Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Masa remaja adalah periode di mana seseorang mulai bertanya-tanya

mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar


bagi pembentukan nilai diri mereka. Dalam perkembangan manusia, mulai dari
manusia itu dilahirkan hingga berusia lanjut mengalami perkembangan agama
yang selalu mengikuti seperti pada saat manusia itu dilahirkan, yaitu agama yang
dianut oleh orang tuanya karena hanya orang tuanya yang menjadikan anak itu
islam, majusi, yahudi atau nasrani tetapi ketika manusia itu sudah menginjak usia
remaja maka dia akan mulai berpikir secara mandiri bagaimana cara
mengimplementasikan ajaran agama yang dianutnya dalam kehidupan sehariharinya hingga akan lebih matang dalam beragama.
Masa remaja adalah masa bergejolaknya bermacam-macam perasaan yang
kadang-kadang bertentangan satu sama lain. Kondisi ini menyebabkan terjadinya
perubahan emosi yang begitu cepat dalam diri remaja,,seperti ketidakstabilan
perasaan remaja kepada Tuhan/Agama.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Adams dan Gullotta (1983), agama
memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu
membandingkan tingkah lakunya, agama dapat menstabilkan tingkah laku dan
bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada di dunia
ini, agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang
tengah mencari eksistensi dirinya.
Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang
mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenai
arah dan kualitas perkembangan beragama remaja sangat bergantung kepada
proses pendidikan yang diterimanya. Jiwa beragama atau kesadaran beragama
merujuk kepada aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada
Allah yang direfleksikan kedalam peribadatan kepada-Nya.

Kebutuhan remaja akan Allah kadang-kadang tidak terasa ketika remaja


dalam keadaan tenang, aman, dan tentram. Sebaliknya Allah sangat dibutuhkan
apabila remaja dalam keadaan gelisah, ketika ada ancaman, takut akan kegelapan,
ketika merasa berdosa.
Jadi,,kesimpulannya,,perasaan remaja pada agama adalah ambivalensi.
Kadang-kadang sangat cinta dan percaya pada Tuhan, tetapi sering pula berubah
menjadi acuh tak acuh dan menentang (Zakiyah Darajat, 2003:96-96 dan
Sururin, 2002:70).

1.2.

Rumusan Masalah
1. Apa itu remaja ?
2. Apa itu Perkembangan Spiritual
3. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi Perkembangan Spiritual Pada
Remaja ?
4. Apa sajakah karakteristik perkembangan spiritual remaja ?
5. Bagaimanakah Upaya yang dilakukan dalam rangka pengembangan
spiritual remaja ?

1.3.

Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian remaja
2. Untuk mengetahui pengertian perkembangan spiritual
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
spiritual pada remaja
4. Untuk mengetahui apa saja karekteristik perkembangan spiritual remaja
5. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam rangka pengembangan
spiritual remaja

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1. Remaja
Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to
grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh
yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990)
mendefinisikan remaja sebagai periode. Papalia dan Olds (2001) tidak
memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara
implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi
perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya
dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun
atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia
antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja
menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir
(16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh
Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi
perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa
antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990)
berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi
perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan
juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka,
dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa
depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan
masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa
sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain
proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah.
Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ

tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan
mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada
rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara
kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya
perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001).
Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda.
Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:
(1) perkembangan fisik,
(2) perkembangan kognitif, dan
(3) perkembangan kepribadian dan sosial.

2.2. Pengetian Perkembangan Spiritual


Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti nafas atau udara,
spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spirit memberikan arti penting ke
hal apa saja yang sekiranya menjadi pusat dari seluruh aspek kehidupan
seseorang. Spiritual adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan,
pengalaman hidup kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu
menghadirkan cinta, kepercayaan, dan harapan, melihat arti dari kehidupan dan
memelihara hubungan dengan sesama.
Spiritual adalah konsep yang unik pada masing-masing individu (Farran et
al, 1989). Masing-masing individu memiliki definisi yang berbeda mengenai
spiritual, hal ini dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup dan
ide-ide mereka sendiri tentang hidup. Menurut Emblen, 1992 spiritual sangat sulit
untuk didefinisikan. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritual
termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan dan eksistensi.
Spiritual menghubungkan antara intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri),
interpersonal (hubungan antara diri sendiri dan orang lain), dan transpersonal
(hubungan antara diri sendiri dengan tuhan/kekuatan gaib). Spiritual adalah suatu
kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan beberapa kekuatan diatasnya,

kreatif, kemuliaan atau sumber energi serta spiritual juga merupakan pencarian
arti dalam kehidupan dan pengembangan dari nilai-nilai dan sistem kepercayaan
seseorang yang mana akan terjadi konflik bila pemahamannya dibatasi. (Hanafi,
djuariah. 2005).

2.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual Pada


Remaja
Tidak sedikit remaja yang bimbang dan ragu dengan agama yang
diterimanya,,W. Sturbuck meneliti mahasiswa Middle Burg College. Dari 142
remaja yang berusia 11-26 tahun, terdapat 53% yang mengalami keraguan
tentang:
a)
b)
c)
d)

Ajaran agama yang mereka terima.


Cara penerapan ajaran agama.
Keadaan lembaga-lembaga keagamaan.
Para pemuka agama

Menurut analisis yang dilakukan W.Starbuck, keraguan itu disebabkan


oleh factor:
1. Kepribadian
Tipe kepribadian dan jenis kelamin, bisa menyebabkan remaja melakukan
salah tafsir terhadap ajaran agama.
Bagi individu yang memiliki kepribadian yang introvert, ketika mereka
mendapatkan kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan, maka akan
menyebabkan mereka salah tafsir terhadap sifat Maha Pengasih dan Maha
Penyayangnya Tuhan.
Untuk jenis kelamin
Wanita yang cepat matang akan lebih menunjukkan keraguan pada ajaran
agama dibandingkan pada laki-laki cepat matang.
2. Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama

Kesalahan ini dipicu oleh dalam kenyataannya,,terdapat banyak


organisasi dan aliran-aliran keagamaan. Dalam pandangan remaja hal itu
mengesankan adanya pertentangan dalam ajaran agama. Selain itu remaja juga
melihat kenyataan Tidak tanduk keagamaan para pemuka agama yang tidak
sepenuhnya menuruti tuntutan agama.
3. Pernyataan Kebutuhan Agama
Pada dasarnya manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang
sudah ada), namun disisi lain, manusia juga memiliki dorongan curiosity
(dorongan ingin tahu).
Dengan dorongan Curiosity, maka remaja akan terdorong untuk
mempelajari/mengkaji ajaran agamanya. Jika dalam pengkajian itu terdapat
perbedaan-perbedaan atau terdapat ketidaksejalanan dengan apa yang telah
dimilikinya (konservatif) maka akan menimbulkan keraguan.
4. Kebiasaan
Remaja yang sudah terbiasa dengan suatu tradisi keagamaan yang
dianutnya akan ragu untuk menerima kebenaran ajaran lain yang baru
diterimanya/dilihatnya.
5. Pendidikan
Kondisi ini terjadi pada remaja yang terpelajar. Remaja yang terpelajar
akan lebih kritis terhadap ajaran agamanya. Terutama yang banyak mengandung
ajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi jika mereka memiliki kemampuan untuk
menafsirkan ajaran agama yang dianutnya secara lebih rasional.
6. Percampuran Antara Agama dengan Mistik
Dalam kenyataan yang ada ditengah-tengah masyarakat, kadang-kadang
tanpa disadari ada tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopangi oleh mistik
dan praktek kebatinan. Penyatuan unsur ini menyebabkan remaja menjadi ragu
untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik.

Faktor lain yang mempengaruhi adalah, adanya motivasi dari dalam diri remaja
itu sendiri. Menurut Yahya Jaya, motivasi beragama adalah: Usaha yang ada
dalam diri manusia yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu tindak keagamaan
dengan tujuan tertentu atau usaha yang menyebabkan seseorang beragama.
2.4. Karakteristik Perkembangan
Kemampuan berpikir abstrak remaja memungkinkannya untuk dapat
mentransformasikan keyakinan beragamanya. Dia dapat mengapresiasi kualitas
keabstrakan

Tuhan

sebagai

Yang

Maha

Adil,

Maha

Kasih

Sayang.

Berkembangnya kesadaran atau keyakinan beragama, seiring dengan mulainya


remaja menanyakan atau mempermasalahkan sumber-sumber otoritas dalam
kehidupan, seperti pertanyaan Apakah Tuhan Maha Kuasa, mengapa masih
terjadi penderitaan dan kejahatan di dunia ini?
Untuk memperoleh kesadaran beragama remaja ini, dapat disimak dalam
uraian berikut :
1. Masa Remaja Awal (sekitar usia 13-16 tahun)
Pada masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, sehingga
memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan, dan kekhawatiran.
Bahkan, kepercayaan agama yang telah tumbuh pada umur sebelumnya,
mungkin pula mengalami kegoncangan . Kepercayaan kepada Tuhan kadangkadang sangat kuat, kan tetapi kadang-kadang menjadi berkurang yang terlihat
pada cara beribadah yang kadang-kadang rajin dan kadang-kadang malas.
Penghayatan rohaninya cenderung skeptic (was-was) sehingga muncul
keengganan dan kemalasan untuk melakukan berbagai kegiatan ritual (misalnya
ibadah sholat) yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan.
Kegoncangan alam keagamaan ini mungkin muncul, dikarenakan oleh
factor internal maupun eksternal. Faktor internal yang berkaitan dengan
matangnya organ seks, yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan
tersebut, namun disisi lain ia tahu bahwa perbuatannya itu dilarang agama.
Kondisi ini menimbulkan konflik pada diri remaja. Faktor internal lainnya

adalah bersifat psikologis, yaitu sikap independen, keinginan untuk bebas, tidak
mau terikat oleh norma-norma keluarga ( orangtua). Apabila orangtua atau guruguru kurang memahami da mendekatinya secara baik, bahkan bersikap keras,
maka sikap itu akan muncul dala bentuk tingkah laku negative (negativisme),
seperti membandel, oposisi, menentang atau menyendiri, dan acuh tak acuh.
Apabila remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga, kondisi
keluarga yang kuarang harmonis, orangtua yang kurang memberikan kasih
saying dan berteman dengan kelomopok sebaya yang kurang menghargai nilainilai agama, maka kondisi diatas akan menjadi pemicu berkembangnya sikap
dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila, seperti pergaulan bebas (free
sex), minum-minuman keras, mengisap ganja dan menjadi troublemaker
(pengganggu ketertiban/pembuat keonaran) dalam masyarakat.
2.

Masa Remaja akhir ( 17-21 tahun)


Secara psikologis, masa ini merupakan permulaan masa dewasa,

emosinya mulai stabil dan pemikirannya mulai matang (kritis). Dalam


kehidupan beragama, remaja sudah mulai melibatkan diri ke dalam kegiatankegiatan keagamaan. Remaja sudah dapat membedakan agama sebagai ajaran
dengan manusia sebagai penganutnya diantaranya ada yang shalih dan ada yang
tidak shalih. Pengertian ini memungkinkan dia untuk tidak terpengaruh oleh
orang-orang yang mengaku beragama, namun tidak melaksanakan ajaran agama
atau perilakunya bertentangan dengan nilai agama.
Salah satu tugas perkembangan yang diukur adalah keimanan dan ketakwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu ;
1. Mengembangkan pemahaman agama
2. Meyakini agama sebagai pedoman hidup
3.

Meyakini bahwa setiap perbuatan manusia tidak lepas dari pengawasan

Tuhan
4. Meyakini kehidupan akhirat
5. Meyakini bahwa Tuhan Maha Penyayang dan Maha Pengampun
6. Melaksanakan ibadah
7. Mempelajari kitab suci

8. Berdoa kepada Tuhan


9. Menghindarkan diri dari perbuatan yang dilarang agama
10. Menghormati kedua orangtua dan orang lain
11. Bersabar dan bersyukur

2.5. Upaya Yang Dilakukan Dalam Rangka Pengembangan Spiritual Remaja


Pendidikan dimanapun dan kapanpun masih dipercaya orang sebagai
media ampuh untuk membentuk kepribadian anak ke arah kedewasaan.
Pendidikan agama adalah unsur terpenting dalam pendidikan moral dan
pembinaan mental. Karenanya keyakinan itu harus dipupuk dan ditanamkan sedari
kecil sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadian anak sampai ia
dewasa. Melihat dari sini, pendidikan agama di sekolah mendapat beban dan
tanggung jawab moral yang tidak sedikit apalagi jika dikaitkan dengan upaya
pembinaan mental remaja. Usia remaja ditandai dengan gejolak kejiwaan yang
berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi, kesadaran sosial,
pertumbuhan moral, sikap dan kecenderungan serta pada akhirnya turut mewarnai
sikap keberagamaan yang dianut (pola ibadah).
Menurut Havighurs (1961:5), sekolah memunyai peranan atau tanggung
jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya,
terutama perkembangan spiritual.

Sehubungan dengan hal ini, sekolah

seyogyanya berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang
dapat

memfasilitasi

siswa

yang

berusia

remaja)

untuk

mencapai

perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan remaja itu menyangkut aspekaspek kematangan dalam berinteraksi social, kematangan personal, kematangan
dalam mencapai filsafat hidup, dan kematangan dalam beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tugas perkembangan agama pada masa remaja ini berkaitan dengan hakikat
manusia sebagai mahluk Tuhan, yang mempunyai tugas suci untuk beribadah
kepada-Nya. Ibadah ini misinya adalah untuk memperoleh kesejahteraan,
kebahagiaan atau kenyamanan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Perkembangan keimanan dan ketakwaan ini merupakan tugas perkembangan yang


penanamannya dimulai sejak usia dini. Pada usia remaja, nilai-nilai keimanan dan
ketakwaan harus sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pencapaian tugas perkembangang ini, pada setiap remaja tampaknya bersifat
heterogen. Heterogenitas perkembangan ini dipengaruhi oleh factor pengalaman
keagamaan masing-masing, terutama dilingkungan keluarganya.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Perilaku

individu

sangat

dipengaruhi

oleh

spiritualisme

dalam

kehidupaannya, begitu pula remaja. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan


dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Spiritual adalah suatu yang
dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup kepercayaan dan
nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan, harapan,
dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama.
Kebutuhan

spiritual

adalah

kebutuhan

untuk

mempertahankan

atau

mengembalikan keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk


mendapatkan maaf atau pengampunan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Makalah Perkembangan Peserta Didik (online) http://kajadalhikmahkajen.blogspot.com/ . Diakses 25 Januari 2015

10

Dini. 2012. Ppd (online) http://dinicemput.blogspot.com/2012/04/makalah-ppdperkembangan-moral-nilai.html . Diakses 25 Januari 2015


Vivien. 2012. Perkembangan moral, nilai, dan agama pada remaja (online)
http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/perkembangan-moral-nilai-dan-agamapada.html . Diakses 25 Januari 2015

11