Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

INOVASI KURIKULUM 2013

Disusun Oleh :

TRYHARI PURWANTO
NAFSIA HOLIDIA

14050394037
140503940

DWI ANGGRAINI P.S

140503940

JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


PRODI S1 PENDIDIKAN TATA BOGA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan tingkat sekolah. pendidikan.
Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk
kehidupan itu kelak akan ditentukan oleh kurikulum yang digunakan oleh bangsa tersebut
sekarang.Nilai sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat cenderung/selalu mengalami
perubahan

antara

lain

akibat

dari

kemajuan

ilmu

pengatahuan

dan

teknologi.

Kurikulum harus dapat mengantisipasi perubahan tersebut, sebab pendidikan adalah cara
yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
tersebut. Kurikulum dapat (paling tidak sedikit) meramalkan hasil pendidikan/pengajaran yang
diharapkan karena ia menunjukkan apa yang harus dipelajari dan kegiatan apa yang harus
dialami oleh peserta didik. Hasil pendidikan kadang-kadang tidak dapat diketahui dengan segera
atau setelah peserta didik menyelesaikan suatu program pendidikan.Pembaharuan kurikulum
perlu dilakukan sebab tidak ada satu kurikulum yang sesuai dengan sepanjang masa, kurikulum
harus dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang senantiasa cenderung berubah.
Menurut Undang-Undang No. 20 tahun 2003 kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
B. Rumusan Masalah
1. Apa keunggulan dari kurikulum 2013?
2. Apa asumsi kurikulum 2013?
3. Bagaimana perbandingan kurikulum 2013 dan KTSP 2006?
4. Apa saja perbedaan kurikulum 2013 dengan KTSP 2006?
5. Apa Kompetensi Inti itu?

C. Tujuan Penulisan Makalah


1. Mahasiswa mampu memahami keunggulan kurikulum 2013

2. Mahasiswa memahami asumsi kurikulum 2013


3. Mahasiswa memahami perbandingan kurikulum 2013 dan KTSP 2006
4. Mahasiswa mampu memahami perbedaan kurikulum 2013 dengan KTSP 2006
5. Mahasiswa memahami Kompetensi Inti

BAB II
PEMBAHASAN

Kurikulum sebagai bidang kajian sangat sulit untuk dipahami, tetapi sangat terbuka untuk
didiskusikan. Oleh karena itu, untuk memahaminya harus dianalisis dalam konteks yang luas,
demikian halnya dengan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan
kompetensi lahir sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan terhadap kurikulum 2006, serta
sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja. Kurikulum 2013 merupakan salah satu
upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan
teknologi seperti yang digariskan dalam haluan Negara. Dengan demikian, Kurikulum 2013
diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia
pendidikan dewasa ini, terutama dalam memasuki era globalisasi yang penuh dengan berbagai
macam tantangan.
A.

Keunggulan Kurikulum 2013


Implementasi Kurikulum 2013 diharapkan dapat mengahasilkan insane yang produktif,
kreatif, dan inovatif. Hal ini dimungkinkan karena kurikulum ini berbasis karakter dan
kompetensi, yang secara konseptual memiliki beberapa keunggulan. Pertama: Kurikulum 2013
menggnakan pendekatan yang bersifat alamiah (konstektual), karena berangkat, berfokus, dan
bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan
potensinya masing-masing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses
belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan
kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan (transfer knowledge). Kedua: Kurikulum 2013
yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuankemampuan lain. Penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan,
kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan aspekaspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
Ketiga: ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam pengembangannya
lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan dengan keterampilan.

B.

Asumsi Kurikulum 2013


Dalam kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, asumsi merupakan
parameter untuk menentukan tujuan dan kompetensi yang akan dispesifikasikan. Konsistensi dan

validitas setiap kompetensi harus sesuai dengan asumsi, meskipun tujuannya selalu diuji kembali
berdasarkan masukan yang memungkinkan terjadinya perubahan.
Sedikitnya terdapat tujuh asumsi yang mendasari Kurikulum 2013 berbasis karakter dan
kompetensi, yaitu:
1.

Banyak sekolah yang memiliki sedikit guru profesioanl, dan tidak mampu melakukan proses
pembelajaran secara optimal. Oleh karena itu penerapan kurikulum berbasis kompetensi

menuntut peningkatan kemampuan professional guru.


2. Banyak sekolah yang hanya mengoleksi sejumlah mata pelajaran dan pengalaman, sehingga
mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi yang terdapat dalam setiap mata
pelajaran.
3. Peserta didik bukanlah tabung kososng atau kertas putih bersih yang dapat diisi atau ditulis
sekehendak guru, melainkan individu yang memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan.
Pengembangan potensi tersebut menuntut iklim kondusif yang dapat mendorong peserta didik
belajar, bagaimana belajar (learning how to learn) serta menguhungkan kemampuan yang
dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Peserta didik memilki potensi yang berbeda dan bervariasi, dalam hal tertentu memiliki potensi
tinggi, tetapi dalam hal lain mungkin biasa-biasa saja, bahkan rendah. Di samping itu, mereka
memiliki tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru, sehingga guru harus dapat
membantu menghubungkan pengalaman yang sudah dimiliki dengan situasi baru.
5.
Pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan untuk memabantu peserta didik
mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal. Dalam hal ini (sukmadinata:
2000) memberikan ilustrasi dengan mengumpamakan pendidikan ibarat bertani, cahaya yang
diperlukan tanaman, memupuk, menyayangi dan mencegah tanaman dari hama-hama. Guru
seperti petani yang penuh rasa saying dan perhatian, dengan tekun dan telaten merawat tanaman
kesayangannya. Petani tidak perlu menarik-narik pohon supaya tinggi, membeber-beberkan daun
dan supaya lebar, member parfum supaya wangi. Kalau pohin tersebut punya potensi tinggi,
daun lebar, bunga atau buahnya wangi, cirri-ciri tersebut akan dicapainya sendiri asalkan
diciptakan kondisi dan perlakuan lingkingan yang mendukung. Kalau kondisi dan perlakukan
lingkungannya tidak mendukung para peserta didik, seperti halnya tanaman bias menjai bonsai.
6. Kurikulum sebagai rencana pembelajaran harus berisi kompetensi-kompetensi potensial yang
tersusun secara sistematis, sebagai jabaran dari seluruh aspek kepribadian peserta didik yang
mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

7.

Kurikulum sebagi proses pemblajaran harus menyediakan berbagai kemungkinan kepada


sekuruh peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Dalam hal ini
tugas guru adalah memberikan kemidahan dan kesempatan belajar kepada peserta didik untuk
menemukan ide dan menerapkan strategi belajar sesuai dengan kemampuan dan kecepatan
belajar masing-masing.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, dalam implementasi Kurikulum 2013 dilakukan
penambahan beban belajar pada semua jenjang pendidikan, sebagai berikut:
Beban belajar SD/MI
Kelas I, II, dan III maing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing
36 jam setiap minggu, dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 35 menit.
Beban belajar di SMP/MTs
Dari semula 32 menjadi 38 jam untuk masing-masing kelas VII, VIII,, dan IX dengan lama
belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 40 menit.
Beban belajar di SMA/MA
Kelas X bertambah dari 38 jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk kelas XI dan XII bertambah
dari 38 jam menjadi 44 jam belajar, dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 45
menit.
Sumber: Kemendikbud. 2013. Draft Kurikulum 2013.
Kebijakan penambahan jam ini dimaksudkan agar guru memiliki waktu yang lebih leluasa untuk
mengelola dan mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik atau
mengembangkan pelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Implikasi dari penambahan beban
belajar ini, guru dituntut untuk memiliki keterampilan berbagai pendekatan dan metode
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar dan membentuk kompetensi dirinya.
Dalam pada itu, guru juga dituntut untuk secara kreatif menciptakan lingkungan yang kondusif
dengan manajemen kelas yang efektif, untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,
sehingga peserta didik dapat belajar dengan menyenangkan (joyfull teaching and learning). Di
samping penambahan jam pembelajaran dalam implementasi Kurikulum 2013 juga rencana akan
pendampingan, terutama pendampingan bagi guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran
tematik integratif.

C.

Perbandingan Kurikulum 2013 dengan KTSP 2006


Tema Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insane Indonesia yang:
produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
terintegrasi. Beberapa keunggulan kurikulum ini telah dibahas dalam subab terdahulu, namun
demikian untuk lebih memantapkan pemahaman tentang inovasi kurikulum ini dirasakan perlu
untuk mengkaji dan menganalisis beberapa hal mendasar yang dikembangkan dalam Kurikulum
2013. Oleh karena itu, dalam subab ini disajikan secara khusus bagaimana perbandingan
Kurikulum 2013 dengan KTSP 2006. Perbandingan tersebut disajikan dalam table berikut
(Kemdiknas, 2013).
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum
Elemen

Ukuran Tata Kelola


Kewenangan
Kompetensi

KTSP 2006
Hampir mutlak
Harus tinggi

masih terbantu

Guru

Buku
Siswa

Kurikulum 2013
Terbatas
Sebaiknya tinggi.
Bagi yang rendah
dengan adanya buku
Ringan
Tinggi

Bebasan
Efektivitas waktu untuk

Berat
Rendah (banyak

kegiatan pembelajaran

waktu untuk

Peran penerbit
Variasi materi dan proses
Variasi harga/bebas siswa
Hasil pembelajaran

persiapan
Besar
Tinggi
Tinggi
Tergantung

Kecil
Rendah
Rendah
Tidak sepenuhnya

sepenuhnya pada

tergantung guru,

guru

tetapi juga buku


iyang disediakan

Pemantauan

Titik penyimpangan
Besar penyimpangan
Pengawasan

Banyak
Tinggi
Sulit, hamper tidak

pemerintah
Sedikit
Rendah
Mudah

mungkin
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum
Proses

Peran
Guru

KTSP 2006
Hampir mutlak

Kurikulum 2013
Pengembangan dari

(dibatasi hanya Oleh

yang sudah
disiapkan
Mutlak

Pemerintah Daerah

SK-SD)
Hanya sampai
SK-KD
Supervisi

Penerbit
Guru

penyusunan
Kuat
Hamper mutlak

pelaksanaan
Lemah
Kecil, untuk buku

Pemerintah

Kecil, untuk

pengayaan
Mutlak untuk buku

kelayakan

teks, kecil untuk

penggunaan di

buku pengayaan

sekolah
Hampir mutlak

Kecil, untuk

Penyusunan
Silabus

Pemerintah

Penyediaan
Buku

Guru
Penyusunan

pengembangan dari

Rencana

yang ada pada buku

Pelaksanaan
Pembelajaram

Pelaksanaan

Mutu

Supervisi

teks
Supervisi

penyusunan dan

pelaksanaan dan

pemantauan
Mutlak
Pemantauan

pemantauan
Hampir mutlak
Pemantauan

kesesuaian dengan

kesesuaian dengan

rencana (variatif)

buku teks

Sulit, karena variasi

(terkendali)
Mudah, karena

terlalu besar

mengarah pada

Pemerintah Daerah

Guru
Pemerintah Daerah

Pembelajaran

Penjaminan

Supervisi

Pemerintah

pedoman yang
sama
Langkah-langkah penguatan tata kelola dillakukan dengan:

1. Menyiapkan buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku siswa, dan buku guru.
2. Menyiapkan guru supaya memahami pendayagunaan sumber belajar yang telah disiapkan dan
sumber lain yang dapat mereka manfaatkan.
3.

Memperkuat peran pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah dalam pelaksanaan
pembelajaran. Perbedaan esensial kurikulum tersebut dapat dipahami dalam subab di bawah ini

D. Perbedaan Esensial Kurikulum 2013 dengan KTSP 2006


Perubahan dan pengembangan kurikulum mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah
pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK)
dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar peserta didik mampu
bersaing di masa depan, dalam konteks nasional maupun global. Perubahan dan pengembangan
Kurikulum 2013 dapat dikaji perbedaannya dengan KTSP 2006, dalam table-tabel berikut ini
(dimodifikasi dan dikembangkan dari materi sosialisasi kurikulum 2013).

Perbedaan Esensial Kurikulum SD


KTSP
Mata pelajaran

Kurikulum 2013
Tiap mata pelajaran

tertentu

mendukung semua

mendukung

kompetensi (sikap,

kompetensi tertentu

keterampilan,

Mata pelajaran

pengetahuan)
Mata pelajaran dirancang

dirancang berdiri

terkait satu dengan yang

sendiri dan

lain dan memiliki

memiliki

kompetensi dasar yang

kompetensi dasar

diikat oleh kompetensi inti

sendiri
Bahasa Indonesia

tiap kelas
Bahasa Indonesia sebagia

sejajar dengan

penghela mapel lain (sikap

Status
Benarnya

Benarnya

Idealnya

mapel lain

dan keterampilan

Tiap mata pelajaran

berbahasa)
Semua mata pelajran

diajarkan dengan

diajarkan dengan

pendekatan

pendekatan yang sama

berbeda

(saintifik) melalui

Idealnya

mengamati, menanya,
Tiap jenis konten

mencoba, menalar
Bermacam jenis konten

pembelajaran

pembelajaran diajarkan

diajarkan terpisah

terkait dan terpadu satu

(separated

sama lain (cross

curriculum)

curriculum atau integrated

Baiknya

curriculum)
Konten ilmu pengetahuan
diintegrasikan dan
dijadikan penggerak
konten pembelajaran
Termatik untuk

lainnya
Termatik integratif untuk

kelas III (belum

kelas

integratif)

I-VI

Baiknya

Kurikulum sekolah dasar 2013 lebih ditekankan pada aspek afektif, dengan penilaian yang
ditekankan pada notes dan portofolio. Dalam implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi
dan karakter ini, murid SD idealnya tidak lagi banyak menghapal, karena

kurikulum ini

dirancang untuk memepersiapkan peserta didik memiliki budi pekerti atau karakter yang baik,
sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya. Berikut adalah perbedaan
lebih lanjut kurikulum 2013 untuk sekolah dasar.
1. Tematik-Integratif
Pembelajaran tematik integratif sebelumnya hanya dilaksanakan pada kelas rendah saja, dan
kelas tinggi setiap mataa pelajaran terkesan terpisah atau berdiri sendiri. Dalam implementasi
kurikulum 2013, murid sekolah dasar tidak lagi mempelajari masing-masing mata pelajran secar

terpisah. Pembelajaran berbasis tematik integratif yang diterapkan pada tingkatan pendidikan
dasar ini menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk kemudian dikombinasikan dengan
mata pelajaran lainnya.
2. Delapan Mata Pelajaran
Untuk tingkat SD, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajarkan, yaitu Pendidikan Agama,
Pendidikan Kewarganegaraa, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan
Keterampilan, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, serta Muatan Lokal, dan pengembangan
Diri. Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran dipadatkan menjadi 8 (delapan) mata pelajaran,
yaitu Agama, PPKN, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Seni
Budaya, IPA, dan IPS. Bahkan semual rencananya hanya enam mata pelajaran saja, karena IPA
dan IPS rencananya diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lainnya.
3. Pramuka sebagai Ekstra Kurikuler Wajib
Dalam implementasi Kurikulum 2013, pramuka merupakan ekstra kurikuler wajib dan itu
diatur dalam undang-undang, Pramuka ini menjadi ekstra kurikuler wajib pada satuan pendidikan
dasar dan menengah, untuk berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan layanan
secara professional, maka dalam implementasi pramuka, Kemindikbud bekerja sama dengan
Kemenpora.
4. Bahasa Inggris hanya Ekskul
Sebelumnya terjadi polemik mengenai bahasa Inggris di SD, yaitu bahasa Inggris akan
dihapus dari kurikulum. Rencana penghapusan bahasa Inggris dari kurikulum SD ini didasari
kekhawatiran akan membebani siswa dan memprioritaskan terhadap penguasaan Bahasa
Indonesia. Ternyata untuk tingkat SD ini, dalam kurikulum baru 2013 Bahasa Inggris termasuk
dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah Remaja (PMR), UKS, dan
Pramuka.
5. Belajar di Sekolah Lebih Lama
Pemadatan mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 bukan mengurangi jam belajar, justru
membuat lama belajar anak di sekolah bertambah. Metode baru pada kurikulum ini
mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap tema
yang menjadi bahsan. Untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam perminggu
bertambah menjadi 30-32 jam perminggu. Sedangkan untuk kelas IV-VI yang semula belajar
selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu.

Itulah isi perubahan kurikulum baru yang rencananya akan diterrapkan pada tahun ajaran
baru tahun 2013 untuk anak-anak SD. Sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini telah
dijalankan dibanyak Negara, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia, Australia,
Hongkong, dan Filipina. Penambahan jam belajar di sekolah dianggap masih sesuai karena
dibandingkan Negara lain, Indonesia terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9
tahun. Dengan pemadatan mata pelajaran dan pembelajaran berbasis tematik, anak-anak juga
tidak akan lagi kerepotan membawa yang banyak dalam tuganya.
Selanjutnya, perbedaan esensial kurikulum SMP adalah sebagai berikut ini :
Perbedaan Esensial Kurikulum SMP
KTSP 2006
Mata pelajaran

Kurikulum 2013
Tiap mata pelajaran

tertentu mendukung

mendukung semua

kompetensi tertentu

kompetensi (sikap,

Mata pelajaran

keterampilan, pengetahuanP
Mata pelajaran dirancang

dirancang berdiri

terkait satu dengan yang lain

sendiri dan memiliki

dan memiliki kompetensi

kompetensi dasar

dasar yang diikat oleh

sendiri
Bahasa Indonesia

kompetensi inti tiap kelas


Bahasa Indonesia sebagai alat

sebagai pengetahuan

komunikasi dan carrier of

Tiap mata pelajaran

knowledge
Semua mata pelajaran

diajarkan dengan

diajarkan dengan pendekatan

pendekatan yang

yang sama, yaitu pendekatan

berbeda

saintifik melalui mengamati,

TIK adalah mata

menanya, mencoba, menalar


TIK merupakan sarana

pelajaran

pembelajaran, dipergunakan

Status
Benarnya

Benarnya

Idealnya

Idealnya

Baiknya

sebagai media pembelajaran


mata pelajaran lain.
Adapun perbedaan esensial kurikulum SMA/SMK dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Perbedaan Esensial Kurikulum SMA/SMK

KTSP 2006
Mata pelajaran

Kurikulum 2013
Tiap mata pelajaran

tertentu

mendukung semua

mendukung

kompetensi (sikap,

kompetensi

keterampilan,

tertentu

pengetahuan) dengan

Mata pelajaran

penekanan yang berbeda


Mata pelajaran dirancang

dirancang berdiri

terkait satu dengan yang

sendiri dan

lain dan memiliki

memiliki

kompetensi dasar yang

kompetensi dasar

diikat oleh kompetensi inti

sendiri
Bahasa Indonesia

tiap kelas
Bahasa Indonesia sebagai

sebagai

alat komunikasi dan carrier

pengetahuan
Tiap mata

of knowledge
Semua mata pelajaran

pelajaran diajarkan

diajarkan dengan

dengan pendekatan

pendekatan yang sama,

yang berbeda

yaitu pendekatan saintifik

Status
Benarnya

Benarnya

Idealnya

Idealnya

melalui mengamati,
menanya, mencoba,
Untuk SMA, ada

menalar
Tidak ada penjurusan

penjurusan sejak

SMA. Ada mata pelajaran

kelas XI

wajib, peminatan, antar

Idealnya

minat, dan pendalaman


SMA dan SMK

minat
SMA dan SMK memiliki

tanpa kesamaan

mata pelajaran wajib yang

kompetensi

sama terkait dasar-dasar


pengetahuan,
keterampilan, dan sikap

Baiknya

Penjurusan di

Penjurusan di SMK tidak

SMK sangat detail

terlalu detail (sampai

(sampai keahlian)

bidang studi), di dalamnya

Baiknya

terdapat pengelompokan
peminatan dan pendalaman
Mengahadapi berbagai perbedaan tersebut, dilakukan langkah penguatan tata kelola dengan
cara menyiapkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Buku pedoman pembelajaran yang terdiri dari Buku Siswa dan Buku Guru
2. Guru dilatih untuk memahami pendayagunaan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber
lain yang dapat dimanfaatkan.
3. Pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah terhadap pelaksanaan pemmbelajaran
E. Kompetensi Inti
Kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan pun masih memerlukan rencana
pendidikan yang panjang untuk menyampainya. Untuk memudahkan proses perencanaan dan
pengendaliannya, pencapian jangka panjang perlu di bagi-bagi ke dalam beberapa tahap sesuai
jenjang kelas ketika kurikulum tersebut diterapkan. Sejalan dengan undang-undang, kompetensi
inti ibarat anak tangga yang harus dilalui peserta didik untuk sampai pada kompetensi lulusan
jenjang satuan pendidikan. Kompetensi inti meningkat seiring dengan meningkatnya usia peserta
didik yang dinyatakan dengan meningkatnya kelas. Melalui pencapaian dan perwujudan
komopetensi init, integrasi vertical antarkompetensi dasar dapat dijamin, dan peningkatan
kemmapuan peserta dari kelas ke kelas dapt direncanakan. Sebagai anak tangga menuju
kompetensi lulusan, kompetensi inti juga bersifat multidimensi. Dalam opperasionalnya,
kompetensi lulusan pada ranah sikap dipecah menjadi dua, yaitu sikap spiritual untuk
membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan kompetensi sikap sosial untuk
membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.
Kompetensi inti bukan untuk diajarkan, tetapi untuk dibentuk melalui berbagai tahapan
proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran yang relevan. Setiap mata pelajaran harus
mengacu pada pencapaian dan perwujudan kompetensi inti yang telah dirumuska. Dengan kata

lain, semua mata pelajaran yang diajarkan harus diacukan dan ditujukan pada pembentukan
kompetensi inti.
Kompetensi inti merupakan pengilkat kompetensi-kompetensi yang harus dihasilkan
melalui pembelajaran dalam setiap mata pelajara, sehingga berperan sebagai integrator
horizontal antar mata pelajaran. Kompetensi inti adalah bebas dari mata pelajaran karena tidak
mawakili mata pelajaran tertentu. Kompetensi inti merupakan kebutuhan kompetensi peserta
didik, sedangkan mata pelajaran adalah pasokan kompetensi dasar yang harus dipahami dan
miliki peserta didik melalui proses pembelajaran yang tepat menjadi kompetensi inti.
Kompetensi inti meerupakan operasional Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk
kualitas yang harus dimiliki oleh peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan
pendidikan tertentu, yang menggambarkan komepetensi utama yang dikelompokkan kedalam
aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu
jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi inti harus menggambarakn kualitas yang
seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
Kompetensi inti berfungsi sebagai unsure pengorganisasian (organizing element)
kompetensi dasar. Sebagai unsure pengorganisasian, Kompetensi inti merupakan pengikat untuk
organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi
Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke
kelas atau jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yang terjadi suatu akumulasi
yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari peserta didik. Organisasi horizontal adalah
keterkaitan antar konten. Kompetensi dasar satu mata pelajaran dengan isi kompetensi dasar dari
mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga
terjadi proses saling memperkuat.
Keempat kelompok ini menjadi acuan dan Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan
dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap
keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) ketika peserta
didik belajar tentang pengetahuan dan penerapan pengetahuan.
Dalam mendukung kompetensi inti, capaian pembelajaran mata peajaran diuraikan
menjadi kompetensi dasar-kompetensi dasar yang dikelompokkan menjadi empat. Ini sesuai
dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu dalam kelompok kompetensi sikap
spiritual, kompetensi sikap sosial, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi ketrampilan.

Uraian kompetensi dasar serinci ini adalah untuk memastikan capaian pembelajaran tidak
berhenti sampai pengetahuan saja, melainkan harus berlanjut ke keterampilan dan bermuara pada
sikap. Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi sikap bukanlah untuk peserta didik karena
kompetensi ini tidak diajarkan, tidak dihafalkan, tidak diujikan, tapi sebagai pegangan bagi
pendidik, bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut ada pesan-pesan sosial spiritual
yang terkandung dalam materinya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan
masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan
Negara. Keunggulan Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah
(konstektual), karena berangkat, berfokus, dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk
mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing, kurikulum
2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuankemampuan lain, ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam
pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang berkaitan
dengan keterampilan. Pada kurikulum 2013 Sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini
telah dijalankan dibanyak Negara, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia,
Australia, Hongkong, dan Filipina. Dengan demikian, dalam satu kaitannya dengan rencana
pembelajaran dalam kurikulum 2013, guru tidak usah repot-repot lagi mengembangkan
perencanaan tertulis yang berbelit-belit, karena sudah ada pedoman dan pendampingan. Oleh
karena itu, guru harus memahaminya secara utuh sebagai hal yang berkaitan dengan silabus
tematik integratif sebelum melaksanakan pembelajaran.
Saran
Dari pembahasan yag telah kami sajikan diatas, kami berharap mudah-mudahan setelah kita
mempelajari kurikulum 2013 ini dapat menjadi pedoman dalam proses belajar mengajar. Sejalan

dengan undang-undang dalam menertibkan pendidikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat


di Indonesia. Oleh karena itu maka pendidik dan peserta didik harus mendukung kurikulum baru
ini sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa. 2013. Inovasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
http://www.m-edukasi.web.id/2013/08/asumsi-mengenai-belajar-danpembelajaran.html