
300
200
100
7
2
jumlah

Nilai (Rp)
525.000
88.000
900.000
800.000
750.000
385.000
320.000
3.768.000

2. Biaya Tenaga Kerja


Uraian
Pengolahan tanah
Penanaman (HOK)
Penyiangan dan

Volume
Borongan
30
20

pembumbunan (HOK)
Pemupukan,

10

Nilai (Rp)
2.200.000
1.500.000
1.000.000
500.000

pengendalian H & P
(HOK)
Panen (HOK)
Pemipilan (Tresher)

20
10 : 1
Jumlah

3. Analsis Pendapatan dan Kelayakan

1.040.000
1.890.000
8.130.000 (68,33%)

Uraian
Penerimaan (Rp)
Keuntungan (Rp)

Nilai (Rp)
18.900.000
7.002.000

BEP Yield (kg/ha)


BEP Price (Rp/kg)
R/C

3.966
1.888
1.59