Anda di halaman 1dari 42

Makalah sabun trasparan

TUGAS KELOMPOK
TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA DAN KELAPA SAWIT II
PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN DARI BAHAN BAKU MINYAK SAWIT DENGAN
PENAMBAHAN MADU
OLEH :
1. ANUGERAH DWI PUTRA

7. ARIE WIJAYANTO

2. EMILIA HASIBUAN

8. FITRI AFRIANTI

3. SANDI EKA PUTRA

9. SRI WAHYUNI

4. YUKY FIRMANSYAH

10. AFNIRA

5. KUSUMA NINGRUM

11. EKA SAPUTRI

6. RAHAYU SHOLIHAH
DOSEN PEMBIMBING :
Prof. Dr.Ir. FAIZAH HAMZAH, MS

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok dengan PEMBUATAN SABUN
TRANSPARAN DARI BAHAN BAKU MINYAK SAWIT DENGAN PENAMBAHAN MADU

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Ir. Faizah
Hamzah, MS sebagai dosen mata kuliah yang telah banyak memberikan bimbingan , petunjuk
dan motivasi hingga selesai tugas kelompok ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan
kepada teman-teman yang telah memberi masukan, bantuan dan dukungannya dalam
penyelesaian tugas kelompok ini.
Akhirnya diharapkan agar tugas kelompok ini bermanfaat bagi kita semua baik untuk
masa kini maupun masa mendatang.

Pekanbaru, April 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1.Latar Belakang......................................................................................................................1

1.2.Rumusan Masalah.................................................................................................................1
1.3.Tujuan...................................................................................................................................1
BAB II. BAHAN DAN METODE.....................................................................................2
2.1. Bahan yang Digunakan..............................................................................................................2
2.1.1. Bahan Alami................................................................................................................2
2.1.2. Bahan Kimia Analisis.................................................................................................2
2.1.3. Peralatan .....................................................................................................................2
2.2. Metode...........................................................................................................................2
2.2.1 Model Percobaan dan Analisis Data............................................................................2
2.2.2. Pelaksanaan Penelitian Sampel...................................................................................3
2.2.3. Analisis Sifat Fisik......................................................................................................4
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................................5
3.1.Hasil......................................................................................................................................5
3.2.Pembahasan...........................................................................................................................5
BAB IV. PENUTUP............................................................................................................11
4.1. Kesimpulan...................................................................................................................11
4.2. Saran.............................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sabun merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau
lemak hewani bebentuk padat, lunak atau cair, dan berbusa. Sabun dihasilkan oleh proses
saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuat
kondisi basa yang biasa digunakan adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium Hidroksida
(KOH). Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun keras (padat),
sedangkan basa yang digunakan berupa KOH maka produk reaksi berupa sabun cair (Ketaren,1986).

Sabun transparan pada umumnya menghasilkan busa lebih sedikit dibandingkan sabun
opaque. Semakin transparan sabun, busa yang dihasilkan semakin sedikit. Tegangan
permukaannya pun cukup tinggi, hal ini menyebabkan kurang efektifnya sabun terhadap daya
bersihnya. Penambahan bahan alami diharapkan akan memperbaiki sifat fisik sabun transparan.
Madu kapuk dapat digunakan sebagai bahan alami yang dapat memperbaiki pembusaan sabun
dan menurunkan tegangan permukaan air dengan adanya kandungan protein yang agak tinggi
dibanding madu yang lain. Indikator protein dalam madu kapuk yaitu busa atau buih yang sering
timbul pada saat penyimpanan. Selain memperbaiki busa, penambahan madu diharapkan dapat
menghasilkan produk sabun transparan dengan karakteristik yang baik, sehingga dapat
meningkatkan nilai guna madu.
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai sifat fisik sabun
transparan yang di tambahkan madu dengan konsentrasi berbeda.
1.3.Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah
Teknologi Pengolahan Kelapa dan Kelapa Sawit II serta mengetahui cara pembuatan sabun
transparan dengan penambahan madu.

II. METODE PENELITIAN

2.1.Bahan yang digunakan


2.1.2. Bahan Alami
Madu yang digunakan adalah madu kapuk karena madu kapuk mempunyai warna yang
agak gelap sehingga diharapkan dapat memberi warna khas madu pada sabun. Kandungan
protein yang terdapat pada madu kapuk agak tinggi dibandingkan dengan madu yang lain,
diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik yaitu menurunkan tegangan permukaan sehingga
stabilitas emulsi meningkat dan menyebabkan busa stabil dan daya pembersihan semakin efektif.
Kemudian penelitian ini juga menggunakan minyak kelapa sawit yang sudah dipakai 3-4 kali.
2.1.2. Bahan Kimia Analisis
Bahan-bahan lain yang digunakan yaitu NaOH 30%, air, cocoamide DEA, TEA (tetra etil
amida), gliserin, etanol, minyak kelapa sawit, olive oil, asam stearat, asam sitrat, gula pasir,
NaCl, xylen, dan akuades.
2.1.3. Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan adalah timbangan analitik, pengaduk, kaca arloji, gelas ukur,
gelas piala, labu Elenmeyer, termometer, hot dan magnetic stirrer, freezer, penetrometer,
Tensiometer Du Nouy, tabung reaksi, stopwatch, desikator, oven, dan vortex.
2.2.Metode yang digunakan
2.2.1. Model Percobaan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor
tunggal yaitu penambahan madu. Konsentrasi madu yang ditambahkan terdiri atas empat taraf
yaitu 0%; 2,5%; 5%; dan 7,5%, serta masingmasing taraf mendapat tiga kali ulangan.
Analisa yang digunakan setelah data diperoleh adalah uji keragaman pada taraf
kepercayaan yang digunakan adalah 95% ( = 0,05). Jika perlakuan berpengaruh nyata, analisis
dilanjutkan dengan menguji sifat ortogonalnya. Uji lanjut ini digunakan untuk mengetahui
konsentrasi terbaik yang dilihat dari hubungan peubah dan konsentrasi madu (Steel and Torrie,
1995).
2.2.2. Pelaksanaan Penelitian Sampel

Penelitian tahap satu dilakukan untuk menentukan formula

pembuatan sabun transparan terbaik dari dua referensi yang berbeda, yaitu model www.sma.net
(2008) dan Hambali et al. (2005). Penelitian tahap dua merupakan tahapan modifikasi formula
terpilih dengan menggunakan madu kapuk. Sifat fisik yang dinilai yaitu kekerasan sabun.
Pengujian kekerasan diuji untuk mengetahui umur simpan sabun tersebut setelah digunakan,
selain itu diukur pula tegangan permukaan, stabilitas emulsi, tegangan antar muka, serta
stabilitas busa sabun yang dihasilkan.

2.2.3. Analisis Sifat Fisik


a.

Kekerasan Sabun Madu

Transparan
Pengukuran

kekerasan

sabun

dilakukan dengan menggunakan


penetrometer.

Jarum

pada

penetrometer ditusukkan ke dalam


sampel

dan

dibiarkan

untuk

menembus bahan selama 5 detik pada temperatur konstan (27 C). Kedalaman penetrasi jarum ke
dalam bahan dinyatakan dalam 1/10 mm dari angka yang ditunjukkan pada skala penetrometer.
b. Tegangan Permukaan
Tegangan Permukaan (ASTM D 1331-56, 1967). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan
Tensiometer Du Nouy. Perhitungan penurunan tegangan permukaan (PTP) dapat dihitung
menggunakan rumus :
PTP = Tegangan permukaan air tegangan permukaan 10% sabun dalam akuades
c.

Stabilitas Emulsi
Stabilitas Emulsi (Piyali et al., 1999). Sabun sebanyak 2 gram ditimbang dalam cawan (bobot awal).
Stabilitas emulsi dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Stabilitas emulsi = 100% - (% bobot yang hilang)
Bobot yang hilang = bobot awal-bobot akhir / bobot awal x 100%

d. Stabilitas Busa

Stabilitas Busa (Piyali et al., 1999). Sabun sebanyak 1 gram dimasukkan ke tabung reaksi yang
berisi 10 ml akuades, kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit. Busa yang terbentuk
diukur tingginya menggunakan penggaris (tinggi busa awal). Tinggi busa diukur kembali setelah
1 jam (tinggi busa akhir), kemudian stabilitas busa dihitung dengan rumus :
Stabilitas Busa = 100% - (% busa yang hilang)
Busa yang hilang = tinggi busa awal-tinggi busa awal /tinggi busa awal x 100%

III. PEMBAHASAN
3.1 Formulasi sabun Madu transparan.
Tabel 1. Formulasi Sabun Madu Transparan

Peningkatan konsentrasi madu menyebabkan warna sabun transparan semakin mendekati


warna madu yaitu kuning kecoklatan. Perbedaan warna sabun tersebut dapat dilihat pada Gambar
1. Konsentrasi madu sampai 10% pernah dilakukan, sabun yang diperoleh berwarna lebih gelap,
namun sabun yang dihasilkan lebih lunak dan lengket setelah digunakan di tangan. Hal ini yang
menyebabkan penambahan madu dibatasi hingga konsentrasi 7,5%.

Keterangan : P = Konsentrasi

madu (%)

Gambar 1. Perbedaan Warna

Sabun Transparan dengan

Penambahan
Konsentrasi Madu yang Berbeda
Sabun yang diperoleh memiliki rendemen sebesar 10% dari berat total bahan yang
digunakan. Hasil pengujian terhadap sifat fisik sabun madu transparan yang meliputi kekerasan
sabun, tegangan permukaan, stabilitas emulsi, tegangan antar muka dan stabilitas busa dapat

dilihat pada Tabel 2. Pengujian sifat fisik dilakukan untuk mengetahui kesesuaian sifat fisik
sabun transparan yang dihasilkan.
Tabel 2. Analisa Sifat Fisik Sabun Madu Transparan Sifat Fisik Hasil Analisa

Keterangan : * = nyata
tn = tidak nyata
Kekerasan
Gula pasir (sukrosa) merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
sabun mandi transparan. Sukrosa yang mengalami proses pemanasan terurai menjadi glukosa dan
fruktosa. Hal ini dapat menurunkan kekerasan dari suatu produk. Hasil analisa kekerasan sabun
transparan yang diberi penambahan madu 0-7,5% menunjukkan nilai pada kisaran 7,15-9,79
mm/detik atau bertambah 2,64 mm/detik (Tabel 2). Semakin besar nilai penetrasi jarum dalam
sabun, berarti sabun tersebut semakin lunak. Sebagai sabun pembanding yaitu sabun transparan
komersil Madoe memiliki nilai kekerasan sebesar 6,5 mm/detik, berarti lebih keras dibanding
sabun transparan hasil penelitian. Analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan madu
memberikan pengaruh nyata (P < 0,05) terhadap kekerasan sabun transparan yang dihasilkan.
Hal ini disebabkan madu memiliki sifat higroskopis. Gula pereduksi dalam madu bersifat
higroskopis sehingga semakin tinggi kandungan gula pereduksi maka daya ikat air semakin
tinggi Hal ini dapat menurunkan kekerasan dari suatu produk. Madu memiliki kandungan gula
pereduksi (glukosa dan fruktosa) yang tinggi. Rataan glukosa (dekstrosa) pada madu mencapai
31,3% dan fruktosa (levulosa) sebesar 38,2% (Sihombing, 1997). Kadar air madu juga
dimungkinkan mempengaruhi penurunan kekerasan sabun transparan. Madu memiliki
kandungan gula pereduksi yang lebih tinggi disbanding sukrosa. Pemanasan menyebabkan

sukrosa terurai menjadi glukosa dan fruktosa. Hal ini dapat menurunkan kekerasan dari suatu
produk.
Tegangan Permukaan
Sabun merupakan produk yang dapat menurunkan tegangan permukaan air.Analisa
tegangan permukaan ditujukan untuk mengetahui kemampuan sabun madu transparan untuk
menurunkan tegangan permukaan air.Sabun mempunyai dua struktur gugus yang berbeda yaitu
gugus hidrofobik dan gugus hidrofilik. Kedua gugus tersebut dapat menurunkan tegangan
permukaan sehingga sabun dapat mengikat kotoran berupa minyak atau lemak.
Tegangan Antar Muka
Analisa tegangan antar muka ditujukan untuk mengetahui kemampuan sabun mandi
madu transparan menurunkan tegangan antar muka air dengan xylen yang diasumsikan sebagai
kotoran atau lemak. Kemampuan ini merupakan tolak ukur kemampuan sabun mandi transparan
untuk berinteraksi dengan lemak atau kotoran sehingga kotoran atau lemak dapat dibersihkan.
Tegangan antar muka suatu fasa yang berbeda derajat polaritasnya akan menurun jika gaya tarik
menarik antar molekul yang berbeda dari kedua fase (adhesi) lebih besar dibandingkan gaya tarik
menarik antar molekul yang sama dalam fase tersebut (kohesi).
Tegangan antar muka air sebesar 59,0 dyne/cm. Tegangan antar muka air bercampur
sabun transparan dengan campuran madu 0-7,5% berkisar antara 13,97- 19,2 dyne/cm, nilai
rataan tegangan antar muka sabun madu transparan yang diperoleh adalah sebesar 27,37 dyne/cm
(Tabel 2) dan mencakup tegangan antar muka sabun transparan Madoe (18 dyne/cm). Hasil
analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan madu tidak berpengaruh nyata terhadap
tegangan antar muka sabun transparan yang dihasilkan.
Stabilitas Emulsi
Sabun padat termasuk dalam emulsi tipe w/o. Stabilitas suatu emulsi merupakan salah
satu karakter penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap mutu produk emulsi ketika
dipasarkan. Emulsi yang baik tidak membentuk lapisan-lapisan, tidak terjadi perubahan warna
dan memiliki konsistensi yang tetap. Stabilitas emulsi dipengaruhi oleh jumlah asam lemak yang
terkandung dalam sabun. Asam lemak ini berperan dalam menjaga konsistensi sabun. Kestabilan

emulsi dalam sabun juga dipengaruhi oleh kadar air dan bahan dasar yang bersifat higroskopis.
Semakin tinggi kadar air dalam sabun maka akan semakin tidak stabil.
Stabilitas emulsi sabun madu transparan yang dihasilkan memiliki kisaran nilai antara
88,14-92,71% (Tabel 2). Sebagai pembanding, analisa juga dilakukan terhadap sabun Madoe
yaitu sabun transparan komersil yang ternyata memiliki nilai stabilitas emulsi sebesar 91,86%.
Stabilitas Busa
Busa adalah gas yang terjebak oleh lapisan tipis cairan yang mengandung sejumlah
molekul surfaktan yang teradsorpsi pada lapisan tipis tersebut, dalam gelembung, gugus
hidrofobik surfaktan akan mengarah ke gas, sedang bagian hidrofiliknya akan mengarah ke
larutan. Gelembung akan dilapisi oleh lapisan tipis cairan yang mengandung sejumlah molekul
surfaktan dengan orientasi face to face saat gelembung keluar dari badan cairan.
Hasil analisa stabilitas busa sabun madu transparan menunjukkan kisaran 30,37-78,21%,
seperti yang tercantum pada Tabel 2. Sabun mandi transparan Madoe yaitu sabun transparan
komersial yang diuji sebagai sabun pembanding memiliki nilai stabilitas busa sebesar 18,06%.
Pemilihan Sabun Madu Transparan Terbaik
Pemilihan produk terbaik dilakukan dengan cara yang didasarkan pada pembobotan nilai
kepentingan hasil analisa fisik. Nilai kepentingan setiap peubah ditentukan atas pertimbanganpertimbangan yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Penilaian Kepentingan Setiap Peubah Sabun Madu Transparan

Besarnya nilai kepentingan diperoleh berdasarkan kepentingan sifat fisik sabun


transparan tersebut yang dinilai oleh beberapa orang. Semakin penting peubah, maka nilai
kepentingan semakin besar. Pemilihan sabun madu transparan terbaik tidak hanya dilihat
berdasarkan nilai kepentingan saja, tetapi dilihat juga nilai pembobotannya. Perhitungan
penentuan sabun mandi transparan dapat dilihat pada Tabel 4. Sabun transparan terbaik
ditunjukkan oleh sabun yang memiliki jumlah nilai bobot tertinggi.
Tabel 4. Pembobotan dalam Penentuan Konsentrasi Terbaik Sabun Madu Transparan

Keterangan: NK = Nilai Kepentingan


Jumlah NK = 21

B = Bobot = Nilai Kepentingan


Jumlah NK
N = Nilai (1= kurang baik, 2 = baik, 3 = paling baik)
NB = Nilai Bobot = Nilai X Bobot
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sabun transparan terbaik adalah sabun transparan
dengan konsentrasi madu 7,5%. Pengujian sifat fisik sabun transparan tidak mengacu pada SNI.
Hal ini dikarenakan dalam penilaian mutu sabun, SNI lebih menekankan pada sifat kimia dan
tidak pada sifat fisik. Kekerasan sabun transparan yang ditambahkan madu menghasilkan sabun
yang semakin menurun nilai kekerasannya sejalan dengan bertambahnya konsentrasi madu yang
ditambahkan. Penurunan kekerasan sabun transparan dapat diperbaiki dengan cara menggantikan
lemak yang digunakan dalam formula dan penggunaan madu dengan kadar air yang lebih
rendah.Nilai tegangan permukaan menunjukkan penurunan. Semakin tinggi konsentrasi madu
yang ditambahkan, tegangan permukaan pun semakin menurun. Tegangan permukaan yang
rendah pada konsentrasi 7,5% mempengaruhi daya bersih. Nilai tegangan permukaan yang
rendah akan meningkatkan daya bersih. Kemampuan sabun dalam stabilitas emulsi pun
meningkat, semakin kecil nilaitegangan permukaan, emulsi akan lebih stabil. Kestabilan emulsi
dapat dilihat dari warna sabun yang tidak berubah dan tidak adanya endapan atau pembentukan
lapisan-lapisan dalam sabun. Tegangan permukaan yang rendah juga dapat mempertahankan
busa lebih lama. Semakin kecil nilai tegangan permukaan, busa sabun semakin stabil. Pemilihan
sabun transparan yang ditambahkan madu dengan beberapa konsentrasi tidak hanya ditentukan
dari sifat fisik saja. Keinginan konsumen pun diperhatikan dalam pembuatan sabun. Biasanya
masyarakat Indonesia menginginkan sabun dengan busa yang banyak. Oleh karena itu, pemilihan
sabun terbaik ditentukan oleh penerimaan masyarakat melalui tingkat kesukaan terhadap produk
yang dihasilkan.

IV. PENUTUP
4.1.1. Kesimpulan

Penambahan madu sampai konsentrasi 7,5% menghasilkan sabun transparan yang lebih lunak
(9,79 mm/detik), mampu menurunkan tegangan permukaan air (25,02 dyne/cm), meningkatkan
stabilitas emulsi (92,71%) dan stabilitas busa (78,21%). Penambahan madu sebesar 7,5% tidak
mempengaruhi tegangan antar muka, tetapi mampu menghasilkan sabun mandi madu transparan
yang lebih baik dibanding penambahan madu dengan konsentrasi yang lebih rendah.
4.1. Saran

Perlu penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh berbagai minyak yang digunakan dalam
pembuatan sabun transparan sehingga dapat memperbaiki kekerasan sabun madu transparan,
perlakuan lama penyimpanan sabun serta penerimaan/kesukaan konsumen dan mutu
organoleptik sabun madu transparan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, S. 1991. Analisis Kimia Produk Lebah Madu dan Pelatihan Staf Laboratorium Pusat
Perlebahan Nasional Parung Panjang. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Hambali, E., A. Suryani dan M. Rivai. 2005. Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan Kecantikan.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Piyali, G., Bhirud R. G and Kumar V. V. 1999. Detergency and foam studies on linear alkylbenzene
sulfonate and secondary alkyl sulfonate. J. of Surfactant and Detergen. 2 (4) : 489 493.

Steel, R. G. D., and J. H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biomertik.
Terjemahan: B. Sumantri. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Makalah sabun trasparan


TUGAS KELOMPOK
TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA DAN KELAPA SAWIT II
PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN DARI BAHAN BAKU MINYAK SAWIT DENGAN
PENAMBAHAN MADU
OLEH :
1. ANUGERAH DWI PUTRA

7. ARIE WIJAYANTO

2. EMILIA HASIBUAN

8. FITRI AFRIANTI

3. SANDI EKA PUTRA

9. SRI WAHYUNI

4. YUKY FIRMANSYAH

10. AFNIRA

5. KUSUMA NINGRUM

11. EKA SAPUTRI

6. RAHAYU SHOLIHAH
DOSEN PEMBIMBING :
Prof. Dr.Ir. FAIZAH HAMZAH, MS

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok dengan PEMBUATAN SABUN
TRANSPARAN DARI BAHAN BAKU MINYAK SAWIT DENGAN PENAMBAHAN MADU

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Ir. Faizah
Hamzah, MS sebagai dosen mata kuliah yang telah banyak memberikan bimbingan , petunjuk
dan motivasi hingga selesai tugas kelompok ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan
kepada teman-teman yang telah memberi masukan, bantuan dan dukungannya dalam
penyelesaian tugas kelompok ini.
Akhirnya diharapkan agar tugas kelompok ini bermanfaat bagi kita semua baik untuk
masa kini maupun masa mendatang.

Pekanbaru, April 2013

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1.Latar Belakang......................................................................................................................1

1.2.Rumusan Masalah.................................................................................................................1
1.3.Tujuan...................................................................................................................................1
BAB II. BAHAN DAN METODE.....................................................................................2
2.1. Bahan yang Digunakan..............................................................................................................2
2.1.1. Bahan Alami................................................................................................................2
2.1.2. Bahan Kimia Analisis.................................................................................................2
2.1.3. Peralatan .....................................................................................................................2
2.2. Metode...........................................................................................................................2
2.2.1 Model Percobaan dan Analisis Data............................................................................2
2.2.2. Pelaksanaan Penelitian Sampel...................................................................................3
2.2.3. Analisis Sifat Fisik......................................................................................................4
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN...........................................................................5
3.1.Hasil......................................................................................................................................5
3.2.Pembahasan...........................................................................................................................5
BAB IV. PENUTUP............................................................................................................11
4.1. Kesimpulan...................................................................................................................11
4.2. Saran.............................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sabun merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati
atau lemak hewani bebentuk padat, lunak atau cair, dan berbusa. Sabun dihasilkan oleh proses
saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa.
Pembuat kondisi basa yang biasa digunakan adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalium
Hidroksida (KOH). Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun
keras (padat), sedangkan basa yang digunakan berupa KOH maka produk reaksi berupa sabun
cair (Ketaren,1986).

Sabun transparan pada umumnya menghasilkan busa lebih sedikit dibandingkan


sabun opaque. Semakin transparan sabun, busa yang dihasilkan semakin sedikit. Tegangan
permukaannya pun cukup tinggi, hal ini menyebabkan kurang efektifnya sabun terhadap daya
bersihnya. Penambahan bahan alami diharapkan akan memperbaiki sifat fisik sabun
transparan. Madu kapuk dapat digunakan sebagai bahan alami yang dapat memperbaiki
pembusaan sabun dan menurunkan tegangan permukaan air dengan adanya kandungan
protein yang agak tinggi dibanding madu yang lain. Indikator protein dalam madu kapuk
yaitu busa atau buih yang sering timbul pada saat penyimpanan. Selain memperbaiki busa,
penambahan madu diharapkan dapat menghasilkan produk sabun transparan dengan
karakteristik yang baik, sehingga dapat meningkatkan nilai guna madu.
1.2. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai sifat fisik sabun
transparan yang di tambahkan madu dengan konsentrasi berbeda.
1.3.Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah
Teknologi Pengolahan Kelapa dan Kelapa Sawit II serta mengetahui cara pembuatan sabun
transparan dengan penambahan madu.

II. METODE PENELITIAN


2.1.Bahan yang digunakan
2.1.2. Bahan Alami

Madu yang digunakan adalah madu kapuk karena madu kapuk mempunyai warna
yang agak gelap sehingga diharapkan dapat memberi warna khas madu pada sabun.
Kandungan protein yang terdapat pada madu kapuk agak tinggi dibandingkan dengan madu
yang lain, diharapkan dapat memperbaiki sifat fisik yaitu menurunkan tegangan permukaan
sehingga stabilitas emulsi meningkat dan menyebabkan busa stabil dan daya pembersihan
semakin efektif. Kemudian penelitian ini juga menggunakan minyak kelapa sawit yang sudah
dipakai 3-4 kali.
2.1.2. Bahan Kimia Analisis
Bahan-bahan lain yang digunakan yaitu NaOH 30%, air, cocoamide DEA, TEA (tetra
etil amida), gliserin, etanol, minyak kelapa sawit, olive oil, asam stearat, asam sitrat, gula
pasir, NaCl, xylen, dan akuades.
2.1.3. Peralatan yang digunakan
Peralatan yang digunakan adalah timbangan analitik, pengaduk, kaca arloji, gelas
ukur, gelas piala, labu Elenmeyer, termometer, hot dan magnetic stirrer, freezer,
penetrometer, Tensiometer Du Nouy, tabung reaksi, stopwatch, desikator, oven, dan vortex.
2.2.Metode yang digunakan
2.2.1. Model Percobaan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor
tunggal yaitu penambahan madu. Konsentrasi madu yang ditambahkan terdiri atas empat
taraf yaitu 0%; 2,5%; 5%; dan 7,5%, serta masingmasing taraf mendapat tiga kali ulangan.
Analisa yang digunakan setelah data diperoleh adalah uji keragaman pada taraf
kepercayaan yang digunakan adalah 95% ( = 0,05). Jika perlakuan berpengaruh nyata,
analisis dilanjutkan dengan menguji sifat ortogonalnya. Uji lanjut ini digunakan untuk
mengetahui konsentrasi terbaik yang dilihat dari hubungan peubah dan konsentrasi madu
(Steel and Torrie, 1995).
2.2.2. Pelaksanaan Penelitian Sampel
Penelitian tahap satu dilakukan untuk menentukan formula

pembuatan sabun transparan terbaik dari dua referensi yang berbeda, yaitu model
www.sma.net (2008) dan Hambali et al. (2005). Penelitian tahap dua merupakan tahapan
modifikasi formula terpilih dengan menggunakan madu kapuk. Sifat fisik yang dinilai yaitu

kekerasan sabun. Pengujian kekerasan diuji untuk mengetahui umur simpan sabun tersebut
setelah digunakan, selain itu diukur pula tegangan permukaan, stabilitas emulsi, tegangan
antar muka, serta stabilitas busa sabun yang dihasilkan.

2.2.3. Analisis Sifat Fisik


a.

Kekerasan Sabun Madu

Transparan
Pengukuran kekerasan sabun
dilakukan

dengan

menggunakan

penetrometer.

Jarum

penetrometer

pada

ditusukkan ke dalam sampel


dan dibiarkan untuk menembus
bahan selama 5 detik pada temperatur konstan (27 C). Kedalaman penetrasi jarum ke dalam
bahan dinyatakan dalam 1/10 mm dari angka yang ditunjukkan pada skala penetrometer.
b. Tegangan Permukaan
Tegangan Permukaan (ASTM D 1331-56, 1967). Pengujian ini dilakukan dengan
menggunakan Tensiometer Du Nouy. Perhitungan penurunan tegangan permukaan (PTP)
dapat dihitung menggunakan rumus :
PTP = Tegangan permukaan air tegangan permukaan 10% sabun dalam akuades

c.

Stabilitas Emulsi
Stabilitas Emulsi (Piyali et al., 1999). Sabun sebanyak 2 gram ditimbang dalam cawan (bobot
awal). Stabilitas emulsi dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Stabilitas emulsi = 100% - (% bobot yang hilang)
Bobot yang hilang = bobot awal-bobot akhir / bobot awal x 100%

d. Stabilitas Busa

Stabilitas Busa (Piyali et al., 1999). Sabun sebanyak 1 gram dimasukkan ke tabung reaksi
yang berisi 10 ml akuades, kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit. Busa yang
terbentuk diukur tingginya menggunakan penggaris (tinggi busa awal). Tinggi busa diukur
kembali setelah 1 jam (tinggi busa akhir), kemudian stabilitas busa dihitung dengan rumus :
Stabilitas Busa = 100% - (% busa yang hilang)
Busa yang hilang = tinggi busa awal-tinggi busa awal /tinggi busa awal x 100%

III. PEMBAHASAN
3.1 Formulasi sabun Madu transparan.
Tabel 1. Formulasi Sabun Madu Transparan

Peningkatan konsentrasi madu menyebabkan warna sabun transparan semakin


mendekati warna madu yaitu kuning kecoklatan. Perbedaan warna sabun tersebut dapat
dilihat pada Gambar 1. Konsentrasi madu sampai 10% pernah dilakukan, sabun yang
diperoleh berwarna lebih gelap, namun sabun yang dihasilkan lebih lunak dan lengket setelah
digunakan di tangan. Hal ini yang menyebabkan penambahan madu dibatasi hingga
konsentrasi 7,5%.

Keterangan : P = Konsentrasi

madu (%)

Gambar 1. Perbedaan Warna

Sabun

Transparan

dengan Penambahan
Konsentrasi Madu yang Berbeda
Sabun yang diperoleh memiliki rendemen sebesar 10% dari berat total bahan yang
digunakan. Hasil pengujian terhadap sifat fisik sabun madu transparan yang meliputi
kekerasan sabun, tegangan permukaan, stabilitas emulsi, tegangan antar muka dan stabilitas

busa dapat dilihat pada Tabel 2. Pengujian sifat fisik dilakukan untuk mengetahui kesesuaian
sifat fisik sabun transparan yang dihasilkan.
Tabel 2. Analisa Sifat Fisik Sabun Madu Transparan Sifat Fisik Hasil Analisa

Keterangan : * = nyata
tn = tidak nyata
Kekerasan
Gula pasir (sukrosa) merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam
pembuatan sabun mandi transparan. Sukrosa yang mengalami proses pemanasan terurai
menjadi glukosa dan fruktosa. Hal ini dapat menurunkan kekerasan dari suatu produk. Hasil
analisa kekerasan sabun transparan yang diberi penambahan madu 0-7,5% menunjukkan nilai
pada kisaran 7,15-9,79 mm/detik atau bertambah 2,64 mm/detik (Tabel 2). Semakin besar
nilai penetrasi jarum dalam sabun, berarti sabun tersebut semakin lunak. Sebagai sabun
pembanding yaitu sabun transparan komersil Madoe memiliki nilai kekerasan sebesar 6,5
mm/detik, berarti lebih keras dibanding sabun transparan hasil penelitian. Analisis keragaman
menunjukkan bahwa penambahan madu memberikan pengaruh nyata (P < 0,05) terhadap
kekerasan sabun transparan yang dihasilkan.
Hal ini disebabkan madu memiliki sifat higroskopis. Gula pereduksi dalam madu
bersifat higroskopis sehingga semakin tinggi kandungan gula pereduksi maka daya ikat air
semakin tinggi Hal ini dapat menurunkan kekerasan dari suatu produk. Madu memiliki
kandungan gula pereduksi (glukosa dan fruktosa) yang tinggi. Rataan glukosa (dekstrosa)
pada madu mencapai 31,3% dan fruktosa (levulosa) sebesar 38,2% (Sihombing, 1997). Kadar
air madu juga dimungkinkan mempengaruhi penurunan kekerasan sabun transparan. Madu
memiliki kandungan gula pereduksi yang lebih tinggi disbanding sukrosa. Pemanasan

menyebabkan sukrosa terurai menjadi glukosa dan fruktosa. Hal ini dapat menurunkan
kekerasan dari suatu produk.
Tegangan Permukaan
Sabun merupakan produk yang dapat menurunkan tegangan permukaan air.Analisa
tegangan permukaan ditujukan untuk mengetahui kemampuan sabun madu transparan untuk
menurunkan tegangan permukaan air.Sabun mempunyai dua struktur gugus yang berbeda
yaitu gugus hidrofobik dan gugus hidrofilik. Kedua gugus tersebut dapat menurunkan
tegangan permukaan sehingga sabun dapat mengikat kotoran berupa minyak atau lemak.
Tegangan Antar Muka
Analisa tegangan antar muka ditujukan untuk mengetahui kemampuan sabun mandi
madu transparan menurunkan tegangan antar muka air dengan xylen yang diasumsikan
sebagai kotoran atau lemak. Kemampuan ini merupakan tolak ukur kemampuan sabun mandi
transparan untuk berinteraksi dengan lemak atau kotoran sehingga kotoran atau lemak dapat
dibersihkan. Tegangan antar muka suatu fasa yang berbeda derajat polaritasnya akan
menurun jika gaya tarik menarik antar molekul yang berbeda dari kedua fase (adhesi) lebih
besar dibandingkan gaya tarik menarik antar molekul yang sama dalam fase tersebut (kohesi).
Tegangan antar muka air sebesar 59,0 dyne/cm. Tegangan antar muka air bercampur
sabun transparan dengan campuran madu 0-7,5% berkisar antara 13,97- 19,2 dyne/cm, nilai
rataan tegangan antar muka sabun madu transparan yang diperoleh adalah sebesar 27,37
dyne/cm (Tabel 2) dan mencakup tegangan antar muka sabun transparan Madoe (18
dyne/cm). Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penambahan madu tidak
berpengaruh nyata terhadap tegangan antar muka sabun transparan yang dihasilkan.
Stabilitas Emulsi
Sabun padat termasuk dalam emulsi tipe w/o. Stabilitas suatu emulsi merupakan salah
satu karakter penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap mutu produk emulsi ketika
dipasarkan. Emulsi yang baik tidak membentuk lapisan-lapisan, tidak terjadi perubahan
warna dan memiliki konsistensi yang tetap. Stabilitas emulsi dipengaruhi oleh jumlah asam
lemak yang terkandung dalam sabun. Asam lemak ini berperan dalam menjaga konsistensi
sabun. Kestabilan emulsi dalam sabun juga dipengaruhi oleh kadar air dan bahan dasar yang
bersifat higroskopis. Semakin tinggi kadar air dalam sabun maka akan semakin tidak stabil.
Stabilitas emulsi sabun madu transparan yang dihasilkan memiliki kisaran nilai antara
88,14-92,71% (Tabel 2). Sebagai pembanding, analisa juga dilakukan terhadap sabun

Madoe yaitu sabun transparan komersil yang ternyata memiliki nilai stabilitas emulsi
sebesar 91,86%.
Stabilitas Busa
Busa adalah gas yang terjebak oleh lapisan tipis cairan yang mengandung sejumlah
molekul surfaktan yang teradsorpsi pada lapisan tipis tersebut, dalam gelembung, gugus
hidrofobik surfaktan akan mengarah ke gas, sedang bagian hidrofiliknya akan mengarah ke
larutan. Gelembung akan dilapisi oleh lapisan tipis cairan yang mengandung sejumlah
molekul surfaktan dengan orientasi face to face saat gelembung keluar dari badan cairan.
Hasil analisa stabilitas busa sabun madu transparan menunjukkan kisaran 30,3778,21%, seperti yang tercantum pada Tabel 2. Sabun mandi transparan Madoe yaitu sabun
transparan komersial yang diuji sebagai sabun pembanding memiliki nilai stabilitas busa
sebesar 18,06%.
Pemilihan Sabun Madu Transparan Terbaik
Pemilihan produk terbaik dilakukan dengan cara yang didasarkan pada pembobotan
nilai kepentingan hasil analisa fisik. Nilai kepentingan setiap peubah ditentukan atas
pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Penilaian Kepentingan Setiap Peubah Sabun Madu Transparan

Besarnya nilai kepentingan diperoleh berdasarkan kepentingan sifat fisik sabun


transparan tersebut yang dinilai oleh beberapa orang. Semakin penting peubah, maka nilai
kepentingan semakin besar. Pemilihan sabun madu transparan terbaik tidak hanya dilihat
berdasarkan nilai kepentingan saja, tetapi dilihat juga nilai pembobotannya. Perhitungan
penentuan sabun mandi transparan dapat dilihat pada Tabel 4. Sabun transparan terbaik
ditunjukkan oleh sabun yang memiliki jumlah nilai bobot tertinggi.
Tabel 4. Pembobotan dalam Penentuan Konsentrasi Terbaik Sabun Madu Transparan

Keterangan: NK = Nilai Kepentingan


Jumlah NK = 21
B = Bobot = Nilai Kepentingan
Jumlah NK
N = Nilai (1= kurang baik, 2 = baik, 3 = paling baik)
NB = Nilai Bobot = Nilai X Bobot
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa sabun transparan terbaik adalah sabun
transparan dengan konsentrasi madu 7,5%. Pengujian sifat fisik sabun transparan tidak
mengacu pada SNI. Hal ini dikarenakan dalam penilaian mutu sabun, SNI lebih menekankan
pada sifat kimia dan tidak pada sifat fisik. Kekerasan sabun transparan yang ditambahkan
madu menghasilkan sabun yang semakin menurun nilai kekerasannya sejalan dengan
bertambahnya konsentrasi madu yang ditambahkan. Penurunan kekerasan sabun transparan

dapat diperbaiki dengan cara menggantikan lemak yang digunakan dalam formula dan
penggunaan madu dengan kadar air yang lebih rendah.Nilai tegangan permukaan
menunjukkan penurunan. Semakin tinggi konsentrasi madu yang ditambahkan, tegangan
permukaan pun semakin menurun. Tegangan permukaan yang rendah pada konsentrasi 7,5%
mempengaruhi daya bersih. Nilai tegangan permukaan yang rendah akan meningkatkan daya
bersih. Kemampuan sabun dalam stabilitas emulsi pun meningkat, semakin kecil
nilaitegangan permukaan, emulsi akan lebih stabil. Kestabilan emulsi dapat dilihat dari warna
sabun yang tidak berubah dan tidak adanya endapan atau pembentukan lapisan-lapisan dalam
sabun. Tegangan permukaan yang rendah juga dapat mempertahankan busa lebih lama.
Semakin kecil nilai tegangan permukaan, busa sabun semakin stabil. Pemilihan sabun
transparan yang ditambahkan madu dengan beberapa konsentrasi tidak hanya ditentukan dari
sifat fisik saja. Keinginan konsumen pun diperhatikan dalam pembuatan sabun. Biasanya
masyarakat Indonesia menginginkan sabun dengan busa yang banyak. Oleh karena itu,
pemilihan sabun terbaik ditentukan oleh penerimaan masyarakat melalui tingkat kesukaan
terhadap produk yang dihasilkan.

IV. PENUTUP
4.1.1. Kesimpulan
Penambahan madu sampai konsentrasi 7,5% menghasilkan sabun transparan yang lebih
lunak (9,79 mm/detik), mampu menurunkan tegangan permukaan air (25,02 dyne/cm),
meningkatkan stabilitas emulsi (92,71%) dan stabilitas busa (78,21%). Penambahan madu
sebesar 7,5% tidak mempengaruhi tegangan antar muka, tetapi mampu menghasilkan sabun
mandi madu transparan yang lebih baik dibanding penambahan madu dengan konsentrasi yang
lebih rendah.
4.1. Saran

Perlu penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh berbagai minyak yang digunakan
dalam pembuatan sabun transparan sehingga dapat memperbaiki kekerasan sabun madu
transparan, perlakuan lama penyimpanan sabun serta penerimaan/kesukaan konsumen dan
mutu organoleptik sabun madu transparan.

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, S. 1991. Analisis Kimia Produk Lebah Madu dan Pelatihan Staf Laboratorium Pusat
Perlebahan Nasional Parung Panjang. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hambali, E., A. Suryani dan M. Rivai. 2005. Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan
Kecantikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Piyali, G., Bhirud R. G and Kumar V. V. 1999. Detergency and foam studies on linear alkylbenzene
sulfonate and secondary alkyl sulfonate. J. of Surfactant and Detergen. 2 (4) : 489 493.
Steel, R. G. D., and J. H. Torrie. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika: Suatu Pendekatan Biomertik.
Terjemahan: B. Sumantri. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Laporan Pembuatan Sabun Transparan


Diposkan oleh Latifah di 12.58

I. ACARA

Pembuatan sabun transparan dengan aroma pandan dan wangi bunga melati
II. TUJUAN
1. Siswa dapat membuat sabun transparan yang berbentuk padat dan lembut di kulit dengan
penambahan aroma dan pemberian warna yang diinginkan.
III. DASAR TEORI
Sabun transparan merupakan sabun yang memiliki tingkat transparasi paling tinggi. Sabun
transparan adalah jenis sabun yang digunakan untuk wajah dan tubuh yang dapat
menghasilkan busa yang lebih lembut dikulit dan penampakannya lebih berkilau jika
dibandingkan dengan jenis sabun yang lain.
Asam stearat merupakan monokarboksilat berantai panjang ( C18 ) yang bersifat jenuh
karena tidak memiliki ikatan rangkap diantara atom karbonnya. Asam stearat dapat berbentuk
cairan atau padatan. Pada proses pembuatan sabun, asam stearat berfungsi untuk
mengeraskan dan menstabilkan busa.
Minyak kelapa memiliki sifat mudah tersaponifikasi ( tersabunkan ) dan cenderung mudah
menjadi tengik (rancid). Minyak kelapa sebagai salah satu jenis minyak dengan kandungan
asam lemak yang paling kompleks. Asam lemak yang paling dominan dalam minyak kelapa
adalah asam laurat (HC12H23O2). Asam laurat sangat diperlukan dalam pembuatan sabun
karena asam laurat mampu memberikan sifat pembusaan yang sangat baik untuk produk
sabun.
Natrium hidroksida adalah senyawa alkali berbentuk butiran padat berwarna putih dan
memiliki sifat higroskopis, serta reaksinya dengan asam lemak menghasilkan sabun glisero.
NaOH sering digunakan dalam industri pembuatan hard soap. NaOH merupakan salah satu
jenis alkali (basa) kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik
yang halus.
Gliserin merupakan produk samping pemecahan minyak atau lemak menghasilkan asam
lemak. Gliserin diperoleh dari hasil pembuatan sabun dari berbagai asam lemak berbentuk
cairan jernih, tidak berbau dan memiliki rasa agak manis. Kegunaan gliserin berubah-ubah
sesuai dengan produknya. Pada pembuatan sabun transparan, gliserin berfungsi untuk
menghasilkan penampakan yang transparan dan memberikan kelebembaban pada kulit
(humektan). Humektan (moisturizer) adalah skin conditioning agents yang dapat
meningkatkan kelembaban kulit.
Gula pasir memiliki bentuk berupa kristal putih. Pada proses pembuatan sabun transparan,
gula pasir berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun yang dibuat.
Penambahan gula pasir juga dapat membantu perkembangan kristal pada sabun.
Asam sitrat memiliki bentuk berupa kristal putih. Berfungsi sebagai agen pengelat (chelating
agent) yaitu pengikat ion-ion logam pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah terjadinya
oksidasi pada minyak akibat pemanasan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai

pengawat dan pengatur pH.


Etanol (etil alkohol) berbentuk cair, jernih dan tidak berwarna merupakan senyawa organik
dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol berfungsi sebagai pelarut dalam pembuatan sabun
transparan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak sehingga akan
menghasilkan sabun dengan kelarutan yang tinggi. Selain itu etanol juga berfungsi untuk
membentuk tekstur transparan sabun.
Penggunaan TEA pada pembuatan sabun transparan berfungsi sebagai bahan pembantu
pembeningan. TEA merupakan cairan kental yang berwarna coklat.
IV. ALAT
1. Neraca top pan
2. Gelas kimia 100 ml
3. Pengaduk gelas
4. Statif dan klem
5. Pipet tetes
6. Gelas ukur
7. Termometer
8. Labu takar
9. Hot plate
10. Gelas arloji
11. Alat pencetak
V. BAHAN
1. VCO 25 ml
2. Larutan NaOH 30% 12,5 ml
3. Asam stearat 12,5 gram
4. Etanol 20 ml
5. Gliserin 20 ml
6. TEA 12,5 ml
7. Larutan gula 2 gram
8. Pewarna hijau (pandan) secukupnya
9. Parfume oil (jasmine) secukupnya
VI. LANGKAH KERJA
1. VCO dipanaskan dalam gelas kimia menggunakan hot plate sampai suhu mencapai 60oC70 oC.
2. NaOH 30% 12,5 ml sedikit demi sedikit dimasukan ke dalam gelas kimia tersebut sambil
diaduk terus menerus pada suhu 70 oC.
3. Asam stearat 12,5 gram yang telah dilelehkan pada suhu 60 oC ditambahkan dan diaduk
terus menerus.

4. Ditambahkan etanol 90% sebanyak 20 ml sambil diaduk terus.


5. Ditambahkan gliserin 20 ml sambil diaduk.
6. Ditambahkan 12,5 ml TEA dan diaduk terus menerus.
7. Larutan gula pasir 2gram ditambahkan sambil diaduk.
8. Dilakukan pemanasan dan pengadukan sampai campuran menjadi cairan dan homogen.
9. Ditambahkan pewarna dan pewangi pada suhu 40 oC.
10. Larutan sabun dituang kedalam cetakan dan didiamkan sampai sabun mengeras.
11. Sabun yang telah jadi kemudian dikemas.
VIII. PEMBAHASAN
Pada saat melaksanakan praktik pembuatan sabun transparan ini terdapat beberapa hal yang
perlu dibahas, diantaranya yaitu :
a. Pengadukan dilakukan secara kontinyu dan searah agar pencampuran merata.
b. Proses saponifikasi dilakukan sampai berhasil. Waktu pengadukan 30 menit.
c. Apabila masih terdapat minyak pada sabun transparan, maka ditambah dengan gliserin,
etanol
dan larutan gula secukupnya.
IX. KESIMPULAN
Pada praktikum membuat sabun transparan ini dapat disimpulkan bahwa :
a. Siswa dapat membuat sabun transparan dengan kriteria padat dan lembut di kulit.
b. Siswa dapat membuat sabun transparan dengan bahan tambahan sesuai selera.

cara pembuatan sabun transparan

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sabun merupakan benda wajib yang kita pakai setiap hari. Tanpa sabun, mandi
terasa tidak bersih karena sabun berfungsi untuk mengangkat kotoran yang
menempel di tubuh kita.

Sabun pertama kali dibuat dari lemak yang dipanaskan dengan abu pada jaman
Babilon

kuno.

Beragam

jenis

sabun

digunakan

secara

berbeda

di

tiap

kebudayaan. Orang Mesir kuno menggunakan campuran minyak hewan,


tumbuhan

dan

garam

sebagai

sabun.

Sedangkan

orang

Yunani

kuno

membersihkan tubuh dengan tanah liat, pasir, batu apung, dan abu. Lalu
menyiram tubuh mereka dengan minyak dan untuk menghilangkan minyak yang
melekat dan kotoran digunakan alat dari metal yang disebut strigil.
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari minyak atau lemak alami.
Surfaktan mempunyai struktur bipolar, bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor
bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya lemak)
dari badan atau pakaian.
Dewasa ini pemanfaatan sabun sebagai pembersih kulit makin menjadi trend dan beragam.
Keragaman sabun yang dijual secara komersial terlihat pada jenis, warna, wangi dan
manfaat yang ditawarkan. Berdasarkan jenisnya sabun dibedakan atas dua macam yaitu
sabun padat (batangan) dan sabun cair.
Sabun transparan adalah sabun mandi yang berbentuk batangan dengan tampilan
transparan, menghasilkan busa lebih lembut di kulit dan penampakannya lebih berkilau
dibandingkan jenis sabun lainnya. Tampilan sabun transparan yang menarik mewah dan
berkelas menyebabkan sabun transparan dijual dengan harga yang relatif lebih mahal.
Pendirian industri sabun transparan merupakan salah satu jenis usaha yang cukup
menjanjikan mengingat pasar sabun transparan belum jenuh dan masih terbuka lebar.
B. Tujuan
Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan peserta diklat dapat membuat sabun transparan
dengan kriteria sebagai berikut:

Tekstur padat dan lembut di kulit

Kenampakan transparan

Aroma sesuai dengan pewangi (parfum) yang ditambahkan

Warna jernih

II. LEMBAR INFORMASI

Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak dan telah dikenal secara
umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah
tangga sebagai alat pembersih dan pencuci.

Sabun adalah surfaktan yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan, bekerja
dengan bantuan air. Sedangkan surfaktan merupakan singkatan dari surface active
agents, bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di
antarmuka

fasa (baik cair-gas maupun cair-cair) sehingga

mempermudah

penyebaran dan pemerataan.


Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam
lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya
digunakan adalah NaOH (natrium/sodium hidroksida) dan KOH (kalium/potasium
hidroksida). Asam lemak yang berikatan dengan natrium atau kalium inilah yang
kemudian dinamakan sabun.
2.1 Klasifikasi Sabun :
1. Sabun Cair
Bentuk cair dan tidak mengental pada suhu kamar
2. Sabun Lunak/ Krim
Seperti pasta dan sangat mudah larut
3. Sabun Keras/ Padat
Dibuat dari lemak yang padat atau dari minyak yang dikeraskan dengan proses
hidrogenasi, Asam lemaknya jenuh dan mempunyai BM tinggi, Sukar larut dalam air
Sabun padat (batangan) dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu :
Sabun opaque ( tidak transparan )
Sabun translucent ( agak transparan )

Sabun transparan (sangat transparan)


2.2 Efek Pengaruh Alkali
Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun
yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH,KOH) mempunyai nilai
pH 9.0 -10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah NH4OH) akan mempunyai nilai
pH yang lebih rendah yaitu 8,0 -9,5.
Hingga saat ini beraneka sabun telah diproduksi secara modern. Untuk membuat
sabun sendiri tidaklah sulit. Bahan kimia dan cara pembuatannya cukup mudah
sehingga dapat dibuat untuk skala rumah tangga dengan peralatan yang biasa
digunakan sehari-hari.
Keberadaan sabun yang hanya berfungsi sebagai alat pembersih dirasa kurang mengingat
pemasaran dan permintaan masyarakat akan nilai lebih dari sabun,. oleh karena itu tidak
ada salahnya jika dikembangkan lagi sabun yang mempunyai nilai lebih, seperti pelembut
kulit, antioksidan, mencegah gatal-gatal dan pemutih dengan penampilan (bentuk, aroma,
warna) yang menarik.
Pengetahuan mengenai bahan baku dan bahan tambahan yang diperlukan dalam proses
pembuatan sabun akan mempengaruhi mutu produk sabun yang dihasilkan.
2.3 Bahan Baku Sabun
1. Minyak dan Lemak
Jenis minyak yang dapat digunakan pada proses pembuatan sabun adalah minyak kelapa,
minyak sawit, minyak jarak, minyak jagung, minyak kedelai dan minyak lainnya.
Tabel 1. Kandungan asam lemak yang dominan pada beberapa jenis minyak
No

Jenis Minyak

Asam Lemak yang Dominan

Jumlah

Minyak Kelapa

Asam Laurat

44 - 53 %

Minyak Sawit

Asam Palmitat

40 - 46 %

Asam Oleat

39 - 45 %

Minyak jarak

Asam Risinoleat

86 %

Minyak jagung

Asam Linoleat

56,3 %

Minyak Kedelai

Asam Oleat

30,1 %

Asam Linoleat

15 64 %

Asam Oleat

11 60 %

Minyak dan lemak dihasilkan oleh alam yang bersumber dari hewan dan tanaman,
perbedaan mendasar antara lemak hewani dan lemak nabati adalah :
Lemak hewani mengandung kolesterol, sedangkan lemak nabati mengandung fitosterol
Kadar lemak jenuh dalam lemak hewani lebih kecil daripada lemak nabati
Zat warna dalam minyak dan lemak dibedakan menjadi dua yaitu warna alamiah dan warna
akibat oksidasi atau degradasi komponen kimia yang terdapat dalam minyak. Zat warna
alamiah terdapat secara alamiah dalam bahan dan ikut terekstraksi bersama minyak dalam
proses ekstraksi, zat warna tersebut antara lain alfa dan beta karoten, xanthofil dan
anthosianin. Zat warna ini menyebabkan warna kuning , kuning kecoklatan, kehijau-hijauan
dan kemerah-merahan. Sedangkan warna akibat oksidasi dan degradasi komponen kimia
yang terdapat pada minyak antara lain: warna gelap disebabkan oleh oksidasi tokoferol
(vitamin E).
Bau amis pada minyak atau lemak disebabkan oleh interaksi trimetil amin oksida dengan
ikatan rangkap dari minyak tak jenuh. Trimetil amin berasal dari pemecahan ikatan C-N dari
cholin dalam molekul lesitin kemudian ikatan C-N ini diuraikan oleh zat pengoksidasi seperti
gugus peroksida dalam lemak, sehingga menghasilkan trimetil-amin.
Odor dan flavor pada minyak umumnya disebabkan oleh komponenbukan minyak, misalnya
bau khas dari minyak kelapa sawit disebabkan oleh beta-ionone, sedangkan bau khas dari
minyak kelapa disebabkan oleh nonyl methylketon (Ketaren, 1986). Selain terdapat secara
alami odor dan flavor juga terjadi karena pembentukan asam-asam lemak berantai pendek
sebagai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak.
2. Natrium Hidroksida ( NaOH )
Natrium hidroksida (NaOH) seringkali disebut dengan soda kaustik atau soda api yang
merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. NaOH
berbentuk kristal putih dengan sifat cepat menyerap kelembapan. Natrium hidroksida
bereaksi dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi.
3. Asam Stearat

Asam stearat merupakan monokarboksilat berantai panjang (C18) yang bersifat jenuh karena
tidak memiliki ikatan rangkap diantara atom karbonnya. Asam stearat dapat berbentuk
cairan atau padatan. Pada proses pembuatan sabun, asam stearat berfungsi untuk
mengeraskan dan menstabilkan busa.
4. Etanol
Etanol (etil alkohol) berbentuk cair, jernih dan tidak berwarna, merupakan senyawa organik
dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol pada proses pembuatan sabun digunakan sebagai
pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
5. Gliserin
Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air untuk
menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan sehingga dapat berfungsi
sebagai pelembab pada kulit. Pada kondisi atmosfir sedang ataupun pada kondisi
kelembaban tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas. Gliserin berbentuk
cairan jernih, tidak berbau, dan memiliki rasa manis.
6. Coco dietanolamida (Coco-DEA)
Coco-DEA merupakan dietanolamida yang terbuat dari minyak kelapa. Dalam formula
sediaan kosmetik, DEA berfungsi sebagai surfaktan dan penstabil busa. Surfaktan adalah
senyawa aktif penurun tegangan permukaan yang bermanfaat untuk menyatukan fasa
minyak dengan fasa air.
7. Natrium Klorida (NaCl)
Natrium klorida (garam) merupakan bahan berbentuk kristal putih, tidak berwarna dan
bersifat higroskopik rendah. Penambahan NaCl selain bertujuan untuk pembusaan sabun,
juga untuk meningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai dengan penurunan jumlah alkali
pada kahir reaksi sehingga bahan-bahan pembuat sabun tetap seimbang selama proses
pemanasan.
8. Gula Pasir
Gula pasir berbentuk kristal putih. Pada proses pembuatan sabun transparan, gula pasir
berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun. Penambahan gula pasir
dapat membantu perkembangan kristal pada sabun.
9. Asam Sitrat

Asam sitrat memiliki bentuk berupa kristal putih. Berfungsi sebagai agen pengelat (chelating
agent) yaitu pengikat ion-ion logam pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah terjadinya
oksidasi pada minyak akibat pemanasan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai
pengawet dan pengatur pH.
11. Pewarna
Pewarna ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk sabun
yang beraneka warna. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna untuk
kosmetik grade.
12. Pewangi
Pewangi ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk memberikan efek wangi pada
produk sabun. Pewangi yang sering digunakan dalam pembuatan sabun adalah dalam
bentuk parfum dengan berbagai aroma (buah-buahan, bunga, tanaman herbal dan lain-lain).
2.4 Tahapan Pembuatan Sabun transparan
1. Persiapan Bahan
Tahapan pertama yang harus dilakukan dalam membuat sabun adalah mempersiapkan
bahan baku dan bahan tambahan yang diperlukan untuk memproduksi sabun transparan.
Bahan baku yang diperlukan adalah asam stearat, minyak (kelapa, sawit, jarak, jagung
kedelai dll), NaOH, gliserin, etanol, gula pasir, Coco DEA. Adapun bahan tambahan yang
harus disiapkan adalah NaCl, Asam Sitrat, pewarna dan pewangi.
2. Penimbangan Bahan
Bahan-bahan yang telah disiapkan kemudian ditimbang sesuai dengan formula yang telah
ditentukan. Penimbangan bahan-bahan harus dilakukan seteliti mungkin. Jika keliru dalam
menimbang bahan baku dan bahan tambahan berdampak pada terjadinya perbedaan
karakteristik, sehingga karakteristik produk sabun transparan yang dihasilkan tidak sesuai
dengan standar.
3. Pemanasan Bahan
Pemanasan dilakukan untuk melelehkan bahan yang berbentuk padatan agar dapat dengan
mudah dicampur dengan bahan lain yang berbentuk cairan. Bahan yang perlu dilelehkan
adalah asam stearat, dilelehkan pada suhu 60 oC.
4. Pencampuran ( Blending)

Proses pencampuran dilakukan setelah bahan baku berbentuk padat dilelehkan. Hasil
pelelehan kemudian dicampur dengan bahan bahan lain yang berbentuk cairan maupun
dengan bahan yang berbentuk padat lainnya yang tidak perlu dilelehkan terlebih dahulu.
Pencampuran bahan-bahan dilakukan pada suhu sekitar 70 80 oC, kecuali pada
penambahan pewarna dan pewangi yang dilakukan pada suhu 40 oC.
5. Pengadukan
Selama proses pencampuran berlangsung, pengadukan harus dilakukan secara kontinyu.
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan sediaan sabun transparan yang
homogen. Apabila tidak dilakukan pengadukan secara kontinyu beberapa bahan yang
dicampurkan menjadi tidak merata dan menggumpal. Hal tersebut akan mempengaruhi
tampilan sabun transparan.
6. Pencetakan
Proses pencetakan dilakukan dengan menuangkan sediaan sabun transparan ke dalam
cetakan sabun. Bahan cetakan sabun dapat berupa stainless steel, plastik, kayu, fiber dll.
Model cetakan disesuaikan dengan bentuk sabun yang akan dihasilkan, misalnya bulat oval,
persegi dan sebagainya.
Setelah dituangkan ke dalam cetakan, sediaan sabun dibiarkan selama beberapa saat
supaya sabun mengeras sempurna. Proses pengerasan (aging) dilakukan pada suhu kamar
selama 1 bulan.
7. Pengemasan
Pengemasan dilakukan dengan menggunakan bahan kemasan plastik atau kertas. Untuk
bahan plastik digunakan jenis plastik wrapping yang elastis. Untuk bahan kertas digunakan
jenis kertas yang tipis. Pengemasan sabun transparan dapat dilakukan secara manual.
III. LEMBAR KERJA

MEMBUAT SABUN TRANSPARAN


Tujuan : Peserta pelatihan dapat membuat sabun transparan dengan kriteria tekstur padat
dan lembut di kulit, kenampakan transparan, aroma sesuai dengan pewangi (parfum) yang
ditambahkan, warna jernih.
Alat
1. Tangki pemanas

2. Wadah
3. Mesin pengaduk
4. Kompor
5. Timbangan
6. Cetakan sabun
7. Alat pemotong
8. Kemasan
Bahan:
1. Minyak
2. Natrium Hidroksida (NaOH)
3. Asam Stearat
4. Etanol
5. Gliserin
6. Gula Pasir
7. Coco-DEA
8. Pewarna
9. Pewangi
Cara Pembuatan:
1. Panaskan 1 Liter minyak sampai suhu 60 oC
2. Masukkan NaOH 30 % sebanyak 500 ml
3. Panaskan dengan suhu 70 oC sambil diaduk

4. Aduk terus sampai proses saponifikasi sempurna (terbentuk larutan yang kental)
5. Tambahkan 500 gram asam stearat yang sudah dilelehkan pada suhu 60 oC
6. Tambahkan 800 ml etanol, 800 ml gliserin, 500 ml Coco-DEA dan 80 gram gula pasir
sambil terus diaduk
7. Pemanasan dan pengadukan terus dilakukan sampai seluruh campuran menjadi
homogen
8. Penambahan pewarna dan pewangi dilakukan pada suhu 40 oC
9. Tuangkan campuran ke dalam cetakan dan diamkan selama 24 jam hingga sabun
mengeras.
10. Keluarkan sabun yang sudah mengeras dari cetakan.
PENGUJIAN SABUN
a. Penentuan Angka Asam
Metode : Titrimetri
Prinsip : Pelarutan contoh dalam pelarut organik tertentu (alkohol 95 % netral) dilanjutkan
dengan penitaran dengan basa (NaOH atau KOH)
Alat :
Neraca analitik
Erlenmeyer 250 ml
Buret 50 ml
Pipet tetes
Bahan
Sampel
Alkohol 95 %

Indikator fenolftalein (PP)


KOH 0,1 N
Langkah Kerja:

Timbang dengan seksama 2 5 gram contoh ke dalam erlenmeyer 250 ml

Tambahkan 50 ml alkohol netral ( dibuat dengan cara: masukkan alkohol 95 %


sebanyak yang diperlukan ke dalam erlenmeyer, tambahkan beberapa tetes indikator
PP kemudian titrasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna
merah muda)

Setelah ditutup dengan pendingin balik, panaskan sampai mendidih dan digojog
kuat-kuat untuk melarutkan asam lemak bebasnya.

Setelah dingin, larutan lemak dititrasi dengan 0,1 N larutan KOH standar

Tambahkan 3 5 tetes indikator PP dan titirasi dengan larutan standar NaOH 0,1 N
hingga warna merah muda tetap (tidak berubah selama 15 detik). Apabila cairan
yang dititrasi berwarna gelap dapat ditambahkan pelarut yang cukup banyak dan
atau dipakai indikator bromthymol blue sampai berwarna biru.

Angka asam dinyatakan sebagai mg KOH yang dipakai untuk menetralkan asam
lemak bebas dalam 1 gram lemak atau minyak.

Lakukan penetapan duplo

Perhitungan :
Angka asam = ml KOH x N KOH x 56,1
Berat sampel (gram)

Anda mungkin juga menyukai